Transaksi jual beli memang sudah menjadi darah daging pada perekonomian Indonesia. Dengan kata lain, kegiatan berdagang memang menjadi sumber pendapatan besar bagi sektor perekonomian di Indonesia. Usaha mikro kecil dan menengah (UKM) merupakan kelompok usaha yang paling banyak jumlahnya dalam perekonomian Indonesia. UKM tergolong dalam sektor riil yang mempunyai daya tahan tinggi terhadap krisis perekonomian global. Menurut Joseph Alois Schumpeter, ahli ekonomi Amerika, kewirausahaan termasuk UKM  sangat mempengaruhi tumbuhnya ekonomi suatu negara. 

Data dan Fakta

jurnal-manajemen-proyek

Jika dilihat dari data Badan Pusat Statistik tahun 1997 hingga tahun 1998, dapat ditunjukkan bahwa UKM mampu bertahan terhadap krisis ekonomi Indonesia tahun 1998. Dimulai dari penyerapan tenaga kerja tahun 1997 oleh pengusaha kecil merupakan yang tertinggi yaitu 57,40 juta (87,62%), lalu pada tahun 1998 penyerapan kerja oleh pengusaha kecil juga tertinggi yaitu 57,34 juta (88,66%).

Pada saat krisis moneter tahun 1998, ketika inflasi 88%, defisit 13% dan cadangan devisa kurang lebih USD17 miliar, tetapi sektor UKM tetap berjalan dengan baik. 

Penyelamat Krisis Ekonomi 1998

Perbedaan Omzet dan Profit Dalam Bisnis yang Harus Anda Ketahui

UKM ini menjadi poin krusial dan memiliki kontribusi besar bagi perekonomian negara. Jika dilihat dari sejarah, UKM di Indonesia sudah berkembang sejak lama dan terbukti mampu betahan di tengah krisis ekonomi tahun 1998  lalu.

Krisis ekonomi tahun 1998 di Indonesia sudah menjelaskan bagaimana rentannya modal asing terhadap krisis. Keterkaitan pengusaha di Indonesia terhadap pihak asing yang terlalu ketergantungan menyebabkan pengusaha tersebut rentan jika terjadi krisis. Ketergantungan tersebut juga yang pada akhirnya menyebabkan Indonesia juga jatuh ketika pihak asing sedang jatuh. 

Di sisi lain, selama krisis ekonomi tahun 1998, sebagian besar UKM terbukti mampu terjang perekonomian selama kondisi krisis maupun setelah krisis, bahan UKM dalam sektor pertanian kakao dan tembakau sangat diuntungkan karena karena berorientasi pada ekspor dan adanya kenaikan harga komoditas di pasar internasional.

Alasan kuat kenapa UKM terjang krisis ekonomi 1998 antara lain karena sebagian besar UKM memproduksi barang-barang konsumsi dan jasa dengan elastisitas permintaan rendah sehingga tingkat pendapatan masyarakat tidak berpengaruh terhadap permintaan barang yang dihasilkan. Selain itu, sebagian besar UKM tidak mendapat modal dari bank, sehingga ketika sektor perbankan terpuruk tidak terlalu terasa dan berpengaruh bagi UKM. 

Namun, ternyata tidak semua UKM dapat bertahan pada saat krisis ekonomi tahun 1998. Beberapa UKM yang berhubungan langsung dengan pasar internasional seperti UKM yang membeli bahan baku dan area pasar internasional, juga terkena dampak krisis global. Hal ini dapat dilihat dari berkurangnya permintaan dari pasar internasional yang berpengaruh kepada penurunan aktivitas UKM sehingga menurunkan tingkat pendapatan pelaku bisnis UKM dan meningkatnya tingkat pengangguran. 

Baca juga : Kiat Kelola Bisnis UKM Tetap Prima di Tengah Wabah COVID-19

UKM sebagai Penyangga Ekonomi di Tengah Terjangan Krisis Karena Virus Korona

Penyelamat Krisis 1998, UKM Diharapkan Terjang Krisis Karena Korona

Menurut Teten Masduki sebagai Menteri Koperasi dan UKM, UKM merupakan kekuatan penyangga ekonomi nasional serta tampil sebagai tulang punggung dalam situasi nasional yang tidak menentu karena meluasnya wabah virus korona. Selain itu, UKM juga menjadi andalan dalam menggerakan ekonomi domestik. 

UKM menjadi andalan dalam penyerapan tenaga kerja dengan mensubstitusi produk-produk konsumsi atau setengah jadi. Di saat krisis dalam wabah, UKM menjadi peluang  dan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, begitu juga sebaliknya, masyarakat diharapkan agar lebih membeli produk UKM. 

Saat ini, usaha mikro di Indonesia jumlahnya mencapai 63 juta unit, sedangkan usaha kecil mencapai 783.000 unit. Di sisi lain, pembiayaan APBN untuk sektor UKM tahun 2020 yaitu sebesar 250 triliun. Terlebih, saat ini telah ada pembatasan barang impor di Indonesia. Seperti impor buah dan sayur dari Tiongkok yang terhambat. Kekosongan barang impor seperti ini bisa diisi dengan produk dari UKM lokal.

Untuk itu, UKM tetap harus berjalan meski secara perlahan. UKM juga dapat mulai menyesuaikan diri dengan menggunakan teknologi seperti penggunaan aplikasi. Contohnya aplikasi akuntansi Jurnal, sebagai aplikasi akuntansi online, Jurnal ikut mendukung dan berkomitmen membantu menjawab tantangan untuk menjaga produktivitas dan pertumbuhan ekonomi di tengah tuntutan untuk mengurangi mobilitas ke tempat kerja dan keramaian umum lewat program #UKMtahankrisis. UKM sangat diyakini dapat terjang krisis yang terjadi karena merebaknya virus korona.

Saat ini, Jurnal juga sedang menawarkan promosi yakni dengan minimal berlangganan 6 bulan, maka dapat free trial selama 30 hari dan diskon sebesar 15%. Jika berlangganan minimal 12 bulan, maka free trial akan didapatkan selama 60 hari dan diskon tambahan sebesar 35%. Hal ini berlaku hingga 31 Maret 2020.

Cari tahu selengkapnya mengenai produk Jurnal di website Jurnal atau isi formulir berikut ini untuk mencoba demo gratis Jurnal secara langsung. Salam sehat dan produktif selalu!

Author