Dalam menjalankan bisnis, persediaan menjadi salah satu elemen penting yang memiliki dampak besar pada laba dan kewajiban pajak perusahaan. Dengan penilaian persediaan yang tepat, maka Anda dapat lebih mudah mengetahui penilaian persediaan barang dagang dan harga pokok penjualannya dalam suatu periode tertentu. Untuk memahami bagaimana persediaan barang berdampak pada kewajiban pajak perusahaan, cobalah Anda pertimbangkan konsep akuntansi akrual, masalah biaya inventori, dan metode penilaian inventaris. Dengan mengetahui pengetahuan ini, Anda dapat dengan mudah merencanakan laba perusahaan dan menghitung kewajiban pajak terkait. Di bawah ini kami akan membahas lebih jauh mengenai bagaimana penilaian persediaan bisa mendorong keuntungan dan pajak?

 

Apa Hubungan Persediaan Barang dan Akuntansi?

Banyak orang yang bertanya-tanya, apa hubungannya stok dan akuntansi? Bagaimana bisa waktu pengeluaran stok akan memengaruhi laba perusahaan dan pajak atas laba itu sendiri. Nyatanya, hampir seluruh bisnis beroperasi dengan menggunakan akuntansi akrual yang berarti bahwa pendapatan dicatat ketika diperoleh dan pengeluaran diposting saat terjadi. Akuntansi akrual mencocokkan pendapatan dengan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan pendapatan.

Misalnya, Sebuah restoran memiliki utang Rp3.000.000 kepada karyawannya untuk upah yang diperoleh pada bulan Desember 2019. Kemudian, tanggal pembayaran gaji berikutnya adalah 30 Januari 2020. Restoran mengeluarkan biaya penggajian sebesar Rp3.000.000 untuk mendapatkan pendapatan selama bulan terakhir 2018. Oleh karena itu, Rp3.000.000 adalah biaya penggajian pada tahun 2019, meskipun tidak dibayarkan sampai tahun 2020. Proses ini cocok dengan pendapatan 2019 yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan pada tahun 2019.

 

Apa itu Inventoriable Costs?

Akuntansi akrual berlaku untuk persediaan, di mana ketika perusahaan menjual produk dari persediaan, maka pendapatan yang dihasilkan dan harga pokok penjualan akan dikirim ke catatan akuntansi. Biaya yang dicatat inilah yang akan menentukan laba dari penjualan, dan akhirnya pajak atas laba.

Biaya persediaan merupakan biaya yang harus dimasukkan dalam barang dagangan yang disimpan dalam persediaan. Akuntan mendefinisikan biaya ini sebagai biaya yang dibayarkan kepada supplier, ditambah semua biaya yang dikeluarkan untuk “menyiapkan inventaris untuk dijual”. Biaya pengiriman adalah biaya yang dapat diinventarisasi, serta biaya yang dikeluarkan untuk melakukan perubahan atau penambahan pada item dalam persediaan. Misalnya, ketika supplier menambahkan nama merek atau logo mereka ke item inventaris, itu adalah biaya yang bisa diinventarisasikan.

 

Kenapa Pengaturan Waktu dalam Penilaian Persediaan itu Penting?

Coba bayangkan ketika Anda berjalan ke sebuah toko bunga yang membawa persediaan Rp300.000.000, dan belum ada biaya yang dikeluarkan. Sebagai gantinya, biaya-biaya itu tetap “melekat” pada setiap item inventaris sampai item tersebut dijual. Tidak seperti pengeluaran lainnya, biaya persediaan tidak menjadi pengeluaran sampai penjualan terjadi. Jadi, pengakuan biaya ini tertunda hingga item terjual.

Prinsip pencocokan di sini berarti penjualan dan biaya penjualan terjadi pada periode waktu yang sama. Jika toko menjual inventaris Rp300.000.000 dengan harga total penjualan Rp350.000.000 pada bulan Januari, maka toko menghasilkan pendapatan Rp350.000.000, dengan rincian biaya penjualan Rp300.000.000 dan laba Rp50.000.000, semua di bulan yang sama yaitu bulan Januari.

Dalam banyak kasus, nilai yang ditempatkan pada item inventaris tertentu akan berbeda, tergantung pada kapan item tersebut dibeli. Perbedaan dalam penilaian inventaris inilah yang akan berdampak baik pada laba maupun kewajiban pajak perusahaan.

 

Metode Penilaian Persediaan Barang

Banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk menilai persediaan, ada beberapa metode yang bisa Anda gunakan yaitu, metode FIFO, LIFO, dan Average. Di bawah ini adalah beberapa penjelasan singkat mengenai ketiga metode ini.

  • Metode FIFO

Seperti namanya, metode FIFI atau First In First Out merupakan metode perhitungan biaya inventori dengan cara menjual produk atau stok yang terlebih dahulu masuk menjadi stok yang pertama keluar. Metode ini merupakan salah satu pilihan utama yang sering digunakan dalam perusahaan besar, di mana metode ini sangat nyata jika dihitung, ataupun sangat efektif jika dilakukan pada goods flow.

  • Metode LIFO

Metode ini kebalikan dari metode FIFO. Metode LIFO atau Last In First Out berarti persediaan yang masuk terakhir keluar pertama. Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa aliran keluar biaya persediaan merupakan kebalikan dari kronologi terjadinya biaya. Namun, berdasarkan PSAK 14 metode LIFO tidak boleh digunakan lagi.

  • Metode Average

Metode average biasa disebut metode rata-rata tertimbang yang membagi antara biaya barang yang tersedia untuk dijual dengan jumlah unit yang tersedia. Sehingga persediaan akhir dan beban pokok penjualan dapat dihitung dengan harga rata-rata.

 

Perbedaan Metode FIFO, LIFO, dan Average

Ada banyak perbedaan antara ketiga metode ini, namun pada metode Average sebenarnya tidak terlalu berbeda. Di mana, metode Average ini adalah penggabungan antara metode FIFO dan metode LIFO. Untuk itu, di bawah ini Jurnal akan memberikan beberapa perbedaan metode FIFO dan LIFO yang harus Anda pahami

FIFO LIFO
Nilai persediaan disajikan secara relevan di laporan posisi keuangan. Nilai persediaan bertolak belakang dengan aliran fisik persediaan sesungguhnya.

Mudah membandingkan cost saat ini dengan pendapatan sekarang. Apabila harga naik maka harga barang jadi konservatif.

Menghasilkan laba yang lebih besar, namun jumlahnya tidak akurat. Laba atau rugi yang dihasilkan lebih rendah, namun tidak terpengaruh oleh untung atau rugi dari fluktuasi harga. Dan 
Pajak yang harus dibayarkan perusahaan ke pemerintah menjadi lebih besar. Menghemat pajak, namun biaya pembukuan menjadi mahal karena metode ini lebih rumit.

Itulah beberapa hal penting terkait cara penilaian persediaan. Dapat disimpulkan di sini bahwa bisnis sangat dianjurkan untuk menggunakan akuntansi akrual dan menggunakan sistem atau metode FIFO, sehingga catatan akuntansi mereka dapat dibandingkan dengan perusahaan lain.

Bisis Anda juga harus menerapkan konsep biaya yang dapat diinventarisasi untuk keputusan bisnis Anda tentang pengeluaran. Setelah memilih metode penilaian persediaan, cobalah luangkan waktu untuk menilai bagaimana metode itu akan memengaruhi laba dan kewajiban pajak. Dengan perencanaan yang tepat, Anda dapat memahami dampak inventaris terhadap pajak dan laba Anda.

Jurnal merupakan salah satu software akuntansi online yang dapat membantu Anda melakukan penilaian persediaan dengan mudah. Dengan Jurnal, Anda dapat memilih metode penilaian persediaan, apakah metode FIFO atau metode Average. Selain itu, Anda juga tidak perlu lagi menghitung persediaan secara satu per satu, karena Jurnal akan membantu Anda menghitung seluruh persediaan, yang masih ada maupun yang akan segera habis dengan mudah. Penasaran bagaimana Jurnal bisa membantu Anda? Coba gratis Jurnal sekarang di sini!