Strategi UMKM Kelola Arus Kas Demi Pertumbuhan Bisnis

Perkembangan UMKM di Indonesia

Pada dasarnya, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan entitas usaha yang paling besar serta memiliki dampak strategis terhadap perekonomian Indonesia. UMKM memiliki definisi yang berbeda-beda menurut berbagai literatur.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan UMKM berdasarkan kuantitas tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 sampai 19 orang. Sedangkan usaha menengah merupakan entitas usaha yang memiliki tenaga kerja 20 sampai 99 orang. 

UMKM Menurut Bank Dunia

Berbeda halnya dengan BPS, Bank Dunia mendefinisikan UMKM menurut tiga klasifikasi, yaitu berdasarkan kondisi karyawan, pendapatan, dan nilai aset. Berikut penjelasannya:

a. Micro Enterprise. Memiliki kriteria jumlah karyawan kurang dari 30 orang, dan pendapatan setahun tidak melebihi USD3 juta.

b. Small Enterprise. Kriteria jumlah karyawan kurang dari 100 orang, pendapatan setahun tak melebihi USD100 ribu, dan jumlah aset tak melebihi USD100 ribu.

c. Medium Enterprise. Memiliki kriteria jumlah karyawan maksimal 300 orang, pendapatan setahun hingga USD15 juta, dan jumlah aset mencapai USD15 juta.

UMKM Menurut UU

Dalam perkembangannya, dunia usaha tidak lagi diklasifikasikan berdasarkan jumlah karyawannya. Berdasarkan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pemerintah mengelompokkan jenis usaha berdasarkan kriteria aset dan omzet. 

Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria kekayaan bersih maksimal Rp50 juta tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Selain itu, memiliki omzet tahunan maksimal Rp300 juta. 

Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri dan dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha. Usaha bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian langsung dan tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar. 

Kriteria usaha kecil adalah kekayaan bersih berkisar lebih dari Rp 50 juta sampai Rp 500 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan usaha. Selain itu, memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300 juta sampai dengan paling banyak Rp 2,5 miliar.

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri dan bukan termasuk anak perusahaan atau cabang perusahaan tertentu. Adapun, kriteria jumlah kekayaan bersih harus lebih dari Rp 500 juta hingga paling banyak Rp 10 Miliar. Selain itu, penjualan tahunan lebih dari Rp 2,5 miliar sampai paling banyak Rp 50 miliar.

Berdasarkan peraturan UU UMKM tersebut, pemerintah berasumsi bahwa penjualan tahunan rata-rata suatu bidang usaha adalah lima kali dari kekayaan bersih usaha tersebut. Definisi tersebut sesungguhnya lebih mengacu pada kinerja operasional, karena usaha dengan jumlah karyawan besar sekalipun dapat menjadi usaha kecil jika penjualan tahunan dan kekayaannya rendah.

Sebaliknya, perusahaan bisa tergolong usaha besar jika penjualan tahunan dan kekayaannya besar, meski jumlah karyawan hanya sedikit. 

Hal ini tercermin dari perusahaan-perusahaan baru yang berhasil mengembangkan usaha dalam waktu singkat karena inovasi teknologinya, seperti Google, Facebook, dan Yahoo. Mereka bisa ditetapkan sebagai usaha besar dan bukan UMKM karena mampu meraih pendapatan bombastis, meski jumlah karyawan hanya sedikit.

 

Karakteristik UMKM

Pada dasarnya, UMKM memiliki berbagai karakteristik. Berdasarkan perkembangannya, UMKM diklasifikasikan menjadi 4 kriteria yaitu: 

  • Livelihood Activities : UMKM yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah. Umumnya dikenal sebagai sektor informal.
  • Micro Enterprise : UMKM yang memiliki sifat pengrajin, tetapi tak bersifat kewirausahaan.
  • Small Dynamic Enterprise : UMKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan serta mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor.
  • Fast Moving Enterprise : UMKM yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi usaha besar.

 

Sementara secara statistik, UMKM dibedakan menurut sektor ekonomi:

– Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan.

– Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.

– Perdagangan, hotel dan restoran.

– Pertambangan dan penggalian.

– Listrik, gas, dan air bersih.

– Angkutan dan komunikasi.

– Industri pengolahan.

– Bangunan.

– Jasa.

 

Peran UMKM Terhadap Ekonomi Indonesia 

Perkembangan UMKM justru semakin menggeliat setelah krisis moneter menerjang ekonomi Indonesia pada 1997-1998 silam. UMKM bahkan dianggap menjadi tulang punggung perekonomian di saat perusahaan besar tumbang. 

Kondisi itu merupakan hal positif karena UMKM mampu menjadi tolak ukur aktivitas ekonomi masyarakat. Kehadiran UMKM juga dianggap menjadi solusi untuk memperbaiki perekonomian nasional. 

Dengan adanya usaha-usaha kecil, lapangan kerja semakin bertambah, sehingga pengangguran otomatis berkurang. UMKM bahkan dianggap berkontribusi paling besar terhadap penyerapan tenaga kerja dibanding sektor usaha besar. 

Dalam perkembangannya hingga saat ini, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 67 juta unit usaha di sektor mikro, kecil, dan menengah. Sebagian besar berada di sektor mikro. Angka itu tercatat paling banyak dibanding total unit usaha yang ada di seluruh nusantara. 

Kendati demikian, laporan ‘Arah Kebijakan dan Program Pengembangan KUKM 2020-2024 yang diterbitkan Kementerian Koperasi dan UMKM mengungkapkan kucuran kredit untuk sektor UMKM masih rendah. Banyak di antara mereka yang belum memiliki akses pendanaan untuk modal usaha ke berbagai lembaga pendanaan, baik lembaga perbankan, maupun lembaga non-bank.

Pada dasarnya, salah satu persoalan klasik yang menyebabkan UMKM sulit memperoleh pendanaan adalah karena pemilik usaha seringkali belum mampu menyajikan informasi terkait kondisi perkembangan usahanya. Hal ini terutama terkait laporan keuangan, khususnya laporan arus kas perusahaan.

 

Arus Kas dalam Laporan Keuangan 

Laporan arus kas merupakan rincian laporan keuangan yang menunjukkan aliran kas masuk dan kas keluar pada suatu periode akuntansi tertentu berdasarkan aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pembiayaan. 

Laporan arus kas biasanya menyajikan rincian sumber penerimaan kas dan kas yang dikeluarkan perusahaan. Jumlah kas yang diterima yakni meliputi investasi tunai dan pendapatan tunai. Sementara itu, jumlah kas yang dikeluarkan biasanya berbentuk belanja perusahaan.

Intinya, arus kas menyajikan informasi mengenai sumber dana, penggunaan dana, perubahan kas dan setara kas selama periode akuntansi. Selain itu, terdapat pula saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. 

Penyajian laporan digunakan sebagai indikator jumlah arus kas di masa mendatang yang bermanfaat baik bagi perusahaan, investor, maupun kreditor. Laporan arus kas juga bisa digunakan sebagai alat untuk menganalisis rencana perusahaan terkait investasi dan pembiayaan yang berjalan pada masa mendatang.

 

Fungsi Arus Kas dalam Laporan Keuangan UMKM

Pada dasarnya, laporan keuangan digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan menghasilkan kas di masa mendatang. 

fokus utama pelaporan keuangan adalah laba dan informasi terkait laba lainnya merupakan indikator untuk menilai kemampuan perusahaan menghasilkan kas di masa mendatang. Namun ukuran laba saja tak cukup untuk menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan yang sesungguhnya. 

Maka itu, laporan arus kas dibutuhkan untuk mengetahui gambaran kondisi perusahaan yang sesungguhnya. Pasalnya, seluruh informasi mengenai kinerja perusahaan selama periode tertentu dapat diperoleh dari laporan arus kas. 

Sebagai gambaran, perusahaan dengan tingkat pertumbuhan laba bersih yang tinggi tidak menjamin bahwa perusahaan memiliki uang kas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kas jangka pendek.

Hal itu karena laba bersih disusun bukan atas dasar kas, melainkan atas dasar akrual, yaitu melalui proses perbandingan antara beban dan pendapatan. Dengan begitu, jumlah laba tidak identik dengan besarnya uang kas yang tersedia. 

Maka tak heran jika UMKM dengan tingkat laba besar namun mengalami kesulitan likuiditas. Biasanya hal itu terjadi karena perusahaan membelanjakan uang kas yang tidak terpakai untuk investasi atau ekspansi.

Sebaliknya, ketika laba bersih terhitung sangat rendah karena beban non-kas membengkak, hal itu tak berarti kemampuan kas perusahaan juga rendah. Bisa jadi beban tersebut diakui tanpa ada pengeluaran uang kas. 

Melalui laporan arus kas, Anda dapat menilai kemampuan entitas dalam mendapatkan arus kas, memeriksa transaksi investasi dan pendanaan kas, dan dapat melihat kemampuan perusahaan membayar dividen atau kewajiban. Selain itu, dapat pula memperoleh keterangan atas perbedaan antara jumlah laba bersih dan kas bersih.

 

Komponen Utama Arus Kas

Berdasarkan PSAK yang disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntansi Indonesia (DSAK IAI), pada dasarnya laporan arus kas memiliki tiga komponen utama berdasarkan aktivitasnya, yaitu:

Arus kas dari kegiatan operasi

Arus kas dari kegiatan operasi merupakan arus kas yang berasal dari transaksi kegiatan usaha, yakni berupa pemasukan dan pengeluaran perusahaan. Aktivitas operasi meliputi transaksi-transaksi penentu besarnya laba atau rugi bersih perusahaan. 

Penerimaan kas dari penjualan barang atau jasa merupakan sumber arus kas masuk utama. Penerimaan kas lain berasal dari pendapatan bunga, dividen, dan lainnya. Sedangkan arus kas keluar yakni pembayaran untuk membeli bahan baku atau barang dagangan, membayar gaji atau upah karyawan, beban pajak, bunga, beban utilitas, sewa, dan lainnya. 

Arus kas dari kegiatan investasi

Arus kas yang mempengaruhi investasi dalam bentuk aset non-lancar. Umumnya, kegiatan investasi itu berhubungan dengan aktivitas penjualan dan pembelian dari aktiva atau aset tetap perusahaan, seperti pembelian atau penjualan tanah, bangunan, gedung, dan peralatan.

Arus kas dari kegiatan pembiayaan

Transaksi yang terkait dengan utang jangka panjang dan modal (ekuitas) perusahaan. Aktivitas pembiayaan meliputi transaksi saat kas diperoleh atau dibayarkan kembali ke pemilik dana, baik investor maupun kreditur. 

Misalnya kas bersih diterima dari penerbitan saham atau obligasi, pembayaran untuk membeli kembali saham biasa atau menebus kembali utang obligasi, dan pembayaran dividen tunai, serta pelunasan kredit perbankan.

Dalam hal ini, terdapat aktivitas investasi dan pembiayaan yang tidak mempengaruhi arus kas. Contohnya, penerbitan saham biaya atau surat utang dalam rangka pembelian aktiva tetap, konversi obligasi menjadi saham biaya, pertukaran aktiva tetap, dan penerbitan saham untuk ditukar dengan saham preferen konvertibel.

 

Strategi UMKM Kelola Arus Kas dalam Laporan Keuangan

Pada dasarnya, laporan arus kas akan memberikan informasi terkait kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dari aktivitas operasi, melakukan investasi, melunasi kewajiban, dan membayar dividen. Laporan ini didasari pada tiga kategori utama.

Laporan Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Anda dapat menggunakan dua metode dalam menghitung dan melaporkan jumlah arus kas bersih dari aktivitas operasi, yakni metode langsung dan metode tidak langsung. 

Dalam metode langsung atau seringkali disebut metode pelaporan laba rugi, biasanya dilakukan dengan menguji kembali setiap komponen laba rugi untuk melaporkan seberapa besar kas yang diterima atau dibayar benar-benar digunakan pada setiap komponen dari laporan laba rugi. 

Misalnya, jumlah penjualan yang tersaji pada laporan laba rugi diuji kembali dengan menggunakan laporan arus kas untuk mengetahui seberapa besar uang kas yang diterima perusahaan dari pelanggan sepanjang periode. Begitu juga harga pokok penjualan (HPP) disinkronkan dengan seberapa besar uang kas yang keluar ke supplier. 

Untuk beban gaji, beban bunga, beban pajak penghasilan, dan beban lain juga disesuaikan dengan uang kas.

Metode tidak langsung atau sering disebut metode rekonsiliasi dimulai dengan angka laba atau rugi yang dilaporkan dalam laporan laba rugi dan menyesuaikan laba atau rugi bersih yang sudah diukur atas dasar akrual tersebut dengan komponen yang tidak mempengaruhi arus kas. 

Intinya, laba atau rugi bersih akrual disesuaikan untuk menentukan jumlah arus kas bersih dari aktivitas operasi. 

Penyesuaian terdiri dari, pendapatan dan beban yang tidak melibatkan arus kas masuk atau arus kas keluar, seperti amortisasi premium atau diskonto investasi obligasi, beban penyisihan piutang ragu-ragu, beban penyusutan aktiva tetap, beban amortisasi aktiva tidak berwujud, dan beban amortisasi. 

Keuntungan dan kerugian terkait aktivitas investasi atau pembiayaan, misalnya dalam penjualan aktiva tetap, penjualan investasi saham, atau penebusan kembali utang obligasi.

Selain itu, perubahan dalam aktiva lancar selain kas dan kewajiban lancar sebagai hasil transaksi pendapatan dan beban yang tidak mempengaruhi arus kas, misalnya perubahan saldo piutang usaha, persediaan barang dagang, biaya dibayar dimuka, utang usaha, utang gaji, utang bunga, dan utang pajak penghasilan. 

Pada dasarnya, baik metode langsung maupun metode tidak langsung akan menghasilkan angka kas yang sama, yaitu jumlah arus kas bersih yang dihasilkan oleh aktivitas operasi perusahaan. 

Metode tidak langsung lebih disukai para pengusaha atau manajer keuangan karena relatif lebih mudah penerapannya, yakni hanya merekonsiliasi perbedaan antara jumlah laba rugi bersih dengan arus kas bersih yang dihasilkan oleh aktivitas operasi perusahaan. Dalam hal ini, data yang diperlukan untuk melaporkan arus kas bersih dari aktivitas operasi dapat segera didapat dari laporan laba rugi dan neraca komparatif, tanpa dianalisa. 

Di sisi lain, ada pula yang menyukai metode langsung karena bisa melaporkan sumber arus kas masuk dan keluar secara langsung tanpa harus dibingungkan dengan masalah penyesuaian terhadap laba rugi bersih. 

Namun, metode langsung umumnya jarang dipakai pembuat laporan keuangan karena data tidak bisa langsung tersaji, melainkan harus dianalisa terlebih dulu. Metode langsung seringkali dianggap kurang efisien karena membutuhkan waktu lebih panjang untuk proses analisa antara angka dalam laporan laba rugi dan neraca komparatif. 

Kendati demikian, pilihan antara metode langsung dan metode tidak langsung hanya mempengaruhi format penyusunan laporan arus kas dari aktivitas operasi. 

Laporan Arus Kas dari Aktivitas Investasi

Aktivitas yang termasuk dalam investasi adalah membeli atau menjual tanah, bangunan, dan peralatan. Laporan arus kas dalam aktivitas ini tidak dipengaruhi oleh metode langsung dan metode tidak langsung. 

Secara rinci, jika arus kas masuk lebih besar dari arus kas keluar, maka laporan berupa arus kas bersih yang dihasilkan. Sebaliknya, jika arus kas masuk lebih kecil dari arus kas keluar, maka laporan berupa arus kas yang digunakan. 

Laporan Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan

Seperti dijelaskan sebelumnya, arus kas dari aktivitas pembiayaan meliputi transaksi yang diperoleh atau dibayarkan kembali ke pemilik modal atau  kreditur, yakni terkait transaksi utang jangka panjang dan modal perusahaan.

Jika arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan lebih besar dibanding arus kas keluarnya, maka laporan berupa arus kas bersih yang dihasilkan. Sementara itu, jika arus kas masuk lebih kecil dibanding arus kas keluar, maka laporan berupa arus kas yang digunakan. 

Hal-hal yang Perlu Dihindari saat Kelola Arus Kas

Demi menjaga kinerja perusahaan, sangat penting mengelola arus kas dengan baik dan benar. Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda hindari saat mengelola arus kas:

Jumlah Kas Kurang 

Anda perlu menempatkan dan mengelola arus kas dengan baik dan benar sehingga tak menghasilkan kekurangan kas. Pada dasarnya jumlah kas yang berkurang bisa menimbulkan persoalan. 

Kekurangan kas bisa menyebabkan operasi UKM terhenti, misalnya untuk membeli bahan baku, tidak mampu membayar gaji karyawan, sehingga para karyawan mogok kerja, atau utang jatuh tempo tidak bisa dibayar sehingga bisa menimbulkan masalah hukum. 

Jumlah Kas Lebih

Kelebihan kas atau bisa dikenal dengan istilah kas menganggur (idle) juga berpotensi menimbulkan kerugian. Selain muncul risiko penggelapan dana atau kecurangan lain, kelebihan kas juga memunculkan kerugian penurunan nilai intrinsik. 

Pada dasarnya, perusahaan jadi kehilangan kesempatan berinvestasi pada sektor yang menguntungkan. Intinya, strategi pengelolaan kas menentukan keberhasilan UMKM. 

Cepat Ambil Kesimpulan atas Posisi Kas

Penilaian atas baik atau tidaknya posisi kas hanya dilihat dari kenaikan dan penurunan jumlah kas dianggap terlalu naif bagi sebagian besar akuntan. Pasalnya, kenaikan jumlah kas tidak bisa ditafsirkan sebagai peningkatan kinerja atau laba perusahaan. Sebaliknya, penurunan jumlah kas tidak bisa ditafsirkan bahwa perusahaan mengalami penurunan kinerja atau rugi. 

Laba memang menghasilkan penambahan kas, namun UMKM bisa saja menggunakan laba tersebut untuk mengembangkan usahanya. Pada akhirnya, total kas perusahaan menurun akibat ekspansi. Tujuannya, untuk mendatangkan kas lebih besar di kemudian hari. Dengan begitu, penurunan kas tidak berarti buruk.   

Dalam kasus lain, perusahaan mengalami kerugian, tetapi di saat bersamaan terdapat investor baru yang menanamkan dananya dan membuat total kas meningkat. Dalam hal ini, penambahan kas tidak menunjukkan keberhasilan kinerja perusahaan.

 

Kelola Arus Kas UMKM dengan Software Jurnal

Laporan arus kas pada aplikasi Jurnal berfungsi untuk mengukur kas yang telah dihasilkan atau digunakan oleh suatu perusahaan dan menunjukkan detail pergerakannya dalam suatu periode.

Pada laporan ini juga, transaksi yang mempengaruhi pergerakan Akun Kas/Bank dikelompokkan berdasarkan aktivitas Operasi, Investasi, dan Pendanaan.

Untuk perhitungan kelompok aktivitas Investasi dan Pendanaan pada kedua metode tidak jauh berbeda. Perbedaan hanya terlihat pada perhitungan kelompok transaksi pada aktivitas Operasi, namun akan tetap menghasilkan arus kas dari aktivitas Operasi yang sama.

Di Jurnal, laporan ini tersedia dalam 2 metode, yaitu :

a. Metode Langsung (Direct Method)

Metode langsung di aplikasi Jurnal ini memiliki sumber transaksi pada kelompok aktivitas Operasi, Pendanaan dan Investasi yang berasal dari transaksi yang memiliki pengaruh langsung terhadap akun kas/bank.

Transaksi tersebut seperti penerimaan pembayaran dari pelanggan, pembelian secara tunai atas persediaan atau perlengkapan yang umurnya diperkirakan kurang dari setahun, pembayaran ke supplier, pembayaran hutang lancar lain, penerimaan pendapatan lain, pengeluaran untuk biaya perusahaan, pembelian/penjualan aset, pinjaman dan modal.

b. Metode Tidak Langsung

Pada metode ini,  penentuan arus kas dari kelompok aktivitas operasional dilakukan dengan menyesuaikan nilai laba/rugi bersih yang telah tersaji dalam laporan laba rugi.

Perhitungan akan dimulai dari nilai laba/rugi bersih dikurangi dengan nilai piutang, aset lancar lain dan persediaan, kemudian ditambahkan dengan nilai penyusutan dari aset tetap, hutang usaha dan hutang jangka pendek lainnya.

CTA Jurnal


PUBLISHED24 Aug 2020
Lavinda
Lavinda


Kategori : Dunia UKM