Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Memahami Perbedaan Make to Stock dan Make to Order dalam Manajemen Produksi

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Adelia Vita. A
Highlights
  • Make to Stock (MTS) adalah strategi produksi yang dilakukan sebelum ada pesanan berdasarkan perkiraan permintaan (forecast), sehingga cocok untuk produk dengan permintaan stabil dan membutuhkan pengiriman cepat.
  • Make to Order (MTO) merupakan strategi produksi yang baru dimulai setelah pesanan diterima, sehingga menawarkan tingkat kustomisasi yang tinggi dengan risiko inventaris yang lebih rendah.
  • Perbedaan utama MTS dan MTO terletak pada waktu produksi, sistem produksi (push vs pull), tingkat kustomisasi, biaya produksi, risiko persediaan, dan kecepatan pengiriman.
  • Tidak ada strategi yang paling unggul untuk semua bisnis. Pemilihan MTS atau MTO harus disesuaikan dengan karakteristik produk, pola permintaan pelanggan, kapasitas produksi, serta strategi operasional perusahaan.

Setiap perusahaan manufaktur tentu ingin proses produksinya berjalan efisien tanpa mengorbankan kepuasan pelanggan.

Namun, untuk mewujudkannya, ada satu keputusan penting yang harus ditentukan sejak awal, yaitu kapan produksi sebaiknya dimulai.

Apakah produk diproduksi lebih dulu agar siap dijual kapan saja, atau baru diproduksi setelah ada pesanan dari pelanggan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan strategi produksi yang digunakan perusahaan. Secara umum, terdapat dua pendekatan yang paling banyak diterapkan, yaitu Make to Stock (MTS) dan Make to Order (MTO).

Maka dari itu simaklah artikel berikut ini!

Apa Itu Make to Stock (MTS)?

Make to Stock (MTS) adalah strategi produksi di mana perusahaan memproduksi barang berdasarkan perkiraan permintaan pasar, bukan berdasarkan pesanan yang sudah diterima.

Menurut Association for Supply Chain Management, make to stock merupakan lingkungan produksi di mana produk diselesaikan sebelum pesanan pelanggan diterima dan diproduksi berdasarkan perkiraan permintaan.

Artinya, barang yang telah selesai diproduksi akan disimpan sebagai persediaan sehingga siap dikirim begitu pelanggan melakukan pemesanan.

Karena mengandalkan hasil forecasting, MTS juga dikenal sebagai strategi push system.

Dalam model ini, proses produksi didorong oleh proyeksi penjualan, bukan oleh permintaan aktual dari pelanggan.

Bagaimana Cara Kerja Make to Stock?

Pada strategi MTS, proses produksi diawali dengan melakukan analisis terhadap data penjualan historis, tren pasar, hingga pola permintaan musiman.

Dari data tersebut, perusahaan memperkirakan jumlah produk yang kemungkinan dibutuhkan pada periode berikutnya.

Hasil forecasting kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyusun jadwal produksi, menyiapkan bahan baku, dan memproduksi barang dalam jumlah tertentu sebelum pesanan masuk. Setelah selesai diproduksi, seluruh produk disimpan di gudang sebagai stok siap jual.

Dengan cara ini, perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan dalam waktu yang lebih singkat karena produk sudah tersedia dan tidak perlu menunggu proses produksi terlebih dahulu.

Keberhasilan strategi MTS sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan menerjemahkan strategi bisnis ke dalam rencana operasional yang efektif, termasuk melakukan forecasting permintaan secara akurat.

Ketepatan perkiraan tersebut menjadi dasar utama dalam menentukan jumlah produksi sekaligus mengelola persediaan secara efisien.

Contoh Make to Stock

Misalnya, sebuah produsen pasta gigi memproduksi 100.000 unit setiap bulan berdasarkan rata-rata penjualan selama beberapa tahun terakhir.

Ketika sebuah jaringan supermarket memesan 10.000 unit, perusahaan dapat langsung mengirimkan produk dari gudang tanpa harus memulai proses produksi terlebih dahulu. Hal ini membuat waktu pengiriman menjadi jauh lebih cepat sekaligus membantu menjaga ketersediaan produk di pasar.

Kelebihan dan Kekurangan Make to Stock (MTS)

Seperti strategi produksi lainnya, Make to Stock memiliki sejumlah keunggulan sekaligus kekurangan yang perlu dipertimbangkan sebelum diterapkan.

Kelebihan Make to Stock (MTS)

1. Waktu pengiriman lebih cepat

Karena produk sudah tersedia di gudang, pesanan pelanggan dapat diproses dan dikirim dalam waktu yang relatif singkat tanpa harus menunggu proses produksi.

2. Biaya produksi per unit lebih rendah

Produksi dalam jumlah besar memungkinkan perusahaan memperoleh economies of scale, sehingga biaya produksi per unit menjadi lebih efisien.

3. Proses produksi lebih stabil

Jadwal produksi dapat direncanakan jauh hari berdasarkan proyeksi permintaan. Hal ini memudahkan perusahaan dalam mengelola kapasitas produksi, tenaga kerja, maupun kebutuhan bahan baku.

4. Lebih siap menghadapi lonjakan permintaan

Ketersediaan stok membantu perusahaan memenuhi peningkatan permintaan secara tiba-tiba tanpa mengganggu aktivitas produksi yang sedang berjalan.

Kekurangan Make to Stock (MTS)

1. Sangat bergantung pada akurasi forecasting

Keberhasilan strategi MTS bergantung pada ketepatan perkiraan permintaan. Jika forecasting meleset, perusahaan berisiko mengalami overstock maupun stockout.

2. Berisiko mengalami persediaan usang

Produk yang terlalu lama tersimpan di gudang dapat kehilangan nilai, rusak, atau bahkan kedaluwarsa, terutama pada industri dengan siklus produk yang cepat seperti teknologi dan elektronik.

3. Membutuhkan biaya penyimpanan yang lebih besar

Semakin banyak stok yang disimpan, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan untuk gudang, pengelolaan inventaris, hingga pemeliharaan persediaan.

4. Kurang fleksibel untuk produk yang dikustomisasi

Strategi MTS lebih cocok diterapkan pada produk standar yang memiliki spesifikasi seragam. Jika pelanggan menginginkan produk dengan kebutuhan khusus, model ini cenderung kurang fleksibel untuk mengakomodasinya.

Baca Juga: Pemahaman Mendalam Tentang Sistem Manufaktur Dan Implementasinya

Apa Itu Make to Order (MTO)?

Make to Order (MTO) adalah strategi produksi yang baru memulai proses pembuatan barang setelah perusahaan menerima pesanan dari pelanggan.

Make to order merupakan lingkungan produksi di mana kemampuan pelanggan memperoleh produk bergantung pada kemampuan produsen dalam menjadwalkan dan menyelesaikan produksi sesuai target waktu pengiriman yang telah disepakati.

Karena produksi baru dilakukan ketika ada permintaan, MTO dikenal sebagai pull system.

Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak perlu menyimpan stok barang jadi dalam jumlah besar karena setiap produk dibuat berdasarkan kebutuhan pelanggan.

Strategi ini juga memberikan fleksibilitas yang lebih tinggi, terutama untuk produk yang memerlukan spesifikasi atau kustomisasi tertentu.

Bagaimana Cara Kerja Make to Order?

Pada strategi MTO, proses produksi dimulai ketika pelanggan mengajukan pesanan beserta spesifikasi produk yang diinginkan.

Setelah pesanan dikonfirmasi, perusahaan akan menyusun jadwal produksi, menyiapkan bahan baku, dan mulai memproduksi barang sesuai kebutuhan pelanggan. Selanjutnya setelah proses produksi selesai, produk kemudian dikirim langsung kepada pelanggan.

Berbeda dengan MTS yang mengandalkan stok siap jual, strategi MTO berfokus pada produksi sesuai permintaan (on-demand).

Oleh karena itu, perusahaan dapat menawarkan tingkat kustomisasi yang lebih tinggi, meskipun pelanggan perlu menunggu lebih lama hingga produk selesai dibuat. Strategi produksi yang efektif harus mampu menyeimbangkan antara fleksibilitas, biaya, dan waktu pengiriman.

MTO menawarkan fleksibilitas paling tinggi, tetapi perusahaan juga perlu mengelola konsekuensi terhadap biaya produksi dan lead time agar tetap kompetitif.

Contoh Make to Order

Misalnya, sebuah perusahaan furnitur menerima pesanan meja kerja dengan ukuran 180×80cm menggunakan material kayu jati solid dan warna finishing sesuai permintaan pelanggan.

Setelah desain disetujui dan uang muka diterima, perusahaan baru mulai membeli material yang dibutuhkan dan memproduksi meja tersebut.

Tiga minggu kemudian, produk selesai dibuat dan langsung dikirim kepada pelanggan. Dalam skenario ini, perusahaan tidak perlu menyimpan stok meja jadi di gudang karena setiap produk dibuat secara khusus sesuai pesanan.

Kelebihan dan Kekurangan Make to Order (MTO)

Sama seperti MTS, strategi Make to Order memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan sebelum diterapkan.

Kelebihan Make to Order (MTO)

1. Fleksibilitas kustomisasi yang tinggi

Setiap produk dibuat sesuai spesifikasi pelanggan. Karena itu, MTO sangat cocok diterapkan pada produk yang memiliki desain kompleks, bernilai tinggi, atau membutuhkan penyesuaian tertentu.

2. Mengurangi risiko kelebihan stok

Produksi baru dimulai setelah pesanan diterima sehingga perusahaan tidak perlu menyimpan banyak barang jadi yang berpotensi tidak terjual.

3. Penggunaan modal kerja lebih efisien

Karena tidak ada persediaan barang jadi dalam jumlah besar, dana perusahaan tidak banyak tertahan dalam bentuk inventaris dan dapat dialokasikan untuk kebutuhan operasional lainnya.

4. Kualitas produk lebih mudah dikendalikan

Setiap pesanan diproduksi secara individual sehingga proses produksi dapat lebih fokus pada spesifikasi dan standar kualitas yang diharapkan pelanggan.

Kekurangan Make to Order (MTO)

1. Waktu tunggu lebih lama

Pelanggan perlu menunggu hingga proses produksi selesai karena barang baru dibuat setelah pesanan diterima.

2. Sulit mengantisipasi perubahan permintaan

Menurut EY, perusahaan perlu mampu merespons perubahan permintaan pasar dengan cepat. Pada model MTO, tantangan ini menjadi lebih besar karena setiap pesanan memiliki siklus produksi yang relatif lebih panjang.

3. Biaya produksi per unit cenderung lebih tinggi

Produksi dalam jumlah kecil dan tingginya tingkat kustomisasi membuat perusahaan tidak dapat memanfaatkan economies of scale seperti pada strategi MTS.

4. Skalabilitas produksi lebih terbatas

Ketika jumlah pesanan meningkat, perusahaan perlu menambah kapasitas produksi, tenaga kerja, maupun sumber daya lainnya. Proses ini umumnya membutuhkan waktu dan investasi yang tidak sedikit.

Baca Juga: Mengenal Sistem Inventory & Cara Mudah Pengelolaannya

Perbedaan Utama Make to Stock dan Make to Order

Setelah memahami cara kerja masing-masing strategi, pertanyaan berikutnya adalah “Apa sebenarnya perbedaan Make to Stock (MTS) dan Make to Order (MTO)?”

Meskipun sama-sama bertujuan memenuhi kebutuhan pelanggan, kedua strategi ini memiliki pendekatan yang berbeda.

Berikut ini adalah tabel perbandingannya:

Tabel-Perbandingan-_Make-to-Stock-dan-Make-to-Order

Implikasi Akuntansi MTS dan MTO Berdasarkan IAS 2/PSAK 14

Selain mempengaruhi proses operasional, pemilihan strategi produksi juga berdampak pada cara perusahaan mengelola dan mencatat persediaan dalam laporan keuangan.

Berdasarkan IAS 2 Inventories, persediaan harus diukur menggunakan nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan (cost) dan nilai realisasi bersih (net realisable value atau NRV).

Ketentuan ini berlaku baik untuk barang jadi pada strategi MTS maupun barang dalam proses (work in progress) pada strategi MTO.

Biaya persediaan menurut IAS 2 meliputi:

  • Biaya pembelian, seperti harga beli, bea masuk, dan biaya pengiriman.
  • Biaya konversi, termasuk tenaga kerja langsung dan alokasi overhead produksi.
  • Biaya lain yang diperlukan hingga persediaan berada pada kondisi siap digunakan atau dijual.

Sebaliknya, biaya penyimpanan (storage costs) pada umumnya tidak termasuk ke dalam biaya persediaan, kecuali penyimpanan tersebut memang menjadi bagian dari proses produksi.

Artinya, perusahaan yang menerapkan strategi MTS tidak dapat mengapitalisasi biaya penyimpanan barang jadi ke dalam nilai persediaan. Biaya tersebut harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya.

Di Indonesia, ketentuan ini telah diadopsi melalui PSAK 14 (Persediaan). Standar tersebut juga hanya memperbolehkan metode penilaian persediaan FIFO (First In, First Out) dan weighted average cost, sedangkan metode LIFO (Last In, First Out) tidak diperkenankan.

Apa Dampaknya bagi MTS dan MTO?

Walaupun menggunakan standar akuntansi yang sama, penerapannya memiliki fokus yang berbeda.

Pada strategi MTS, perusahaan perlu mengelola persediaan dalam jumlah besar. Oleh karena itu, alokasi biaya produksi dan pengendalian nilai persediaan menjadi aspek yang sangat penting agar tidak terjadi overvalued aset maupun pemborosan biaya penyimpanan.

Sementara itu, pada strategi MTO, biaya produksi umumnya dapat ditelusuri secara langsung untuk setiap pesanan (specific identification). Pendekatan ini membuat perhitungan biaya per proyek atau per pelanggan menjadi lebih akurat, terutama pada produk yang dibuat secara khusus.

Contoh Penerapan MTS dan MTO di Berbagai Industri

Strategi produksi yang digunakan perusahaan biasanya disesuaikan dengan karakteristik produk dan pola permintaan pasar.

Industri yang Menggunakan MTS

Strategi MTS paling efektif diterapkan pada produk dengan permintaan yang stabil dan volume penjualan tinggi.

Beberapa contohnya antara lain:

  • FMCG, seperti makanan kemasan, sabun, dan deterjen.
  • Farmasi, khususnya obat generik dan obat bebas.
  • Elektronik konsumen, seperti televisi atau peralatan rumah tangga.
  • Otomotif, terutama kendaraan model standar yang diproduksi secara massal.

Industri yang Menggunakan MTO

MTO lebih cocok digunakan untuk produk yang memiliki spesifikasi beragam dan membutuhkan tingkat kustomisasi tinggi.

Beberapa contohnya meliputi:

  • Pesawat terbang dan industri dirgantara.
  • Mesin serta peralatan industri.
  • Furniture dan interior kustom.
  • Komputer atau perangkat elektronik dengan konfigurasi sesuai permintaan pelanggan.

MTS vs MTO: Kapan Sebaiknya Digunakan?

Pilihan antara MTS dan MTO bergantung pada karakteristik produk, perilaku pelanggan, serta tujuan operasional perusahaan.

Gunakan Make to Stock (MTS) jika:

  • Permintaan produk relatif stabil dan mudah diprediksi.
  • Produk memiliki spesifikasi standar.
  • Pelanggan mengharapkan pengiriman dalam waktu singkat.
  • Produk memiliki masa simpan yang panjang.

Gunakan Make to Order (MTO) jika:

  • Produk membutuhkan tingkat kustomisasi yang tinggi.
  • Nilai bahan baku atau biaya produksi relatif besar.
  • Permintaan pasar sulit diprediksi atau bersifat musiman.
  • Produk memiliki risiko cepat usang jika disimpan terlalu lama.

Alternatif Strategi Hybrid: Assemble to Order (ATO)

Selain MTS dan MTO, beberapa perusahaan juga menerapkan Assemble to Order (ATO) sebagai strategi hybrid. Pada model ini, komponen diproduksi dan disimpan terlebih dahulu seperti pada MTS.

Namun, proses perakitan akhir baru dilakukan setelah pesanan diterima sehingga perusahaan tetap dapat memberikan fleksibilitas kepada pelanggan tanpa harus mengorbankan kecepatan pengiriman.

Strategi ini banyak digunakan oleh perusahaan yang ingin menyeimbangkan efisiensi operasional dengan kebutuhan kustomisasi produk.

Mekari Jurnal Software Manajemen Persediaan untuk Mendukung Strategi MTS dan MTO

Setiap strategi produksi, baik Make to Stock (MTS) maupun Make to Order (MTO), memiliki kebutuhan pengelolaan operasional dan pencatatan biaya yang berbeda.

Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan data persediaan, biaya produksi, hingga laporan keuangan tercatat secara akurat agar operasional berjalan efisien dan mendukung pengambilan keputusan bisnis.

Pengelolaan inventaris dan akuntansi yang terintegrasi juga membantu perusahaan menjaga keseimbangan antara efisiensi operasional, pengendalian biaya, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pelanggan, apa pun strategi produksi yang diterapkan.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Mekari Jurnal menyediakan sistem terintegrasi yang membantu perusahaan mengelola persediaan, mencatat biaya produksi, serta menyusun laporan keuangan secara otomatis.

Dengan fitur manajemen persediaan dan laporan keuangan real-time, bisnis dapat memantau stok secara lebih akurat, mengendalikan biaya produksi, serta mengambil keputusan dengan lebih cepat dan tepat.

Setiap strategi produksi, baik Make to Stock (MTS) maupun Make to Order (MTO), memiliki kebutuhan pengelolaan operasional dan pencatatan biaya yang berbeda.

Coba Gratis sekarang juga!

Saya Mau Bertanya Ke Sales Mekari Jurnal Sekarang!

 

Referensi

ASCM, “Supply Chain Dictionary”

EY, “How to create value in an evolving business environment”

IFRS, “IAS 2 Inventories”

IAI, “PSAK 14 (Persediaan)”

FAQ

Apa perbedaan Make to Stock (MTS) dan Make to Order (MTO)?

Apa perbedaan Make to Stock (MTS) dan Make to Order (MTO)?

Perbedaan utamanya terletak pada waktu produksi. Make to Stock (MTS) memproduksi barang sebelum ada pesanan berdasarkan hasil forecasting permintaan, sedangkan Make to Order (MTO) baru memulai produksi setelah menerima pesanan pelanggan. MTS lebih mengutamakan kecepatan pengiriman, sementara MTO lebih fokus pada fleksibilitas dan kustomisasi.

Kapan perusahaan sebaiknya menggunakan strategi Make to Stock (MTS)?

Kapan perusahaan sebaiknya menggunakan strategi Make to Stock (MTS)?

Strategi MTS cocok digunakan jika permintaan produk relatif stabil, produk bersifat standar, memiliki masa simpan yang panjang, dan pelanggan mengharapkan pengiriman yang cepat. Contohnya pada industri FMCG, farmasi, dan elektronik konsumen.

Kapan strategi Make to Order (MTO) lebih tepat diterapkan?

Kapan strategi Make to Order (MTO) lebih tepat diterapkan?

MTO lebih sesuai untuk produk yang membutuhkan spesifikasi khusus atau kustomisasi, memiliki nilai produksi yang tinggi, serta permintaan yang sulit diprediksi. Strategi ini banyak digunakan pada industri furnitur custom, mesin industri, hingga manufaktur pesawat.

Apa kelebihan dan kekurangan Make to Order (MTO)?

Apa kelebihan dan kekurangan Make to Order (MTO)?

MTO memungkinkan perusahaan menawarkan produk yang lebih sesuai kebutuhan pelanggan, mengurangi risiko stok berlebih, dan menggunakan modal kerja lebih efisien. Kekurangannya adalah waktu tunggu pelanggan lebih lama, biaya produksi per unit lebih tinggi, dan kapasitas produksi lebih sulit ditingkatkan secara cepat.

Bagaimana perlakuan akuntansi persediaan pada strategi MTS dan MTO?

Bagaimana perlakuan akuntansi persediaan pada strategi MTS dan MTO?

Baik MTS maupun MTO mengikuti ketentuan PSAK 14 (Persediaan) yang mengadopsi IAS 2. Persediaan diukur berdasarkan nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih (NRV). Perusahaan juga hanya dapat menggunakan metode FIFO atau weighted average dalam penilaian persediaan.

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami