Mad Bagel dan Mookie Bagi Rahasia Sukses Bisnis F&B di Era Digital

Perkembangan industri Food and Beverage (F&B) di Indonesia sangat pesat. Industri ini bahkan mampu menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ada banyak alasan yang membuat bisnis F&B di Indonesia berkembang pesat. Misalnya jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, yaitu mencapai 269 juta jiwa di tahun 2019. Alasan lainnya adalah karakter penduduk Indonesia yang consumer alias tukang jajan. 

Kendati demikian, pelaku usaha F&B dituntut untuk terus berinovasi dengan mampu memanfaatkan teknologi di era digital saat ini. Dengan teknologi itu pada akhirnya memang mempercepat peningkatan produktivitas bisnis hingga lebih berkembang.

Owner Mad Bagel, Anika, memulai usaha sampingan membuat roti Bagel bersama sang kakak sejak 2018. Permintaan yang tinggi membuatnya mengambil keputusan besar untuk berhenti bekerja dan melanjutkan usaha secara penuh. Dari dapur rumah dan hanya memanfaatkan teknologi penjualan online, kini Mad Bagel memiliki 3 outlet dengan omzet lebih dari Rp 160 juta per bulan.

Anika mengungkapkan langkah yang perlu dilakukan untuk memulai bisnis kuliner adalah melakukan riset tentang produk yang unik dan otentik. Sehingga bisa dipasarkan dengan mudah karena persaingan yang masih longgar. 

Dalam perkembangannya, Anika mengatakan dia memanfaatkan teknologi penjualan e-commerce dan layanan antar pesanan instan online. Sejak saat itu, pesanan produk kulinernya meningkat drastis, tak hanya dari Jabodetabek, tetapi juga dari luar Pulau Jawa.

Anika mengakui peningkatan penjualan memang tak terlepas dari upaya pemanfaatan teknologi digital dalam memasarkan produknya. Ia berhasil memanfaatkan media sosial Instagram untuk memasarkan produk roti asal Eropa Timur tersebut. 

“Di era digital, pemasaran via media sosial sangat membantu dan paling leading pemasaran dari Instagram. Kami posting foto yang membuat orang tergiur dan bikin lapar, packaging juga penting supaya orang mau makan dan mau foto, akhirnya jadi promo gratis. Untuk penjualan online, kami masuk e-commerce, website, dan layanan pesanan antar online,” ungkap Anika dalam event Jurnal Entrepreneur: Menjawab Tantangan Bisnis Food & Beverage di Era Digital di Satrio Tower, Jakarta, Kamis (23/1).

Sementara itu, Co-founder & COO Mookie, Priyanda Adwito, menyatakan mengemas produk cookiesnya dengan konsep ‘Mookie Stories’, yaitu makhluk dari luar angkasa yang memiliki semestanya sendiri. Mookie bertekad menyebarkan kebahagiaan melalui cookies untuk mengurangi tingkat stres manusia di bumi. Konsep unik itu menjadi strategi marketing Mookie untuk memperluas jangkauan pemasaran produknya.

Soal strategi marketing, Priyanda menceritakan dia mengawali usaha menjual soft based cookies dengan pemasaran via online di media sosial Instagram. Hasilnya, pemasaran berjalan lancar hingga membuahkan akumulasi penjualan yang signifikan. Perkembangan bisnis yang menjanjikan membuat Priyanda bersama istrinya juga berekspansi ke channel e-commerce dan layanan pesan antar online. 

Channel marketing-nya tak cuma Instagram, tetapi juga endorsement dan kolaborasi dengan influencer atau perusahaan yang lebih besar lain. Kami juga melakukan pemasaran dengan gimmick tertentu sesuai dengan platform digital,” ucap Priyanda.

Tidak hanya itu, Priyanda mengakui kunci keberhasilan bisnisnya adalah pencatatan, baik untuk kebutuhan marketing, operasional, maupun keuangan. Dalam aktivitas marketing misalnya, pencatatan jenis dan momentum pemasaran sangat dibutuhkan untuk mengetahui pola marketing yang efektif. Pencatatan mampu menunjukkan seberapa besar aktivitas marketing berpengaruh terhadap penjualan. Pada akhirnya, hal itu akan menjadi bahan evaluasi sekaligus menentukan pengambilan keputusan marketing selanjutnya. 

Saat memulai bisnis, dia menjalankannya dengan proses pencatatan secara manual. Namun ketika bisnis sudah berkembang dan bahkan besar, pencatatan dengan cara manual tentu menjadi kendala. Sederhananya, ketika baru mulai bisnis mungkin transaksi penjualan masih terbatas dan pencatatan masih bisa diatasi dengan cara manual. Tetapi jika transaksi penjualan sudah banyak, maka butuh bantuan teknologi untuk mempermudah proses pencatatan serta kontrol terhadap bisnis.

Priyanda pun akhirnya menggunakan Jurnal untuk mencatat kinerja perusahaannya. Bagi dia, menggunakan Jurnal lebih efisien baik dari segi waktu, biaya, dan tenaga. Dia menambahkan Jurnal mampu memberikan data secara realtime, sehingga mampu meningkatkan skala bisnis secara signifikan.

“Jurnal bisa realtime. Nanti kalau ada investor juga kan kelihatan dan bisa meningkatkan skala bisnis. Pencatatan juga bisa jadi bahan evaluasi, terutama kalau SDMnya terbatas,” sebutnya.

Head of Marketing Printerous, Inka Permata, menilai pelaku usaha F&B bisa memanfaatkan tools dari berbagai media sosial untuk mengevaluasi pola pemasaran dan mengambil keputusan bisnis di masa mendatang.

“Kalau pakai Instagram bisa dilihat data untuk evaluasi engagement-nya. Intinya harus mengikuti perkembangan teknologi dan media sosial yang lagi tren untuk jadi saluran pemasaran. Jangan lelah untuk eksplorasi konten dan lihat polanya seperti apa,” papar Inka.

Selain media sosial, dia melihat platform bisnis seperti Jurnal bisa memberikan solusi untuk masalah keuangan dan bisnis. Intinya membuat pekerjaan jauh lebih efektif dan efisien. 

“Operasional serahin saja dengan teknologi seperti Jurnal. Mending waktunya digunakan untuk menentukan strategi pengembangan usaha. Analitiknya sudah ada, tinggal lihat track record-nya. Jadi bisa diketahui titik yang bisa mempengaruhi pengembangan usaha dan bisa jadi alat untuk mengambil keputusan bisnis juga,” jelasnya.

Berikut ini rahasia sukses bisnis F&B di era digital:

Optimalisasi Platform Digital

Pelaku usaha kuliner disarankan mempelajari lebih dalam penggunaan berbagai platform digital dan memanfaatkannya untuk kepentingan pemasaran produk. Platform digital yang dimaksud bisa berupa media sosial, website, dan aplikasi. Pengusaha dapat memanfaatkan layanan gratis dengan membuat akun media sosial, seperti Instagram atau Facebook. 

Selain konten gratis, pelaku usaha kuliner dapat pula memanfaatkan layanan iklan resmi yang ada di platform media sosial. Cara lain, menggunakan jasa influencer untuk menarik perhatian calon konsumen. 

Jangan Ragu Ikut Acara Kuliner

Jika ingin merintis usaha kuliner, menurut Inka, Anda tak perlu ragu mengikuti berbagai acara kuliner yang diselenggarakan oleh siapapun, kapanpun dan di manapun. Baik berupa acara bazar kuliner, acara promosi produk, atau kolaborasi dengan pihak lain. Tak ada yang pernah tahu, acara yang Anda ikuti bisa jadi pintu gerbang untuk semakin mengembangkan bisnis kuliner di masa mendatang.

Mengelola Hubungan Baik dengan Pelanggan

Pelanggan merupakan faktor paling penting di industri bisnis F&B, bahkan bisa jadi sangat menentukan keberlangsungan bisnis. Untuk itu, pelaku usaha perlu mengelola dan menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Salah satunya, dengan meminta komentar soal kualitas produk.

Tak banyak yang menyadari, strategi promosi paling mudah dan murah ialah memanfaatkan respons konsumen untuk memperluas jangkauan pemasaran produk. Misalnya, pelaku usaha bisa ‘membujuk’ pelanggan untuk mengunggah produk di laman sosial media mereka. Testimoni dari pelanggan juga dapat ditampilkan untuk menunjukkan kredibilitas produk tersebut.

Membuat Strategi Promosi untuk Meningkatkan Loyalitas

Menjaga loyalitas pelanggan pada produk kuliner juga menjadi langkah yang tak kalah penting untuk menjaga keberlanjutan usaha. Untuk itu, pelaku usaha perlu menciptakan strategi promosi bagi pelanggan yang terbiasa mengkonsumsi produk tersebut. Misalnya, dengan promosi akumulasi poin untuk memperoleh diskon, atau promosi diskon berdasarkan momentum.

Membuat Kemasan Unik dan Kreatif

Hal yang tak kalah penting dalam bisnis F&B adalah mendesain kemasan yang unik dan kreatif sehingga dapat menarik perhatian pelanggan. Dengan demikian, pelanggan tak hanya dimanjakan oleh kualitas produk, tetapi juga pengalaman (customer experience) dalam mengkonsumsi produk tersebut. Kemasan yang menarik bahkan bisa menjadi jalur promosi gratis bagi pelaku usaha. Misalnya, pelanggan yang tertarik dengan kemasan unik akan sukarela memotret produk, dan mengunggah di sosial media miliknya.

Pentingnya Pencatatan

Co-founder & COO Mookie, Priyanda Adwito, mengakui kunci keberhasilan perkembangan bisnis adalah pencatatan. Baik untuk kebutuhan marketing, operasional, maupun keuangan. Dalam aktivitas marketing misalnya, pencatatan jenis dan momentum pemasaran sangat dibutuhkan untuk mengetahui pola marketing yang efektif.  Pencatatan mampu menunjukkan seberapa besar aktivitas marketing berpengaruh terhadap penjualan. Pada akhirnya, hal itu akan menjadi bahan evaluasi sekaligus menentukan pengambilan keputusan marketing selanjutnya. Dalam hal ini, pelaku usaha F&B bisa memanfaatkan teknologi digital seperti Jurnal untuk mencatat kinerja perusahaan secara teratur dan realtime. Sehingga mampu meningkatkan skala bisnis secara signifikan.

Berkomitmen memberikan inspirasi bagi para pebisnis, Jurnal rutin mengadakan Jurnal Entrepreneur setiap bulannya. Follow Instagram @Jurnalofficial agar tidak ketinggalan acara selanjutnya.


PUBLISHED24 Jan 2020
Wiji Nurhayat
Wiji Nurhayat

SHARE THIS ARTICLE: