Panduan Mengelola Persediaan Barang dan Cara Menghitung Nilainya Mekari Jurnal Highlights PSAK 202 hanya memperkenankan metode FIFO dan rata-rata tertimbang untuk mengukur biaya persediaan, sehingga metode LIFO tidak dapat digunakan dalam laporan keuangan. Persediaan diukur sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah. Karena itu, persediaan yang usang atau mengalami penurunan nilai perlu dievaluasi dan disesuaikan. Mekari Jurnal menyediakan 40+ laporan inventaris untuk membantu bisnis memantau valuasi dan pergerakan stok, melakukan stock opname di berbagai gudang, serta mengawasi persediaan secara real-time dan akurat. Laporan persediaan barang adalah laporan yang mencatat stok awal, barang masuk, barang keluar, dan stok akhir beserta nilainya dalam periode tertentu. Data ini menjadi dasar untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP) dan nilai persediaan dalam laporan keuangan.Pencatatan stok yang tidak akurat dapat memicu kelebihan atau kekurangan barang serta membuat perhitungan laba kurang tepat. Data IHL Group 2025 menunjukkan bahwa masalah tersebut menggerus sekitar 6,5% penjualan ritel global.Lalu, apa saja komponen laporan persediaan barang dan bagaimana cara menyusunnya sesuai PSAK 202? Simak jenis, komponen, cara membuat, dan contoh perhitungannya dalam artikel i Apa Itu Laporan Persediaan Barang?Laporan persediaan barang adalah laporan yang menyajikan jumlah dan nilai persediaan, mulai dari saldo awal, barang masuk dan keluar, hingga saldo akhir dalam periode tertentu. Laporan ini dapat disusun berdasarkan item, gudang, atau seluruh persediaan bisnis.Menurut PSAK 202 tentang Persediaan, persediaan merupakan aset yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa, sedang dalam proses produksi untuk dijual, atau berupa bahan dan perlengkapan yang digunakan dalam produksi maupun pemberian jasa.Berbeda dengan laporan stok barang yang berfokus pada jumlah unit, laporan persediaan juga mencakup biaya per unit dan nilai rupiah barang. Informasi ini digunakan untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP) dan menyajikan saldo persediaan dalam laporan keuanga Fungsi Laporan Persediaan Barang bagi BisnisLaporan persediaan membantu bisnis mengelola stok sekaligus menjaga keakuratan laporan keuangan. Berikut empat fungsi utamanya: Dasar perhitungan HPP: Membantu menentukan biaya persediaan yang terjual sehingga perhitungan laba kotor lebih akurat. Dasar saldo persediaan di neraca: Menunjukkan nilai stok akhir yang disajikan sebagai aset dalam laporan posisi keuangan. Alat kontrol selisih stok: Membantu mengidentifikasi barang hilang, rusak, atau salah catat melalui perbandingan data dengan hasil stock opname. Dasar keputusan pembelian: Menunjukkan barang yang cepat terjual, stok yang menumpuk, dan kebutuhan pemesanan ulang. Komponen dan Format Laporan Persediaan BarangLaporan persediaan barang memuat informasi kuantitas dan nilai stok untuk memantau pergerakan barang sekaligus mendukung pencatatan akuntansi. Berikut komponen yang umum digunakan:KolomIsiFungsiKode barang (SKU)Kode unik setiap itemMencegah barang tertukar atau tercatat gandaNama barangNama atau deskripsi itemMengidentifikasi barangSatuanPcs, sak, kaleng, atau kgMenyeragamkan perhitungan kuantitasStok awalKuantitas pada awal periodeMenjadi dasar pencatatan mutasiBarang masukPembelian, retur penjualan, atau hasil produksiMenambah stokBarang keluarPenjualan, pemakaian, atau retur pembelianMengurangi stokStok akhirKuantitas pada akhir periodeDicocokkan dengan stok fisikHarga pokok per unitBiaya per unit berdasarkan metode penilaianMenjadi dasar pengukuran nilai persediaanNilai persediaanStok akhir yang dinilai berdasarkan biaya per unitMenentukan nilai persediaan dalam laporan keuanganDua rumus dasar yang digunakan dalam laporan persediaan adalah berikut.Jenis Laporan Persediaan BarangBisnis dapat menggunakan beberapa jenis laporan persediaan sesuai kebutuhan tim gudang dan keuangan. Setiap laporan memiliki fungsi yang berbeda: Kartu persediaan (kartu stok): Mencatat mutasi dan harga pokok setiap item untuk menelusuri transaksi barang. Laporan mutasi persediaan: Merangkum stok awal, barang masuk, barang keluar, dan stok akhir seluruh item. Laporan nilai persediaan: Menunjukkan nilai stok berdasarkan biaya perolehan sebagai dasar penyajian persediaan dalam laporan keuangan. Laporan stock opname: Membandingkan stok dalam catatan dengan jumlah fisik untuk menemukan selisih. Laporan umur persediaan (aging): Mengelompokkan stok berdasarkan lama penyimpanan untuk mengidentifikasi barang yang lambat terjual atau berisiko usang. Dasar Akuntansi Laporan Persediaan Menurut PSAK 202, SAK EP, dan SAK EMKMPenilaian persediaan dalam laporan keuangan perlu mengikuti standar akuntansi yang berlaku bagi entitas. Berikut perbedaan ketentuan persediaan dalam PSAK 202, SAK EP, dan SAK EMKM.StandarPenerapan secara umumKetentuan persediaanPSAK 202 (SAK Indonesia)Entitas yang menerapkan SAK Indonesia, termasuk entitas dengan akuntabilitas publikDiukur sebesar biaya atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah. Metode biaya yang diperkenankan adalah FIFO dan rata-rata tertimbang.SAK EP (Bab 13 Persediaan)Entitas privat yang memenuhi kriteria SAK EP; berlaku efektif 1 Januari 2025 sebagai pengganti SAK ETAPMengatur pengukuran persediaan dengan prinsip yang serupa, tetapi dalam standar yang lebih sederhana.SAK EMKM (Bab 9 Persediaan)Entitas yang memenuhi kriteria penerapan SAK EMKMPersediaan diukur berdasarkan biaya perolehan dengan metode FIFO atau rata-rata tertimbang.Pemilihan standar perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kriteria entitas. Bisnis juga perlu menerapkan kebijakan penilaian persediaan secara konsisten agar nilai stok dan HPP dapat disajikan dengan tepat.Pengukuran: Biaya atau Nilai Realisasi NetoMenurut PSAK 202, persediaan diukur berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi neto (net realizable value / NRV), mana yang lebih rendah. Biaya perolehan mencakup biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain hingga persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Biaya penyimpanan yang tidak diperlukan dalam proses produksi, biaya administrasi umum, dan biaya penjualan tidak termasuk di dalamnya.NRV merupakan estimasi harga jual dalam kegiatan usaha normal setelah dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan biaya yang diperlukan untuk menjual barang. Jika NRV lebih rendah daripada biaya perolehan, persediaan perlu diturunkan nilainya dan selisihnya diakui sebagai beban.Rumus Biaya yang DiperkenankanUntuk persediaan yang dapat saling dipertukarkan, PSAK 202 memperkenankan rumus biaya FIFO (first in, first out) dan rata-rata tertimbang. Sementara itu, persediaan yang tidak dapat saling dipertukarkan atau dibuat untuk proyek tertentu menggunakan identifikasi khusus.Metode LIFO (last in, first out) tidak diperkenankan dalam PSAK 202. Ketentuan perpajakan Indonesia juga memperkenankan metode FIFO atau rata-rata untuk penilaian persediaan.Sistem Pencatatan: Perpetual dan PeriodikSelain metode penilaian, bisnis perlu menentukan sistem pencatatan persediaan. Sistem perpetual memperbarui catatan setiap kali terjadi transaksi barang masuk atau keluar. Sebaliknya, sistem periodik mencatat pembelian selama periode berjalan dan menentukan saldo persediaan akhir melalui penghitungan fisik pada akhir periodeCara Membuat Laporan Persediaan BarangIkuti langkah berikut agar laporan persediaan akurat dan siap digunakan untuk tutup buku: Tetapkan periode, sistem, dan metode: Pilih sistem perpetual atau periodik, lalu tentukan metode penilaian persediaan yang sesuai. Siapkan master data barang: Lengkapi kode SKU, nama, satuan, kategori, dan lokasi gudang setiap item. Catat stok awal: Gunakan saldo akhir periode sebelumnya, baik dari sisi kuantitas maupun nilai. Catat setiap mutasi berdasarkan dokumen sumber: Gunakan faktur pembelian, bukti penerimaan barang, faktur penjualan, surat jalan, dan nota retur sebagai dasar pencatatan. Hitung harga pokok barang keluar: Terapkan metode FIFO atau rata-rata tertimbang sesuai kebijakan penilaian persediaan. Lakukan stock opname: Bandingkan stok dalam sistem dengan stok fisik, telusuri penyebab selisih, lalu catat penyesuaian jika diperlukan. Evaluasi nilai realisasi neto: Periksa barang rusak, usang, atau yang nilai realisasi netonya turun di bawah biaya perolehan. Susun ringkasan dan cocokkan dengan buku besar: Pastikan nilai persediaan akhir sesuai dengan saldo akun persediaan setelah penyesuaian. Format ini konsisten dan mudah dipindai pembaca. Pastikan penggunaan titik dua diterapkan pada semua nomor, bukan hanya pada beberapa langkah.5 Contoh Laporan Persediaan Barang dan PerhitungannyaUD Sinar Bangun merupakan toko bahan bangunan yang menggunakan sistem perpetual dan metode rata-rata tertimbang bergerak. Berikut contoh pencatatan persediaan Cat Tembok 5 kg (CT-05) selama Juni 2026.1. Kartu Persediaan Metode Rata-Rata TertimbangTanggalKeteranganBarang masukBarang keluarSaldo persediaan1 JunSaldo awal––100 unit @Rp150.000 = Rp15.000.0005 JunPembelian200 unit @Rp165.000 = Rp33.000.000–300 unit @Rp160.000 = Rp48.000.00012 JunPenjualan–180 unit @Rp160.000 = Rp28.800.000120 unit @Rp160.000 = Rp19.200.00020 JunPembelian80 unit @Rp175.000 = Rp14.000.000–200 unit @Rp166.000 = Rp33.200.00027 JunPenjualan–120 unit @Rp166.000 = Rp19.920.00080 unit @Rp166.000 = Rp13.280.000Harga pokok rata-rata dihitung kembali setiap kali terjadi pembelian. Pada 5 Juni, total biaya persediaan Rp48.000.000 dibagi 300 unit menghasilkan biaya rata-rata Rp160.000 per unit. Pada 20 Juni, total biaya Rp33.200.000 dibagi 200 unit menghasilkan Rp166.000 per unit.Dengan demikian, HPP Juni adalah Rp28.800.000 + Rp19.920.000 = Rp48.720.000, sedangkan nilai persediaan akhir adalah Rp13.280.000.2. Perbandingan dengan Metode FIFOJika menggunakan FIFO (first in, first out), barang yang pertama masuk dianggap sebagai barang yang pertama keluar. Perhitungannya sebagai berikut: Penjualan 12 Juni: 100 unit × Rp150.000 + 80 unit × Rp165.000 = Rp28.200.000. Penjualan 27 Juni: 120 unit × Rp165.000 = Rp19.800.000. Persediaan akhir: 80 unit × Rp175.000 = Rp14.000.000. Perbandingan hasil kedua metode adalah sebagai berikut:PosRata-rata tertimbang bergerakFIFOBarang tersedia untuk dijualRp62.000.000Rp62.000.000HPP JuniRp48.720.000Rp48.000.000Persediaan akhir (80 unit)Rp13.280.000Rp14.000.000Ketika harga beli meningkat, FIFO menghasilkan HPP yang lebih rendah dan nilai persediaan akhir yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata tertimbang bergerak pada contoh ini. Selisih tersebut menunjukkan bahwa pemilihan metode penilaian dapat memengaruhi nilai HPP dan persediaan yang dilaporkan.3. Ringkasan Laporan Persediaan Akhir BulanBerikut contoh ringkasan laporan persediaan UD Sinar Bangun per 30 Juni 2026, sebelum penyesuaian hasil stock opname dan penurunan nilai NRV.KodeNama barangSatuanStok awalMasukKeluarStok akhirBiaya per unitNilai persediaanCT-05Cat Tembok 5 kgKaleng10028030080Rp166.000Rp13.280.000SM-40Semen 40 kgSak250600650200Rp62.000Rp12.400.000PV-03Pipa PVC 3 inciBatang150100120130Rp45.000Rp5.850.000TotalRp31.530.000Total nilai persediaan sebesar Rp31.530.000 merupakan saldo sebelum penyesuaian. Nilai ini perlu diperbarui jika ditemukan selisih stok atau penurunan nilai persediaan.4. Penyesuaian Hasil Stock OpnamePada 30 Juni, hasil penghitungan fisik Cat Tembok 5 kg menunjukkan 78 kaleng, sedangkan catatan sistem menunjukkan 80 kaleng. Artinya, terdapat selisih 2 kaleng dengan nilai Rp332.000 (2 × Rp166.000).Jika selisih tersebut merupakan kehilangan persediaan dan belum dicatat, jurnal penyesuaiannya adalah:AkunDebitKreditBeban selisih persediaanRp332.000–Persediaan barang dagang–Rp332.000Setelah penyesuaian, nilai persediaan berdasarkan tabel menjadi Rp31.530.000 − Rp332.000 = Rp31.198.000.5. Uji Nilai Realisasi NetoSelain mencocokkan jumlah stok, bisnis perlu mengevaluasi apakah nilai persediaan masih dapat dipulihkan melalui penjualan. Misalnya, UD Sinar Bangun memiliki 20 kaleng cat edisi lama dengan biaya perolehan Rp150.000 per kaleng. Harga jual yang diperkirakan adalah Rp130.000 per kaleng, dengan biaya yang diperlukan untuk menjual sebesar Rp5.000 per kaleng.Nilai realisasi neto (NRV) per kaleng adalah Rp130.000 − Rp5.000 = Rp125.000. Karena NRV lebih rendah daripada biaya perolehan, penurunan nilai persediaan adalah:20 × (Rp150.000 − Rp125.000) = Rp500.000.Nilai persediaan cat edisi lama tersebut setelah penurunan menjadi 20 × Rp125.000 = Rp2.500.000. Penurunan nilai Rp500.000 diakui sebagai beban. Jika persediaan ini belum tercakup dalam tabel ringkasan, nilainya perlu ditambahkan ke laporan sebelum menghitung total akhir.Susun Laporan Persediaan Barang Otomatis dengan Akurat Bersama Mekari JurnalLaporan persediaan yang akurat membutuhkan pencatatan mutasi barang, perhitungan harga pokok yang konsisten, dan pemeriksaan stok secara berkala. Jika seluruh proses dilakukan manual melalui spreadsheet, pencatatan bisa memakan waktu dan lebih sulit dikendalikan, terutama ketika bisnis memiliki banyak SKU atau gudang.Mekari Jurnal membantu mengintegrasikan pengelolaan stok dengan transaksi pembelian, penjualan, dan pencatatan akuntansi dalam satu sistem. Melalui fitur manajemen inventaris, bisnis dapat: Menghitung HPP dan biaya persediaan: Otomatiskan perhitungan menggunakan metode average atau FIFO, serta alokasikan landed cost seperti ongkos angkut dan bea masuk ke nilai persediaan. Memantau stok secara real-time: Pantau pergerakan barang di berbagai gudang, kelola transfer antargudang, dan dapatkan notifikasi prediktif berbasis AI saat stok menipis. Mencatat stock opname dan penyesuaian: Cocokkan stok fisik dengan catatan sistem serta dokumentasikan penyesuaian untuk memudahkan penelusuran transaksi. Mengakses 40+ laporan inventaris: Pantau valuasi dan pergerakan stok, produk terlaris, perputaran persediaan, serta hasil stock opname melalui laporan yang mendukung evaluasi bisnis. Menganalisis persediaan dengan bantuan AI: Manfaatkan insight dan rekomendasi untuk membantu merencanakan kebutuhan stok, mengevaluasi produk, dan menentukan langkah pengadaan berdasarkan data. Software akuntansi Mekari Jurnal membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola laporan keuangan, pembukuan, hingga operasional bisnis; untuk mempercepat pertumbuhan bisnis. Mekari Jurnal juga bagian dari ekosistem terpadu Mekari yang terintegrasi dengan Mekari POS, Mekari Desty, Mekari Klikpajak, Mekari Expense dan berbagai software lainnya. Integrasi dengan Mekari POS dapat mengotomasi laporan keuangan dari transaksi kasir. Ditambah dengan integrasi Mekari Desty yang dapat menyinkronkan stok dan penjualan marketplace langsung ke laporan keuangan Referensi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 202: Persediaan. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). SAK Entitas Privat, Bab 13 Persediaan. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). SAK EMKM, Bab 9 Persediaan. Kieso, D.E., Weygandt, J.J., dan Warfield, T.D. Intermediate Accounting, IFRS Edition. IHL Group. Fixing Inventory Distortion, 2025. Mekari Jurnal Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus. Pelajari lebih lanjut Mekari Jurnal menjadi bagian dari ekosistem software terpadu Mekari dengan berbagai produk lainnya, seperti: Semua Platform Akuntansi & keuangan Customer People Services Operasional & digitalisasi Mekari Software as a Service Platform Mekari Officeless Platform Integrasi & App Builder Platform Mekari Airene AI Core Lintas Produk Mekari Platform Mekari Jurnal Akuntansi & Operasional Akuntansi & keuangan Mekari Klikpajak Manajemen Pajak Akuntansi & keuangan Mekari Expense Manajemen Pengeluaran Bisnis Akuntansi & keuangan Mekari POS Point Of Sale Akuntansi & keuangan Mekari Qontak Customer Engagement Platform Customer Mekari Talenta HCM People Mekari Flex Benefit Karyawan People Payroll Service Payroll Outsource Services Mekari Sign Tanda Tangan Digital & E-Meterai Operasional & digitalisasi Mekari Desty Omnichannel Commerce Operasional & digitalisasi Lihat lebih banyak Tidak ada produk di kategori ini. Kategori : Supply Chain Management Artikel Sebelumnya Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal Facebook Instagram LinkedIn YouTube Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Bagikan artikelWhatsAppLinkedinFacebook
Panduan Mengelola Persediaan Barang dan Cara Menghitung Nilainya Mekari Jurnal Highlights PSAK 202 hanya memperkenankan metode FIFO dan rata-rata tertimbang untuk mengukur biaya persediaan, sehingga metode LIFO tidak dapat digunakan dalam laporan keuangan. Persediaan diukur sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah. Karena itu, persediaan yang usang atau mengalami penurunan nilai perlu dievaluasi dan disesuaikan. Mekari Jurnal menyediakan 40+ laporan inventaris untuk membantu bisnis memantau valuasi dan pergerakan stok, melakukan stock opname di berbagai gudang, serta mengawasi persediaan secara real-time dan akurat. Laporan persediaan barang adalah laporan yang mencatat stok awal, barang masuk, barang keluar, dan stok akhir beserta nilainya dalam periode tertentu. Data ini menjadi dasar untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP) dan nilai persediaan dalam laporan keuangan.Pencatatan stok yang tidak akurat dapat memicu kelebihan atau kekurangan barang serta membuat perhitungan laba kurang tepat. Data IHL Group 2025 menunjukkan bahwa masalah tersebut menggerus sekitar 6,5% penjualan ritel global.Lalu, apa saja komponen laporan persediaan barang dan bagaimana cara menyusunnya sesuai PSAK 202? Simak jenis, komponen, cara membuat, dan contoh perhitungannya dalam artikel i Apa Itu Laporan Persediaan Barang?Laporan persediaan barang adalah laporan yang menyajikan jumlah dan nilai persediaan, mulai dari saldo awal, barang masuk dan keluar, hingga saldo akhir dalam periode tertentu. Laporan ini dapat disusun berdasarkan item, gudang, atau seluruh persediaan bisnis.Menurut PSAK 202 tentang Persediaan, persediaan merupakan aset yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa, sedang dalam proses produksi untuk dijual, atau berupa bahan dan perlengkapan yang digunakan dalam produksi maupun pemberian jasa.Berbeda dengan laporan stok barang yang berfokus pada jumlah unit, laporan persediaan juga mencakup biaya per unit dan nilai rupiah barang. Informasi ini digunakan untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP) dan menyajikan saldo persediaan dalam laporan keuanga Fungsi Laporan Persediaan Barang bagi BisnisLaporan persediaan membantu bisnis mengelola stok sekaligus menjaga keakuratan laporan keuangan. Berikut empat fungsi utamanya: Dasar perhitungan HPP: Membantu menentukan biaya persediaan yang terjual sehingga perhitungan laba kotor lebih akurat. Dasar saldo persediaan di neraca: Menunjukkan nilai stok akhir yang disajikan sebagai aset dalam laporan posisi keuangan. Alat kontrol selisih stok: Membantu mengidentifikasi barang hilang, rusak, atau salah catat melalui perbandingan data dengan hasil stock opname. Dasar keputusan pembelian: Menunjukkan barang yang cepat terjual, stok yang menumpuk, dan kebutuhan pemesanan ulang. Komponen dan Format Laporan Persediaan BarangLaporan persediaan barang memuat informasi kuantitas dan nilai stok untuk memantau pergerakan barang sekaligus mendukung pencatatan akuntansi. Berikut komponen yang umum digunakan:KolomIsiFungsiKode barang (SKU)Kode unik setiap itemMencegah barang tertukar atau tercatat gandaNama barangNama atau deskripsi itemMengidentifikasi barangSatuanPcs, sak, kaleng, atau kgMenyeragamkan perhitungan kuantitasStok awalKuantitas pada awal periodeMenjadi dasar pencatatan mutasiBarang masukPembelian, retur penjualan, atau hasil produksiMenambah stokBarang keluarPenjualan, pemakaian, atau retur pembelianMengurangi stokStok akhirKuantitas pada akhir periodeDicocokkan dengan stok fisikHarga pokok per unitBiaya per unit berdasarkan metode penilaianMenjadi dasar pengukuran nilai persediaanNilai persediaanStok akhir yang dinilai berdasarkan biaya per unitMenentukan nilai persediaan dalam laporan keuanganDua rumus dasar yang digunakan dalam laporan persediaan adalah berikut.Jenis Laporan Persediaan BarangBisnis dapat menggunakan beberapa jenis laporan persediaan sesuai kebutuhan tim gudang dan keuangan. Setiap laporan memiliki fungsi yang berbeda: Kartu persediaan (kartu stok): Mencatat mutasi dan harga pokok setiap item untuk menelusuri transaksi barang. Laporan mutasi persediaan: Merangkum stok awal, barang masuk, barang keluar, dan stok akhir seluruh item. Laporan nilai persediaan: Menunjukkan nilai stok berdasarkan biaya perolehan sebagai dasar penyajian persediaan dalam laporan keuangan. Laporan stock opname: Membandingkan stok dalam catatan dengan jumlah fisik untuk menemukan selisih. Laporan umur persediaan (aging): Mengelompokkan stok berdasarkan lama penyimpanan untuk mengidentifikasi barang yang lambat terjual atau berisiko usang. Dasar Akuntansi Laporan Persediaan Menurut PSAK 202, SAK EP, dan SAK EMKMPenilaian persediaan dalam laporan keuangan perlu mengikuti standar akuntansi yang berlaku bagi entitas. Berikut perbedaan ketentuan persediaan dalam PSAK 202, SAK EP, dan SAK EMKM.StandarPenerapan secara umumKetentuan persediaanPSAK 202 (SAK Indonesia)Entitas yang menerapkan SAK Indonesia, termasuk entitas dengan akuntabilitas publikDiukur sebesar biaya atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah. Metode biaya yang diperkenankan adalah FIFO dan rata-rata tertimbang.SAK EP (Bab 13 Persediaan)Entitas privat yang memenuhi kriteria SAK EP; berlaku efektif 1 Januari 2025 sebagai pengganti SAK ETAPMengatur pengukuran persediaan dengan prinsip yang serupa, tetapi dalam standar yang lebih sederhana.SAK EMKM (Bab 9 Persediaan)Entitas yang memenuhi kriteria penerapan SAK EMKMPersediaan diukur berdasarkan biaya perolehan dengan metode FIFO atau rata-rata tertimbang.Pemilihan standar perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kriteria entitas. Bisnis juga perlu menerapkan kebijakan penilaian persediaan secara konsisten agar nilai stok dan HPP dapat disajikan dengan tepat.Pengukuran: Biaya atau Nilai Realisasi NetoMenurut PSAK 202, persediaan diukur berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi neto (net realizable value / NRV), mana yang lebih rendah. Biaya perolehan mencakup biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain hingga persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Biaya penyimpanan yang tidak diperlukan dalam proses produksi, biaya administrasi umum, dan biaya penjualan tidak termasuk di dalamnya.NRV merupakan estimasi harga jual dalam kegiatan usaha normal setelah dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan biaya yang diperlukan untuk menjual barang. Jika NRV lebih rendah daripada biaya perolehan, persediaan perlu diturunkan nilainya dan selisihnya diakui sebagai beban.Rumus Biaya yang DiperkenankanUntuk persediaan yang dapat saling dipertukarkan, PSAK 202 memperkenankan rumus biaya FIFO (first in, first out) dan rata-rata tertimbang. Sementara itu, persediaan yang tidak dapat saling dipertukarkan atau dibuat untuk proyek tertentu menggunakan identifikasi khusus.Metode LIFO (last in, first out) tidak diperkenankan dalam PSAK 202. Ketentuan perpajakan Indonesia juga memperkenankan metode FIFO atau rata-rata untuk penilaian persediaan.Sistem Pencatatan: Perpetual dan PeriodikSelain metode penilaian, bisnis perlu menentukan sistem pencatatan persediaan. Sistem perpetual memperbarui catatan setiap kali terjadi transaksi barang masuk atau keluar. Sebaliknya, sistem periodik mencatat pembelian selama periode berjalan dan menentukan saldo persediaan akhir melalui penghitungan fisik pada akhir periodeCara Membuat Laporan Persediaan BarangIkuti langkah berikut agar laporan persediaan akurat dan siap digunakan untuk tutup buku: Tetapkan periode, sistem, dan metode: Pilih sistem perpetual atau periodik, lalu tentukan metode penilaian persediaan yang sesuai. Siapkan master data barang: Lengkapi kode SKU, nama, satuan, kategori, dan lokasi gudang setiap item. Catat stok awal: Gunakan saldo akhir periode sebelumnya, baik dari sisi kuantitas maupun nilai. Catat setiap mutasi berdasarkan dokumen sumber: Gunakan faktur pembelian, bukti penerimaan barang, faktur penjualan, surat jalan, dan nota retur sebagai dasar pencatatan. Hitung harga pokok barang keluar: Terapkan metode FIFO atau rata-rata tertimbang sesuai kebijakan penilaian persediaan. Lakukan stock opname: Bandingkan stok dalam sistem dengan stok fisik, telusuri penyebab selisih, lalu catat penyesuaian jika diperlukan. Evaluasi nilai realisasi neto: Periksa barang rusak, usang, atau yang nilai realisasi netonya turun di bawah biaya perolehan. Susun ringkasan dan cocokkan dengan buku besar: Pastikan nilai persediaan akhir sesuai dengan saldo akun persediaan setelah penyesuaian. Format ini konsisten dan mudah dipindai pembaca. Pastikan penggunaan titik dua diterapkan pada semua nomor, bukan hanya pada beberapa langkah.5 Contoh Laporan Persediaan Barang dan PerhitungannyaUD Sinar Bangun merupakan toko bahan bangunan yang menggunakan sistem perpetual dan metode rata-rata tertimbang bergerak. Berikut contoh pencatatan persediaan Cat Tembok 5 kg (CT-05) selama Juni 2026.1. Kartu Persediaan Metode Rata-Rata TertimbangTanggalKeteranganBarang masukBarang keluarSaldo persediaan1 JunSaldo awal––100 unit @Rp150.000 = Rp15.000.0005 JunPembelian200 unit @Rp165.000 = Rp33.000.000–300 unit @Rp160.000 = Rp48.000.00012 JunPenjualan–180 unit @Rp160.000 = Rp28.800.000120 unit @Rp160.000 = Rp19.200.00020 JunPembelian80 unit @Rp175.000 = Rp14.000.000–200 unit @Rp166.000 = Rp33.200.00027 JunPenjualan–120 unit @Rp166.000 = Rp19.920.00080 unit @Rp166.000 = Rp13.280.000Harga pokok rata-rata dihitung kembali setiap kali terjadi pembelian. Pada 5 Juni, total biaya persediaan Rp48.000.000 dibagi 300 unit menghasilkan biaya rata-rata Rp160.000 per unit. Pada 20 Juni, total biaya Rp33.200.000 dibagi 200 unit menghasilkan Rp166.000 per unit.Dengan demikian, HPP Juni adalah Rp28.800.000 + Rp19.920.000 = Rp48.720.000, sedangkan nilai persediaan akhir adalah Rp13.280.000.2. Perbandingan dengan Metode FIFOJika menggunakan FIFO (first in, first out), barang yang pertama masuk dianggap sebagai barang yang pertama keluar. Perhitungannya sebagai berikut: Penjualan 12 Juni: 100 unit × Rp150.000 + 80 unit × Rp165.000 = Rp28.200.000. Penjualan 27 Juni: 120 unit × Rp165.000 = Rp19.800.000. Persediaan akhir: 80 unit × Rp175.000 = Rp14.000.000. Perbandingan hasil kedua metode adalah sebagai berikut:PosRata-rata tertimbang bergerakFIFOBarang tersedia untuk dijualRp62.000.000Rp62.000.000HPP JuniRp48.720.000Rp48.000.000Persediaan akhir (80 unit)Rp13.280.000Rp14.000.000Ketika harga beli meningkat, FIFO menghasilkan HPP yang lebih rendah dan nilai persediaan akhir yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata tertimbang bergerak pada contoh ini. Selisih tersebut menunjukkan bahwa pemilihan metode penilaian dapat memengaruhi nilai HPP dan persediaan yang dilaporkan.3. Ringkasan Laporan Persediaan Akhir BulanBerikut contoh ringkasan laporan persediaan UD Sinar Bangun per 30 Juni 2026, sebelum penyesuaian hasil stock opname dan penurunan nilai NRV.KodeNama barangSatuanStok awalMasukKeluarStok akhirBiaya per unitNilai persediaanCT-05Cat Tembok 5 kgKaleng10028030080Rp166.000Rp13.280.000SM-40Semen 40 kgSak250600650200Rp62.000Rp12.400.000PV-03Pipa PVC 3 inciBatang150100120130Rp45.000Rp5.850.000TotalRp31.530.000Total nilai persediaan sebesar Rp31.530.000 merupakan saldo sebelum penyesuaian. Nilai ini perlu diperbarui jika ditemukan selisih stok atau penurunan nilai persediaan.4. Penyesuaian Hasil Stock OpnamePada 30 Juni, hasil penghitungan fisik Cat Tembok 5 kg menunjukkan 78 kaleng, sedangkan catatan sistem menunjukkan 80 kaleng. Artinya, terdapat selisih 2 kaleng dengan nilai Rp332.000 (2 × Rp166.000).Jika selisih tersebut merupakan kehilangan persediaan dan belum dicatat, jurnal penyesuaiannya adalah:AkunDebitKreditBeban selisih persediaanRp332.000–Persediaan barang dagang–Rp332.000Setelah penyesuaian, nilai persediaan berdasarkan tabel menjadi Rp31.530.000 − Rp332.000 = Rp31.198.000.5. Uji Nilai Realisasi NetoSelain mencocokkan jumlah stok, bisnis perlu mengevaluasi apakah nilai persediaan masih dapat dipulihkan melalui penjualan. Misalnya, UD Sinar Bangun memiliki 20 kaleng cat edisi lama dengan biaya perolehan Rp150.000 per kaleng. Harga jual yang diperkirakan adalah Rp130.000 per kaleng, dengan biaya yang diperlukan untuk menjual sebesar Rp5.000 per kaleng.Nilai realisasi neto (NRV) per kaleng adalah Rp130.000 − Rp5.000 = Rp125.000. Karena NRV lebih rendah daripada biaya perolehan, penurunan nilai persediaan adalah:20 × (Rp150.000 − Rp125.000) = Rp500.000.Nilai persediaan cat edisi lama tersebut setelah penurunan menjadi 20 × Rp125.000 = Rp2.500.000. Penurunan nilai Rp500.000 diakui sebagai beban. Jika persediaan ini belum tercakup dalam tabel ringkasan, nilainya perlu ditambahkan ke laporan sebelum menghitung total akhir.Susun Laporan Persediaan Barang Otomatis dengan Akurat Bersama Mekari JurnalLaporan persediaan yang akurat membutuhkan pencatatan mutasi barang, perhitungan harga pokok yang konsisten, dan pemeriksaan stok secara berkala. Jika seluruh proses dilakukan manual melalui spreadsheet, pencatatan bisa memakan waktu dan lebih sulit dikendalikan, terutama ketika bisnis memiliki banyak SKU atau gudang.Mekari Jurnal membantu mengintegrasikan pengelolaan stok dengan transaksi pembelian, penjualan, dan pencatatan akuntansi dalam satu sistem. Melalui fitur manajemen inventaris, bisnis dapat: Menghitung HPP dan biaya persediaan: Otomatiskan perhitungan menggunakan metode average atau FIFO, serta alokasikan landed cost seperti ongkos angkut dan bea masuk ke nilai persediaan. Memantau stok secara real-time: Pantau pergerakan barang di berbagai gudang, kelola transfer antargudang, dan dapatkan notifikasi prediktif berbasis AI saat stok menipis. Mencatat stock opname dan penyesuaian: Cocokkan stok fisik dengan catatan sistem serta dokumentasikan penyesuaian untuk memudahkan penelusuran transaksi. Mengakses 40+ laporan inventaris: Pantau valuasi dan pergerakan stok, produk terlaris, perputaran persediaan, serta hasil stock opname melalui laporan yang mendukung evaluasi bisnis. Menganalisis persediaan dengan bantuan AI: Manfaatkan insight dan rekomendasi untuk membantu merencanakan kebutuhan stok, mengevaluasi produk, dan menentukan langkah pengadaan berdasarkan data. Software akuntansi Mekari Jurnal membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola laporan keuangan, pembukuan, hingga operasional bisnis; untuk mempercepat pertumbuhan bisnis. Mekari Jurnal juga bagian dari ekosistem terpadu Mekari yang terintegrasi dengan Mekari POS, Mekari Desty, Mekari Klikpajak, Mekari Expense dan berbagai software lainnya. Integrasi dengan Mekari POS dapat mengotomasi laporan keuangan dari transaksi kasir. Ditambah dengan integrasi Mekari Desty yang dapat menyinkronkan stok dan penjualan marketplace langsung ke laporan keuangan Referensi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 202: Persediaan. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). SAK Entitas Privat, Bab 13 Persediaan. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). SAK EMKM, Bab 9 Persediaan. Kieso, D.E., Weygandt, J.J., dan Warfield, T.D. Intermediate Accounting, IFRS Edition. IHL Group. Fixing Inventory Distortion, 2025. Mekari Jurnal Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus. Pelajari lebih lanjut Mekari Jurnal menjadi bagian dari ekosistem software terpadu Mekari dengan berbagai produk lainnya, seperti: Semua Platform Akuntansi & keuangan Customer People Services Operasional & digitalisasi Mekari Software as a Service Platform Mekari Officeless Platform Integrasi & App Builder Platform Mekari Airene AI Core Lintas Produk Mekari Platform Mekari Jurnal Akuntansi & Operasional Akuntansi & keuangan Mekari Klikpajak Manajemen Pajak Akuntansi & keuangan Mekari Expense Manajemen Pengeluaran Bisnis Akuntansi & keuangan Mekari POS Point Of Sale Akuntansi & keuangan Mekari Qontak Customer Engagement Platform Customer Mekari Talenta HCM People Mekari Flex Benefit Karyawan People Payroll Service Payroll Outsource Services Mekari Sign Tanda Tangan Digital & E-Meterai Operasional & digitalisasi Mekari Desty Omnichannel Commerce Operasional & digitalisasi Lihat lebih banyak Tidak ada produk di kategori ini.