Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Mental Accounting: Pengertian dan Dampaknya

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Adelia Vita. A
Highlights
  • Mental accounting adalah kecenderungan memperlakukan uang secara berbeda berdasarkan sumber atau tujuan penggunaannya, meskipun nilainya sama.
  • Konsep ini diperkenalkan oleh ekonom peraih Nobel, Richard Thaler, pada 1985 melalui Mental Accounting Matters (1999).
  • Mental accounting bertentangan dengan prinsip fungibilitas, yaitu setiap uang memiliki nilai yang sama tanpa memandang asalnya.
  • Berbeda dengan mental accounting, SAK EMKM mewajibkan pemisahan keuangan pribadi dan usaha secara konsisten serta dapat dipertanggungjawabkan.

Pernahkah Anda merasa lebih mudah menghabiskan uang bonus daripada uang gaji, padahal nominalnya sama?

Atau mungkin Anda pernah membagi uang ke dalam beberapa pos, seperti “uang belanja”, “uang liburan”, atau “uang sekolah anak”, meskipun semuanya berasal dari rekening yang sama?

Tanpa disadari, kebiasaan tersebut merupakan contoh mental accounting, yaitu cara otak mengelompokkan uang ke dalam “kotak-kotak” tertentu berdasarkan sumber atau tujuannya.

Strategi ini memang dapat membantu mengatur keuangan agar lebih terstruktur.

Namun, jika tidak disadari, mental accounting juga bisa membuat Anda mengambil keputusan finansial yang kurang rasional.

Lalu, apa sebenarnya mental accounting? Bagaimana konsep ini dijelaskan dalam ekonomi perilaku, apa saja contohnya dalam kehidupan sehari-hari maupun bisnis, dan bagaimana cara menghindari dampak negatifnya? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Apa itu Mental Accounting?

Berdasarkan Investopedia, mental accounting adalah kecenderungan seseorang mengelompokkan uang ke dalam “akun mental” berdasarkan sumber atau tujuan penggunaannya. Misalnya, uang gaji, bonus, hadiah, atau hasil investasi diperlakukan secara berbeda meskipun nilainya sama.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Richard Thaler melalui Mental Accounting Matters (1999). Dalam ekonomi, mental accounting dianggap bertentangan dengan prinsip fungibilitas uang, yaitu anggapan bahwa setiap rupiah memiliki nilai yang sama tanpa memandang dari mana asalnya. 

Namun, dalam praktiknya banyak orang justru lebih mudah menghabiskan uang bonus untuk hal yang bersifat konsumtif, sementara uang gaji dengan nominal yang sama cenderung digunakan untuk kebutuhan utama.

Baca Juga: Akuntansi Keperilakuan: Pengertian, Ruang Lingkup, Aspek dan Contoh Penerapannya dalam Bisnis

Tiga Komponen Utama dalam Teori Mental Accounting

Dalam tulisannya pada 1999, Thaler menjabarkan tiga komponen utama yang membentuk cara kerja mental accounting, yaitu sebagai berikut:

1. Cara Mengkode Hasil Keuangan (Coding Outcomes)

Setiap keuntungan atau kerugian dinilai relatif terhadap suatu titik acuan, misalnya harga beli awal atau ekspektasi tertentu, bukan berdasarkan nilai absolutnya. Cara mengkode ini terkait erat dengan konsep loss aversion dalam teori prospek, di mana kerugian terasa jauh lebih menyakitkan dibanding kesenangan dari keuntungan yang setara nilainya.

2. Penempatan ke Akun Tertentu (Account Assignment)

Pemasukan dan pengeluaran ditempatkan ke dalam “amplop” mental yang terpisah, misalnya untuk makan, hiburan, atau dana darurat. Kategori ini menentukan seberapa besar rasa “sakit” yang dirasakan saat uang dikeluarkan dari akun tersebut.

3. Frekuensi Evaluasi (Evaluation Frequency)

Seberapa sering seseorang “menutup buku” atas keuangannya akan sangat memengaruhi kesimpulan yang diambil. Investor yang memeriksa portofolionya setiap hari cenderung lebih fokus pada fluktuasi kecil dan kerugian sesaat, dibanding investor yang mengevaluasi portofolionya setiap tahun dan melihat gambaran yang jauh lebih stabil.

Mental Accounting vs Prinsip Entitas dalam Akuntansi Formal

Menariknya, dunia akuntansi formal justru mengenal konsep pemisahan yang serupa dengan mental accounting, tetapi dengan pendekatan yang jauh lebih ketat dan konsisten, yaitu konsep entitas bisnis.

Berbeda dari mental accounting yang bersifat subjektif dan bisa berubah-ubah sesuka hati, SAK EMKM yang diterbitkan Ikatan Akuntan Indonesia secara eksplisit mendeskripsikan konsep entitas bisnis sebagai salah satu asumsi dasarnya. 

Artinya, pelaku usaha wajib memisahkan kekayaan pribadi pemilik dari kekayaan dan hasil usaha entitasnya, dan pemisahan ini harus konsisten serta dapat diverifikasi melalui pencatatan, bukan sekadar ada dalam pikiran.

Prinsip serupa juga tercermin dalam Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan yang diterbitkan IAI, yang menegaskan bahwa laporan keuangan disusun untuk entitas pelapor tertentu secara utuh, bukan berdasarkan potongan-potongan mental yang berbeda tergantung suasana hati penyusunnya.

Dalam bisnis, mental accounting juga dapat menimbulkan masalah. Misalnya, pemilik usaha menganggap uang hasil penjualan sebagai “uang lebih” yang bebas digunakan untuk kebutuhan pribadi. Padahal, uang tersebut tetap merupakan kas perusahaan yang seharusnya dipisahkan dari keuangan pribadi.

Jika kebiasaan ini terus dilakukan, batas antara keuangan bisnis dan pribadi akan menjadi kabur. Akibatnya, pencatatan transaksi menjadi tidak akurat, laporan keuangan sulit dipercaya, dan keputusan bisnis pun berisiko kurang tepat.

Baca Juga: 6 Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Meningkatkan Skill Akuntansi

Contoh Mental Accounting dalam Kehidupan Sehari-hari dan Bisnis

Salah satu contoh mental accounting yang paling terkenal berasal dari eksperimen Daniel Kahneman dan Amos Tversky yang kemudian dikutip oleh Richard Thaler dalam Mental Accounting Matters.

Bayangkan Anda membeli tiket konser seharga Rp150.000. Saat tiba di lokasi, Anda menyadari tiket tersebut hilang. Apakah Anda akan membeli tiket baru dengan harga yang sama?

Sekarang bayangkan situasi yang berbeda. Anda belum membeli tiket, tetapi uang tunai sebesar Rp150.000 di dompet hilang saat perjalanan menuju lokasi konser.

Apakah Anda tetap akan membeli tiket konser seharga Rp150.000?

Secara finansial, kedua situasi tersebut sama-sama membuat Anda kehilangan Rp150.000. Namun, banyak orang lebih enggan membeli tiket baru pada skenario pertama karena merasa sudah “menghabiskan” Rp300.000 untuk satu konser.

Sebaliknya, pada skenario kedua, uang yang hilang dianggap berasal dari “akun” yang berbeda sehingga membeli tiket tetap terasa masuk akal.

Mental accounting juga sering terjadi dalam menjalankan bisnis. Misalnya, pemilik warung makan menggunakan uang di laci kasir untuk kebutuhan pribadi karena menganggapnya sebagai “uang lebih” dari hasil penjualan.

Padahal, uang tersebut tetap merupakan kas usaha yang seharusnya dipisahkan dan dicatat dengan benar.

Dampak Mental Accounting terhadap Keputusan Keuangan dan Bisnis

Berdasarkan Siaran Pers Bersama OJK dan BPS, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 menunjukkan indeks literasi keuangan penduduk Indonesia baru mencapai 65,43%, sementara indeks inklusi keuangan sebesar 75,02%.

Selisih antara indeks inklusi dan literasi keuangan menunjukkan bahwa banyak masyarakat telah menggunakan layanan keuangan, tetapi belum tentu memahami cara mengelolanya secara rasional. 

Akibatnya, bias seperti mental accounting dapat mempengaruhi pengambilan keputusan keuangan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga perusahaan. Deloitte Insights mencatat bahwa bias kognitif dapat mempengaruhi keputusan bisnis, termasuk dalam penganggaran modal, apabila tidak didukung proses pengambilan keputusan yang sistematis.

Bagi pelaku UMKM, mental accounting dapat menyebabkan keuangan pribadi dan usaha tercampur, menyulitkan pengukuran laba yang sebenarnya, serta menghambat akses pembiayaan karena laporan keuangan tidak mencerminkan kondisi bisnis secara akurat.

Baca Juga: Cara Mencatat Transaksi Jual Beli dalam Akuntansi

Cara Meminimalkan Efek Negatif Mental Accounting

Beberapa langkah berikut dapat membantu meminimalkan dampak negatif mental accounting, baik dalam keuangan pribadi maupun usaha:

1. Lihat uang sebagai satu kesatuan

Alih-alih membagi uang ke dalam akun mental yang terpisah tanpa pencatatan, pertimbangkan seluruh sumber pemasukan dan pengeluaran secara utuh saat mengambil keputusan keuangan.

2. Terapkan konsep entitas usaha secara konsisten

Sesuai prinsip dasar SAK EMKM, pisahkan rekening dan pencatatan usaha dari keuangan pribadi sejak awal, bukan hanya berdasarkan perasaan mana yang “boleh dipakai”.

3. Gunakan pencatatan berbasis sistem, bukan sekadar amplop atau ingatan

Pencatatan yang konsisten membuat setiap transaksi terdokumentasi dengan kategori yang sama, sehingga tidak bergantung pada suasana hati saat memutuskan sesuatu adalah “uang bebas” atau “uang penting”.

4. Evaluasi keuangan secara berkala dengan periode yang konsisten

Menetapkan jadwal evaluasi rutin, misalnya bulanan, membantu menghindari kesimpulan yang bias akibat mengevaluasi keuangan hanya saat kondisi tertentu saja.

Kesalahan Umum Terkait Mental Accounting dalam Mengelola Usaha

Berikut beberapa kesalahan yang sering muncul akibat mental accounting yang tidak dikelola dengan baik dalam konteks usaha:

  • Mencampur kas usaha dengan kas pribadi tanpa pencatatan: Kesalahan ini membuat pemilik usaha kehilangan gambaran akurat tentang keuntungan maupun modal kerja yang sebenarnya tersisa.
  • Menganggap uang dari sumber tertentu sebagai “bonus” yang boleh dihabiskan bebas: Misalnya menganggap hasil penjualan di hari ramai sebagai kelebihan yang tidak perlu dicatat rinci, padahal tetap merupakan bagian dari pendapatan usaha.
  • Tidak konsisten dalam mengkategorikan transaksi yang serupa: Ketidakkonsistenan ini membuat laporan keuangan sulit dibandingkan antara periode dan menyulitkan analisis performa usaha.
  • Mengandalkan ingatan dari pada sistem pencatatan yang terverifikasi: Cara ini rentan terhadap kesalahan pencatatan maupun kehilangan bukti transaksi yang dibutuhkan saat pelaporan.

Baca Juga: Tutorial Cara Pemakaian Software Akuntansi Buat Pemula

Kelola Keuangan Bisnis dengan Lebih Konsisten Bersama Mekari Jurnal

Mental accounting mungkin membantu dalam mengatur keuangan pribadi, tetapi dalam bisnis setiap transaksi perlu dicatat secara konsisten, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pencatatan yang terstruktur membantu Anda memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, sekaligus menghasilkan informasi keuangan yang lebih akurat untuk pengambilan keputusan.

Mekari Jurnal sebagai software akuntansi membantu mencatat setiap transaksi secara otomatis dan menyusun laporan keuangan secara real-time, sehingga Anda dapat mengelola keuangan bisnis dengan lebih rapi dan minim kesalahan.

Melalui fitur Laporan Keuangan Bisnis, Anda dapat:

  • Mencatat transaksi secara konsisten: Seluruh transaksi tercatat berdasarkan kategori yang sesuai sehingga mengurangi risiko pencatatan yang dipengaruhi asumsi subjektif.
  • Menyusun laporan keuangan secara otomatis: Hasilkan laporan laba rugi, laporan posisi keuangan, laporan arus kas, dan jurnal umum berdasarkan transaksi yang telah dicatat.
  • Mengakses lebih dari 80 laporan siap pakai: Pantau laporan keuangan, manajemen, dan operasional tanpa perlu menyusunnya secara manual.
  • Memantau kondisi keuangan secara real-time: Seluruh laporan diperbarui secara otomatis sehingga Anda dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang akurat.
  • Menghasilkan laporan yang siap diaudit: Seluruh transaksi terdokumentasi dengan baik dan tersusun sesuai standar akuntansi.

Kelola keuangan bisnis dengan lebih konsisten, praktis, dan akurat!

Coba Gratis Sekarang!

Referensi

Investopedia, “Mental Accounting: Definition, Avoiding Bias, and Example.”

Thaler, Richard H. (1999). “Mental Accounting Matters.” Journal of Behavioral Decision Making, 12, 183-206.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), “Tentang SAK EMKM.”

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), “Pengesahan Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan Tahun 2019.”

Otoritas Jasa Keuangan (OJK), “Siaran Pers Bersama Hasil SNLIK Tahun 2024.”

Deloitte Insights, “Reducing Human Error in Capital Decision-Making.”

FAQ

Apa perbedaan mental accounting dengan budgeting biasa?

Apa perbedaan mental accounting dengan budgeting biasa?

Budgeting yang sehat membagi anggaran berdasarkan rencana yang konsisten dan tetap mempertimbangkan gambaran keuangan secara keseluruhan. Mental accounting berbeda karena pembagiannya bersifat subjektif dan dapat berubah tergantung dari mana uang berasal, sehingga berpotensi membuat keputusan keuangan menjadi kurang rasional.

Apakah mental accounting selalu berdampak buruk?

Apakah mental accounting selalu berdampak buruk?

Tidak selalu. Dalam batas tertentu, mental accounting dapat membantu seseorang mengendalikan pengeluaran melalui semacam aturan pembatasan diri. Dampak negatif biasanya muncul ketika seseorang terlalu bergantung pada pelabelan subjektif ini tanpa melihat kondisi keuangan secara utuh.

Siapa yang pertama kali memperkenalkan konsep mental accounting?

Siapa yang pertama kali memperkenalkan konsep mental accounting?

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Richard Thaler melalui tulisannya pada 1985 di jurnal Marketing Science, kemudian disempurnakan melalui “Mental Accounting Matters” pada 1999. Thaler meraih Nobel Memorial Prize in Economic Sciences pada 2017.

Bagaimana mental accounting bisa mempengaruhi pembukuan usaha kecil?

Bagaimana mental accounting bisa mempengaruhi pembukuan usaha kecil?

 Mental accounting dapat membuat pemilik usaha mencampur kas usaha dengan kas pribadi tanpa pencatatan yang konsisten, sehingga keuntungan dan modal kerja usaha yang sebenarnya menjadi sulit diketahui secara akurat.

Apa hubungan mental accounting dengan konsep entitas bisnis dalam akuntansi?

Apa hubungan mental accounting dengan konsep entitas bisnis dalam akuntansi?

Keduanya sama-sama melibatkan pemisahan uang, tetapi konsep entitas bisnis dalam SAK EMKM mewajibkan pemisahan yang konsisten dan dapat diverifikasi melalui pencatatan, berbeda dari mental accounting yang sifatnya subjektif dan bisa berubah sesuka hati.

Bagaimana cara sederhana menghindari efek negatif mental accounting?

Bagaimana cara sederhana menghindari efek negatif mental accounting?

Mulailah dengan melihat seluruh sumber pemasukan dan pengeluaran sebagai satu kesatuan, gunakan pencatatan berbasis sistem yang konsisten, dan evaluasi keuangan secara berkala dengan periode yang tetap, bukan hanya saat merasa perlu.

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami