Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
7 min read

Panduan Menghitung Depreciation Expense, Rumus dan Jurnalnya 

Tayang
Ditulis oleh: Mekari Jurnal okky nugroho
Mekari Jurnal Highlights
  • Depreciation expense adalah beban penyusutan aset tetap yang dialokasikan selama masa manfaatnya, sehingga biaya aset tidak dibebankan sekaligus saat pembelian.
  • Beban penyusutan bersifat non-tunai dan dapat mengurangi penghasilan kena pajak sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku di Indonesia.
  • Depreciation expense mengurangi laba dalam laporan laba rugi, sedangkan accumulated depreciation mengurangi nilai buku aset dalam laporan posisi keuangan.
  • Mekari Jurnal selaku software akuntan no 1, dapat membantu pencatatan biaya dan pemantauan laporan keuangan agar pengelolaan beban operasional lebih terstruktur.

Depreciation expense menjadi bagian penting dalam pencatatan aset tetap karena penggunaannya berlangsung selama beberapa periode akuntansi. Tanpa pencatatan penyusutan yang tepat, perusahaan berisiko menyajikan beban dan nilai aset yang kurang akurat dalam laporan keuangan.

Istilah ini juga sering tertukar dengan accumulated depreciation, padahal keduanya memiliki fungsi berbeda dalam laporan keuangan. Memahami perbedaannya membantu perusahaan mencatat biaya aset secara tepat. 

Artikel ini membahas rumus, metode perhitungan, contoh jurnal, dampaknya terhadap laporan keuangan, hingga ketentuan penyusutan fiskal di Indonesia.

Apa itu Depreciation Expense?

Depreciation expense atau beban penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari aset tetap berwujud selama masa manfaatnya. Konsep ini mengacu pada PSAK 16 tentang Aset Tetap yang diterbitkan IAI dan selaras dengan IAS 16 Property, Plant and Equipment.

Aset yang umumnya disusutkan mencakup mesin produksi, kendaraan operasional, gedung, komputer, dan peralatan kantor yang digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi. Biaya perolehannya tidak langsung dibebankan seluruhnya saat pembelian, tetapi dialokasikan ke periode-periode ketika aset tersebut digunakan.

Besarnya beban penyusutan bergantung pada biaya perolehan, nilai residu, masa manfaat, dan metode penyusutan yang dipilih. Dengan demikian, beban yang diakui setiap periode dapat mencerminkan penggunaan manfaat aset dalam kegiatan perusahaan.

Depreciation expense juga termasuk beban non-tunai karena pengakuannya tidak menimbulkan arus kas keluar pada periode tersebut. Pembayaran umumnya terjadi saat aset diperoleh, sedangkan beban penyusutan dicatat secara bertahap selama masa manfaatnya.

Depreciation Expense vs Accumulated Depreciation

Depreciation expense dan accumulated depreciation saling berkaitan, tetapi memiliki fungsi berbeda dalam pencatatan aset tetap. Perbedaannya dapat dilihat dari posisi laporan keuangan, periode pencatatan, dan dampaknya terhadap nilai aset.

AspekDepreciation ExpenseAccumulated Depreciation
Posisi laporanLaporan laba rugiLaporan posisi keuangan sebagai akun kontra aset
SifatBeban penyusutan dalam satu periodeAkumulasi beban penyusutan sejak aset mulai disusutkan
DampakMengurangi laba periode berjalanMengurangi nilai tercatat aset tetap
Contoh nilaiRp18.000.000 pada tahun pertamaRp18.000.000 pada tahun pertama dan Rp36.000.000 pada akhir tahun kedua, jika beban tahunan tetap

Sebagai contoh, jika perusahaan mencatat beban penyusutan sebesar Rp18.000.000 setiap tahun, jumlah tersebut menjadi depreciation expense pada masing-masing periode. Setelah dua tahun, total accumulated depreciation mencapai Rp36.000.000.

Artinya, depreciation expense menunjukkan beban penyusutan untuk satu periode, sedangkan accumulated depreciation menunjukkan total penyusutan yang telah diakui hingga tanggal pelaporan.

Komponen yang Memengaruhi Depreciation Expense

Besarnya depreciation expense ditentukan oleh beberapa komponen yang menjadi dasar perhitungan penyusutan aset tetap. Berikut tiga komponen utama yang perlu diperhatikan:

  • Harga perolehan aset: mencakup harga beli serta biaya lain yang diperlukan agar aset siap digunakan, seperti biaya pengiriman, instalasi, dan setup awal.
  • Nilai residu: perkiraan nilai aset pada akhir masa manfaatnya. Nilai ini dikurangkan dari harga perolehan karena tidak termasuk bagian yang disusutkan.
  • Umur ekonomis: perkiraan periode aset dapat digunakan untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan. Sebagai contoh, mesin produksi dapat memiliki umur ekonomis lebih panjang dibandingkan komputer kantor, bergantung pada kondisi dan intensitas penggunaannya.

Ketiga komponen tersebut digunakan untuk menghitung dasar penyusutan atau depreciable base, yaitu selisih antara harga perolehan dan nilai residu. Nilai ini kemudian dialokasikan sebagai beban penyusutan selama umur ekonomis aset sesuai metode penyusutan yang digunakan.

Rumus dan Metode Menghitung Depreciation Expense

Depreciation expense dapat dihitung menggunakan beberapa metode penyusutan, bergantung pada pola konsumsi manfaat aset selama masa penggunaannya. Salah satu metode yang umum digunakan adalah metode garis lurus karena perhitungannya sederhana dan menghasilkan beban penyusutan yang sama setiap periode, selama asumsi perhitungannya tidak berubah.

Rumus metode garis lurus adalah:

Beban Penyusutan = (Harga Perolehan − Nilai Residu) / Umur Ekonomis

Metode ini sesuai untuk aset yang manfaatnya relatif merata sepanjang masa penggunaan, seperti gedung dan peralatan kantor.

Selain metode garis lurus, terdapat dua metode penyusutan lain yang dapat digunakan sesuai karakteristik aset:

  • Metode saldo menurun ganda: menghasilkan beban penyusutan lebih besar pada awal masa manfaat dan semakin kecil pada periode berikutnya. Metode ini dapat digunakan untuk aset yang manfaat ekonomisnya cenderung lebih besar pada awal penggunaan, seperti kendaraan atau peralatan teknologi.
  • Metode unit produksi: menghitung beban penyusutan berdasarkan jumlah unit yang diproduksi atau tingkat pemakaian aset, bukan semata-mata berdasarkan waktu. Metode ini sesuai untuk mesin produksi yang tingkat keausannya berkaitan erat dengan intensitas penggunaannya.

Pemilihan metode penyusutan perlu mempertimbangkan pola konsumsi manfaat aset agar beban yang dicatat dapat mencerminkan penggunaannya secara wajar.

Contoh Perhitungan dan Jurnal Depreciation Expense

Untuk memahami penerapan depreciation expense, perhatikan contoh perhitungan penyusutan mesin produksi menggunakan metode garis lurus berikut.

Studi kasus: PT Cipta Boga Nusantara, perusahaan produsen makanan olahan, membeli mesin oven produksi seharga Rp120.000.000 pada awal tahun. Mesin tersebut diperkirakan memiliki umur ekonomis 6 tahun dan nilai residu Rp12.000.000.

1. Menghitung dasar penyusutan

Dasar penyusutan diperoleh dari harga perolehan dikurangi nilai residu.

Rp120.000.000 − Rp12.000.000 = Rp108.000.000

2. Menghitung beban penyusutan per tahun

Dengan metode garis lurus, beban penyusutan tahunan dihitung dengan membagi dasar penyusutan dengan umur ekonomis aset.

Rp108.000.000 ÷ 6 = Rp18.000.000 per tahun

3. Mencatat jurnal penyusutan

Pada akhir setiap tahun, PT Cipta Boga Nusantara mencatat beban penyusutan mesin sebesar Rp18.000.000 dengan jurnal berikut.

TanggalAkunDebitKredit
31 DesBeban Penyusutan MesinRp18.000.000—
31 DesAkumulasi Penyusutan Mesin—Rp18.000.000

Setelah dua tahun, akumulasi penyusutan mesin mencapai Rp36.000.000. Nilai buku mesin pada akhir tahun kedua menjadi Rp84.000.000, yaitu harga perolehan Rp120.000.000 dikurangi akumulasi penyusutan Rp36.000.000.

Contoh ini menunjukkan bahwa penyusutan mengurangi nilai buku aset secara bertahap, meskipun mesin masih digunakan dalam kegiatan produksi. Selama menggunakan metode garis lurus dan asumsi perhitungan tetap, beban penyusutan yang diakui setiap tahun adalah Rp18.000.000.

Depreciation Expense dalam Laporan Keuangan

Pencatatan depreciation expense memengaruhi laporan keuangan dengan cara yang berbeda, mulai dari pengakuan beban hingga penyajian nilai aset dan arus kas perusahaan. Berikut dampaknya pada tiga laporan keuangan utama.

Laporan KeuanganYang DitampilkanDampaknya
Laporan laba rugiBeban penyusutan pada periode berjalanMengurangi laba sebelum pajak dan, dengan asumsi faktor lain tetap, laba bersih
Laporan posisi keuangan (neraca)Akumulasi penyusutan sebagai akun kontra asetMengurangi nilai tercatat aset tetap
Laporan arus kasBeban penyusutan ditambahkan kembali ke laba dalam metode tidak langsung pada aktivitas operasiMenyesuaikan laba karena penyusutan tidak melibatkan arus kas keluar pada periode pencatatannya

Depreciation expense termasuk beban non-tunai karena pengakuannya tidak disertai pembayaran kas pada periode yang sama. Oleh karena itu, penurunan laba akibat penyusutan tidak selalu berarti kas perusahaan ikut berkurang sebesar nilai beban tersebut. Untuk memahami kondisi keuangan secara lebih menyeluruh, perusahaan perlu membaca laporan laba rugi bersama laporan arus kas dan laporan posisi keuangan.

Penyusutan untuk Tujuan Pajak (Penyusutan Fiskal) di Indonesia

Selain penyusutan komersial berdasarkan PSAK 16, perusahaan juga perlu menghitung penyusutan fiskal sesuai Pasal 11 Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh). Ketentuan ini mengatur masa manfaat, tarif, dan metode penyusutan untuk tujuan perpajakan.

Masa manfaat dan metode penyusutan komersial dapat berbeda dari ketentuan fiskal sehingga menghasilkan nilai penyusutan yang tidak sama. Karena itu, perusahaan perlu melakukan rekonsiliasi fiskal agar perhitungan penghasilan kena pajak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Kesalahan Umum dalam Mencatat Depreciation Expense

Agar pencatatan depreciation expense lebih akurat, perusahaan perlu menghindari beberapa kesalahan berikut:

  • Salah menentukan umur ekonomis: dapat menyebabkan beban penyusutan terlalu besar atau terlalu kecil dibandingkan pola penggunaan aset.
  • Mengabaikan nilai residu: membuat dasar penyusutan lebih besar dari yang seharusnya jika aset diperkirakan masih memiliki nilai pada akhir masa manfaat.
  • Keliru menentukan awal penyusutan: penyusutan umumnya dimulai saat aset siap digunakan, bukan semata-mata saat dibeli.
  • Tidak merekonsiliasi penyusutan komersial dan fiskal: dapat menyebabkan ketidaktepatan dalam perhitungan pajak.
  • Menyusutkan tanah: tanah pada umumnya tidak disusutkan karena memiliki masa manfaat yang tidak terbatas.

Mencatat Depreciation Expense Lebih Akurat dengan Mekari Jurnal

Mengelola depreciation expense secara manual dapat menyita waktu, terutama jika perusahaan memiliki banyak aset tetap dengan masa manfaat yang berbeda. Agar pencatatan biaya lebih terstruktur, perusahaan dapat menggunakan  software akuntan terkemuka Mekari Jurnal untuk membantu memantau pengeluaran dan membandingkannya dengan anggaran yang telah ditetapkan.

Berikut adalah fitur biaya dan pengeluaran dar Mekari Jurnal yang dapat mendukung pengelolaan biaya perusahaan meliputi:

  • Pemantauan anggaran dan realisasi biaya: membantu perusahaan membandingkan pengeluaran aktual dengan anggaran yang direncanakan.
  • Pengelompokan biaya: memudahkan pemantauan pengeluaran berdasarkan kategori sehingga perusahaan dapat mengevaluasi penggunaan anggaran.
  • Pencatatan biaya yang lebih terstruktur: membantu tim keuangan mengelola data pengeluaran agar lebih mudah ditinjau dan dievaluasi.

Dengan pengelolaan biaya yang lebih teratur, perusahaan dapat memantau beban operasional sekaligus mengevaluasi anggaran secara berkala. Untuk pencatatan depreciation expense, perusahaan tetap perlu memastikan perhitungan penyusutan dan jurnal akuntansinya sesuai dengan metode serta kebijakan akuntansi yang digunakan.

Pelajari lebih lanjut fitur Biaya & Anggaran Mekari Jurnal untuk mendukung pengelolaan pengeluaran dan perencanaan anggaran bisnis Anda.

Referensi

  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan, PSAK 16 Aset Tetap.
  • IFRS Foundation. IAS 16 Property, Plant and Equipment.
  • Investopedia. Depreciation Expense vs. Accumulated Depreciation.
  • Kementerian Keuangan RI (KLC2). Penyusutan Bagian 1 dan Bagian 3, UU PPh Pasal 11.

FAQ

1. Apa beda depreciation expense dan accumulated depreciation?

1. Apa beda depreciation expense dan accumulated depreciation?

Depreciation expense adalah beban penyusutan pada satu periode dan muncul di laporan laba rugi. Accumulated depreciation adalah total penyusutan yang terkumpul sejak aset mulai digunakan dan muncul di neraca sebagai pengurang nilai aset tetap.

2. Apakah depreciation expense termasuk beban operasional?

2. Apakah depreciation expense termasuk beban operasional?

Bisa, tergantung penggunaan asetnya. Jika aset digunakan untuk kegiatan operasional seperti kendaraan distribusi atau komputer kantor, penyusutannya masuk beban operasional. Jika aset digunakan untuk produksi, penyusutannya bisa masuk ke harga pokok produksi.

3. Kenapa tanah tidak mengalami depreciation?

3. Kenapa tanah tidak mengalami depreciation?

Tanah tidak memiliki masa manfaat terbatas seperti mesin atau kendaraan, dan nilainya cenderung stabil atau bahkan naik karena faktor lokasi dan permintaan, sehingga tidak disusutkan dalam pencatatan akuntansi.

4. Bagaimana depreciation expense memengaruhi laporan arus kas?

4. Bagaimana depreciation expense memengaruhi laporan arus kas?

Karena bersifat non-tunai, depreciation expense ditambahkan kembali ke laba bersih pada laporan arus kas dari aktivitas operasi, sehingga arus kas operasional terlihat lebih besar dibanding laba bersih pada periode yang sama.

5. Apa metode penyusutan yang paling umum digunakan di Indonesia?

5. Apa metode penyusutan yang paling umum digunakan di Indonesia?

Metode garis lurus adalah yang paling umum karena sederhana dan menghasilkan beban yang stabil setiap periode, cocok untuk aset seperti gedung dan peralatan kantor yang manfaatnya relatif konsisten

6. Apakah penyusutan fiskal selalu sama dengan penyusutan komersial?

6. Apakah penyusutan fiskal selalu sama dengan penyusutan komersial?

Tidak selalu. Penyusutan fiskal mengikuti pengelompokan dan tarif yang diatur Pasal 11 UU PPh, sementara penyusutan komersial mengikuti kebijakan internal perusahaan sesuai PSAK 16, sehingga hasilnya perlu direkonsiliasi saat pelaporan pajak.

7. Apakah depreciation expense bisa dihitung tanpa software akuntansi?

7. Apakah depreciation expense bisa dihitung tanpa software akuntansi?

Bisa, tetapi risiko salah hitung dan salah waktu pencatatan lebih tinggi dibanding menggunakan aplikasi akuntansi yang bisa memantau biaya operasional, termasuk beban penyusutan, secara otomatis dan real-time.

Kategori : Cost Accounting

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis