Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
9 min read

Mengenal Performance Budgeting dan Penerapannya dalam Pengelolaan Anggaran Bisnis

Tayang
Ditulis oleh: Mekari Jurnal okky nugroho
Highlights
  • Performance budgeting mengaitkan alokasi biaya dengan target dan hasil yang terukur, bukan hanya berfokus pada besarnya pengeluaran. 
  • Performance budgeting membantu perusahaan menggunakan anggaran sebagai dasar evaluasi kinerja, sehingga alokasi biaya dapat dibandingkan dengan target dan hasil yang dicapai.
  • Mekari Jurnal membantu bisnis mengelola anggaran dan memantau realisasi secara real-time, termasuk membandingkan anggaran dengan transaksi aktual. 

Saat menjalankan bisnis, perusahaan perlu mengatur anggaran agar setiap biaya yang dikeluarkan mendukung kebutuhan dan target bisnis. Namun, besarnya anggaran saja belum menunjukkan hasil yang diperoleh. Perusahaan juga perlu melihat apakah penggunaan biaya tersebut sesuai dengan target yang ditetapkan.

Performance budgeting atau anggaran berbasis kinerja membantu perusahaan menghubungkan alokasi biaya dengan target dan hasil yang terukur. Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak hanya melihat jumlah biaya yang dikeluarkan, tetapi juga mengevaluasi hasil yang dicapai dari penggunaan anggaran.

Artikel ini membahas pengertian, jenis, perbandingan dengan metode anggaran lain, rumus, langkah penyusunan, hingga contoh penerapan performance budgetin

Apa Itu Performance Budgeting?

Performance budgeting atau anggaran berbasis kinerja adalah metode penganggaran yang menghubungkan jumlah dana yang dialokasikan dengan hasil atau kinerja terukur yang ingin dicapai. Jadi, anggaran tidak hanya menunjukkan berapa besar biaya yang dibutuhkan, tetapi juga menjelaskan target yang diharapkan dari penggunaan dana tersebut.

Di Indonesia, konsep ini dikenal sebagai penganggaran berbasis kinerja (PBK) dan diatur melalui Peraturan Pemerintah No. 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. 

Sementara itu, Peraturan Menteri Keuangan No. 94/PMK.02/2013 menjelaskan PBK sebagai pendekatan dalam sistem perencanaan dan penganggaran belanja yang menunjukkan keterkaitan antara alokasi pendanaan dan kinerja yang diharapkan, dengan tetap memperhatikan efisiensi dalam pencapaian kinerja.

Dalam penerapannya, performance budgeting memiliki tiga landasan utama:

  1. Anggaran berorientasi pada output dan outcome (output and outcome oriented), sehingga penggunaan dana diarahkan pada hasil yang ingin dicapai.
  2. Pendanaan mengikuti fungsi (money follow function), artinya alokasi anggaran disesuaikan dengan fungsi dan kebutuhan untuk mencapai target kinerja.
  3. Manajer diberikan keleluasaan dalam mengelola sumber daya (let the manager manages), sehingga pengelola anggaran memiliki ruang untuk menggunakan sumber daya sesuai kebutuhan dalam mencapai target.

Berbeda dari anggaran tradisional yang berfokus pada besarnya biaya di setiap pos, performance budgeting mengaitkan setiap alokasi dana dengan indikator kinerja atau target output yang harus dicapai. Dengan begitu, penggunaan anggaran dapat dievaluasi tidak hanya berdasarkan jumlah yang telah dibelanjakan, tetapi juga berdasarkan hasil yang diperoleh.

Tiga Jenis Performance Budgeting Menurut OECD

Menurut kerangka yang dikembangkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), performance budgeting dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan seberapa erat informasi kinerja digunakan dalam proses pengambilan keputusan dan alokasi anggaran.

1. Presentational Budgeting

Bentuk paling longgar, di mana informasi kinerja disertakan dalam dokumen anggaran sebagai informasi pelengkap. Data tersebut dapat menunjukkan target dan hasil yang ingin dicapai, tetapi belum digunakan sebagai dasar untuk menentukan besaran alokasi anggaran.

2. Performance Informed Budgeting

Pada bentuk ini, informasi kinerja mulai digunakan dalam proses pengambilan keputusan terkait alokasi anggaran. Namun, pencapaian kinerja tidak secara otomatis atau langsung menentukan jumlah anggaran yang diberikan. Informasi kinerja digunakan sebagai salah satu pertimbangan bersama faktor lain dalam menentukan prioritas anggaran.

3. Direct Performance Budgeting

Bentuk yang paling erat menghubungkan kinerja dengan alokasi anggaran. Informasi mengenai pencapaian kinerja digunakan secara langsung dalam menentukan besaran anggaran. Artinya, perubahan atau pencapaian target kinerja dapat menjadi dasar untuk menyesuaikan alokasi dana pada periode berikutnya.

Bagi bisnis, memahami ketiga jenis tersebut membantu perusahaan menentukan sejauh mana informasi kinerja akan digunakan dalam proses penyusunan dan evaluasi anggaran. Semakin erat keterkaitannya, semakin besar peran pencapaian target dalam menentukan alokasi anggaran periode berikutnya.

Performance Budgeting vs Metode Penganggaran Lain

Performance budgeting bukan satu-satunya pendekatan yang dapat digunakan perusahaan dalam menyusun anggaran. Setiap metode memiliki dasar penyusunan dan fokus yang berbeda, sehingga penerapannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta tujuan pengelolaan anggaran.

MetodeDasar PenyusunanOrientasiKelebihan/Kekurangan
Performance BudgetingTarget kinerja atau output yang ingin dicapaiHasil (output dan outcome)Mendorong akuntabilitas dan efisiensi, tetapi membutuhkan indikator kinerja yang jelas dan pengukuran yang konsisten
Traditional/Line-Item BudgetingPos penerimaan dan pengeluaran pada periode sebelumnyaInput (jenis dan jumlah biaya)Mudah disusun dan dipahami, tetapi tidak menunjukkan hubungan antara biaya dan hasil yang dicapai
Incremental BudgetingPersentase kenaikan atau penurunan dari anggaran periode sebelumnyaKelanjutan kegiatan yang berjalanPraktis untuk kegiatan rutin, tetapi berisiko mempertahankan pos yang sebenarnya sudah tidak efisien
Zero-Based BudgetingKebutuhan aktual setiap kegiatan yang disusun ulang dari awal pada setiap periodeJustifikasi setiap pos biayaMembantu mengevaluasi kebutuhan biaya secara lebih menyeluruh, tetapi membutuhkan waktu dan proses penyusunan yang lebih panjang

Dalam praktiknya, performance budgeting dan zero-based budgeting juga dapat digunakan secara bersamaan. Zero-based budgeting membantu perusahaan menilai kembali alasan dan kebutuhan setiap pengeluaran, sedangkan performance budgeting menghubungkan pengeluaran tersebut dengan target dan hasil yang ingin dicapai. 

Dengan menggabungkan keduanya, perusahaan dapat menilai tidak hanya mengapa suatu biaya diperlukan, tetapi juga hasil apa yang diharapkan dari biaya tersebut.

Manfaat Performance Budgeting bagi Bisnis

Penerapan performance budgeting memberikan sejumlah manfaat bagi manajemen maupun setiap unit bisnis, terutama dalam menghubungkan penggunaan anggaran dengan target dan hasil yang ingin dicapai.

  • Meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya: anggaran dapat diarahkan ke aktivitas yang paling berkontribusi terhadap target bisnis, bukan sekadar dibagi berdasarkan kebutuhan atau realisasi periode sebelumnya.
  • Meningkatkan akuntabilitas tiap departemen: setiap unit bisnis tidak hanya bertanggung jawab atas penggunaan anggaran, tetapi juga perlu mempertanggungjawabkan hasil yang dicapai berdasarkan target kinerja yang telah ditetapkan.
  • Menjadi dasar evaluasi kinerja yang lebih terukur: perbandingan antara anggaran, target, dan realisasi membantu manajemen menilai apakah suatu program, aktivitas, atau kampanye telah menggunakan biaya secara efektif.
  • Mendukung pengambilan keputusan anggaran: informasi mengenai biaya dan pencapaian kinerja dapat menjadi dasar bagi manajemen untuk mempertahankan, menambah, mengurangi, atau mengalihkan anggaran pada periode berikutnya.

Rumus dan Indikator Performance Budgeting

Performance budgeting tidak memiliki satu rumus baku karena penerapannya bergantung pada indikator kinerja yang digunakan. Untuk menilai efisiensi penggunaan anggaran, bisnis dapat membandingkan biaya yang dikeluarkan dengan output yang dihasilkan. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah biaya per hasil atau cost per output.

Biaya per Output = Total Biaya ÷ Output Aktual

Contoh kasus:

Tim pemasaran PT Cahaya Retail menganggarkan biaya kampanye digital sebesar Rp100.000.000 dengan target 5.000 transaksi baru dalam satu bulan. Pada akhir periode, kampanye tersebut menghasilkan 6.200 transaksi baru.

Biaya per transaksi aktual dapat dihitung sebagai berikut:

Biaya per Transaksi = Rp100.000.000 ÷ 6.200 = Rp16.129 per transaksi

Sementara itu, biaya per transaksi yang direncanakan adalah:

Biaya per Transaksi = Rp100.000.000 ÷ 5.000 = Rp20.000 per transaksi

Hasil tersebut menunjukkan bahwa biaya per transaksi aktual lebih rendah daripada target awal. Artinya, kampanye menghasilkan lebih banyak transaksi dari target dengan anggaran yang sama, sehingga penggunaan anggaran dari sisi biaya per transaksi lebih efisien dibandingkan rencana awal.

Selain biaya per output, perusahaan dapat menggunakan indikator lain sesuai tujuan kegiatan, seperti persentase pencapaian target, cost per acquisition (CPA), return on investment (ROI), atau perbandingan antara anggaran dan realisasi. Pemilihan indikator perlu disesuaikan dengan jenis aktivitas dan hasil yang ingin diuk

Langkah-Langkah Menyusun Performance Budgeting

Penyusunan performance budgeting dimulai dari penetapan tujuan hingga evaluasi hasil penggunaan anggaran. Dalam praktik bisnis, prosesnya dapat dilakukan melalui beberapa tahapan berikut.

  1. Susun rencana strategis: tentukan tujuan bisnis atau unit dalam jangka menengah, misalnya tiga hingga lima tahun, sebagai acuan untuk menetapkan target kinerja tahunan.
  2. Buat rencana operasional tahunan: turunkan rencana strategis menjadi rencana kerja tahunan yang mencakup input atau sumber daya yang dibutuhkan, aktivitas, output, dan outcome sebagai indikator keberhasilan.
  3. Tetapkan dan jalankan anggaran sesuai rencana kerja: tentukan alokasi biaya untuk setiap aktivitas dan jalankan program sesuai anggaran yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan, dokumentasikan perubahan atau kendala yang dapat memengaruhi pencapaian target.
  4. Ukur kinerja secara berkala: bandingkan output dan outcome aktual dengan target yang telah ditetapkan menggunakan indikator kinerja yang terukur.
  5. Lakukan monitoring dan evaluasi: pantau kesesuaian antara rencana dan pelaksanaan anggaran, kemudian evaluasi apakah penggunaan biaya telah mendukung pencapaian target dan hasil yang diharapkan.
  6. Tinjau alokasi anggaran periode berikutnya: gunakan hasil evaluasi kinerja sebagai bahan pertimbangan untuk mempertahankan, menambah, mengurangi, atau mengalihkan alokasi anggaran pada periode berikutnya.

Contoh Penerapan Performance Budgeting di Bisnis

Berikut simulasi penerapan performance budgeting pada anggaran kuartalan departemen pemasaran PT Cahaya Retail. Setiap program memiliki alokasi biaya dan target kinerja yang dapat dibandingkan dengan hasil aktual pada akhir periode.

ProgramAnggaranTarget Kinerja (KPI)Realisasi KinerjaPencapaian Target
Kampanye Iklan DigitalRp100.000.0005.000 transaksi baru6.200 transaksi baru124%
Program Loyalitas PelangganRp60.000.000Retensi pelanggan naik 10%Retensi pelanggan naik 7%70%
Aktivasi di Toko FisikRp40.000.0001.500 transaksi baru1.450 transaksi baru97%

Dari tabel tersebut, manajemen dapat melihat hubungan antara anggaran dan pencapaian target setiap program. Kampanye Iklan Digital menghasilkan 124% dari target transaksi, sedangkan Program Loyalitas Pelanggan baru mencapai 70% dari target retensi. Aktivasi di Toko Fisik mencapai 97% dari target transaksi.

Hasil tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan apakah suatu program perlu dipertahankan, diperbaiki, atau disesuaikan alokasi anggarannya pada periode berikutnya. Program yang melampaui target belum tentu otomatis mendapat tambahan anggaran, karena keputusan tersebut tetap perlu mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan, kualitas hasil, serta prioritas bisnis.

Pola evaluasi seperti ini membedakan performance budgeting dari pendekatan anggaran yang hanya berfokus pada realisasi biaya. Dalam performance budgeting, penggunaan anggaran juga dikaitkan dengan pencapaian target kinerja sehingga manajemen memiliki informasi yang lebih lengkap untuk mengevaluasi efektivitas program.

Kelola dan Pantau Performance Budgeting Bisnis dengan Mekari Jurnal

Penerapan performance budgeting membutuhkan pencatatan anggaran dan realisasi biaya agar perusahaan dapat mengevaluasi penggunaan dana berdasarkan target yang telah ditetapkan. Ketika anggaran dan transaksi masih dikelola secara manual, proses memantau penyimpangan dan mengevaluasi biaya setiap program dapat menjadi lebih sulit, terutama ketika terdapat banyak aktivitas dan periode anggaran.

Mekari Jurnal membantu bisnis mengelola biaya dan anggaran secara lebih terstruktur. Melalui fitur Biaya & Anggaran, bisnis dapat membuat anggaran per periode, memantau pengeluaran, serta membandingkan anggaran dengan transaksi aktual untuk membantu mengendalikan biaya dan mengevaluasi penggunaan anggaran.

Dengan fitur Biaya & Anggaran Mekari Jurnal, Anda dapat:

  • Membuat anggaran per periode untuk merencanakan kebutuhan biaya dan menjaga pengeluaran tetap sesuai rencana.
  • Membandingkan anggaran dengan transaksi aktual melalui laporan anggaran, sehingga perbedaan antara rencana dan realisasi biaya dapat dipantau.
  • Memantau biaya berdasarkan kategori dan periode untuk mendapatkan visibilitas yang lebih jelas terhadap pengeluaran bisnis.
  • Menganalisis biaya berdasarkan proyek atau aktivitas menggunakan pengelompokan transaksi melalui fitur tag, sehingga biaya yang berkaitan dengan suatu proyek dapat ditelusuri lebih mudah.
  • Mengelola biaya rutin dan pembayaran berulang melalui transaksi berulang atau duplikasi transaksi untuk mengurangi pekerjaan pencatatan manual.

Dengan pencatatan anggaran dan realisasi yang lebih terstruktur, bisnis dapat memiliki data yang lebih lengkap untuk mengevaluasi penggunaan biaya dan menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun anggaran periode berikutnya.

Referensi

  • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga.
  • Peraturan Menteri Keuangan No. 94/PMK.02/2013 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga.
  • OECD. Performance Budgeting.
  • Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI. Bagaimana Pendekatan Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK) Diimplementasikan Agar Meningkatkan Kualitas Anggaran Publik.
  • Horngren, C.T., Datar, S.M., & Rajan, M.V. Cost Accounting: A Managerial Emphasis

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan performance budgeting?

1. Apa yang dimaksud dengan performance budgeting?

Performance budgeting adalah metode penganggaran yang secara eksplisit mengaitkan alokasi dana dengan hasil kinerja terukur yang diharapkan dari alokasi tersebut, bukan sekadar mencatat besaran biaya per pos.

2. Apa perbedaan performance budgeting dengan traditional budgeting?

2. Apa perbedaan performance budgeting dengan traditional budgeting?

Traditional atau line-item budgeting hanya mencatat pos penerimaan dan pengeluaran berdasarkan periode sebelumnya tanpa mengaitkannya dengan hasil, sedangkan performance budgeting selalu menyertakan indikator kinerja atau target output dari setiap anggaran yang dialokasikan.

3. Apa saja jenis-jenis performance budgeting menurut OECD?

3. Apa saja jenis-jenis performance budgeting menurut OECD?

OECD membagi performance budgeting menjadi tiga jenis, yaitu presentational budgeting (informasi kinerja hanya sebagai pelengkap), performance informed budgeting (informasi kinerja memengaruhi keputusan namun tidak otomatis), dan direct performance budgeting (informasi kinerja langsung menentukan besaran anggaran).

4. Apakah performance budgeting hanya digunakan oleh instansi pemerintah?

4. Apakah performance budgeting hanya digunakan oleh instansi pemerintah?

Tidak. Performance budgeting memang awalnya berkembang sebagai reformasi anggaran sektor publik, termasuk di Indonesia lewat PP 90/2010, namun prinsip mengaitkan biaya dengan target kinerja kini banyak diadopsi bisnis swasta untuk mengevaluasi efektivitas anggaran departemen atau program.

5. Bagaimana rumus mengukur efisiensi performance budgeting?

5. Bagaimana rumus mengukur efisiensi performance budgeting?

Efisiensi performance budgeting dapat dihitung dengan rasio efisiensi anggaran, yaitu output aktual dibagi dengan anggaran biaya yang dikeluarkan, kemudian dibandingkan dengan target efisiensi yang telah direncanakan sejak awal.

6. Apa perbedaan performance budgeting dengan zero-based budgeting?

6. Apa perbedaan performance budgeting dengan zero-based budgeting?

Zero-based budgeting menekankan justifikasi setiap pos biaya yang disusun ulang dari nol setiap periode, sedangkan performance budgeting menekankan target hasil atau kinerja yang harus dicapai dari biaya tersebut. Keduanya bisa diterapkan secara bersamaan agar anggaran lebih efisien sekaligus terarah pada hasil.

7. Bagaimana cara menerapkan performance budgeting di perusahaan swasta?

7. Bagaimana cara menerapkan performance budgeting di perusahaan swasta?

Caranya adalah dengan menyusun rencana strategis dan rencana operasional tahunan, mengeksekusi anggaran sesuai rencana, mengukur kinerja secara berkala menggunakan indikator yang jelas, melakukan monitoring dan evaluasi, lalu meninjau ulang alokasi anggaran periode berikutnya berdasarkan hasil evaluasi tersebut.

Kategori : Cost Accounting

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami