Saham merupakan jenis investasi yang high risk dan high return. Skala perbandingan risiko baik untuk kerugian dan keuntungannya tidaklah jauh berbeda. Selain itu, tendensi turun dan naiknya nilai saham bisa berubah tidak lagi dalam hitungan hari bahkan bisa dalam hitungan jam. Akan tetapi godaan terhadap iming-iming keuntungan yang bisa diberikan dalam bermain saham, terkadang membuat orang banyak yang kurang berhati-hati dan akhirnya gagal dalam berinvestasi saham. Bagi Anda yang ingin memulai investasi saham, ada baiknya belajar dari kesalahan investor sebelumnya. Berikut ini sebelas kesalahan besar investor saham yang perlu Anda hindari.

 

Hanya Terpaku Pada Satu Saham

Hanya terpaku pada satu saham sangatlah berbahaya, karena membuat investor saham menjadi tidak rasional dalam menilai sahamnya. Saat seorang investor sudah jatuh cinta kepada sebuah saham, ia pun cenderung mengabaikan hal buruk tentang saham favoritnya, hanya ingin mendengar hal baik saja (confirmation bias). Gunakanlah saham sebagai media atau alat yang dapat menuntun Anda kepada tujuan keuangan Anda, tapi jangan terlalu terpaku padanya, karena pada akhirnya saham tersebut tetap akan Anda lepas untuk memenuhi tujuan keuangan Anda.

 

Tidak Paham Sisi Fundamental

Fundamental perusahaan seharusnya menjadi analisa mendasar dalam mengambil keputusan untuk membeli sebuah saham. Sayangnya banyak investor lebih suka melihat tren sesaat dalam analisa teknikal. Hasrat ingin menghasilkan profit cepat di pasar modal, membuat investor saham cenderung mengabaikan fundamental perusahaan. Padahal laba rugi perusahaan yang menjadi pemicu harga saham sangat tergantung fundamental perusahaan. Anda bisa bayangkan risiko yang mengancam investor jika sisi fundamental diabaikan.

 

Mudah Putus Asa

Memiliki saham, artinya memiliki sebagian kecil persentase dari sebuah bisnis. Investasi saham pun dapat dianalogikan dengan berbisnis. Anda pun harus siap dengan risiko yang ada, yaitu ketidakpastian. Artinya, Anda harus siap bukan hanya ketika mendapat keuntungan, tapi juga siap terhadap risiko kerugiannya. Pengusaha yang sukses pasti pernah mengalami jatuh bangun dalam menjalankan bisnisnya, demikian pula dengan investor saham. Ketika Anda sebagai investor saham pemula membuat kesalahan dalam investasi, jangan mudah putus asa dan meninggalkan bursa. Belajarlah dari kegagalan tersebut, dan perbaiki cara Anda berinvestasi, sehingga dapat menjadi investor cerdas bermental baja.

 

Terjebak Saham Murah, Padahal Tidak Potensial

Sudah menjadi hukum bisnis, seorang investor ingin mendapatkan harga murah dan menjual saat harga tinggi. Tidak terkecuali di dunia saham. Sayangnya, banyak investor pemula salah memahami strategi investasi ini dengan mengambil saham dengan harga murah namun sejatinya memang saham tersebut berasal dari perusahaan yang tidak bagus. Hal yang mendorong investor pemula membeli saham dengan harga murah adalah karena keterbatasan modal. Banyak investor pemula membeli banyak saham bernilai kecil dengan harapan dapat untung banyak, padahal aksi investasi seperti ini justru cenderung merugikan.

Pengembalian tingkat investasi Anda tidak bergantung pada berapa banyak jumlah lembar saham yang Anda pegang, melainkan dari masa depan perusahaan yang sahamnya ada di tangan Anda. Peluang lebih besar untuk mendapatkan keuntungan bisa didapatkan apabila Anda membeli sedikit saham unggul ketimbang membeli ribuan saham recehan.

 

Takut Membeli Saham Saat Pasar Turun

Kondisi ekonomi bergerak secara siklus, terkadang di atas dan terkadang di bawah. Saat perekonomian bagus, bursa saham bergairah dan mengangkat harga saham naik (bullish). Investor pun lebih menyukai membeli saham saat pasar bullish. Sebaliknya, saat ekonomi memburuk, bursa saham akan lesu, dan investor akan pesimis. Hal ini pun akan memengaruhi harga saham, sehingga nilainya akan turun (bearish). Jika kita lihat dengan seksama, pasar yang bearish menawarkan kesempatan investasi untuk membeli saham bagus dengan harga murah.

Misalnya pada awal tahun 2016, saham komoditas batu bara sedang tertekan sampai nilainya jauh di bawah ekuitasnya. Saat ekonomi membaik, dan harga batu bara kembali naik, saham-saham tersebut pun kembali naik sesuai harga wajarnya. Bagi pelaku investasi saham yang pintar ini adalah sebuah peluang yang bagus.

 

Terjebak Transaksi Jangka Pendek yang Berisiko

Transaksi jangka pendek (short selling) memang menggiurkan. Anda bisa bayangkan jika punya modal besar hanya dalam beberapa menit saja bisa meraup keuntungan jutaan rupiah dengan sistem seperti ini. Namun sejatinya, transaksi seperti ini sangat menguras waktu, energi, dan emosi. Di luar itu, risiko yang mengancam juga relatif besar. Harga yang berfluktuasi dengan cepat menuntut kemampuan investor saham yang berpengalaman dan bisa mengontrol emosi untuk melakukan transaksi pada saat yang tepat. Meraih profit dalam waktu singkat dengan model transaksi seperti ini akan sangat berisiko. Sejatinya Untuk hasil maksimal, pasar saham hampir selalu menghasilkan return positif dalam jangka panjang, yaitu di kisaran tiga tahun atau lebih.

 

Tidak Peduli Portofolio

Ada kejadian investor yang membeli suatu perusahaan dan sengaja membiarkannya dalam jangka panjang dan setelah beberapa tahun kemudian perusahaan itu sudah besar dan sahamnya profit. Sekilas investasi seperti ini menguntungkan, namun sejatinya bukan suatu cara berinvestasi yang bagus. Berapapun portofolio saham yang Anda miliki, Anda harus memonitor secara berkala. Tujuannya adalah jika saham perusahaan yang Anda miliki semakin bagus kinerjanya, maka Anda bisa menambah portofolio sehingga potensi keuntungan semakin baik dan jika sahamnya turun Anda tidak terlambat mengambil keputusan untuk menjualnya.

 

Mudah Terbawa Situasi Panik

Panic selling adalah peristiwa yang terjadi karena para investor berpanik ria akan kejatuhan harga saham. Dalam fenomena panic selling, para investor ingin segera melepas sahamnya tanpa peduli harganya, karena takut harganya akan semakin jatuh. Tindakan ini dipicu oleh emosi dan ketakutan daripada analisis yang rasional. Hindarilah menjual saham karena terbawa kepanikan. Analisislah saham yang ingin Anda jual, apakah secara fundamental saham tersebut masih layak Anda pegang. Ingat! Memiliki saham yang bagus sama saja seperti memiliki seperbagian kecil dari perusahaan yang bagus dan bonafit. Mengapa harus menjualnya dengan harga yang murah?

 

Terlalu Takut Rugi

Terlalu berani dan terlalu takut rugi dalam investasi saham sama berbahayanya. Salah satu kebiasaan investor saham yang keliru adalah gemar mencairkan profit kecil-kecilan, tetapi mereka seringkali enggan untuk menanggung rugi dengan cut loss pada saham-saham yang sedang ‘tenggelam’. Celakanya lagi saat harga saham turun drastis, investor tersebut tetap saja terus memegang saham yang sedang jatuh itu tanpa mempedulikan fundamentalnya dengan harapan bahwa harganya akan kembali naik. Tindakan seperti ini justru semakin membuat investor rugi semakin besar.

 

Salah Masuk Pasar

Pasar saham sangat sensitif terhadap kondisi di luar yang dimasukkan oleh media, bisa saja naik ataupun turun drastis. Seringkali kepanikan pasar melahirkan harga saham yang overpriced atau underpriced. Idealnya, harga saham harus proporsional dengan total kapital dan prospek pendapatan sebuah perusahaan. Aksi ikut-ikutan beli saham saat kondisi pasar bullish, membuat investor terjebak membeli saham-saham yang over priced. Seringkali investor tersebut terlewat optimistis dan mengharapkan harga terus menanjak. Sebaliknya, di pasar bearish, investor berubah pesimistis dan berusaha menjual saham justru di saat-saat mereka seharusnya berusaha membeli.

Investor saham yang sukses selalu mendasarkan investasinya pada nilai intrinsik saham dan mengejar saham-saham yang murah dengan basis itu. Mereka akan membeli saham perusahaan dengan fundamental kuat saat harganya di pasar turun, lalu baru menjualnya saat harga lebih tinggi. Kuncinya, jangan mengambil keputusan ekstrim saat kondisi pasar sedang bullish (sangat fluktuatif).

 

Salah Mengikuti Tips Saham

Teknologi memudahkan kita dalam berkomunikasi, salah satunya dalam berbagi tips jual beli saham. Namun sayangnya, tidak semua tips berasal dari sumber yang tepercaya. Lagi pula, dalam investasi tidak bisa diprediksi 100% bisa sukses atau gagal. Pahami juga bahwa nama besar saja tidak menjamin masa depan suatu perusahaan. Investor saham yang baik memiliki kestabilan emosi yang baik pula sehingga tidak mudah menerima tip maupun saran dari sumber yang tidak jelas, tanpa melakukan analisis terlebih dahulu.

 

Dalam berinvestasi saham, tak ada yang bisa menjamin sepenuhnya akan sukses. Selain butuh pengetahuan yang cukup untuk analisa fundamental perusahaan dan rajin mengamati kondisi makro ekonomi agar bisa melakukan jual dan beli saham di saat yang tepat. Kunci sukses lainnya adalah hindari beberapa kesalahan yang sering dilakukan investor saham seperti ulasan di atas. Ada 4 hal yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi saham, yaitu method, money, mind, dan management.

 

Selain investasi uang, Anda juga bisa memulai untuk berinvestasi melalui bisnis dengan menggunakan software akuntansi. Di mana, dengan software akuntansi, Anda dapat memonitor keuangan bisnis kapan dan di mana saja, sehingga Anda dapat mengontrol keuangan lebih mudah. Jurnal merupakan software akuntansi online yang dapat membantu Anda mengelola keuangan bisnis kapan dan di mana saja. Dilengkapi dengan sistem Cloud dan telah tersertifikasi ISO 24001, Anda tidak perlu lagi ragu mengenai keamanan data bisnis Anda. Dapatkan semua informasi tentang Jurnal di sini, dan daftarkan bisnis Anda sekarang juga!