Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Contoh Pembukuan Konveksi Lengkap dengan Perhitungan HPP

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Adelia Vita. A
Highlights
  • Bisnis konveksi memiliki pembukuan yang lebih kompleks karena melibatkan proses produksi, bukan hanya pembelian dan penjualan barang jadi.
  • Menurut PSAK 14 (kini PSAK 202), persediaan manufaktur terdiri dari bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi.
  • Harga pokok produksi konveksi dihitung dari biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik, dengan job order costing umum digunakan untuk pesanan khusus.

Banyak pemilik usaha konveksi masih mencatat keuangan seperti bisnis dagang, yaitu hanya mencatat pembelian bahan dan hasil penjualan. 

Padahal, konveksi merupakan bisnis manufaktur yang memiliki proses produksi dengan berbagai komponen biaya, mulai dari bahan baku, tenaga kerja, hingga overhead pabrik.

Jika seluruh biaya tersebut tidak dicatat dengan benar, harga pokok produksi (HPP) bisa meleset. 

Akibatnya, penentuan harga jual, perhitungan laba, hingga evaluasi kinerja bisnis menjadi kurang akurat.

Karena itu, pembukuan bisnis konveksi memerlukan perlakuan akuntansi yang berbeda dengan toko pakaian biasa. 

Pada artikel ini, Anda akan mempelajari cara menyusun pembukuan konveksi, mulai dari pengelolaan persediaan, perhitungan harga pokok produksi, hingga contoh jurnal akuntansi dari pembelian bahan baku sampai penjualan produk jadi.

Kenapa Pembukuan Konveksi Berbeda dari Bisnis Dagang Biasa?

Sekilas, bisnis konveksi dan toko pakaian sama-sama menjual produk fashion. Namun, cara mencatat transaksi keuangannya tidak sama.

Pada bisnis dagang, perusahaan hanya membeli barang jadi dari pemasok lalu menjualnya kembali. 

Karena itu, pembukuannya relatif sederhana dan umumnya hanya melibatkan persediaan barang dagangan.

Sementara itu, bisnis konveksi harus mencatat seluruh proses produksi. Bahan baku seperti kain, benang, dan aksesori diolah menjadi produk jadi melalui proses pemotongan, penjahitan, hingga finishing

Selama proses tersebut, muncul berbagai biaya yang perlu dicatat, mulai dari biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, hingga biaya overhead pabrik.

Karena itu, pembukuan konveksi tidak hanya berfungsi mencatat transaksi, tetapi juga menghitung biaya produksi setiap produk secara akurat. 

Informasi ini menjadi dasar untuk menentukan harga jual, mengukur laba, serta mengevaluasi efisiensi proses produksi.

Tanpa pencatatan biaya yang tepat, pemilik konveksi berisiko menetapkan harga jual terlalu rendah, salah menghitung keuntungan, atau kesulitan mengendalikan biaya operasional.

Baca Juga: Contoh Pembukuan Keuangan Usaha Sederhana: Cara Membuat & Template Lengkap untuk UMKM

Tiga Jenis Persediaan dalam Pembukuan Konveksi

Berbeda dengan bisnis dagang yang umumnya hanya memiliki satu jenis persediaan, bisnis konveksi mengelola persediaan sesuai tahapan proses produksi. Karena itu, setiap jenis persediaan perlu dicatat secara terpisah agar biaya produksi dan nilai stok dapat dipantau dengan akurat.

Berdasarkan PSAK 202: Persediaan (sebelumnya PSAK 14), persediaan mencakup barang yang siap dijual, barang yang masih dalam proses produksi, serta bahan yang akan digunakan untuk menghasilkan produk. Dalam bisnis konveksi, persediaan tersebut umumnya terbagi menjadi tiga jenis berikut.

1. Persediaan bahan baku (raw material)

Persediaan ini meliputi seluruh bahan yang akan digunakan dalam proses produksi, seperti kain, benang, kancing, resleting, hingga label pakaian. Nilainya akan berkurang seiring penggunaan bahan untuk produksi.

2. Persediaan barang dalam proses (work in process)

Merupakan produk yang sudah memasuki tahap produksi, tetapi belum selesai dikerjakan. Contohnya kain yang sudah dipotong atau dijahit sebagian, namun belum melalui proses finishing.

3. Persediaan barang jadi (finished goods)

Persediaan ini terdiri atas produk yang telah selesai diproduksi, lolos quality control, dan siap dijual kepada pelanggan, seperti kaos, seragam, atau jaket.

Ketiga jenis persediaan tersebut sebaiknya dicatat secara terpisah. Dengan begitu, pemilik konveksi dapat mengetahui berapa nilai bahan baku yang masih tersedia, berapa produk yang masih dalam proses, serta berapa stok barang jadi yang siap dijual. Informasi ini juga penting untuk menghitung harga pokok produksi (HPP) dan menyusun laporan keuangan yang lebih akurat.

Cara Menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) Konveksi

Salah satu tujuan utama pembukuan konveksi adalah mengetahui harga pokok produksi (HPP) secara akurat. HPP menunjukkan total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk hingga siap dijual.

Dalam bisnis konveksi, HPP dihitung dari tiga komponen biaya utama:

Harga Pokok Produksi (HPP) = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Pabrik

Ketiga komponen tersebut meliputi:

  • Biaya bahan baku, yaitu biaya kain, benang, kancing, sablon, dan bahan lain yang digunakan dalam proses produksi.
  • Biaya tenaga kerja langsung, yaitu upah pekerja yang terlibat langsung dalam pembuatan produk, seperti penjahit dan tukang potong.
  • Biaya overhead pabrik, yaitu seluruh biaya produksi selain bahan baku dan tenaga kerja langsung, seperti listrik, penyusutan mesin jahit, sewa tempat produksi, hingga perlengkapan produksi.

Perhitungan HPP yang akurat membantu pemilik konveksi menentukan harga jual, menghitung laba, sekaligus mengevaluasi efisiensi biaya produksi.

Baca Juga: 12 Alasan Pentingnya Pembukuan untuk Perusahaan

Contoh Pembukuan Konveksi dari Produksi hingga Penjualan

Sebagai ilustrasi, Konveksi Rapi Jaya menerima pesanan 100 kaos seragam dengan rincian biaya produksi sebagai berikut.

Komponen Biaya Jumlah
Biaya bahan baku Rp3.500.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp2.000.000
Biaya overhead pabrik Rp1.000.000
Total Harga Pokok Produksi Rp6.500.000

Maka perhitungannya adalah:

HPP = Rp3.500.000 + Rp2.000.000 + Rp1.000.000 = Rp6.500.000

Karena pesanan terdiri dari 100 kaos, maka:

HPP per unit = Rp6.500.000 ÷ 100 = Rp65.000

Apabila setiap kaos dijual dengan harga Rp95.000, maka:

  • Pendapatan penjualan = 100 × Rp95.000 = Rp9.500.000
  • Laba kotor = Rp9.500.000 − Rp6.500.000 = Rp3.000.000
  • Laba kotor per unit = Rp30.000

Berikut contoh jurnal pencatatannya.

1. Mencatat pembelian bahan baku

Keterangan Debit Kredit
Persediaan Bahan Baku Rp3.500.000
Kas / Utang Usaha Rp3.500.000

2. Mencatat pemakaian bahan baku untuk produksi

Keterangan Debit Kredit
Barang Dalam Proses Rp3.500.000
Persediaan Bahan Baku Rp3.500.000

3. Mencatat biaya tenaga kerja langsung

Keterangan Debit Kredit
Barang Dalam Proses Rp2.000.000
Kas / Utang Gaji Rp2.000.000

4. Mencatat biaya overhead pabrik

Keterangan Debit Kredit
Barang Dalam Proses Rp1.000.000
Kas / Utang / Akumulasi Penyusutan Rp1.000.000

Catatan: Akun kredit disesuaikan dengan jenis biaya overhead. Misalnya, listrik dikredit ke kas atau utang usaha, sedangkan penyusutan mesin dikredit ke akun akumulasi penyusutan.

5. Memindahkan produk yang telah selesai diproduksi

Keterangan Debit Kredit
Persediaan Barang Jadi Rp6.500.000
Barang Dalam Proses Rp6.500.000

6. Mencatat penjualan produk

  1. Mencatat penjualan
Keterangan Debit Kredit
Kas / Piutang Usaha Rp9.500.000
Penjualan Rp9.500.000
  1. Mencatat harga pokok penjualan
Keterangan Debit Kredit
Harga Pokok Penjualan Rp6.500.000
Persediaan Barang Jadi Rp6.500.000

Dengan pencatatan seperti ini, pemilik konveksi dapat memantau biaya produksi di setiap tahap, mengetahui nilai barang yang masih dalam proses maupun yang sudah menjadi barang jadi, serta menghitung laba kotor secara lebih akurat. 

Informasi ini juga menjadi dasar dalam menentukan harga jual dan mengevaluasi efisiensi produksi.

Metode Harga Pokok Pesanan untuk Konveksi Custom Order

Konveksi umumnya menerima pesanan yang bersifat custom, seperti seragam sekolah, jersey tim, atau seragam kerja. Karena setiap pesanan memiliki spesifikasi dan biaya yang berbeda, metode yang paling sesuai adalah harga pokok pesanan (job order costing). Melalui metode ini, biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik dikumpulkan untuk setiap pesanan secara terpisah sehingga harga pokok produksi dapat dihitung dengan lebih akurat.

Contoh pada bagian sebelumnya merupakan penerapan metode ini. Seluruh biaya untuk pesanan 100 potong kaos seragam dikumpulkan hingga diperoleh harga pokok produksi sebesar Rp6.500.000 atau Rp65.000 per potong.

Berbeda dengan harga pokok proses (process costing) yang digunakan untuk produksi massal dengan produk yang seragam, seperti pabrik tekstil, job order costing membantu konveksi mengetahui biaya dan keuntungan dari setiap pesanan secara lebih akurat.

Pembukuan Konveksi Skala UMKM: Opsi yang Lebih Sederhana

Tidak semua usaha konveksi memiliki skala produksi besar atau membutuhkan sistem akuntansi biaya yang kompleks. Banyak konveksi rumahan dan UMKM yang menjalankan produksi berdasarkan pesanan dengan volume yang relatif terbatas.

Untuk kondisi tersebut, SAK EMKM menyediakan standar pencatatan yang lebih sederhana. Meski demikian, biaya bahan baku, tenaga kerja, dan biaya produksi lainnya tetap sebaiknya dicatat secara terpisah agar harga pokok produksi dan harga jual dapat dihitung dengan lebih akurat.

Dari sisi perpajakan, PP Nomor 20 Tahun 2026 menetapkan tarif PPh Final 0,5% secara permanen bagi Wajib Pajak Orang Pribadi UMKM dengan omzet hingga Rp4,8 miliar per tahun. Selain itu, omzet hingga Rp500 juta pertama dalam satu tahun pajak tetap mendapat fasilitas bebas PPh. 

Ketentuan ini relevan bagi banyak pelaku konveksi skala UMKM yang baru merintis usahanya.

Kesalahan Umum dalam Pembukuan Konveksi

Beberapa kesalahan berikut masih sering terjadi, terutama pada usaha konveksi yang pencatatannya masih dilakukan secara manual.

  • Tidak memisahkan biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Akibatnya, sulit mengetahui komponen biaya mana yang paling besar dan perlu dikendalikan.
  • Menentukan harga jual hanya berdasarkan biaya bahan baku. Mengabaikan biaya tenaga kerja dan overhead dapat membuat harga jual tidak mampu menutup seluruh biaya produksi.
  • Tidak mencatat barang dalam proses (work in process) secara terpisah. Hal ini menyebabkan nilai persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi bercampur sehingga laporan persediaan menjadi kurang akurat.
  • Menggunakan metode harga pokok yang tidak sesuai. Misalnya, menerapkan metode rata-rata pada produksi yang bersifat custom order, sehingga biaya dan keuntungan setiap pesanan tidak dapat dihitung secara tepat.

Baca Juga: Studi Kasus Penggunaan Mekari Jurnal untuk Bisnis Manufaktur Kecil (Simple Manufacture)

Hitung HPP dan Catat Produksi Konveksi Anda dengan Mekari Jurnal

Menghitung harga pokok produksi secara manual, apalagi jika konveksi menangani banyak pesanan custom sekaligus, membutuhkan ketelitian tinggi agar biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead pabrik tidak tercampur atau terlewat dicatat.

Mekari Jurnal sebagai software akuntansi membantu bisnis konveksi mencatat setiap transaksi secara otomatis dan konsisten, mulai dari pembelian bahan baku hingga penjualan produk jadi.

Dengan fitur Pembukuan Mekari Jurnal, Anda dapat:

  • Mencatat transaksi secara otomatis dan terintegrasi ke laporan keuangan, sehingga setiap biaya produksi langsung tercermin dalam laporan laba rugi dan neraca tanpa input berulang.
  • Menyusun bagan akun (chart of accounts) sesuai kebutuhan bisnis manufaktur, termasuk memisahkan akun persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi secara konsisten.
  • Menghasilkan lebih dari 55 jenis laporan keuangan, manajemen, dan operasional, mendukung pengambilan keputusan bisnis konveksi yang lebih akurat berdasarkan data real-time.
  • Menjaga akurasi data keuangan melalui integrasi bank, sehingga pencatatan kas masuk dari pembayaran pesanan tetap sinkron dengan rekening usaha.

Kelola pembukuan konveksi Anda secara lebih rapi, akurat, dan sesuai standar akuntansi yang berlaku.

Coba Gratis Sekarang!

Referensi

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), “PSAK 14 (kini PSAK 202): Persediaan.”

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), “Tentang SAK EMKM.”

Direktorat Jenderal Pajak (DJP), “PP 20/2026: Tarif PPh 0,5% bagi UMKM Orang Pribadi Berlaku Selamanya.”

FAQ

Apa perbedaan pembukuan konveksi dengan pembukuan toko pakaian biasa?

Apa perbedaan pembukuan konveksi dengan pembukuan toko pakaian biasa?

Toko pakaian hanya mencatat satu jenis persediaan, yaitu barang dagangan yang dibeli lalu dijual kembali. Konveksi adalah bisnis manufaktur yang mengubah bahan baku menjadi produk jadi melalui proses produksi, sehingga membutuhkan pencatatan tiga jenis persediaan sekaligus perhitungan harga pokok produksi.

Apa saja tiga jenis persediaan dalam pembukuan konveksi?

Apa saja tiga jenis persediaan dalam pembukuan konveksi?

Ketiganya adalah persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses (BDP), dan persediaan barang jadi, sebagaimana tercermin dalam definisi persediaan menurut PSAK 14.

Bagaimana rumus menghitung harga pokok produksi (HPP) konveksi?

Bagaimana rumus menghitung harga pokok produksi (HPP) konveksi?

HPP dihitung dari penjumlahan tiga komponen biaya, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

Apa itu metode harga pokok pesanan dan kenapa cocok untuk konveksi?

Apa itu metode harga pokok pesanan dan kenapa cocok untuk konveksi?

Metode harga pokok pesanan (job order costing) mengumpulkan biaya produksi untuk setiap pesanan secara terpisah. Metode ini cocok untuk konveksi karena banyak pesanan yang bersifat custom dengan spesifikasi berbeda-beda, sehingga harga pokok perlu dihitung per pesanan, bukan dirata-ratakan.

Apakah konveksi rumahan tetap perlu menghitung HPP secara rinci?

Apakah konveksi rumahan tetap perlu menghitung HPP secara rinci?

Perlu, meski dengan pendekatan yang lebih sederhana sesuai SAK EMKM. Tanpa memisahkan biaya bahan baku, tenaga kerja, dan biaya produksi lain, pemilik konveksi rumahan berisiko menetapkan harga jual yang sebenarnya tidak menutup seluruh biaya produksinya.

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami