Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Metode Akuisisi dan Pengukuran Goodwill: Pengertian, Langkah, Rumus, dan Contoh

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Highlights
  • Metode akuisisi merupakan metode wajib dalam kombinasi bisnis yang mengharuskan pengukuran aset dan liabilitas teridentifikasi berdasarkan nilai wajar pada tanggal akuisisi.
  • PSAK 22 kini telah dikodifikasi menjadi PSAK 103 Kombinasi Bisnis yang mengadopsi prinsip dalam IFRS 3 Business Combinations.
  • Tahapan metode akuisisi meliputi identifikasi pengakuisisi, penentuan tanggal akuisisi, pengukuran aset dan liabilitas teridentifikasi, serta pengakuan goodwill atau keuntungan pembelian dengan diskon.
  • Goodwill dihitung dari selisih antara total imbalan yang dialihkan, kepentingan nonpengendali (NCI), dan kepentingan sebelumnya dengan nilai wajar aset neto teridentifikasi.
  • PSAK 103 dan IFRS 3 tidak memperbolehkan amortisasi goodwill; sebagai gantinya, goodwill wajib diuji penurunan nilai (impairment test) minimal satu kali setiap tahun.

Di dunia bisnis modern, perusahaan sering kali bersedia membayar harga akuisisi jauh di atas nilai buku karena yang dibeli bukan hanya aset fisik, tetapi juga reputasi merek, loyalitas pelanggan, teknologi, jaringan distribusi, dan potensi pertumbuhan di masa depan.

Proses ini menjadi fondasi utama dalam menentukan besaran goodwill yang akan disajikan pada laporan keuangan konsolidasian.

Agar transaksi merger dan akuisisi dapat dicatat secara akurat, standar akuntansi mewajibkan perusahaan menggunakan metode akuisisi (acquisition method) untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengakui seluruh aset serta liabilitas yang diperoleh berdasarkan nilai wajarnya.

Proses ini menjadi fondasi utama dalam menentukan besaran goodwill yang akan disajikan pada laporan keuangan konsolidasian.

Memahami metode akuisisi dan pengukuran goodwill penting untuk memastikan nilai investasi dan laporan keuangan mencerminkan substansi ekonomi transaksi secara wajar sesuai standar akuntansi.

Catatan Penting: PSAK 22 Kini Bernomor PSAK 103

Bagi praktisi dan akademisi akuntansi, ketentuan kombinasi bisnis yang sebelumnya diatur dalam PSAK 22 kini telah dikodifikasi ulang menjadi PSAK 103 sesuai kebijakan penomoran terbaru dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Saat ini, regulasi teknis terbaru telah tertuang dalam PSAK 105: Aset Tidak Lancar yang Dikuasai untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan.

Lalu, terkait konteks penggabungan usaha, panduan yang relevan beralih menggunakan kode PSAK 103 Kombinasi Bisnis.

Perubahan nomenklatur dari PSAK 22 menjadi PSAK 103 dilakukan untuk menyelaraskan penomoran standar dengan praktik internasional. Sehingga, istilah PSAK 22 masih sering digunakan karena tetap relevan.

Apa Itu Metode Akuisisi?

Berdasarkan ilmu akuntansi komersial, metode akuisisi adalah metode akuntansi kombinasi bisnis yang mewajibkan perusahaan pengakuisisi mencatat transaksi penggabungan usaha berdasarkan nilai wajar aset dan liabilitas yang diperoleh.

Aturan teknis mengenai ini telah diatur dalam IFRS 3 Business Combinations, yang menetapkan wa metode ini menggantikan metode penyatuan kepemilikan (pooling of interests) yang dinilai tidak lagi relevan dengan realitas pasar modern.

Metode ini mengharuskan perusahaan mengidentifikasi pihak pengakuisisi, menetapkan tanggal akuisisi, dan mengukur aset serta liabilitas teridentifikasi pada nilai wajarnya.

Penerapan metode akuisisi akan menghasilkan pengakuan goodwill atau keuntungan pembelian dengan diskon (bargain purchase) jika harga akuisisi lebih rendah dari nilai wajar aset bersih yang diperoleh.

Tahapan Penerapan Metode Akuisisi

Untuk menjalankan metode ini, PSAK 103 yang menganut standari IFRS 3 telah mengatur standardisasi pencatatan penggabungan usaha wajib dijalankan secara bertahap, mulai dari:

1. Identifikasi Pihak Pengakuisisi

Perusahaan harus menentukan dengan jernih entitas mana yang bertindak sebagai pengakuisisi (acquirer) atau pihak yang memperoleh pengendalian atas entitas lain (acquiree). Penentuan ini tidak hanya melihat siapa yang menyetor uang tunai paling banyak, melainkan didasarkan pada analisis hak suara, komposisi dewan direksi, dan kemampuan dalam mengarahkan kebijakan strategis perusahaan target.

2. Penentuan Tanggal Akuisisi

Manajemen wajib menetapkan secara hukum kapan tanggal akuisisi terjadi.

Tanggal ini merupakan titik krusial di mana pihak pengakuisisi secara efektif memperoleh kendali penuh atas aset bersih dan operasional pihak yang diakuisisi.

Segala bentuk mutasi nilai wajar dan pengakuan laba-rugi anak perusahaan setelah tanggal ini akan menjadi tanggung jawab penuh laporan konsolidasi induk.

3. Pengakuan dan Pengukuran Aset serta Liabilitas Teridentifikasi

Pada tanggal akuisisi, perusahaan wajib menilai seluruh aset berwujud, aset takberwujud (seperti hak paten atau merek dagang), serta liabilitas yang ditanggung dari perusahaan target.

Pengukuran ini wajib disajikan berbasis nilai wajar pada tanggal akuisisi, bukan berdasarkan nilai buku historis lama yang tercantum di neraca internal anak perusahaan.

Pada tahap ini, nilai Kepentingan Nonpengendali (Non-Controlling Interest/ NCI) juga harus diukur dan diakui secara proporsional.

4. Pengakuan dan Pengukuran Goodwill atau Keuntungan Pembelian dengan Diskon

Langkah terakhir adalah melakukan perbandingan matematis antara total imbalan yang dialihkan dengan nilai bersih dari aset dan liabilitas teridentifikasi yang telah dinilai wajar.

Selisih angka dari perbandingan inilah yang akan memunculkan akun goodwill di dalam laporan keuangan konsolidasian.

Apa Itu Goodwill dalam Akuisisi?

Dalam konteks akuntansi, goodwill dalam kombinasi bisnis diklasifikasikan sebagai aset tidak berwujud yang mencerminkan manfaat ekonomi masa depan dari faktor-faktor yang tidak dapat diidentifikasi atau diakui secara terpisah dalam kombinasi bisnis.

Elemen-elemen abstrak yang membentuk nilai pengukuran goodwill ini mencakup:

  • Reputasi merek yang kuat di mata masyarakat
  • Loyalitas pelanggan yang tinggi
  • Jalinan hubungan baik dengan pemasok kunci
  • Keahlian teknis dari tim manajemen
  • Sinergi bisnis yang diharapkan lahir setelah kedua perusahaan digabungkan

Rumus Pengukuran Goodwill

Untuk menjalankan teori kombinasi bisnis ini di lembar kerja, Anda perlu formulasi untuk menghitung goodwill, yakni:

Goodwill = (Imbalan yang Dialihkan + Kepentingan Nonpengendali + Nilai Wajar Kepentingan Sebelumnya) – Nilai Wajar Aset Neto Teridentifikasi

Catatan:

  • Imbalan yang Dialihkan: Total nilai yang dibayarkan untuk mengakuisisi perusahaan target, baik dalam bentuk kas, aset, maupun saham.
  • Kepentingan Nonpengendali (NCI): Nilai kepemilikan pemegang saham minoritas pada perusahaan yang diakuisisi.
  • Nilai Wajar Kepentingan Sebelumnya: Nilai wajar saham yang telah dimiliki sebelum pengendalian diperoleh dalam akuisisi bertahap.
  • Nilai Wajar Aset Neto Teridentifikasi: Selisih antara nilai wajar aset yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih.

Contoh Perhitungan Goodwill

Delta Utama sepakat untuk mengakuisisi 80% saham kepemilikan pada PT Mitra Sejahtera secara tunai pada tanggal 1 Juni 2026.

Untuk mengambil alih kendali tersebut, PT Delta Utama menyerahkan imbalan kas sebesar Rp800.000.000 kepada pemilik lama.

Pada tanggal akuisisi, hasil penilaian dari agen penilai independen menunjukkan bahwa nilai wajar total aset teridentifikasi milik PT Mitra Sejahtera adalah Rp1.100.000.000, sedangkan total liabilitasnya yang dinilai wajar adalah Rp200.000.000.

Sementara itu, nilai wajar untuk 20% Kepentingan Nonpengendali (saham minoritas) ditetapkan sebesar Rp200.000.000.

PT Delta Utama tidak memiliki kepemilikan saham sebelumnya pada PT Mitra Sejahtera.

Mari kita lakukan perhitungan secara bertahap:

  • Pertama, hitung Nilai Wajar Aset Neto Teridentifikasi

Nilai Wajar Aset Neto = Rp1.100.000.000 – Rp200.000.000 = Rp900.000.000

  • Kedua, Hitung Nilai Total Komponen Imbalan dan NCI

Total Komponen = Rp800.000.000 (Imbalan) + Rp200.000.000 (NCI) = Rp1.000.000.000

  • Langkah 3: Hitung Nilai Goodwill Menggunakan Rumus

Goodwill = Rp1.000.000.000- Rp900.000.000 = Rp100.000.000

Berdasarkan contoh penghitungan di atas, PT Delta Utama akan mencatat akun Goodwill sebesar Rp100.000.000 di dalam laporan keuangan konsolidasian grup mereka.

Angka Rp100.000.000 ini mencerminkan premi investasi yang rela dibayar induk karena meyakini adanya potensi sinergi operasional yang menguntungkan di masa depan.

Bagaimana Jika Hasilnya Negatif?

Dalam kondisi tertentu, perhitungan kombinasi bisnis dapat menghasilkan goodwill negatif, yaitu ketika harga akuisisi lebih rendah daripada nilai wajar aset neto yang diperoleh, biasanya karena kondisi seperti kesulitan keuangan atau penjualan terpaksa.

Sebelum mengakui keuntungan tersebut, PSAK 103 mewajibkan perusahaan meninjau kembali seluruh pengukuran aset dan liabilitas untuk memastikan tidak ada kesalahan penilaian atau kewajiban yang terlewat.

Jika setelah peninjauan ulang selisih negatif tetap ada, nilai tersebut diakui sebagai keuntungan dalam laporan laba rugi pada tanggal akuisisi.

Hubungan Goodwill dengan Konsolidasi

Kemunculan akun goodwill tidak dapat ditemukan dalam laporan keuangan mandiri milik perusahaan induk maupun anak secara terpisah, namun akun aset takberwujud ini baru terlihat dalam lembar laporan keuangan konsolidasian.

Proses pemunculan goodwill terjadi saat prosedur eliminasi investasi, di mana akun Investasi pada Saham Anak yang tercantum di sisi aset induk akan dieliminasi atau saling hapus dengan pos Ekuitas Anak yang diperoleh.

Selisih yang muncul dari proses eliminasi tersebut akan diakui sebagai goodwill dan disajikan sebagai aset tidak lancar dalam laporan posisi keuangan konsolidasian.

Kesalahan Umum dalam Mengukur Goodwill

Dalam beberapa kasus yang ditemukan dalam aktivitas bisnis, terdapat beberapa penyimpangan materiil maupun beberapa kekeliruan konsep, mulai dari:

  • Menggunakan nilai buku langsung, tanpa menyesuaikan aset dan liabilitas ke nilai wajar pada tanggal akuisisi
  • Tidak mengidentifikasi aset takberwujud terpisah, sehingga seluruh selisih harga beli langsung dicatat sebagai goodwill
  • Mengamortisasi goodwill, padahal PSAK 103 dan IFRS 3 mewajibkan goodwill diuji penurunan nilai (impairment), bukan diamortisasi

Sebagai gantinya, goodwill wajib diuji penurunan nilainya (impairment test) setidaknya setiap tahun, dan jika nilainya menurun, kerugian yang diakui tidak dapat dipulihkan pada periode berikutnya.

Kesimpulan

Penerapan metode akuisisi dan pengukuran goodwill yang tepat menjadi kunci untuk menghasilkan laporan kombinasi bisnis yang akurat, transparan, dan sesuai dengan PSAK 103 maupun IFRS 3.

Goodwill mencerminkan ekspektasi manfaat ekonomi dan sinergi masa depan yang tidak dapat diidentifikasi secara terpisah, sedangkan pembelian dengan diskon memerlukan evaluasi ulang sebelum diakui sebagai keuntungan.

Dengan melakukan pengukuran nilai wajar secara tepat, menghindari penggunaan nilai buku historis secara langsung, dan menjalankan uji penurunan nilai goodwill secara berkala, perusahaan dapat menyajikan laporan keuangan konsolidasian yang lebih andal bagi para pemangku kepentingan.

Untuk mendukung proses pencatatan dan pelaporan keuangan yang lebih efisien, perusahaan dapat memanfaatkan software akuntansi berbasis cloud seperti Mekari Jurnal yang membantu mengotomatisasi pembukuan, menyusun laporan keuangan secara real-time, serta meningkatkan akurasi pengelolaan data keuangan.

Coba GRATIS sekarang dan rasakan manfaatnya!

Konsultasi dengan Mekari Jurnal Sekarang!

 

 

 

Referensi:

Ikatan Akuntan Indonesia. “Draf Eksposur Amandemen PSAK 22”.

Binus. “Akuntansi Untuk Kombinasi Bisnis Sesuai PSAK 22”.

Kamus PSAK Balancio. “PSAK 103 — Standar Baru Akuntansi Kombinasi Bisnis”.

IFRS. “IFRS 3 Business Combinations”.

Ikatan Akuntan Indonesia. “Perubahan Penomoran PSAK dan ISAK dalam SAK Indonesia”.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan metode akuisisi dalam akuntansi?

Apa yang dimaksud dengan metode akuisisi dalam akuntansi?

Metode akuisisi adalah metode pencatatan kombinasi bisnis yang mewajibkan perusahaan pengakuisisi mengukur dan mengakui aset serta liabilitas yang diperoleh berdasarkan nilai wajar pada tanggal akuisisi sesuai PSAK 103 dan IFRS 3.

Apa tujuan penggunaan metode akuisisi?

Apa tujuan penggunaan metode akuisisi?

Tujuan metode akuisisi adalah memastikan transaksi merger atau akuisisi mencerminkan nilai ekonomi yang sebenarnya sehingga laporan keuangan konsolidasian dapat menyajikan informasi yang lebih relevan dan andal.

Apa yang terjadi jika hasil perhitungan goodwill negatif?

Apa yang terjadi jika hasil perhitungan goodwill negatif?

Jika hasilnya negatif, kondisi tersebut disebut bargain purchase atau keuntungan pembelian dengan diskon. Perusahaan wajib meninjau ulang seluruh pengukuran aset dan liabilitas sebelum mengakui keuntungan tersebut dalam laporan laba rugi.

Apakah goodwill disusutkan atau diamortisasi?

Apakah goodwill disusutkan atau diamortisasi?

Tidak. Berdasarkan PSAK 103 dan IFRS 3, goodwill tidak diamortisasi. Sebagai gantinya, goodwill wajib diuji penurunan nilai (impairment test) setidaknya sekali dalam setahun atau ketika terdapat indikasi penurunan nilai.

Apakah goodwill muncul dalam laporan keuangan perusahaan induk?

Apakah goodwill muncul dalam laporan keuangan perusahaan induk?

Tidak. Goodwill hanya muncul dalam laporan keuangan konsolidasian setelah proses eliminasi investasi pada anak perusahaan dengan ekuitas anak perusahaan yang diakuisisi.

Apa perbedaan goodwill dengan aset takberwujud lainnya?

Apa perbedaan goodwill dengan aset takberwujud lainnya?

Aset takberwujud seperti merek dagang, paten, atau lisensi dapat diidentifikasi dan diukur secara terpisah. Sementara itu, goodwill merupakan manfaat ekonomi masa depan yang tidak dapat diidentifikasi secara individual sehingga hanya muncul dalam transaksi kombinasi bisnis.

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami