Cara Unik Kopi Chuseyo Dongkrak Bisnis dengan Gaet Komunitas K-Pop

Bisnis kedai kopi kian menjamur di Indonesia. Mulai dari mengangkat tema internasional, tema lokal nusantara, hingga tema yang membahas hati dan perasaan. Seluruh konsep itu menjadi gimmick pemasaran yang digunakan untuk menarik perhatian dan menggaet pelanggan lebih banyak. Di tengah meriahnya bisnis kopi dengan tema mainstream, lahir kedai Kopi Chuseyo.

Kopi Chuseyo mengangkat tema tak biasa dengan melahirkan aura Korea di Taman Scientia. Mulai terbentuk pada 2019 dengan cabang utama di Scientia Park Gading Serpong, Tangerang, Banten. 

Baca juga: Strategi Menyusun Laporan Keuangan untuk Memikat Hati Investor

Kedai Kopi Chuseyo menyajikan kopi susu dengan racikan korean blend. Biji kopi yang digunakan biasa dikonsumsi dan sesuai selera warga Negeri Gingseng tersebut. Hal menarik, kedai kopi ini selalu menyajikan minuman dari biji kopi yang segar tanpa proses penampungan terlebih dahulu.

“Biji kopinya tidak terlalu asam. Kami selalu jual biji kopi yang fresh sehingga orang tidak akan sakit maag kalau mengkonsumsi Kopi Chuseyo. Intinya, kopi fresh anti maag,” ujar Co-Founder Kopi Chuseyo Daniel dalam Customer Story Jurnal by Mekari beberapa waktu lalu seperti dikutip, Selasa (3/3).

Kopi Chuseyo memutuskan untuk menggaet komunitas penggemar Korean Pop (K-Pop) sebagai target pasarnya karena sang pendiri memiliki kedekatan emosi dengan berbagai hal terkait Korean Pop. Daniel mengaku telah menjadi penggemar K-Pop sejak 2004.

Strategi utama untuk mempertahankan bisnis agar tetap berkelanjutan ialah mengimplementasikan konsep pemasaran K-Pop Community yang unik dengan berbagai gimmick tertentu. Dia pun menobatkan kedainya sebagai The Only K-Pop Hub in the Nation dengan menjual kopi lengkap dengan suasana berkumpul dengan komunitas K-Pop di kedainya. 

Selain strategi marketing, Daniel tentu berfokus pula menjaga kualitas produk itu sendiri. Daniel mengaku terus menjaga kualitas biji kopi sekaligus proses pengolahannya. Dia juga terus berinovasi dengan berbagai jenis menu agar semakin diminati konsumen. 

Perjalanan bisnis Kopi Chuseyo tentu tak selalu mulus, melainkan mengalami banyak rintangan. Daniel mengungkapkan tantangan pertama ialah banyaknya kompetitor lain pemilik kedai kopi yang menjamur dimana-mana. Hal itu dihadapi dengan memperkenalkan produk kopinya kepada konsumen baru melalui gimmick marketing yang berbeda dibanding kompetitor lain. 

Tantangan lain, edukasi kepada konsumen mengenai pentingnya meminum kopi fresh agar tidak sakit maag. Hal itu menjadi pekerjaan rumah yang terus kami gaungkan setiap saat. 

Co-Founder Kopi Chuseyo Daniel

Model Bisnis Franchise Jadi Pilihan

Sampai kuartal I 2020, pendiri sudah mengoperasikan tiga cabang milik sendiri, dan sekitar 21 cabang dengan sistem franchise. Pada kuartal II 2020, Kopi Chuseyo ditargetkan bertambah menjadi 40 cabang. Sedangkan sampai akhir tahun ini jumlah kedai kopi diharapkan bisa mencapai angka 50 cabang.

Kedai kopi ini memilih model bisnis franchise sebagai strategi untuk mengembangkan usaha karena dianggap sebagai cara yang paling mudah dan cepat untuk berekspansi dibanding mengelola bisnis sendiri.

Baca juga: Teknologi dan SDM Jadi Kunci dalam Mengembangkan Bisnis Jasa

“Pada dasarnya ada local knowledge (wawasan lokal) yang lebih diketahui oleh orang di daerah tertentu untuk berbisnis dan itu tidak bisa kita beli. Local knowledge juga memudahkan kami memilih tempat yang potensial menyasar targeted market. Intinya lebih berkembang dengan lebih banyak partner,” papar Daniel.  

Berbeda dengan model bisnis franchise, mengelola bisnis sendiri memang berpotensi menghasilkan keuntungan besar tanpa perlu membagi ke pihak lain, tetapi kesibukan pengelolaan bisnis dan kepusingan atas tantangan bisnis juga harus ditanggung sendiri.

Kedai Kopi Chuseyo di Scientia Park Gading Serpong, Tangerang, Banten.

Tips Kelola Laporan Keuangan dengan Model Bisnis Franchise

Mengelola keuangan dengan model bisnis franchise memang tidak mudah. Beberapa tips yang perlu dilakukan untuk menjaga bisnis tetap pada jalur yang tepat antara lain, konsisten menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan keinginan pasar. Selanjutnya, menjaga layanan (service) tetap baik. 

Terakhir, memelihara hubungan yang baik dengan konsumen agar mau kembali mengkonsumsi produk yang kita hasilkan. Hal itu bisa dilakukan melalui jalur offline ataupun online di sosial media. Intinya membangun basis konsumen.

Baca jugaMad Bagel dan Mookie Bagi Rahasia Sukses Bisnis F&B di Era Digital

“Kalau ketiganya jalan, produk, service, dan Customer Relationship Management (CRM), lalu profit-nya jalan, kami bisa jual konsep kami kepada orang lain. Tapi tips yang pertama banget, mulai aja dulu,” kata Daniel.

Dalam mengembangkan usaha, Kopi Chuseyo tak terlepas dari penggunaan teknologi canggih. Teknologi yang digunakan untuk kebutuhan pemasaran (marketing), sistem pembayaran (payment system), dan finansial. 

Dari sisi marketing, Kopi Chuseyo menggunakan media sosial dengan sangat aktif untuk berkolaborasi dengan basis penggemar (fanbase) K-Pop. Dengan begitu, mereka turut membantu menyebar awareness terhadap produk Kopi Chuseyo. 

Secara sistem pembayaran, Kopi Chuseyo juga memanfaatkan sistem point of sales (POS) berupa aplikasi untuk kasir yang bisa menyajikan data secara realtime. Jadi, Kopi Chuseyo tahu bagaimana progres penjualan dari setiap cabang yang ada di seluruh Indonesia. 

Secara finansial laporan keuangan, Kopi Chuseyo memanfaatkan aplikasi akuntansi online Jurnal by Mekari. Alhasil, pengusaha dapat melihat progres pendapatan dari setiap kedai, beban operasional, termasuk beban pembelian bahan baku, beban gaji pegawai, dan pengeluaran untuk marketing. Dalam tahap akhir, Kopi Chuseyo dapat mengetahui total laba yang diperoleh secara realtime

“Cabang kami sangat banyak di luar kota, tidak mungkin memantau seluruhnya tanpa Jurnal. Dari informasi keuangan realtime, kami jadi tahu bocornya ada dimana, misalnya beli bahan baku terlalu banyak padahal belum butuh, jadi cash on hand berkurang. Akhirnya kami bisa menentukan strategi bisnis yang tepat seperti apa,” papar Daniel.

Dengan informasi yang diperoleh tersebut, pengusaha memiliki kemampuan menentukan strategi bisnis secara cepat dan tepat. Intinya, teknologi yang ada saat ini sangat membantu Kopi Chuseyo untuk menemukan formulasi yang tepat agar bisnis berjalan lancar. 

Kedai Kopi Chuseyo di Scientia Park Gading Serpong, Tangerang, Banten.

Mimpi Kopi Chuseyo Go-International

Impian Daniel tak hanya berhenti di Kota Tangerang. Dia berambisi memperluas jangkauan Kopi Chuseyo hingga ke seluruh kota di Indonesia. Dengan begitu, Kopi Chuseyo akan menjadi satu-satunya K-pop Hub di Indonesia.

“Jadi kalau anak-anak K-pop mau kumpul, bikin event have fun bareng, mereka tahu harus kemana, ke kafe kami, bukan ke kafe lain. Its like the place they celebrate their passion for Kpop. Jadi seharusnya memang ada di setiap kota di Indonesia,” ujar Daniel. 

Daniel berharap kedai Kopi Chuseyo akan bertambah hingga kisaran 200 cabang atau setara dengan jumlah kota di Indonesia. Kendati demikian, dia tak ingin jumlah cabang terlalu banyak hingga lebih dari 500 cabang karena akan membuat kedai komunitas Korea menjadi tak lagi eksklusif. 

Jika perluasan jangkauan cabang di Indonesia terwujud, ambisi selanjutnya ialah menguasai pasar Asia Tenggara dengan berekspansi ke beberapa negara tetangga. Pasalnya, basis penggemar Kpop sangat banyak di Asia Tenggara, namun tak ada wadah untuk tempat berkumpul. Maka itu, Kopi Chuseyo ingin mengambil peluang pasar itu sesegera mungkin.

Sejumlah upaya yang dilakukan pendiri untuk mencapai mimpi menjadi The Only Kpop Hub di Indonesia hingga go-internasional antara lain, berusaha mengenalkan Kopi Chuseyo dan menambah cabang di area nasional melalui model bisnis franchise. 

Selain itu, memperbaiki sistem internal agar lebih efisien. Misalnya memperbaiki sistem pergudangan dan mencari penyedia bahan baku (supplier) dengan harga lebih rendah sehingga bisa memperoleh margin laba yang lebih besar. Upaya lain, mendekatkan diri dengan komunitas Kpop di seluruh Indonesia dan ikut mengembangkan komunitas tersebut, sehingga bisa menjadi value pasar Kopi Chuseyo. 

“Ketika ingin menawarkan franchise Kopi Chuseyo, kami tidak hanya jual alat, tidak cuma resep, tapi kami juga jual market. Kami sudah pegang market-nya. Itu goal kami tahun ini,” tegas Daniel. 


PUBLISHED03 Mar 2020
Lavinda
Lavinda

SHARE THIS ARTICLE: