Seorang pemilik dan atau manajer perusahaan harus memahami Laporan Keuangan untuk memastikan bahwa bisnisnya berada di jalur yang tepat. Hal ini tentu juga berlaku terhadap para pebisnis yang salah satunya menjalankan bisnis ritel. Tanpa memahami unsur-unsur seperti biaya, margin, dan laba, pemilik hanya akan menimbulkan risiko bagi investasi modal terhadap bisnisnya.

Manajer Bisnis Ritel biasanya menggunakan banyak jenis Rasio Keuangan yang membantu manajemen dalam menganalisa kinerja bisnis dan aktivitas penjualan barang. Rasio Keuangan ini juga berguna bagi investor untuk menentukan pemakaian sekuritas jangka panjang maupun jangka pendek dan profitabilitas bisnis ritel secara keseluruhan. Selain itu, Rasio Keuangan dapat menjadi alat untuk menganalisis seberapa baik perusahaan ritel menjual persediaannya, menentukan harga barang-barangnya, dan menjalankan aktivitas bisnisnya secara keseluruhan.

Baca juga: Cara & Langkah Menganalisis Rasio Keuangan

Apa itu Bisnis Ritel?

Cara Menganalisis Laporan Keuangan Bisnis RitelBisnis Ritel adalah salah satu jenis bisnis yang paling umum. Mekanisme sederhananya, seorang pedagang ritel membeli produk baik dari produsen ataupun distributor dan menjualnya langsung kepada konsumen untuk mendapat keuntungan. Swalayan, minimarket, toko kelontong, dan lainnya merupakan contoh daripada bisnis ritel. Sebagian besar bisnis ini menjual barang-barang keperluan sehari-hari seperti bahan makanan, pakaian, peralatan rumah tangga.

Ditambah lagi, internet telah membuat bisnis ritel semakin berkembang dan mudah dibangun dengan modal yang kecil. Salah satunya adalah strategi Drop-Shipping. DropShipping adalah strategi di mana penjual ritel menjual suatu produk yang tidak dimiliki dalam daftar persediaannya. Ketika konsumen membeli suatu produk secara online melalui web bisnis ritel Anda, Anda kemudian memesan produk tersebut kepada pihak ketiga dan pihak ketiga tersebut mengirimkan langsung barang yang dipesan kepada konsumen. Ini berarti bahwa Bisnis Ritel Anda akan menghemat persediaan yang dimiliki dan mudah untuk dikelola. Sehingga strategi ini juga mampu membantu perkembangan Bisnis Ritel Anda.

Rasio Keuangan yang Berguna untuk Keperluan Analisa Bisnis Ritel

Cara Menganalisis Laporan Keuangan Bisnis RitelSeperti yang dijelaskan sebelumnya, Rasio Keuangan dibutuhkan bagi tiap pemilik ataupun manajer perusahaan dan para investor untuk menganalisa perkembangan bisnis. Selain menganalisa, rasio keuangan juga bisa digunakan untuk menentukan harga produk maupun evaluasi kinerja bisnis. Berikut jenis rasio yang bisa Anda gunakan untuk menganalisa kinerja bisnis ritel Anda:

  1. Rasio Lancar (Current Ratio)

Rasio Lancar diukur dengan membagi Aset Lancar perusahaan dengan Liabilitas atau Kewajiban Lancar. Fungsi utama metrik ini adalah untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya. Angka Rasio Lancar lebih besar dari satu menunjukkan bahwa perusahaan dapat menutupi liabilitas jangka pendeknya dengan aset yang paling likuid (Aset Lancar). Bagi seorang investor, Rasio Lancar digunakan untuk mengukur likuiditas dan stabilitas jangka pendek suatu perusahaan selama fluktuasi musiman yang berpotensi terjadi pada suatu Bisnis Ritel.

  1. Rasio Cepat (Quick Ratio)

Rasio Cepat dihitung dengan membagi jumlah Kas dan Piutang Usaha dengan Kewajiban atau Liabilitas Lancar. Jenis rasio ini hampir mirip dengan Rasio Lancar. Akan tetapi, Rasio Cepat lebih ketat dalam menilai kemampuan Aset Lancar untuk melunasi liabilitas jangka pendek bisnis. Untuk alasan ini, Rasio Cepat menjadi ukuran yang lebih baik. Jika sebuah perusahaan berada di kondisi terpaksa melikuidasi asetnya untuk membayar tagihan, perusahaan dengan nilai Rasio Cepat yang tinggi hanya membutuhkan lebih sedikit aset untuk dilikuidasi. Dari sudut pandang investor, Rasio Cepat memberikan wawasan tentang stabilitas posisi likuiditas langsung perusahaan.

  1. Marjin Laba Kotor (Gross Profit Margin)

Margin Laba Kotor adalah rasio profitabilitas yang dihitung dalam dua langkah. Pertama, nilai Laba Kotor dihitung dari Pendapatan Bersih dikurangi nilai Harga Pokok Penjualan (HPP). Kemudian, nilai Laba Kotor tersebut dibagi dengan Pendapatan Bersih. Metrik ini berguna bagi manajemen dan juga investor terkait analisa kenaikan profit yang diperoleh dari penjualan produk langsung. Dari sudut pandang investor, Margin Laba Kotor yang lebih tinggi akan lebih disukai. Karena sepotong inventaris atau persediaan yang dimiliki akan menghasilkan lebih banyak pendapatan ketika dijual diiringi dengan nilai laba kotor yang lebih tinggi.\

Dengan nilai Margin Laba Kotor, bisnis juga bisa menakar berapa nilai HPP yang harus dihasilkan dalam suatu periode agar bisa mencetak nilai Laba kotor yang tinggi. Karena Bisnis Ritel menjual semua produk dari semua persediaan yang dimiliki, Margin Laba Kotor menjadi rasio yang paling efektif dan efisien dalam menilai aktivitas penjualan produk.

  1. Perputaran Persediaan (Inventory Turnover)

Dihitung dengan membagi Penjualan Bersih untuk suatu periode dengan nilai saldo Rata-Rata Persediaan untuk periode yang sama. Perputaran Persediaan adalah pengukuran efisiensi manajemen persediaan. Perusahaan Ritel memiliki persediaan yang selain untuk dijual juga harus dikelola dengan baik. Persediaan yang tersimpan dalam jangka waktu lebih lama mungkin akan menjadi kedaluwarsa atau tak layak jual lagi. Karena alasan ini, nilai Perputaran Persediaan yang lebih tinggi akan menguntungkan bagi manajemen maupun investor. Karena itu berarti perusahaan bisa menjual persediaannya dengan cepat kepada pelanggan. Sebaliknya, Perputaran Persediaan yang rendah menunjukkan bahwa suatu perusahaan tidak memiliki permintaan pasar yang tinggi sehingga penjualan menurun drastis.

  1. Pengembalian Aset (Return on Assets atau ROA)

Sederhananya, Pengembalian Aset (ROA) adalah pengukuran profitabilitas yang mengukur seberapa baik perusahaan menggunakan asetnya untuk menghasilkan pendapatan. Rasio keuangan dihitung dengan membagi total Laba Bersih perusahaan dengan total asetnya. Seorang investor dapat membandingkan ROA suatu perusahaan ritel dengan rata-rata ROA kelompok industri Ritel sejenis untuk memahami seberapa efektif perusahaan dalam menentukan harga barang dan membalik inventarisnya.

Misalnya, kelompok industri pakaian eceran melaporkan rata-rata ROA 19,39% pada kuartal ketiga 2015. Jika suatu perusahaan dalam industri ini mencetak rasio ROA 10%, perusahaan tersebut mungkin membeli terlalu banyak Aset secara tidak efisien atau tidak menerapkan harga jual yang bisa “bersaing” dibandingkan dengan kompetitor lain.

  1. Margin Laba Sebelum Bunga dan Pajak (EBIT)

Margin EBIT mengukur rasio EBIT terhadap Penjualan Bersih yang diperoleh untuk suatu periode. Perusahaan dapat memanfaatkan rasio keuangan ini untuk menentukan profitabilitas barang yang dijual tanpa harus memperhitungkan biaya yang tidak secara langsung mempengaruhi produk. Biaya-biaya tersebut adalah biaya bunga dan pajak. Dari sudut pandang investor, margin EBIT memberikan indikasi kemampuan perusahaan untuk memperoleh pendapatan.

Dengan memperhitungkan enam unsur Rasio Keuangan tersebut, diharapkan baik manajer dan investor Bisnis Ritel bisa mengelola pendanaan perusahaan dan portofolio investasi dengan lebih baik lagi. Namun bagi Anda khususnya pemilik Bisnis Ritel, sudah saatnya untuk menggunakan alat bantu keuangan yang bisa mempermudah pengelolaan dan penganalisaan keuangan bisnis, yakni Software Akuntansi.

Salah satunya adalah Jurnal, Software Akuntansi yang menawarkan berbagai fitur terkait pencatatan transaksi bisnis, pelaporan keuangan, analisa bisnis, dan masih banyak lagi. Jurnal juga memiliki tampilan Dasbor yang memuat informasi seperti data penjualan, pembelian, biaya, arus aktivitas bisnis, dan Laporan Keuangan secara sederhana namun lengkap. Anda juga bisa melihat guidebook Laporan Ringkasan Bisnis ini, yang berfungsi menampilkan informasi lebih mendetail terkait Laporan Keuangan beserta analisis berdasarkan Rasio Keuangan. Tentunya, Jurnal bisa menjadi alat bantu keuangan terbaik bagi Bisnis Ritel Anda.