Rasio Cakupan (Coverage) adalah Rasio Keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar liabilitasnya. Sekilas, Rasio Cakupan mungkin terdengar sangat mirip dengan Rasio Likuiditas dan Solvabilitas. Namun, sebenarnya terdapat perbedaan dengan kedua rasio tersebut. Sederhananya, Rasio Cakupan menganalisis kemampuan perusahaan untuk melunasi utang dan bentuk obligasi lainnya.

Lebih spesifik lagi, Rasio Cakupan mengukur seberapa baik perusahaan mampu melakukan pembayaran bunga yang terkait dengan utang atau obligasi mereka. Beberapa jenis rasio di dalam Rasio Cakupan memasukkan komponen obligasi yang tidak termasuk dalam komponen liabilitas. Bentuk obligasi tersebut salah satunya adalah pembayaran dividen reguler kepada pemegang saham. Berikut adalah jenis-jenis rasio yang termasuk di dalam Rasio Cakupan yang digunakan untuk menganalisis perusahaan:

Rasio Cakupan Bunga (Time Interest Earned)

Rasio Times Interest Earned juga biasa disebut Rasio Cakupan Bunga. Metrik tersebut mengukur jumlah laba sebelum pajak dan bunga yang digunakan untuk membayar biaya bunga di masa depan.

Rasio Cakupan Bunga dinyatakan dalam satuan angka dan bukan dengan persentase. Angka tersebut menunjukkan berapa kali perusahaan dapat membayar bunga dengan laba sebelum pajak dan bunga. Jadi, jelas jumlah rasio yang lebih besar dianggap lebih menguntungkan daripada rasio yang lebih kecil.

Sebagai gambaran, jika jumlah Rasio Cakupan Bunga menghasilkan angka 4, berarti perusahaan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membayar total beban bunga 4 kali lipat. Dengan kata lain, pendapatan perusahaan 4 kali lebih tinggi daripada biaya bunga pada suatu periode yang dijadikan dasar penghitungan.

Kreditor akan menyukai perusahaan dengan Rasio Cakupan Bunga yang lebih tinggi. Karena hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu membayar pembayaran bunganya ketika jatuh tempo. Rasio yang lebih tinggi juga mengimplikasikan rendahnya risiko kredit. Sedangkan rasio yang rendah menunjukkan risiko kredit tinggi.

Formulasi dari rasio ini adalah:

Laba sebelum Pajak dan Bunga÷Biaya Bunga

Rasio Cakupan Biaya Tetap (Fixed Charge Coverage Ratio)

Rasio Cakupan Biaya Tetap adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar semua biaya atau beban tetapnya dengan laba sebelum pajak dan bunga. Pada dasarnya, Rasio Cakupan Biaya Tetap adalah versi pengembangan dari Rasio Cakupan bunga. Komponen biaya tetap yang dimasukkan dalam penghitungan rasio ini adalah seperti pembayaran sewa, asuransi, dividen saham preferen, dan lainnya.

Jenis rasio ini menunjukkan kepada investor dan kreditor seberapa baik kemampuan perusahaan untuk membayar biaya-biaya tetapnya. Sama halnya dengan Rasio Cakupan Bunga, rasio ini dinyatakan dalam jumlah angka dan bukan persentase.

Rasio Cakupan Biaya tetap yang tinggi menunjukkan bisnis yang lebih sehat dan minim risiko. Ini berarti perusahaan mempunyai pendapatan lebih untuk melunasi biaya-biaya tetapnya. Sedangkan rasio yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan belum mampu menutupi biaya-biaya tetapnya. Umur perusahaan yang memiliki nilai Rasio Cakupan Biaya Tetap yang rendah atau bahkan minus bisa terbilang tidak akan bertahan lama. Hal ini merupakan kabar buruk bagi kreditor dan investor.

Formulasi untuk rasio ini adalah:

(Laba Sebelum Pajak dan Bunga + Biaya Tetap sebelum Pajak)÷(Biaya Tetap sebelum Pajak + Biaya Bunga)

Rasio Cakupan Utang (Debt Service Coverage Ratio)

Rasio Cakupan Utang adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar utang lancar. Lebih lanjut lagi, rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan melunasi biaya dan pokok utang dan obligasi lancarnya dengan pendapatan operasional bersih. Dengan kata lain, rasio ini membandingkan uang kas dari aktivitas operasional perusahaan dengan biaya bunga dan obligasi dana cadangan (Sinking Fund Obligation) jangka pendek.

Rasio ini secara khusus lebih diperhatikan oleh kreditur daripada investor. Kreditur tidak hanya ingin mengetahui jumlah dan arus kas suatu perusahaan. Mereka juga ingin mengetahui berapa banyak utang lancar yang dimiliki perusahaan dan kas yang tersedia untuk membayar biaya utang tersebut.

Berbeda dengan Rasio Utang, Rasio Cakupan Utang mempertimbangkan semua biaya yang terkait dengan utang. Hal ini termasuk biaya bunga dan kewajiban lain seperti kewajiban pensiun dan obligasi dana cadangan. Maka dari itu, rasio ini lebih bisa menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar utangnya daripada Rasio Utang.

Misalnya, jika jumlah Rasio Cakupan Utang perusahaan menunjukkan angka 1, itu berarti bahwa laba operasi bersih perusahaan sama dengan kewajiban utangnya. Dengan kata lain, perusahaan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membayar utang lancarnya. Jika angkanya kurang dari satu, maka perusahaan tidak memiliki laba operasi yang cukup untuk membayar utang lancarnya dan harus menggunakan sebagian dari tabungannya.

Umumnya, perusahaan dengan Rasio Cakupan Utang yang lebih tinggi cenderung memiliki lebih banyak uang kas dan lebih mampu membayar kewajiban utang lancarnya dengan tepat waktu.

Formulasi untuk rasio ini adalah:

Laba Operasional÷Total Biaya Utang dan Pokok Utang(Total Debt Service Costs)

Kesimpulan

Rasio Cakupan merupakan Rasio Keuangan yang lebih bisa menjelaskan bagiamana suatu perusahaan membayar kewajibannya dibandingkan Rasio Utang dan Solvabilitas. Dan agar manajemen bisa mempertimbangkan rasio tersebut, mereka tentunya membutuhkan Laporan Keuangan. Sekarang ini, Laporan Keuangan bisa dihasilkan dengan cepat dan otomatis melalui penggunaan Software Akuntansi. Salah satu Software Akuntansi yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut adalah Jurnal. Jurnal adalah Software Akuntansi Online yang tidak hanya berfungsi menghasilkan Laporan Keuangan. Namun Jurnal juga memiliki fitur Ringkasan Bisnis. Ringkasan Bisnis adalah fitur di mana Anda bisa melihat berbagai Rasio Keuangan yang diperlukan untuk kebutuhan analisa bisnis. Informasi lebih lanjut mengenai Jurnal bisa Anda lihat di sini.