Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
9 min read

Working Capital Management: Panduan untuk CFO dalam Mengoptimalkan Keuangan untuk Pertumbuhan Bisnis

Tayang

Highlights
  • DSO (Days Sales Outstanding) global naik dari 47,3 hari pada 2015 menjadi 50,0 hari pada 2024, kenaikan 5,7 persen dalam satu dekade. Di Asia, kenaikannya bahkan mencapai 9,1 persen hanya dalam dua tahun terakhir.
  • PwC memperkirakan ada 1,84 triliun euro modal kerja berlebih di seluruh dunia yang sebenarnya bisa dibebaskan untuk investasi, jika perusahaan mengelola piutang, persediaan, dan utang usahanya lebih disiplin.
  • McKinsey mencatat perusahaan top-quartile mampu mengikat 50 sampai 66 persen lebih sedikit modal dalam operasinya dibandingkan perusahaan bottom-quartile di industri yang sama.
  • Menurut Dr. Fariz, teknologi seperti AR/AP automation hanya efektif jika strategi dan kebijakan dasarnya sudah benar. Tanpa itu, digitalisasi hanya mempercepat kekacauan yang sudah ada.

Ada satu prinsip yang hampir selalu menjadi konsensus di ruang rapat keuangan, yakni “cash is king”.

Namun, prinsip tersebut kehilangan makna ketika modal perusahaan justru tertahan dalam piutang yang belum tertagih, inventory yang belum berputar, atau kewajiban tanpa strategi payment terms yang terstruktur.

Temuan tersebut diperkuat oleh PwC Working Capital Study 2025/26, yang menganalisis lebih dari 17.000 perusahaan secara global.

Riset ini menunjukkan bahwa Days Sales Outstanding (DSO) global meningkat 5,7% dalam satu dekade, dari 47,3 hari pada 2015 menjadi 50 hari pada 2024. Di Asia, kenaikannya bahkan mencapai 9,1% hanya dalam dua tahun terakhir.

Sumber: PwC Working Capital Study 25/26

PwC memperkirakan sekitar €1,84 triliun excess working capital berpotensi dibebaskan dan dialokasikan kembali untuk mendukung kebutuhan bisnis, investasi, maupun pertumbuhan.

Angka tersebut menegaskan bahwa working capital management bukan lagi sekadar fungsi operasional Finance. Bagi perusahaan enterprise, pengelolaan modal kerja merupakan bagian integral dari strategi liquidity management, capital allocation, dan sustainable business growth.

Dr. Fariz Hutama Putra Harjanto memahami persoalan ini berdasarkan dari beberapa pengalaman akademik dan kepemimpinannya di bidang business management kemudian memperluas perspektif tersebut ke level strategi bisnis.

“Likuiditas yang sehat memberikan nafas panjang dan lega bagi perusahaan untuk menjalankan kegiatan operasional serta mengambil peluang di kesempatan emas,” ujarnya.

Dari sudut pandang tersebut, artikel ini merangkum lima area yang paling menentukan efisiensi modal kerja perusahaan, mulai dari cara mengukur Cash Conversion Cycle hingga peran teknologi dalam mempercepat atau justru memperparah persoalan yang sudah ada.

Cash yang Sehat Dimulai dari Cash Conversion Cycle

Bagi Dr.Fariz, prinsip “Cash is king” tersebut menjadi dasar mengapa perusahaan perlu memberikan perhatian serius terhadap Cash Conversion Cycle atau CCC.

Perusahaan dapat memiliki inventory dalam jumlah besar maupun aset non-likuid lainnya, tetapi tetap mengalami tekanan kas ketika aset tersebut tidak dapat dikonversi menjadi cash dalam waktu yang efisien.

Padahal, akar permasalahan dapat dilacak lebih awal melalui tiga komponen Cash Conversion Cycle (CCC) untuk melihat berapa lama cash tertahan sejak modal digunakan untuk membeli atau menghasilkan inventory sampai akhirnya kembali menjadi kas dari pelanggan.

Cara menghitungnya dapat menggunakan rumus berikut:

Cash Conversion Cycle = DSO + DIO − DPO

IndikatorMengukurFokus perbaikanTarget Arah
DSO (Days Sales Outstanding)Berapa lama piutang dikonversi menjadi cashCollection & credit managementSemakin rendah semakin baik
DIO (Days Inventory Outstanding)Berapa lama inventory tertahan sebelum terjualForecasting & inventory managementSemakin rendah semakin baik
DPO (Days Payable Outstanding)Berapa lama perusahaan membayar supplierPayment terms & supplier managementSemakin lama semakin baik, dalam batas wajar

Persoalannya, banyak perusahaan mengukur ketiga komponen ini secara terpisah, tanpa melihatnya sebagai satu siklus yang saling memengaruhi.

Tim penjualan sibuk mengejar closing, tim gudang sibuk memastikan stok aman, tim keuangan sibuk menagih, tetapi tidak ada yang benar-benar memiliki gambaran utuh soal berapa lama uang perusahaan tertahan di setiap tahapan tersebut.

McKinsey menemukan bahwa perusahaan top-quartile dalam industrinya dapat mengikat 50–66% lebih sedikit modal dalam operasi dibandingkan perusahaan bottom-quartile.

Artinya, perbedaan kualitas working capital management dapat menciptakan ruang cash yang sangat besar tanpa harus meningkatkan penjualan terlebih dahulu.

Cara Cepat Menguji CCC Perusahaan Anda

Hitung DSO, DIO, dan DPO selama 12 bulan terakhir, kemudian bandingkan trennya dengan periode sebelumnya.

Jika CCC terus memanjang sementara penjualan relatif stabil, terdapat indikasi modal kerja semakin banyak tertahan dalam piutang atau persediaan dan berpotensi menekan likuiditas perusahaan.

DSO Naik Karena Revenue Belum Menjadi Cash

Ketika DSO memanjang, perusahaan kerap langsung menganggap pelanggan sebagai penyebabnya.

Menurut Dr. Fariz, akar masalahnya justru lebih sering terletak pada proses penagihan internal yang belum efektif, mulai dari administrasi hingga mekanisme collection.

“Perusahaan perlu membangun disiplin penagihan sejak awal dengan memastikan setiap pelanggan memahami peraturan serta syarat pembayaran secara transparan sebelum transaksi berjalan.”

Dr. Fariz Hutama Putra Harjanto, SE, B.Sc, MBA
Dr. Fariz Hutama Putra Harjanto, SE, B.Sc, MBA
Editor in Chief – Journal Strategic Innovation and Business Management di i3L University

Dua instrumen yang dinilai efektif bekerja dari dua arah: diskon pembayaran awal sebagai insentif untuk mempercepat arus kas, dan denda keterlambatan sebagai disinsentif atas pembayaran yang melewati jatuh tempo.

Kombinasi keduanya menciptakan mekanisme yang seimbang untuk menjaga disiplin pembayaran tanpa mengorbankan hubungan bisnis.

Pengalaman pribadinya di sektor persewaan properti menunjukkan bahwa fleksibilitas metode pembayaran juga berperan besar.

“Untuk sewa tahunan, pembayaran dapat dilakukan dua atau tiga kali dalam setahun, yang memberikan kemudahan dan keringanan bagi penyewa, juga memberikan collection yang lebih baik bagi perusahaan,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini relevan lintas sektor. Pada bisnis B2B yang bergantung pada distributor kecil di luar Jawa, keterlambatan pembayaran kerap terjadi karena siklus kas distributor tidak selaras dengan payment terms yang ditetapkan.

Alih-alih memperketat kebijakan kredit secara sepihak, perusahaan dapat menawarkan skema pembayaran bertahap serta kanal digital seperti QRIS dan virtual account. Pendekatan ini membantu mempercepat penerimaan kas sekaligus menjaga hubungan bisnis dengan pelanggan.

Uji DSO Perusahaan Anda

Evaluasi DSO perusahaan melalui tiga pertanyaan berikut:

  1. Berapa hari rata-rata sejak invoice diterbitkan hingga pembayaran diterima?
  2. Pelanggan atau segmen mana yang paling berkontribusi terhadap overdue receivables?
  3. Berapa nilai kas yang dapat dibebaskan jika DSO berkurang lima hari?

Pertanyaan ketiga menjadi krusial bagi CFO. Penurunan DSO bukan sekadar perbaikan KPI Finance, tetapi dapat menjadi sumber pelepasan kas yang material ketika diterapkan pada skala enterprise.

DIO: Ketika Inventory Berubah Menjadi Cash yang Menganggur

Jika DSO menunjukkan kas yang tertahan pada pelanggan, DIO menunjukkan kas yang terikat dalam inventory.

Tantangannya semakin kompleks ketika perusahaan menghadapi fluktuasi demand, inflasi, suku bunga, dan ketidakpastian supply chain.

Karena itu, forecasting menjadi fondasi penting dalam pengambilan keputusan inventory. Dengan memanfaatkan historical sales data, perusahaan dapat memetakan periode low demand, high demand, hingga demand spike, termasuk seasonal peak seperti Ramadan, Lebaran, dan Natal–Tahun Baru.

Forecast tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan:

  1. Kebutuhan bahan baku
  2. Production scheduling
  3. Purchasing
  4. Inventory buffer
  5. Alokasi anggaran

Tanpa forecasting yang memadai, perusahaan dapat mengambil keputusan inventory berdasarkan asumsi “lebih baik memiliki stok daripada kehabisan”.

Padahal, excess inventory meningkatkan carrying cost dan opportunity cost karena kas yang seharusnya dapat dialokasikan untuk ekspansi, memenuhi kewajiban, atau investasi strategis justru terikat di gudang.

Pendekatan Lean dan Just-in-Time juga dapat menekan carrying cost, tetapi Dr. Fariz juga membagikan cara praktis mengatasi stok yang sudah telanjur macet.

“Perusahaan melakukan strategi friends and family sale untuk mengonversi dead stock, dengan cara memberikan diskon besar bagi pegawai dan keluarganya agar dead stock dapat secara cepat terkonversi ke dalam bentuk cash.”

Dr. Fariz Hutama Putra Harjanto, SE, B.Sc, MBA
Dr. Fariz Hutama Putra Harjanto, SE, B.Sc, MBA
Editor in Chief – Journal Strategic Innovation and Business Management di i3L University

DPO: Memaksimalkan Cash Tanpa Mengorbankan Supplier

Di antara tiga komponen CCC, DPO kerap disalahpahami sebagai metrik yang harus ditekan serendah mungkin. Padahal, semakin panjang DPO, semakin lama kas dapat dipertahankan di dalam perusahaan.

“Semakin lama DPO, semakin baik, yang artinya cash bertahan di dalam perusahaan lebih lama,” kata Dr. Fariz.

Namun, strategi ini tetap memiliki batas. Memperpanjang tempo pembayaran hanya memberikan manfaat selama tidak menimbulkan bunga, denda, atau biaya tambahan yang menggerus nilai ekonominya.

Risiko lainnya adalah dampak terhadap supplier relationship. Menunda pembayaran secara sepihak mungkin memperbaiki posisi kas jangka pendek, tetapi dapat mengurangi kepercayaan dan daya tawar perusahaan dalam negosiasi harga, payment terms, maupun minimum order quantity (MOQ) di masa depan.

Pendekatan yang lebih sehat adalah menegosiasikan payment terms sejak awal kontrak dan memanfaatkan seluruh tenor yang disepakati tanpa melewati jatuh tempo. Dengan demikian, perusahaan dapat mengoptimalkan cash conversion sekaligus menjaga hubungan strategis dengan pemasok.

Mengoptimalkan DSO, DIO, dan DPO bukan sekadar upaya memperbaiki metrik Finance, tetapi strategi untuk membebaskan kas dan meningkatkan capital efficiency.

Pada level perusahaan, mekanismenya sama.

Cash yang sebelumnya tertahan dalam:

Receivables → Inventory → Operating Cycle

Dapat dikonversi menjadi:

Cash → Debt Reduction → Capex → Expansion → Investment

Efisiensi tersebut juga memperkuat indikator likuiditas seperti Current Ratio dan Quick Ratio.

Lebih penting lagi, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada pinjaman jangka pendek untuk membiayai kebutuhan operasional.

Dampaknya tidak berhenti pada liquidity. Ketika cash flow operasional lebih kuat dan kebutuhan modal kerja lebih terprediksi, perusahaan memiliki fleksibilitas lebih besar untuk mengalokasikan modal pada peluang pertumbuhan.

Dari perspektif valuasi, kemampuan mengonversi laba menjadi kas juga menjadi indikator penting kualitas kinerja keuangan.

Karena itu, working capital efficiency pada akhirnya berkaitan langsung dengan cash generation, financial resilience, dan capital efficiency.

Automasi AR/AP, Penguat Efisiensi atau Pemercepat Kekacauan

Banyak perusahaan berharap teknologi dapat menyelesaikan persoalan modal kerja secara menyeluruh. Namun, Dr. Fariz menekankan bahwa teknologi seharusnya diposisikan sebagai enabler, bukan pengganti strategi dan kebijakan.

“Teknologi adalah penguat yang akan memperkuat efisiensi jika strategi dan kebijakannya tepat, namun juga akan mempercepat kekacauan jika proses dasarnya sudah rusak.”

Dr. Fariz Hutama Putra Harjanto, SE, B.Sc, MBA
Dr. Fariz Hutama Putra Harjanto, SE, B.Sc, MBA
Editor in Chief – Journal Strategic Innovation and Business Management di i3L University

Hal ini menjelaskan mengapa sebagian inisiatif digitalisasi Finance tidak menghasilkan dampak yang diharapkan.

Perusahaan dapat berinvestasi pada AR/AP automation atau platform POS, tetapi jika kebijakan kredit masih longgar,, menurut Dr. Fariz hasilnya hanya menjadi digitalized inefficiency, yaitu efisiensi palsu yang dibungkus tampilan digital.

Urutan yang benar hampir selalu dimulai dari kebijakan, baru diikuti teknologi. Tentukan lebih dulu target CCC yang realistis, perbaiki proses persetujuan dan penagihan yang selama ini berjalan manual, baru kemudian pilih sistem yang bisa memperkuat proses yang sudah rapi tersebut.

Supply chain financing dan platform pembayaran digital akan memberikan nilai optimal ketika dibangun di atas fondasi kebijakan dan proses yang solid, bukan digunakan sebagai solusi tambal sulam.

Dari KPI Finance Menjadi Working Capital Operating Model

Bagi perusahaan enterprise, optimalisasi working capital sebaiknya tidak menjadi proyek satu kali.

CFO perlu membangun operating model yang membuat cash conversion menjadi tanggung jawab lintas fungsi.

AreaFungsi utamaKPI yang perlu dipantau
Sales & FinanceMengendalikan credit dan collectionDSO, overdue AR
ProcurementMengoptimalkan supplier termsDPO, payment compliance
Supply ChainMenjaga inventory tetap optimalDIO, slow-moving stock
OperationsMenjaga demand dan supply alignmentForecast accuracy
FinanceMenghubungkan operational performance dengan cashCCC, operating cash flow
ManagementMenentukan trade-off dan targetNWC, liquidity, cash release

Dengan pendekatan tersebut, working capital tidak lagi sekadar menjadi KPI yang diperhatikan ketika likuiditas mulai tertekan.

Sebaliknya, CCC dapat diposisikan sebagai management metric untuk mengantisipasi kebutuhan kas, mengoptimalkan alokasi modal, dan mengambil keputusan sebelum tekanan likuiditas muncul.

Tiga Pertanyaan untuk Menguji Working Capital Perusahaan Anda

Bagi finance manager maupun business owner yang ingin menilai posisi perusahaannya, tiga pertanyaan berikut lebih berguna daripada sekadar melihat saldo kas bulan ini.

1. Jika perusahaan membutuhkan tambahan cash dalam 30 hari, di mana cash paling realistis dapat dibebaskan?

Jika jawabannya hanya “mencari pinjaman”, perusahaan mungkin belum melihat seluruh working capital opportunity yang tersedia.

2. Apakah kenaikan CCC berasal dari satu titik atau merupakan akumulasi masalah DSO, DIO, dan DPO?

CCC yang terlihat stabil belum tentu berarti seluruh komponennya sehat. McKinsey menunjukkan bahwa performa satu komponen dapat menutupi kelemahan komponen lainnya.

3. Apakah teknologi perusahaan memperbaiki proses atau hanya mempercepat proses yang sudah tidak efisien?

Jika workflow masih membutuhkan banyak spreadsheet, follow-up manual, rekonsiliasi berulang, dan approval yang tidak memiliki dasar kebijakan yang jelas, digitalisasi belum tentu menyelesaikan masalah.

Pada akhirnya, modal kerja bukan sekadar angka di neraca yang dilaporkan setiap akhir bulan. Ia adalah cermin seberapa disiplin sebuah organisasi mengelola waktu, mulai dari waktu menagih, waktu menyimpan, sampai waktu membayar.

Selama disiplin itu belum terbentuk, teknologi secanggih apa pun hanya akan mempercepat masalah yang sama menuju titik yang lebih mahal.

Working Capital Management Bukan Sekadar Mempercepat Cash

Working capital management bukan sekadar memaksimalkan DPO, menekan DSO, atau memangkas inventory.

Setiap keputusan memiliki trade-off terhadap liquidity, operational resilience, profitability, dan growth.

Karena itu, CFO perlu menemukan tingkat working capital yang optimal, bukan sekadar mengejar angka KPI tertentu.

Perspektif Dr. Fariz Hutama Putra Harjanto membantu perusahaan melihat working capital secara lebih strategis, mulai dari pengelolaan piutang dan inventory hingga hubungan dengan supplier.

Pada akhirnya, efisiensi modal kerja menciptakan ruang gerak finansial untuk memperkuat ketahanan dan menangkap peluang pertumbuhan.

Untuk mendukungnya, Mekari Jurnal menyediakan fitur pengelolaan pengeluaran, invoice, inventory, serta laporan keuangan yang terintegrasi sehingga Finance memiliki visibilitas lebih baik untuk mengambil keputusan berbasis data.

Coba GRATIS sekarang juga!

Coba Gratis Sekarang!

 

Referensi:

PwC. “Working Capital Study 25/26“.

McKinsey & Company. “A €220 billion opportunity in working capital in the Nordics“.

Pertanyaan yang Sering Diajukan Tentang

Apa itu working capital management?

Apa itu working capital management?

Working capital management adalah strategi mengelola aset dan kewajiban lancar agar operasional tetap berjalan sekaligus menjaga likuiditas dan efisiensi modal.

Apa itu Cash Conversion Cycle (CCC)?

Apa itu Cash Conversion Cycle (CCC)?

CCC mengukur berapa lama modal perusahaan tertahan sejak digunakan untuk membeli atau menghasilkan inventory hingga kembali menjadi kas dari pelanggan.

Apa saja komponen Cash Conversion Cycle?

Apa saja komponen Cash Conversion Cycle?

CCC terdiri dari DSO (piutang), DIO (inventory), dan DPO (utang kepada supplier). Ketiganya perlu dianalisis sebagai satu siklus, bukan secara terpisah.

Bagaimana cara menurunkan DSO perusahaan?

Bagaimana cara menurunkan DSO perusahaan?

Perusahaan dapat memperjelas payment terms, memperkuat collection, memberikan insentif pembayaran lebih awal, serta menyediakan metode pembayaran yang memudahkan pelanggan.

Apa hubungan DIO dengan inventory management?

Apa hubungan DIO dengan inventory management?

DIO menunjukkan berapa lama kas terikat dalam inventory sebelum terjual. Forecasting yang akurat membantu perusahaan menentukan kebutuhan stok dan mengurangi risiko excess inventory.

Mengapa working capital management penting bagi perusahaan enterprise?

Mengapa working capital management penting bagi perusahaan enterprise?

Pengelolaan modal kerja yang baik dapat membebaskan cash, mengurangi ketergantungan pada pinjaman jangka pendek, meningkatkan capital efficiency, dan memberikan ruang untuk investasi serta ekspansi.

Apa peran teknologi dalam working capital management?

Apa peran teknologi dalam working capital management?

Teknologi berperan sebagai enabler yang memperkuat proses dan kebijakan yang sudah baik. Automasi AR/AP, misalnya, tidak akan optimal jika proses penagihan atau kebijakan kredit dasarnya masih bermasalah.

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis