Tips Memulai Bisnis Media Online Independen

Bisnis media online independen belakangan menjadi model bisnis yang cukup banyak ditekuni terutama di Indonesia. Di era keterbukaan dan serba cepat, konsumsi informasi dan pemberitaan tidak lagi terbatas pada televisi atau berlangganan berita. Bahkan media sosial pun bisa menjadi wadah memulai bisnis media online independen

Sebenarnya model bisnis media online secara umum terbagi menjadi 3 jenis; display ad, dimana media online Anda dimanfaatkan sebagai media iklan. Premium content, dimana setiap kontennya dikenakan biaya untuk mengaksesnya dan yang terakhir adalah content creator.

Khusus jenis content creator, model bisnis media online ini bisa dilakukan oleh siapapun bahkan dengan modal seadanya. Siapapun bisa memulainya sehingga model content creating ini sering disebut dengan media online independen karena jenis model ini tidak bergantung pada traffic namun pada audience engagement.

Lalu bagaimana model bisnis media online meraup rupiah jika tidak begitu mengandalkan iklan dan juga traffic

Menjadi Lebih Niche untuk Dapatkan Community Engagement

Ada berbagai cara agar media online independen mendapatkan cuan dari bisnisnya; pertama adalah community engagement. Hal ini berkaitan dengan seberapa besar audience Anda terhubung dengan konten yang dibuat. Dari engagement ini, terbentuklah sebuah komunitas yang akan terus mendukung media online yang Anda bangun.

Lalu bagaimana cara mendapatkan engagement ini?

Fokus.

Fokuskan rencana pada apa yang Anda suka, hobi, dan kemampuan.

Pepatah bilang, Bisnis yang baik berasal dari hobi. Bisnis media online ini sebenarnya bisa menjadi penyaluran hobi Anda. Angkatlah tema-tema tertentu dalam membangun media online Anda.

Misalnya Anda hobi bermain game, buatlah media informasi yang memuat review, gameplay, atau berita-berita terkait game.

Bisa saja Anda saat ini sedang menjalankan bisnis pertanian dan memulai media online Anda sendiri dengan membuat konten berisi ulasan, tips dan trik pertanian dan produk-produknya.

Karena topik-topik tertentu ini, Anda akan mendapatkan audience yang lebih niche sehingga membentuk komunitas tertentu yang siap dan terus mendukung bisnis Anda.

Lalu bagaimana mereka mendukung bisnis Anda?

Dukungannya bisa dalam bentuk traffic yang stabil (bukan banyak) artinya, konten yang Anda buat tidak mengalami anomali. Dari komunitas ini juga akan terbentuk yang namanya model permodalan crowdfunding. Di mana audience media Anda dapat memberikan “modal” terhadap media online yang Anda bangun.

Kedua, Anda bisa memanfaatkan media Anda sebagai media iklan. Cara kedua ini berlaku jika cara pertama, audience engagement Anda berhasil. Karena media online Anda lebih niche, engagement produk yang ingin beriklan di media Anda akan semakin berdampak pada mereka.

Topik yang niche bisa mendatangkan komunitas tertentu.

Biasanya jika Anda sudah mendapatkan engagement yang besar dari audiens Anda, dengan sendirinya bisnis media online Anda memiliki traffic yang stabil dan banyak tanpa harus mengorbankan integritas konten.

Traffic yang stabil dan besar ini yang nantinya mengundang produk-produk yang berkaitan dengan topik media online Anda mengajukan diri untuk bekerja sama sebagai endorser.

Misalnya saja media online games. Anda bisa membuat soft selling dengan mengulas produk laptop yang dikeluarkan oleh merek A.

Jika media online petani, Anda bisa membuat konten tips menanam jagung dengan bibit yang dibeli oleh produsen B.

Mengawali dari Media Sosial

Anda tidak perlu mengawali dengan membuat website. Benar-benar tidak perlu!

Beberapa media online di Indonesia yang besar saat ini bahkan mengawali media online dari platform obrolan LINE sebagai official account. Anda pun juga bisa memulainya dari media sosial.

Sebagai acuan, Databoks merilis 10 besar media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia, di antaranya adalah Youtube, Instagram, Facebook, Twitter, LINE, dan Linkedin.

Anda bisa memanfaatkan media sosial tersebut untuk memulai konten bisnis media online Anda. Namun saran kami, Anda bisa memulainya tergantung topik apa yang Anda angkat. Misalnya jika konten Anda membahas otomotif, Youtube bisa menjadi media yang paling legit.

Jika ingin memulai media online game, animasi, atau perfilman Anda bisa memulai dari media sosial seperti LINE, Instagram, Twitter atau Facebook. Karena media sosial tersebut masih didominasi oleh pengguna kawula muda yang memang ketertarikannya lebih mengarah pada budaya populer.

Jika bisnis ini sudah memiliki engagement yang besar, mulailah berekspansi ke media lain yang bisa melakukan monetisasi seperti YouTube atau website. Dengan begitu, penghasilan Anda bukan hanya dari crowdfunding atau endorsement saja. 

Baca juga: Instagram Content Marketing, Bukan Cuma Sekedar Konten!

model bisnis media online

 

Strategi Konten

Meski mengandalkan engagement, media online independen tetaplah butuh traffic. Tapi ingat, bukan berarti traffic menjadi tujuan membabi-buta yang bisa menyebabkan disengagement dari audiens Anda.

Lalu bagaimana caranya? Tetap up-to-date dan peka terhadap tren. Namun, tren yang disajikan masih berada di ruang lingkup komunitas.

Misalnya saja Anda membuat media online edukasi politik, sosial dan budaya. Tentu Anda harus peka dengan kondisi tren saat ini. Misalnya saja, saat pandemi. Anda bisa mengangkat topik, “Bagaimana kebijakan pemerintah hadapi pandemi?” atau tren media sosial berbagi video lipsync, “kenapa media sosial lipsync kian populer?”. Kira-kira begitu.

Selain konten terbaru, buat isi konten atau informasi media Anda shareable. trendingviral atau dilihat banyak orang.

Konten shareable itu harus menyentuh emosi, menjawab pertanyaan, memberikan pengalaman baru, dan dapat membangun kepercayaan.

Menyentuh emosi maksudnya adalah bagaimana konten itu bisa relate dengan audience, “eh iya gue ngalamin ini!, gue butuh ini!” wah, temen gue kayaknya butuh ini!”

Namun ingat ya, bukan berarti konten atau informasi yang disampaikan clickbait atau sensasional. Sebagai media online independen, kualitas konten dan informasi menjadi nomor satu.

Anda bisa memulai dengan membuat copywriting yang bisa dikonsumsi sesuai dengan target usia. Jika tulisan Anda diperuntukan untuk usia muda, buatlah tulisan yang memang mudah dipahami oleh usia tersebut. Begitu pun dengan audiens usia tua.

audience konten kreator

Baca juga: Tips Branding Produk dengan Menggunakan Konten Video

Selain itu Anda juga bisa membuat judul atau topik yang memang mengundang emosi sang pembaca. Misalnya, “Anda kaum rebahan? Saatnya berhenti jika tidak ingin mengalami hal ini!

Kedua menjawab pertanyaan. Poin ini yang sangat umum dijadikan konten oleh media online. Misalnya membuat konten tips dan trik merawat laptop atau membuat  judul dengan, “mitos yang bikin laptop kamu rusak

Intinya, konten yang disajikan bisa menjawab pertanyaan dan rasa penasaran audiens atau bahkan memberikan pengetahuan dan pengalaman baru kepada audiens Anda. Pada poin ini, Anda bisa memberikan bukti misalnya berdasarkan penelitian, pengalaman, atau percobaan.

Dari sini, Anda bisa membangun rasa percaya pada audiens yang membuat mereka akan terus  menunggu update informasi dari media online Anda.

Memang, membangun bisnis seperti ini sulit-sulit-mudah semua  bergantung pada konsistensi Anda mulai dari seberapa sering Anda mengunggah konten dan informasi, seberapa cepat informasi tersebut sampai kepada audiens, dan faktor lainnya.

Jika bisnis ini sudah sustain, apalagi sudah mulai menuntut kerja cepat, tentunya otomasi keuangan jadi hal yang harus diperhatikan. Jurnal, layanan dan software akuntansi bisnis siap menjadi teman Anda dalam membangun bisnis. Ingin mencoba Jurnal? Klik link ini!

Mau mulai Bisnis? Unduh ebook  Panduan Lengkap Evaluasi & Perencanaan Bisnis secara gratis!

 

 

 


PUBLISHED11 Jun 2020
Hafidh
Hafidh

SHARE THIS ARTICLE: