Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
11 min read

Cara Membuat Laporan Laba Rugi Perusahaan F&B: Lengkap dari Food Cost sampai Net Profit

Diperbarui
Ditulis oleh: lavinda Lavinda
Direview oleh: Mekari Jurnal reviewer Phebe Susanti, S.Ak

Highlights
  • Laporan laba rugi bisnis F&B memerlukan pendekatan khusus karena melibatkan food cost, waste, prime cost, dan berbagai kanal penjualan yang memiliki struktur biaya berbeda.
  • Pemisahan pendapatan berdasarkan dine-in, takeaway, online delivery, dan catering membantu mengidentifikasi kanal yang paling menguntungkan sekaligus mengukur dampak komisi platform terhadap margin.
  • Menghitung HPP secara akurat, termasuk bahan baku, kemasan, dan food waste, menjadi kunci untuk menghasilkan laporan laba rugi yang mencerminkan kondisi bisnis sebenarnya.
  • Pemantauan benchmark seperti food cost, labor cost, prime cost, dan net profit margin secara berkala membantu pemilik restoran mengambil keputusan lebih cepat dan menjaga profitabilitas usaha.

Bisnis makanan dan minuman punya karakter yang tidak dimiliki sektor lain.

Margin tipis, bahan baku cepat rusak, harga sayur bisa naik minggu ini dan turun minggu depan, sementara platform online delivery memotong pendapatan sebelum uang sempat masuk ke rekening.

Kombinasi ini membuat laporan laba rugi F&B jauh lebih rumit dibanding sekadar mencatat penjualan dikurangi biaya.

Sebagai gambaran, rata-rata net profit margin restoran full-service berada di kisaran 3% sampai 5% saja, sementara format fast casual atau quick service bisa mencapai 6% sampai 10%.

Artinya, dari setiap Rp100.000 penjualan, hanya sekitar Rp3.000 sampai Rp10.000 yang benar-benar menjadi laba bersih pemilik usaha.

Dengan margin setipis itu, satu kesalahan kecil dalam menyusun laporan laba rugi bisa membuat pemilik usaha mengambil keputusan yang salah arah, entah menaikkan harga menu yang sebenarnya masih untung, atau justru mempertahankan menu yang diam-diam merugi.

Belum lagi soal bahan baku yang terbuang. Secara global, sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun, setara sepertiga dari total produksi pangan dunia untuk konsumsi manusia.

Sebagian dari angka itu terjadi persis di dapur restoran dan kafe, mulai dari bahan yang kadaluarsa sebelum sempat diolah sampai porsi yang terlalu besar dan berakhir di tempat sampah pelanggan.

Kalau kerugian ini tidak masuk hitungan HPP secara eksplisit, laporan laba rugi akan menampilkan margin yang lebih bagus dari kondisi sebenarnya.

Artikel ini akan membahas cara menyusun laporan laba rugi khusus bisnis F&B, lengkap dengan simulasi angka nyata dan benchmark rasio biaya yang bisa langsung dipakai sebagai pembanding.

Kenapa Laporan Laba Rugi F&B Berbeda dari Bisnis Dagang Biasa

Laporan laba rugi pada dasarnya menyajikan pendapatan dikurangi beban dalam satu periode.

Namun bisnis F&B punya beberapa karakter yang membuat penyusunannya perlu perlakuan khusus.

Sumber pendapatan datang dari banyak kanal sekaligus. Satu resto bisa punya pemasukan dari dine-in, takeaway di kasir, pesanan online lewat GoFood atau GrabFood, sampai catering untuk acara.

Setiap kanal punya margin berbeda karena struktur biayanya juga berbeda, terutama untuk penjualan online yang otomatis kena potongan komisi.

HPP dihitung per resep, bukan per unit barang jadi. Berbeda dengan bisnis dagang yang tinggal mencatat harga beli barang, F&B harus menghitung biaya bahan baku untuk setiap piring yang disajikan, ditambah kemasan untuk pesanan delivery, dan bahan yang terbuang karena rusak atau kadaluarsa sebelum sempat terjual.

Ada metrik unik bernama prime cost. Ini adalah gabungan food cost dan labor cost, dua komponen biaya terbesar yang paling sering dipantau operator restoran karena keduanya paling mudah dikendalikan dibanding biaya sewa yang biasanya terikat kontrak jangka panjang.

Karena karakter-karakter ini, komponen laporan laba rugi F&B perlu dipecah lebih detail dibanding laporan laba rugi bisnis dagang pada umumnya.

Komponen Utama Laporan Laba Rugi F&B

struktur laporan laba rugi bisnis kuliner.

1. Pendapatan (Revenue Streams)

Pecah berdasarkan kanal penjualan, seperti dine-in, takeaway, online delivery, dan catering, supaya terlihat kanal mana yang paling menguntungkan setelah dikurangi biaya masing-masing.

2. Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold/COGS)

Terdiri dari biaya bahan baku sesuai resep (recipe cost), kemasan untuk pesanan bawa pulang atau delivery, serta akumulasi bahan yang terbuang karena rusak, kedaluwarsa, atau salah produksi.

3. Biaya Operasional (Operating Expenses/ OpEx)

Mencakup sewa tempat, komisi platform online delivery yang bisa mencapai seperlima sampai sepertiga nilai transaksi, utilitas seperti listrik dan gas untuk dapur, serta gaji kru dapur dan front of house.

4. Prime Cost

Kombinasi food cost dan labor cost, metrik yang paling sering dijadikan alarm dini kesehatan operasional restoran.

Berikut rentang ideal masing-masing komponen jika dibandingkan terhadap total pendapatan.

rentang ideal masing-masing komponen jika dibandingkan terhadap total pendapatan

Angka-angka ini penting sebagai pembanding, bukan patokan mutlak.

Kedai kopi kecil dengan sewa murah bisa punya toleransi labor cost lebih tinggi, sementara resto fine dining dengan harga jual tinggi biasanya menekan food cost lebih ketat untuk menutup biaya bahan premium.

Format Single-Step atau Multi-Step, Mana yang Cocok untuk F&B

Secara umum, laporan laba rugi disusun dalam dua format.

1. Format Single-Step

Format single-step menjumlahkan seluruh pendapatan lalu mengurangkan seluruh beban sekaligus, cocok untuk kedai kecil dengan struktur biaya sederhana dan pemilik yang butuh gambaran cepat tanpa banyak detail.

2. Format Multi-Step

Format multi-step memisahkan perhitungan secara bertahap, mulai dari pendapatan dikurangi HPP untuk mendapatkan laba kotor, lalu laba kotor dikurangi biaya operasional untuk mendapatkan laba operasional, sebelum akhirnya dikurangi pajak dan beban lain untuk mendapatkan laba bersih.

Mengapa Format Multi-Step Lebih Cocok untuk Bisnis F&B

Untuk bisnis F&B dengan banyak kanal penjualan dan struktur biaya yang kompleks seperti komisi platform, format multi-step jauh lebih disarankan.

Alasannya sederhana, pemilik bisnis bisa melihat persis di tahap mana marginnya tergerus, apakah di level HPP karena bahan baku terlalu mahal, atau di level operasional karena komisi platform dan biaya sewa yang membengkak.

Alur Recipe-to-Margin: Dari Harga Menu ke Laba Bersih

Alur Recipe-to-Margin: Dari Harga Menu ke Laba Bersih

Cara paling mudah memahami bagaimana satu menu berkontribusi ke laba bersih adalah dengan melihat alurnya secara visual, mulai dari harga jual sampai angka yang benar-benar tersisa untuk perusahaan.

Alur ini menjelaskan kenapa dua resto dengan harga jual menu yang sama bisa punya laba bersih jauh berbeda. Resto pertama mungkin punya food cost terkendali tapi komisi platform online yang tinggi karena mayoritas penjualan lewat delivery.

Resto kedua sebaliknya, mayoritas dine-in dengan komisi platform minim, tapi labor cost membengkak karena staf terlalu banyak dibanding volume transaksi.

Contoh Menyusun Laporan Laba Rugi Kedai Kopi Senja

Supaya lebih konkret, mari susun laporan laba rugi untuk kedai kopi fiktif bernama Kedai Kopi Senja, kafe kecil dengan satu cabang yang melayani dine-in, takeaway, delivery online, dan sesekali catering.

1. Pecah Pendapatan Berdasarkan Kanal

Dari total pendapatan Rp135.000.000 bulan ini, terlihat dine-in masih jadi kontributor terbesar. Porsi online delivery sekitar 26% dari total pendapatan, cukup signifikan untuk diperhitungkan komisinya secara terpisah.

2. Hitung HPP dan Laba Kotor

Rasio HPP di angka 30,4% dari pendapatan, sedikit lebih baik dibanding batas atas benchmark ideal. Ini mengindikasikan porsi menu dan pengendalian waste sudah cukup efisien untuk skala usaha ini.

3. Kurangi Biaya Operasional untuk Dapatkan Net Profit

Setelah dikurangi seluruh biaya operasional, Kedai Kopi Senja mengantongi laba bersih Rp14.000.000 dari pendapatan Rp135.000.000, setara net profit margin 10,4%.

Angka ini berada di atas rata-rata industri fast casual, indikasi struktur biaya kedai ini sudah cukup sehat.

4. Mengecek Prime Cost sebagai Validasi Akhir

Mengecek Prime Cost sebagai Validasi Akhir

Prime cost Kedai Kopi Senja berada di 63,7%, masih dalam rentang ideal 60% sampai 65%.

Kalau angka ini pernah menembus 70%, itu sinyal kuat untuk segera meninjau ulang harga menu, porsi bahan baku, atau jumlah staf yang dipekerjakan pada jam-jam sepi.

Studi Kasus: Ketika Pencatatan Manual Menghambat Keputusan Cepat

Hvbitat 1

Tantangan menyusun laporan laba rugi F&B secara akurat dan cepat bukan cerita teori semata. Hvbitat Cafe, kafe fusion Jepang di Bogor Timur yang menyajikan menu all-day breakfast, makanan berat, hingga es krim artisan, sempat mengalami hambatan serupa sebelum beralih ke sistem digital.

Sebelumnya, seluruh pencatatan operasional dan keuangan Hvbitat Cafe dilakukan lewat spreadsheet manual. Laporan keuangan bulanan baru bisa diselesaikan beberapa minggu setelah bulan tersebut berakhir, sehingga tim tidak bisa memantau kondisi keuangan dan operasional secara real-time.

Kondisi ini mempersulit pengambilan keputusan bisnis yang cepat, padahal harga bahan baku dan tren menu di industri F&B bisa berubah dalam hitungan minggu.

Setelah mengimplementasikan Mekari Jurnal sejak Januari 2025, Annisa Gifi yang menjabat sebagai Culture and Business Growth Lead di Hvbitat Cafe merasakan perubahan signifikan pada cara timnya bekerja.

“Aku nggak perlu susah-susah bikin laporan. Tinggal memastikan semua data yang terinput sudah benar sebelum generate laporannya. Jauh lebih simpel dibandingkan Excel,” ujar Annisa Gifi, yang akrab disapa Keke.

Hvbitat 2 800X628

Hasilnya terukur secara kuantitatif. Pembuatan laporan keuangan Hvbitat Cafe menjadi 14 kali lebih cepat, dari yang sebelumnya butuh waktu mingguan menjadi hanya 1 sampai 2 hari saja.

Produktivitas kerja tim operasional dan keuangan juga meningkat hingga 78%, karena waktu yang sebelumnya dihabiskan satu hari penuh untuk urusan administrasi kini bisa dipangkas menjadi 2 sampai 3 jam saja per hari.

Pola ini umum ditemukan di bisnis F&B dengan menu bervariasi dan banyak kanal penjualan sekaligus.

Semakin kompleks variasi menu dan kanal transaksinya, semakin besar risiko laporan laba rugi terlambat disusun kalau masih mengandalkan proses manual.

Fitur Mekari Jurnal yang Relevan untuk Pengelolaan Laba Rugi F&B

Menyusun laporan laba rugi F&B yang akurat sebenarnya bergantung pada seberapa rapi data transaksi harian tercatat sejak dari kasir. Berikut beberapa fitur yang relevan untuk kebutuhan ini.

1. Integrasi POS dengan Pencatatan Akuntansi

Mekari Jurnal dapat terintegrasi dengan sistem POS seperti Mekari POS maupun sistem POS pihak ketiga yang sudah dipakai resto. Setiap struk yang terjual di kasir otomatis memotong stok bahan baku sesuai resep dan langsung tercermin dalam laporan laba rugi, tanpa perlu input ulang secara manual.

2. Product Bundling untuk Menu Kombo

Fitur ini membantu bisnis F&B melacak pergerakan stok dari menu paket atau kombo secara akurat, sekaligus mempermudah penyesuaian menu musiman sesuai campaign yang sedang berjalan.

3. Purchase-to-Pay untuk Kontrol Pembelian Bahan Baku

Alur permintaan pembelian sampai pembayaran tercatat dalam satu platform, membantu tim purchasing merencanakan pembelian stok bahan baku dengan lebih terukur dan mengurangi risiko overstock atau understock.

4. Laporan Laba Rugi Otomatis dan Real-Time

Setiap transaksi yang masuk dari kasir maupun pembelian bahan baku langsung membentuk laporan laba rugi tanpa proses rekap manual berhari-hari, sehingga manajemen bisa mengambil keputusan berdasarkan data terkini.

5. Analisa Laporan Berbasis AI

Fitur analisa laporan berbasis AI dari Mekari Jurnal dapat memberikan peringatan dini kalau rasio food cost bulan berjalan melonjak melampaui batas wajar, sehingga manajer resto tidak perlu menunggu sampai tutup buku untuk menyadari ada yang tidak beres pada struktur biaya.

Kombinasi fitur-fitur ini relevan khususnya untuk bisnis F&B yang menerima pesanan dari banyak kanal sekaligus, seperti yang dialami Hvbitat Cafe dengan integrasi POS iSeller yang tersambung ke platform pengantaran online, di mana setiap pesanan online otomatis memotong stok sesuai bundling menu yang sudah diatur di sistem.

Kesalahan Umum dalam Menyusun Laporan Laba Rugi F&B

Beberapa kesalahan berikut sering ditemukan pada bisnis kuliner, terutama yang masih mengandalkan pencatatan manual.

1. Mencampur Seluruh Pendapatan dari Berbagai Kanal Menjadi Satu Angka

Pertama, mencampur seluruh pendapatan dari berbagai kanal jadi satu angka tanpa rincian.

Padahal margin dine-in dan margin online delivery bisa berbeda jauh karena adanya potongan komisi platform.

2. Menghitung HPP Hanya dari Harga Beli Bahan Baku

Kedua, menghitung HPP hanya dari harga beli bahan baku tanpa memasukkan kemasan dan bahan yang terbuang.

Akibatnya, margin kotor yang terlihat di laporan lebih besar dari kondisi sebenarnya.

3. Tidak Memisahkan Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Ketiga, tidak memisahkan biaya tetap seperti sewa dari biaya variabel seperti bahan baku dan komisi platform.

Pemisahan ini penting untuk menghitung titik impas dengan akurat.

4. Terlambat Menyadari Kenaikan Food Cost

Keempat, baru menyadari rasio food cost membengkak setelah tutup buku bulanan, padahal kenaikan harga bahan baku biasanya sudah terlihat dari minggu-minggu sebelumnya kalau laporan dipantau lebih rutin.

Checklist Evaluasi Bulanan untuk Manajer Restoran

Sebelum menutup laporan bulanan, ada baiknya manajer restoran atau cafe meninjau lima hal berikut secara rutin.

Checklist Evaluasi Bulanan untuk Manajer Restoran

Kelima poin ini idealnya jadi rutinitas tetap setiap akhir bulan, dijadwalkan secara berkala, bukan sekadar dilakukan saat pemilik usaha merasa ada yang janggal dengan angka penjualan.

Pertanyaan yang Sering Muncul Seputar Laporan Laba Rugi F&B

Apakah biaya kemasan delivery masuk HPP atau biaya operasional? Idealnya masuk HPP, karena kemasan langsung melekat pada produk yang terjual dan besarannya berubah proporsional mengikuti volume pesanan, berbeda dengan sewa yang sifatnya tetap setiap bulan.

Berapa kali sebaiknya laporan laba rugi F&B disusun? Bulanan adalah standar minimum, tapi resto dengan volume transaksi tinggi sebaiknya memantau rasio food cost dan prime cost mingguan, supaya kenaikan harga bahan baku bisa terdeteksi lebih awal sebelum berdampak ke laporan bulanan.

Apakah setiap menu perlu dihitung margin secara terpisah? Sangat disarankan. Menghitung margin per menu membantu mengidentifikasi produk yang sebenarnya merugi meski laris terjual, sering disebut sebagai jebakan volume tinggi margin rendah.

Bagaimana cara menghitung dampak komisi platform terhadap margin per menu? Kurangi harga jual menu dengan persentase komisi platform terlebih dahulu untuk mendapatkan pendapatan bersih, baru kurangi dengan HPP menu tersebut untuk melihat margin riil dari kanal online.

Laporan Laba Rugi yang Akurat Merupakan Panduan Bisnis F&B

Bisnis F&B beroperasi dengan margin tipis dan variabel biaya yang bergerak cepat, mulai dari harga bahan baku sampai potongan komisi platform online. Laporan laba rugi yang disusun dengan komponen lengkap, mulai dari pemisahan kanal pendapatan, perhitungan HPP yang detail, sampai pemantauan prime cost, memberi pemilik usaha kompas yang jauh lebih akurat dibanding sekadar melihat saldo rekening di akhir bulan.

Kalau proses pencatatan manual sudah mulai menghambat kecepatan pengambilan keputusan, seperti yang sempat dialami Hvbitat Cafe sebelum beralih ke sistem digital, saatnya mempertimbangkan sistem yang bisa menyatukan data kasir, stok bahan baku, dan laporan keuangan dalam satu platform.

Coba jadwalkan demo Mekari Jurnal untuk melihat langsung bagaimana laporan laba rugi bisnis F&B Anda bisa tersusun otomatis dan akurat setiap bulan.

 

 

 

Referensi

Peppr POS. “Restaurant Profit Margin Guide, 2025.”

Restaurant365 dan VantaInsights. “Restaurant Profit Margins Benchmarks, 2026.”

Klikit.io dan hitungcerdas.net. “Data komisi platform online food delivery Indonesia, 2026.”

Media.market.us. “Food Waste Statistics, 2026.”

Mekari Jurnal. “Studi kasus Hvbitat Cafe, 2025.”

Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang

Apa itu laporan laba rugi bisnis F&B?

Apa itu laporan laba rugi bisnis F&B?

Laporan laba rugi bisnis F&B adalah laporan keuangan yang menunjukkan pendapatan, harga pokok penjualan (HPP), biaya operasional, hingga laba bersih restoran, kafe, atau usaha makanan dan minuman dalam suatu periode.

Mengapa laporan laba rugi bisnis F&B berbeda dengan bisnis dagang?

Mengapa laporan laba rugi bisnis F&B berbeda dengan bisnis dagang?

Bisnis F&B memiliki karakteristik seperti bahan baku yang mudah rusak, food waste, recipe costing, labor cost, serta penjualan melalui berbagai kanal seperti dine-in dan online delivery. Faktor-faktor tersebut membuat penyusunan laporan laba rugi menjadi lebih kompleks dibanding bisnis dagang.

Apa yang dimaksud dengan prime cost dalam bisnis F&B?

Apa yang dimaksud dengan prime cost dalam bisnis F&B?

Prime cost adalah gabungan antara food cost dan labor cost. Metrik ini menjadi indikator utama efisiensi operasional restoran karena mencakup dua komponen biaya terbesar yang dapat dikendalikan.

Berapa prime cost yang ideal untuk restoran?

Berapa prime cost yang ideal untuk restoran?

Secara umum, prime cost yang sehat berada pada kisaran 60–65% dari total pendapatan, meskipun angka ideal dapat berbeda tergantung konsep restoran dan model bisnisnya.

Bagaimana cara menghitung HPP pada bisnis makanan dan minuman?

Bagaimana cara menghitung HPP pada bisnis makanan dan minuman?

HPP dihitung berdasarkan biaya bahan baku sesuai resep, ditambah biaya kemasan, serta memperhitungkan bahan yang rusak, kedaluwarsa, atau terbuang selama proses produksi.

Mengapa laporan laba rugi restoran sebaiknya dibuat setiap bulan?

Mengapa laporan laba rugi restoran sebaiknya dibuat setiap bulan?

Penyusunan laporan laba rugi bulanan membantu pemilik usaha memantau perubahan food cost, labor cost, dan margin keuntungan lebih cepat sehingga keputusan bisnis dapat diambil sebelum masalah semakin besar.

Mengapa margin laba restoran sering terlihat kecil?

Mengapa margin laba restoran sering terlihat kecil?

Sebagian besar bisnis restoran beroperasi dengan margin laba bersih yang relatif tipis karena tingginya biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa, utilitas, dan komisi platform online delivery.

Bagaimana cara mengetahui menu yang paling menguntungkan?

Bagaimana cara mengetahui menu yang paling menguntungkan?

Hitung margin kontribusi setiap menu dengan membandingkan harga jual terhadap recipe cost, biaya kemasan, dan biaya variabel lainnya. Analisis ini membantu menentukan menu yang layak dipromosikan atau dievaluasi.

Apa manfaat software akuntansi untuk bisnis F&B?

Apa manfaat software akuntansi untuk bisnis F&B?

Software akuntansi membantu mengotomatisasi pencatatan transaksi, mengintegrasikan data POS dan persediaan, menghitung laporan laba rugi secara real-time, serta memantau food cost, prime cost, dan profitabilitas bisnis secara lebih akurat.

Mekari Jurnal

Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus.

Pelajari lebih lanjut

Sebagai bagian dari ekosistem software terpadu Mekari, 
Mekari Jurnal juga terintegrasi dengan berbagai solusi Mekari lainnya seperti :

  • Semua
  • Platform
  • Akuntansi & keuangan
  • Customer
  • People
  • Services
  • Operasional & digitalisasi

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami