Jurnal Enterpreneur

Pahami Koreksi Positif dan Negatif dalam Rekonsiliasi atau Koreksi Fiskal Laporan Keuangan Anda!

Penjelasan mengenai tabel dan contoh koreksi fiskal positif dan negatif adalah sebagai berikut dijelaskan disini. Terutama dalam rekonsiliasi atau koreksi fiskal dalam laporan keuangan sebuah perusahaan adalah berikut seperti yang akan dijelaskan pada tulisan di blog Jurnal By Mekari.

Perusahaan yang beroperasi di Indonesia, termasuk perusahaan asing yang membuka cabang di Indonesia, wajib membayar pajak dan menyerahkan laporan keuangan.

Namun yang menjadi permasalahan, terdapat perbedaan peraturan pelaporan keuangan dari sisi standar akuntansi yang berlaku dan sisi perpajakan Indonesia.

Coba Gratis Fitur Laporan Keuangan dan Bisnis Aplikasi Jurnal By Mekari Untuk Buat Keputusan Bisnis Lebih Cepat dan Akurat Dengan Klik Disini.

Dalam konteks perpajakan, laporan keuangan yang disusun sesuai dengan Peraturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berlaku disebut laporan komersial.

Sedangkan, laporan keuangan sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku disebut laporan fiskal.

Tahukah Anda kalau aplikasi akuntansi online Jurnal by Mekari bisa memudahkan Anda mengelola keuangan perusahaan secara lebih praktis dan akurat. Sekaligus pula mengelola perpajakan perusahaan. Buktikan dengan coba gratis aplikasi Jurnal dengan klik banner di bawah ini.

Penjelasan Contoh Koreksi Fiskal Positif dan Negatif Di Laporan Keuangan

Dimulai dari penjelasan mengenai sistem perpajakan di Indonesia, hingga tabel contoh koreksi fiskal positif dan negatif yang biasa digunakan.

Baca Juga : Akuntansi dan Pembukuan Simple untuk Pelaporan Pajak

Sistem Perpajakan di Indonesia

Penjelasan mengenai tabel dan contoh koreksi fiskal positif dan negatif dalam rekonsiliasi atau koreksi fiskal dalam laporan keuangan sebuah perusahaan adalah berikut seperti yang akan dijelaskan pada tulisan di blog Jurnal By Mekari.

Dalam sistem perpajakan Indonesia, terdapat beberapa jenis pajak yang dikenakan kepada Pengusaha Kena pajak (PKP).

Secara umum, yang pertama yaitu Pajak Penghasilan (PPh 21) 21, 22, 23 4 ayat 2 (Final), dan 26.

Koreksi fiskal yang menyebabkan terjadinya bertambahnya laba kena pajak adalah koreksi fiskal positif.

Lalu ada juga Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dikenakan ketika terjadi pertukaran barang atau jasa antara penjual dan pembeli.

Di samping PPN, terdapat Pajak Penghasilan atas Barang Mewah (PPnBM) yang dikenakan terhadap pembelian atau impor barang-barang yang menurut peraturan perpajakan dikategorikan sebagai barang mewah.

Baca Juga : Permudah Rekonsiliasi dengan Aplikasi Pencocokan Transaksi

Akuntansi Perpajakan

Secara esensial, akuntansi perpajakan berfungsi untuk mengoreksi laba dari laporan komersil menjadi laba fiskal.

Hal ini dilakukan karena terdapat perbedaan pengakuan antara pendapatan dan biaya menurut PSAK dan menurut peraturan perpajakan.

Perbedaan perhitungan atas pendapatan dan biaya tersebut kemudian bisa direkonsiliasi dengan apa yang disebut rekonsiliasi atau koreksi fiskal.

Sebagai informasi, wajib pajak tidak perlu membuat pembukuan ganda.

Wajib pajak cukup menyampaikan SPT Tahunan PPh terlebih dahulu sebelum dilakukan koreksi fiskal.

Teknisnya, koreksi fiskal dilakukan baik terhadap pendapatan maupun biaya-biaya yang terdapat pada laporan keuangan komersial.

Penjelasan Mengenai Koreksi Fiskal Positif dan Negatif Adalah Sebagai Berikut

Perlakuan dari koreksi fiskal sendiri tercantum dalam peraturan perpajakan UU no. 36 tentang PPh Koreksi fiskal dibedakan menjadi dua, yaitu koreksi positif dan koreksi negatif.

  • Koreksi Positif

Intinya, tujuan dari koreksi fiskal positif adalah menambah laba komersial atau laba Penghasilan Kena Pajak (PhKP).

Jadi, koreksi positif akan menambahkan pendapatan dan mengurangi atau mengeluarkan biaya-biaya yang sekiranya harus diakui secara fiskal.

Secara rinci, penyebab dari koreksi positif menurut Ortax.org adalah:

  1. Biaya yang dibebankan/dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya.
  2. Dana cadangan.
  3. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura atau kenikmatan.
  4. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan.
  5. Harta yang dihibahkan, bantuan, atau sumbangan.
  6. Pajak penghasilan.
  7. Gaji yang dibayarkan kepada pemilik.
  8. Sanksi administrasi.
  9. Selisih penyusutan/amortisasi komersial di atas penyusutan/amortisasi fiskal.
  10. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang dikenakan PPh Final dan penghasilan yang tidak termasuk objek pajak.
  11. Penyesuaian fiskal positif lain yang tidak berasal dari hal-hal yang telah disebutkan di atas.

Kendali penuh ketersediaan stok barang ada di tangan Anda! Kelola dengan software produk dan inventory Jurnal.

  • Koreksi Negatif

Sebaliknya, tujuan dari koreksi fiskal negatif adalah mengurangi laba komersial atau laba PhKP.

Hal ini disebabkan oleh pendapatan komersial yang lebih tinggi daripada pendapatan fiskal dan biaya-biaya komersial yang lebih kecil daripada biaya-biaya fiskal.

Penyebab dari adanya koreksi negatif sendiri adalah.

  1. Penghasilan yang dikenakan PPh Final dan penghasilan yang tidak termasuk objek pajak tetapi termasuk dalam peredaran usaha.
  2. Selisih penyusutan/amortisasi komersial komersial di bawah penyusutan/amortisasi fiskal.
  3. Penyesuaian fiskal negatif lain yang tidak berasal dari hal-hal yang telah disebutkan di atas.

Baca Juga : 4 Alasan Pentingnya Pembukuan untuk Kesuksesan Bisnis Kecil

Skema Laporan Rekonsiliasi atau Koreksi Fiskal

Penyebab terjadinya koreksi fiskal adalah karena terdapat perbedaan perlakuan, pengakuan penghasilan maupun biaya antara akuntansi komersial dengan akuntansi pajak.

Lalu untuk Anda yang memerlukannya berikut ini adalah contoh tabel skema laporan rekonsiliasi atau koreksi fiskal:

Deskripsi Komersial Koreksi Fiskal Fiskal
Koreksi Positif Koreksi Negatif
Pendapatan  –  –  –  –
HPP  –  –  –  –
Laba bruto  –  –  –  –
Biaya Operasional:  –  –  –  –
– Biaya Adm  –  –  –  –
– Biaya Penjualan  –  –  –  –
Laba Operasional  –  –  –  –
Penghasilan Lain  –  –  –  –
Biaya Lain-Lain  –  –  –  –
Laba Bersih  –  –  –  –
Kompensasi Kerugian  –  –  –  –
PhKP  –  –  –  –

Itulah overview mengenai apa itu rekonsiliasi atau koreksi fiskal.

Rekonsiliasi atau koreksi fiskal juga dapat didefinisikan sebagai salah satu cara untuk mencocokkan perbedaan yang terdapat di dalam laporan keuangan komersial yang disusun berdasarkan sistem keuangan akuntansi dengan laporan keuangan yang disusun secara fiskal.

Baca Juga : 5 Alasan Penting Menggunakan Aplikasi Keuangan untuk Bisnis

Laporan keuangan merupakan hal krusial dalam perusahaan.

Dengan adanya laporan keuangan, kinerja perusahaan bisa dinilai dan bisa memprediksi langkah perusahaan selama periode berikutnya.

egitu pula dengan pajak yang harus dibayar. Perusahaan yang rajin membayar pajak akan mendapat reputasi yang bagus dalam bisnis.

Anda bisa menyerahkan langsung SPT tahunan kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) secara online maupun offline berdasarkan laporan komersial yang sudah dibuat agar langsung dihitung rekonsiliasi fiskalnya.

Baca Juga : Cara Mengelola Cash Flow untuk Perkembangan Bisnis Anda!

Kelola Laporan Keuangan Perusahaan Lebih Mudah Dengan Aplikasi Akuntansi Jurnal By Mekari

Terkait dengan laporan komersial, Anda bisa menggunakan software akuntansi atau software accounting Jurnal By Mekari.

Jurnal ini adalah software akuntansi online yang berfungsi mempermudah pembuatan laporan keuangan perusahaan Anda secara akurat dan mudah.

Khususnya laporan laba rugi yang akan menjadi laporan komersial Anda.

Untuk informasi terkait fitur laporan keuangan pada aplikasi akuntansi Jurnal By Mekari lebih lengkap, silahkan cek di sini.

Nah, sekarang anda sudah paham mengenai menjelaskan mengenai tabel dan contoh koreksi fiskal positif dan negatif dalam rekonsiliasi atau dalam laporan keuangan sebuah perusahaan di blog Jurnal By Mekari.

Anda juga bisa menjawab jika ada pertanyaan seperti “penyebab terjadinya koreksi fiskal adalah?” atau “koreksi fiskal yang menyebabkan terjadinya bertambahnya laba kena pajak adalah koreksi?”.

Semoga informasi ini bisa bermanfaat. Jika Anda merasa tulisan ini berguna, silahkan dibagikan ke media sosial ya.

Kategori : Keuangan

Kembangkan bisnis Anda dengan Jurnal sekarang

https://d39otahjdwbcpl.cloudfront.net/wp-content/uploads/2021/04/ic-invite-to-office.svg

Coba Gratis

Akses seluruh fitur Jurnal by Mekari selama 14 hari tanpa biaya apapun

Coba Gratis 14 hari
https://d39otahjdwbcpl.cloudfront.net/wp-content/uploads/2021/04/ic-demo-interaktif.svg

Jadwalkan Demo

Jadwalkan sesi demo dan konsultasikan kebutuhan Anda langsung dengan sales kami

Jadwalkan Demo