Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Behavioral Finance: Teori, Bias dan Contohnya

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Adelia Vita. A
Highlights
  • Behavioral finance adalah bidang yang mempelajari bagaimana faktor psikologis dan perilaku mempengaruhi cara individu maupun pasar mengambil keputusan keuangan.
  • Behavioral finance menggabungkan psikologi dan keuangan untuk menjelaskan keputusan keuangan yang tidak selalu rasional.
  • Bias perilaku dapat mempengaruhi keputusan investasi hingga estimasi akuntansi, seperti cadangan kerugian piutang menurut PSAK 71.
  • Mekari Jurnal membantu menyusun lebih dari 80 laporan keuangan secara otomatis dan real-time, sehingga setiap laporan tersaji lebih akurat, konsisten, dan mudah ditelusuri saat audit.

Behavioral finance sering dijelaskan sebagai daftar bias yang berdiri sendiri, seolah hanya relevan bagi investor individu yang mudah panik saat pasar turun.

Padahal, behavioral finance sebenarnya berakar dari teori akademik yang kokoh sejak akhir 1970-an dan dampaknya tidak berhenti di keputusan investasi pribadi.

Bias yang sama juga turut mempengaruhi bagaimana estimasi akuntansi disusun, sesuatu yang jarang dikaitkan dalam pembahasan populer tentang topik ini.

Artikel ini akan membahas apa itu behavioral finance, pondasi teorinya, bias-bias utamanya, contoh perhitungan konkret, hingga kaitannya dengan praktik akuntansi dan regulasi terbaru di Indonesia.

Apa itu Behavioral Finance?

Behavioral finance adalah bidang yang mempelajari bagaimana faktor psikologis dan perilaku mempengaruhi cara individu maupun pasar mengambil keputusan keuangan.

Konsep ini melengkapi teori keuangan tradisional yang mengasumsikan manusia selalu bertindak rasional dan pasar bekerja secara efisien. 

Dalam praktiknya, keputusan keuangan dapat dipengaruhi oleh heuristik, emosi, dan bias kognitif yang membuat seseorang mengambil keputusan secara tidak sepenuhnya rasional.

Karena itu, behavioral finance membantu menjelaskan berbagai pola keputusan keuangan yang tidak selalu dapat diterangkan hanya melalui teori ekonomi dan keuangan konvensional.

Prospect Theory: Fondasi Akademik Behavioral Finance

Salah satu fondasi penting dalam behavioral finance adalah Prospect Theory, yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky dalam artikel Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk yang diterbitkan di jurnal Econometrica pada 1979. 

Teori ini menjelaskan bahwa seseorang tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan perhitungan risiko dan keuntungan secara objektif seperti yang diasumsikan dalam teori ekonomi tradisional.

Dua konsep penting dalam Prospect Theory adalah:

1. Loss aversion

Kecenderungan seseorang merasakan kerugian lebih kuat dibandingkan kepuasan dari keuntungan dengan nilai yang sama. Penelitian lanjutan Kahneman dan Tversky pada 1992 juga memasukkan loss aversion sebagai salah satu prinsip utama dalam pengembangan cumulative prospect theory.

2. Reference point

Kecenderungan seseorang mengevaluasi hasil sebagai keuntungan atau kerugian relatif terhadap titik acuan tertentu, bukan hanya berdasarkan nilai akhirnya secara absolut.

Baca Juga: Strategi dan Fokus Manajemen Produk untuk Barang Inferior

Bias-Bias Utama dalam Behavioral Finance

Berdasarkan teori Prospect Theory, sejumlah bias secara spesifik telah diteliti secara mendalam dan terbukti secara empiris mempengaruhi keputusan keuangan, yaitu sebagai berikut: 

1. Overconfidence bias

Overconfidence bias adalah kecenderungan seseorang untuk terlalu percaya diri terhadap kemampuan, pengetahuan, atau prediksinya dalam mengambil keputusan keuangan, sehingga sering kali meremehkan risiko yang sebenarnya ada.

Menurut penelitian The Journal of Finance ditemukan bahwa investor yang memiliki tingkat kepercayaan diri berlebihan cenderung lebih sering melakukan transaksi (overtrading). Namun, frekuensi transaksi yang lebih tinggi tersebut tidak diikuti dengan hasil investasi yang lebih baik. Sebaliknya, kinerja portofolio mereka rata-rata lebih rendah dibandingkan investor yang bertransaksi lebih jarang.

2. Anchoring bias

Merupakan kecenderungan terlalu terpaku pada informasi awal, seperti harga beli suatu aset, saat mengevaluasi keputusan selanjutnya, meski informasi tersebut sudah tidak relevan secara ekonomi.

3. Herding behavior

Ini merupakan kecenderungan mengikuti keputusan mayoritas tanpa evaluasi mendalam, yang dapat memperbesar volatilitas pasar dan mempercepat pembentukan gelembung harga aset.

4. Disposition effect

Kecenderungan menjual aset yang untung terlalu cepat untuk mengunci keuntungan, tetapi menahan aset yang rugi terlalu lama dengan harapan harganya kembali pulih, sebuah pola yang selaras langsung dengan prinsip loss aversion dalam Prospect Theory.

Contoh Numerik: Loss Aversion dalam Keputusan Investasi

Untuk memahami loss aversion, misalkan seorang investor membeli saham senilai Rp100.000.000. Beberapa bulan kemudian, nilai investasinya turun menjadi Rp70.000.000 sehingga terdapat unrealized loss sebesar Rp30.000.000.

Secara nominal, investor hanya kehilangan Rp30.000.000 dari nilai investasinya. 

Namun, dalam perspektif behavioral finance, kerugian tersebut dapat terasa lebih berat dibandingkan kepuasan yang diperoleh dari keuntungan dengan nilai yang sama. 

Inilah yang disebut loss aversion, yaitu kecenderungan seseorang lebih sensitif terhadap kerugian daripada keuntungan.

Sebagai ilustrasi, jika investor tersebut memiliki pilihan untuk menjual saham dan merealisasikan kerugian Rp30.000.000 atau tetap menahannya dengan harapan harga kembali naik, rasa enggan menerima kerugian dapat mempengaruhi keputusannya.

Investor mungkin memilih mempertahankan saham bukan karena prospeknya masih baik, tetapi karena tidak ingin mengakui kerugian.

Kondisi ini menunjukkan bagaimana loss aversion dapat mempengaruhi keputusan investasi. Keputusan yang diambil bukan hanya berdasarkan potensi keuntungan dan risiko ke depan, tetapi juga dipengaruhi oleh bagaimana investor memandang kerugian yang sudah dialaminya.

Baca Juga: Mental Accounting: Pengertian dan Dampaknya

Behavioral Finance dalam Praktik Akuntansi: Bias dalam Estimasi

Behavioral finance tidak hanya relevan untuk keputusan investasi, tetapi juga dapat membantu menjelaskan bagaimana bias perilaku mempengaruhi judgment dalam penyusunan estimasi akuntansi.

Salah satu contohnya adalah cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). Dalam penerapan PSAK 71, entitas menggunakan pendekatan expected credit loss (ECL) yang bersifat forward-looking. Artinya, manajemen perlu mempertimbangkan informasi historis, kondisi saat ini, serta perkiraan kondisi ekonomi masa depan dalam mengestimasi risiko kredit.

Karena proses tersebut membutuhkan estimasi dan judgment, bias perilaku dapat mempengaruhi hasilnya. 

Misalnya, overconfidence dapat membuat manajemen meremehkan risiko kredit sehingga CKPN terlalu rendah. Sementara itu, anchoring pada data historis dapat membuat estimasi kurang responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Karena itu, estimasi yang melibatkan judgment perlu melalui proses reviu dan pengendalian yang memadai agar keputusan tidak terlalu dipengaruhi oleh bias individu.

Baca Juga: Panduan Membuat Proyeksi Arus Kas yang Tidak Meleset: Contoh, Studi Kasus, serta Template Gratis)

Kenapa Behavioral Finance Relevan bagi Regulator Indonesia?

Behavioral finance tidak hanya relevan untuk memahami keputusan investor, tetapi juga membantu melihat bagaimana perilaku masyarakat dapat mempengaruhi penyebaran informasi dan keputusan keuangan.

Di Indonesia, salah satu perkembangan yang relevan adalah penerbitan POJK Nomor 6 Tahun 2026 Aturan ini mengatur perilaku pihak yang menyampaikan informasi sektor jasa keuangan kepada masyarakat, termasuk dalam kegiatan edukasi, pemasaran, dan pemberian rekomendasi. 

Untuk rekomendasi produk pasar modal, pihak yang memberikannya wajib memiliki izin sebagai Penasihat Investasi apabila kegiatan tersebut memang mensyaratkan perizinan.

Ketentuan tersebut menjadi relevan jika dilihat dari perspektif behavioral finance. Investor dapat mengalami herding behavior, yaitu kecenderungan mengikuti keputusan atau rekomendasi orang lain tanpa melakukan evaluasi secara mandiri. 

Dengan adanya aturan mengenai penyampaian informasi dan rekomendasi, regulator berupaya menciptakan lingkungan informasi keuangan yang lebih bertanggung jawab sehingga masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih memadai.

Cara Mengurangi Dampak Bias dalam Keputusan Keuangan

Bias perilaku memang sulit dihilangkan sepenuhnya, tetapi dampaknya dapat dikurangi dengan proses pengambilan keputusan yang lebih terstruktur. Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:

1. Tetapkan aturan sebelum mengambil keputusan

Misalnya menentukan batas kerugian sebelum berinvestasi agar keputusan tidak berubah karena emosi.

2. Gunakan data terkini sebagai dasar evaluasi

Hindari terlalu terpaku pada harga beli atau keputusan sebelumnya yang sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini.

3. Lakukan reviu secara berlapis

Untuk estimasi yang membutuhkan judgment, seperti CKPN, libatkan pihak lain untuk mengurangi risiko bias dari satu pengambil keputusan.

4. Jangan mengikuti tren tanpa analisis

Popularitas suatu investasi tidak selalu menunjukkan kualitasnya. Evaluasi risiko dan prospeknya berdasarkan data sebelum mengambil keputusan.

Baca Juga: Cara Menghitung Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Kurangi Risiko Bias dalam Keputusan Keuangan Bisnis dengan Mekari Jurnal

Keputusan keuangan bisnis yang baik membutuhkan data yang akurat dan konsisten, bukan sekadar intuisi atau asumsi yang bisa saja terpengaruh bias psikologis pengambil keputusannya.

Mekari Jurnal sebagai software akuntansi membantu bisnis mencatat setiap transaksi secara otomatis dan konsisten, sehingga keputusan keuangan dapat didasarkan pada data objektif, bukan persepsi yang bisa saja menyimpang dari kondisi sebenarnya.

Dengan fitur Pembukuan Mekari Jurnal, Anda dapat:

  • Mencatat transaksi secara otomatis dan terintegrasi ke laporan keuangan, sehingga data yang menjadi dasar keputusan bisnis selalu terkini dan bebas dari bias pencatatan manual.
  • Menyusun bagan akun (chart of accounts) yang konsisten, membantu menjaga objektivitas kategorisasi transaksi dari waktu ke waktu.
  • Menghasilkan lebih dari 55 jenis laporan keuangan, manajemen, dan operasional, mendukung pengambilan keputusan berbasis data yang lebih objektif dan terukur.
  • Memantau posisi keuangan bisnis secara real-time melalui dashboard, sehingga keputusan keuangan dapat dievaluasi berdasarkan kondisi terkini, bukan asumsi yang sudah usang.

Kelola pembukuan bisnis Anda sebagai fondasi keputusan keuangan yang lebih rasional bersama Mekari Jurnal!

Coba Gratis Sekarang!

Referensi

Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). “Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk.” Econometrica, 47(2), 263-291.

Direktorat Jenderal Pajak (DJP), “PSAK 71 Picu Sengketa Pajak, Betulkah?”

Otoritas Jasa Keuangan (OJK), “Siaran Pers: OJK Terbitkan Aturan tentang Penyampai Informasi Sektor Jasa Keuangan (Financial Influencer).”

Barber, B. M., & Odean, T. (2000). Trading Is Hazardous to Your Wealth: The Common Stock Investment Performance of Individual Investors

FAQ

1. Apa perbedaan behavioral finance dengan teori keuangan tradisional?

1. Apa perbedaan behavioral finance dengan teori keuangan tradisional?

Teori keuangan tradisional berasumsi manusia selalu bertindak rasional dan pasar selalu efisien. Behavioral finance menunjukkan bahwa manusia sering mengambil keputusan menggunakan jalan pintas mental yang menghasilkan pola bias yang konsisten dan dapat diprediksi, bukan sekadar penyimpangan acak dari rasionalitas.

2. Siapa yang pertama kali mengembangkan teori dasar behavioral finance?

2. Siapa yang pertama kali mengembangkan teori dasar behavioral finance?

Fondasi akademiknya adalah Prospect Theory yang dirumuskan Daniel Kahneman dan Amos Tversky pada 1979, yang kemudian mengantarkan Kahneman meraih Nobel Memorial Prize in Economic Sciences pada 2002.

3. Apa itu loss aversion dan bagaimana dampaknya?

3. Apa itu loss aversion dan bagaimana dampaknya?

Loss aversion adalah kecenderungan manusia merasakan kerugian jauh lebih menyakitkan dibanding kesenangan dari keuntungan bernilai sama, dengan rasio sekitar 2 hingga 2,5 kali lipat. Dampaknya membuat orang cenderung menahan aset yang rugi terlalu lama dengan harapan balik modal, alih-alih merealisasikan kerugian secara rasional.

4. Apakah bias perilaku juga bisa mempengaruhi estimasi akuntansi?

4. Apakah bias perilaku juga bisa mempengaruhi estimasi akuntansi?

Bisa. Estimasi akuntansi yang bersifat forward-looking, seperti perhitungan CKPN menurut PSAK 71, membutuhkan penilaian (judgement) manajemen tentang risiko di masa depan, yang secara inheren rentan terhadap bias seperti overconfidence dan anchoring.

5. Mengapa OJK kini mengatur financial influencer terkait topik ini?

5. Mengapa OJK kini mengatur financial influencer terkait topik ini?

Karena rekomendasi investasi yang viral dapat memanfaatkan herding behavior masyarakat, yaitu kecenderungan mengikuti tren tanpa evaluasi risiko memadai. POJK Nomor 6 Tahun 2026 mewajibkan izin resmi bagi pemberi rekomendasi produk pasar modal untuk memastikan rekomendasi yang beredar didasarkan pada analisis kompeten.

Mekari Jurnal

Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus.

Pelajari lebih lanjut

Sebagai bagian dari ekosistem software terpadu Mekari, 
Mekari Jurnal juga terintegrasi dengan berbagai solusi Mekari lainnya seperti :

  • Semua
  • Platform
  • Akuntansi & keuangan
  • Customer
  • People
  • Services
  • Operasional & digitalisasi

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami