Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Biaya Pinjaman dalam Akuntansi: Pengertian, Perlakuan, dan Contoh Penerapannya

Diperbarui
Di tulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Highlights
  • Biaya pinjaman dalam akuntansi tidak hanya terbatas pada bunga, tetapi juga mencakup biaya administrasi, sewa pembiayaan, hingga selisih kurs yang harus dicatat secara akurat sesuai ketentuan PSAK 26
  • Penentuan perlakuan biaya pinjaman sangat bergantung pada tujuan penggunaan dana, di mana pembiayaan aset kualifikasian dapat dikapitalisasi sementara kebutuhan operasional harus langsung dibebankan
  • Penerapan pencatatan biaya pinjaman yang tepat, didukung sistem akuntansi terintegrasi seperti Mekari Jurnal, membantu perusahaan meningkatkan transparansi laporan keuangan sekaligus meminimalkan risiko kesalahan dan temuan audit

Banyak perusahaan yang tumbuh besar dengan mengandalkan tidak hanya modal sendiri, namun kerap membutuhkan dana yang jauh melampaui kapasitas kas internal.

Dana ini kemudian masuk melalui instrumen pinjaman pembiayaan bisnis untuk kebutuhan ekspansi bisnis, pembangunan pabrik baru, atau pengadaan mesin produksi.

Biaya pinjaman ini merupakan bunga dan biaya lain yang timbul dari aktivitas peminjaman dana oleh entitas dan terdapat perlakuannya sendiri di dalam praktik akuntansi.

Oleh karena itu, dibutuhkan penerapan standar  yang tepat dan didukung sistem yang andal agar perusahaan dapat menjaga akurasi laporan keuangan dengan efektif dan optimal.

Selengkapnya simak penjelasan mengenai biaya pinjaman dalam akuntansi melalui artikel Mekari Jurnal berikut ini.

Apa Itu Pengertian Biaya Pinjaman?

Biaya pinjaman dalam akuntansi adalah seluruh beban yang timbul akibat aktivitas peminjaman dana oleh sebuah entitas yang tidak hanya mencakup bunga semata namun memiliki cakupan yang lebih luas dari itu.

Di Indonesia sendiri, PSAK 26 tentang Biaya Pinjaman menjelaskan bahwa biaya pinjaman terdiri atas elemen utama, yaitu:

  1. Beban bunga yang dihitung menggunakan metode suku bunga efektif sesuai PSAK 71
  2. Biaya sewa pembiayaan yang diakui sesuai PSAK 73
  3. Selisih kurs yang timbul dari pinjaman dalam mata uang asing, sepanjang selisih kurs tersebut diperlakukan sebagai penyesuaian biaya bunga

Komponen Biaya Pinjaman

Memahami komponen biaya akan membantu dalam mengklasifikasikannya dengan benar ketika proses pembukuan berlangsung.

1. Beban Bunga

Beban bunga merupakan komponen terbesar dan paling umum ditemukan, sehingga sangat melekat ketika membahas biaya pinjaman.

Dalam pelaporan, beban bunga diakui secara akrual, yang berarti diakui pada periode terjadinya dan bukan hanya saat dibayarkan.

2. Biaya Administrasi Pinjaman

Saat mengambil kredit dari bank atau lembaga keuangan, perusahaan sering dikenakan biaya provisi, biaya administrasi, atau biaya origination.

Biaya-biaya ini merupakan bagian dari biaya perolehan pinjaman dan harus turut diperhitungkan dalam total biaya pinjaman.

3. Biaya Sewa Pembiayaan

Biaya sewa pembiayaan muncul ketika perusahaan menyewa aset melalui skema finance lease atau sewa guna usaha, dalam skema ini terdapat unsur bunga yang melekat pada pembayaran sewa periodik.

Baca Juga: 11 Tahap Siklus Akuntansi yang Perlu Anda Dipahami

4. Selisih Kurs terkait Pinjaman Valuta Asing

Komponen utama terakhir adalah selisih kurs terkait pinjaman valuta asing ketika perusahaan mengambil pinjaman dalam mata uang asing berpotensi menghadapi risiko kurs.

Misalnya ketika nilai tukar dolar AS bergerak tidak menguntungan, muncul selisih kurs yang dalam kondisi tertentu dapat diakui sebagai bagian dari biaya pinjaman.

PSAK 26 Mengenai Biaya Pinjaman dalam Akuntansi

PSAK 26 tentang Biaya Pinjaman menjelaskan standarisasi yang menjadi rujukan utama seluruh entitas di Indonesia dalam mengatur pengakuan, pengukuran, dan kapitalisasi biaya pinjaman.

Prinsip dasar PSAK 26 bertumpu pada sebuah satu pertanyaan kunci, yaitu untuk apa dana pinjaman digunakan? Jawaban atas pertanyaan ini yang menentukan segalanya  nantinya.

Jika dana pinjaman digunakan untuk membiayai aset kualifikasian, yaitu aset yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dipersiapkan sebelum digunakan sesuai tujuannya, maka biaya pinjaman yang terkait langsung dengan perolehan atau pembangunan aset tersebut harus dikapitalisasi.

Artinya, biaya pinjaman menjadi bagian dari biaya perolehan aset, bukan dibebankan ke laporan laba rugi.

Di sisi lain, jika dana pinjaman digunakan untuk keperluan umum atau tidak terkait dengan aset kualifikasian, maka biaya pinjaman diakui sebagai beban pada periode terjadinya.

Kapitalisasi Biaya Pinjaman

Mengapa biaya pinjaman harus dikapitalisasi?

Sejatinya biaya pinjaman yang dikapitalisasi adalah sebuah proses memasukkan biaya pinjaman ke dalam nilai tercatat aset, bukan membebankannya langsung ke laporan laba rugi yang implikasinya sangat nyata terhadap laporan keuangan.

Bayangkan sebuah perusahaan manufaktur yang sedang membangun pabrik baru selama dua tahun dengan pinjaman bank sebesar Rp50 miliar.

Selama pembangunan berlangsung, bunga pinjaman terus berjalan dan perlu dicatat sebagai beban walaupun pabrik belum menghasilkan pendapatan apa pun.

Adanya kapitalisasi memungkinkan biaya bunga tersebut ditunda menjadi bagian dari nilai aset pabrik, lalu dibebankan secara bertahap melalui penyusutan setelah pabrik mulai beroperasi. Ini lebih mencerminkan realitas ekonomi yang sesungguhnya.

Ada kondisi yang dibutuhkan sebagai syarat kapitalisasi lakukan, yaitu ketika pengeluaran untuk aset tersebut sedang terjadi, biaya pinjaman sedang terjadi, dan ketika aktivitas yang diperlukan untuk mempersiapkan aset agar dapat digunakan atau dijual sedang berlangsung.

Baca Juga: Analisis Rasio Keuangan: Pengertian, Fungsi, Jenis dan Contohnya

Biaya Pinjaman yang Diakui sebagai Beban

contoh biaya pinjaman

Ada kondisi-kondisi di mana biaya pinjaman harus langsung diakui sebagai beban dan bukan bagian dari nilai aset.

Biaya pinjaman akan diperlakukan sebagai beban ketika dana pinjaman digunakan untuk modal kerja operasional, seperti membayar gaji, membeli persediaan barang, atau memenuhi kewajiban jangka pendek.

Begitu pula dengan pinjaman yang digunakan untuk aset yang sudah siap digunakan atau yang siklus produksinya singkat.

Prinsip yang fundamental dalam hal ini adalah jika tidak ada aset kualifikasian yang secara langsung terkait dengan pinjaman tersebut, biaya pinjaman harus masuk ke laporan laba rugi.

Jurnal Akuntansi Biaya Pinjaman

Untuk melihat bagaimana penerapan akuntansi biaya pinjaman, simak contoh jurnalnya berikut ini:

1. Biaya Pinjaman sebagai Beban

Ketika biaya bunga timbul dan diakui sebagai beban operasional periode berjalan, maka jurnal pencatatannya akan terlihat sebagai berikut:

Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Beban Bunga Rp XX.XXX.XXX
Utang Bunga/ Kas Rp XX.XXX.XXX

Jurnal ini merupakan pengakuan beban bunga di periode terjadinya. Akun bunga digunakan jika bunga belum dibayarkan, dan akun kas digunakan jika langsung dibayar.

2. Biaya Pinjaman Dikapitalisasi

Ketika biaya pinjaman dikapitalisasi ke dalam nilai aset kualifikasian yang sedang dalam proses konstruksi, maka jurnal akan terbentuk sebagai berikut:

Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Aset Dalam Konstruksi Rp XX.XXX.XXX
Biaya Pinjaman Dikapitalisasi Rp XX.XXX.XXX

Contoh Penerapan Biaya Pinjaman

PT Maju Bersama Properti memperoleh pinjaman konstruksi sebesar Rp10.000.000.000 dari bank dengan suku bunga 9% per tahun untuk membangun gedung kantor pusat. Proses konstruksi ini diperkirakan berlangsung selama 18 bulan.

Karena gedung kantor adalah aset kualifikasian (membutuhkan waktu lama untuk siap digunakan), bunga yang timbul selama masa konstruksi dikapitalisasi ke dalam nilai aset. Bunga per tahun adalah Rp900.000.000.

Selama periode konstruksi, pencatatan bulanan adalah:

Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
Aset Gedung Rp 75.000.000
Biaya Pinjaman Dikapitalisasi Rp 75.000.000

Setelah gedung selesai dan mulai digunakan, total nilai aset gedung sudah termasuk bunga yang dikapitalisasi selama 18 bulan (Rp1.350.000.000).

Nilai inilah yang kemudian menjadi dasar perhitungan penyusutan.

Baca Juga: Metode Pencatatan Akuntansi Basis Kas (Cash) vs Akrual (Accrual)

Dampak Biaya Pinjaman terhadap Laporan Keuangan

Pelakuan biaya pinjaman penting untuk dikelola secara benar karena berdampak langsung terhadap tiga aspek utama laporan keuangan.

  1. Ketika biaya pinjaman diakui sebagai beban, laba operasional perusahaan berkurang sehingga berdampak pada pajak, dividen, dan persepsi investor
  2. Kapitalisasi meningkatkan nilai tercatat aset di neraca yang berarti total aset perusahaan lebih besar dan memengaruhi perhitungan return on assets (ROA) dan rasio leverage
  3. Biaya pinjaman yang dicatat sebagai beban meningkatkan biaya bunga dan memengaruhi rasio ukuran kemampuan perusahaan membayar bunga dari laba operasionalnya

Kesalahan Umum dalam Pencatatan Biaya Pinjaman

Walaupun sudah terdapat aturan yang jelas, kesalahan tetap saja sering terjadi ketika praktik pencatatan biaya dilakukan, terutama pada perusahaan yang belum memiliki sistem akuntansi yang terstruktur.

Salah klasifikasi antara beban dan aset adalah kesalahan yang paling sering terjadi karena perusahaan sering membebankan semua biaya bunga ke laporan laba rugi secara langsung tanpa memeriksa apakah sebagian seharusnya dikapitalisasi.

Kesalahan kedua adalah tidak mengikuti standar ketentuan PSAK 26, terutama pada entitas yang baru beralih dari SAK EMKM ke SAK Umum sehingga belum memiliki prosedur yang jelas untuk mengidentifikasi aset kualifikasian dan menghitung biaya pinjaman yang dapat dikapitalisasi.

Lalu, yang terakhir adalah tidak mengungkapkan kapitalisasi dalam CALK. Melewatkan pengungkapan ini membuat laporan keuangan kehilangan transparansi yang diperlukan oleh pengguna laporan, mulai dari investor, kreditur, hingga auditor.

Jika ketiga kesalahan ini terus dibiarkan, laporan keuangan yang tidak akurat, risiko temuan audit, hingga salah pengambilan keputusan bisnis berbasis data yang terdistorsi.

Baca Juga: 8 Langkah Mudah Membuat Laporan Keuangan Bagi Pemula

Kesimpulan

Biaya pinjaman dalam akuntansi lebih dari sekadar angka bunga di slip tagihan bank namun merupakan konsep standar pencatatan yang memberikan dampak yang menjangkau seluruh komponen laporan keuangan.

Perusahaan yang memahami dan menerapkan perlakuan biaya pinjaman dengan benar akan menghasilkan laporan keuangan yang lebih akurat, lebih dapat diandalkan, dan lebih siap untuk diaudit maupun dipresentasikan kepada pemangku kepentingan.

Agar lebih optimal, mengadopsi sistem akuntansi modern bisa menjadi solusi yang efektif untuk mencatat biaya pinjaman dalam akuntansi.

Mekari Jurnal adalah software akuntansi berbasis cloud yang menyediakan fitur pencatatan otomatis dan terintegrasi langsung ke dalam laporan keuangan.

Hal ini menurunkan risiko human error secara signifikan dan memungkinkan tim keuangan untuk fokus pada analisis dan pengambilan keputusan strategis, bukan pada pekerjaan entri data yang berulang.

Coba GRATIS sekarang juga dan rasakan manfaatnya!

 

 

 

Referensi:

SW, “Borrowing Costs in Accounting”.

IAI, “Draf Eksposur PSAK 26”.

Scribd, “Biaya Pinjaman Menurut PSAK 26”.

Neliti, “Penerapan PSAK No.26 Tentang Biaya Pinjaman (Studi Kasus pada PT.”X”)”.

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami