Mengenal Metode Creative Accounting dalam Praktik Akuntansi

Terkadang dalam praktik akuntansi, banyak metode atau cara yang terlihat sesuai aturan namun pada kenyataannya malah melenceng dari Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU). Salah satunya adalah metode Creative Accounting. Istilah Creative Accounting dapat didefinisikan sebagai proses di mana akuntan menggunakan pengetahuan dan pengalaman mereka tentang standar akuntansi untuk memanipulasi angka yang dilaporkan dalam  laporan keuangan.

 

Motivasi dalam Melakukan Creative Accounting

Manfaat utama dari laporan keuangan adalah sebagai alat investor untuk memeriksa kesehatan keuangan perusahaan yang diinvest. Namun ketika perusahaan menggunakan Creative Accounting, mereka sering mendistorsi nilai informasi yang terkandung dalam laporan keuangan yang mereka terbitkan. Creative Accounting salah satunya dapat digunakan untuk mengatur laba atau menyisihkan nilai utang dari neraca.

 

Sebagai contoh sederhana, tekanan untuk memenuhi ekspektasi jangka pendek bursa saham atau target keuangan akhir tahun mungkin menjadi penyebab terjadinya aktivitas Creative Accounting oleh perusahaan. CFO dari perusahaan dapat mengambil sebagian dari nilai pendapatan yang masih harus diterima sebagai kewajiban pada neraca dan mengakuinya sebagai pendapatan yang diperoleh dalam periode saat ini untuk mencapai target pendapatan tertentu.

 

Contoh lainnya, CFO suatu perusahaan manufaktur dapat menunda pencatatan biaya periode berjalan ke periode berikutnya untuk membuat penghasilan periode berjalan terlihat lebih baik. Jika terdapat area “abu-abu”, seperti akun pendapatan yang masih harus diterima dan biaya yang masih harus dibayar dalam akuntansi, hal itu dapat dieksploitasi melalui metode Creative Accounting.

 

Seringkali, Creative Accounting berkaitan erat dengan Fraud Accounting atau kecurangan dalam praktik akuntansi yang menyebabkan musibah bagi perusahaan secara keseluruhan. Kasus Enron Corporation adalah contoh nyatanya. Creative Accounting kebanyakan dirancang untuk memanipulasi angka yang tujuannya memperkaya suatu individu di perusahaan dan tentunya menyebabkan conflict of interest antara investor dengan manajemen perusahaan.

 

6 Area “Abu-Abu” yang Sering Dijadikan Celah Bagi Creative Accounting

Secara umum, Creative Accounting biasanya aktif dimanfaatkan di enam area ini:

a. Fleksibilitas regulasi, di mana perubahan dalam regulasi akuntansi diizinkan oleh Standar Akuntansi Keuangan (SAK) . Sebagai contoh, IAS (International Accounting standard) mengizinkan nilai perolehan aset tidak lancar dapat dipulihkan kembali baik dengan jumlah hasil revaluasi atau dari biaya historis yang terdepresiasi.

b. Kelemahan regulasi lain, di mana beberapa perlakuan SAK mungkin tidak sepenuhnya diatur di luar beberapa persyaratan wajib. Sedangkan Creative Accounting bisabermain” di luar persyaratan wajib tersebut.

c. Akun-akun yang bersifat diskresioner, di mana manajemen mengambil keputusan sendiri terhadap suatu akun, seperti asumsi dalam penilaian kredit macet (Bad Debt Provision).

d. Akun atau transaksi berdasarkan “timing” atau yang bersifat perpetual. Misalnya, dengan Creative Accounting, manajer bebas menentukan waktu untuk menjual investasi hanya untuk menunjukkan bahwa pada periode tersebut perusahaan bisa meraih laba yang besar. Atau manajer bisa saja mengakui beberapa nilai dalam akun Pendapatan yang Masih Harus Diterima menjadi laba pada periode berjalan yang seharusnya diakui pada periode selanjutnya.

e. Transaksi-transaksi buatan, untuk memanipulasi jumlah pada akun-akun di neraca.

f. Pemanipulasian akun-akun dalam neraca dengan cara reklasifikasi agar nilai rasio keuangan terlihat baik.

 

Cara Menanggulangi Penyalahgunaan Creative Accounting

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menahan tindakan Creative Accounting:

a. Mengurangi dan mengevaluasi metode akuntansi yang digunakan sehingga ruang lingkup untuk memilih metode akuntansi dapat dipersempit. Perusahaan juga harus konsisten dalam menggunakan metode yang dipilih oleh mereka.

b. Beberapa aturan harus digalakkan untuk mengurangi penyalahgunaan dalam hal penilaian. Misalnya, Standar Akuntansi Internasional saat ini hampir menghapus akun "barang-barang luar biasa (Extraordinary Items)" dari laba operasi. Juga, perusahaan harus konsisten dalam menerapkan kebijakan akuntansi untuk menahan penyalahgunaan penilaian.

c. Pengimplementasian formulir-formulir, biasanya dilakukan oleh auditor internal perusahaan dapat mengurangi timbulnya transaksi buatan dan ini dapat membuat transaksi yang terkait menjadi satu kesatuan akun sehingga lebih mudah untuk menelusuri dan mengevaluasi suatu transaksi yang terlihat mencurigakan.

d. Untuk membatasi pemanfaatan timing transaksi, item dalam suatu akun harus secara berkala direvaluasi. Peningkatan atau penurunan nilai harus dinyatakan dalam akun setiap kali revaluasi terjadi. Standar Akuntansi Internasional juga cenderung menilai barang dengan nilai wajar daripada nilai biaya historis.

e. Selain perubahan dalam regulasi akuntansi, standar kode etik akuntansi dan tata kelola harus dilaksanakan dengan benar dan bertanggungjawab untuk mencegah individu dari melakukan Creative Accounting.

 

Sebagai akuntan yang profesional, sudah seharusnya bekerja sesuai kode etik yang berlaku. Sebisa mungkin hindari penyalahgunaan dari Creative Accounting untuk menghindari conflict of interest yang berpotensi terjadi dan berimbas kepada bangkrutnya perusahaan. Sistem akuntansi yang terintegrasi dan pencatatan sekaligus pelaporan keuangan yang andal wajib diterapkan dalam bisnis.

 

Jurnal sebagai software akuntansi online dapat membantu Anda membuat laporan keuangan sekaligus mengurangi risiko kesalahan ataupun kecurangan dalam proses akuntansi. Dengan Jurnal, Anda dapat memberikan akses wewenang sesuai tanggung jawab karyawan. Sehingga Anda tidak perlu khawatir lagi terjadi penyalahgunaan dalam proses akuntansi.

Bukan hanya itu, Jurnal juga memiliki fitur lengkap yang memudahkan Anda mengelola keuangan. Anda juga dapat memonitor kondisi keuangan perisahaan kapan dan di mana saja. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Jurnal, silahkan klik di sini.


PUBLISHED21 Nov 2018
Novia Widya Utami
Novia Widya Utami

SHARE THIS ARTICLE: