Job Order Costing: Cara Hitung dan Contoh Jurnal Highlights Job order costing menghitung biaya produksi secara terpisah untuk setiap pesanan, sehingga cocok untuk produk custom. Biaya yang dihitung meliputi bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Metode ini menggunakan predetermined overhead rate dan perlu menyesuaikan selisih antara BOP dibebankan dan BOP aktual. Manfaatkan aplikasi laporan keuangan Mekari Jurnal untuk menghasilkan 80+ laporan secara otomatis dan real-time, sehingga laporan keuangan selalu akurat, sinkron, dan siap diaudit. Hampir semua artikel tentang job order costing berhenti pada penjelasan “hitung biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead untuk setiap pesanan”, seolah prosesnya sesederhana itu.Padahal ada persoalan mendasar yang sering terlewat: biaya overhead pabrik aktual, seperti listrik, penyusutan mesin, dan sewa gedung produksi, baru benar-benar diketahui di akhir periode akuntansi. Sementara itu, sebuah pesanan bisa saja selesai dan harus segera ditagihkan ke pelanggan jauh sebelum periode tersebut berakhir. Bagaimana solusinya?Artikel ini akan membahas apa itu job order costing, perbedaannya dengan process costing, komponen biayanya, konsep tarif overhead pabrik yang ditentukan di muka, hingga contoh perhitungan dan jurnal lengkap. Apa itu Job Order Costing?Job order costing atau metode harga pokok pesanan adalah metode akuntansi biaya yang mengumpulkan biaya produksi secara terpisah untuk setiap pesanan atau pekerjaan. Dengan metode ini, biaya untuk setiap pesanan dapat diketahui secara lebih spesifik, bukan dirata-ratakan untuk seluruh produksi dalam satu periode.Metode ini cocok digunakan ketika perusahaan menghasilkan produk atau jasa yang bersifat custom dan setiap pesanan memiliki karakteristik berbeda. Menurut OpenStax job order costing digunakan untuk produk yang dibuat berdasarkan pesanan dan biaya ditetapkan pada masing-masing pekerjaan.Contoh bisnis yang dapat menggunakan metode ini antara lain konveksi yang menerima pesanan seragam custom, perusahaan konstruksi yang mengerjakan proyek sesuai spesifikasi klien, percetakan dengan desain berbeda, dan bengkel yang menangani perbaikan kendaraan secara individual.Job Order Costing vs Process Costing: Kapan Menggunakan yang Mana?Job order costing dan process costing sama-sama digunakan untuk menghitung biaya produksi, tetapi penerapannya berbeda sesuai karakteristik produk dan proses produksi.Job order costing cocok ketika produk atau jasa dibuat berdasarkan pesanan dan memiliki spesifikasi yang berbeda. Biaya produksi kemudian ditelusuri ke masing-masing pekerjaan atau pesanan. Sebaliknya, process costing digunakan untuk produksi dalam jumlah besar dan berkesinambungan dengan produk yang relatif seragam, sehingga biaya dikumpulkan berdasarkan proses atau departemen produksi.Sebagai contoh, konveksi yang membuat seragam sesuai pesanan pelanggan dapat menggunakan job order costing, sedangkan pabrik minuman kemasan yang memproduksi produk seragam dalam jumlah besar lebih sesuai menggunakan process costing.Pemilihan metode yang tepat penting agar biaya produksi dapat dihitung secara efisien dan mencerminkan karakteristik produksi bisnis.Baca Juga: Kenalan dengan Cost Accounting: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Penerapannya di BisnisTiga Komponen Biaya dalam Job Order CostingSetiap pesanan dalam job order costing mengumpulkan tiga komponen biaya berikut, yang pada akhirnya akan membentuk nilai persediaan barang dalam proses maupun barang jadi sesuai PSAK 14: Persediaan. Biaya bahan baku langsung, yaitu nilai bahan baku yang benar-benar digunakan dan dapat ditelusuri langsung ke pesanan tertentu. Biaya tenaga kerja langsung, yaitu upah pekerja yang secara langsung terlibat mengerjakan pesanan tersebut, dihitung berdasarkan jam kerja atau unit yang dihasilkan. Biaya overhead pabrik (BOP), yaitu seluruh biaya produksi selain bahan baku dan tenaga kerja langsung, seperti listrik, penyusutan mesin, sewa gedung produksi, dan gaji supervisor produksi. Ketiga biaya ini dijumlahkan menjadi harga pokok produksi untuk pesanan tersebut, yang dicatat dalam kartu biaya pesanan (job cost sheet) sebagai catatan rinci per pesanan.Tarif Overhead Pabrik yang Ditentukan di Muka dalam Job Order CostingIni adalah bagian yang paling sering hilang dari kebanyakan penjelasan job order costing, padahal justru menjadi kunci agar metode ini benar-benar bisa diterapkan dalam praktik.Biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung relatif mudah ditelusuri secara langsung begitu pesanan selesai. Namun, biaya overhead pabrik aktual, seperti total tagihan listrik pabrik atau penyusutan mesin selama setahun, baru benar-benar diketahui setelah periode akuntansi berakhir. Padahal, sebuah pesanan bisa saja selesai dan harus segera dihitung harga pokoknya jauh sebelum periode tersebut berakhir.Solusi atas masalah ini adalah dengan menggunakan tarif overhead pabrik yang ditentukan di muka (predetermined overhead rate), yang dihitung di awal periode berdasarkan estimasi, dengan rumus sebagai berikut.Tarif BOP Ditentukan di Muka = Estimasi Total BOP Setahun ÷ Estimasi Total Dasar Alokasi (misalnya jam tenaga kerja langsung)Dengan tarif ini, setiap pesanan yang selesai dapat langsung dibebankan biaya overhead pabriknya menggunakan tarif tersebut, tanpa perlu menunggu biaya overhead aktual diketahui di akhir periode. Setelah periode berakhir, barulah BOP yang dibebankan ini dibandingkan dengan BOP aktual, dan selisihnya (disebut selisih BOP, baik kurang dibebankan/underapplied maupun lebih dibebankan/overapplied) disesuaikan dalam pembukuan.Baca Juga: Contoh Pembukuan Konveksi Lengkap dengan Perhitungan HPPContoh Perhitungan Job Order Costing Lengkap dengan JurnalPT Meubel Prima memperkirakan total biaya overhead pabrik setahun sebesar Rp600.000.000, dengan estimasi total jam tenaga kerja langsung sebesar 30.000 jam.Tarif BOP Ditentukan di Muka = Rp600.000.000 ÷ 30.000 jam = Rp20.000 per jam tenaga kerja langsungPerusahaan menerima Pesanan #205 berupa satu set kursi kantor custom, dengan rincian biaya sebagai berikut. Biaya bahan baku yang digunakan: Rp8.000.000 Jam tenaga kerja langsung: 40 jam, dengan tarif Rp50.000 per jam Biaya tenaga kerja langsung = 40 jam × Rp50.000 = Rp2.000.000 BOP dibebankan = 40 jam × Rp20.000 = Rp800.000 Harga Pokok Pesanan #205 = Rp8.000.000 + Rp2.000.000 + Rp800.000 = Rp10.800.000Berikut jurnal pencatatannya. Saat bahan baku digunakan untuk Pesanan #205 Keterangan Debit Kredit Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp8.000.000 Persediaan Bahan Baku Rp8.000.000 Saat membebankan biaya tenaga kerja langsung Keterangan Debit Kredit Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp2.000.000 Utang Gaji Rp2.000.000 Saat membebankan BOP menggunakan tarif ditentukan di muka Keterangan Debit Kredit Barang Dalam Proses – BOP Dibebankan Rp800.000 BOP Dibebankan Rp800.000 Saat Pesanan #205 selesai dan dipindahkan ke persediaan barang jadi Keterangan Debit Kredit Persediaan Barang Jadi Rp10.800.000 Barang Dalam Proses Rp10.800.000 Dengan pencatatan seperti ini, PT Meubel Prima bisa langsung mengetahui harga pokok Pesanan #205 sebesar Rp10.800.000 begitu pesanan selesai, tanpa perlu menunggu biaya overhead pabrik aktual selama setahun penuh diketahui terlebih dahulu.Dokumen Pendukung Job Order CostingAgar job order costing berjalan akurat, beberapa dokumen berikut umumnya dibutuhkan untuk mendukung pencatatannya.1. Kartu biaya pesanan (job cost sheet) Dokumen utama yang merangkum seluruh biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan BOP untuk satu pesanan tertentu.2. Bukti permintaan bahan (material requisition)Merupakan dokumen yang mencatat jenis dan jumlah bahan baku yang diambil dari gudang untuk digunakan pada pesanan tertentu.3. Kartu jam kerja (time ticket)Catatan jam kerja karyawan yang menunjukkan pesanan mana yang sedang dikerjakan pada rentang waktu tertentu.Baca Juga: Panduan Lengkap Akuntansi Proyek KonstruksiHal yang Perlu Diperhatikan dalam Job Order CostingPenerapan job order costing membutuhkan pencatatan biaya yang tepat agar harga pokok setiap pesanan dapat dihitung secara akurat. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:1. Gunakan tarif overhead yang ditentukan di mukaBiaya overhead pabrik (BOP) sebaiknya dibebankan menggunakan tarif yang telah ditentukan di awal periode, terutama ketika pesanan masih berlangsung. Dengan begitu, biaya pesanan dapat dihitung tanpa harus menunggu biaya overhead aktual tersedia di akhir periode.2. Catat jam kerja setiap pesanan secara akuratKartu jam kerja membantu perusahaan menelusuri biaya tenaga kerja langsung ke pesanan yang dikerjakan sehingga perhitungan biaya lebih tepat.3. Perhatikan selisih BOPBandingkan BOP yang dibebankan dengan BOP aktual pada akhir periode. Jika terdapat selisih, lakukan penyesuaian agar biaya produksi yang dilaporkan tetap mencerminkan kondisi sebenarnya.4. Sesuaikan metode dengan karakteristik produksiJob order costing lebih tepat untuk produk atau jasa yang dibuat berdasarkan pesanan dengan spesifikasi berbeda. Sementara itu, produksi massal dengan produk yang relatif homogen lebih sesuai menggunakan process costing.Baca Juga: Job Costing: Cara Menghitung Biaya Proyek Secara AkuratHitung Harga Pokok Pesanan Bisnis Anda dengan Mekari JurnalMenghitung harga pokok pesanan secara manual, terutama saat harus menerapkan tarif overhead pabrik yang ditentukan dimuka untuk banyak pesanan sekaligus, membutuhkan ketelitian tinggi agar tidak ada biaya yang salah dibebankan.Mekari Jurnal sebagai software akuntansi membantu bisnis mencatat setiap biaya produksi secara otomatis dan konsisten, mulai dari bahan baku hingga overhead pabrik per pesanan.Dengan fitur Pembukuan Mekari Jurnal, Anda dapat: Mencatat transaksi secara otomatis dan terintegrasi ke laporan keuangan, sehingga setiap biaya produksi langsung tercermin dalam laporan laba rugi dan neraca tanpa input berulang. Menyusun bagan akun (chart of accounts) sesuai kebutuhan bisnis manufaktur, termasuk memisahkan akun barang dalam proses, BOP dibebankan, dan persediaan barang jadi secara konsisten. Menghasilkan lebih dari 55 jenis laporan keuangan, manajemen, dan operasional, mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih akurat berdasarkan data real-time. Menjaga akurasi data keuangan melalui integrasi bank, sehingga pencatatan biaya produksi tetap sinkron dengan kondisi kas usaha Anda. Kelola perhitungan harga pokok pesanan bisnis Anda dengan Mekari Jurnal!Coba Gratis Sekarang!ReferensiIkatan Akuntan Indonesia (IAI), “PSAK 14 (kini PSAK 202): Persediaan.”OpenStax, Principles of Accounting, Volume 2: Managerial Accounting OpenStax, 5.1 Compare and Contrast Job Order Costing and Process Costing FAQ 1. Apa perbedaan job order costing dan process costing? 1. Apa perbedaan job order costing dan process costing? Job order costing digunakan untuk produk yang bersifat pesanan dan bervariasi, dengan biaya dihitung per pesanan. Process costing digunakan untuk produksi massal yang homogen dan berkesinambungan, dengan biaya dihitung secara total per proses lalu dibagi rata ke seluruh unit. 2. Kenapa overhead pabrik tidak langsung dihitung dari biaya aktual? 2. Kenapa overhead pabrik tidak langsung dihitung dari biaya aktual? Karena biaya overhead pabrik aktual, seperti listrik dan penyusutan mesin, baru diketahui secara pasti di akhir periode akuntansi, padahal harga pokok pesanan sering kali perlu dihitung segera setelah pesanan selesai, jauh sebelum periode tersebut berakhir. 3. Bagaimana cara menghitung tarif overhead pabrik yang ditentukan di muka? 3. Bagaimana cara menghitung tarif overhead pabrik yang ditentukan di muka? Tarif ini dihitung dengan membagi estimasi total biaya overhead pabrik setahun dengan estimasi total dasar alokasi yang dipilih, misalnya total jam tenaga kerja langsung yang diperkirakan selama setahun. 4. Apa saja dokumen yang dibutuhkan untuk job order costing? 4. Apa saja dokumen yang dibutuhkan untuk job order costing? Dokumen utamanya meliputi kartu biaya pesanan (job cost sheet), bukti permintaan bahan (material requisition), dan kartu jam kerja (time ticket), yang bersama-sama menjadi dasar penelusuran biaya ke setiap pesanan. 5. Apa yang dimaksud dengan selisih BOP? 5. Apa yang dimaksud dengan selisih BOP? Selisih BOP adalah perbedaan antara biaya overhead pabrik yang dibebankan menggunakan tarif ditentukan di muka dengan biaya overhead pabrik aktual di akhir periode, yang bisa berupa kurang dibebankan (underapplied) atau lebih dibebankan (overapplied). Mekari Jurnal Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus. Pelajari lebih lanjut Sebagai bagian dari ekosistem software terpadu Mekari, Mekari Jurnal juga terintegrasi dengan berbagai solusi Mekari lainnya seperti : Semua Platform Akuntansi & keuangan Customer People Services Operasional & digitalisasi Mekari Software as a Service Platform Mekari Officeless Platform Integrasi & App Builder Platform Mekari Airene AI Core Lintas Produk Mekari Platform Mekari Jurnal Akuntansi & Operasional Akuntansi & keuangan Mekari Klikpajak Manajemen Pajak Akuntansi & keuangan Mekari Expense Manajemen Pengeluaran Bisnis Akuntansi & keuangan Mekari POS Point Of Sale Akuntansi & keuangan Mekari Qontak Customer Engagement Platform Customer Mekari Talenta HCM People Mekari Flex Benefit Karyawan People Payroll Service Payroll Outsource Services Mekari Sign Tanda Tangan Digital & E-Meterai Operasional & digitalisasi Mekari Desty Omnichannel Commerce Operasional & digitalisasi Lihat lebih banyak Tidak ada produk di kategori ini. Kategori : Cost Accounting Artikel Sebelumnya Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal Facebook Instagram LinkedIn YouTube Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Bagikan artikelWhatsAppLinkedinFacebook
Job Order Costing: Cara Hitung dan Contoh Jurnal Highlights Job order costing menghitung biaya produksi secara terpisah untuk setiap pesanan, sehingga cocok untuk produk custom. Biaya yang dihitung meliputi bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Metode ini menggunakan predetermined overhead rate dan perlu menyesuaikan selisih antara BOP dibebankan dan BOP aktual. Manfaatkan aplikasi laporan keuangan Mekari Jurnal untuk menghasilkan 80+ laporan secara otomatis dan real-time, sehingga laporan keuangan selalu akurat, sinkron, dan siap diaudit. Hampir semua artikel tentang job order costing berhenti pada penjelasan “hitung biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead untuk setiap pesanan”, seolah prosesnya sesederhana itu.Padahal ada persoalan mendasar yang sering terlewat: biaya overhead pabrik aktual, seperti listrik, penyusutan mesin, dan sewa gedung produksi, baru benar-benar diketahui di akhir periode akuntansi. Sementara itu, sebuah pesanan bisa saja selesai dan harus segera ditagihkan ke pelanggan jauh sebelum periode tersebut berakhir. Bagaimana solusinya?Artikel ini akan membahas apa itu job order costing, perbedaannya dengan process costing, komponen biayanya, konsep tarif overhead pabrik yang ditentukan di muka, hingga contoh perhitungan dan jurnal lengkap. Apa itu Job Order Costing?Job order costing atau metode harga pokok pesanan adalah metode akuntansi biaya yang mengumpulkan biaya produksi secara terpisah untuk setiap pesanan atau pekerjaan. Dengan metode ini, biaya untuk setiap pesanan dapat diketahui secara lebih spesifik, bukan dirata-ratakan untuk seluruh produksi dalam satu periode.Metode ini cocok digunakan ketika perusahaan menghasilkan produk atau jasa yang bersifat custom dan setiap pesanan memiliki karakteristik berbeda. Menurut OpenStax job order costing digunakan untuk produk yang dibuat berdasarkan pesanan dan biaya ditetapkan pada masing-masing pekerjaan.Contoh bisnis yang dapat menggunakan metode ini antara lain konveksi yang menerima pesanan seragam custom, perusahaan konstruksi yang mengerjakan proyek sesuai spesifikasi klien, percetakan dengan desain berbeda, dan bengkel yang menangani perbaikan kendaraan secara individual.Job Order Costing vs Process Costing: Kapan Menggunakan yang Mana?Job order costing dan process costing sama-sama digunakan untuk menghitung biaya produksi, tetapi penerapannya berbeda sesuai karakteristik produk dan proses produksi.Job order costing cocok ketika produk atau jasa dibuat berdasarkan pesanan dan memiliki spesifikasi yang berbeda. Biaya produksi kemudian ditelusuri ke masing-masing pekerjaan atau pesanan. Sebaliknya, process costing digunakan untuk produksi dalam jumlah besar dan berkesinambungan dengan produk yang relatif seragam, sehingga biaya dikumpulkan berdasarkan proses atau departemen produksi.Sebagai contoh, konveksi yang membuat seragam sesuai pesanan pelanggan dapat menggunakan job order costing, sedangkan pabrik minuman kemasan yang memproduksi produk seragam dalam jumlah besar lebih sesuai menggunakan process costing.Pemilihan metode yang tepat penting agar biaya produksi dapat dihitung secara efisien dan mencerminkan karakteristik produksi bisnis.Baca Juga: Kenalan dengan Cost Accounting: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Penerapannya di BisnisTiga Komponen Biaya dalam Job Order CostingSetiap pesanan dalam job order costing mengumpulkan tiga komponen biaya berikut, yang pada akhirnya akan membentuk nilai persediaan barang dalam proses maupun barang jadi sesuai PSAK 14: Persediaan. Biaya bahan baku langsung, yaitu nilai bahan baku yang benar-benar digunakan dan dapat ditelusuri langsung ke pesanan tertentu. Biaya tenaga kerja langsung, yaitu upah pekerja yang secara langsung terlibat mengerjakan pesanan tersebut, dihitung berdasarkan jam kerja atau unit yang dihasilkan. Biaya overhead pabrik (BOP), yaitu seluruh biaya produksi selain bahan baku dan tenaga kerja langsung, seperti listrik, penyusutan mesin, sewa gedung produksi, dan gaji supervisor produksi. Ketiga biaya ini dijumlahkan menjadi harga pokok produksi untuk pesanan tersebut, yang dicatat dalam kartu biaya pesanan (job cost sheet) sebagai catatan rinci per pesanan.Tarif Overhead Pabrik yang Ditentukan di Muka dalam Job Order CostingIni adalah bagian yang paling sering hilang dari kebanyakan penjelasan job order costing, padahal justru menjadi kunci agar metode ini benar-benar bisa diterapkan dalam praktik.Biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung relatif mudah ditelusuri secara langsung begitu pesanan selesai. Namun, biaya overhead pabrik aktual, seperti total tagihan listrik pabrik atau penyusutan mesin selama setahun, baru benar-benar diketahui setelah periode akuntansi berakhir. Padahal, sebuah pesanan bisa saja selesai dan harus segera dihitung harga pokoknya jauh sebelum periode tersebut berakhir.Solusi atas masalah ini adalah dengan menggunakan tarif overhead pabrik yang ditentukan di muka (predetermined overhead rate), yang dihitung di awal periode berdasarkan estimasi, dengan rumus sebagai berikut.Tarif BOP Ditentukan di Muka = Estimasi Total BOP Setahun ÷ Estimasi Total Dasar Alokasi (misalnya jam tenaga kerja langsung)Dengan tarif ini, setiap pesanan yang selesai dapat langsung dibebankan biaya overhead pabriknya menggunakan tarif tersebut, tanpa perlu menunggu biaya overhead aktual diketahui di akhir periode. Setelah periode berakhir, barulah BOP yang dibebankan ini dibandingkan dengan BOP aktual, dan selisihnya (disebut selisih BOP, baik kurang dibebankan/underapplied maupun lebih dibebankan/overapplied) disesuaikan dalam pembukuan.Baca Juga: Contoh Pembukuan Konveksi Lengkap dengan Perhitungan HPPContoh Perhitungan Job Order Costing Lengkap dengan JurnalPT Meubel Prima memperkirakan total biaya overhead pabrik setahun sebesar Rp600.000.000, dengan estimasi total jam tenaga kerja langsung sebesar 30.000 jam.Tarif BOP Ditentukan di Muka = Rp600.000.000 ÷ 30.000 jam = Rp20.000 per jam tenaga kerja langsungPerusahaan menerima Pesanan #205 berupa satu set kursi kantor custom, dengan rincian biaya sebagai berikut. Biaya bahan baku yang digunakan: Rp8.000.000 Jam tenaga kerja langsung: 40 jam, dengan tarif Rp50.000 per jam Biaya tenaga kerja langsung = 40 jam × Rp50.000 = Rp2.000.000 BOP dibebankan = 40 jam × Rp20.000 = Rp800.000 Harga Pokok Pesanan #205 = Rp8.000.000 + Rp2.000.000 + Rp800.000 = Rp10.800.000Berikut jurnal pencatatannya. Saat bahan baku digunakan untuk Pesanan #205 Keterangan Debit Kredit Barang Dalam Proses – Biaya Bahan Baku Rp8.000.000 Persediaan Bahan Baku Rp8.000.000 Saat membebankan biaya tenaga kerja langsung Keterangan Debit Kredit Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp2.000.000 Utang Gaji Rp2.000.000 Saat membebankan BOP menggunakan tarif ditentukan di muka Keterangan Debit Kredit Barang Dalam Proses – BOP Dibebankan Rp800.000 BOP Dibebankan Rp800.000 Saat Pesanan #205 selesai dan dipindahkan ke persediaan barang jadi Keterangan Debit Kredit Persediaan Barang Jadi Rp10.800.000 Barang Dalam Proses Rp10.800.000 Dengan pencatatan seperti ini, PT Meubel Prima bisa langsung mengetahui harga pokok Pesanan #205 sebesar Rp10.800.000 begitu pesanan selesai, tanpa perlu menunggu biaya overhead pabrik aktual selama setahun penuh diketahui terlebih dahulu.Dokumen Pendukung Job Order CostingAgar job order costing berjalan akurat, beberapa dokumen berikut umumnya dibutuhkan untuk mendukung pencatatannya.1. Kartu biaya pesanan (job cost sheet) Dokumen utama yang merangkum seluruh biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan BOP untuk satu pesanan tertentu.2. Bukti permintaan bahan (material requisition)Merupakan dokumen yang mencatat jenis dan jumlah bahan baku yang diambil dari gudang untuk digunakan pada pesanan tertentu.3. Kartu jam kerja (time ticket)Catatan jam kerja karyawan yang menunjukkan pesanan mana yang sedang dikerjakan pada rentang waktu tertentu.Baca Juga: Panduan Lengkap Akuntansi Proyek KonstruksiHal yang Perlu Diperhatikan dalam Job Order CostingPenerapan job order costing membutuhkan pencatatan biaya yang tepat agar harga pokok setiap pesanan dapat dihitung secara akurat. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:1. Gunakan tarif overhead yang ditentukan di mukaBiaya overhead pabrik (BOP) sebaiknya dibebankan menggunakan tarif yang telah ditentukan di awal periode, terutama ketika pesanan masih berlangsung. Dengan begitu, biaya pesanan dapat dihitung tanpa harus menunggu biaya overhead aktual tersedia di akhir periode.2. Catat jam kerja setiap pesanan secara akuratKartu jam kerja membantu perusahaan menelusuri biaya tenaga kerja langsung ke pesanan yang dikerjakan sehingga perhitungan biaya lebih tepat.3. Perhatikan selisih BOPBandingkan BOP yang dibebankan dengan BOP aktual pada akhir periode. Jika terdapat selisih, lakukan penyesuaian agar biaya produksi yang dilaporkan tetap mencerminkan kondisi sebenarnya.4. Sesuaikan metode dengan karakteristik produksiJob order costing lebih tepat untuk produk atau jasa yang dibuat berdasarkan pesanan dengan spesifikasi berbeda. Sementara itu, produksi massal dengan produk yang relatif homogen lebih sesuai menggunakan process costing.Baca Juga: Job Costing: Cara Menghitung Biaya Proyek Secara AkuratHitung Harga Pokok Pesanan Bisnis Anda dengan Mekari JurnalMenghitung harga pokok pesanan secara manual, terutama saat harus menerapkan tarif overhead pabrik yang ditentukan dimuka untuk banyak pesanan sekaligus, membutuhkan ketelitian tinggi agar tidak ada biaya yang salah dibebankan.Mekari Jurnal sebagai software akuntansi membantu bisnis mencatat setiap biaya produksi secara otomatis dan konsisten, mulai dari bahan baku hingga overhead pabrik per pesanan.Dengan fitur Pembukuan Mekari Jurnal, Anda dapat: Mencatat transaksi secara otomatis dan terintegrasi ke laporan keuangan, sehingga setiap biaya produksi langsung tercermin dalam laporan laba rugi dan neraca tanpa input berulang. Menyusun bagan akun (chart of accounts) sesuai kebutuhan bisnis manufaktur, termasuk memisahkan akun barang dalam proses, BOP dibebankan, dan persediaan barang jadi secara konsisten. Menghasilkan lebih dari 55 jenis laporan keuangan, manajemen, dan operasional, mendukung pengambilan keputusan bisnis yang lebih akurat berdasarkan data real-time. Menjaga akurasi data keuangan melalui integrasi bank, sehingga pencatatan biaya produksi tetap sinkron dengan kondisi kas usaha Anda. Kelola perhitungan harga pokok pesanan bisnis Anda dengan Mekari Jurnal!Coba Gratis Sekarang!ReferensiIkatan Akuntan Indonesia (IAI), “PSAK 14 (kini PSAK 202): Persediaan.”OpenStax, Principles of Accounting, Volume 2: Managerial Accounting OpenStax, 5.1 Compare and Contrast Job Order Costing and Process Costing FAQ 1. Apa perbedaan job order costing dan process costing? 1. Apa perbedaan job order costing dan process costing? Job order costing digunakan untuk produk yang bersifat pesanan dan bervariasi, dengan biaya dihitung per pesanan. Process costing digunakan untuk produksi massal yang homogen dan berkesinambungan, dengan biaya dihitung secara total per proses lalu dibagi rata ke seluruh unit. 2. Kenapa overhead pabrik tidak langsung dihitung dari biaya aktual? 2. Kenapa overhead pabrik tidak langsung dihitung dari biaya aktual? Karena biaya overhead pabrik aktual, seperti listrik dan penyusutan mesin, baru diketahui secara pasti di akhir periode akuntansi, padahal harga pokok pesanan sering kali perlu dihitung segera setelah pesanan selesai, jauh sebelum periode tersebut berakhir. 3. Bagaimana cara menghitung tarif overhead pabrik yang ditentukan di muka? 3. Bagaimana cara menghitung tarif overhead pabrik yang ditentukan di muka? Tarif ini dihitung dengan membagi estimasi total biaya overhead pabrik setahun dengan estimasi total dasar alokasi yang dipilih, misalnya total jam tenaga kerja langsung yang diperkirakan selama setahun. 4. Apa saja dokumen yang dibutuhkan untuk job order costing? 4. Apa saja dokumen yang dibutuhkan untuk job order costing? Dokumen utamanya meliputi kartu biaya pesanan (job cost sheet), bukti permintaan bahan (material requisition), dan kartu jam kerja (time ticket), yang bersama-sama menjadi dasar penelusuran biaya ke setiap pesanan. 5. Apa yang dimaksud dengan selisih BOP? 5. Apa yang dimaksud dengan selisih BOP? Selisih BOP adalah perbedaan antara biaya overhead pabrik yang dibebankan menggunakan tarif ditentukan di muka dengan biaya overhead pabrik aktual di akhir periode, yang bisa berupa kurang dibebankan (underapplied) atau lebih dibebankan (overapplied). Mekari Jurnal Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus. Pelajari lebih lanjut Sebagai bagian dari ekosistem software terpadu Mekari, Mekari Jurnal juga terintegrasi dengan berbagai solusi Mekari lainnya seperti : Semua Platform Akuntansi & keuangan Customer People Services Operasional & digitalisasi Mekari Software as a Service Platform Mekari Officeless Platform Integrasi & App Builder Platform Mekari Airene AI Core Lintas Produk Mekari Platform Mekari Jurnal Akuntansi & Operasional Akuntansi & keuangan Mekari Klikpajak Manajemen Pajak Akuntansi & keuangan Mekari Expense Manajemen Pengeluaran Bisnis Akuntansi & keuangan Mekari POS Point Of Sale Akuntansi & keuangan Mekari Qontak Customer Engagement Platform Customer Mekari Talenta HCM People Mekari Flex Benefit Karyawan People Payroll Service Payroll Outsource Services Mekari Sign Tanda Tangan Digital & E-Meterai Operasional & digitalisasi Mekari Desty Omnichannel Commerce Operasional & digitalisasi Lihat lebih banyak Tidak ada produk di kategori ini.