Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Jurnal Persediaan Barang Jadi: Pengertian, Cara Buat dan Contoh Jurnal Lengkap

Tayang
Di tulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Salah satu fondasi mendasar dalam operasional perusahaan manufaktur dan dagang adalah pengelolaan persediaan barang jadi atau finished goods inventory.

Pencatatan jurnal persediaan barang jadi menjadi aspek penting dalam mengelola nilai dan kuantitas yang berpengaruh langsung terhadap neraca, perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), dan laporan laba rugi.

Jurnal persediaan barang jadi yang tepat dapat menjaga nilai persediaan dengan akurat ketika barang berpindah status dari produksi ke siap jual, sehingga laporan keuangan dapat mencerminkan posisi finansial nyata.

Tanpa adanya pengelolaan sistem pencatatan yang disiplin, bisnis dapat berisiko tinggi dalam terjadinya penyimpangan antara catatan dan stok fisik.

Untuk memahami bagaimana cara mencatat jurnal persediaan barang jadi yang akurat, simak lebih lanjut dalam artikel Mekari Jurnal berikut ini!

Apa Itu Persediaan Barang Jadi dan Jurnalnya?

Persediaan barang jadi masuk ke dalam klasifikasi aset lancar di mana produk sudah sepenuhnya selesai diproduksi namun belum berpindah tangan ke pembeli.

Untuk klasifikasinya sendiri, dengan mengacu pada perusahaan manufaktur, terdiri dari tiga jenis utama, yaitu bahan baku (raw material), persediaan barang setengah jadi (work in process inventory), dan persediaan barang jadi (finished goods).

Pencatatan jurnal persediaan berfungsi untuk menjaga nilai biaya ketika memindahkannya dari akun produksi (dalam hal ini work in process) ke akun finished goods inventory.

Adanya entri mengakui bahwa biaya pemrosesan telah selesai dan nilai persediaan menjadi aset siap jual. Selanjutnya, ketika barang terjual, nilai akan berpindah ke HPP dan pada saat yang sama diakui pendapatan dari penjualan.

Konsep Pencatatan Berdasarkan PSAK 14

Konteks perlakuan akuntansi persediaan secara keseluruhan, mulai dari pengukuran, penilaian, dan penyajian,  telah diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14,

Persediaan barang jadi harus diukur berdasarkan niai terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto.

Biaya perolehan mencakup seluruh biaya pembelian, biaya konversi (tenaga kerja dan overhead), serta biaya-biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.

Sementara itu, nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk melakukan penjualan.

Perbedaan model entitas bisnis dalam mencatat jurnal juga mempengaruhi klasifikasi pencatatan jurnal. Jika mengacu pada perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur, maka perbedaannya akan terlihat sebagai berikut:

Karakteristik Perusahaan Dagang Perusahaan Manufaktur
Jenis Persediaan Persediaan Barang Dagang (Hanya satu kategori barang jadi) Persediaan Bahan Baku, Barang Dalam Proses (WIP), dan Barang Jadi
Sumber Persediaan Pembelian langsung dari pemasok/distributor Melalui proses konversi internal dari bahan baku
Komponen Biaya Harga beli plus biaya angkut masuk Biaya bahan baku + Tenaga kerja + Overhead pabrik

Fungsi Jurnal Persediaan Barang Jadi

Fungsi utama dari pencatatan jurnal persediaan barang jadi adalah sebagai pengawas internal dalam melindungi kekayaan perusahaan dan menyediakan data real-time bagi manajemen.

Jika ingin dijelaskan secara lebih rinci, maka beberapa fungsi lainnya, mencakup:

1. Akurasi Penentuan Harga Pokok Penjualan (HPP)

Harga Pokok Penjualan adalah beban terbesar dalam laporan laba-rugi, sehingga adanya pencatatan ini memudahkan pelacakan biaya biaya yang presisi dari setiap unit.

Hal ini mencegah terjadinya kesalahan dalam menetapkan margin keuntungan, sehingga strategi penetapan harga berjalan efektif dan menguntungkan.

2. Pengendalian Stok dan Mitigasi Risiko

Sistem jurnal ini juga membantu perusahaan dalam mengidentifikasi anomali seperti kehilangan barang, kerusakan,  atau penimbunan stok berlebih (dead stock).

Selanjutnya, stock opname dilakukan dengan membuat jurnal penyesuaian untuk mencocokkan catatan akuntansi dengan kondisi fisik di gudang untuk mendapatkan data yang sebenarnya.

Baca Juga: Contoh Laporan Stock Opname Barang Excel, Download Di Sini!

3. Pendukung Pengambilan Keputusan Strategis

Manajemen akan memanfaatkan data persediaan yang tercatat sebagai landasan keputusan produksi dan penyimpanan barang untuk mengoptimalkan arus kas perusahaan.

Komponen Akun yang Terlibat dalam Jurnal Persediaan Barang Jadi

Akun-akun utama yang muncul dalam membuat jurnal persediaan barang jadi, mencakup:

  1. Akun Barang dalam Proses (work in process/ WIP): mencakup seluruh biaya yang sedang berjalan dalam lini produksi. Ketika produksi selesai, akunnakan dikredit untuk memindahkan saldo ke persediaan barang jadi
  2. Cost of Goods Manufactured (COGM): merupakan harga pokok produksi yang mencakup total biaya yang dipindahkan ke akun persediaan barang jadi ketika masa produksi selesai
  3. Akun Persediaan Barang Jadi: akun aset lancar yang didebit ketika produk selesai diproduksi dan dikredit saat produk dijual, rusak, atau dikeluarkan
  4. Akun Biaya Overhead Pabrik (BOP): jurnal harus mencatat selisih antara BOP aktual dan BOP yang diterapkan untuk memastikan perhitungan biaya produk yang akurat
  5. Akun Pendapatan Penjualan: merupakan nilai yang muncul  saat penjualan terjadi, di mana pendapatan kemudian diakui sesuai ketentuan akuntansi

COGM menjadi dasar nominal yang dicatat pada saat pemindahan jurnal dari akun WIP ke akun Persediaan Barang Jadi. Untuk menentukan nilainya, dapat menggunakan rumus berikut:

COGM = Persediaan  WIP Awal + (Biaya Bahan + Tenaga Kerja + BOP)

Baca Juga: Contoh Cara Menghitung Biaya Overhead Pabrik (BOP)

Cara Membuat Jurnal Persediaan Barang Jadi

Langkah-langkah dalam membuat jurnal persediaan barang jadi dilakukan secara sistematis mengikuti standar operasional yang dimulai dari:

1. Verifikasi Dokumen Produksi

Setiap entri jurnal yang dilakukan harus didasarkan pada sumber dokumen yang valid. Identifikasi setiap tanggal barang selesai  berdasarkan laporan penyelesaian produksi dari lantai produksi.

Catatan ini juga dikenal dengan finished goods note yang mencantumkan detail produk, kuantitas unit, dan referensi nomor perintah kerja (work order)

2. Akumulasi Biaya Produksi

Selanjutnya, Anda bisa menghitung total keseluruhan biaya per unit ketika selesai.

Jika Anda sudah memanfaatkan sistem akuntansi modern, biasanya langkah ini sudah terotomatisasi melalui fitur Bill of Materials yang sudah menetapkan standar biaya per unit.

Jika menggunakan metode manual, Anda bisa mendapatkan hasilnya dengan menjumlahkan biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan alokasi overhead yang relevan.

3. Melakukan Entri Jurnal Pemindahan

Tahap ini adalah di mana Anda bisa mencatatkan transaksi ke buku jurnal umum.

Tentukan akun yang dibebankan dan dikreditkan, biasanya sebagai berikut:

  • Debit: Persediaan Barang Jadi (menambah aset)
  • Kredit: Work in Process (WIP) atau akun lain yang merepresentasikan biaya produksi (mengurangi saldo produksi)

4. Pemutakhiran Kartu Persediaan

Setelah jurnal berhasil dibuat, selanjutnya saldo pada buku besar pembantu persediaan atau kartu stok harus diperbarui.

Ini penting karena informasi terkait batch, nomor seri, dan lokasi gudang akan digunakan di masa depan ketika perusahaan ingin menangani produk dengan masa kadaluwarsa.

5. Verifikasi dan Rekonsiliasi

Langkah terakhir dilakukan untuk memastikan total nilai debit dan kredit dalam jurnal seimbang.

Selain itu, Anda juga bisa membandingkan total nilai persediaan di buku besar dengan total nilai di kartu stok barang untuk memastikan konsistensi data

Contoh Jurnal Persediaan Barang Jadi

Agar Anda dapat lebih mudah memahami setiap contoh persediaan barang jadi, simak berbagai skenario transaksi persediaan barang dalam operasional bisnis berikut ini.

1. Jurnal Penyelesaian Barang Produksi

Merupakan contoh sederhana pemindahan barang dari WIP  menjadi barang jadi pada akhir periode:

Tanggal Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
31/12/2025 Persediaan Barang Jadi 50.000.000
Work in Process 50.000.000

2.  Jurnal Penjualan Barang Jadi

Saat penjualan terjadi, perusahaan mencatat dua hal: pendapatan dari harga jual dan pengurangan stok berdasarkan harga pokok.

Misal, penjualan 1.000 unit seharga Rp80.000.000 dengan HPP Rp50.000.000 secara kredit.

Contoh entri jurnal akan menjadi berikut:

Tanggal Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
05/01/2026 Piutang Usaha/ Kas 80.000.000
Pendapatan Penjualan 80.000.000
05/01/2026 Harga Pokok Penjualan (HPP) 50.000.000
Persediaan Barang Jadi 50.000.000

3. Jurnal Retur Penjualan

Jika pelanggan mengembalikan barang senilai Rp4.000.000 (Harga Jual) dengan HPP Rp2.500.000 karena alasan non-teknis (misal: salah kirim).

Maka, entri jurnal yang terbentuk sebagai berikut:

Tanggal Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
10/01/2026 Retur Penjualan 4.000.000
Piutang Usaha 4.000.000
10/01/2026 Persediaan Barang Jadi 2.500.000
Harga Pokok Penjualan (HPP) 2.500.000

4. Jurnal Penyesuaian Selisih Stok

Jika saat pemeriksaan fisik  di akhir periode atau stock opname ditemukan bahwa stok di gudang lebih rendah Rp500.000 dibandingkan catatan buku besar (selisih kurang).

Anda bisa membuat contoh jurnal penyesuaian seperti berikut:

Tanggal Akun Debit (Rp) Kredit (Rp)
31/01/2026 Beban Selisih Stok/ HPP 500.000
Persediaan Barang Jadi 500.000

Baca Juga: Contoh dan Cara Membuat Jurnal Penyesuaian Perusahaan Dagang

Tips Akuntansi Persediaan Barang Jadi

Agar pencatatan jurnal  persediaan barang jadi berjalan baik dan akurat, Anda bisa menerapkan tips praktis berikut ini:

  • Lakukan stock opname periodik untuk mencocokkan stok fisik dan catatan buku
  • Gunakan kode barang dan nomor batch (batch/ lot number) untuk melacak pergerakan dan tanggal kadaluarsa jika relevan
  • Terapkan metode penilaian persediaan yang konsisten (FIFO atau rata-rata tertimbang) dan dokumentasikan kebijakan tersebut
  • Pisahkan akun WIP dan Finished Goods secara jelas di buku besar untuk memudahkan analisis margin per produk

Lalu, salah satu tips yang paling efektif adalah memanfaatkan software akuntansi/ ERP bila volume transaksi dan varian barang tinggi.

Mekari Jurnal bisa menjadi solusi software akuntansi yang menyediakan pencatatan persediaan yang terintegrasi dengan pembuatan jurnal otomatis, buku besar, dan laporan keuangan real-time.

Hal ini menjawab tantanganakan kebutuhan dalam meningkatkan akurasi, kecepatan, dan relevansi informasi untuk pengambilan keputusan.

Dengan mengadopsi software akuntansi seperti Mekari Jurnal, Anda meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan daripada metode  manual, yang bisa dilihat perbedaannya dalam tabel berikut:

Indikator Efisiensi Sistem Manual Sistem Otomatis (Mekari Jurnal) Peningkatan
Akurasi Data Stok 68% – 75% 98% – 99.5% +30%
Waktu Penutupan Buku Akhir Bulan 12 – 15 Hari 2 – 3 Hari 5x Lebih Cepat
Biaya Tenaga Kerja Tinggi (Repetitif) Lebih Rendah (Optimal) -20% Biaya
Peningkatan Rasio ROA 3.6% 6.8% +88% Profitabilitas
Lead Time Produksi Statis Berkurang Drastis Peningkatan Throughput

Kesimpulan

Pengelolaan jurnal persediaan barang jadi menjadi mekanisme yang dapat meningkatkan efisiensi operasional pabrik sekaligus keandalan laporan keuangan.

Pencatatan jurnal membutuhkan perpindahan biaya yang akurat dan presisi agar perusahaan terhindar dari masalah kalkulasi dan perpajakan yang berat.

Dengan adopsi teknologi digital, seperti Mekari Jurnal, bisa menjadi solusi efektif yang mampu mentransformasikan pengelolaan yang modern, sehingga bisnis terhindar dari berbagai risiko bisnis.

Coba gratis sekarang juga dan rasakan manfaatnya!

Konsultasi Gratis dengan Tim Mekari Jurnal Sekarang!

 

 

 

Referensi:

Lumen Learning, “Journal Entries For the Flow of Production Costs”.

Scribd, “Persediaan Rusak dan PSAK 14 Akuntansi”.

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami