11 min read

Current Ratio: Pengertian, Batasan, dan Contoh Cara Menghitung

Diperbarui

Analisis rasio keuangan merupakan alat untuk mengukur kesehatan finansial perusahaan. Salah satu rasio keuangan untuk mengukur rasio likuiditas adalah current ratio. Current ratio berfungsi untuk mengevaluasi kesehatan finansial agar dapat mengetahui seberapa jauh perusahaan mampu untuk mengatasi kewajibannya.

Beberapa kewajiban tersebut termasuk membayar gaji tetap karyawan dan utang serta pinjaman jangka pendek. Semakin tinggi nilai yang didapat dari perhitungan rasio likuiditas ini, maka kondisi finansial perusahaan semakin kuat.

Selain digunakan oleh pihak manajemen, hasil pengukuran ini juga akan diinformasikan ke analis keuangan dan juga investor. Lalu, bagaimana cara menganalisis dan menghitung current ratio untuk mengevaluasi kesehatan finansial perusahaan? Simak penjelasan selengkapnya di Mekari Jurnal berikut ini.

Apa Itu Current Ratio?

Current Ratio adalah salah satu rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya (utang lancar) dengan menggunakan aset lancar yang dimilikinya. Rasio ini mencerminkan likuiditas perusahaan, yaitu sejauh mana perusahaan mampu membayar utang-utang yang jatuh tempo dalam waktu dekat (biasanya dalam 12 bulan ke depan).

Rasio likuiditas ini dapat dihitung dengan membandingkan antara current assets dengan current liabilities. Dari perhitungan ini, perusahaan dapat melihat seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutup kewajiban jangka pendek yang akan jatuh tempo.

Selain perusahaan, hasil dari current ratio juga akan diperhatikan oleh investor dan analis keuangan untuk mengetahui bagaimana perusahaan dapat memaksimalkan aset lancar di neraca untuk memenuhi utang lancar dan utang lain-lain.

Mengutip dari Investopedia, current ratio dengan nilai lebih rendah dari rata-rata industri menunjukkan risiko kegagalan bayar yang lebih tinggi.

Di sisi lain, jika perusahaan memiliki nilai besaran rasio yang sangat tinggi dibandingkan dengan perusahaan sejenis, ini menunjukkan bahwa manajemen mungkin tidak memanfaatkan asetnya secara efisien.

Current Ratio: Pengertian, Batasan, dan Contoh Cara Menghitung

Interpretasi Nilai Current Ratio: Bagaimana Membaca Angka dengan Bijak

Setelah mengetahui bagaimana rasio ini dihitung, langkah selanjutnya adalah memahami bagaimana cara menafsirkan angka hasil perhitungan tersebut. Berdasarkan acuan umum dalam analisis keuangan, juga mengutip dari Wallstreetmojo, terdapat gambaran yang cukup sederhana untuk menganalisis hasil dari perhitungan current ratio:

Current Ratio > 1,0

Jika nilai rasio lebih besar dari 1,0, hal ini berarti bahwa aset lancar perusahaan lebih besar dibandingkan dengan kewajiban jangka pendeknya. Dengan kata lain, perusahaan dalam kondisi yang relatif sehat dari segi likuiditas karena mampu menutup semua kewajiban jangka pendeknya tanpa harus menjual aset tetap atau mencari pendanaan tambahan. Current ratio ideal bagi banyak industri berkisar antara 1,5 hingga 2,0. Namun, angka ini bisa berbeda tergantung pada sektor bisnis dan karakteristik industrinya.

Current Ratio = 1,0

Ketika rasio bernilai tepat 1,0, ini berarti bahwa aset lancar dan kewajiban lancar berada dalam keseimbangan. Perusahaan memiliki jumlah aset yang cukup untuk membayar utang jangka pendeknya, namun tidak memiliki ruang yang cukup untuk fleksibilitas finansial. Posisi ini dianggap sebagai titik netral—tidak buruk, tetapi juga bukan indikasi kekuatan keuangan yang tinggi.

Current Ratio < 1,0

Apabila rasio menunjukkan angka di bawah 1,0, ini merupakan tanda peringatan bahwa perusahaan mungkin mengalami kesulitan likuiditas. Aset lancar yang tersedia tidak mencukupi untuk memenuhi semua kewajiban lancar, sehingga bisa berdampak pada ketidakmampuan membayar utang tepat waktu. Dalam situasi ini, perusahaan berpotensi menghadapi risiko gagal bayar dan memerlukan strategi penyehatan likuiditas.

Penting untuk dicatat bahwa Current Ratio bukan satu-satunya indikator untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan. Rasio ini perlu dianalisis bersamaan dengan rasio lainnya seperti Quick Ratio, Debt to Equity Ratio, dan Cash Ratio agar menghasilkan gambaran yang lebih menyeluruh.

Cara Menghitung Current Ratio

Sederhananya, untuk menghitung current ratio pada laporan keuangan adalah dengan membagi komponen dalam aset lancar dengan kewajiban lancar.

Rumusnya sendiri adalah sebagai berikut:

Current Ratio = Total Aset Lancar ÷ Total Kewajiban Lancar

  • Aset Lancar: aset yang bisa dicairkan dalam waktu dekat, seperti kas, piutang usaha, persediaan, dan surat berharga jangka pendek.
  • Liabilitas Lancar: kewajiban jangka pendek, seperti utang usaha, utang pajak, utang gaji, dan utang jangka pendek lainnya.

Total aset lancar adalah komponen yang terdapat dalam kas dan setara dengan kas, seperti piutang, persediaan, investasi jangka pendek, dan biaya dibayar di muka.

Kemudian, total kewajiban lancar adalah komponen yang termasuk ke dalam pembiayaan yang harus dibayarkan perusahaan dengan tenggat waktu satu tahun,  seperti utang usaha, kredit bank, utang bunga, akrual, utang pajak, dan lialibitas lainnya yang bersifat likuid.

Baca Juga: Jenis Aktiva dalam Akuntansi yang Harus Anda Ketahui

Contoh Cara Menghitung Current Ratio

Untuk lebih memahami bagaimana cara kerja current ratio dalam laporan keuangan, perhitungan, serta interpretasinya. Berikut contoh cara menghitungnya.

Perusahaan PT. Jurnal Jaya berhasil menyusun laporan posisi keuangan untuk periode tahun 2022.

Adapun data keuangan yang tercantum di dalamnya baik komponen pada saldo aset lancar dan saldo kewajiban lancar adalah sebagai berikut.

Saldo Aset Lancar:

Kas dan Setara Kas: Rp 50.000.000

Persediaan: Rp 125.000.000

Piutang Usaha: Rp 85.000.000

Investasi Jangka Pendek: Rp 35.000.000

Aset Lancar Lainnya: Rp 120.000.000

Saldo Utang/ Kewajiban Lancar:

Utang Akun: Rp 25.000.000

Beban Akrual: Rp 125.000.000

Utang Kredit Bank: Rp 20.000.000

Utang Pajak: Rp 50.000.000

Pinjaman: Rp 20.000.000

Utang Jangka Pendek Lainnya: Rp 45.000.000

Berdasarkan komponen dalam saldo aset lancar dan saldo kewajiban lancar tersebut, hitung nilai current ratio perusahaan PT.  Jurnal Jaya!

Jawab:

Current Ratio = Total Aset Lancar ÷ Total Kewajiban Lancar

Current Ratio = (Kas dan Setara Kas + Persediaan + Piutang Usaha + Investasi Jangka Pendek + Aset Lancar Lainnya) ÷ (Utang Akun + Utang Kredit Bank + Utang Pajak + Beban Akrual + Pinjaman + Utang Jangka Pendek Lainnya)

= (50.000.000 + 125.000.000 + 85.000.000 + 35.000.000 + 120.000.000) ÷ (25.000.000+ 20.000.000 + 50.000.000 + 125.000.000 + 20.000.000 + 45.000.000)

= 415.000.000 ÷ 285.000.000

Current Ratio = 1,45

Current Ratio Perusahaan PT. Jurnal Jaya pada periode 2022 adalah sebesar 1,45. Maka bisa dikatakan bahwa kondisi keuangan perusahaan sehat karena dapat membayar kewajiban lancar di periode yang sama dan masih ada pendapatan yang tersisa.

Baca Juga: Pengertian, Jenis & Cara Menghitung Rasio Profitabilitas

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Current Ratio

Meskipun current ratio menawarkan wawasan awal tentang posisi likuiditas sebuah entitas bisnis, namun angka rasio ini bisa sangat bervariasi antar perusahaan. Hal tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan dalam karakteristik operasional, struktur industri, hingga strategi keuangan yang diadopsi oleh masing-masing organisasi.

Berikut adalah penjabaran beberapa faktor kunci yang mempengaruhi nilai current ratio secara substansial:

1. Struktur Industri

Struktur industri sangat memengaruhi bagaimana sebuah perusahaan mengelola aset lancar dan kewajiban lancarnya. Misalnya, perusahaan dalam sektor ritel biasanya memiliki siklus operasional yang cepat dan persediaan barang dagangan yang tinggi, sehingga mereka cenderung memiliki current ratio yang lebih tinggi. Sebaliknya, sektor utilitas atau transportasi mungkin memiliki aset tetap yang besar dan aset lancar yang relatif rendah, yang menyebabkan rasio likuiditasnya tampak lebih kecil.

Selain itu, tingkat persaingan dalam suatu industri juga bisa mendorong perusahaan untuk menawarkan kredit yang lebih longgar kepada pelanggan atau mempercepat pembelian inventaris, yang secara tidak langsung memengaruhi struktur neraca dan nilai current ratio.

2. Siklus Kas Perusahaan

Siklus kas atau cash conversion cycle adalah waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk mengubah persediaan menjadi kas melalui proses penjualan dan penagihan piutang. Perusahaan dengan siklus kas yang panjang akan memiliki lebih banyak aset yang tertahan dalam bentuk persediaan dan piutang, sehingga menurunkan efektivitas current ratio. Sementara itu, perusahaan dengan siklus kas pendek akan lebih cepat memutar aset lancarnya, yang berpotensi meningkatkan rasio likuiditas.

Siklus kas yang lambat juga bisa menyebabkan keterlambatan dalam pembayaran kewajiban, yang pada akhirnya berdampak negatif pada reputasi perusahaan dan kepercayaan dari pihak ketiga.

3. Tingkat Pendapatan dan Laba Perusahaan

Perusahaan dengan pendapatan dan laba yang tinggi cenderung memiliki arus kas positif yang lebih stabil. Dengan demikian, mereka memiliki fleksibilitas untuk menyisihkan lebih banyak dana dalam bentuk aset lancar seperti kas dan setara kas. Hal ini secara langsung akan meningkatkan current ratio dan memperkuat posisi likuiditas mereka.

Sebaliknya, perusahaan dengan pendapatan fluktuatif atau laba negatif akan kesulitan membangun cadangan kas, yang dapat memperburuk kondisi likuiditas meskipun aset tetap mereka bernilai tinggi.

4. Kebijakan Pembayaran Dividen

Beberapa perusahaan menetapkan kebijakan dividen yang agresif sebagai upaya menarik investor. Namun, pembayaran dividen dalam jumlah besar akan mengurangi kas yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek. Jika tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan operasional, maka current ratio bisa menurun.

Penting bagi manajemen untuk menyeimbangkan antara kepentingan pemegang saham dengan kebutuhan internal perusahaan agar struktur keuangan tetap sehat.

5. Fluktuasi Musiman

Banyak industri mengalami fluktuasi musiman, seperti industri ritel yang biasanya mengalami lonjakan penjualan menjelang hari raya atau akhir tahun. Selama masa ini, perusahaan akan meningkatkan persediaan, yang secara temporer meningkatkan aset lancar dan rasio lancar.

Namun, setelah periode puncak berakhir, penjualan akan menurun dan persediaan akan berkurang, yang menyebabkan current ratio kembali normal atau bahkan menurun drastis. Oleh karena itu, dalam mengevaluasi current ratio, penting untuk memahami siklus bisnis musiman dari perusahaan yang bersangkutan.

 

Baca Juga: Apa Itu Rasio Modal Kerja dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

Kelebihan dan Keterbatasan Current Ratio dalam Praktik Keuangan

Sebagaimana alat analisis lainnya, current ratio memiliki keunggulan yang signifikan, namun juga tidak lepas dari keterbatasan. Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh, berikut adalah ulasan lebih rinci mengenai kelebihan dan kekurangan dari rasio ini:

Kelebihan Current Ratio

  1. Sederhana dan Mudah Dipahami: Salah satu kekuatan terbesar dari current ratio adalah kesederhanaannya. Formula yang mudah dan data yang tersedia di laporan keuangan membuat rasio ini mudah dihitung dan dianalisis. Ini menjadikannya alat yang ideal untuk analisis cepat dan pengambilan keputusan awal.
  2. Menunjukkan Kemampuan Likuiditas Perusahaan: Rasio ini memberikan gambaran jelas tentang sejauh mana aset lancar perusahaan mampu menutupi kewajiban jangka pendeknya. Ini sangat penting untuk menunjukkan kesehatan finansial jangka pendek perusahaan kepada kreditur maupun investor.
  3. Berguna dalam Perbandingan Antar Perusahaan: Dalam industri yang sama, current ratio dapat digunakan untuk membandingkan kinerja likuiditas antar perusahaan. Ini membantu investor dalam menilai perusahaan mana yang lebih mampu bertahan dalam kondisi tekanan finansial.
  4. Menjadi Dasar Perencanaan Keuangan: Manajemen internal dapat menggunakan current ratio untuk merancang kebijakan pengelolaan kas, strategi pembiayaan, serta pengaturan siklus operasi yang lebih efisien.

Keterbatasan Current Ratio

  1. Tidak Menunjukkan Kualitas Aset Lancar: Salah satu kelemahan utama dari current ratio adalah bahwa ia memperlakukan semua aset lancar sebagai setara likuid. Padahal, tidak semua aset lancar dapat segera dicairkan menjadi kas. Misalnya, piutang tak tertagih atau persediaan yang sudah kadaluarsa.
  2. Tidak Mencerminkan Waktu Jatuh Tempo Kewajiban: Rasio ini hanya melihat total nilai aset lancar dan kewajiban lancar, tanpa mempertimbangkan kapan kewajiban itu jatuh tempo. Kewajiban yang akan jatuh tempo dalam 30 hari memerlukan penanganan yang berbeda dibandingkan dengan yang jatuh tempo dalam 11 bulan.
  3. Potensi Distorsi dalam Laporan Keuangan: Perusahaan bisa saja melakukan manuver manipulatif menjelang pelaporan keuangan, seperti meningkatkan persediaan atau menunda pembayaran utang, demi mempercantik rasio likuiditasnya.
  4. Kurang Efektif untuk Analisis Sektor Tertentu: Dalam beberapa industri seperti keuangan atau konstruksi, current ratio bukan indikator yang paling relevan karena karakteristik bisnis mereka yang sangat unik.

Strategi Meningkatkan Current Ratio secara Efektif

Bagi perusahaan yang memiliki current ratio di bawah standar ideal, terdapat berbagai strategi yang dapat diterapkan untuk memperbaiki kondisi ini. Berikut adalah beberapa pendekatan yang dapat dijalankan oleh manajemen perusahaan:

1. Meningkatkan Penagihan Piutang

Salah satu cara paling langsung untuk meningkatkan current ratio adalah dengan mempercepat siklus konversi piutang menjadi kas. Ini bisa dilakukan dengan memberikan diskon pembayaran awal, memperketat kebijakan kredit, atau menggunakan jasa pihak ketiga untuk penagihan.

2. Mengurangi Persediaan yang Tidak Efisien

Meningkatkan efisiensi manajemen inventaris sangat penting. Strategi seperti Just-In-Time (JIT) memungkinkan perusahaan hanya menyimpan persediaan dalam jumlah minimum yang diperlukan, sehingga modal kerja tidak tertahan terlalu lama dalam bentuk barang.

3. Menunda Pengeluaran untuk Aset Tetap

Ketika rasio lancar sedang berada pada posisi kritis, perusahaan sebaiknya menunda pengeluaran besar yang tidak mendesak, seperti pembelian mesin baru atau renovasi gedung. Dana tersebut bisa dialihkan untuk memperkuat aset lancar.

4. Restrukturisasi Utang Jangka Pendek

Negosiasi ulang atas utang jangka pendek agar dikonversi menjadi pinjaman jangka menengah atau panjang dapat membantu mengurangi beban kewajiban lancar, sehingga rasio likuiditas akan meningkat.

5. Penambahan Modal Ekuitas

Perusahaan juga bisa mempertimbangkan penambahan modal melalui penerbitan saham baru, baik kepada investor baru maupun yang sudah ada. Suntikan dana segar ini akan memperkuat kas dan meningkatkan aset lancar secara signifikan.

Kesimpulan

Analisis rasio keuangan merupakan alat yang penting untuk mengukur kesehatan finansial suatu perusahaan. Salah satu rasio yang digunakan untuk menilai tingkat likuiditas perusahaan adalah current ratio.

Current ratio memberikan gambaran tentang seberapa baik perusahaan dapat membayar kewajiban jangka pendek dengan membandingkan total aset lancar dengan total kewajiban lancar. Semakin tinggi nilai dari pengukuran rasio ini, maka semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya.

Namun, penting untuk memahami bahwa hasil current ratio harus dievaluasi dalam konteks industri, ukuran perusahaan, dan tujuan analisis keuangan. Masih terdapat juga keterbatasan dalam pengimplementasiannya, yaitu rasio ini tidak mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka panjang.

Hasil yang diperoleh juga bisa dipengaruhi oleh fluktuasi dalam persediaan dan penjualan. Oleh karena itu, sebaiknya current ratio digunakan bersama dengan rasio keuangan lainnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang kesehatan finansial perusahaan.

Kini mengelola pembukuan jadi lebih mudah dengan fitur akuntansi dari Mekari Jurnal.

Kelola Keuangan Perusahaan Lebih Efektif dengan Mekari Jurnal

Untuk mempermudah dalam memantau tingkat likuiditas perusahaan dalam laporan keuangan lebih mudah dengan menggunakan software akuntansi Mekari Jurnal.

Melalui Mekari Jurnal, Anda tidak perlu repot melakukan pemeriksaan ulang untuk mencari kesalahan atau error data karena dapat terhindar dengan otomasi laporan keuangan.

Sehingga Anda dapat mengefektifkan waktu untuk mengelola pekerjaan akuntansi dan keuangan lainnya.

Pengelolaan operasional perusahaan juga dapat berjalan semakin mudah dengan ditunjang oleh fitur-fitur unggulan yang terdapat di Mekari Jurnal.

Beberapa di antaranya seperti fitur perpajakan, pembuatan invoice, dan aplikasi stok barang untuk mempermudah proses pemantauan ketersediaan barang di gudang Anda.

Tampilan dashboard bisnis yang sederhana dan minimalis serta data real time juga dapat membantu mengontrol seluruh aktivitas operasional bisnis.

Tunggu apalagi? Daftarkan perusahaan Anda sekarang dan rasakan manfaatnya! Anda juga dapat berkonsultasi dengan tim ahli kami terlebih dahulu dengan klik tombol di bawah ini.

Saya Mau Coba Gratis Mekari Jurnal Sekarang!

atau

Jadwalkan Demo Ke Sales Mekari Jurnal Sekarang!

Kategori : Akuntansi

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami