Pelaku usaha kecil dan menengah seringkali menemukan kendala dalam memperoleh atau  menambah modal guna mengembangkan bisnis. Maka itu, mereka memerlukan strategi untuk memikat hati investor agar mau menggelontorkan modal dengan berbagai cara, bisa melalui penyajian laporan keuangan atau kinerja operasional bisnis yang ‘cantik alami’.

Dari perspektif investor, Investment Associate East Ventures, Devina Halim, berbagi pengalaman dan memberi insight yang menarik bagi para pelaku usaha rintisan (startup). Menurut dia, tren investasi mengalami perubahan dari waktu ke waktu. 

Lima tahun lalu, investor mengincar startup yang berfokus pada pemanfaatan teknologi canggih. Hal itu berbeda dengan tren saat ini yang bisa berasal dari berbagai sektor usaha, termasuk sektor ritel, makanan dan minuman, dan kesehatan. Semua bentuk bisnis yang potensial bisa meraih investasi.

Devina memperkenalkan East ventures yang merupakan perusahaan investasi atau penanam modal pada bisnis fase awal (early stage business). Sejak berdiri pada 2009 lalu, East Ventures telah berinvestasi di sekitar 160 perusahaan rintisan, beberapa di antaranya telah berkembang hingga menjadi unicorn, antara lain, Tokopedia, Traveloka, Sociola, dan Ruang Guru. Beberapa perusahaan di sektor makanan dan minuman yakni, Fore Coffee dan Greenly. 

Baca juga: Teknologi dan SDM Jadi Kunci dalam Mengembangkan Bisnis Jasa

Hal paling mendasar yang menjadi bahan pertimbangan East Venture dalam berinvestasi ialah perusahaan hanya akan menanam modal di bisnis yang sudah berstatus Perusahaan Terbatas (PT). Hal itu merupakan upaya untuk memitigasi penipuan secara legal.

Dari sisi laporan keuangan, pelaku usaha disarankan mencari matriks paling tepat yang dapat ‘dijual’ kepada investor. Misalnya, bagi perusahaan ritel atau makanan dan minuman, pelaku usaha tak bisa hanya memamerkan jumlah pengikut (followers) di akun media sosial dan mengklaimnya sebagai basis konsumen. Mereka perlu menunjukkan matriks lain yang berkaitan langsung dengan volume penjualan yang akhirnya berujung pada laba bersih perusahaan. 

“Sebisa mungkin, di awal net profit dijaga tetap positif. Jadi tidak hanya sebagai perusahaan berteknologi canggih dengan cost (biaya) teknologi yang besar dan laporan keuangan bleeding (berdarah-darah) di awal. Hal yang penting lain ialah menentukan target market yang jelas sehingga bottomline (laba) tak kalah sehat,” papar Devina dalam talkshow Jurnal Entrepreneur bertajuk Strategi Menyusun Laporan Keuangan untuk Memikat Hati Investor yang berlangsung di GoWork Menara Rajawali, Jakarta, Senin (20/2). 

Investment Associate East Ventures Devina Halim

Ada beberapa komponen yang menjadi pertimbangan utama investor untuk menanam modal di perusahaan rintisan. Pertama, target pasar. Perusahaan harus memiliki target pasar yang jelas dan peminat yang sesuai dengan produk. Kedua, skalabilitas. Salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan usaha adalah menentukan lokasi yang tepat untuk menyasar target pasar produk tersebut.

“Sekarang solusi yang dipecahkan oleh teknologi internet adalah bisa langsung menyasar konsumen yang sesuai dengan target produk. Dari marketing, atau media social ads bisa langsung kirim pesan yang tepat untuk konsumen sesuai target,” ujarnya.

Ketiga, rasio pengembalian investasi atau Return on Investment (RoI). Hal yang perlu dijalankan pelaku usaha adalah melakukan efisiensi di berbagai lini tanpa menghambat perkembangan usaha, misalnya menekan biaya produksi, atau gaji karyawan. Selain itu, pebisnis juga perlu menemukan solusi agar pola distribusi bisa lebih efisien dan tepat sasaran. Pada akhirnya, beban usaha akan menyusut dan bisa menghasilkan laba yang maksimal serta dengan rasio RoI yang tinggi.  

“Intinya, investor bisa membantu agar bisnis lebih berkembang didukung oleh kecanggihan teknologi,” tutur Devina. 

Baca juga: Mad Bagel dan Mookie Bagi Rahasia Sukses Bisnis F&B di Era Digital

Keempat, tim perusahaan yang produktif. Investor akan sangat tertarik dengan tim manajemen yang saling melengkapi dalam berbagai lini kerja. Misalnya, ada yang berjiwa pemimpin dan mampu membawa perusahaan dalam visi jangka panjang, ada anggota tim yang cakap menjalankan marketing, dan anggota tim yang mahir dengan perkembangan teknologi. 

“Tim yang tepat adalah complimentary dan look at the market. Semua hal berkembang dengan sangat cepat, orang bakal lebih maju dari kemarin dalam semua hal. Jadi butuh tim yang lengkap dan produktif,” tegasnya.

Kelima, mampu menghadapi persaingan. Kompetisi yang dimaksud ialah bagaimana perusahaan memiliki strategi untuk tetap bertahan di sektor industri yang digeluti dan memenangkan persaingan dengan kompetitor lain. 

Terakhir, beradaptasi dengan tren yang berkembang. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia didorong oleh konsumsi dengan perubahan dari satu tren ke tren lain yang sangat cepat. Baik dari sektor industri maupun perubahan teknologi yang membuat semua hal mengarah pada efisiensi. Untuk itu, perusahaan harus mampu beradaptasi dengan tren yang terus berkembang.

Co-Founder Eatlah Michael Chrisyanto

Di tempat yang sama, Co-Founder Eatlah, Michael Chrisyanto, juga membagikan pengalamannya merintis usaha makanan cepat saji (fast food)-nya. Michael mengaku tantangan awal Eatlah adalah modal. 

Sejak awal, Michael bersama dua pendiri Eatlah lain mengumpulkan modal dari pundi-pundi mereka sendiri untuk memulai usaha. Dari modal yang sangat minim, perjalanan menjual makanan cepat saji ala Eatlah tak berjalan mudah. Michael dan rekannya harus menghadapi kerugian selama 7 bulan pertama.

Kendati demikian, masa-masa awal yang cukup berat itu disikapi dengan sabar sembari mencari celah untuk keluar dari tantangan. Ia meyakini usaha yang diawali dari skala kecil bisa memberi banyak pelajaran, terutama melalui percobaan dari kegagalan atau trial and error

Salah satu pelajaran yang diperoleh adalah soal efisiensi. Mulai dari sumber daya manusia, lokasi usaha, hingga biaya bahan pendukung, tentu tanpa mengurangi kualitas produk. 

“Tantangan Eatlah di awal adalah modal, tapi saya percaya kami mulai dari kecil jadi bisa tahu progresnya seperti apa untuk maju. Kami pelajari celah untuk membangun usahanya,” ujar Michael. 

Pelajaran lain dalam merintis usaha hingga berkembang seperti saat ini adalah mengenal target market Eatlah melalui riset segmen konsumen di berbagai area. Dalam hal ini, Eatlah memanfaatkan kecanggihan teknologi, yakni melalui data analytics.

Sejak awal konsep bisnis makanan box miliknya menggantungkan diri pada teknologi. Selain untuk analisis data, bisnis yang baru berdiri pada 2017 lalu itu juga mengandalkan layanan pengiriman via online untuk sistem distribusi. Tak hanya itu, Eatlah juga menggunakan software akuntansi online Jurnal by Mekari untuk memudahkan pembuatan laporan keuangan perusahaan. 

Pembicara dan peserta Jurnal Entrepreneur

“Salah satu solusi perusahaan berasal dari penggunaan teknologi canggih. Jurnal juga jadi salah satu solusi untuk membantu bisnis mengembangkan usaha,” ungkap Michael.

Melalui penggunaan Jurnal, Eatlah lebih mudah menentukan strategi bisnis secara tepat dan akurat. Dari lini pemasaran misalnya, Michael dan rekannya berkomitmen menyisihkan 10 persen dari laba perusahaan untuk anggaran marketing. Dengan anggaran yang tersedia, perusahaan menentukan strategi pemasaran yang paling tepat untuk mendongkrak penjualan. 

Author