ISAK 35: Pengertian, Ruang Lingkup, Format Laporan Keuangan, dan Cara Penerapannya pada Entitas Nonlaba Highlights Menggantikan PSAK 45, ISAK 35 mengatur penyajian laporan keuangan entitas nonlaba agar lebih selaras dengan PSAK dan IFRS Standar ini memastikan laporan keuangan mampu menunjukkan penggunaan dana secara jelas untuk menjaga kepercayaan donatur Entitas nonlaba menggunakan klasifikasi aset neto dengan dan tanpa pembatasan sebagai pengganti konsep ekuitas Transparansi dan akuntabilitas menjadi fondasi utama bagi yayasan, lembaga pendidikan, maupun organisasi sosial agar tetap relevan dan dipercaya oleh para donatur.Salah satu langkah strategis untuk mengelola keuangan dengan rapi adalah melalui interpretasi standar akuntansi keuangan (ISAK) 35 yang diterapkan dalam laporan keuangan yang rapi, akuntabel, dan bisa dipertanggungjawabkan.Hal ini diatur karena banyak yang merasa laporan keuangan formal terlalu berfokus pada urusan bisnis, sedangkan organisasi nonlaba memiliki kebutuhan untuk menjaga tingkat kepercayaan melalui transparansi keuangan.Tanpa laporan yang terstandar, kepercayaan bisa runtuh, dan kepercayaan adalah aset paling berharga yang dimiliki entitas nonlaba. Apa Itu ISAK 35?Mengutip dari Ikatan Akuntansi Indonesia, menjelaskan bahwa ISAK 35 adalah standar akuntansi yang secara khusus mengatur tentang penyajian laporan keuangan entitas berorientasi nonlaba di Indonesia.Secara teknis, ISAK 35 merupakan interpretasi atas PSAK 1 (sekarang dikenal PSAK 201) tentang Penyajian Laporan Keuangan, khususnya pada paragraf 05 yang mengatur entitas dengan karakteristik khusus.Alasan perubahan ini dikarenakan bagian dari penyesuaian sistem penomoran standar global, sehingga baik penyebutan ISAK 35 maupun ISAK 335 merujuk pada substansi yang sama.Siapa yang Perlu Menggunakan atau Memahami ISAK 35?ISAK 35 berlaku untuk entitas yang memiliki karakteristik berorientasi nonlaba, di mana dalam hal ini terdapat tiga ciri utama dalam entitas ini, yakni: Sumber dayanya diperoleh dari pemberi yang tidak mengharapkan pembayaran kembali atau manfaat ekonomi yang sebanding Entitas menghasilkan barang atau jasa tanpa tujuan memupuk laba Tidak ada kepemilikan seperti pada entitas bisnis yang bisa dijual, dialihkan, atau ditebus kembali Dalam praktik di Indonesia, entitas yang paling relevan dengan ISAK 35 mencakup berbagai bentuk organisasi, yaitu: Yayasan Pendidikan: Mulai dari sekolah tingkat dasar hingga perguruan tinggi yang dikelola secara non-komersial Organisasi Sosial dan Amal: Lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau NGO yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat Lembaga Keagamaan: Pengelola tempat ibadah atau organisasi berbasis religi yang mengelola dana umat Akuntan dan Pengelola Keuangan: Para profesional yang menangani pembukuan pada entitas berorientasi nonlaba agar laporan yang dihasilkan memenuhi standar audit Baca Juga: 4 Standar Akuntansi Keuangan yang Berlaku di IndonesiaHubungan ISAK 35 dengan PSAK 1 dan PSAK 45Selama lebih dari dua dekade, laporan keuangan entitas nonlaba di Indonesia diatur oleh PSAK 45, yang berlaku sejak 1997.Adapun PSAK 45 memiliki pendekatan tersendiri yang berbeda dari PSAK 1 dan di sinilah masalah mulai muncul.Masalah dimulai ketika terdapat dua jalur pelaporan yang berbeda, satu untuk entitas komersial via PSAK 1, satu lagi untuk nonlaba via PSAK 45. Sehingga kemudian IAI memutuskan untuk menyatukan pendekatannya: penyajian laporan keuangan nonlaba cukup diatur sebagai interpretasi dari PSAK 1, bukan sebagai pernyataan standar tersendiri. Inilah yang kemudian melahirkan ISAK 35.Jika ingin membandingkan antara PSAK 45 dengan ISAK 35, maka akan terlihat sebagai berikut: Aspek PSAK 45 (Lama) ISAK 35/ ISAK 335 (Baru) Status Standar Standar Akuntansi Keuangan mandiri untuk nonlaba Interpretasi atas PSAK 1/ PSAK 201 Fokus Utama Pelaporan keuangan organisasi nirlaba Penyajian laporan keuangan entitas nonlaba Masa Berlaku Berakhir pada 31 Desember 2019 Efektif sejak 1 Januari 2020 Landasan Hukum PSAK 45 PPSAK 13 (Pencabutan PSAK 45) dan ISAK 35 Apa yang Diatur ISAK 35 dan Apa yang Tidak Diatur?Secara substansi, IAI sudah menegaskan bahwa ISAK 35 hanya mengatur penyajian laporan keuangan entitas berorientasi nonlaba.Sedangkan untuk pengelolaan lain seperti pengakuan dan pengukuran transaksi, akan mengacu pada SAK Indonesia yang lebih relevan, misalnya PSAK 23 untuk pengakuan pendapatan, PSAK 16 untuk aset tetap, atau PSAK yang relevan lainnya.Sementara entitas nonlaba yang lebih kecil dan menggunakan SAK Entitas Privat (SAK EP) atau bahkan SAK EMKM akan merujuk ke standar pada tier yang sesuai.Baca Juga: PSAK 72: Pengertian, 5 Tahapan, dan Poin Penting yang Harus DiperhatikanKomponen Laporan Keuangan Menurut ISAK 35Terdapat lima komponen utama yang harus disajikan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai posisi keuangan dan pengelolaan dana. No. Komponen Laporan Fungsi 1 Laporan Posisi Keuangan Menyajikan aset, liabilitas, dan aset neto pada tanggal tertentu 2 Laporan Penghasilan Komprehensif Menyajikan penghasilan, beban, dan perubahan nilai aset neto selama periode 3 Laporan Perubahan Aset Neto Menyajikan rekonsiliasi saldo aset neto dari awal hingga akhir periode 4 Laporan Arus Kas Menyajikan penerimaan dan pengeluaran kas menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan 5 Catatan Atas Laporan Keuangan (CaLK) Mengungkapkan kebijakan akuntansi signifikan dan informasi penjelasan tambahan Perbedaan paling mencolok dibanding laporan keuangan entitas komersial adalah keberadaan Laporan Perubahan Aset Neto. Komponen ini menggantikan peran laporan perubahan ekuitas dalam konteks nonlaba.Ini diperlukan karena entitas nonlaba tidak memiliki “ekuitas pemilik”, melainkan “aset neto” yang mencerminkan sumber daya tersisa setelah dikurangi liabilitas.Penyesuaian Istilah Khas dalam ISAK 35Karena karakteristik entitas berorientasi nonlaba berbeda dengan entitas komersial, ISAK 35 melakukan penyesuaian deskripsi pada beberapa istilah kunci.Salah satu aspek yang paling penting adalah klasifikasi aset neto yang dibagi menjadi dua kategori, yaitu: Aset Neto dengan Pembatasan: Sumber daya yang penggunaannya dibatasi oleh pemberi sumber daya (donatur) untuk tujuan tertentu atau periode waktu tertentu Aset Neto tanpa Pembatasan: Sumber daya yang dapat digunakan secara bebas oleh organisasi untuk menjalankan aktivitas operasional sesuai kebijakan internal Selain klasifikasi aset neto, ISAK 35 juga mengakomodasi penyesuaian judul laporan, yaitu laporan perubahan ekuitas menjadi laporan perubahan aset neto sebagai cerminan bahwa entitas nonlaba tidak memiliki konsep kepemilikan seperti entitas komersial.Contoh Penerapan ISAK 35 pada Yayasan atau Organisasi NonlabaImplementasi praktis standar ini dapat dilihat pada berbagai lembaga di Indonesia. Sebagai contoh, sebuah ISAK 35 yayasan pendidikan harus mampu memisahkan sumber dana dari tiga jalur: iuran bulanan siswa, donasi rutin dari para wali murid tanpa syarat penggunaan, dan hibah dari lembaga filantropi untuk pembangunan perpustakaan.Menurut ISAK 35, yayasan ini perlu memisahkan antara dana untuk perpustakaan (aset neto dengan pembatasan) dan dana operasional umum dari iuran dan donasi (aset neto tanpa pembatasan).Laporan posisi keuangannya harus menampilkan dua baris terpisah untuk dua kategori aset neto ini, bukan digabung menjadi satu angka.Laporan perubahan aset neto menunjukkan pergerakan tiap kategori sepanjang tahun, mulai dari hibah yang diterima, dana terbatas yang telah digunakan, hingga saldo akhir.Lalu dalam laporan penghasilan komprehensif, yayasan mencatat seluruh penghasilan seperti iuran, donasi, dan hasil investasi, serta seluruh beban seperti gaji, operasional, dan depresiasi secara terpisah.Hasil akhirnya bukan laba bersih, melainkan kenaikan atau penurunan aset neto yang menunjukkan apakah sumber daya organisasi bertambah atau berkurang selama periode tersebut.Baca Juga: Format Laporan Keuangan Menurut PSAK 201: Komponen, Susunan, dan Contoh PenyajiannyaTantangan Umum dalam Implementasi ISAK 35Meskipun telah berlaku cukup lama, banyak organisasi masih menghadapi tantangan dalam proses transisi dan konsistensi penerapan.Klasifikasi aset neto sering menjadi kendala karena sulit menentukan pembatasan hibah saat dokumen pendukung tidak lengkap, transisi dari PSAK 45 ke ISAK 35 masih terkendala kebiasaan penggunaan format lama, dan kualitas data serta sistem yang lemah membuat penyusunan laporan menjadi manual serta berisiko tinggi terjadi kesalahan.Ikatan Akuntan Indonesia bahkan telah melakukan post implementation review pada tahun 2025 untuk mengevaluasi tantangan tersebut, menunjukkan bahwa praktik akuntansi nonlaba terus dipantau dan disempurnakan secara berkelanjutan.Praktik Terbaik dan Solusi Teknologi untuk Penerapan ISAK 35Untuk memastikan organisasi Anda memenuhi standar akuntabilitas modern, langkah-langkah strategis berikut perlu dilakukan:1. Rancang Chart of Account yang Tepat Sejak AwalKode akun harus dirancang untuk memisahkan aset neto dengan dan tanpa pembatasan sejak tingkat paling dasar. Jangan menunggu laporan tahunan untuk melakukan pemisahan, tetapi pastikan pemisahan sudah terjadi dalam setiap pencatatan transaksi harian.2. Buat Kebijakan Penerimaan Donasi yang JelasSetiap donasi yang masuk harus langsung dikategorikan, apakah memiliki pembatasan dari pemberi atau tidak. Seluruh kebijakan ini perlu didokumentasikan secara tertulis, termasuk untuk donasi dengan nilai kecil.3. Siapkan Format Laporan yang KonsistenTemplate laporan posisi keuangan, laporan penghasilan komprehensif, laporan perubahan aset neto, laporan arus kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan sebaiknya sudah disiapkan sejak awal tahun buku, bukan dibuat secara terburu-buru menjelang akhir periode.4. Gunakan Software Akuntansi yang Mendukung Kebutuhan NonlabaPenggunaan software akuntansi yang tepat memberikan dampak signifikan bagi yayasan. Sistem yang baik memungkinkan pemisahan dana secara otomatis, mempercepat proses rekonsiliasi, serta menghasilkan laporan secara real-time tanpa perlu pengolahan ulang secara manual.KesimpulanISAK 35 merupakan instrumen penting yang memberikan panduan jelas mengenai penyajian laporan keuangan bagi entitas berorientasi nonlaba di Indonesia.Dengan memahami hubungan antara ISAK 35, PSAK 1, dan pencabutan PSAK 45, organisasi dapat menyajikan informasi yang lebih relevan bagi para pemangku kepentingan.Implementasinya memang tidak selalu mudah, terutama bagi organisasi yang belum memiliki sistem pencatatan yang memadai. Namun, dengan pendekatan yang tepat, standar ini sangat bisa diterapkan bahkan oleh yayasan kecil sekalipun.Dengan sistem akuntansi yang tepat seperti Mekari Jurnal, proses pencatatan dan penyajian laporan keuangan entitas nonlaba bisa dilakukan dengan lebih efisien, konsisten, dan sesuai standar yang berlaku.Coba Gratis sekarang juga!Saya Mau Bertanya Ke Sales Mekari Jurnal Sekarang! Referensi:IAI, “Post-Implementation Review ISAK 335: Penyajian Laporan Keuangan Entitas Berorientasi Nonlaba”.IAI, “Pengesahan ISAK 35, Amandemen PSAK 1, Penyesuaian Tahunan PSAK 1 dan PPSAK 13”. FAQ Tentang Apa itu ISAK 35 dalam akuntansi? Apa itu ISAK 35 dalam akuntansi? ISAK 35 adalah standar akuntansi yang mengatur penyajian laporan keuangan untuk entitas nonlaba di Indonesia. Apa tujuan penerapan ISAK 35? Apa tujuan penerapan ISAK 35? Tujuannya adalah meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan publik terhadap laporan keuangan organisasi nonlaba. Siapa yang wajib menggunakan ISAK 35? Siapa yang wajib menggunakan ISAK 35? ISAK 35 digunakan oleh entitas nonlaba seperti yayasan, organisasi sosial, lembaga keagamaan, dan NGO. Apa saja komponen laporan keuangan menurut ISAK 35? Apa saja komponen laporan keuangan menurut ISAK 35? Komponennya meliputi laporan posisi keuangan, penghasilan komprehensif, perubahan aset neto, arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Apa perbedaan aset neto dengan dan tanpa pembatasan? Apa perbedaan aset neto dengan dan tanpa pembatasan? Aset neto dengan pembatasan memiliki batasan penggunaan dari donor, sedangkan tanpa pembatasan dapat digunakan bebas oleh organisasi. Mengapa laporan perubahan aset neto penting? Mengapa laporan perubahan aset neto penting? Karena menunjukkan perubahan sumber daya organisasi selama periode tertentu dan menggantikan laporan perubahan ekuitas. Bagaimana cara menerapkan ISAK 35 dengan benar? Bagaimana cara menerapkan ISAK 35 dengan benar? Mulai dengan pemisahan akun yang jelas, kebijakan donasi yang terstruktur, dan penggunaan sistem akuntansi yang sesuai. Apakah ISAK 35 mengatur pengakuan dan pengukuran transaksi? Apakah ISAK 35 mengatur pengakuan dan pengukuran transaksi? Tidak, ISAK 35 hanya mengatur penyajian laporan keuangan, sedangkan pengakuan dan pengukuran mengikuti PSAK lain yang relevan. Kategori : Financial Accounting Artikel Sebelumnya Artikel Selanjutnya Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal Facebook Instagram LinkedIn YouTube Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Bagikan artikelWhatsAppLinkedinFacebook
ISAK 35: Pengertian, Ruang Lingkup, Format Laporan Keuangan, dan Cara Penerapannya pada Entitas Nonlaba Highlights Menggantikan PSAK 45, ISAK 35 mengatur penyajian laporan keuangan entitas nonlaba agar lebih selaras dengan PSAK dan IFRS Standar ini memastikan laporan keuangan mampu menunjukkan penggunaan dana secara jelas untuk menjaga kepercayaan donatur Entitas nonlaba menggunakan klasifikasi aset neto dengan dan tanpa pembatasan sebagai pengganti konsep ekuitas Transparansi dan akuntabilitas menjadi fondasi utama bagi yayasan, lembaga pendidikan, maupun organisasi sosial agar tetap relevan dan dipercaya oleh para donatur.Salah satu langkah strategis untuk mengelola keuangan dengan rapi adalah melalui interpretasi standar akuntansi keuangan (ISAK) 35 yang diterapkan dalam laporan keuangan yang rapi, akuntabel, dan bisa dipertanggungjawabkan.Hal ini diatur karena banyak yang merasa laporan keuangan formal terlalu berfokus pada urusan bisnis, sedangkan organisasi nonlaba memiliki kebutuhan untuk menjaga tingkat kepercayaan melalui transparansi keuangan.Tanpa laporan yang terstandar, kepercayaan bisa runtuh, dan kepercayaan adalah aset paling berharga yang dimiliki entitas nonlaba. Apa Itu ISAK 35?Mengutip dari Ikatan Akuntansi Indonesia, menjelaskan bahwa ISAK 35 adalah standar akuntansi yang secara khusus mengatur tentang penyajian laporan keuangan entitas berorientasi nonlaba di Indonesia.Secara teknis, ISAK 35 merupakan interpretasi atas PSAK 1 (sekarang dikenal PSAK 201) tentang Penyajian Laporan Keuangan, khususnya pada paragraf 05 yang mengatur entitas dengan karakteristik khusus.Alasan perubahan ini dikarenakan bagian dari penyesuaian sistem penomoran standar global, sehingga baik penyebutan ISAK 35 maupun ISAK 335 merujuk pada substansi yang sama.Siapa yang Perlu Menggunakan atau Memahami ISAK 35?ISAK 35 berlaku untuk entitas yang memiliki karakteristik berorientasi nonlaba, di mana dalam hal ini terdapat tiga ciri utama dalam entitas ini, yakni: Sumber dayanya diperoleh dari pemberi yang tidak mengharapkan pembayaran kembali atau manfaat ekonomi yang sebanding Entitas menghasilkan barang atau jasa tanpa tujuan memupuk laba Tidak ada kepemilikan seperti pada entitas bisnis yang bisa dijual, dialihkan, atau ditebus kembali Dalam praktik di Indonesia, entitas yang paling relevan dengan ISAK 35 mencakup berbagai bentuk organisasi, yaitu: Yayasan Pendidikan: Mulai dari sekolah tingkat dasar hingga perguruan tinggi yang dikelola secara non-komersial Organisasi Sosial dan Amal: Lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau NGO yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat Lembaga Keagamaan: Pengelola tempat ibadah atau organisasi berbasis religi yang mengelola dana umat Akuntan dan Pengelola Keuangan: Para profesional yang menangani pembukuan pada entitas berorientasi nonlaba agar laporan yang dihasilkan memenuhi standar audit Baca Juga: 4 Standar Akuntansi Keuangan yang Berlaku di IndonesiaHubungan ISAK 35 dengan PSAK 1 dan PSAK 45Selama lebih dari dua dekade, laporan keuangan entitas nonlaba di Indonesia diatur oleh PSAK 45, yang berlaku sejak 1997.Adapun PSAK 45 memiliki pendekatan tersendiri yang berbeda dari PSAK 1 dan di sinilah masalah mulai muncul.Masalah dimulai ketika terdapat dua jalur pelaporan yang berbeda, satu untuk entitas komersial via PSAK 1, satu lagi untuk nonlaba via PSAK 45. Sehingga kemudian IAI memutuskan untuk menyatukan pendekatannya: penyajian laporan keuangan nonlaba cukup diatur sebagai interpretasi dari PSAK 1, bukan sebagai pernyataan standar tersendiri. Inilah yang kemudian melahirkan ISAK 35.Jika ingin membandingkan antara PSAK 45 dengan ISAK 35, maka akan terlihat sebagai berikut: Aspek PSAK 45 (Lama) ISAK 35/ ISAK 335 (Baru) Status Standar Standar Akuntansi Keuangan mandiri untuk nonlaba Interpretasi atas PSAK 1/ PSAK 201 Fokus Utama Pelaporan keuangan organisasi nirlaba Penyajian laporan keuangan entitas nonlaba Masa Berlaku Berakhir pada 31 Desember 2019 Efektif sejak 1 Januari 2020 Landasan Hukum PSAK 45 PPSAK 13 (Pencabutan PSAK 45) dan ISAK 35 Apa yang Diatur ISAK 35 dan Apa yang Tidak Diatur?Secara substansi, IAI sudah menegaskan bahwa ISAK 35 hanya mengatur penyajian laporan keuangan entitas berorientasi nonlaba.Sedangkan untuk pengelolaan lain seperti pengakuan dan pengukuran transaksi, akan mengacu pada SAK Indonesia yang lebih relevan, misalnya PSAK 23 untuk pengakuan pendapatan, PSAK 16 untuk aset tetap, atau PSAK yang relevan lainnya.Sementara entitas nonlaba yang lebih kecil dan menggunakan SAK Entitas Privat (SAK EP) atau bahkan SAK EMKM akan merujuk ke standar pada tier yang sesuai.Baca Juga: PSAK 72: Pengertian, 5 Tahapan, dan Poin Penting yang Harus DiperhatikanKomponen Laporan Keuangan Menurut ISAK 35Terdapat lima komponen utama yang harus disajikan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai posisi keuangan dan pengelolaan dana. No. Komponen Laporan Fungsi 1 Laporan Posisi Keuangan Menyajikan aset, liabilitas, dan aset neto pada tanggal tertentu 2 Laporan Penghasilan Komprehensif Menyajikan penghasilan, beban, dan perubahan nilai aset neto selama periode 3 Laporan Perubahan Aset Neto Menyajikan rekonsiliasi saldo aset neto dari awal hingga akhir periode 4 Laporan Arus Kas Menyajikan penerimaan dan pengeluaran kas menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan 5 Catatan Atas Laporan Keuangan (CaLK) Mengungkapkan kebijakan akuntansi signifikan dan informasi penjelasan tambahan Perbedaan paling mencolok dibanding laporan keuangan entitas komersial adalah keberadaan Laporan Perubahan Aset Neto. Komponen ini menggantikan peran laporan perubahan ekuitas dalam konteks nonlaba.Ini diperlukan karena entitas nonlaba tidak memiliki “ekuitas pemilik”, melainkan “aset neto” yang mencerminkan sumber daya tersisa setelah dikurangi liabilitas.Penyesuaian Istilah Khas dalam ISAK 35Karena karakteristik entitas berorientasi nonlaba berbeda dengan entitas komersial, ISAK 35 melakukan penyesuaian deskripsi pada beberapa istilah kunci.Salah satu aspek yang paling penting adalah klasifikasi aset neto yang dibagi menjadi dua kategori, yaitu: Aset Neto dengan Pembatasan: Sumber daya yang penggunaannya dibatasi oleh pemberi sumber daya (donatur) untuk tujuan tertentu atau periode waktu tertentu Aset Neto tanpa Pembatasan: Sumber daya yang dapat digunakan secara bebas oleh organisasi untuk menjalankan aktivitas operasional sesuai kebijakan internal Selain klasifikasi aset neto, ISAK 35 juga mengakomodasi penyesuaian judul laporan, yaitu laporan perubahan ekuitas menjadi laporan perubahan aset neto sebagai cerminan bahwa entitas nonlaba tidak memiliki konsep kepemilikan seperti entitas komersial.Contoh Penerapan ISAK 35 pada Yayasan atau Organisasi NonlabaImplementasi praktis standar ini dapat dilihat pada berbagai lembaga di Indonesia. Sebagai contoh, sebuah ISAK 35 yayasan pendidikan harus mampu memisahkan sumber dana dari tiga jalur: iuran bulanan siswa, donasi rutin dari para wali murid tanpa syarat penggunaan, dan hibah dari lembaga filantropi untuk pembangunan perpustakaan.Menurut ISAK 35, yayasan ini perlu memisahkan antara dana untuk perpustakaan (aset neto dengan pembatasan) dan dana operasional umum dari iuran dan donasi (aset neto tanpa pembatasan).Laporan posisi keuangannya harus menampilkan dua baris terpisah untuk dua kategori aset neto ini, bukan digabung menjadi satu angka.Laporan perubahan aset neto menunjukkan pergerakan tiap kategori sepanjang tahun, mulai dari hibah yang diterima, dana terbatas yang telah digunakan, hingga saldo akhir.Lalu dalam laporan penghasilan komprehensif, yayasan mencatat seluruh penghasilan seperti iuran, donasi, dan hasil investasi, serta seluruh beban seperti gaji, operasional, dan depresiasi secara terpisah.Hasil akhirnya bukan laba bersih, melainkan kenaikan atau penurunan aset neto yang menunjukkan apakah sumber daya organisasi bertambah atau berkurang selama periode tersebut.Baca Juga: Format Laporan Keuangan Menurut PSAK 201: Komponen, Susunan, dan Contoh PenyajiannyaTantangan Umum dalam Implementasi ISAK 35Meskipun telah berlaku cukup lama, banyak organisasi masih menghadapi tantangan dalam proses transisi dan konsistensi penerapan.Klasifikasi aset neto sering menjadi kendala karena sulit menentukan pembatasan hibah saat dokumen pendukung tidak lengkap, transisi dari PSAK 45 ke ISAK 35 masih terkendala kebiasaan penggunaan format lama, dan kualitas data serta sistem yang lemah membuat penyusunan laporan menjadi manual serta berisiko tinggi terjadi kesalahan.Ikatan Akuntan Indonesia bahkan telah melakukan post implementation review pada tahun 2025 untuk mengevaluasi tantangan tersebut, menunjukkan bahwa praktik akuntansi nonlaba terus dipantau dan disempurnakan secara berkelanjutan.Praktik Terbaik dan Solusi Teknologi untuk Penerapan ISAK 35Untuk memastikan organisasi Anda memenuhi standar akuntabilitas modern, langkah-langkah strategis berikut perlu dilakukan:1. Rancang Chart of Account yang Tepat Sejak AwalKode akun harus dirancang untuk memisahkan aset neto dengan dan tanpa pembatasan sejak tingkat paling dasar. Jangan menunggu laporan tahunan untuk melakukan pemisahan, tetapi pastikan pemisahan sudah terjadi dalam setiap pencatatan transaksi harian.2. Buat Kebijakan Penerimaan Donasi yang JelasSetiap donasi yang masuk harus langsung dikategorikan, apakah memiliki pembatasan dari pemberi atau tidak. Seluruh kebijakan ini perlu didokumentasikan secara tertulis, termasuk untuk donasi dengan nilai kecil.3. Siapkan Format Laporan yang KonsistenTemplate laporan posisi keuangan, laporan penghasilan komprehensif, laporan perubahan aset neto, laporan arus kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan sebaiknya sudah disiapkan sejak awal tahun buku, bukan dibuat secara terburu-buru menjelang akhir periode.4. Gunakan Software Akuntansi yang Mendukung Kebutuhan NonlabaPenggunaan software akuntansi yang tepat memberikan dampak signifikan bagi yayasan. Sistem yang baik memungkinkan pemisahan dana secara otomatis, mempercepat proses rekonsiliasi, serta menghasilkan laporan secara real-time tanpa perlu pengolahan ulang secara manual.KesimpulanISAK 35 merupakan instrumen penting yang memberikan panduan jelas mengenai penyajian laporan keuangan bagi entitas berorientasi nonlaba di Indonesia.Dengan memahami hubungan antara ISAK 35, PSAK 1, dan pencabutan PSAK 45, organisasi dapat menyajikan informasi yang lebih relevan bagi para pemangku kepentingan.Implementasinya memang tidak selalu mudah, terutama bagi organisasi yang belum memiliki sistem pencatatan yang memadai. Namun, dengan pendekatan yang tepat, standar ini sangat bisa diterapkan bahkan oleh yayasan kecil sekalipun.Dengan sistem akuntansi yang tepat seperti Mekari Jurnal, proses pencatatan dan penyajian laporan keuangan entitas nonlaba bisa dilakukan dengan lebih efisien, konsisten, dan sesuai standar yang berlaku.Coba Gratis sekarang juga!Saya Mau Bertanya Ke Sales Mekari Jurnal Sekarang! Referensi:IAI, “Post-Implementation Review ISAK 335: Penyajian Laporan Keuangan Entitas Berorientasi Nonlaba”.IAI, “Pengesahan ISAK 35, Amandemen PSAK 1, Penyesuaian Tahunan PSAK 1 dan PPSAK 13”. FAQ Tentang Apa itu ISAK 35 dalam akuntansi? Apa itu ISAK 35 dalam akuntansi? ISAK 35 adalah standar akuntansi yang mengatur penyajian laporan keuangan untuk entitas nonlaba di Indonesia. Apa tujuan penerapan ISAK 35? Apa tujuan penerapan ISAK 35? Tujuannya adalah meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan publik terhadap laporan keuangan organisasi nonlaba. Siapa yang wajib menggunakan ISAK 35? Siapa yang wajib menggunakan ISAK 35? ISAK 35 digunakan oleh entitas nonlaba seperti yayasan, organisasi sosial, lembaga keagamaan, dan NGO. Apa saja komponen laporan keuangan menurut ISAK 35? Apa saja komponen laporan keuangan menurut ISAK 35? Komponennya meliputi laporan posisi keuangan, penghasilan komprehensif, perubahan aset neto, arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Apa perbedaan aset neto dengan dan tanpa pembatasan? Apa perbedaan aset neto dengan dan tanpa pembatasan? Aset neto dengan pembatasan memiliki batasan penggunaan dari donor, sedangkan tanpa pembatasan dapat digunakan bebas oleh organisasi. Mengapa laporan perubahan aset neto penting? Mengapa laporan perubahan aset neto penting? Karena menunjukkan perubahan sumber daya organisasi selama periode tertentu dan menggantikan laporan perubahan ekuitas. Bagaimana cara menerapkan ISAK 35 dengan benar? Bagaimana cara menerapkan ISAK 35 dengan benar? Mulai dengan pemisahan akun yang jelas, kebijakan donasi yang terstruktur, dan penggunaan sistem akuntansi yang sesuai. Apakah ISAK 35 mengatur pengakuan dan pengukuran transaksi? Apakah ISAK 35 mengatur pengakuan dan pengukuran transaksi? Tidak, ISAK 35 hanya mengatur penyajian laporan keuangan, sedangkan pengakuan dan pengukuran mengikuti PSAK lain yang relevan.