Antisipasi Gelombang Kedua COVID-19 bagi Pengusaha

Beberapa negara saat ini termasuk Indonesia telah memberlakukan New Normal. Meski begitu, ancaman gelombang kedua COVID-19 tetap menjadi bayang-bayang bagi setiap negara yang terdampak pandemi. Dampaknya bukan hanya pada masyarakat namun para pengusaha.

Menurut WHO, gelombang kedua Virus Corona bisa saja terjadi mengingat beberapa negara tidak disiplin dalam menerapkan pembatasan sosial atau lockdown.

Lantas, bagaimana gelombang kedua COVID-19 menjadi bayang-bayang buruk bagi para pengusaha?

Sejatinya baik gelombang pertama maupun kedua COVID-19 cara penanganannya sama: mempersiapkan strategi alternatif, fokus pada risiko kesehatan, dan juga antisipasi anomali ekonomi.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika gelombak kedua Virus Corona menjadi ancaman yaitu:

  • Aturan lockdown atau pembatasan sosial akan lebih diabaikan oleh masyarakat.
  • Ketakutan masyarakat terhadap ancaman virus yang mungkin lebih besar.
  • Sentimen global akan turun lebih cepat. 
  • Kemungkinan lay off yang lebih besar.
  • Kemungkinan terburuk; jumlah kasus yang lebih besar.

Data-data tersebut diramalkan berdasarkan apa yang terjadi pada gelombang kedua flu spanyol. Namun begitu, poin-poin di atas bukan berarti menambah ketakutan dan menjadi insecure dengan situasi yang akan terjadi.

Justru hal ini harus menjadi pemicu para pengusaha untuk lebih aware dan terus menerapkan crisis plan hingga penghujung akhir tahun. 

Lantas, apa saja yang bisa dilakukan pebisnis atau pengusaha untuk menghadapi atau mengantisipasi adanya gelombang kedua COVID-19?

Tetap pada Jalur Rencana Manajemen Krisis Hingga Akhir Tahun

Selama pandemi COVID-19, perusahaan telah melakukan manajemen risiko misalnya mengubah strategi bisnis, mengubah pengelolaan sumber daya hingga merubah produk.

Namun begitu, strategi manajemen krisis pasca gelombang pertama, bukan berarti ditanggalkan begitu saja. Para pelaku usaha harus tetap menerapkannya hingga akhir tahun bahkan hingga situasinya benar-benar kondusif seperti semula.

Hal ini bahkan dilakukan oleh perusahaan sekelas Google dan Twitter dimana kedua raksasa teknologi tersebut memberlakukan strategi perencanaan krisis hingga akhir tahun.

Namun sayangnya, menurut studi yang dilakukan Gartner, 42% Chief Finance Officer tidak mempersiapkan atau merencanakan strategi untuk antisipasi gelombang kedua COVID-19.

Sebaiknya, Anda terus mempersiapkan strategi manajemen krisis sekurang-kurangnya hingga akhir tahun.

Tips dari kami adalah tetap pada strategi manajemen krisis namun memperhatikan goals-goals yang bisa dicapai apabila dilakukan secara normal.

Baca juga: Kenali Manajemen Krisis Perusahaan di Tengah Wabah

Lebih Peka Terhadap Konsumen

Sama seperti strategi saat pandemi terjadi, strategi antisipasi krisis lanjutan tetap harus berada pada jalan yang sama: fokus pada konsumen.

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan retensi konsumen yang sudah ada. Tentu ini menjadi penting mengingat akan sulit mencari atau menambah konsumen baru di tengah krisis apalagi jika terjadi second wave of pandemic.

Anda bisa memulai pendekatan misalnya menjaga loyalitas dengan memberikan pra dan purna jual yang baik.  

Menyisipkan indikasi kebutuhan konsumen pada produk yang dijual, misalnya: “beli produk A dapat vitamin C” atau bahkan “jaminan uang kembali” untuk produk-produk jasa.

Sikap asertif dengan memperhatikan nilai proposisi konsumen adalah kunci untuk mempertahankan konsumen

Antisipasi Melalui Manajemen Cash Flow

Arus kas atau cash flow menjadi sangat penting. Oleh karena itu, Anda harus lebih memperhatikan arus kas yang terjadi selama periode pandemi dan recovery untuk mengantisipasi terjadinya gelombang kedua.

Seperti yang Anda tahu, arus kas atau cash flow berfungsi untuk memprediksi jumlah dan ketidakpastian yang mungkin terjadi di masa depan. Oleh karena itu, pengelolaan arus kas harus lebih diperhatikan sebagai langkah preventif jika nantinya terjadi gelombang kedua COVID-19.

Bagaimana arus kas mempengaruhi bisnis? Simak lengkap melalui eBook Cara Mudah Kembangkan Bisnis Lewat Pengelolaan Arus Kas yang dapat Anda unduh gratis!

Kurangi Stock Keeping Unit (SKU)

Stock Keeping Unit (SKU) bisa dikatakan sebagai diferensiasi produk. Di dalam manajemen persediaan, SKU dapat diidentifikasikan dengan nomor seri, warna, atau tipe produk. Kenapa harus kurangi SKU?

Hal ini untuk menghemat biaya produksi dan mengefektifkan manajemen persediaan. Menyederhanakan SKU juga berfungsi agar Anda sebagai pengusaha bisa memantau produk yang keluar-masuk dengan mudah.

Dengan mengurangi SKU, perusahaan juga bisa mengurangi risiko adanya pemborosan bahan baku dan sebagai langkah trade off untuk menyiasati penjualan atas persediaan.

Oleh karena itu, buatlah satu unit produk yang benar-benar mendapatkan nilai lebih dan paling dicari oleh konsumen.

Digitalisasi Manajemen Persediaan

McKinsey dalam laporannya COVID-19: Materiel Briefs menyebut bahwa perusahaan atau pebisnis saat krisis wajib melakukan digitalisasi end-to-end.

Itu artinya mulai dari kelola keuangan hingga manajemen persediaan harus dilakukan secara otomatis atau digital. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan software ERP atau akuntansi yang biasanya tersemat juga fitur manajemen persediaan.

Jurnal sebagai software akuntansi bisa Anda andalkan sebagai solusi antisipasi gelombang kedua COVID-19 terutama dalam tata kelola keuangan dan juga persediaan.

Cari tahu tentang Jurnal selengkapnya di sini dan dapatkan free trial di sini!

 

UKM tahan krisis saat Corona dengan Jurnal

 


PUBLISHED22 Jun 2020
Hafidh
Hafidh


Kategori : Bisnis