Membangun Branding, Strategi Eatlah Bertahan di Pasar yang Kompetitif

Bermula pada 2017, Michael Chrisyanto bersama dua rekannya, Riesky Vernandes dan Charina Prinandita merintis Eatlah, usaha pertama mereka di bidang makanan dan minuman (food and beverage).

Ide awal berasal dari kegemaran dua teman Michael yang suka mencicipi jajanan kaki lima ketika bersekolah di Singapura beberapa tahun lalu. Di Negeri Singa, banyak menu jajanan yang menggunakan saus telur asin. Mereka berpikir, menu telur asin sangat unik dan sangat ‘Indonesia’. Kemudian memutuskan untuk membuka usaha makanan yang modern dengan menu khas saus telur asin dengan harapan bisa diminati warga Tanah Air. 

Pada awalnya, pendiri Eatlah berfokus pada penjualan nasi box dengan menu andalan ayam goreng berbalur saus telur asin yang khas. Michael menegaskan Eatlah memakai model bisnis fast food, tetapi bukan berarti junk food. Fast food yang dimaksud ialah menyajikan produk dengan lebih cepat dan efisien.

“Kami membuat konsep, trial (percobaan) selama 8 bulan sejak 2016, sampai akhirnya kami launch (rilis) pada 2017 untuk salted egg chicken rice (nasi ayam saus telur asin),” ujar Michael kepada dalam Customer Story Jurnal by Mekari, beberapa waktu lalu seperti dikutip, Selasa (10/3). 

Menurut Michael, industri food and beverage saat ini sangat menarik dan akan terus berkembang pesat dalam beberapa tahun ke depan di Indonesia. “Tidak mungkin orang setop makan,” ungkap Michael.

Dalam perusahaan, Michael Chrisyanto berperan sebagai Chief of Branding & Design, Charina sebagai Chief of Marketing, dan Riesky sebagai Chief of Operation and Business Development. 

Co-Founder Eatlah, Michael Chrisyanto,

Eatlah terus berupaya menjaga citranya agar terus bertahan di tengah menjamurnya bisnis model makanan fast food nasi box sejenis. Dengan latar belakangnya sebagai desainer, Michael meyakini bahwa citra sebuah brand memegang peran utama dalam semua hal, termasuk dalam industri makanan.

“Apapun yang kita gunakan di tubuh, kita kenakan, pegang, beli, itu semua brand. Maka itu, peranan branding sangat penting, terutama di food industry,” tuturnya. 

Maka itu, ketika menciptakan konsep branding Eatlah, Michael mengaku memikirkannya dengan sangat detail, termasuk berfokus pada desain kemasan produk, logo, warna, dan efisiensi penggunaan kemasan tersebut. 

Hal yang membedakan perusahaan dengan produk sejenis lain, menurut Michael, ialah Eatlah berusaha menciptakan brand yang terlihat abadi dan bisa terus digunakan di masa mendatang. Ketimbang memilih citra yang kekinian dan bergantung pada momentum, Eatlah lebih memilih menciptakan brand yang bisa bertahan secara berkelanjutan dalam waktu panjang.  

“Dalam branding kami ingin terlihat visibility-nya untuk masa depan. Kami mau sustainable. Produk harus terlihat timeless dan masih bisa digunakan dan masih kuat dalam 10 tahun mendatang,” tuturnya

Tak hanya soal branding, Michael juga tentu mengutamakan kualitas produk makanan itu sendiri. Menurut dia, kesuksesan akan berasal dari keberhasilan pebisnis menggabungkan produk yang berkualitas dan branding yang mumpuni. 

Eatlah

Untuk menciptakan produk berkualitas, Eatlah mengaku berfokus melakukan riset dan pengembangan produk secara matang dalam kurun waktu 5-12 bulan sebelum rilis. Untuk menjaga produk tetap berkualitas, Eatlah juga memutuskan untuk tetap mengelola bisnisnya sendiri secara terpusat dibanding menjalankan model bisnis franchise. Dalam perkembangannya, pendiri membuka kedai baru dengan cara konvensional, yakni menabung dari hasil keuntungan cabang sebelumnya.

Eatlah terus mengembangkan sayapnya hingga memiliki 26 cabang yang tersebar di enam kota, antara lain Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Bali dan Yogyakarta. 

Dalam mengembangkan bisnis, tantangan utama Eatlah ialah persoalan kemampuan sumber daya manusia (SDM). Untuk mengatasi berbagai tantangan, Eatlah memanfaatkan berbagai teknologi karena dianggap sangat berperan besar dalam membantu perusahaan mengembangkan bisnisnya.

Teknologi yang digunakan mulai dari teknologi pengiriman makanan, sistem point of sales (POS) yang merujuk pada tempat kasir (check out counter), enterprise resource planning (ERP), serta software akuntansi online yakni Jurnal. 

“Semua teknologi membantu untuk lebih cepat maju. Tidak seperti zaman dulu, sekarang teknologi sangat berkaitan erat dengan food industry,” sebut Michael.

Khusus untuk sistem akuntansi dan keuangan, Michael mengungkapkan Jurnal sangat memudahkan Eatlah menjalankan bisnis, terlebih karena bisa langsung terintegrasi dengan sistem POS. Dalam prosesnya, hanya dengan sekali input data penjualan, seluruh pemasukan bisa diketahui secara mudah dan cepat. 

Beberapa fitur Jurnal yang digunakan antara lain, sistem data keuntungan dan kerugian (profit and loss system), perhitungan untuk pengadaan barang, dan harga pokok penjualan atau cost of goods sold (COGS). Ketiga alat itu sangat memudahkan Eatlah membuat laporan keuangan yang komprehensif. 

Eatlah

Dengan data yang berasal dari Jurnal, perusahaan bisa menentukan strategi bisnis di masa mendatang. Misalnya, menentukan rencana ekspansi dan strategi marketing, termasuk menentukan porsi anggaran pemasaran yang diperlukan.

“Peranan Jurnal sangat penting karena memberi data realtime. Dengan begitu, kami tahu ke depan mau melakukan apa, buka outlet berapa, dan lainnya. Perhitungan secara realtime sangat berpengaruh pada kondisi stok barang, kami melihat semua data itu dari Jurnal,” paparnya.


PUBLISHED10 Mar 2020
Wiji Nurhayat
Wiji Nurhayat

SHARE THIS ARTICLE: