Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Analisis Vertikal Laporan Keuangan: Pengertian, Prosedur, Cara Melakukannya, serta Kelebihan dan Kekurangannya

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Highlights
  • Analisis vertikal menunjukkan struktur keuangan secara jelas dengan mengubah setiap akun menjadi persentase untuk membantu memahami komposisi biaya, aset, dan profitabilitas dalam satu periode
  • Proporsi seperti HPP terhadap penjualan atau utang terhadap aset membantu mengidentifikasi efisiensi operasional dan risiko keuangan
  • Format persentase ideal untuk perbandingan dan benchmarking antar perusahaan atau divisi tanpa bias perbedaan skala bisnis

Analisis vertikal adalah teknik yang mengubah setiap akun dalam laporan keuangan menjadi persentase dari satu angka dasar dalam periode yang sama.

Metode ini membantu melihat struktur internal laporan keuangan melalui proporsi setiap akun, sehingga memudahkan identifikasi efisiensi biaya, keseimbangan aset, dan kesehatan struktur modal.

Analisis vertikal juga seringkali digunakan karena angka absolut dalam laporan keuangan sering belum cukup untuk memberikan gambaran yang utuh, sehingga dapat melihat proporsi setiap akun dan menilai efisiensi serta kesehatan finansial bisnis.

Dengan mengubah angka menjadi persentase, sehingga memudahkan perbandingan antar perusahaan, mengidentifikasi struktur biaya, dan menemukan area yang perlu diperbaiki.

Apa Itu Analisis Vertikal?

Harvard Business School mendefinisikan analisis vertikal dalam laporan keuangan adalah metode membaca laporan keuangan dalam satu periode dengan melihat hubungan setiap akun terhadap totalnya, misalnya setiap pos laba rugi dinyatakan sebagai persentase dari penjualan.

Teknik ini menyajikan setiap item laporan keuangan sebagai persentase dari satu akun dasar, yang disebu dengan common size analysis dan menghasilkannya dalam bentuk persentase yang memudahkan perbandingan.

Istilah “vertikal” merujuk pada cara membaca laporan keuangan dari atas ke bawah dalam satu periode dengan membandingkan setiap akun terhadap satu basis, sehingga dapat mengidentifikasi biaya yang terlalu dominan atau alokasi aset yang kurang optimal.

Dasar Perhitungan Analisis Vertikal

Pada laporan laba rugi, penjualan atau pendapatan bersih digunakan sebagai basis 100%, sehingga setiap akun lain dapat dinyatakan sebagai persentase dari penjualan.

Hal ini memudahkan penilaian efisiensi biaya, karena proporsi seperti HPP terhadap penjualan langsung menunjukkan berapa bagian pendapatan yang digunakan untuk produksi.

Pada neraca, total aset digunakan sebagai basis 100%, sehingga setiap akun aset, liabilitas, dan ekuitas dapat dinyatakan sebagai persentase, membantu memahami struktur pendanaan dan investasi perusahaan secara konsisten dan akurat.

Baca Juga: 4 Metode Analisis Laporan Keuangan, Ini Jenisnya!

Tujuan Analisis Vertikal Laporan Keuangan

Analisis vertikal memiliki beberapa tujuan strategis yang dirancang untuk memberikan insight yang lebih mendalam tentang struktur keuangan perusahaan.

1. Menilai Struktur Biaya

Analisis vertikal membantu mengevaluasi efisiensi biaya dengan melihat HPP dan beban operasional sebagai persentase dari penjualan.

2. Menilai Komposisi Aset, Liabilitas, dan Ekuitas

Metode ini digunakan untuk memahami struktur aset dan sumber pendanaan perusahaan melalui proporsi masing-masing akun.

Baca Juga: Aset Tetap vs Aset Tidak Tetap: Pengertian, Contoh, dan Perbedaan untuk Laporan Keuangan yang Akurat

3. Memudahkan Perbandingan Antar Perusahaan

Dengan menggunakan persentase, perusahaan dengan skala berbeda dapat dibandingkan secara lebih objektif.

4. Mendeteksi Anomali dalam Laporan Keuangan

Perubahan persentase yang signifikan pada suatu akun dapat menjadi indikasi adanya masalah atau perkembangan penting dalam bisnis.

Baca Juga: Analisis Rasio Keuangan: Pengertian, Fungsi, Jenis dan Contohnya

Prosedur Analisis Vertikal

Menjalankan analisis vertikal pada dasarnya dilakukan secara sederhana, namun memerlukan perhatian yang cukup detail.

Langkah-langkah analisis vertikal denga benar dimulai dari:

1. Memilih Laporan Keuangan yang Akan Dianalisis

Tentukan laporan yang relevan, seperti laba rugi, neraca, atau keduanya sesuai tujuan analisis.

Pastikan laporan rapi dan mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya agar hasilnya dapat diandalkan, dan gunakan laporan yang telah diaudit jika tersedia untuk meningkatkan kredibilitas.

2. Menentukan Akun Dasar (Base Amount)

Pilih akun dasar sebagai acuan 100%, seperti penjualan untuk laporan laba rugi dan total aset untuk neraca, karena basis ini akan menjadi fondasi dalam seluruh proses analisis.

Pastikan pemilihannya sesuai tujuan analisis dan digunakan secara konsisten agar hasil tetap valid serta mudah dibandingkan.

3. Menghitung Persentase Setiap Akun

Hitung proporsi setiap akun dengan membagi nilainya terhadap akun dasar lalu dikalikan 100% agar diperoleh persentase yang relevan.

Lakukan secara menyeluruh untuk semua akun, dan manfaatkan spreadsheet atau software akuntansi agar proses lebih cepat dan akurat.

4. Menginterpretasikan Hasil Analisis

Analisis tidak berhenti pada angka persentase, tetapi harus dilanjutkan dengan evaluasi konteks bisnis dan industri.

Bandingkan hasil dengan standar industri, target internal, atau periode sebelumnya untuk memperoleh insight yang lebih mendalam dan relevan dengan kondisi bisnis.

Tahap ini menjadi kunci dalam mengidentifikasi efisiensi, potensi risiko, serta peluang perbaikan yang dapat dilakukan secara lebih terarah.

Cara Melakukan Analisis Vertikal secara Efektif

Melakukan analisis vertikal yang efektif tidak hanya berhenti pada perhitungan persentase, tetapi juga berfokus pada bagaimana menghasilkan insight yang relevan untuk pengambilan keputusan bisnis.

Proses ini sebaiknya dimulai dengan menggunakan laporan keuangan yang sudah rapi, final, dan mencerminkan kondisi sebenarnya, karena data yang belum bersih berisiko menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Selanjutnya, penting untuk memilih basis analisis yang konsisten, seperti penjualan bersih pada laporan laba rugi, agar hasil yang diperoleh tetap valid dan dapat dibandingkan antar periode.

Namun, tahap paling krusial adalah interpretasi bisnis di balik angka tersebut, karena perubahan persentase hanya menjadi bermakna jika mampu menjelaskan penyebabnya dan implikasinya terhadap kinerja perusahaan.

Contoh Analisis Vertikal pada Laporan Laba Rugi

Mari kita lihat contoh sederhana yang menunjukkan bagaimana analisis vertikal diterapkan pada laporan laba-rugi untuk mendapatkan insight bisnis.

Data laporan laba rugi dalam dua periode:

Komponen 2024 (Rp) Persentase 2025 (Rp) Persentase
Penjualan Bersih 1.000.000.000 100% 1.200.000.000 100%
HPP 600.000.000 60% 720.000.000 60%
Laba Kotor 400.000.000 40% 480.000.000 40%
Beban Operasional 200.000.000 20% 300.000.000 25%
Laba Operasional 200.000.000 20% 180.000.000 15%
Beban Bunga 20.000.000 2% 30.000.000 2,5%
Laba Sebelum Pajak 180.000.000 18% 150.000.000 12,5%
Pajak 45.000.000 4,5% 37.500.000 3,1%
Laba Bersih 135.000.000 13,5% 112.500.000 9,4%

Berdasarkan data, penjualan meningkat dari Rp1 miliar pada 2024 menjadi Rp1,2 miliar di 2025 atau naik 20%. Namun, peningkatan ini tidak diikuti kenaikan profit. Secara vertikal, HPP tetap di 60% sehingga margin kotor stabil di 40% dan menunjukkan efisiensi produksi tidak berubah.

Permasalahan utama terlihat pada beban operasional yang naik dari 20% menjadi 25% terhadap penjualan. Dampaknya, laba operasional turun dari 20% menjadi 15%. Selain itu, beban bunga juga meningkat dari 2% ke 2,5% yang menekan laba sebelum pajak dari 18% menjadi 12,5%.

Akibatnya, laba bersih turun dari 13,5% menjadi 9,4% meskipun penjualan meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan belum mampu menjaga profitabilitas. Secara keseluruhan, perusahaan perlu fokus pada pengendalian biaya operasional dan efisiensi struktur pendanaan agar margin tetap terjaga.

Contoh Analisis Vertikal pada Neraca

Analisis vertikal juga sangat bermanfaat untuk memahami komposisi aset dan struktur modal perusahaan.

Untuk memahaminya, simak studi kasus berdasarkan data neraca perusahaan berikut ini.

Komponen 2024 (Rp) Persentase 2025 (Rp) Persentase
Kas 200.000.000 20% 180.000.000 15%
Piutang Usaha 300.000.000 30% 420.000.000 35%
Persediaan 500.000.000 50% 600.000.000 50%
Total Aset 1.000.000.000 100% 1.200.000.000 100%
Utang Usaha 250.000.000 25% 300.000.000 25%
Utang Bank 150.000.000 15% 300.000.000 25%
Total Liabilitas 400.000.000 40% 600.000.000 50%
Ekuitas 600.000.000 60% 600.000.000 50%

Berdasarkan data, total aset meningkat dari Rp1 miliar pada 2024 menjadi Rp1,2 miliar di 2025 atau tumbuh 20%. Namun, struktur aset dan pendanaan mengalami perubahan yang cukup signifikan.

Dari sisi aset, proporsi kas menurun dari 20% menjadi 15%, sementara piutang usaha meningkat dari 30% menjadi 35%. Hal ini mengindikasikan bahwa lebih banyak dana perusahaan terikat dalam piutang, yang berpotensi menekan likuiditas. Di sisi lain, persediaan tetap stabil di 50%, menunjukkan tidak ada perubahan strategi dalam pengelolaan stok.

Dari sisi pendanaan, total liabilitas meningkat dari 40% menjadi 50% terhadap aset. Kenaikan ini terutama berasal dari utang bank yang naik dari 15% menjadi 25%. Sebaliknya, porsi ekuitas turun dari 60% menjadi 50%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan aset perusahaan lebih banyak didanai oleh utang dibandingkan modal sendiri. Jika tidak dikelola dengan baik, peningkatan leverage ini dapat meningkatkan risiko keuangan, terutama terkait kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang.

Baca Juga: 4 Karakteristik Laporan Keuangan Sesuai PSAK

Manfaat Analisis Vertikal

Mengadopsi common size analysis memberikan berbagai keuntungan bagi perusahaan dalam jangka pendek maupun jangka panjang:

1. Transparansi Struktur Biaya

Analisis vertikal memungkinkan perusahaan memahami komposisi biaya secara menyeluruh dengan mengubah setiap akun menjadi persentase dari total sehingga memudahkan identifikasi pos mana yang paling besar menyerap sumber daya dan perlu dikendalikan.

2. Kemudahan Benchmarking

Dengan menyajikan data dalam bentuk persentase, analisis vertikal mempermudah perbandingan kinerja keuangan perusahaan baik antar divisi maupun dengan kompetitor tanpa terpengaruh perbedaan skala bisnis.

3. Identifikasi Risiko Likuiditas

Melalui analisis vertikal pada neraca, perusahaan dapat melihat proporsi utang terhadap aset atau ekuitas sehingga lebih mudah mengidentifikasi potensi risiko likuiditas atau tekanan finansial sejak dini.

Baca Juga: Mengenal Risiko Likuiditas: Pengertian, Penyebab, Pengukuran, dan Cara Mengatasi

Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Analisis Vertikal

Analisis vertikal sering menjadi pilihan utama karena praktis dan langsung memberikan gambaran struktur keuangan, namun di balik kemudahannya tetap ada keterbatasan yang perlu dipahami agar tidak terjadi misinterpretasi dalam pengambilan keputusan.

Oleh karena itu, berikut ringkasan kelebihan dan kekurangannya dalam bentuk tabel agar lebih mudah dipahami:

Kelebihan
Sederhana Perhitungannya hanya berbasis pembagian sederhana sehingga mudah dipahami bahkan oleh non-akuntan dan pemilik bisnis
Tidak Butuh Data Historis Dapat dilakukan hanya dengan satu periode laporan keuangan sehingga cocok untuk startup atau bisnis yang belum memiliki data historis panjang
Fokus Internal yang Kuat Memberikan gambaran mendalam mengenai struktur keuangan internal seperti komposisi biaya, aset, dan liabilitas
Identifikasi Area Masalah Memudahkan manajemen mendeteksi pos yang mengalami lonjakan tidak wajar
Kekurangan
Kurang Perspektif Waktu Tidak menunjukkan tren atau perkembangan kinerja karena hanya berfokus pada satu periode
Tidak Menjelaskan Penyebab Hanya menunjukkan proporsi tanpa menjelaskan faktor penyebab perubahan pada suatu akun
Bisa Menyesatkan Perubahan persentase bisa terlihat signifikan akibat perubahan nilai dasar, bukan karena perubahan nyata pada akun tersebut
Membutuhkan Pembanding Tanpa benchmark atau standar industri, persentase yang dihasilkan sulit dievaluasi apakah sudah optimal atau belum

Perbedaan Analisis Vertikal dan Horizontal

Memahami perbedaan ini adalah kunci untuk memilih metode analisis yang tepat untuk tujuan Anda.

Berikut adalah tabel komparatif yang menunjukkan perbedaan utama antara analisis vertikal dan analisis horizontal melalui beberapa aspek penting:

Aspek Analisis Vertikal Analisis Horizontal Output Basis
Fokus Proporsi dalam satu periode Tren lintas periode Struktur Tren
Periode Satu periode Minimal dua periode Persentase Periode lalu
Rumus (Item ÷ Basis) × 100% ((Periode Ini − Periode Lalu) ÷ Periode Lalu) × 100% Perubahan % Laba bersih

Secara singkat, analisis vertikal cocok ketika Anda ingin memahami struktur laporan keuangan dalam satu periode, sementara analisis horizontal cocok ketika Anda ingin melihat bagaimana akun-akun berubah dari periode ke periode.

Dalam praktik terbaik, kedua metode sering digunakan bersama-sama untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang kinerja dan struktur keuangan perusahaan.

Kesimpulan

Analisis vertikal laporan keuangan adalah metode yang sederhana namun sangat berharga untuk memahami struktur keuangan perusahaan dalam satu periode.

Dengan mengubah setiap item laporan keuangan menjadi persentase dari basis yang dipilih, Anda dapat dengan cepat melihat proporsi relatif dari setiap akun dan mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian.

Dengan analisis vertikal yang tepat, bisnis dapat melihat struktur biaya, aset, dan profitabilitas secara lebih jelas dalam satu periode.

Menggunakan software akuntansi seperti Mekari Jurnal juga membantu menyiapkan laporan keuangan yang rapi dan mengotomatisasi perhitungan analisis vertikal, sehingga tim finance Anda dapat fokus pada interpretasi dan pengambilan keputusan strategis daripada pekerjaan kalkulasi manual.

Dengan teknologi yang tepat, analisis vertikal menjadi lebih cepat, akurat, dan actionable untuk mendukung pertumbuhan bisnis Anda.

Coba GRATIS sekarang juga!

Saya Mau Bertanya Ke Sales Mekari Jurnal Sekarang!

 

 

Referensi:

HBS, “Financial Statement Analysis: The Basics for Non-Accountants”.

Pressbooks, “Horizontal and vertical analysis”.

AccountingTools, “Vertical analysis definition”.

Financial Edge, “Vertical Analysis”.

CFI, “Common Size Analysis”.

FAQ Tentang Analisis Vertikal Laporan Keuangan

Apa itu analisis vertikal laporan keuangan?

Apa itu analisis vertikal laporan keuangan?

Analisis vertikal adalah metode mengubah setiap akun dalam laporan keuangan menjadi persentase dari satu basis dalam periode yang sama untuk melihat struktur keuangan.

Apa tujuan analisis vertikal dalam laporan keuangan?

Apa tujuan analisis vertikal dalam laporan keuangan?

Tujuannya adalah memahami komposisi biaya, aset, dan struktur modal serta menilai efisiensi dan kesehatan finansial perusahaan.

Apa yang dimaksud common size analysis?

Apa yang dimaksud common size analysis?

Common size analysis adalah istilah lain dari analisis vertikal, di mana setiap akun dinyatakan sebagai persentase dari angka dasar.

Apa basis yang digunakan dalam analisis vertikal?

Apa basis yang digunakan dalam analisis vertikal?

Pada laporan laba rugi, basisnya adalah penjualan. Pada neraca, basisnya adalah total aset.

Bagaimana cara menghitung analisis vertikal?

Bagaimana cara menghitung analisis vertikal?

Setiap akun dibagi dengan akun dasar lalu dikalikan 100% untuk mendapatkan persentasenya.

Apa perbedaan analisis vertikal dan horizontal?

Apa perbedaan analisis vertikal dan horizontal?

Analisis vertikal fokus pada struktur dalam satu periode, sedangkan horizontal melihat perubahan antar periode.

Apa kelebihan analisis vertikal?

Apa kelebihan analisis vertikal?

Metode ini sederhana, tidak membutuhkan data historis, dan memberikan insight cepat tentang struktur keuangan.

Bagaimana cara menginterpretasikan hasil analisis vertikal?

Bagaimana cara menginterpretasikan hasil analisis vertikal?

Interpretasi dilakukan dengan melihat proporsi akun, membandingkan dengan standar industri, dan mengaitkannya dengan strategi bisnis.

Kapan analisis vertikal paling efektif digunakan?

Kapan analisis vertikal paling efektif digunakan?

Analisis vertikal paling efektif digunakan untuk evaluasi struktur keuangan dalam satu periode dan benchmarking antar perusahaan.

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami