Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
8 min read

Mengenal Marketing Expense untuk Meningkatkan Penjualan Perusahaan 

Tayang
Ditulis oleh: Mekari Jurnal okky nugroho
Highlights
  • Marketing expense adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendukung aktivitas pemasaran, mulai dari iklan, promosi, hingga kegiatan untuk menjangkau pelanggan dan meningkatkan penjualan.
  • Tidak semua biaya pemasaran langsung dibebankan sebagai expense. Pengeluaran tertentu dapat dicatat sebagai aset apabila memenuhi kriteria pengakuan aset tak berwujud dan memberikan manfaat ekonomi di masa mendatang.
  • Mekari Jurnal membantu mengelola marketing expense secara lebih teratur, mulai dari pencatatan dan pengelompokan biaya hingga laporan keuangan secara real-time melalui fitur biaya dan anggaran.

Dalam menjalankan bisnis, pemasaran menjadi salah satu aktivitas yang perlu diperhatikan untuk memperkenalkan produk, menjangkau pelanggan, dan mendorong penjualan. Berbagai aktivitas tersebut tentu membutuhkan biaya yang perlu dicatat dan dikelola secara tepat.

Marketing expense tidak hanya berkaitan dengan iklan, tetapi juga mencakup promosi, pembuatan materi pemasaran, dan aktivitas lain untuk mendukung pemasaran. Memahami jenis dan perlakuan setiap biaya membantu perusahaan mengelola anggaran sekaligus melihat pengaruhnya terhadap laporan keuangan.

Artikel ini membahas pengertian marketing expense, jenis, cara menghitung, contoh pencatatan, hingga perlakuan pajaknya.

Apa Itu Marketing Expense?

Biaya pemasaran atau marketing expense adalah seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memasarkan, mendistribusikan, dan melayani produk atau jasa kepada konsumen, sejak produk selesai diproduksi hingga sampai kepada pelanggan dan menghasilkan penerimaan. 

Biaya ini dapat muncul dari berbagai aktivitas yang mendukung proses penjualan, mulai dari promosi dan periklanan hingga pengiriman serta penagihan kepada pelanggan.

Cakupan marketing expense tidak terbatas pada biaya iklan. Pengeluaran untuk promosi, pergudangan, pembungkusan, pengiriman, kredit dan penagihan, serta aktivitas pendukung pemasaran lainnya juga dapat termasuk di dalamnya. Karena itu, perusahaan perlu mengidentifikasi setiap pengeluaran berdasarkan fungsi dan tujuan penggunaannya.

Dalam penyajian laporan keuangan, marketing expense perlu dibedakan dari biaya yang berkaitan dengan fungsi produksi maupun administrasi.

Menurut PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan mengatur penyajian beban berdasarkan sifat atau fungsinya. Karena itu, biaya pemasaran perlu diklasifikasikan secara tepat agar tidak tercampur dengan harga pokok penjualan (HPP) atau beban administrasi dan umum.

Marketing expense sering tertukar dengan dua pos lain yang sebenarnya berbeda:

  • Harga Pokok Penjualan (HPP): biaya yang berkaitan langsung dengan produksi atau pembelian barang atau jasa yang terjual, bukan biaya untuk memasarkan atau mendistribusikannya.
  • Beban administrasi dan umum: biaya untuk menjalankan fungsi kantor dan mendukung operasional perusahaan, seperti gaji staf non-pemasaran dan sewa kantor, yang tidak berkaitan langsung dengan aktivitas pemasaran.

Jenis-Jenis Marketing Expense

Marketing expense dapat dikelompokkan berdasarkan tujuan pengeluarannya maupun keterkaitannya dengan aktivitas pemasaran tertentu. Pengelompokan ini membantu perusahaan memahami fungsi setiap biaya dan menentukan cara pencatatannya secara lebih tepat.

Berdasarkan tujuannya, marketing expense dapat dibagi menjadi dua golongan berikut.

GolonganDefinisiContoh
Order Getting Costs (Biaya Mendapatkan Pesanan)Biaya untuk menarik perhatian calon pembeli dan mendorong terjadinya pembelianGaji dan komisi sales, biaya iklan, biaya promosi penjualan (diskon, event, campaign), biaya riset pasar
Order Filling Costs (Biaya Memenuhi Pesanan)Biaya untuk memproses, mengirim, dan menagih pesanan yang sudah diterimaBiaya gudang, biaya pengemasan, biaya pengiriman, biaya layanan pelanggan, biaya penagihan piutang

Selain berdasarkan tujuan, marketing expense juga dapat dikelompokkan berdasarkan keterkaitannya dengan aktivitas tertentu:

  • Biaya langsung: dapat dihubungkan langsung ke satu produk atau kampanye tertentu, misalnya biaya iklan produk A.
  • Biaya tidak langsung: bersifat umum dan perlu dialokasikan secara proporsional, misalnya gaji manajer pemasaran nasional atau biaya sistem CRM lintas tim.

Marketing Expense yang Dibebankan vs Dikapitalisasi

Sebagian besar marketing expense diakui sebagai beban pada periode terjadinya karena manfaat dari pengeluaran tersebut umumnya digunakan dalam periode berjalan. Contohnya adalah biaya iklan digital, komisi sales, biaya event, dan kampanye promosi yang manfaatnya tidak memberikan hak atau aset teridentifikasi untuk digunakan dalam jangka panjang.

Namun, tidak semua pengeluaran yang berkaitan dengan pemasaran langsung dibebankan. Pengeluaran tertentu dapat dikapitalisasi sebagai aset takberwujud apabila memenuhi kriteria pengakuan aset, termasuk memberikan manfaat ekonomi di masa mendatang dan dapat diidentifikasi serta diukur secara andal. Berdasarkan PSAK 19 tentang Aset Takberwujud dan ISAK 14 tentang Aset Tak Berwujud. Biaya Situs Web, perlakuannya dapat berkaitan dengan pengembangan aset tertentu, seperti:

  • Biaya pengembangan logo atau identitas merek: perlakuannya perlu dilihat berdasarkan sifat pengeluaran dan apakah memenuhi kriteria pengakuan aset takberwujud.
  • Biaya pengembangan website utama perusahaan: pada tahap tertentu, biaya pengembangan situs web dapat memenuhi kriteria kapitalisasi apabila memberikan manfaat ekonomi di masa mendatang. Namun, biaya hosting dan perawatan rutin umumnya tidak memenuhi kriteria tersebut.

Sebaliknya, biaya hosting bulanan, perawatan rutin website, atau konten kampanye musiman umumnya dibebankan pada periode terjadinya karena tidak memenuhi kriteria pengakuan sebagai aset takberwujud.

Perbedaan perlakuan ini penting karena menentukan kapan pengeluaran memengaruhi laba perusahaan. Biaya yang memenuhi kriteria kapitalisasi tidak langsung menjadi beban seluruhnya pada periode terjadinya, melainkan diakui sebagai aset dan kemudian dibebankan melalui amortisasi selama masa manfaatnya, jika memenuhi ketentuan yang berlaku.

Rumus dan Cara Menghitung Marketing Expense

Cara paling sederhana menghitung marketing expense adalah menjumlahkan seluruh biaya pemasaran yang dikeluarkan dalam satu periode. Rumusnya adalah:

Marketing Expense = Biaya Iklan + Biaya Promosi Penjualan + Gaji dan Komisi Sales + Biaya Riset Pasar + Biaya Distribusi + Pos Marketing Expense Lainnya

Selain mengetahui total biaya pemasaran, bisnis juga dapat mengukur porsinya terhadap penjualan melalui marketing expense ratio:

Marketing Expense Ratio = (Marketing Expense ÷ Total Penjualan) × 100%

Rasio ini membantu bisnis melihat seberapa besar bagian penjualan yang digunakan untuk membiayai aktivitas pemasaran dan membandingkannya dari waktu ke waktu. Besarannya dapat berbeda tergantung skala dan fase pertumbuhan bisnis.

Contoh: Jika perusahaan mengeluarkan marketing expense sebesar Rp20 juta dalam satu bulan dan mencatat total penjualan Rp200 juta, maka:

Marketing Expense Ratio = (Rp20 juta ÷ Rp200 juta) × 100% = 10%

Artinya, biaya pemasaran pada periode tersebut setara dengan 10% dari total penjualan.

Contoh Perhitungan dan Penyajian Marketing Expense

PT Sentosa Konsumer merupakan produsen makanan ringan. Pada bulan berjalan, perusahaan mencatat pendapatan bersih Rp1.800.000.000 dan HPP Rp950.000.000. Marketing expense yang dikeluarkan terdiri dari biaya iklan digital Rp60.000.000, komisi penjualan Rp45.000.000, biaya event dan sampling produk Rp35.000.000, serta biaya distribusi dan pergudangan Rp40.000.000.

Total marketing expense dapat dihitung dengan menjumlahkan seluruh biaya pemasaran yang terjadi selama periode tersebut:

Marketing Expense = Rp60.000.000 + Rp45.000.000 + Rp35.000.000 + Rp40.000.000 = Rp180.000.000

Jika disajikan setelah laba kotor, perhitungannya menjadi:

KomponenJumlah (Rp)
Pendapatan Bersih1.800.000.000
Dikurangi: HPP(950.000.000)
Laba Kotor850.000.000
Marketing Expense:
Biaya Iklan Digital60.000.000
Komisi Penjualan45.000.000
Biaya Event dan Sampling35.000.000
Biaya Distribusi dan Pergudangan40.000.000
Total Marketing Expense(180.000.000)
Sisa sebelum beban administrasi dan umum670.000.000

Dari perhitungan tersebut, marketing expense ratio PT Sentosa Konsumer adalah:

Marketing Expense Ratio = Rp180.000.000 ÷ Rp1.800.000.000 × 100% = 10%

Artinya, marketing expense pada periode tersebut setara dengan 10% dari pendapatan bersih.

Selanjutnya, saat biaya iklan digital sebesar Rp60.000.000 dibayar melalui transfer bank, perusahaan dapat mencatatnya dalam jurnal umum sebagai berikut:

AkunDebitKredit
Beban IklanRp60.000.000
Kas dan BankRp60.000.000

Marketing Expense dan Perlakuan Pajaknya (Biaya Promosi)

Tidak semua marketing expense memiliki perlakuan pajak yang sama. Salah satu komponen yang memiliki ketentuan khusus adalah biaya promosi, yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto apabila memenuhi persyaratan perpajakan.

Berdasarkan PMK 02/PMK.03/2010, biaya promosi merupakan bagian dari biaya penjualan yang dikeluarkan untuk memperkenalkan atau menganjurkan pemakaian produk, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk mempertahankan atau meningkatkan penjualan. Biaya yang termasuk dalam kategori ini meliputi:

  • Biaya periklanan di media elektronik, media cetak, dan/atau media lainnya.
  • Biaya pameran produk.
  • Biaya pengenalan produk baru.
  • Biaya sponsorship yang berkaitan dengan promosi produk.

Sementara itu, biaya promosi untuk memperoleh penghasilan yang bukan merupakan objek pajak atau yang telah dikenai PPh final tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Ketentuan ini juga berlaku untuk pengeluaran yang tidak memenuhi persyaratan sebagai biaya promosi yang dapat dikurangkan.

Untuk biaya promosi yang dikeluarkan kepada pihak lain, wajib pajak perlu membuat daftar nominatif sesuai ketentuan. Daftar tersebut sekurang-kurangnya memuat nama, NPWP, alamat, tanggal, bentuk dan jenis biaya, jumlah biaya, nomor bukti pemotongan, serta jumlah PPh yang dipotong. Daftar nominatif kemudian dilaporkan sebagai lampiran SPT Tahunan PPh Badan. Jika persyaratan ini tidak dipenuhi, biaya promosi tersebut tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

Perlu dibedakan bahwa ketentuan daftar nominatif tersebut secara khusus mengatur biaya promosi. Komponen marketing expense lainnya, seperti komisi sales atau biaya distribusi, mengikuti ketentuan umum biaya yang dapat dikurangkan sesuai peraturan perpajakan yang berlaku.

Kesalahan Umum dalam Mencatat Marketing Expense

Pencatatan marketing expense yang kurang tepat dapat membuat biaya salah klasifikasi, laba periode berjalan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, atau menimbulkan masalah dalam pelaporan pajak. 

Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain:

  • Menyamakan seluruh biaya promosi sebagai deductible expense tanpa memenuhi persyaratan administrasi, seperti daftar nominatif untuk biaya promosi tertentu.
  • Mengkapitalisasi biaya pemasaran rutin seperti kampanye musiman sebagai aset, padahal pengeluaran tersebut umumnya dibebankan pada periode terjadinya.
  • Mengabaikan kemungkinan kapitalisasi biaya pengembangan aset jangka panjang, seperti pengembangan logo atau website, tanpa terlebih dahulu menilai apakah pengeluaran tersebut memenuhi kriteria pengakuan aset takberwujud.
  • Mencampur marketing expense dengan beban administrasi dan umum tanpa klasifikasi yang jelas, sehingga biaya pemasaran sulit dianalisis dan dibandingkan.
  • Tidak menyimpan bukti pendukung transaksi, seperti invoice agensi, kontrak sponsorship, atau dokumen pembayaran, yang dapat diperlukan untuk mendukung pencatatan dan pemenuhan ketentuan perpajakan.

Kelola dan Pantau Marketing Expense dengan Mekari Jurnal

Mengelola marketing expense dari berbagai kanal dan aktivitas pemasaran dapat menjadi lebih mudah ketika biaya tercatat dan terpantau dalam satu sistem. 

Mekari Jurnal melalui fitur Biaya & Pengeluaran membantu bisnis mengontrol pengeluaran, menyusun anggaran, dan memantau realisasi biaya secara lebih terstruktur.

Dengan fitur Biaya & Pengeluaran Mekari Jurnal, Anda dapat:

  • Melacak biaya berdasarkan kategori untuk melihat pengeluaran pemasaran secara lebih terperinci.
  • Membuat anggaran per periode agar pengeluaran dapat direncanakan sesuai kebutuhan bisnis.
  • Membandingkan anggaran dengan transaksi aktual untuk memantau realisasi dan mengendalikan biaya.
  • Melihat detail pengeluaran sebagai bahan evaluasi dan acuan menyusun anggaran periode berikutnya.

Kelola marketing expense dan anggaran bisnis secara lebih terstruktur bersama Mekari Jurnal.

Referensi

  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan, PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan.
  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan, PSAK 19 tentang Aset Takberwujud; ISAK 14 tentang Aset Tak Berwujud – Biaya Situs Web.
  • Kieso, D.E., Weygandt, J.J., & Warfield, T.D. Akuntansi Keuangan Menengah Edisi IFRS. Jakarta: Salemba Empat.
  • Mulyadi. Akuntansi Biaya.
  • Peraturan Menteri Keuangan Nomor 02/PMK.03/2010 tentang Biaya Promosi yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto.
  • Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP), Pasal 6 ayat (1).

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan marketing expense?

1. Apa yang dimaksud dengan marketing expense?

Marketing expense adalah seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memasarkan, mendistribusikan, dan melayani produk atau jasa kepada konsumen, mulai dari iklan, promosi, riset pasar, hingga distribusi dan layanan pelanggan.

2. Apa perbedaan marketing expense dengan HPP?

2. Apa perbedaan marketing expense dengan HPP?

HPP adalah biaya yang berkaitan langsung dengan produksi atau pembelian barang/jasa yang dijual, sedangkan marketing expense adalah biaya untuk memasarkan dan mendistribusikan produk tersebut setelah proses produksi selesai.

3. Apakah semua marketing expense dibebankan langsung sebagai beban? Tidak semua. Mayoritas marketing expense seperti iklan dan komisi sales dibebankan langsung, tetapi biaya pengembangan aset jangka panjang seperti logo atau website utama harus dikapitalisasi sebagai aset takberwujud sesuai PSAK 19 dan ISAK 14.

3. Apakah semua marketing expense dibebankan langsung sebagai beban? Tidak semua. Mayoritas marketing expense seperti iklan dan komisi sales dibebankan langsung, tetapi biaya pengembangan aset jangka panjang seperti logo atau website utama harus dikapitalisasi sebagai aset takberwujud sesuai PSAK 19 dan ISAK 14.

Tidak semua. Mayoritas marketing expense seperti iklan dan komisi sales dibebankan langsung, tetapi biaya pengembangan aset jangka panjang seperti logo atau website utama harus dikapitalisasi sebagai aset takberwujud sesuai PSAK 19 dan ISAK 14.

4. Apa itu order getting cost dan order filling cost?

4. Apa itu order getting cost dan order filling cost?

Order getting cost adalah biaya untuk menarik dan mendapatkan pesanan dari pelanggan, seperti iklan dan komisi sales, sedangkan order filling cost adalah biaya untuk memproses dan memenuhi pesanan yang sudah diterima, seperti biaya gudang dan pengiriman.

5. Bagaimana cara menghitung marketing expense ratio?

5. Bagaimana cara menghitung marketing expense ratio?

Marketing expense ratio dihitung dengan membagi total marketing expense dengan total penjualan pada periode yang sama, kemudian dikalikan 100 persen untuk mendapatkan persentasenya.

6. Apakah biaya promosi otomatis bisa dikurangkan dari pajak?

6. Apakah biaya promosi otomatis bisa dikurangkan dari pajak?

Tidak otomatis. Biaya promosi baru dapat dikurangkan dari penghasilan bruto jika memenuhi kriteria dalam PMK 02/PMK.03/2010 dan dilengkapi daftar nominatif yang dilampirkan dalam SPT Tahunan PPh Badan.

Bagaimana cara mengelola marketing expense agar tidak membengkak?

Bagaimana cara mengelola marketing expense agar tidak membengkak?

Beberapa caranya adalah menetapkan anggaran pemasaran per kampanye, memantau marketing expense ratio secara berkala, mengevaluasi efektivitas tiap kanal pemasaran, serta mencatat setiap transaksi secara otomatis melalui aplikasi akuntansi agar realisasi mudah dibandingkan dengan rencana.

Kategori : Cost Accounting

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami