Daftar Isi
5 min read

Memahami Konsep Earning After Tax (EAT) dalam Laporan Keuangan

Tayang 28 Jun 2024

Àkuntansi perpajakan merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang cukup luas dan kompleks terlebih untuk mengukur kinerja sebuah entitas.

Salah satu metrik atau komponen pajak yang penting untuk diperhitungkan dalam laporan keuangan adalah earning after tax (EAT).

Apa itu EAT dalam laporan keuangan?

Sederhananya, EAT memberikan gambaran akhir terkait kinerja keuangan sebuah entitas dalam laporan keuangan.

Pengenalan tentang Earning After Tax (EAT)

Mengutip dari berbagai sumber terkemuka akuntansi keuangan, seperti CFI dan Investopedia, Earning After Tax (EAT) juga sering dikenal dengan sebutan Net Income After Taxes (NIAT).

Definisi dari EAT atau NIAT kurang lebih sama, yaitu istilah akuntansi dalam laporan keuangan, di mana mengacu kepada total jumlah laba bersih yang dimiliki oleh sebuah entitas, perusahaan, atau organisasi yang diperoleh setelah dikurangi dari pembayaran pajak dan kewajiban lainnya.

EAT dalam laporan keuangan juga secara garis besar merupakan cerminan dari profitabilitas laba perusahaan yang sebenarnya.

Bagi beberapa orang, konsep ini sering tertukar dengan after-tax income atau pemasukan setelah pajak, konsep ini serupa dengan EAT namun hanya berlaku kepad individu.

Konsep EAT ini biasanya dapat Anda temukan pada laporan keuangan perusahaan yang dikeluarkan secara berkala dalam siklus triwulan atau tahunan.

Pentingnya Mengetahui EAT dalam Akuntansi

Lalu, mengapa konsep ini penting untuk dipahami oleh praktisi akuntansi dan keuangan bisnis dalam penyusunan laporan keuangan?

Di mata perusahaan, mengetahui seberapa baik performa perusahaan merupakan aspek yang penting.

Menilainya dari pendapatan penjualan kotor kurang begitu efektif, namun jika melalui pendapatan bersih bisa dikatakan merupakan pengukuran yang lebih baik karena sudah dikurangi dengan pajak dan pengeluaran lainnya.

Melalui analisis EAT, perusahaan dapat mengetahui seberapa jauh kinerja keuangan mereka dari waktu ke waktu, mengidentifikasi tren, dan membuat keputusan yang tepat untuk meningkatkan profitabilitas.

Tidak saja dari pihak manajemen yang memanfaatkan analisis data ini, pihak stakeholder juga menggunakannya untuk mengetahui seberapa besar potensi kinerja keuangan perusahaan Anda.

Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan investor dan menarik modal tambahan untuk pertumbuhan.

Di sisi lain, rendahnya EAT dapat menandakan inefisiensi operasional, biaya yang berlebihan, atau beban pajak yang tidak menguntungkan, sehingga hal ini memerlukan perhatian dan penyesuaian strategis.

Cara Mencari dan Menghitung EAT dalam Laporan Keuangan

Menghitung EAT dalam laporan keuangan dapat Anda lakukan dengan menghitung pendapatan bersih setelah pajak dan kewajiban pembayaran lainnya.

Itu artinya Anda harus mengambil pendapatan dan mengurangkan mengurangkan seluruh beban dan biaya perusahaan, antara lain:

  1. Harga pokok penjualan atau cost of goods sold, mengacu kepada biaya yang termasuk dalam produksi termasuk tenaga kerja langsung dan bahan langsung atau inventaris.
  2. Charge-off, yang dapat berupa penghapusan atau kerugian satu kali saja.
  3. Selling, general, and administrative (SG&A), biaya yang mengacu kepada biaya operasional sehari-hari, termasuk biaya langsung, tidak langsung, dan biaya overhead.
  4. Depresiasi, alokasi biaya sebagai beban yang berasal dari pemanfaatan aset tetap dalam jangka waktu tertentu.
  5. Interest expense atau beban bunga, mengacu kepada biaya pinjaman kepada debitur, baik utang dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
  6. Pajak yang dibayarkan kepada pemerintah.

Berdasarkan dari komponen pendapatan dan pengurangan pengeluaran dalam EAT, langkah-langkah untuk menghitungnya adalah sebagai berikut:

  1. Pertama, Anda dapat menambah total penjualan, kemudian kurangi dengan diskon dan retur barang.
  2. Menguranginya dengan HPP. Ini akan memberikan Anda nilai besar keuntungan kotor.
  3. Selanjutnya, kurangi dengan pengeluaran operasional Anda, termasuk tenaga kerja, pemasaran, perlengkapan kantor, maupun biaya overhead. Ini akan mendapatkan besaran nilai untuk EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization).
  4. Kurangi biaya depresiasi dan amortisasi, hasil perhitungan ini akan menghasilkan nilai EBIT atau Earnings Before Interest and Taxes.
  5. Akumulasikan pembayaran bunga untuk mendapatkan besaran penghasilan sebelum pajak.
  6. Terakhir, kurangi besaran total pajak yang perusahaan perlu bayar untuk menentukan nilai Earning After Tax (EAT).

Berdasarkan langkah-langkah cara menghitung EAT dalam laporan keuangan itu, dapat kita simpulkan bahwa secara sederhana rumus menghitung EAT adalah:

Earning After Tax = Net Gross IncomeAll Expense Cost (Inc. Tax)

Contoh Perhitungan EAT dalam Laporan Keuangan

Untuk membantu Anda dalam memahami bagaimana cara menghitung EAT dalam laporan keuangan, simak c0ntoh perhitungannya berikut ini:

Laba Perusahaan Rp1.500.000.000
HPP Rp350.000.000
SG&A Rp125.000.000
Depresiasi Rp80.000.000
Bunga Bank Rp70.000.000
Pajak Rp100.000.000

Berdasarkan tabel komponen yang terdapat pada laporan keuangan di atas, cara tercepatnya adalah dengan mengurangi total laba dengan seluruh komponen pajak, bunga bank, dan pengeluaran biaya lainnya.

EAT = Total Laba – Seluruh Pengeluaran Biaya Termasuk Pajak

= Rp1.500.000.000 – (350.000.000 + 125.000.000 + 80.000.000 + 70.000.000 + 100.000.000)

= Rp1.500.000.000 – Rp725.000.000

EAT = Rp775.000.000.

Untuk referensi tambahan, simak contoh tabel komponen berikut pada laporan keuangan:

Tabel contoh perhitungan EAT dalam laporan keuangan
Sumber: Corporate Finance Institute

Peran Mekari Jurnal dan Integrasi Klikpajak dalam Manajemen Data EAT

Melalui nilai yang tergambarkan dari perhitungan EAT dalam laporan keuangan, manajemen maupun stakeholder dapat memiliki gambaran bagaimana performa keuangan suatu perusahaan berjalan.

Jika memberikan hasil yang tinggi, perusahaan tentu artinya dapat mengelola seluruh sumber daya dan aktivitas operasional dengan tepat dan maksimal.

Sebaliknya, jika tidak sesuai dengan harapan, maka perlu ada evaluasi dan peningkatan lebih lanjut. Jika tidak, ini dapat mengurangi potensi perusahaan mendapatkan suntikan modal dari investor.

Oleh karena itu, penting dalam laporan keuangan untuk dapat menyampaikan informasi keuangan dan komponen pajak dengan tepat dan akurat.

Untuk menghindari terjadinya kesalahan input atau perhitungan data, Anda dapat menggunakan software akuntansi yang telah terintegrasi dengan perpajakan yaitu Mekari Jurnal.

Mekari Jurnal dapat membantu Anda dalam mencatat, mengklasifikasikan, dan menganalisis transaksi keuangan suatu entitas bisnis.

Dalam konteks pengelolaan EAT (Earning After Tax), sistem akuntansi memiliki peran penting dalam mempermudah pencatatan dan penyusunan laporan keuangan.

Integrasi dengan Mekari Klikpajak turut mempermudah bisnis karena dapat menghitung kewajiban pajak yang tepat berdasarkan data transaksi yang telah tercatat dalam sistem akuntansi.

Dengan integrasi ini, data yang diperlukan untuk penyusunan laporan pajak dapat disediakan secara otomatis dari sistem akuntansi, mengurangi kesalahan dan meningkatkan efisiensi dalam pemenuhan kewajiban pajak.

Tunggu apalagi? Gunakan segera dan rasakan efisiensi dalam pengelolaan keuangan bisnis Anda!

Konsultasi Gratis dengan Mekari Jurnal Sekarang!

 

 

 

Referensi:

CFI, “Net Income After Tax (NIAT)”.

Chron. “How to Calculate Net Income After Taxes”.

Investopedia. “Net Income After Taxes (NIAT): Definition, Calculation, Example”.

Kategori : Tax Accounting
Kelola Keuangan Bisnis Lebih Optimal dengan Integrasi Manajemen Supply Chain!

Dapatkan E-book Sekarang!

 

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal
Kelola Keuangan Bisnis Lebih Optimal dengan Integrasi Manajemen Supply Chain!

Dapatkan E-book Sekarang!

 

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal