Risiko UKM Tak Gunakan Cloud dalam Berbisnis di Tengah Wabah Corona

Menjalankan bisnis seperti Usaha Kecil Menengah (UKM) di tengah ancaman krisis tentu bukan hal yang mudah. Sedikit saja kesalahan yang dilakukan akan berdampak fatal bagi kelangsungan usaha dalam jangka panjang. Terlebih, di tengah pandemi Virus Corona atau COVID-19 saat ini, pelaku usaha perlu memiliki strategi dua kali lebih kuat demi tetap mempertahankan bisnisnya. 

Strategi yang diperlukan tak hanya soal menghadapi penurunan permintaan barang/jasa, tetapi juga menangkal kerugian dari sisi pengeluaran usaha. Dalam hal ini, pelaku usaha seringkali memilih opsi untuk menjalankan bisnis secara efisien, termasuk dalam hal penggunaan teknologi pendukung bisnis.

Banyak pelaku usaha larut dalam stigma bahwa penggunaan teknologi canggih, seperti halnya cloud computing atau komputasi awan, akan menimbulkan pemborosan biaya. Pada akhirnya, pebisnis lebih memilih teknologi sederhana yang manual untuk mendukung usahanya karena dianggap lebih murah.

Padahal tanpa disadari, pelaku usaha justru akan menghadapi sejumlah risiko jika tak menggunakan teknologi cloud untuk menjalankan bisnisnya. Berikut beberapa risiko yang akan Anda alami jika tak menggunakan teknologi cloud computing seperti dikutip Jurnal by Mekari, Senin (30/3).

Kapasitas Penyimpanan Data Terbatas, Kerja Terhambat

Anda mungkin berpikir bahwa menggunakan komputer fisik beserta alat penyimpanan data di dalamnya sudah cukup untuk mendukung bisnis Anda ke depan. Selain menganggap hal itu lebih murah, Anda juga merasa memperoleh jaminan fisik berupa komputer itu sendiri. Namun, risiko yang timbul adalah Anda tak dapat menyimpan data sebanyak yang Anda inginkan alias kapasitas penyimpanan data terbatas. Tak hanya itu, Anda juga harus bekerja lebih keras karena harus memperbarui (upgrade) memori secara berkala, terutama ketika kapasitas penyimpanan data sudah terlalu penuh. 

Dengan teknologi cloud computing, Anda bisa menyimpan data lebih banyak dari kapasitas penyimpanan yang dimiliki oleh komputer pribadi, karena bisa disimpan di server provider. Jadi tidak dibutuhkan lagi upgrade memori.

Selain itu, Anda juga tidak perlu khawatir harus mengeluarkan biaya untuk update software atau upgrade server. Pasalnya, server akan selalu di-update oleh pihak vendor layanan cloud sesuai permintaan. 

Sulit Koordinasi Apalagi Work From Home

Anda membayangkan jika menjalankan bisnis dengan teknologi manual, maka keberadaan data akan terjamin. Layaknya harta karun yang harus berada di kotak besi, Anda harus membuka tutup brankas untuk mengambil dan menaruh kembali harta berupa data usaha Anda. Namun, risiko yang Anda hadapi kemudian adalah Anda hanya akan terpaku pada satu lokasi saat ingin memperoleh data tersebut, sehingga mobilitas menjadi terbatas.

Jika Anda sedang berada di luar kota dan membutuhkan data, Anda mau tidak mau harus bergegas ke tempat data itu berada. Belum lagi jika lokasi data berada mengalami mati lampu, banjir, atau bencana lain. Lebih parahnya, bagaimana jika tempat penyimpanan data hilang? Anda juga tidak bisa koordinasi secara mudah dengan karyawan atau mitra usaha lain karena bergantung pada keberadaan data tertentu.

Dengan penggunaan teknologi cloud computing, Anda dapat mengakses data atau informasi di manapun berada. Seperti kondisi munculnya pandemi Virus Corona seperti saat ini, Anda menjadi mudah untuk bekerja dari rumah (work from home) menggunakan data yang tersedia di dalam cloud. Teknologi ini memungkinkan Anda dana karyawan untuk terhubung bahkan tanpa komputer mereka sendiri. Artinya, pekerjaan bisa dilakukan di mana saja selama memiliki koneksi dan akses ke internet.

Cloud computing juga menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi daripada metode komputasi konvensional. Bahkan, teknologi ini menghemat waktu sekaligus uang untuk orang-orang sibuk dan tidak punya banyak waktu.

Salah satu keunggulan cloud adalah memungkinkan pelaku usaha menjadi lebih lincah. Pada dasarnya, kecepatan pemesanan kapasitas dan layanan yang disediakan oleh pihak vendor cloud adalah elemen penting. 

Risiko Keamanan di Depan Mata 

Ketika menggunakan komputer sebagai ‘dewa’ penyimpanan data, maka beban pengelolaan teknologi otomatis diletakkan pada infrastruktur atau komputer itu sendiri. Termasuk semua hal yang terkait dengan perlindungan data, toleransi kesalahan, recovery, dan pemulihan bencana. Risiko keamanan data tentu berada di depan mata jika infrastruktur fisik mengalami kerusakan atau hilang. 

Dengan menggunakan cloud, maka beban pengelolaan keamanan teknologi itu ditempatkan pada penyedia layanan atau vendor. Dengan cloud, Anda tidak lagi harus khawatir tentang update server dan masalah komputasi lain yang secara reguler harus dilakukan. Dengan demikian, Anda akan lebih leluasa mengalihkan fokus dan berkonsentrasi pada inovasi dan pengembangan bisnis. 

Software Akuntansi untuk Kemudahan dalam Memajukan Bisnis UKM

Boros Waktu dan Biaya

Pemakaian teknologi manual menimbulkan risiko pemborosan waktu dan biaya. Susah percaya? Coba saja bayangkan ketika karyawan Anda membutuhkan sumber daya untuk mendukung pengembangan usaha, tapi tidak bisa diakses dengan mudah karena menggunakan teknologi manual. Mau tidak mau, Anda atau karyawan akan menghabiskan waktu dan biaya untuk mengakses sumber daya tersebut demi kemajuan usaha. 

Lain halnya jika menggunakan teknologi cloud computing, sumber kuncinya adalah kemampuan untuk berbagi sumber daya di dalam unit usaha. Hal itu memungkinkan semua karyawan dapat mengakses sumber daya melalui layanan cloud computing. Dengan demikian, cloud dapat menghemat waktu dan biaya melalui penempatan sumber daya dalam satu lokasi yang mudah bagi para karyawan untuk mencari dan mengaksesnya. 

Tak hanya itu, jika menggunakan teknologi manua, biaya pemulihan bencana diperkirakan dua kali lipat dari biaya infrastruktur. Dengan model berbasis cloud, biaya pemulihan bencana diperkirakan kurang dari satu kali biaya infrastruktur. Hal tersebut tentu saja merupakan sebuah penghematan yang sangat signifikan. Pada dasarnya, penggunaan cloud computing justru dapat membantu menekan biaya.

Sebagai aplikasi software akuntansi online, Jurnal ikut mendukung dan berkomitmen membantu menjawab tantangan untuk menjaga produktivitas dan pertumbuhan ekonomi di tengah tuntutan untuk mengurangi mobilitas ke tempat kerja dan keramaian umum lewat program #UKMtahankrisis.

Cari tahu selengkapnya mengenai produk Jurnal di website Jurnal atau isi formulir berikut ini untuk mencoba demo gratis Jurnal secara langsung. Program ini berlaku hingga akhir 31 Maret 2020. Cukup ketuk banner di bawah ini untuk mendapatkan promo kesempatan bonus berlangganan Jurnal selama 60 hari dan diskon 35% (Min subscribe 12 bulan). Salam sehat dan produktif selalu!apa itu social distancing dan strategi bisnis


PUBLISHED29 Mar 2020
Lavinda
Lavinda

SHARE THIS ARTICLE: