Jurnal Amortisasi: Pengertian, Cara Mencatat & Contoh Kasus Lengkap Mekari Jurnal Highlights Pencatatan amortisasi diatur dalam PSAK 19 untuk pelaporan komersial dan UU PPh Pasal 11A untuk tujuan perpajakan, sehingga berperan penting dalam kepatuhan regulasi dan perencanaan pajak Amortisasi memastikan aset tidak berwujud disajikan sesuai sisa manfaat ekonominya serta mencegah overstatement aset dan laba yang tidak realistis, sejalan dengan prinsip matching dalam akuntansi Pemanfaatan software akuntansi modern seperti Mekari Jurnal memungkinkan pencatatan amortisasi otomatis dan real-time, mengurangi risiko human error, serta meningkatkan efisiensi operasional keuangan Saat ini dinamika bisnis semakin kompetitif dengan kemampuan sebuah entitas untuk mengelola hak kekayaan intelektual dan perangkat lunak menentukan keberlanjutan operasional serta kepercayaan investor.Ekonomi yang berkembang ke arah digital menempatkan aset tidak berwujud sebagai instrumen vital dalam penilaian sebuah perusahaan.Untuk mengalokasikan biaya perolehan aset tersebut, entitas perlu menjalankan praktik akuntansi yang dikenal dengan jurnal amortitasi.Tanpa adanya jurnal amortisasi, perusahaan berisiko menyajikan nilai aset yang terlalu tinggi dan laba yang tidak realistis.Oleh karena itu, para profesional, mahasiswa akuntan, hingga pemilik bisnis di Indonesia perlu memahami bagaimana teknis pencatatan jurnal amortisasi untuk menyajikan laporan keuangan yang akurat dan mencerminkan finansial perusahaan yang sebenarnya. Apa Itu Jurnal Amortisasi?Jurnal amortisasi merupakan catatan akuntansi sistematis yang berguna untuk mendokumentasikan alokasi biaya perolehan aset tidak berwujud sebagai beban pada setiap periode pelaporan keuangan.Jika melihat dari fungsi, jurnal ini mengakui penurunan nilai manfaat ekonomi dari sebuah aset seiring berjalannya waktu atau pemanfaatannya.Namun, jika melihat dari sisi teknis, jurnal digunakan untuk memindahkan sebagian nilai dari akun aset di neraca menuju akun beban di laporan laba rugi.Mekanisme yang diterapkan dalam jurnal amortisasi sejalan dengan prinsip pencocokan biaya dan pendapatan, di mana beban harus diakui pada periode yang sama dengan pendapatan yang dihasilkan oleh aset tersebut diperoleh.Untuk dapat dicatat dan diamortisasi, sebuah aset tidak berwujud harus memenuhi tiga kriteria berikut: Perusahaan memiliki kontrol atas aset tersebut Aset dapat dipisahkan atau dijual secara mandiri Terdapat kepastian manfaat ekonomi masa depan yang akan mengalir ke perusahaan Pencatatan jurnal amortisasi biasanya menggunakan jurnal penyesuaian di akhir bulan atau akhir tahun.Adanya pencatatan ini membantu nilai buku bersih dari aset tidak berwujud di neraca akan selalu mencerminkan sisa manfaat yang masih dimiliki perusahaan, sementara beban yang dilaporkan di laba rugi mencerminkan biaya yang benar-benar dikonsumsi untuk menghasilkan pendapatan pada periode tersebut.Baca Juga: Amortisasi: Pengertian, Rumus Amortisasi, Cara Menghitung dan Contoh dalam Akuntansi BisnisFungsi dan Tujuan Jurnal Amortisasi dalam AkuntansiJika melihat dari konteks yang lebih luas, jurnal amortisasi dalam siklus akuntansi perusahaan juga menjalankan fungsi dalam mengelola aspek-aspek penting dalam pelaporan.Adapun beberapa fungsi dan tujuan lain dari jurnal amortisasi dalam akuntansi sebagai berikut:1. Menciptakan Transparansi Laporan KeuanganAmortisasi mencatat penggunaan aset tidak berwujud secara transparan, sehingga pemakai informasi akuntansi dapat melihat bagaimana nilai aset menyusut seiring berjalannya waktu dan berapa besar investasi yang masih tersisa.2. Mengakui Beban Secara Sistematis di Laporan Laba RugiFungsi yang kedua adalah untuk mengukur laba bersih yang sebenarnya secara konsisten. Dengan mengakui beban setiap periode, perusahaan terhindar dari lonjakan biaya yang besar dalam satu tahun tertentu.Baca Juga: Hubungan Laporan Laba-Rugi, Neraca, dan Perubahan Modal3. Membantu Evaluasi Sisa Umur Ekonomis AsetManajemen bisa memanfaatkan jurnal amortisasi untuk memantau sisa masa manfaat suatu aset tidak berwujud hingga masa habis masa berlakunya dan rencana proaktif untuk menggantikannya.4. Memenuhi Prinsip Akuntansi dan Kepatuhan PajakPencatatan amortisasi sejatinya sudah tercantum sebagai sebuah kewajiban dalam laporan keuangan menurut PSAK 19.Dari sisi fiskal, amortisasi juga telah diatur dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 11A.5. Mempermudah Proses Audit dan RekonsiliasiTerakhir, adanya pencatatan amortisasi juga mempermudah proses audit dan rekonsiliasi bagi auditor internal maupun eksternal.Setiap pengurangan nilai aset didukung oleh perhitungan yang logis dan konsisten, sehingga meminimalisir risiko salah saji aset dan membantu rekonsiliasi akun akumulasi amortisasi di akhir tahun.Baca Juga: Perbedaan dan Pentingnya Audit Internal dan EksternalKomponen Akun dalam Jurnal AmortisasiUntuk menciptakan jurnal amortisasi yang ideal, terdapat akun-akun penting yang dirancang untuk melacak alokasi biaya dan pengurangan nilai aset.Tiga komponen utama yang akan ditemukan dalam pencatatan amortisasi, yakni:1. Beban AmortisasiAkun ini mencatat nilai biaya yang dialokasikan dan diklasifikasikan sebagai akun beban operasional dalam laporan laba rugi.Pencatatan akan dilakukan berdasarkan aturan saldo normal akuntansi, di mana penambahan beban dicatat di sisi debit kemudian akun akan ditutup ke akun laba rugi di akhir periode akuntansi.2.Akumulasi AmortisasiSelanjutnya terdapat akumulasi amortisasi yang merupakan akun kontra-aset yang tersaji di neraca tepatnya di bawah akun aset tidak berwujud terkait.Akun ini menampung total beban amortisasi yang telah diakui sejak aset diperoleh. Karena berfungsi mengurangi nilai aset, akun akumulasi amortisasi memiliki saldo normal di sisi kredit.3. Aset Tidak BerwujudDalam beberapa kasus, perusahaan dapat memilih untuk mengkredit langsung akun aset tidak berwujud tersebut tanpa menggunakan akun akumulasi.Namun, dalam praktik akuntansi modern akan lebih ideal apabila menggunakan akun akumulasi amortisasi agar informasi harga perolehan asli aset tetap terjaga dan terlihat jelas di laporan posisi keuangan.Struktur akun dalam neraca biasanya akan tampak seperti berikut: Aset Tidak Berwujud (misal: Lisensi Software): RpXXX.XXX Dikurangi: Akumulasi Amortisasi: (RpXX.XXX) Nilai Buku Bersih (Net Book Value): RpXX.XXX Cara Mencatat Jurnal AmortisasiAgar bisa mencatat jurnal amortisasi dengan mudah, terdapat beberapa langkah praktis untuk menjaga validitas data keuangan tetap akurat, mulai dari:1. Identifikasi Aset yang Dapat DiamortisasiLangkah pertama sebelum mencatat jurnal adalah melakukan inventarisasi terhadap seluruh aset tidak berwujud yang dimiliki.Pastikan aset memenuhi syarat PSAK 19, yakni dapat diidentifikasi, dikendalikan, dan memiliki manfaat ekonomi.Beberapa contoh aset yang bisa atau harus diamortisasi, seperti ten, hak cipta, merek dagang yang dibeli, dan lisensi software.2. Penetapan Masa Manfaat EkonomiTentukan berapa lama aset dimanfaatkan oleh perusahaan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti estimasi penggunaan aset oleh entitas, siklus hidup produk, keusangan teknologi, dan durasi perlindungan hukum (misalnya masa berlaku hak paten).3. Perhitungan Nilai Amortisasi PeriodikHitung nilai beban berdasarkan metode yang telah dipilih, misalnya apabila perusahaan melaporkan keuangan secara bulanan, maka nilai tahunan dibagi dengan 12.Pastikan perhitungan ini didokumentasikan dalam kertas kerja amortisasi yang rapi untuk referensi audit di masa depan.Baca Juga: Contoh Jurnal Umum Beserta Tahapan Pembuatannya Dalam Akuntansi4. Input Jurnal ke dalam SistemDi tahap ini, Anda baru bisa mulai mencatatan aset tidak berwujud ke dalam jurnal amortisasi.Untuk entri jurnal penyesuaian di akhir periode, umumnya menggunakan format berikut: Tanggal Akun Debit (Rp) Kredit (Rp) 31/12/202X Beban Amortisasi XX.XXX.XXX Akumulasi Amortisasi XX.XXX.XXX 5. Rekonsiliasi dan PelaporanSetelah entri jurnal telah selesai dilakukan, selanjutnya Anda bisa mempostingnya ke buku besar dan pastikan saldo akun akumulasi amortisasi sesuai dengan jadwal amortisasi yang telah dibuat.Hasilnya kemudian akan tercermin secara otomatis dalam laporan laba rugi (sebagai beban) dan neraca (sebagai pengurang nilai aset).Contoh Kasus Jurnal AmortisasiDi bawah ini terdapat beberapa skenario kasus yang bisa menjadi gambaran contoh penerapan jurnal amortisasi dalam praktik akuntansi dalam perusahaan.Kasus 1: Amortisasi Lisensi Software (Metode Garis Lurus)PT Digital Maju membeli lisensi software ERP untuk operasional perusahaan seharga Rp240.000.000 pada tanggal 1 Januari 2024. Masa manfaat lisensi diperkirakan selama 4 tahun tanpa nilai residu.Untuk perhitungannya sebagai berikut: Beban per Tahun: Rp240.000.000 ÷ 4 tahun = Rp60.000.000 Beban per Bulan: Rp60.000.000 ÷ 12 bulan = Rp5.000.000 Untuk entri jurnal setiap akhir bulan adalah sebagai berikut: Akun Debit Kredit Beban Amortisasi Software Rp5.000.000 Akumulasi Amortisasi Software Rp5.000.000 Baca Juga: Memahami Perbedaan Antara Lisensi Subscription dan Perpetual untuk ERPKasus 2: Amortisasi Hak Paten dengan Nilai ResiduPT Inovasi Medika memiliki hak paten formula obat dengan harga perolehan Rp600.000.000. Masa manfaat 10 tahun. Di akhir tahun ke-10, ada perusahaan lain yang berkomitmen membeli paten tersebut seharga Rp60.000.000.Perhitungan armotisasinya sebagai berikut: Dasar Amortisasi: Rp600.000.000 – Rp60.000.000 = Rp540.000.000 Beban Tahunan: Rp540.000.000 ÷ 10 tahun = Rp54.000.000 Jurnal akhir tahun akan terbentuk sebagai berikut: Akun Debit Kredit Beban Amortisasi Paten Rp54.000.000 Akumulasi Amortisasi Paten Rp54.000.000 Kasus 3: Amortisasi Berdasarkan Unit Produksi (Fiskal)Berdasarkan Pasal 11A ayat 5 UU PPh, pengeluaran untuk hak pengusahaan hutan dapat diamortisasi menggunakan metode satuan produksi dengan limitasi tertentu.Misalnya, PT Forestry Abadi memiliki hak pengusahaan hutan senilai Rp500.000.000 dengan estimasi total produksi 10.000.000 unit.Jika tahun ini memproduksi 3.000.000 unit, persentase amortisasinya adalah 30%.Namun, karena ada limitasi fiskal maksimal 20% setahun untuk metode ini, maka beban yang diakui adalah:Amortisasi Fiskal: 20% x Rp500.000.000 = Rp100.000.000Beberapa Contoh Amortisasi dalam Laporan Keuangan PerusahaanJurnal amortisasi bisa juga Anda temukan dalam berbagai laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan secara luas di internet.Salah satu contoh pencatatan amortisasi dapat ditemukan dalam laporan keuangan konsolidasi yang dipublikasikan di IDX sebagai berikut:Sumber: IDXSumber: IDXTips Praktis dalam Pencatatan AmortisasiBagi Anda yang sedang mencari tips mengenai bagaimana mencatat jurnal amortisasi yang akurat dan optimal, bagian ini bisa menjadi jawabannya. Pilih metode amortisasi yang paling mencerminkan pola konsumsi manfaat ekonomi aset secara konsisten untuk memudahkan perbandingan laporan keuangan dari tahun ke tahun Catat perbedaan antara masa manfaat komersial (PSAK) dan fiskal (UU PPh) dalam kertas kerja yang terpisah Jangan hanya mencatat, tetapi lakukan juga evaluasi apakah aset masih memiliki manfaat ekonomi. Jika teknologi software yang diamortisasi sudah tidak digunakan lagi, maka sisa nilai bukunya harus segera dihapusbukukan (write-off). Simpan seluruh bukti perolehan aset, seperti kontrak lisensi, sertifikat paten, atau kuitansi pembelian aset tak berwujud secara rapi untuk kemudahan proses audit dan pemeriksaan pajak Manfaatkan aplikasi laporan keuangan komprehensif, seperti Mekari Jurnal, yang mengakomodir fitur-fitur untuk pencatatan otomatis, sehingga jurnal akan terbentuk sendiri setiap akhir periode tanpa risiko terlupakan. KesimpulanJurnal amortisasi menjadi metode penting dalam mengelola akuntansi aset tidak berwujud dalam sebuah perusahaan secara sistematis dan transparan.Melalui mekanisme ini, perusahaan dapat mengoptimalkan kewajiban pajak sesuai UU PPh Pasal 11A serta memberikan gambaran nilai perusahaan yang akurat bagi para pemangku kepentingan.Seiring perkembangan zaman, metode pencatatan manual kini telah bertransformasi menuju otomatisasi berbasis AI. Ini mendorong perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional, termasuk meminimalisir risiko human error.Salah satu rekomendasi sistem akuntansi modern buatan lokal yang bisa Anda gunakan adalah Mekari Jurnal.Mekari Jurnal adalah software akuntansi yang merupakan bagian dari ekosistem software terintegrasi Mekari yang menyediakan fitur pencatatan otomatis dan terhubung langsung dengan laporan keuangan secara real-time.Hal ini terbukti berdasarkan studi kasus dari klien kami, yaitu PT Alpine Renewables Commodities menunjukkan bahwa penggunaan Mekari Jurnal berhasil memangkas waktu operasional keuangan hingga 40%, termasuk dalam proses pencatatan penyusutan dan amortisasi.Coba gratis sekarang juga dan rasakan pertumbuhan bisnis secara signifikan untuk jangka panjang!Konsultasi Gratis dengan Tim Mekari Jurnal Sekarang! Referensi:Universal CPA Review, “What is the journal entry to record amortization expense?”.Thomson Reuters, “Amortization in accounting 101”.IDX, “Laporan Keuangan Konsolidasian” Kategori : Financial Accounting Artikel Sebelumnya Artikel Selanjutnya Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal Facebook Instagram LinkedIn YouTube Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Bagikan artikelWhatsAppLinkedinFacebook
Jurnal Amortisasi: Pengertian, Cara Mencatat & Contoh Kasus Lengkap Mekari Jurnal Highlights Pencatatan amortisasi diatur dalam PSAK 19 untuk pelaporan komersial dan UU PPh Pasal 11A untuk tujuan perpajakan, sehingga berperan penting dalam kepatuhan regulasi dan perencanaan pajak Amortisasi memastikan aset tidak berwujud disajikan sesuai sisa manfaat ekonominya serta mencegah overstatement aset dan laba yang tidak realistis, sejalan dengan prinsip matching dalam akuntansi Pemanfaatan software akuntansi modern seperti Mekari Jurnal memungkinkan pencatatan amortisasi otomatis dan real-time, mengurangi risiko human error, serta meningkatkan efisiensi operasional keuangan Saat ini dinamika bisnis semakin kompetitif dengan kemampuan sebuah entitas untuk mengelola hak kekayaan intelektual dan perangkat lunak menentukan keberlanjutan operasional serta kepercayaan investor.Ekonomi yang berkembang ke arah digital menempatkan aset tidak berwujud sebagai instrumen vital dalam penilaian sebuah perusahaan.Untuk mengalokasikan biaya perolehan aset tersebut, entitas perlu menjalankan praktik akuntansi yang dikenal dengan jurnal amortitasi.Tanpa adanya jurnal amortisasi, perusahaan berisiko menyajikan nilai aset yang terlalu tinggi dan laba yang tidak realistis.Oleh karena itu, para profesional, mahasiswa akuntan, hingga pemilik bisnis di Indonesia perlu memahami bagaimana teknis pencatatan jurnal amortisasi untuk menyajikan laporan keuangan yang akurat dan mencerminkan finansial perusahaan yang sebenarnya. Apa Itu Jurnal Amortisasi?Jurnal amortisasi merupakan catatan akuntansi sistematis yang berguna untuk mendokumentasikan alokasi biaya perolehan aset tidak berwujud sebagai beban pada setiap periode pelaporan keuangan.Jika melihat dari fungsi, jurnal ini mengakui penurunan nilai manfaat ekonomi dari sebuah aset seiring berjalannya waktu atau pemanfaatannya.Namun, jika melihat dari sisi teknis, jurnal digunakan untuk memindahkan sebagian nilai dari akun aset di neraca menuju akun beban di laporan laba rugi.Mekanisme yang diterapkan dalam jurnal amortisasi sejalan dengan prinsip pencocokan biaya dan pendapatan, di mana beban harus diakui pada periode yang sama dengan pendapatan yang dihasilkan oleh aset tersebut diperoleh.Untuk dapat dicatat dan diamortisasi, sebuah aset tidak berwujud harus memenuhi tiga kriteria berikut: Perusahaan memiliki kontrol atas aset tersebut Aset dapat dipisahkan atau dijual secara mandiri Terdapat kepastian manfaat ekonomi masa depan yang akan mengalir ke perusahaan Pencatatan jurnal amortisasi biasanya menggunakan jurnal penyesuaian di akhir bulan atau akhir tahun.Adanya pencatatan ini membantu nilai buku bersih dari aset tidak berwujud di neraca akan selalu mencerminkan sisa manfaat yang masih dimiliki perusahaan, sementara beban yang dilaporkan di laba rugi mencerminkan biaya yang benar-benar dikonsumsi untuk menghasilkan pendapatan pada periode tersebut.Baca Juga: Amortisasi: Pengertian, Rumus Amortisasi, Cara Menghitung dan Contoh dalam Akuntansi BisnisFungsi dan Tujuan Jurnal Amortisasi dalam AkuntansiJika melihat dari konteks yang lebih luas, jurnal amortisasi dalam siklus akuntansi perusahaan juga menjalankan fungsi dalam mengelola aspek-aspek penting dalam pelaporan.Adapun beberapa fungsi dan tujuan lain dari jurnal amortisasi dalam akuntansi sebagai berikut:1. Menciptakan Transparansi Laporan KeuanganAmortisasi mencatat penggunaan aset tidak berwujud secara transparan, sehingga pemakai informasi akuntansi dapat melihat bagaimana nilai aset menyusut seiring berjalannya waktu dan berapa besar investasi yang masih tersisa.2. Mengakui Beban Secara Sistematis di Laporan Laba RugiFungsi yang kedua adalah untuk mengukur laba bersih yang sebenarnya secara konsisten. Dengan mengakui beban setiap periode, perusahaan terhindar dari lonjakan biaya yang besar dalam satu tahun tertentu.Baca Juga: Hubungan Laporan Laba-Rugi, Neraca, dan Perubahan Modal3. Membantu Evaluasi Sisa Umur Ekonomis AsetManajemen bisa memanfaatkan jurnal amortisasi untuk memantau sisa masa manfaat suatu aset tidak berwujud hingga masa habis masa berlakunya dan rencana proaktif untuk menggantikannya.4. Memenuhi Prinsip Akuntansi dan Kepatuhan PajakPencatatan amortisasi sejatinya sudah tercantum sebagai sebuah kewajiban dalam laporan keuangan menurut PSAK 19.Dari sisi fiskal, amortisasi juga telah diatur dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 11A.5. Mempermudah Proses Audit dan RekonsiliasiTerakhir, adanya pencatatan amortisasi juga mempermudah proses audit dan rekonsiliasi bagi auditor internal maupun eksternal.Setiap pengurangan nilai aset didukung oleh perhitungan yang logis dan konsisten, sehingga meminimalisir risiko salah saji aset dan membantu rekonsiliasi akun akumulasi amortisasi di akhir tahun.Baca Juga: Perbedaan dan Pentingnya Audit Internal dan EksternalKomponen Akun dalam Jurnal AmortisasiUntuk menciptakan jurnal amortisasi yang ideal, terdapat akun-akun penting yang dirancang untuk melacak alokasi biaya dan pengurangan nilai aset.Tiga komponen utama yang akan ditemukan dalam pencatatan amortisasi, yakni:1. Beban AmortisasiAkun ini mencatat nilai biaya yang dialokasikan dan diklasifikasikan sebagai akun beban operasional dalam laporan laba rugi.Pencatatan akan dilakukan berdasarkan aturan saldo normal akuntansi, di mana penambahan beban dicatat di sisi debit kemudian akun akan ditutup ke akun laba rugi di akhir periode akuntansi.2.Akumulasi AmortisasiSelanjutnya terdapat akumulasi amortisasi yang merupakan akun kontra-aset yang tersaji di neraca tepatnya di bawah akun aset tidak berwujud terkait.Akun ini menampung total beban amortisasi yang telah diakui sejak aset diperoleh. Karena berfungsi mengurangi nilai aset, akun akumulasi amortisasi memiliki saldo normal di sisi kredit.3. Aset Tidak BerwujudDalam beberapa kasus, perusahaan dapat memilih untuk mengkredit langsung akun aset tidak berwujud tersebut tanpa menggunakan akun akumulasi.Namun, dalam praktik akuntansi modern akan lebih ideal apabila menggunakan akun akumulasi amortisasi agar informasi harga perolehan asli aset tetap terjaga dan terlihat jelas di laporan posisi keuangan.Struktur akun dalam neraca biasanya akan tampak seperti berikut: Aset Tidak Berwujud (misal: Lisensi Software): RpXXX.XXX Dikurangi: Akumulasi Amortisasi: (RpXX.XXX) Nilai Buku Bersih (Net Book Value): RpXX.XXX Cara Mencatat Jurnal AmortisasiAgar bisa mencatat jurnal amortisasi dengan mudah, terdapat beberapa langkah praktis untuk menjaga validitas data keuangan tetap akurat, mulai dari:1. Identifikasi Aset yang Dapat DiamortisasiLangkah pertama sebelum mencatat jurnal adalah melakukan inventarisasi terhadap seluruh aset tidak berwujud yang dimiliki.Pastikan aset memenuhi syarat PSAK 19, yakni dapat diidentifikasi, dikendalikan, dan memiliki manfaat ekonomi.Beberapa contoh aset yang bisa atau harus diamortisasi, seperti ten, hak cipta, merek dagang yang dibeli, dan lisensi software.2. Penetapan Masa Manfaat EkonomiTentukan berapa lama aset dimanfaatkan oleh perusahaan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, seperti estimasi penggunaan aset oleh entitas, siklus hidup produk, keusangan teknologi, dan durasi perlindungan hukum (misalnya masa berlaku hak paten).3. Perhitungan Nilai Amortisasi PeriodikHitung nilai beban berdasarkan metode yang telah dipilih, misalnya apabila perusahaan melaporkan keuangan secara bulanan, maka nilai tahunan dibagi dengan 12.Pastikan perhitungan ini didokumentasikan dalam kertas kerja amortisasi yang rapi untuk referensi audit di masa depan.Baca Juga: Contoh Jurnal Umum Beserta Tahapan Pembuatannya Dalam Akuntansi4. Input Jurnal ke dalam SistemDi tahap ini, Anda baru bisa mulai mencatatan aset tidak berwujud ke dalam jurnal amortisasi.Untuk entri jurnal penyesuaian di akhir periode, umumnya menggunakan format berikut: Tanggal Akun Debit (Rp) Kredit (Rp) 31/12/202X Beban Amortisasi XX.XXX.XXX Akumulasi Amortisasi XX.XXX.XXX 5. Rekonsiliasi dan PelaporanSetelah entri jurnal telah selesai dilakukan, selanjutnya Anda bisa mempostingnya ke buku besar dan pastikan saldo akun akumulasi amortisasi sesuai dengan jadwal amortisasi yang telah dibuat.Hasilnya kemudian akan tercermin secara otomatis dalam laporan laba rugi (sebagai beban) dan neraca (sebagai pengurang nilai aset).Contoh Kasus Jurnal AmortisasiDi bawah ini terdapat beberapa skenario kasus yang bisa menjadi gambaran contoh penerapan jurnal amortisasi dalam praktik akuntansi dalam perusahaan.Kasus 1: Amortisasi Lisensi Software (Metode Garis Lurus)PT Digital Maju membeli lisensi software ERP untuk operasional perusahaan seharga Rp240.000.000 pada tanggal 1 Januari 2024. Masa manfaat lisensi diperkirakan selama 4 tahun tanpa nilai residu.Untuk perhitungannya sebagai berikut: Beban per Tahun: Rp240.000.000 ÷ 4 tahun = Rp60.000.000 Beban per Bulan: Rp60.000.000 ÷ 12 bulan = Rp5.000.000 Untuk entri jurnal setiap akhir bulan adalah sebagai berikut: Akun Debit Kredit Beban Amortisasi Software Rp5.000.000 Akumulasi Amortisasi Software Rp5.000.000 Baca Juga: Memahami Perbedaan Antara Lisensi Subscription dan Perpetual untuk ERPKasus 2: Amortisasi Hak Paten dengan Nilai ResiduPT Inovasi Medika memiliki hak paten formula obat dengan harga perolehan Rp600.000.000. Masa manfaat 10 tahun. Di akhir tahun ke-10, ada perusahaan lain yang berkomitmen membeli paten tersebut seharga Rp60.000.000.Perhitungan armotisasinya sebagai berikut: Dasar Amortisasi: Rp600.000.000 – Rp60.000.000 = Rp540.000.000 Beban Tahunan: Rp540.000.000 ÷ 10 tahun = Rp54.000.000 Jurnal akhir tahun akan terbentuk sebagai berikut: Akun Debit Kredit Beban Amortisasi Paten Rp54.000.000 Akumulasi Amortisasi Paten Rp54.000.000 Kasus 3: Amortisasi Berdasarkan Unit Produksi (Fiskal)Berdasarkan Pasal 11A ayat 5 UU PPh, pengeluaran untuk hak pengusahaan hutan dapat diamortisasi menggunakan metode satuan produksi dengan limitasi tertentu.Misalnya, PT Forestry Abadi memiliki hak pengusahaan hutan senilai Rp500.000.000 dengan estimasi total produksi 10.000.000 unit.Jika tahun ini memproduksi 3.000.000 unit, persentase amortisasinya adalah 30%.Namun, karena ada limitasi fiskal maksimal 20% setahun untuk metode ini, maka beban yang diakui adalah:Amortisasi Fiskal: 20% x Rp500.000.000 = Rp100.000.000Beberapa Contoh Amortisasi dalam Laporan Keuangan PerusahaanJurnal amortisasi bisa juga Anda temukan dalam berbagai laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan secara luas di internet.Salah satu contoh pencatatan amortisasi dapat ditemukan dalam laporan keuangan konsolidasi yang dipublikasikan di IDX sebagai berikut:Sumber: IDXSumber: IDXTips Praktis dalam Pencatatan AmortisasiBagi Anda yang sedang mencari tips mengenai bagaimana mencatat jurnal amortisasi yang akurat dan optimal, bagian ini bisa menjadi jawabannya. Pilih metode amortisasi yang paling mencerminkan pola konsumsi manfaat ekonomi aset secara konsisten untuk memudahkan perbandingan laporan keuangan dari tahun ke tahun Catat perbedaan antara masa manfaat komersial (PSAK) dan fiskal (UU PPh) dalam kertas kerja yang terpisah Jangan hanya mencatat, tetapi lakukan juga evaluasi apakah aset masih memiliki manfaat ekonomi. Jika teknologi software yang diamortisasi sudah tidak digunakan lagi, maka sisa nilai bukunya harus segera dihapusbukukan (write-off). Simpan seluruh bukti perolehan aset, seperti kontrak lisensi, sertifikat paten, atau kuitansi pembelian aset tak berwujud secara rapi untuk kemudahan proses audit dan pemeriksaan pajak Manfaatkan aplikasi laporan keuangan komprehensif, seperti Mekari Jurnal, yang mengakomodir fitur-fitur untuk pencatatan otomatis, sehingga jurnal akan terbentuk sendiri setiap akhir periode tanpa risiko terlupakan. KesimpulanJurnal amortisasi menjadi metode penting dalam mengelola akuntansi aset tidak berwujud dalam sebuah perusahaan secara sistematis dan transparan.Melalui mekanisme ini, perusahaan dapat mengoptimalkan kewajiban pajak sesuai UU PPh Pasal 11A serta memberikan gambaran nilai perusahaan yang akurat bagi para pemangku kepentingan.Seiring perkembangan zaman, metode pencatatan manual kini telah bertransformasi menuju otomatisasi berbasis AI. Ini mendorong perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional, termasuk meminimalisir risiko human error.Salah satu rekomendasi sistem akuntansi modern buatan lokal yang bisa Anda gunakan adalah Mekari Jurnal.Mekari Jurnal adalah software akuntansi yang merupakan bagian dari ekosistem software terintegrasi Mekari yang menyediakan fitur pencatatan otomatis dan terhubung langsung dengan laporan keuangan secara real-time.Hal ini terbukti berdasarkan studi kasus dari klien kami, yaitu PT Alpine Renewables Commodities menunjukkan bahwa penggunaan Mekari Jurnal berhasil memangkas waktu operasional keuangan hingga 40%, termasuk dalam proses pencatatan penyusutan dan amortisasi.Coba gratis sekarang juga dan rasakan pertumbuhan bisnis secara signifikan untuk jangka panjang!Konsultasi Gratis dengan Tim Mekari Jurnal Sekarang! Referensi:Universal CPA Review, “What is the journal entry to record amortization expense?”.Thomson Reuters, “Amortization in accounting 101”.IDX, “Laporan Keuangan Konsolidasian”