Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Metode Persediaan Stok Barang FIFO, LIFO, dan Average

Diperbarui

Persediaan merupakan salah satu aset penting dalam bisnis, terutama bagi perusahaan dagang, manufaktur, maupun ritel. Pengelolaan persediaan yang baik tidak hanya membantu memastikan ketersediaan barang untuk memenuhi permintaan pelanggan, tetapi juga memengaruhi laporan keuangan dan profitabilitas perusahaan.

Dalam praktik akuntansi persediaan, terdapat beberapa metode yang digunakan untuk menentukan nilai persediaan dan harga pokok penjualan (HPP). Dua metode yang paling dikenal adalah FIFO (First In, First Out) dan LIFO (Last In, First Out).

Meskipun sama-sama digunakan untuk menghitung nilai persediaan, kedua metode ini memiliki prinsip kerja yang berbeda sehingga dapat menghasilkan nilai persediaan akhir, HPP, dan laba perusahaan yang berbeda pula. Oleh karena itu, penting bagi pelaku bisnis maupun profesional keuangan untuk memahami karakteristik masing-masing metode sebelum memilih yang paling sesuai untuk kebutuhan bisnis.

Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian FIFO dan LIFO, kelebihan serta kekurangannya, hingga perbedaan utama yang perlu diketahui.

Apa Itu Metode FIFO?

FIFO (First In, First Out) adalah metode penilaian persediaan yang mengasumsikan bahwa barang yang pertama kali masuk ke gudang akan menjadi barang yang pertama kali dijual atau digunakan.

Dengan kata lain, persediaan yang masih tersisa di akhir periode merupakan barang yang paling baru dibeli atau diproduksi untuk menentukan harga pokok penjualan.

Misalnya, Anda menjalankan bisnis penjualan roti, maka roti yang terlebih dahulu dijual yaitu roti yang pertama kali masuk ke toko Anda.

Perhitungan biaya dari roti yang terjual pertama itulah yang dijadikan sebagai biaya pokok penjualan.

Metode persediaan barang FIFO ini didasarkan pada asumsi bahwa aliran cost masuk persediaan harus dipertemukan dengan hasil penjualannya.

Sebagai akibatnya, biaya per unit persediaan yang masuk terakhir dipakai sebagai dasar penentuan biaya barang yang masih dalam persediaan pada akhir periode (persediaan akhir).

Metode ini banyak digunakan oleh perusahaan yang menjual produk dengan masa simpan terbatas, seperti makanan, minuman, obat-obatan, atau produk yang mudah mengalami perubahan kualitas seiring waktu.

Hal tersebut tentu saja karena ada kelebihan dan kekurangan yang dipertimbangkan, berikut adalah kelebihan dan kekurangan metode persediaan barang  FIFO:

Baca Juga: Pengakuan Nilai HPP dan Persediaan Akhir Menurut Metode Akuntansi

Cara Menghitung dengan Metode FIFO

Misalnya, sebuah toko membeli produk sebagai berikut:

Tanggal Jumlah Harga per Unit
1 Januari 100 unit Rp10.000
10 Januari 100 unit Rp12.000

Kemudian pada 20 Januari, toko menjual 150 unit.

Menurut metode FIFO:

100 unit pertama berasal dari stok pembelian 1 Januari.
50 unit berikutnya berasal dari stok pembelian 10 Januari.

Maka HPP yang digunakan adalah:

= (100 × Rp10.000) + (50 × Rp12.000)

= Rp1.600.000

Sisa persediaan akhir:

= 50 unit × Rp12.000

= Rp600.000

Kelebihan dan Kekurangan Metode FIFO

Setiap metode penilaian persediaan memiliki keunggulan dan keterbatasannya masing-masing. Pada metode FIFO, manfaat utama terletak pada kemampuannya mencerminkan nilai persediaan yang lebih mendekati harga pasar saat ini dan sesuai dengan alur perputaran barang di banyak jenis bisnis.

Namun, metode ini juga memiliki beberapa kelemahan, terutama ketika terjadi inflasi yang dapat memengaruhi laba perusahaan dan besarnya beban pajak. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan metode FIFO yang perlu dipahami.

Kelebihan

Kelebihan FIFO Penjelasan
Nilai persediaan lebih mendekati harga pasar Persediaan akhir terdiri dari barang yang baru dibeli sehingga nilainya lebih mencerminkan harga pasar saat ini.
Cocok untuk barang yang mudah rusak Barang yang lebih lama masuk akan dijual lebih dahulu sehingga mengurangi risiko kedaluwarsa atau penurunan kualitas.
Mudah dipahami dan diterapkan Prinsip FIFO sederhana sehingga banyak digunakan oleh berbagai jenis bisnis dan relatif mudah diterapkan dalam pencatatan persediaan.
Sesuai dengan alur fisik barang Pada sebagian besar bisnis, barang yang datang lebih dahulu memang dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga metode ini sesuai dengan kondisi operasional.

Kekurangan

Kekurangan FIFO Penjelasan
Beban pajak dapat lebih tinggi saat inflasi Ketika harga barang naik, FIFO menghasilkan HPP yang lebih rendah sehingga laba terlihat lebih besar dan pajak yang harus dibayar juga cenderung meningkat.
HPP tidak selalu mencerminkan biaya terkini Harga pokok penjualan menggunakan harga pembelian yang lebih lama sehingga biaya yang dicatat mungkin tidak sesuai dengan harga penggantian barang saat ini.

infografis metode persediaan fifo, lifo, dan average

 

Apa Itu Metode LIFO?

LIFO artinya adalah yang masuk terakhir keluar pertama. Metode ini mengasumsikan unit persediaan yang dibeli pertama akan dikeluarkan di akhir.

Artinya, unit yang dijual pertama adalah unit persediaan yang terakhir masuk ke gudang. Jadi biasanya persediaan akhir barang dagangan akan dinilai dengan nilai perolehan persediaan yang pertama atau awal masuk.

Metode biaya persediaan LIFO ini adalah didasarkan pada asumsi bahwa aliran keluar biaya persediaan adalah kebalikan dari kronologi terjadinya biaya.

Pada metode ini, harga beli terakhir dibebankan ke operasi dalam periode kenaikan harga (inflasi), sehingga laba yang dihasilkan akan kecil dan pajak yang terutang juga menjadi lebih kecil.

Namun, berdasarkan PSAK 14 metode LIFO tidak boleh digunakan lagi. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan metode LIFO.

Cara Menghitung dengan Metode LIFO

Menggunakan contoh yang sama:

Tanggal Jumlah Harga per Unit
1 Januari 100 unit Rp10.000
10 Januari 100 unit Rp12.000

Kemudian dijual 150 unit.

Menurut metode LIFO:

100 unit pertama berasal dari pembelian 10 Januari.
50 unit berikutnya berasal dari pembelian 1 Januari.

Maka HPP:

= (100 × Rp12.000) + (50 × Rp10.000)

= Rp1.700.000

Sisa persediaan akhir:

= 50 unit × Rp10.000

= Rp500.000

Dari contoh tersebut terlihat bahwa HPP metode LIFO lebih tinggi dibanding FIFO.

Kelebihan dan Kekurangan Metode LIFO

Sama seperti FIFO, metode LIFO juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan sebelum diterapkan. Dalam kondisi harga barang yang terus meningkat, LIFO dapat memberikan keuntungan dari sisi pencatatan biaya dan efisiensi pajak.

Namun, metode ini juga memiliki keterbatasan, seperti nilai persediaan yang kurang mencerminkan kondisi pasar saat ini serta tidak diperbolehkan dalam standar pelaporan keuangan berbasis IFRS. Berikut adalah ringkasan kelebihan dan kekurangan metode LIFO.

Kelebihan

Kelebihan LIFO Penjelasan
HPP lebih mencerminkan harga terkini Barang yang terakhir dibeli dianggap dijual lebih dahulu, sehingga harga pokok penjualan (HPP) menggunakan biaya yang lebih mendekati harga pasar saat ini.
Dapat menurunkan laba saat inflasi Ketika harga barang meningkat, HPP menjadi lebih tinggi sehingga laba bersih cenderung lebih rendah. Kondisi ini dapat mengurangi beban pajak perusahaan.
Membantu mencocokkan pendapatan dan biaya Ketika harga barang meningkat, HPP menjadi lebih tinggi sehingga laba bersih cenderung lebih rendah. Kondisi ini dapat mengurangi beban pajak perusahaan.

Kekurangan

Kekurangan LIFO Penjelasan
Nilai persediaan akhir kurang mencerminkan harga pasar Persediaan yang masih tersisa berasal dari pembelian lama sehingga nilainya bisa lebih rendah dibandingkan harga pasar saat ini.
Tidak sesuai dengan alur fisik sebagian besar bisnis Dalam praktik operasional, sebagian besar perusahaan menjual barang yang lebih lama terlebih dahulu, bukan barang yang baru masuk.
Tidak diperbolehkan dalam IFRS Metode LIFO tidak diizinkan dalam International Financial Reporting Standards (IFRS) maupun PSAK berbasis IFRS karena dianggap tidak mencerminkan nilai persediaan secara wajar.

Apa Itu Metode Average (Rata-Rata Tertimbang)

Metode average biasa disebut metode rata-rata tertimbang. Metode average membagi antara biaya barang persediaan untuk dijual dengan jumlah unit yang tersedia.

Sehingga persediaan akhir dan beban pokok penjualan dapat dihitung dengan harga rata-rata. Metode average adalah titik tengah atau perpaduan dari metode FIFO dan LIFO.

Jadi kelebihan dan kekurangan metode ini berada diantara metode LIFO dan FIFO.

Dalam penerapan metode Average berarti perusahaan akan menggunakan persediaan barang yang ada di gudang untuk dijual tanpa memperhatikan barang mana yang masuk lebih awal atau akhir.

Cara Menghitung dengan Metode Average

Agar lebih mudah memahami cara kerja metode average, perhatikan tabel berikut.

Sebuah toko memiliki transaksi pembelian persediaan sebagai berikut:

Tanggal Jumlah Barang Harga per Unit Total Nilai
1 Januari 100 unit Rp10.000
10 Januari 100 unit Rp12.000
Total 200 unit Rp2.200.000

Langkah pertama adalah menghitung harga pokok rata-rata per unit menggunakan rumus berikut:

Harga Rata-rata = Total Nilai Persediaan ÷ Total Unit Persediaan

Sehingga:

Rp2.200.000 ÷ 200 unit = Rp11.000 per unit

Misalkan pada tanggal 20 Januari perusahaan menjual 150 unit barang.

Maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

  • Harga Pokok Penjualan (HPP) = 150 × Rp11.000 = Rp1.650.000
  • Persediaan Akhir = 50 × Rp11.000 = Rp550.000

Dengan metode average, seluruh barang dinilai menggunakan harga rata-rata sebesar Rp11.000 per unit, tanpa membedakan apakah barang tersebut berasal dari pembelian pertama atau pembelian terakhir.

Melalui contoh tersebut dapat dilihat bahwa metode average menghasilkan nilai persediaan dan HPP yang berada di antara metode FIFO dan LIFO.

Oleh karena itu, metode ini sering dipilih oleh perusahaan yang menginginkan penilaian persediaan yang lebih stabil, terutama ketika harga pembelian barang sering mengalami perubahan.

Dengan menggunakan harga rata-rata, fluktuasi nilai persediaan dan laba perusahaan juga menjadi lebih terkendali dari satu periode ke periode berikutnya.

 

Metode Persediaan Stok Barang FIFO, LIFO, dan Average

Perbandingan FIFO dan LIFO

Setelah memahami konsep dasar, cara kerja, serta kelebihan dan kekurangan masing-masing metode, langkah selanjutnya adalah membandingkan FIFO dan LIFO secara langsung.

Perbandingan ini akan membantu Anda melihat perbedaan keduanya dari berbagai aspek, mulai dari asumsi aliran persediaan, dampaknya terhadap harga pokok penjualan (HPP), nilai persediaan akhir, laba perusahaan, hingga kesesuaiannya dengan standar akuntansi yang berlaku.

Dengan memahami karakteristik tersebut, Anda dapat menentukan metode yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi bisnis.

Aspek FIFO LIFO
Kepanjangan First In, First Out Last In, First Out
Barang yang dijual terlebih dahulu Barang yang masuk pertama Barang yang masuk terakhir
Nilai persediaan akhir Lebih tinggi saat inflasi Lebih rendah saat inflasi
Harga Pokok Penjualan Lebih rendah saat inflasi Lebih tinggi saat inflasi
Laba perusahaan Cenderung lebih tinggi Cenderung lebih rendah
Beban pajak Umumnya lebih tinggi Umumnya lebih rendah
Kesesuaian dengan alur fisik barang Sangat sesuai Kurang sesuai
Status dalam IFRS Diperbolehkan Tidak diperbolehkan

 

Baca juga: Apa Itu Dead Stock dalam Bisnis, Tips Menghindari dan Cara Mengatasinya!

Dampak FIFO dan LIFO terhadap Laporan Keuangan

Pemilihan metode penilaian persediaan tidak hanya memengaruhi nilai stok yang tercatat, tetapi juga berdampak pada harga pokok penjualan (HPP), laba bersih, nilai persediaan akhir, hingga beban pajak perusahaan.

Terutama pada saat terjadi inflasi atau kenaikan harga barang, penggunaan metode FIFO dan LIFO dapat menghasilkan angka laporan keuangan yang berbeda.

Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami konsekuensi dari masing-masing metode agar dapat memilih pendekatan yang sesuai dengan tujuan pelaporan dan strategi bisnis.

LIFO (Last In, First Out) FIFO (First In, First Out) LIFO (Last In, First Out)
Harga Pokok Penjualan (HPP) Cenderung lebih rendah karena menggunakan harga pembelian lama. Cenderung lebih tinggi karena menggunakan harga pembelian terbaru.
Laba Bersih Umumnya lebih tinggi karena HPP lebih rendah. Umumnya lebih rendah karena HPP lebih tinggi.
Nilai Persediaan Akhir Lebih tinggi karena menggunakan harga pembelian terbaru. Lebih rendah karena menggunakan harga pembelian lama.
Beban Pajak Cenderung lebih tinggi akibat laba yang lebih besar. Relatif lebih rendah karena laba yang dihasilkan lebih kecil.
Dampak terhadap Rasio Keuangan Nilai aset dan profitabilitas terlihat lebih tinggi. Nilai aset dan profitabilitas cenderung lebih rendah.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa metode persediaan yang dipilih dapat memengaruhi cara perusahaan menyajikan kondisi keuangannya.

Selain mempertimbangkan karakteristik operasional bisnis, perusahaan juga perlu memperhatikan standar akuntansi yang berlaku agar laporan keuangan tetap akurat, relevan, dan dapat dibandingkan.

Baca juga: Perbedaan Laporan Keuangan Fiskal dan Komersial

Kapan Sebaiknya Menggunakan Metode FIFO dan LIFO?

Pemilihan metode penilaian persediaan sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik bisnis, jenis barang yang dijual, kondisi ekonomi, serta standar akuntansi yang berlaku.

Meskipun FIFO dan LIFO sama-sama digunakan untuk menghitung nilai persediaan, keduanya memiliki kondisi penerapan yang berbeda. Berikut adalah situasi di mana masing-masing metode lebih tepat digunakan.

Gunakan Metode FIFO Jika…

Metode FIFO lebih cocok digunakan oleh perusahaan yang ingin mencerminkan nilai persediaan berdasarkan harga pembelian terbaru sekaligus mengikuti alur perputaran barang dalam operasional sehari-hari.

Metode ini banyak diterapkan pada bisnis yang menjual produk dengan masa simpan terbatas atau mudah mengalami penurunan kualitas.

Selain itu, FIFO juga menjadi pilihan utama karena diperbolehkan dalam standar akuntansi internasional (IFRS) maupun PSAK yang berlaku di Indonesia.

FIFO sebaiknya digunakan jika perusahaan:

  • Menjual produk yang memiliki masa kedaluwarsa, seperti makanan, minuman, obat-obatan, atau produk farmasi.
  • Menginginkan nilai persediaan akhir yang lebih mendekati harga pasar saat ini.
  • Menyusun laporan keuangan berdasarkan standar IFRS atau PSAK.
  • Ingin menampilkan nilai aset dan laba perusahaan yang relatif lebih tinggi ketika harga barang mengalami kenaikan.

Gunakan Metode LIFO Jika…

Metode LIFO umumnya dipilih oleh perusahaan yang beroperasi di negara yang masih mengizinkan penggunaannya dan ingin mencocokkan biaya pembelian terbaru dengan pendapatan yang diperoleh pada periode berjalan.

Dalam kondisi inflasi, metode ini dapat menghasilkan harga pokok penjualan (HPP) yang lebih tinggi sehingga laba dan beban pajak perusahaan menjadi lebih rendah. Meski demikian, penggunaannya kini semakin terbatas karena tidak diperbolehkan dalam standar IFRS.

LIFO dapat dipertimbangkan jika perusahaan:

  • Beroperasi di negara yang masih memperbolehkan penggunaan metode LIFO dalam pelaporan keuangan.
  • Menghadapi kondisi inflasi tinggi dan ingin mencocokkan biaya terbaru dengan pendapatan saat ini.
  • Berfokus pada efisiensi pajak jangka pendek melalui pencatatan harga pokok penjualan yang lebih tinggi.

Catatan: Perusahaan di Indonesia yang menerapkan PSAK berbasis IFRS umumnya tidak menggunakan metode LIFO dalam penyusunan laporan keuangan karena metode tersebut tidak diperkenankan oleh standar akuntansi yang berlaku.

Kesimpulan

FIFO dan LIFO merupakan dua metode penting dalam akuntansi persediaan yang memiliki cara kerja dan dampak berbeda terhadap laporan keuangan.

FIFO mengasumsikan barang yang pertama masuk dijual terlebih dahulu sehingga menghasilkan nilai persediaan akhir yang lebih tinggi dan laba yang cenderung lebih besar saat inflasi.

Sebaliknya, LIFO menganggap barang yang terakhir masuk dijual terlebih dahulu sehingga menghasilkan HPP yang lebih tinggi dan laba yang lebih rendah.

Pemilihan metode yang tepat harus mempertimbangkan karakteristik bisnis, standar akuntansi yang berlaku, serta tujuan pelaporan keuangan perusahaan. Dengan memahami perbedaan FIFO dan LIFO, bisnis dapat mengelola persediaan secara lebih efektif sekaligus menghasilkan laporan keuangan yang lebih akurat.

Kelola Persediaan Barang dengan Aplikasi Stok Barang Mekari Jurnal

Mekari Jurnal adalah aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus mempercepat pertumbuhan bisnis.

Sebagai bagian dari ekosistem software terpadu Mekari, Mekari Jurnal juga terintegrasi dengan berbagai solusi Mekari lainnya seperti Mekari Talenta, Mekari Flex, Mekari Qontak, Mekari Klikpajak, Mekari Sign, Mekari Desty, Mekari POS, Mekari Expense, Mekari Officeless, dan Mekari Airene untuk mendukung automasi operasional bisnis secara end-to-end.

Mekari Jurnal saat ini mendukung metode perhitungan biaya inventory dengan metode rata-rata (average) dan FIFO yang akan menentukan kalkulasi penilaian barang, sehingga pencatatan laporan persediaan yang ada akan dikhususkan sesuai dengan metode penilaian yang Anda pilih.

Pilihan metode penilaian inventory dapat Anda akses melalui pengaturan (settings) kemudian masuk ke menu produk (product), selanjutnya pilih “ubah” di menu metode penilaian inventory.

Setelah itu, Anda akan diminta untuk memilih metode perhitungan inventory yang diinginkan.

Perlu diperhatikan bahwa, jika Anda sudah mengaktifkan fitur monitor persediaan barang pada salah satu produk, maka metode penilaian inventory tidak dapat diubah.

Untuk membantu Anda mempermudah manajemen persediaan, Anda dapat menggunakan bantuan aplikasi inventory barang dari Mekari Jurnal.

Dengan menggunakan Mekari Jurnal, melakukan pengelolaan dan pencatatan persediaan menjadi mudah menggunakan aplikasi stok gudang dan aplikasi stok barang, baik memilih metode persediaan FIFO maupun Average.

 

Referensi:

Investopedia, “Cost of Goods Sold (COGS) Explained With Methods to Calculate It”

IFRS, “IAS 2 Inventories”

Corporate Finance Institute (CFI), “What Is Inventory? Raw Materials, WIP, & Finished Goods

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami