Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
11 min read

Kontrak Memberatkan: Pengertian, Perlakuan Akuntansi, dan Contoh Jurnalnya dalam PSAK 237/IAS 37

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Highlights
  • Kontrak memberatkan terjadi ketika biaya tidak terhindarkan untuk memenuhi kontrak lebih besar dibanding manfaat ekonomi yang akan diterima perusahaan.
  • PSAK 237 dan IAS 37 mewajibkan perusahaan mengakui provisi kontrak memberatkan jika kewajiban kontraktual sudah tidak dapat dihindari dan dapat diukur secara andal.
  • Nilai provisi ditentukan berdasarkan biaya terendah antara biaya memenuhi kontrak atau penalti pembatalan kontrak.
  • Dengan software akuntansi seperti Mekari Jurnal, perusahaan dapat memantau biaya proyek, menghitung provisi, dan menyusun jurnal kontrak memberatkan secara lebih cepat dan akurat.

Dalam dunia bisnis, menandatangani kontrak adalah keputusan yang tampaknya final. Namun kondisi pasar bisa berubah, biaya bisa melonjak, dan asumsi yang mendasari kontrak bisa runtuh.

Ketika hal itu terjadi, perusahaan bisa mendapati dirinya terikat pada kontrak yang justru merugikan karena biaya untuk memenuhinya lebih besar daripada manfaat ekonomi yang akan diterima.

Kondisi inilah yang dalam akuntansi dikenal sebagai kontrak memberatkan, atau dalam bahasa Inggris disebut onerous contract.

Apa Itu Kontrak Memberatkan?

IAS 37 mendefinisikan onerous contract atau kontrak memberatkan sebagai unavoidable costs untuk memenuhi kewajiban melebihi economic benefits yang diharapkan diterima.

Dalam konteks standar akuntansi, istilah ini merujuk spesifik pada kontrak yang menimbulkan kewajiban merugikan karena biaya tidak terhindarkan melebihi manfaat ekonomi yang diharapkan, sehingga memerlukan pengakuan provisi dalam laporan keuangan.

Pengertian Kontrak Memberatkan dalam Konteks Bisnis

Jika dipahami dalam konteks bisnis yang lebih sederhana, kontrak memberatkan terjadi ketika perusahaan sudah terikat secara hukum pada suatu kontrak, tetapi menyelesaikan kontrak itu akan menghabiskan biaya yang lebih besar dari pendapatan atau manfaat yang akan diperoleh.

Oleh karena itu, perusahaan tidak bisa begitu saja keluar dari kontrak tanpa konsekuensi, sehingga kerugian menjadi tidak terhindarkan.

Catatan Penting: PSAK 57 Kini Bernomor PSAK 237

Bagi para praktisi di dunia akuntansi Indonesia, mungkin topik ini erat kaitannya dengan standar akuntansi PSAK 57: Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi.

Perlu diingat bahwa semenjak terjadinya penomoran ulang SAK Indonesia yang berlaku efektif 1 Januari 2025, PSAK 57 kini telah berubah menjadi PSAK 237.

Walaupun begitu, ketentuan pokok yang dimuat pada penomoran sebelumnya masih tetap sama dan tidak berubah.

Baca Juga: PSAK: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Perannya dalam Laporan Keuangan

Kapan Kontrak Disebut Memberatkan?

Ada beberapa kriteria ketat yang wajib terpenuhi sebelum akuntan dapat menetapkan status tersebut secara sah:

  • Perusahaan masih memiliki kewajiban hukum yang mengikat dari kontrak yang belum selesai
  • Estimasi biaya penyelesaian kontrak lebih besar daripada manfaat ekonomi yang akan diterima
  • Kontrak tidak dapat dibatalkan tanpa menimbulkan penalti atau kompensasi material
  • Kerugian kontrak dapat diukur secara andal berdasarkan estimasi akuntansi yang rasional

Biaya Tidak Terhindarkan Lebih Besar dari Manfaat Ekonomik

Inti penilaian kontrak memberatkan adalah perbandingan antara manfaat ekonomi yang akan diterima dari kontrak dengan biaya yang tidak dapat dihindari untuk memenuhinya.

Jika biaya melampaui manfaat, kontrak sudah memasuki zona memberatkan dan perusahaan perlu bertindak dari sisi akuntansi.

Perusahaan Tidak Bisa Keluar dari Kontrak Tanpa Konsekuensi

Membatalkan kontrak bukan tanpa biaya, karena ada klausul penalti, kewajiban kompensasi kepada pihak lawan, atau konsekuensi reputasi yang nyata.

Kondisi ini biasanya muncul ketika kontrak yang ditandatangani bersifat tidak dapat dibatalkan (non-cancellable contract) dan ketidakbebasan inilah yang menciptakan kewajiban yang dapat diakui.

Baca Juga: Beban Ditangguhkan: Pengertian, Jenis, Pencatatan, Dampak Laporan Keuangan, dan Cara Mengelolanya

Perbedaan Kontrak Rugi Biasa dan Kontrak Memberatkan

Memahami perbedaan antara kontrak rugi biasa dengan kontrak memberatkan penting agar perusahaan atau pelaku usaha tidak salah mengakui provisi.

Selain itu, kegagalan dalam membedakan kedua pos ini akan berujung pada kesalahan penyusunan pos liabilitas di neraca.

Agar mudah untuk membedakannya, berikut terdapat tabel perbandingan antara keduanya berdasarkan beberapa aspek pembeda utama:

Aspek Kontrak Rugi Biasa Kontrak Memberatkan
Sumber Utama Kerugian Efisiensi internal yang rendah atau salah kalkulasi harga Biaya tidak terhindarkan melebihi manfaat ekonomis
Kewajiban Kontraktual Bersifat fleksibel dan bisa dinegosiasikan ulang Bersifat kaku, mengikat secara hukum, dan tidak bisa dibatalkan
Biaya Tidak Terhindarkan Tidak ada kewajiban hukum atas biaya neto minimal Terdapat biaya neto terendah yang wajib dibayarkan
Pengakuan Provisi Tidak diperbolehkan mencatat provisi di awal Wajib diakui sebagai provisi liabilitas di neraca
Dampak Finansial Kerugian diakui bertahap seiring berjalannya proyek Seluruh estimasi kerugian diakui instan di awal penemuan

Dasar Akuntansi Kontrak Memberatkan dalam PSAK 237/ IAS 37

Dalam standar akuntansi, kontrak memberatkan wajib diakui sebagai provisi ketika perusahaan memiliki kewajiban kontraktual yang diperkirakan menimbulkan kerugian.

Nilai provisi diukur berdasarkan biaya terendah antara biaya untuk memenuhi kontrak atau penalti yang harus dibayar jika kontrak dibatalkan, sehingga laporan keuangan mencerminkan estimasi kewajiban yang paling realistis.

Dalam kontrak memberatkan, provisi muncul karena perusahaan memiliki kewajiban untuk menanggung biaya yang tidak dapat dihindarkan, dan kewajiban ini memenuhi syarat pengakuan yakni ada kewajiban kini, ada kemungkinan arus keluar sumber daya, dan estimasinya dapat dilakukan secara andal.

Baca Juga: PSAK 72: Pengertian, 5 Tahapan, dan Poin Penting yang Harus Diperhatikan

Hubungan dengan Liabilitas Kontinjensi

Kontrak memberatkan berbeda dari liabilitas kontinjensi. Kontrak memberatkan menghasilkan provisi karena kewajiban kini sudah ada dan dapat diukur secara andal.

Liabilitas kontinjensi, sebaliknya, masih bergantung pada kejadian masa depan yang belum pasti atau belum memenuhi syarat pengakuan sehingga hanya diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, bukan diakui di neraca.

Cara Menentukan Biaya Tidak Terhindarkan

Salah satu langkah yang krusial bagi seorang akuntan adalah ketika menghitung kontrak ini adalah menentukan berapa nilai biaya tidak terhindarkan yang sesungguhnya terjadi.

Perusahaan wajib membandingkan secara objektif antara total pengeluaran yang dibutuhkan untuk merampungkan seluruh sisa kewajiban kontrak dengan nilai denda kompensasi yang dijatuhkan apabila perusahaan memilih untuk membatalkan perjanjian di tengah jalan.

Nilai terkecil di antara kedua skenario inilah yang secara hukum akuntansi diakui sebagai biaya tidak terhindarkan.

Biaya untuk Memenuhi Kontrak

Terdapat dua variabel utama yang memengaruhi perhitungan kontrak memberatkan.

Variabel pertama adalah biaya untuk memenuhi kontrak yang mencakup seluruh biaya yang perlu dikeluarkan untuk menyelesaikan kewajiban sesuai ketentuan kontrak, mulai dari material, tenaga kerja, hingga biaya langsung lainnya.

Baca Juga: Memahami Prinsip Pencocokan dalam Laporan Keuangan

Penalti atau Kompensasi Jika Kontrak Dibatalkan

Variabel yang kedua digunakan apabila perusahaan memilih tidak memenuhi kontrak, sehingga konsekuensinya bisa berupa penalti finansial, denda, atau kompensasi kepada pihak lawan.

Nilai ini harus dibandingkan dengan biaya memenuhi kontrak untuk menentukan biaya tidak terhindarkan yang lebih rendah, karena itulah yang menjadi dasar pengukuran provisi.

Biaya Apa Saja yang Termasuk Biaya Memenuhi Kontrak?

Berdasarkan amendemen terbaru yang diadopsi dalam PSAK 237, komponen kontrak memberatkan biaya memenuhi kontrak dibagi ke dalam dua kelompok biaya yang berhubungan langsung, yaitu biaya inkremental dan alokasi biaya langsung lainnya.

1. Biaya Inkremental

Biaya inkremental adalah biaya yang timbul secara langsung karena adanya kontrak dan tidak akan terjadi jika kontrak tidak ada.

Contohnya meliputi material langsung yang digunakan untuk memenuhi kontrak, tenaga kerja langsung, biaya pengiriman khusus, dan biaya produksi yang spesifik untuk memenuhi kontrak tersebut.

2. Alokasi Biaya Lain yang Berhubungan Langsung

Selain biaya inkremental, terdapat biaya lain yang dapat dialokasikan secara langsung ke kontrak.

Contohnya adalah penyusutan aset tetap yang digunakan untuk memenuhi kontrak, alokasi biaya fasilitas produksi yang relevan, dan biaya overhead yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan kontrak.

3. Biaya yang Tidak Seharusnya Dimasukkan

Selain kedua jenis biaya tersebut, perusahaan dilarang keras memasukkan komponen biaya yang tidak memiliki hubungan sebab akibat langsung dengan pelaksanaan kontrak yang bersangkutan.

Beberapa contoh biaya ini seperti administrasi umum, beban pemasaran umum, biaya sewa kantor pusat, atau biaya overhead lainnya.

Baca Juga: Memahami Konsep Akuntansi Sewa dalam PSAK 73

Contoh Kontrak Memberatkan dalam Bisnis

Guna memberikan pemahaman yang lebih kontekstual, mari kita bedah beberapa variasi contoh kasus yang paling sering melanda berbagai sektor industri harian di Indonesia:

1. Kontrak Supply Barang

Perusahaan menandatangani kontrak penjualan barang dengan nilai tetap sebesar Rp500.000.000.

Namun setelah kontrak disepakati, harga bahan baku melonjak tajam sehingga total estimasi biaya produksi dan pengiriman meningkat menjadi Rp620.000.000.

Kondisi ini menyebabkan kontrak berubah menjadi kontrak memberatkan karena biaya untuk memenuhi kewajiban kontrak sudah lebih besar dibandingkan manfaat ekonomi yang akan diterima perusahaan.

2. Kontrak Jasa Jangka Panjang

Perusahaan penyedia jasa pengamanan (outsourcing) menandatangani kontrak penyediaan personel keamanan selama tiga tahun dengan nilai tetap dengan sebuah kompleks perkantoran.

Pada tahun kedua, pemerintah daerah menerbitkan regulasi baru yang menaikkan standar Upah Minimum Provinsi secara signifikan.

Karena perusahaan wajib mematuhi hukum upah tenaga kerja namun tidak dapat merevisi nilai kontrak dengan pemilik gedung, maka kontrak operasional ini berubah menjadi komitmen yang merugikan karena total biaya gaji personel melampaui nilai tagihan bulanan.

3. Kontrak Proyek Konstruksi

Sebuah kontraktor infrastruktur memenangkan tender proyek pembangunan jembatan dengan sistem nilai tetap (fixed-price contract).

Saat proses penggalian tanah dilakukan, tim insinyur menemukan kondisi geologis tanah yang labil dan rawan longsor yang tidak terdeteksi saat survei awal.

Kondisi darurat ini memaksa kontraktor untuk melakukan pengecoran fondasi tambahan yang menelan biaya ratusan juta rupiah di luar anggaran awal, sehingga total estimasi biaya penyelesaian proyek membengkak melebihi nilai kontrak tender.

Baca Juga: Panduan Lengkap Akuntansi Proyek Konstruksi

4. Kontrak Sewa

Sebuah kontraktor infrastruktur memenangkan tender proyek pembangunan jembatan dengan sistem nilai tetap.

Saat proses penggalian tanah dilakukan, tim insinyur menemukan kondisi geologis tanah yang labil dan rawan longsor yang tidak terdeteksi saat survei awal.

Kondisi darurat ini memaksa kontraktor untuk melakukan pengecoran fondasi tambahan yang menelan biaya ratusan juta rupiah di luar anggaran awal, sehingga total estimasi biaya penyelesaian proyek membengkak melebihi nilai kontrak tender.

Contoh Perhitungan Kontrak Memberatkan

Setelah memahami konsep kontrak yang memberatkan melalui studi kasus dari aktivitas bisnis di lapangan, Anda juga bisa memahami gambaran matematisnya melalui simulasi perhitungan berikut.

Sebuah perusahaan manufaktur memiliki kontrak menjual barang senilai Rp 500.000.000.

Akibat kenaikan biaya bahan baku dan tenaga kerja, estimasi biaya untuk memenuhi kontrak naik menjadi Rp 620.000.000.

Jika kontrak dibatalkan, perusahaan harus membayar penalti sebesar Rp 80.000.000.

Simulasi Perbandingan Biaya

Sebelum membuat jurnal penyesuaian, akuntan biaya wajib menyusun matriks perbandingan untuk mencari nilai pengeluaran neto terendah bagi perusahaan agar dapat terbebas dari ikatan kontrak:

Komponen Analisis Nilai Finansial Konsekuensi Ekonomi 
Nilai Manfaat Ekonomik dari Kontrak Rp500.000.000 Total arus kas masuk yang akan diterima
Estimasi Biaya Memenuhi Kontrak Rp620.000.000 Total pengeluaran jika proyek diselesaikan
Proyeksi Kerugian Jika Kontrak Dipenuhi Rp120.000.000 Selisih kerugian operasional produksi
Penalti Jika Kontrak Dibatalkan Rp80.000.000 Biaya denda pemutusan hubungan kerja
Biaya Tidak Terhindarkan Terendah Rp80.000.000 Nilai dasar pembentukan provisi

Berdasarkan hasil analisis komparatif di atas, opsi keluar yang memberikan dampak kerugian terkecil bagi PT Lintang Kencana adalah memilih membayar denda penalti pembatalan sebesar Rp80.000.000, bukan memaksakan diri merampungkan proyek yang akan menelan kerugian sebesar Rp120.000.000.

Oleh karena itu, angka yang wajib diakui sebagai nilai provisi kontrak memberatkan di dalam laporan keuangan akhir periode berjalan adalah sebesar Rp80.000.000.

Baca Juga: Model Biaya vs Revaluasi Aset Tetap: Perbedaan, Kelebihan, Kekurangan, dan Kapan Digunakan

Jurnal Akuntansi Kontrak Memberatkan

langkah selanjutnya setelah angka kewajiban neto terendah berhasil ditetapkan adalah mendokumentasikannya ke dalam sistem pembukuan.

Melalui jurnal kontrak memberatkan ini adanya indikasi kerugian dapat dikonfirmasi oleh manajemen pada periode berjalan.

1. Jurnal Akuntansi Kontrak Memberatkan

Untuk membukukan pengakuan perdana atas potensi kerugian dari kasus PT Lintang Kencana di atas, akuntan akan mencatat entri jurnal penyesuaian sebagai berikut:

Akun Nilai Buku
(Debit) Beban Provisi Kontrak Memberatkan Rp80.000.000
(Kredit) Provisi Kontrak Memberatkan Rp80.000.000

Akun beban provisi akan langsung dialokasikan ke dalam laporan laba rugi tahun berjalan sebagai pos pengurang keuntungan bersih, sementara akun provisi akan bertengger di kolom liabilitas jangka pendek pada laporan posisi keuangan.

2. Jurnal Saat Kewajiban Dibayar atau Direalisasikan

Memasuki periode berikutnya, ketika perusahaan secara resmi menyerahkan uang tunai untuk melunasi denda penalti pembatalan tersebut kepada mitra bisnis, tim keuangan akan menghapus akun kewajiban tersebut melalui jurnal penutupan:

Akun Nilai Buku
(Debit) Provisi Kontrak Memberatkan Rp80.000.000
(Kredit) Kas/ Bank Rp80.000.000

3. Jurnal Jika Estimasi Provisi Berubah

Apabila di akhir kuartal berikutnya terjadi negosiasi ulang dan pihak mitra bersedia menurunkan nilai denda penalti menjadi Rp65.000.000, maka kelebihan estimasi awal sebesar Rp15.000.000 wajib dipulihkan kembali menggunakan entri jurnal koreksi:

Akun Nilai Buku
(Debit) Provisi Kontrak Memberatkan Rp15.000.000
(Kredit) Beban Provisi Kontrak Memberatkan Rp15.000.000

Baca Juga: Jurnal Amortisasi Sewa: Pengertian, Cara Membuat dan Contoh Pencatatan Akuntansi

Cara Bisnis Mengurangi Risiko Kontrak Memberatkan

Beberapa cara bisa dikelola agar terhindar dari jebakan provisi merugikan di mana salah satunya adalah mengadopsi sistem pengendalian internal yang ketat di setiap lini operasional perusahaan.

Beberapa langkah preventif yang bisa Anda lakukan, antara lain:

1. Review Kontrak Sebelum Ditandatangani

Perusahaan harus memastikan adanya klausul eskalasi harga (price escalation clause) yang memungkinkan perusahaan merevisi harga jual jika terjadi lonjakan inflasi bahan baku yang ekstrem, serta merancang nilai denda penalti pembatalan yang rasional agar tidak mengunci posisi perusahaan dalam posisi yang terlampau lemah.

2. Pantau Biaya Aktual vs Anggaran

Manajemen harus menyelenggarakan sistem pengawasan biaya proyek yang ketat dengan cara membandingkan secara berkala antara pengeluaran kas aktual dengan plafon anggaran yang telah dirancang di awal tahun.

Deteksi dini terhadap setiap tanda pembengkakan biaya overhead pabrik akan memberikan waktu yang cukup bagi manajemen untuk menegosiasi ulang dengan mitra bisnis sebelum proyek berubah status menjadi komitmen yang memberatkan.

3. Gunakan Software Akuntansi untuk Monitoring Biaya dan Kewajiban

Salah satu langkah yang paling efektif dan modern untuk diterapkan adalah mengadopsi bantuan teknologi berupa software akuntansi modern yang berbasis cloud.

Melalui implementasi otomatisasi fitur akuntansi biaya dan manajemen komitmen yang terintegrasi di dalam software akuntansi terpercaya seperti Mekari Jurnal, manajemen dapat dengan mudah melacak pergerakan biaya aktual per proyek secara real-time.

Sistem digital ini akan membantu Anda memantau kepatuhan anggaran serta mempermudah perhitungan nilai kini provisi dan penyusunan jurnal kontrak memberatkan secara cepat dan akurat.

Coba GRATIS sekarang juga!

Konsultasi dengan Mekari Jurnal Sekarang!

Kesimpulan

Kontrak memberatkan adalah kontrak ketika biaya tidak terhindarkan untuk memenuhi kewajiban kontrak melebihi manfaat ekonomik yang akan diterima.

Kunci dalam mengidentifikasi dan mengukur kontrak memberatkan terletak pada perbandingan yang tepat antara biaya memenuhi kontrak dan penalti pembatalan, serta pemastian bahwa hanya biaya yang benar-benar tidak terhindarkan dan berkaitan langsung yang dimasukkan dalam perhitungan.

Dengan pencatatan yang akurat dan peninjauan berkala atas estimasi provisi, laporan keuangan akan menyajikan posisi kewajiban perusahaan secara jujur dan dapat diandalkan.

Untuk mengetahui gambaran lengkap mengenai penyajian laporan keuangan yang komprehensif, simak artikel mengenai format laporan keuangan menurut PSAK 201.

 

 

 

Referensi:

IFRS, “Onerous Contracts—Cost of Fulfilling a Contract (Amendments to IAS 37)”.

Ikatan Akuntan Indonesia, “Amandemen PSAK 57: Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi”.

Ikatan Akuntan Indonesia, “Buletin Implementasi Volume 6”.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan kontrak memberatkan?

Apa yang dimaksud dengan kontrak memberatkan?

Kontrak memberatkan adalah kontrak yang biaya tidak terhindarkan untuk memenuhi kewajiban kontrak lebih besar dibanding manfaat ekonomi yang akan diterima perusahaan.

Apa perbedaan kontrak memberatkan dan kontrak rugi biasa?

Apa perbedaan kontrak memberatkan dan kontrak rugi biasa?

Kontrak rugi biasa belum tentu menimbulkan kewajiban provisi karena kerugiannya masih bisa dihindari atau dinegosiasikan ulang. Sedangkan kontrak memberatkan memiliki kewajiban hukum yang mengikat dan tidak dapat dibatalkan tanpa konsekuensi, sehingga kerugiannya harus diakui secara akuntansi.

Apakah semua kontrak yang merugi termasuk kontrak memberatkan?

Apakah semua kontrak yang merugi termasuk kontrak memberatkan?

Tidak. Kontrak baru dianggap memberatkan jika perusahaan tetap memiliki kewajiban hukum yang tidak bisa dihindari dan biaya penyelesaiannya lebih besar daripada manfaat ekonomi yang diterima.

Bagaimana kontrak memberatkan memengaruhi laporan keuangan perusahaan?

Bagaimana kontrak memberatkan memengaruhi laporan keuangan perusahaan?

Kontrak memberatkan menurunkan laba perusahaan melalui pengakuan beban provisi, meningkatkan liabilitas di neraca, dan wajib diungkapkan secara rinci dalam CALK sesuai PSAK 237.

Mengapa provisi kontrak memberatkan diakui sebelum pembayaran kas dilakukan?

Mengapa provisi kontrak memberatkan diakui sebelum pembayaran kas dilakukan?

Karena akuntansi akrual mewajibkan perusahaan mengakui kewajiban saat kerugian diperkirakan terjadi, bukan saat kas benar-benar dibayarkan.

Apa kesalahan paling umum saat menilai kontrak memberatkan?

Apa kesalahan paling umum saat menilai kontrak memberatkan?

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap semua kontrak rugi sebagai kontrak memberatkan, tidak membandingkan biaya pemenuhan dengan penalti pembatalan, dan tidak memperbarui estimasi provisi secara berkala.

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami