Pandemi Corona, Ini 5 Keluhan Para Pelaku Bisnis UMKM 

Seperti yang kita ketahui bahwa bisnis UMKM menjadi salah satu sektor yang paling merasakan dampak wabah Virus Corona (Covid-19). Berdasarkan info dari Kementerian Koperasi dan UKM  (Kemenkop UKM) (Kompas, 27 Maret 2020), setidaknya terdapat 949 laporan dari pelaku koperasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terkena dampak wabah virus Corona (Covid-19). 

Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UMKM pun mengajak semua pihak termasuk swasta, BUMN, serta masyarakat untuk membantu para pelaku UMKM untuk bisa tetap produktif di tengah pandemi Corona. Terlebih, ada puluhan juta unit usaha di sektor mikro. Jika hal ini tidak ditangani, tentunya hal tersebut akan menjadi persoalan yang besar. Para pelaku bisnis UMKM tersebut mengeluhkan beberapa hal lantaran adanya pandemi Virus Corona. Apa sajakah?

1. Mengalami Penurunan Penjualan 

Sejak terjadinya wabah Corona, tentu saja hal ini berdampak pada daya beli dari masyarakat itu sendiri. Hal inilah yang membuat penjualan UMKM mengalami penurunan. Sebanyak 774 koperasi dan UMKM atau setara dengan 68% mengaku bahwa penjualan mereka mengalami penurunan drastis sejak wabah Virus Corona. Penurunan ini pun turut dirasakan di berbagai kota di Indonesia, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa TImur, Yogyakarta, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bengkulu, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, hingga Sulawesi Utara. 

2. Sulit Mendapatkan Bahan Baku

Selain mengalami penurunan penjualan, para pelaku UMKM tersebut juga mengaku kesulitan mendapatkan bahan baku karena kegiatan impor yang dibatasi. Tercatat, ada sekitar 63 koperasi dan UMKM (6%) mengeluhkan kesulitan bahan baku. Hal ini terjadi di DKI Jakarta, Banten, DIY, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. 

3. Terhambatnya Distribusi 

Sebanyak 111 koperasi serta UMKM (setara 10 persen) mengungkapkan bahwa distribusi yang mereka lakukan menjadi terhambat, terlebih saat sudah ada penerapan PSBB di wilayah masing-masing. Tentu saja hal ini membuat pengiriman atau penerimaan barang kepada konsumen menjadi terlambat. 

4. Mengalami Kesulitan Permodalan 

Tercatat, sebanyak 141 koperasi dan UMKM (12 persen) mengeluhkan bahwa mereka mengalami masalah permodalan. Hal ini terjadi DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan beberapa kota di daerah Indonesia lainnya. 

5. Terhambatnya Produksi 

Sebanyak 42 koperasi serta UMKM (4 persen) mengungkapkan bahwa produksi mereka menjadi terhambat dengan adanya wabah Virus Corona (Covid-19) seperti sekarang ini, salah satunya adalah kesulitan mendapatkan bahan baku. Hal ini terjadi di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan beberapa kota lainnya juga di Indonesia. 

Baca juga : Kiat Kelola Bisnis UKM Tetap Prima di Tengah Wabah COVID-19

Kesimpulan 

Berdasarkan lima keluhan di atas, kita dapat simpulkan bahwa wabah Corona memang sangat berdampak terhadap bisnis UMKM.  Jika sudah seperti ini, para pemilik bisnis UMKM pun harus siap sedia dalam mengantisipasinya agar usahanya tetap produktif dan tidak gulung tikar.

Pertama, pertahankan penjualan selama pandemi dengan meningkatkan pemasaran online pada setiap produk UMKM dan berikan harga terbaik atau justru diskon besar agar masyarakat membeli produk atau layanan yang dijual. Kedua, pelaku UMKM dapat mencari bahan baku produksi dari bahan lokal, meskipun tidak memiliki kualitas yang sama tapi hal ini bisa menjadi nilai tersendiri bagi UMKM karena menggunakan sepenuhnya produk lokal. Jika harga jauh lebih mahal dibanding bahan baku impor, coba negosiasi dan berikan argumen bahwa jika harganya sama maka pemasok bahan baku tersebut akan menjadi pengganti pemasok bahan baku meskipun pandemi telah berakhir.

Ketiga, UMKM dapat mencari tahu stimulus-stimulus apa yang dikeluarkan demi membantu kelangsungan bisnis selama pandemi Corona termasuk mendapat bantuan modal. Keempat, jika distribusi terhadap konsumen  terlambat, pelaku UMKM dapat memberitahu terlebih dahulu kepada konsumen agar harapan sampainya barang sesuai dengan ekspetasi awal konsumen. Lagipula, disaat seperti ini mereka pasti mengerti bahwa distribusi barang memang akan terhambat.

Lalu pelaku UMKM juga dapat memantau semua stok barang. Ingat, stok barang dirancang untuk pelayanan konsumen yang maksimal. Dengan selalu mengetahui stok barang, kebijakan dan strategi sebelumnya dapat diambil dengan tepat dan disesuaikan dengan stok  yang ada maupun akan ada. Selain itu, pemilik bisnis UMKM juga bisa merencanakan ulang anggaran modal yang diperlukan untuk bisnis sehingga mampu mengoptimalkan kebijakan dan strategi yang dimiliki.

Baca juga : Tips agar Bisnis UKM Mampu Bertahan di Masa Pandemi Corona

Jurnal, sebuah software akuntansi online hadir untuk membantu para pemilik bisnis UMKM untuk tetap bisa mengontrol bisnisnya meskipun berada di rumah aja. Dilengkapi dengan fitur yang lengkap, canggih, tepat dan cepat yang tentunya akan membantu pemilik UMKM dalam mengelola usaha secara efisien dan praktis. Jurnal juga saat ini sedang ikut mendukung dan berkomitmen membantu menjawab tantangan dan keluhan dalam menjaga produktivitas dan pertumbuhan ekonomi di tengah tuntutan untuk mengurangi mobilitas ke tempat kerja dan keramaian umum lewat program #UKMtahankrisis.

Cari tahu selengkapnya mengenai produk Jurnal di website Jurnal atau isi formulir berikut ini untuk mencoba demo gratis. Cukup ketuk banner di bawah ini untuk mendapatkan promo kesempatan bonus berlangganan Jurnal selama 60 hari dan diskon 35% (Min subscribe 12 bulan). Salam sehat dan produktif selalu!

CTA


PUBLISHED17 Apr 2020
Dewi Maharani Indah Reswari
Dewi Maharani Indah Reswari


Kategori : Bisnis