Pada perusahaan dagang, harga pokok penjualan atau COGS dapat diketahui dari supplier, di mana harga pokok penjualan adalah harga perolehan atas barang dagangan. Namun, pada perusahaan manufaktur  hal tersebut sedikit berbeda dikarenakan perusahaan manufaktur memproduksi sendiri barang yang diperjualbelikan, memiliki proses dan biaya produksi yang secara tidak langsung membuat perhitungan terhadap COGS/HPP menjadi sedikit rumit dan panjang.

 

Agar tidak mengalami kesulitan untuk menentukan nilai COGS/ HPP di kemudian hari pada perusahaan manufaktur Anda, di bawah ini akan kita pelajari bersama bagaimana cara menghitung COGS dengan benar dan darimana harus memulai alur perhitungannya.

 

Menghitung Bahan Baku yang Digunakan

Perusahaan memproduksi barang dengan bahan baku sebagai modal utamanya, karenanya untuk menghitung harga pokok penjualan pertama kali kita harus menentukan berapa bahan baku yang digunakan. Cara menentukannya adalah dengan melihat berapa banyak bahan baku yang tersisa di akhir periode setelah pada saldo awal periode ditambah dengan pembelian selama periode berlangsung.

 

Bahan baku (BB) terpakai = saldo BB awal + pembelian BB- saldo akhir BB

 

Misalnya terjadi beberapa hal ini di perusahaan:

a. Memiliki 100 unit mesin mobil di awal periode, lalu selama periode membeli 200 mesin lagi, dan di akhir periode sisa mesin adalah 150. Maka mesin yang terpakai adalah 150 mesin (persediaan awal 100 mesin + selama periode membeli 200 mesin – 150 mesin akhir periode = 150 mesin terpakai). Harga mesin adalah Rp 150 juta per unit.

b. Sementara perusahaan memiliki 3 ton besi di awal periode, selama periode membeli 4 ton besi, dan diakhir periode tersisanya hanya 2 ton. Maka besi terpakai adalah sebanyak 5 ton (saldo awal 3 ton + Pembelian 4 ton – saldo akhir 2 ton = 5 ton pemakaian) harga besi adalah 15.000/ kilo atau 15 juta/ton.

c. Sementara ban dan velg awalnya perusahaan memiliki 1000 unit, selama periode berjalan perusahaan hanya membeli 200 ban, pada akhir periode hanya tersisa 500 ban saja. maka pemakaian ban pada periode tersebut adalah 700 ban (awal 1000 ban + pembelian 200 ban – saldo akhir 500 ban = 700 ban dipakai) harga masing-masing ban adalah Rp 300.000.

 

Bila kita anggap bahan baku untuk mobil adalah 3 item di atas, maka bahan baku terpakai untuk mobil adalah:

a. 150 Mesin x Rp150 juta = Rp22.500.000.000 (22,5 Miliar)

b. 5 ton besi x Rp15 juta = Rp75.000.000 (75 Juta)

c. 700 ban x Rp300 ribu = Rp150.000.000 (150 Juta)

Sehingga total biaya bahan baku adalah Rp22.725.000.000 (22,725 Miliar).

Perusahaan akan menjurnal seperti di bawah ini:

 

Debit

Kredit

Barang dalam proses

Rp22.725.000.000

Mesin  (raw material)

Rp2.500.000.000

besi (raw material)

Rp75.000.000

ban (raw material)

Rp150.000.000

 

Menghitung Biaya Produksi Lainnya

Selain bahan baku, terdapat biaya lainnya untuk memproses bahan baku agar menjadi barang jadi yaitu:

a. Tenaga kerja langsung (tenaga kerja pabrik yang biayanya bisa dihubungkan langsung dengan produk).

b. Overhead (biaya bahan pembantu, dan sulit diidentifikasi langsung ke produk) seperti:

– Baut pada mobil

– Plastik untuk membantu mengecat

– Penyusutan mesin

– Biaya listrik

– Karet-karet untuk mesin

– Obeng dan peralatan lain yang tidak material

 

Kita anggap bahwa selama periode tersebut, perusahaan mengeluarkan biaya Rp1 Miliar untuk seluruh pegawai dan biaya overhead mencapai Rp250 juta, maka perusahaan akan menjurnal seperti di bawah ini:

 

Debit

Kredit

Barang dalam proses

Rp1.250.000.000

utang gaji

Rp1.000.000.000

utang utilitas

Rp250.000.000

 

Menghitung Total Biaya Produksi

Dari jurnal yang dibuat, kita sekarang tahu bahwa bahan-bahan baku tadi sudah diproses dari sebelumnya bahan mentah menjadi barang dalam proses, serta biaya gaji dan utilitas masuk sebagai komponen dalam bahan dalam proses. Total biaya produksi yang timbul dalam periode ini adalah 23.975.000.000 (22.725.000.000 untuk bahan baku dan 1.250.000.000 untuk tenaga kerja langsung dan overhead). Biaya senilai 23,975 miliar ini kemudian diproses menjadi mobil-mobil yang akan dijual.

 

Kita anggap saja bahwa perusahaan tidak memiliki saldo barang dalam proses di awal periode. Maka saldo barang dalam proses sekarang adalah Rp23.975.000.000 untuk 150 mobil. Sehingga biaya tiap satu mobil adalah Rp159.833.000 (dengan pembulatan). Biaya inilah yang menjadi Harga pokok produksi per mobil sementara harga pokok produksi seluruhnya adalah 23.975.000.000. Harga pokok produksi berbeda dengan harga pokok penjualan.

 

Menghitung Harga Pokok Penjualan/COGS

Ketika sudah diketahui bahwa biaya pokok produksi adalah Rp159.833.000 per unit, maka kita akan mengecek berapa unit mobil yang sudah selesai. Ternyata dari 150 unit yang diproses (berpatokan pada mesin yang ditransfer ke dalam proses produksi) baru 100 unit yang selesai. Perusahaan menjurnal 100 unit mobil ini menjadi barang jadi, tidak lagi sebagai barang dalam proses. Jurnal yang dibuat adalah;

 

 

Debit

Kredit

barang jadi

Rp15.983.300.000

barang dalam proses

Rp15.983.300.000

 

Untuk menandakan bahwa barang dalam proses berkurang sebanyak 15,9 miliar dan telah selesai menjadi barang jadi, sehingga saldo barang jadi naik dengan jumlah yang sama.

 

Perusahaan sebelumnya memiliki saldo barang jadi dengan nilai Rp158 juta/unit, sebanyak 70 unit mobil. Biaya ini lebih murah dikarenakan naiknya harga bahan baku atau produksi terdahulu yang lebih efisien. Saldo ini bisa disebut sebagai saldo awal barang jadi.

 

Pada periode tersebut perusahaan memiliki 170 unit barang jadi. 100 unit bernilai 159.833.000/unit dan 70 unit lainnya dengan biaya 158 juta/unit. Perusahaan dapat menggunakan metode fifo/average untuk menghitung HPP nya. Di akhir periode, diketahui bahwa saldo akhir mobil adalah 30 unit saja. Artinya sisanya sebanyak 140 unit sudah terjual. Berapakah HPP untuk 140 mobil tersebut?

 

Rumus dari HPP adalah Persediaan awal + Produksi periode berjalan – saldo akhir periode

 

Bila menggunakan metode penilaian FIFO (first In first out) maka nilai yang dipakai adalah nilai barang terdahulu dulu, kita menghabiskan saldo barang yang lebih lama baru dilanjutkan dengan saldo barang yang lebih baru. Sehingga;

70 unit x Rp158.000.000 = 11.060.000.000

70 unit x Rp159.833.000 = 11.188.310.000

Total HPP adalah= 22.248.310.000

 

Bila menggunakan metode average yaitu harga mesin dirata-ratakan sesuai dengan bobotnya (jumlah unitnya) maka:

100 unit x 159.833.000 = 15.983.300.000

70 unit x 158.000.000    = 11.060.000.000

Total biaya 170 unit adalah 27.043.300.000/170 unit =  Rp 159.078.000 (pembulatan) rata-rata per unit

Sehingga biaya HPP atas 140 unit adalah 140 x 159.078.000 = 22.270.920.000 (22,27 miliar)

Dikarenakan banyaknya variabel perhitungan yang harus dilibatkan untuk memperoleh nilai COGS yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan manufaktur, maka untuk mempermudahnya Anda bisa mulai menggunakan Jurnal software akuntansi online sebagai solusi mendapatkan nilai COGS/harga pokok penjualan yang sesuai tanpa harus menghitungnya berulang kali. Dapatkan semua informasi penting tentang Jurnal di sini, dan nikmati pula penawaran free trial 14 hari dari kami.

Author