Pada tanggal 31 Desember kita akan memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memungkinkan terjadinya persaingan ketat antara produk dari dalam dan luar negeri. Dalam menghadapi MEA, pemilik UKM perlu mengetahui tantangan-tantangan yang harus dihadapi agar dapat meningkatkan produktivitas dan bersaing dengan produk perusahaan nasional atau internasional. Tantangan tersebut antara lain:

1. Pola pikir masyarakat

Masyarakat Indonesia masih cenderung mengkonsumsi produk atau jasa dari luar negeri dibandingkan produk atau jasa dari dalam negeri. Fenomena ini terlihat dari menjamurnya barang impor yang dijual di pusat perbelanjaan, baik dari barang primer hingga barang tersier. Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa impor non-migas pada Januari 2014 yaitu sebesar US$11,36 miliar, naik 1,13 persen dari bulan sebelumnya. Masyarakat Indonesia saat ini sedang dimanja dengan produk impor yang cenderung terjangkau. Alasan konsumen pun beragam mulai dari lebih aman, berkualitas, hingga lebih enak. Preferensi konsumen terhadap produk asing tanpa mereka sadari banyak berdampak pada produktivitas bisnis dalam negeri, terutama bisnis-bisnis UKM yang bergantung pada konsumen tersebut. Menentukan harga yang bersaing dan terjangkau tanpa mengurangi kualitas produk merupakan tantangan tersendiri bagi UKM.

2. Keterbatasan akses finansial

Keraguan bank terhadap UKM dalam memberikan pinjaman mengakibatkan jaminan kredit yang terbatas dan nilai suku bunga yang tinggi. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan bank dalam memberikan pinjaman serta menentukan suku bunga adalah biaya dana, keuntungan perusahaan, profil risiko calon debitur, dan sektor usaha (Rini, 2015). Bunga yang diberikan bank bagi pemilik UKM walaupun telah terjadi penurunan dari 22 persen, namun tetap masih berkisar 12 persen. Hal ini berbeda dari Jepang yang menetapkan suku bunga dibawah 10 persen.

3. Keterbatasan akses pasar

Aktivitas promosi yang terbatas seringkali menjadi penghambat bagi UKM untuk memperluas target pasarnya. Banyak UKM yang berpotensi untuk dikenal masyarakat luas namun tidak memiliki akses pasar yang kuat. Salah satu cara untuk memperluas akses pasar adalah melalui bisnis online yang saat ini sedang naik daun. Aplikasi atau website yang dapat digunakan sebagai media promosi online terus bermunculan seperti aplikasi olah pesan Line, aplikasi e-commerce Tokopedia dan OLX. Sayangnya, masih banyak pemilik UKM yang belum memanfaatkan teknologi tersebut karena kurang pengetahuan mereka akan teknologi.

Menurut data dari Google, hanya 5 persen dari UKM di Indonesia yang menggunakan media online untuk memperluas akses pasar, padahal terdapat sekitar 50 juta UKM di Indonesia dan 8 juta diantaranya sangat potensial. Selain menggunakan media online, diperlukan pengetahuan yang tinggi akan kebutuhan serta ketentuan yang berlaku di negara tempat target pasar yang dituju. Masih banyak pelaku UKM yang belum memahami implikasi dan manfaat dari Free Trade Agreement atau perdagangan bebas. Mahalnya biaya untuk menyesuaikan standar dan sertifikasi internasional menjadi penghambat untuk memperluas akses pasar.

4. Kurangnya penelitian dan pengembangan produk atau jasa (Research and Development)

Investasi UKM pada pengembangan dan penelitian produk atau jasa masih sangat rendah. Ketidakpastian permintaan, pasar, dan aliran laba mengakibatkan dana untuk pengembangan dan penelitian tidak tersedia. Saat ini, pemerintah lebih berfokus dalam memberikan kredit daripada bantuan teknologi untuk meningkatkan inovasi produk atau jasa dan daya saing. Dana yang diberikan pun jarang digunakan untuk kebutuhan penelitian dan pengembangan, seringkali UKM lebih fokus kepada pemasaran atau kebutuhan operasionalnya.

5. Perencanaan bisnis yang belum matang

Komponen yang harus diperhatikan ketika kita membuat perencanaan bisnis antara lain deskripsi bisnis, visi bisnis, target bisnis, tenaga karyawan, potensi bisnis, kendala bisnis, solusi bisnis, keuangan, analisa pesaing, kegiatan promosi, dan pengelolaan perkembangan bisnis. Salah satu cara untuk membuat perencanaan yang baik adalah dengan menggunakan jasa konsultasi dan informasi. Banyak pemilik UKM yang belum mengetahui adanya layanan konsultasi bisnis dan belum memahami pentingnya konsultasi bisnis untuk perencanaan jangka pendek dan jangka panjang. Kegagalan bisnis UKM banyak disebabkan oleh perencanaan bisnis yang buruk, tidak realistis, dan tidak spesifik. Di sisi lain, biaya sewa konsultan bisnis dan pelatihan pun masih tergolong mahal.

Kita telah mengetahui tantangan-tantangan yang harus dihadapi menjelang diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) nanti. Sudah saatnya kita melakukan persiapan dan perencanaan yang matang, serta menyusun strategi untuk dapat bersaing di dunia internasional.

Sources:
Badan Pusat Statistik
siperubahan.com
seputarukm.com
kelompok usaha relawan

Rini, A. S. (2015, Juni 15). Finansial. Retrieved Oktober 6, 2015, from bisnis.com