Memahami Seluk Beluk dan Cara Kelola Bisnis Franchise

“Banyak jalan menuju Roma,” Ungkapan klasik itu agaknya tepat disematkan kepada para pebisnis yang ingin meraih jalan kesuksesan. Tak banyak yang tahu, mencapai kesuksesan dalam berbisnis bisa melalui beragam cara, salah satunya dengan menjalankan bisnis franchise.

Sistem bisnis franchise menjadi salah satu dari banyaknya jalan menuju kesuksesan tersebut. Jika Anda penasaran, berikut uraian lebih lengkap terkait definisi, sejarah, dan seluk beluk bisnis franchise seperti dikutip Jurnal by Mekari.

Baca juga: Ini 5 Sektor Bisnis Tahan Krisis saat Pandemi COVID-19

Pengertian Bisnis Franchise

Kata franchise yang berasal dari dialek kuno Bahasa Prancis yang berarti keistimewaan atan kebebasan. Dalam bahasa Indonesia, franchise diterjemahkan sebagai waralaba. 

Wara berarti ‘lebih’, sementara laba artinya ‘untung’, jadi terjemahan bebasnya adalah ‘lebih untung’. Dalam arti luas, menurut Barringer & Ireland dalam bukunya yang diterbitkan pada 2008, waralaba merupakan hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa. 

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia (Permendag RI) Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Waralaba disebutkan, pengertian waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis. Dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba. 

Pada dasarnya, bisnis franchise adalah perjanjian pembelian hak untuk menjual produk dan jasa dari pemilik usaha. Pemilik usaha biasa disebut pewaralaba atau franchisor, sedangkan pembeli lisensi berbisnis adalah terwaralaba atau franchisee

Biasanya, isi perjanjian dalam kerja sama franchise, franchisor akan memberi bantuan berupa penggunaan nama brand produk, proses produksi, operasional, standar perlengkapan produksi, manajemen SDM, hingga pengelolaan keuangan. Sementara itu, franchisee akan memberi imbalan berupa pembayaran royalti secara rutin.

Baca artikel selengkapnya: Simak Bisnis Franchise dan Sejarah Kemunculannya

Sejarah Bisnis Franchise 

Berdasarkan sejarahnya, sistem waralaba bermula dari praktik bisnis di Eropa. Pada abad pertengahan, para bangsawan diberi wewenang oleh raja-raja di wilayah tertentu untuk menjadi tuan tanah dan memanfaatkan lahan tersebut.

Syaratnya, bangsawan harus memberi imbalan pajak dan upeti kepada kerajaan atau menyerupai royalti dalam sistem waralaba saat ini. Serian Wijatno dalam bukunya ‘Pengantar Entrepreneurship’ menjelaskan sejarah perjalanan bisnis franchise.

Diawali di Jerman sekitar tahun 1840-an, pembuat bir menjalankan sistem waralaba di sejumlah kedai minuman untuk menjadi distributor eksklusif di wilayah tersebut.

Di Amerika pada 1850-an, Isaac Singer dari perusahaan mesin jahit Singer memulai bentuk usaha waralaba untuk mesin jahitnya dan mempelopori kesepakatan kerja sama waralaba. Meskipun usaha yang dijalankan gagal.

Singer adalah pihak pertama yang memperkenalkan format bisnis waralaba di Amerika Serikat. Sampai akhirnya diikuti John S. Pemberton, pendiri Coca Cola. 

Selain Coca Cola, perusahaan lain yang mengikuti jejak Singer ialah General Motors Industries pada 1898. Pada akhirnya, waralaba didominasi oleh bisnis rumah makan siap saji (fast food) ketika A&W Root Beer membuka restoran yang dimulai pada tahun 1919. 

8 Keuntungan Bisnis Franchise yang Harus Anda Ketahui

Perangkat Hukum Bisnis Franchise

Pada tahun 1960-1970-an, sistem waralaba di AS booming hingga banyak terjadi praktik penipuan menjual lisensi dengan mengatasnamakan bisnis franchise, padahal keberhasilannya belum teruji.

Hingga akhirnya banyak investor gagal. Hal ini menjadi pemicu terbentuknya International Franchise Association (IFA) pada 1960. Pembentukan asosiasi disertai kode etik waralaba dan perangkat hukum pendukung sebagai pedoman bagi para anggotanya.  Tujuannya, untuk menciptakan iklim industri bisnis franchise yang terpercaya.

Baca juga: Pahami Strategi Penjualan yang Efektif saat Fase New Normal

Rizal Calvary Marimbo dalam buku bertajuk ‘Rasakan Dahsyartnya Usaha Franchise’ menyebutkan,

Pada 1978, Federal Trade Commission (FTC) mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap pewaralaba yang akan memberikan penawaran kepada publik untuk memiliki Uniform Franchise Offering Circular (UFOC). 

UFOC adalah dokumen yang berisi informasi lengkap terkait peluang bisnis waralaba seperti, sejarah bisnis, pengelola, hal terkait hukum, prakiraan investasi, deskripsi konsep bisnis, dan salinan dari perjanjian waralaba. Tentu pula informasi wajib seperti nama perusahaan, nama pemilik usaha, alamat, dan nomor telepon. 

Di Indonesia, Menteri Perdagangan menerbitkan beleid yakni Permendag No. 17/2019 tentang Penyelenggaraan Waralaba.

Di dalamnya diatur, pewaralaba dan terwaralaba wajib memiliki Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW). STPW merupakan bukti pendaftaran prospektus penawaran dan perjanjian waralaba yang diberikan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan.

Pengajuan permohonan STPW dilakukan melalui lembaga Online Single Submission (OSS) atau perizinan menjalankan usaha melalui sistem elektronik terintegrasi. 

Tantangan dan Solusi Berbisnis Franchise

Meski dianggap sebagai sistem bisnis yang mampu melipatgandakan cuan secara instan, pengelolaan bisnis franchise juga memiliki sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya adalah tak ada standarisasi pada bisnis franchise, dan usaha tumbuh dengan cepat tanpa persiapan matang.

Risiko pun ditanggung oleh pengelola usaha meski acuan pengelolaan ditetapkan oleh pemilik franchise. Berikut penjelasan lebih lengkap :

Tak ada Standarisasi Bisnis franchise 

Bisnis franchise biasanya memiliki persyaratan administrasi yang ketat untuk menjaga kualitas dan memberi asistensi yang banyak dan detail. Sayangnya, terdapat beberapa negara yang belum memiliki standarisasi dari regulator sehingga tak ada penegasan antara bisnis franchise dan peluang usaha biasa.

Solusinya, investor harus berhati-hati untuk memilih jenis usaha yang akan digeluti. 

Tumbuh dengan Cepat tanpa Rencana

Biasanya pertumbuhan usaha yang cepat dan tidak direncanakan dengan matang rentan mengalami kejatuhan dalam waktu singkat pula. Tugas pemilik usaha adalah mencermati perkembangan bisnis dan mengelola dengan sistematis.

Risiko Bisnis Ditanggung Pengelola Usaha

Usaha Franchise tak menjamin bahwa franchisee selalu memperoleh untung. Ketika bisnis mengalami kerugian, risiko tersebut harus ditanggung oleh pengelola usaha tersebut.

Maka itu, pembeli lisensi franchise disarankan lebih berhati-hati mengelola usaha, terutama dalam mengelola laporan keuangan. Salah satu solusi, pengelola usaha bisa menggunakan software akuntansi online Jurnal by Mekari untuk mendukung perjalanan bisnis franchise.

Baca juga: 5 Langkah Atur Ulang Keuangan Bisnis Jelang New Normal

Tips bagi Franchisor: Strategi Sukses Kelola Bisnis 

Sistem bisnis franchise mustahil akan berhasil tanpa menjalankan strategi yang tepat. Maka itu, pewaralaba atau franchisor harus mengikuti sejumlah langkah dan tips untuk mencapai kesuksesan dalam berbisnis franchise.

Langkah awal yang perlu dilakukan ialah menentukan fokus pada bidang usaha tertentu yang akan digeluti secara tepat. Kemudian menyiapkan keperluan untuk pengembangan bisnis tersebut secara terarah.

Tips sukses berbisnis franchise ialah memiliki strategi pengaturan manajemen yang baik. Hal ini berupa proses rekrutmen, pelatihan, penempatan, promosi, serta pengembangan keterampilan karyawan.

Franchisor juga perlu menentukan standar perlengkapan kerja yang berkualitas untuk mendukung proses produksi. Hal ini berguna untuk memudahkan pelaksanaan standar kerja, menghemat biaya investasi, memudahkan pengembangan usaha, serta memperlihatkan profesionalitas bisnis franchise tersebut. 

Baca artikel selengkapnya: Tips dan Rahasia Sukses Berbisnis Franchise

Strategi lain, pemilik bisnis harus menampilkan citra brand usaha yang baik demi menarik minat konsumen. Penampilan yang baik tidak harus mahal, tetapi bisa diakali dengan inovasi dan kreativitas yang tinggi. 

Selanjutnya, Anda perlu membangun standar kerja dan sistem operasional. Bisnis franchise dikenal sebagai sistem usaha yang mengacu pada standar, semua elemen distandarisasi agar memiliki keunggulan kompetitif dibanding bisnis tradisional. 

Standar kerja dan sistem operasional akan memudahkan pengembangan bisnis dan menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Sistem operasional yang dimaksud misalnya sistem produksi dan distribusi, sistem promosi dan pemasaran, sistem sumber daya manusia, serta sistem akuntansi dan keuangan. 

Terkait pengelolaan sistem akuntansi dan keuangan, pemilik franchise bisa menggunakan software akuntansi online seperti Jurnal by Mekari. Jurnal menyediakan fitur yang berfungsi mencatat dan memonitor laporan keuangan dan laporan inventori secara berkala dengan mudah.

Tak hanya itu, Anda juga dapat memanfaatkan laporan konsolidasi sehingga bisa memantau kinerja bisnis di setiap cabang franchise secara real time. Pelajari selengkapnya di sini.

Tips Memilih Bisnis Franchise di Indonesia

Tips bagi Franchisee: Strategi Sukses Memulai Bisnis

Sebagai franchisee atau pembeli lisensi franchise, Anda perlu menjalankan berbagai strategi awal agar sukses memilih dan mengelola bisnis waralaba. Strategi utama yang perlu dilakukan adalah memilih waralaba sesuai dengan potensi pasar. Kemudian, kenali profil pemilik franchise.

Selanjutnya, Anda perlu mengamati dan memilih usaha yang memiliki proyeksi raihan keuntungan yang tinggi. Salah satu strategi yang bisa dilakukan untuk memperoleh keputusan bisnis dan memilih usaha yang tepat, Anda bisa mengunjungi kantor pusat atau gerai-gerai franchise yang menarik minat Anda. 

Tentunya, penting untuk memilih waralaba yang sesuai dengan kemampuan finansial dan modal yang tersedia. Jika sudah sesuai, pelajari hak-hak sebagai pengelola bisnis dan jalankan kewajiban sebagai pengelola bisnis.

Terakhir, Anda perlu waspada terhadap penipuan dan selalu memantau pergerakan bisnis franchise  secara cermat dari waktu ke waktu.

Keuntungan Berbisnis Franchise

Ketimbang memulai usaha dari awal dan menghadapi risiko kegagalan yang besar, Anda bisa memilih untuk menjadi terwaralaba atau franchisee dengan membeli lisensi dan menjalankan bisnis franchise yang sudah ada.

Pasalnya, terdapat banyak keuntungan yang bisa diperoleh franchisee jika menjalankan bisnis franchise. Salah satunya, risiko gagal berbisnis menjadi rendah. 

Baca juga: UMKM Terdampak COVID-19 Dapat Subsidi Bunga Kredit

Pemilik franchise biasanya tak hanya menawarkan proyeksi tentang bisnis yang sukses, tetapi juga menawarkan fakta bisnis yang sudah teruji. Pemilik franchise akan menunjukkan bukti seperti jumlah gerai yang sudah berjalan, laju pertumbuhan gerai dalam kurun waktu setahun, informasi keuntungan bersih setiap gerai, dan informasi lain yang mendukung perkembangan bisnis. 

Keuntungan lain berbisnis franchise bagi terwaralaba ialah usahanya terjamin oleh nama yang sudah mapan. Umumnya, nama besar akan mempengaruhi minat konsumen untuk mengkonsumsi produk tertentu. 

Sayangnya, membangun citra sebuah brand bukan pekerjaan yang mudah, melainkan membutuhkan dana, energi, dan waktu yang tak sedikit. 

Baca artikel selengkapnya: Daftar Keuntungan Jika Berbisnis Franchise

Jika Anda berbisnis franchise, Anda tak perlu lagi berusaha membangun citra brand dari awal, melainkan cukup menjalankan ‘warisan’ nama besar yang sudah ada. Hal itu membuat Anda selangkah lebih maju dalam menjaring konsumen. 

Selain itu, sistem usaha franchise sudah solid. Di awal memulai bisnis, pemilik franchise dan pembeli lisensi franchise menyepakati nilai kerja sama yang akan dijalankan. 

Setelah itu, pembeli lisensi berhak menerima paket waralaba termasuk sistem bisnis yang sudah solid dan teruji. Sistem tersebut bisa berupa mutu manajemen, pengelolaan keuangan, sumber daya manusia, standard operational procedures (SOP), strategi pemasaran, kualitas produk, dan aspek hukum. 

Keuntungan terakhir, akses pendanaan juga menjadi lebih mudah dengan sistem bisnis franchise. Pihak perbankan akan lebih percaya untuk menyalurkan kredit kepada pebisnis yang berada di lingkaran sistem franchise

Alasannya, pihak bank memiliki jaminan nama besar pemilik waralaba, sementara pebisnis juga membutuhkan keberlanjutan kerja sama dengan bank untuk pengembangan bisnis di masa mendatang. Hubungan saling membutuhkan itu akan menguntungkan franchisee.  

Teknologi Pendukung Bisnis Franchise 

Aplikasi Point of Sales (POS)

Teknologi pembayaran digital atau biasa dikenal aplikasi Point of Sales (POS) bisa membantu pelaku usaha franchise melakukan pencatatan dan penghitungan penjualan produk secara mudah dan cepat. Teknologi ini mendukung operasional bisnis berjalan dengan baik.

Digital Marketing

Teknologi bisa membantu aktivitas pemasaran dalam bisnis franchise secara efektif, yakni melalui digital marketing. Caranya, bisa melalui pemasaran via email, media sosial, dan saluran digital lain.

Aplikasi Kolaborasi

Teknologi aplikasi kolaborasi dapat mendukung proses pembuatan dan pengiriman dokumen kerja ke cabang-cabang franchise secara praktis dan cepat. Aplikasi biasanya menyediakan beragam format file seperti dokumen, excel, sheet, atau slide.

Perangkat kerja terintegrasi itu juga menyediakan aplikasi pendukung lain seperti email, drive, dan calender.

Aplikasi Akuntansi Online 

Baik pemilik maupun pengelola bisnis franchise, perlu memonitor kondisi keuangan dengan cermat agar dapat menentukan strategi bisnis yang tepat. Untuk memantau performa bisnis secara mudah dan akurat, Anda bisa memanfaatkan teknologi berupa aplikasi akuntansi online berbasis cloud yang mumpuni, salah satunya Jurnal by Mekari

Jurnal software akuntansi UKM

Profil Sukses Bisnis Franchise di Indonesia 

Di Indonesia, terdapat sejumlah pengusaha yang sukses menjalankan bisnis dengan sistem franchise. Beberapa di antaranya ialah Kebab Babarafi, Hong Tang, dan Kopi Chuseyo yang juga merupakan pengguna Jurnal by Mekari.

Pendiri masing-masing perusahaan mengaku menggunakan Jurnal sebagai aplikasi pendukung bisnis mereka agar berkembang lebih pesat.  

Babarafi

Founder & CEO Babaradi Enterprise Hendy Setiono memulai usahanya menjual kebab di depan garasi rumahnya pada 2003 lalu. Saat itu, ia hanya memiliki 1 karyawan. 17 tahun berselang, kini bisnis franchise-nya berkembang menjadi 1.300 cabang Kebab Babarafi.

Menurut dia, sistem bisnis franchise memiliki semangat kolaborasi, kemitraan, dan pengembangan, di mana kecepatan perkembangan usaha adalah kuncinya. Hal itu yang menginspirasi Hendy untuk mendalami sistem usaha franchise dan mengembangkan sayap bisnisnya. 

“Jika saya membuka cabang sendiri sebelum franchise, saya hanya sanggup buka 6 cabang. Tentu itu pertumbuhan yang relatif lambat dibanding ketika menerapkan sistem franchise,” ujar Hendy saat diwawancara Jurnal by Mekari.

Baca juga: Strategi Jitu agar UKM Bisa Bertahan Hadapi Krisis Akibat Corona

Kopi Chuseyo

co-Founder Kopi Chuseyo Daniel Hermansyah mulai menjalankan usaha Kopi Chuseyo pada 2019. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun, kedai kopi yang sekaligus menjadi hub para penggemar K-Pop ini telah berkembang menjadi tiga cabang milik sendiri dan 21 cabang dengan sistem franchise.

Daniel mengaku memilih model bisnis franchise sebagai strategi pengembangan usaha karena dianggap sebagai cara paling mudah dan cepat untuk berekspansi dibanding mengelola bisnis.

“Pada dasarnya ada local knowledge (wawasan lokal) yang lebih diketahui oleh orang di daerah tertentu untuk berbisnis dan itu tidak bisa kita beli. Local knowledge juga memudahkan kami memilih tempat yang potensial menyasar targeted market. Intinya lebih berkembang dengan lebih banyak partner,” papar Daniel. 

Baca artikel selengkapnya : Cara Unik Kopu Chuseyo Dongkrak Bisnis dengan Gaet Komunitas K-Pop

Hong Tang

CEO dan Founder Hong Tang Andrew S. Iskandar memilih menjalankan usaha kuliner yang berfokus pada Asian Dessert sejak 2012. Saat ini, perusahaan telah memiliki 10 cabang milik pribadi dan 4 cabang dengan sistem franchise

Andrew mengaku menjalankan strategi usaha dengan memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses bisnis agar tepat sasaran dan lebih efisien. Beberapa di antaranya, Point of Sales (POS), teknologi digital marketing, aplikasi layanan pesan antar instan, dan software akuntansi online Jurnal by Mekari

“Kami fokus di layanan to-go, kami ada kerja sama kirim produk langsung ke customer. Mudah-mudahan itu cukup bantu penjualan masih cukup bagus. Basicly beberapa teknologi aplikasi membantu proses bisnis kami,” tutur Andrew.  

Kelola Laporan Keuangan Bisnis Franchise melalui Jurnal 

Pengelolaan keuangan bisnis franchise dianggap lebih mudah karena biasanya pemilik franchise sudah menetapkan panduan yang matang. Kemudian, panduan itu dijalankan secara seragam di seluruh cabang usaha. Berikut sekilas pengelolaan laporan keuangan pada bisnis franchise.

Laporan Laba Rugi

Pada prinsipnya, semakin baik kinerja laporan keuangan franchisee, maka pemilik franchise juga akan semakin sukses. Pasalnya, peningkatan omzet dan laba cabang para franchisee akan mempengaruhi royalti yang diperoleh pemilik franchise.

Pemilik franchise biasanya akan memberi panduan terkait pencatatan pendapatan, beserta target penjualan kepada pengelola bisnis dengan nominal sesuai proyeksi kinerja.

Dalam laporan laba rugi, Anda perlu menyusun sekaligus mengelola komponen pendapatan dan jumlah pengeluaran usaha dengan cermat. Dalam hal ini, Anda dapat menggunakan software akuntansi online Jurnal by Mekari sebagai perangkat pendukung pengelolaan laporan keuangan laba rugi.

Melalui fitur laporan laba rugi, Anda bisa mencatat pendapatan, pengeluaran, baik harga pokok penjualan maupun biaya operasional.

Tak hanya itu, fitur laporan inventori pada aplikasi Jurnal juga akan membantu Anda mengetahui jumlah dan harga bahan baku, serta memonitor pengeluaran inventori secara real time.

Dari sisi pengeluaran inventori, bisnis franchise biasanya hanya menggunakan supplier tunggal untuk memasok semua kebutuhan, sehingga perhitungan menjadi lebih mudah. Meski demikian, pengelola tak punya kuasa untuk memilih stok barang sendiri yang mungkin lebih murah.  

Melalui fitur konsolidasi laporan, para pemilik dan pengelola bisnis franchise dapat dengan mudah mencatat dan memonitor laporan keuangan di banyak cabang secara berkala, bahkan real time. Dengan demikian, keputusan bisnis dapat segera diambil dengan cepat tanpa harus kehilangan momentum ekspansi.

Laporan Neraca

Laporan neraca akan memperlihatkan seberapa besar aset, dan ekuitas perusahaan, sekaligus kewajiban-kewajiban yang harus dibayar perusahaan. Dalam aplikasi Jurnal, Anda bisa menyusun dan memantau laporan neraca setiap waktu secara real time, termasuk pengelolaan aset dan pencatatan utang piutang terperinci. 

Di awal kesepakatan bisnis, kedua pihak biasanya menyiapkan Surat Komitmen Target Royalti (SKTR) dan Surat Pernyataan Utang (SPU) sebagai bukti komitmen franchisee untuk membayar royalti kepada pemilik franchise sesuai kesepakatan. Pada dasarnya, bentuk royalti bisa bermacam-macam, bisa berupa komisi penjualan ritel, biaya pelatihan, management fee, supporting fee, consultation fee, dan lainnya.  

Laporan Arus Kas

Di bagian laporan arus kas, Anda dianjurkan mengatur dana yang ada pada kas, baik kas bank maupun bentuk penyimpanan lain, dengan mengacu pada panduan bisnis franchise tersebut.

Untuk membantu mengelola dan memantau keuangan bisnis franchise dengan lebih mudah dan praktis, Anda lagi-lagi dapat memanfaatkan fitur dalam software akuntansi online Jurnal by Mekari

Tampilan dashboard bisnis  dan laporan arus kas dengan data real time dapat memudahkan Anda menentukan langkah bisnis pada situasi penting. Tak hanya itu, fitur rekonsiliasi bank juga dapat memudahkan Anda mengelola arus kas secara ringkas.

Note : Baca artikel UMKM Terdampak COVID-19 Dapat Subsidi Bunga Kredit 

Cari tahu selengkapnya mengenai produk Jurnal di website Jurnal atau isi formulir berikut ini untuk mencoba demo gratis Jurnal secara langsung. Cukup ketuk banner di bawah ini untuk mendapatkan promo kesempatan bonus berlangganan Jurnal selama 60 hari dan diskon 35% (Minimal subscribe 12 bulan).

CTA Jurnal


PUBLISHED16 Jun 2020
Lavinda
Lavinda

SHARE THIS ARTICLE: