Mekari Jurnal
Daftar Isi
12 min read

Memahami Historical Cost dalam Akuntansi: Prinsip, Penerapan, dan Perbedaannya dengan Fair Value

Tayang 09 Nov 2023
Diperbarui 31 Januari 2024

Dalam prinsip akuntansi, terdapat sebuah istilah yang merujuk pada sebuah nilai pada aset dalam laporan keuangan yang biasa kita kenal dengan biaya historis atau historical cost? Historical cost (biaya historis) dan fair value (nilai wajar) adalah dua metode penilaian yang berbeda dalam akuntansi yang digunakan untuk menilai aset dan kewajiban suatu perusahaan. Mari kita eksplorasi lebih lanjut pengertian keduanya dan perbedaannya.

Pada dasarnya, dalam mencatat suatu nilai aset dalam praktik akuntansi, terdapat banyak metode yang bervariasi dalam penggunaan dan perhitungannya.

Namun, historical cost menjadi konsep perhitungan nilai aset yang paling dasar karena menggunakan perspektif konservatif yang tidak peduli dengan inflasi atau depresiasi.

Apa Itu Pengertian Historical Cost / Biaya Historis?

Historical cost adalah metode penilaian yang mendasarkan nilai aset atau kewajiban pada biaya aslinya saat pertama kali diperoleh atau terjadi transaksi.

Dalam konteks akuntansi, ini berarti bahwa aset dicatat dalam neraca perusahaan dengan harga beli atau biaya perolehannya ketika pertama kali diperoleh.

Secara umum, historical cost mengacu pada harga dari suatu aset, liabilitas, atau ekuitas pada saat transaksi pembelian terjadi dan akan tercantum sebagai nilai dari suatu aset dalam neraca perusahaan.

Hal ini selaras dengan proses pencatatannya di mana sebagian besar aset jangka panjang milik perusahaan yang tercatat di laporan neraca sebagian besar tercatat berdasarkan biaya historisnya.

Prinsip ini menekankan pencatatan nilai aset berdasarkan jumlah uang yang sebenarnya dikeluarkan untuk memperolehnya, termasuk biaya perolehan, pengangkutan, dan pengaturan aset tersebut.

Dengan mendasarkan penilaian pada biaya historis, akuntansi menawarkan suatu pendekatan yang konservatif dan objektif, memfasilitasi keandalan laporan keuangan.

Pendekatan ini memberikan kejelasan dan keteraturan dalam pelaporan keuangan, sehingga menciptakan dasar akuntansi yang stabil dan dapat diandalkan.

Walaupun begitu, masih terdapat batasan mengenai keakuratannya dalam mencerminkan nilai sebenarnya aset dari waktu ke waktu.

Cara Kerja Prinsip Biaya Historis

Biaya historis adalah prinsip dasar dalam akuntansi yang menyatakan bahwa aset dan kewajiban harus dicatat dengan menggunakan nilai perolehan pada saat pembelian.

Prinsip ini memiliki dasar keyakinan bahwa biaya historis memberikan informasi objektif dan dapat diukur dengan pasti.

Agar nilai tetap dan tidak mengalami perubahan, maka setiap pengeluaran yang diperlukan pada proses perolehan aset akan masuk ke dalam nilai aset dalam catatan sebagai bagian dari historical cost.

Dengan menetapkan dasar nilai aset dan kewajiban pada biaya historis, pihak manajemen keuangan dapat memberikan gambaran yang konsisten dan dapat diandalkan tentang kinerja keuangan suatu entitas.

Penerapan prinsip ini dapat membantu menghindari subjektivitas dalam penilaian aset dan kewajiban, sehingga pengguna laporan keuangan dapat memahami dengan jelas sejauh mana nilai aset tersebut telah berubah seiring waktu.

Selain itu, prinsip historical cost juga memberikan dasar yang stabil dan konsisten untuk pelaporan keuangan, yang esensial untuk analisis jangka panjang dan perbandingan historis.

Meskipun begitu, masih muncul beberapa kritikan terhadap prinsip ini karena tidak memperhitungkan nilai pasar saat ini.

Prinsip Biaya Historis

Prinsip biaya historis adalah prinsip dasar dalam akuntansi yang mengharuskan perusahaan untuk mencatat aset dan kewajiban mereka berdasarkan biaya asli atau biaya perolehan saat pertama kali diperoleh atau terjadi transaksi.

Prinsip ini memberikan dasar yang stabil untuk pencatatan dan pelaporan keuangan.

Namun, prinsip biaya historis juga memiliki keterbatasan.

Salah satunya adalah bahwa ini tidak selalu mencerminkan nilai aktual aset dan kewajiban perusahaan, terutama jika nilai pasar berubah secara signifikan sejak pertama kali aset tersebut diperoleh.

Dalam kasus aset yang memiliki nilai pasar yang fluktuatif atau berisiko inflasi tinggi, prinsip ini dapat menghasilkan ketidakakuratan dalam laporan keuangan.

Oleh karena itu, dalam beberapa situasi, perusahaan juga dapat menggunakan penilaian nilai wajar untuk aset tertentu, terutama jika hal itu lebih relevan dalam menggambarkan nilai aktual.

Baca Juga: 10 Prinsip Dasar Akuntansi yang Perlu Anda Ketahui

Contoh Aset Tetap yang Mencerminkan Historical Cost

Biasanya, historical cost akan tergambarkan pada aset tetap (fixed asset) yang tercantum dalam laporan neraca perusahaan, aset tetap tersebut terbagi menjadi lima jenis yaitu:

  1. Lahan atau tanah.
  2. Perlengkapan atau furniture.
  3. Bangunan/infrastruktur seperti kantor atau gudang.
  4. Pabrik.
  5. Alat atau mesin produksi.

Mudahkan Proses Pencatatan Transaksi Bisnis Anda dengan Aplikasi Akuntansi Mekari Jurnal dan Bantu Proses Pengambilan Keputusan Bisnis Semakin Cepat dan Mudah!

Baik, Saya Akan Konsultasi Gratis dengan Tim Mekari Jurnal Sekarang!

Cara Menyesuaikan Biaya Historis

Biaya historis mencatatkan transaksi sesuai dengan prinsip akuntansi konservatif, di mana mencerminkan biaya sebenarnya dan tidak bisa diubah.

Oleh karena itu, perlu ada penyesuaian secara berkala agar memastikan bahwa perusahaan tetap mendapatkan keuntungan dari hasil pembelian aset jangka panjang atau tetap tersebut.

Agar dapat menyesuaikan nilai aset, biasanya penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan konsep depresiasi aset atau penyusutan pada aset seperti pabrik dan mesin.

Dalam neraca, biaya penyusutan akan terakumulasi dari waktu ke waktu dan dapat ditemukan di bawah harga perolehan aset.

Hasil pengurangan depresiasi pada historical cost dapat menghasilkan nilai aset yang tepat dan realistis sesuai dengan pemanfaatannya.

Mengutip dari CFI, masih terdapat alternatif lainnya untuk melakukan penyesuaian historical cost, yaitu dengan menyesuaikan biaya dengan kondisi inflasi atau biaya penggantian.

Biaya penyesuaian inflasi mengacu pada nilai penyesuaian yang meningkat atau positif dari biaya perolehan aset.

Biaya penggantian atau replacement cost adalah sebuah nilai yang terbayarkan setelah mendapatkan aset yang serupa.

Perbedaan Biaya Historis dan Fair Value

Ada 4 cara yang perlu diperhatikan untuk menyesuaikan nilai aset yang dicatat berdasarkan biaya historis agar mencerminkan nilai aktual atau nilai pasar saat ini.

Beberapa di antaranya melibatkan:

  1. Penyusutan: Untuk aset fisik seperti properti atau mesin, perusahaan dapat menggunakan metode penyusutan untuk mengurangi nilai aset seiring berjalannya waktu. Ini mencerminkan fakta bahwa aset tersebut mengalami depresiasi nilainya seiring penggunaannya.
  2. Penurunan Nilai: Jika ada bukti bahwa nilai pasar suatu aset telah menurun secara signifikan di bawah nilai historisnya, perusahaan dapat mencatat kerugian atas penurunan nilai tersebut.
  3. Penilaian Nilai Wajar: Untuk aset yang memiliki nilai pasar yang fluktuatif, perusahaan dapat memilih untuk menilai nilai aset tersebut berdasarkan nilai wajar saat penyusunan laporan keuangan.
  4. Penghapusan: Jika suatu aset sudah tidak memiliki nilai ekonomis atau tidak lagi digunakan, perusahaan dapat memutuskan untuk menghapus aset tersebut dari neraca.

Penggunaan metode ini akan tergantung pada jenis aset, kebijakan perusahaan, dan persyaratan akuntansi yang berlaku.

Perbedaan Biaya Historis dan Fair Value

Agar Anda dapat memahami perbedaan antara historical cost dengan metode fair value, pahami terlebih dahulu definisi dari fair value dalam ilmu akuntansi keuangan.

Apa yang Dimaksud dengan Fair Value?

Dalam melakukan metode pencatatan biaya historis, biasanya akan muncul istilah yang lain yang kerap terdapat dalam prinsip akuntansi, yaitu metode fair value.

Hal ini dikarenakan dua istilah ini yang menunjukkan harga sebenarnya dari objek atau aset dari waktu ke waktu.

Fair value termasuk praktik mark-to-market di mana memiliki nilai aset yang memiliki tingkat perubahan tinggi sesuai dengan harga yang terdapat di pasar.

Biasanya fair value juga dapat ditemukan pada neraca perusahaan karena beberapa aset wajib memerlukannya.

Aset tersebut khususnya dalam aset jangka pendek yang terletak di bagian aset aset lancar di neraca, contohnya adalah investasi yang dapat dipasarkan.

Oleh karena itu, fair value menjadi solusi untuk melaporkan aset yang sangat likuid dan ingin dijual dalam jangka pendek dengan memperkirakan jumlah arus kas yang akan perusahaan dapatkan.

Pencatatan menggunakan prinsip fair value penting karena aset perlu menjukkan nilai yang akurat mengenai apa yang akan perusahaan dapatkan dari penjualan aset tersebut.

Baca Juga: Jenis Aktiva dalam Akuntansi yang Harus Anda Ketahui

Biaya Historis vs Fair Value

Setelah mengetahui metode dan cara kerja fair value, maka Anda dapat melihat perbedaan yag cukup signifikan antara konsep historical cost dengan konsep fair value.

Tentunya, yang paling utama di antara keduanya adalah perbedaan metode dalam melakukan penilaian aset yang perusahaan akan jual.

Historical cost, tentu saja mengacu kepada harga nilai aset pada saat memperolehnya, sehingga tidak berubah secara signifikan.

Di sisi lain, metode fair value mencerminkan nilai aset berdasarkan penyesuaian dari prediksi nilai pasar saat ini dan di masa depan, sehingga lebih fleksibel.

Metode perhitungan historical cost dapat berimplikasi pada informasi yang stabil, terhindar dari subjektivitas, dan jelas dalam pelaporan keuangan.

Sementara metode fair value dapat memberikan informasi yang lebih relevan dengan situasi pasar yang sering mengalami penetapan harga yang berfluktuasi dan inkonsisten.

Oleh karena itu, daripada memilih salah satu dari kedua metode tersebut, perusahaan lebih sering mengkombinasikan kedua metode tersebut dalam neraca untuk mendapatkan gambaran yang lebih kontekstual mengenai nilai aset dalam pelaporan keuangan.

aoa itu historical cost dalam neraca, prinsip, dan cara kerjanya

Baca Juga: Arti Value for Money: Manfaat, Indikator dan Cara Mengukurnya

Poin Poin Perbedaan Antara Historical Cost dan Fair Value

Sekarang kita telah memahami pengertian historical cost dan fair value, mari kita tinjau perbedaan utama antara keduanya:

Dasar Penilaian:

  • Historical Cost: Berdasarkan biaya asli atau harga perolehan saat pertama kali diperoleh.
  • Fair Value: Berdasarkan nilai pasar saat ini atau harga yang akan diterima dalam transaksi pasar normal.

Konservatif vs. Dinamis:

  • Historical Cost: Pendekatan konservatif yang cenderung menghasilkan nilai lebih rendah.
  • Fair Value: Pendekatan dinamis yang mencerminkan nilai aktual saat itu.

Objektif vs. Subjektif:

  • Historical Cost: Metode penilaian yang lebih objektif karena bergantung pada harga yang sebenarnya dibayarkan.
  • Fair Value: Metode penilaian yang lebih subjektif karena dapat dipengaruhi oleh faktor pasar dan penilaian subjektif.

Pengaruh Inflasi:

  • Historical Cost: Tidak mencerminkan penyesuaian nilai aset dengan inflasi atau perubahan nilai waktu.
  • Fair Value: Lebih mungkin mencerminkan perubahan nilai aset akibat inflasi atau fluktuasi pasar.

Ketelitian vs. Relevansi:

  • Historical Cost: Lebih berkaitan dengan ketelitian dan pengukuran yang stabil.
  • Fair Value: Lebih relevan dalam menggambarkan nilai aktual aset atau kewajiban.

Penggunaan:

  • Historical Cost: Lebih umum digunakan dalam konteks aset yang tidak diperdagangkan di pasar terbuka atau memiliki nilai yang relatif stabil.
  • Fair Value: Lebih umum digunakan dalam penilaian aset yang diperdagangkan di pasar terbuka atau memiliki nilai yang fluktuatif.

Baca Juga: Mengenal Rasio Prospek Pasar dalam Analisis Keuangan

Contoh Penerapan Biaya Historis

Agar lebih mudah memahami bagaimana cara kerja historical cost dalam laporan keuangan, simak selengkapnya dalam contoh berikut ini.

Perusahaan Anda saat ini sedang membutuhkan sebuah kendaraan kantor baru untuk kebutuhan akomodasi pada setiap kegiatan operasional perusahaan.

Dalam hal ini, perusahaan kemudian membeli sebuah mobil seharga Rp 195.000.000 yang di bayar dimuka.

Untuk proses pencatatannya dalam laporan neraca, nilai aset tetapnya yaitu Rp 195.000.000 dan ini merupakan biaya historis atau historical cost-nya.

Seiring berjalannya waktu pemanfaatan aset, tentunya mobil kantor akan mengalami penyusutan.

Hal ini disebabkan karena beberapa faktor seperti usia pemakaian, jarak penggunaan, hingga penurunan performa sparepart.

Jika perusahaan memutuskan untuk menghitung dengan metode penyusutan garis lurus selama tiga tahun, maka nilai aset saat ini berubah dan kemungkinan harga mobil saat ini hanya bernilai Rp 160.000.000 saja.

Kemudian, jika terjadi sebuah kejadian tidak terduga dan mobil tidak dapat dikendaraan kembali, perusahaan tentu akan mencari pengganti mobil tersebut.

Untuk hal ini, Anda memerlukan biaya penggantian untuk jenis kendaraan yang sama. Perlu diperhatikan juga bahwa biaya penggantian tidak sama dengan biaya saat ini karena nilai mobil telah terdepresiasi.

Anda juga perlu memperhitungkan inflasi saat menentukan biaya.

Jika perusahaan Anda sebelumnya membeli mobil pada tahun 2019, Anda perlu melakukan penyesuaian dengan inflasi yang terjadi.

Jika harga mobil pada saat itu seharga Rp 195.000.000, maka biaya penyesuaian dengan inflasi bisa menjadi Rp 210.000.000 pada tahun 2022.

Adanya penerapan historical cost ini memungkinkan perusahaan untuk dapat mencatat nilai aset tetap berdasarkan riwayat dan fakta sebenarnya, sehingga dapat memberikan dasar yang objektif dan konsisten pada laporan keuangan.

Contoh Historical Cost Yang Lain

Untuk memahami lebih lanjut bagaimana historical cost bekerja dalam praktiknya, mari kita lihat contoh sederhana:

Sebuah perusahaan membeli sebuah mesin produksi seharga Rp 1.000.000.000 pada tahun 2010.

Pada tahun 2023, mesin tersebut masih digunakan dan dalam kondisi baik. Dalam laporan keuangannya untuk tahun 2023, perusahaan akan mencatat nilai mesin tersebut sebesar Rp 1.000.000.000 sesuai dengan historical cost, meskipun nilai pasar mesin tersebut mungkin berbeda jika dijual hari ini.

Dengan menggunakan historical cost, perusahaan menjaga konsistensi dalam pencatatan nilainya sepanjang waktu, meskipun nilai aset tersebut mungkin telah berubah sejak pertama kali dibeli.

Point Penting yang Terdapat di dalam Biaya Historis

Saat mengkaji historical cost, ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan:

  1. Harga Asli atau Biaya Perolehan: Historical cost mengacu pada harga asli atau biaya perolehan suatu aset atau kewajiban saat pertama kali diperoleh atau terjadi transaksi. Ini adalah nilai dasar yang digunakan dalam pencatatan.
  2. Konservatif: Historical cost cenderung menghasilkan nilai aset yang lebih rendah daripada nilai pasar saat ini, sehingga pendekatan ini dianggap konservatif.
  3. Objektif: Pendekatan historical cost dianggap lebih objektif karena bergantung pada fakta-fakta konkret seperti harga asli.
  4. Ketelitian vs. Relevansi: Metode ini lebih berkaitan dengan ketelitian dan stabilitas pengukuran daripada relevansi dalam menggambarkan nilai aktual aset.
  5. Tidak Mencerminkan Perubahan Nilai: Historical cost tidak mencerminkan perubahan nilai aset seiring waktu atau akibat fluktuasi pasar.
  6. Penggunaan Pada Aset Stabil: Ini lebih umum digunakan pada aset yang memiliki nilai yang relatif stabil atau aset yang tidak diperdagangkan di pasar terbuka.

Kesimpulan

Itulah penjelasan lengkap mengenai pemahaman umum dan cara kerja prinsip historical cost dalam praktik akuntansi keuangan bisnis.

Dengan mendasarkan penilaian pada prinsip biaya ini, akuntansi memberikan dasar yang konsisten dan dapat diandalkan dalam pelaporan keuangan, menekankan nilai aset berdasarkan jumlah uang yang sebenarnya dikeluarkan untuk memperolehnya.

Meskipun prinsip ini memberikan kejelasan dan keteraturan, masih terdapat beberapa tantangan dan batasan terkait penerapan biaya ini dalam mencerminkan nilai sebenarnya aset dari waktu ke waktu.

Untuk mengatasi hal ini, perusahaan dapat mengkombinasikan prinsip historical cost dengan fair value untuk mendapatkan gambaran yang lebih kontekstual mengenai nilai aset dalam laporan keuangan.

Jika Anda membutuhkan teknologi yang dapat menunjang proses penyusunan laporan keuangan agar semakin mudah dan akurat dalam membuatnya, software akuntansi Mekari Jurnal jawabannya.

Dengan sistem akuntansi yang terkelola secara otomatis dan ramah pengguna, Mekari Jurnal dapat membantu Anda dalam mengelola berbagai kebutuhan akuntansi dan keuangan bisnis yang sering mengalami banyak rintangan.

Berbagai tantangan dan masalah akuntansi tentunya akan sering ditemui dan sulit untuk diatasi dengan cepat. Oleh karena itu, segera gunakan Mekari Jurnal sekarang dan rasakan seberapa cepatnya masalah Anda selesai dengan mudah!

Baik, Saya Akan Konsultasi Gratis dengan Tim Mekari Jurnal Sekarang!

Dapatkan kesempatan merasakan berbagai fitur unggulan lainnya pada Mekari Jurnal dengan free trial selama 7 hari bagi pendaftaran pertama.

Temukan berbagai promo dan penawaran menarik hanya untuk Anda di berbagai kanal media informasi resmi Mekari Jurnal.

Semoga artikel ini bermanfaat!

Kategori : Cost Accounting
Kelola Keuangan Lebih Optimal, Dapatkan Penawaran Terbatas Ini
Jurnal software akuntansi terpercaya

 

Dapatkan free trial sekarang!

 

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal
Kelola Keuangan Lebih Optimal, Dapatkan Penawaran Terbatas Ini
Jurnal software akuntansi terpercaya

 

Dapatkan free trial sekarang!

 

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal