Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Panduan Mengelola Persediaan Barang dan Cara Menghitung Nilainya 

Tayang
Ditulis oleh: Mekari Jurnal okky nugroho
Mekari Jurnal Highlights
  • PSAK 202 hanya memperkenankan metode FIFO dan rata-rata tertimbang untuk mengukur biaya persediaan, sehingga metode LIFO tidak dapat digunakan dalam laporan keuangan.
  • Persediaan diukur sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah. Karena itu, persediaan yang usang atau mengalami penurunan nilai perlu dievaluasi dan disesuaikan.
  • Mekari Jurnal menyediakan 40+ laporan inventaris untuk membantu bisnis memantau valuasi dan pergerakan stok, melakukan stock opname di berbagai gudang, serta mengawasi persediaan secara real-time dan akurat.

Laporan persediaan barang adalah laporan yang mencatat stok awal, barang masuk, barang keluar, dan stok akhir beserta nilainya dalam periode tertentu. Data ini menjadi dasar untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP) dan nilai persediaan dalam laporan keuangan.

Pencatatan stok yang tidak akurat dapat memicu kelebihan atau kekurangan barang serta membuat perhitungan laba kurang tepat. Data IHL Group 2025 menunjukkan bahwa masalah tersebut menggerus sekitar 6,5% penjualan ritel global.

Lalu, apa saja komponen laporan persediaan barang dan bagaimana cara menyusunnya sesuai PSAK 202? Simak jenis, komponen, cara membuat, dan contoh perhitungannya dalam artikel i

Apa Itu Laporan Persediaan Barang?

Laporan persediaan barang adalah laporan yang menyajikan jumlah dan nilai persediaan, mulai dari saldo awal, barang masuk dan keluar, hingga saldo akhir dalam periode tertentu. Laporan ini dapat disusun berdasarkan item, gudang, atau seluruh persediaan bisnis.

Menurut PSAK 202 tentang Persediaan, persediaan merupakan aset yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa, sedang dalam proses produksi untuk dijual, atau berupa bahan dan perlengkapan yang digunakan dalam produksi maupun pemberian jasa.

Berbeda dengan laporan stok barang yang berfokus pada jumlah unit, laporan persediaan juga mencakup biaya per unit dan nilai rupiah barang. Informasi ini digunakan untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP) dan menyajikan saldo persediaan dalam laporan keuanga

Fungsi Laporan Persediaan Barang bagi Bisnis

Laporan persediaan membantu bisnis mengelola stok sekaligus menjaga keakuratan laporan keuangan. Berikut empat fungsi utamanya:

  • Dasar perhitungan HPP: Membantu menentukan biaya persediaan yang terjual sehingga perhitungan laba kotor lebih akurat.
  • Dasar saldo persediaan di neraca: Menunjukkan nilai stok akhir yang disajikan sebagai aset dalam laporan posisi keuangan.
  • Alat kontrol selisih stok: Membantu mengidentifikasi barang hilang, rusak, atau salah catat melalui perbandingan data dengan hasil stock opname.
  • Dasar keputusan pembelian: Menunjukkan barang yang cepat terjual, stok yang menumpuk, dan kebutuhan pemesanan ulang.

Komponen dan Format Laporan Persediaan Barang

Laporan persediaan barang memuat informasi kuantitas dan nilai stok untuk memantau pergerakan barang sekaligus mendukung pencatatan akuntansi. Berikut komponen yang umum digunakan:

KolomIsiFungsi
Kode barang (SKU)Kode unik setiap itemMencegah barang tertukar atau tercatat ganda
Nama barangNama atau deskripsi itemMengidentifikasi barang
SatuanPcs, sak, kaleng, atau kgMenyeragamkan perhitungan kuantitas
Stok awalKuantitas pada awal periodeMenjadi dasar pencatatan mutasi
Barang masukPembelian, retur penjualan, atau hasil produksiMenambah stok
Barang keluarPenjualan, pemakaian, atau retur pembelianMengurangi stok
Stok akhirKuantitas pada akhir periodeDicocokkan dengan stok fisik
Harga pokok per unitBiaya per unit berdasarkan metode penilaianMenjadi dasar pengukuran nilai persediaan
Nilai persediaanStok akhir yang dinilai berdasarkan biaya per unitMenentukan nilai persediaan dalam laporan keuangan

Dua rumus dasar yang digunakan dalam laporan persediaan adalah berikut.

Jenis Laporan Persediaan Barang

Bisnis dapat menggunakan beberapa jenis laporan persediaan sesuai kebutuhan tim gudang dan keuangan. Setiap laporan memiliki fungsi yang berbeda:

  • Kartu persediaan (kartu stok): Mencatat mutasi dan harga pokok setiap item untuk menelusuri transaksi barang.
  • Laporan mutasi persediaan: Merangkum stok awal, barang masuk, barang keluar, dan stok akhir seluruh item.
  • Laporan nilai persediaan: Menunjukkan nilai stok berdasarkan biaya perolehan sebagai dasar penyajian persediaan dalam laporan keuangan.
  • Laporan stock opname: Membandingkan stok dalam catatan dengan jumlah fisik untuk menemukan selisih.
  • Laporan umur persediaan (aging): Mengelompokkan stok berdasarkan lama penyimpanan untuk mengidentifikasi barang yang lambat terjual atau berisiko usang.

Dasar Akuntansi Laporan Persediaan Menurut PSAK 202, SAK EP, dan SAK EMKM

Penilaian persediaan dalam laporan keuangan perlu mengikuti standar akuntansi yang berlaku bagi entitas. Berikut perbedaan ketentuan persediaan dalam PSAK 202, SAK EP, dan SAK EMKM.

StandarPenerapan secara umumKetentuan persediaan
PSAK 202 (SAK Indonesia)Entitas yang menerapkan SAK Indonesia, termasuk entitas dengan akuntabilitas publikDiukur sebesar biaya atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah. Metode biaya yang diperkenankan adalah FIFO dan rata-rata tertimbang.
SAK EP (Bab 13 Persediaan)Entitas privat yang memenuhi kriteria SAK EP; berlaku efektif 1 Januari 2025 sebagai pengganti SAK ETAPMengatur pengukuran persediaan dengan prinsip yang serupa, tetapi dalam standar yang lebih sederhana.
SAK EMKM (Bab 9 Persediaan)Entitas yang memenuhi kriteria penerapan SAK EMKMPersediaan diukur berdasarkan biaya perolehan dengan metode FIFO atau rata-rata tertimbang.

Pemilihan standar perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kriteria entitas. Bisnis juga perlu menerapkan kebijakan penilaian persediaan secara konsisten agar nilai stok dan HPP dapat disajikan dengan tepat.

Pengukuran: Biaya atau Nilai Realisasi Neto

Menurut PSAK 202, persediaan diukur berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi neto (net realizable value / NRV), mana yang lebih rendah. Biaya perolehan mencakup biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain hingga persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. 

Biaya penyimpanan yang tidak diperlukan dalam proses produksi, biaya administrasi umum, dan biaya penjualan tidak termasuk di dalamnya.

NRV merupakan estimasi harga jual dalam kegiatan usaha normal setelah dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan biaya yang diperlukan untuk menjual barang. Jika NRV lebih rendah daripada biaya perolehan, persediaan perlu diturunkan nilainya dan selisihnya diakui sebagai beban.

Rumus Biaya yang Diperkenankan

Untuk persediaan yang dapat saling dipertukarkan, PSAK 202 memperkenankan rumus biaya FIFO (first in, first out) dan rata-rata tertimbang. Sementara itu, persediaan yang tidak dapat saling dipertukarkan atau dibuat untuk proyek tertentu menggunakan identifikasi khusus.

Metode LIFO (last in, first out) tidak diperkenankan dalam PSAK 202. Ketentuan perpajakan Indonesia juga memperkenankan metode FIFO atau rata-rata untuk penilaian persediaan.

Sistem Pencatatan: Perpetual dan Periodik

Selain metode penilaian, bisnis perlu menentukan sistem pencatatan persediaan. Sistem perpetual memperbarui catatan setiap kali terjadi transaksi barang masuk atau keluar. Sebaliknya, sistem periodik mencatat pembelian selama periode berjalan dan menentukan saldo persediaan akhir melalui penghitungan fisik pada akhir periode

Cara Membuat Laporan Persediaan Barang

Ikuti langkah berikut agar laporan persediaan akurat dan siap digunakan untuk tutup buku:

  1. Tetapkan periode, sistem, dan metode: Pilih sistem perpetual atau periodik, lalu tentukan metode penilaian persediaan yang sesuai.
  2. Siapkan master data barang: Lengkapi kode SKU, nama, satuan, kategori, dan lokasi gudang setiap item.
  3. Catat stok awal: Gunakan saldo akhir periode sebelumnya, baik dari sisi kuantitas maupun nilai.
  4. Catat setiap mutasi berdasarkan dokumen sumber: Gunakan faktur pembelian, bukti penerimaan barang, faktur penjualan, surat jalan, dan nota retur sebagai dasar pencatatan.
  5. Hitung harga pokok barang keluar: Terapkan metode FIFO atau rata-rata tertimbang sesuai kebijakan penilaian persediaan.
  6. Lakukan stock opname: Bandingkan stok dalam sistem dengan stok fisik, telusuri penyebab selisih, lalu catat penyesuaian jika diperlukan.
  7. Evaluasi nilai realisasi neto: Periksa barang rusak, usang, atau yang nilai realisasi netonya turun di bawah biaya perolehan.
  8. Susun ringkasan dan cocokkan dengan buku besar: Pastikan nilai persediaan akhir sesuai dengan saldo akun persediaan setelah penyesuaian.

Format ini konsisten dan mudah dipindai pembaca. Pastikan penggunaan titik dua diterapkan pada semua nomor, bukan hanya pada beberapa langkah.

5 Contoh Laporan Persediaan Barang dan Perhitungannya

UD Sinar Bangun merupakan toko bahan bangunan yang menggunakan sistem perpetual dan metode rata-rata tertimbang bergerak. Berikut contoh pencatatan persediaan Cat Tembok 5 kg (CT-05) selama Juni 2026.

1. Kartu Persediaan Metode Rata-Rata Tertimbang

TanggalKeteranganBarang masukBarang keluarSaldo persediaan
1 JunSaldo awal––100 unit @Rp150.000 = Rp15.000.000
5 JunPembelian200 unit @Rp165.000 = Rp33.000.000–300 unit @Rp160.000 = Rp48.000.000
12 JunPenjualan–180 unit @Rp160.000 = Rp28.800.000120 unit @Rp160.000 = Rp19.200.000
20 JunPembelian80 unit @Rp175.000 = Rp14.000.000–200 unit @Rp166.000 = Rp33.200.000
27 JunPenjualan–120 unit @Rp166.000 = Rp19.920.00080 unit @Rp166.000 = Rp13.280.000

Harga pokok rata-rata dihitung kembali setiap kali terjadi pembelian. Pada 5 Juni, total biaya persediaan Rp48.000.000 dibagi 300 unit menghasilkan biaya rata-rata Rp160.000 per unit. Pada 20 Juni, total biaya Rp33.200.000 dibagi 200 unit menghasilkan Rp166.000 per unit.

Dengan demikian, HPP Juni adalah Rp28.800.000 + Rp19.920.000 = Rp48.720.000, sedangkan nilai persediaan akhir adalah Rp13.280.000.

2. Perbandingan dengan Metode FIFO

Jika menggunakan FIFO (first in, first out), barang yang pertama masuk dianggap sebagai barang yang pertama keluar. Perhitungannya sebagai berikut:

  • Penjualan 12 Juni: 100 unit × Rp150.000 + 80 unit × Rp165.000 = Rp28.200.000.
  • Penjualan 27 Juni: 120 unit × Rp165.000 = Rp19.800.000.
  • Persediaan akhir: 80 unit × Rp175.000 = Rp14.000.000.

Perbandingan hasil kedua metode adalah sebagai berikut:

PosRata-rata tertimbang bergerakFIFO
Barang tersedia untuk dijualRp62.000.000Rp62.000.000
HPP JuniRp48.720.000Rp48.000.000
Persediaan akhir (80 unit)Rp13.280.000Rp14.000.000

Ketika harga beli meningkat, FIFO menghasilkan HPP yang lebih rendah dan nilai persediaan akhir yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata tertimbang bergerak pada contoh ini. Selisih tersebut menunjukkan bahwa pemilihan metode penilaian dapat memengaruhi nilai HPP dan persediaan yang dilaporkan.

3. Ringkasan Laporan Persediaan Akhir Bulan

Berikut contoh ringkasan laporan persediaan UD Sinar Bangun per 30 Juni 2026, sebelum penyesuaian hasil stock opname dan penurunan nilai NRV.

KodeNama barangSatuanStok awalMasukKeluarStok akhirBiaya per unitNilai persediaan
CT-05Cat Tembok 5 kgKaleng10028030080Rp166.000Rp13.280.000
SM-40Semen 40 kgSak250600650200Rp62.000Rp12.400.000
PV-03Pipa PVC 3 inciBatang150100120130Rp45.000Rp5.850.000
TotalRp31.530.000

Total nilai persediaan sebesar Rp31.530.000 merupakan saldo sebelum penyesuaian. Nilai ini perlu diperbarui jika ditemukan selisih stok atau penurunan nilai persediaan.

4. Penyesuaian Hasil Stock Opname

Pada 30 Juni, hasil penghitungan fisik Cat Tembok 5 kg menunjukkan 78 kaleng, sedangkan catatan sistem menunjukkan 80 kaleng. Artinya, terdapat selisih 2 kaleng dengan nilai Rp332.000 (2 × Rp166.000).

Jika selisih tersebut merupakan kehilangan persediaan dan belum dicatat, jurnal penyesuaiannya adalah:

AkunDebitKredit
Beban selisih persediaanRp332.000–
Persediaan barang dagang–Rp332.000

Setelah penyesuaian, nilai persediaan berdasarkan tabel menjadi Rp31.530.000 − Rp332.000 = Rp31.198.000.

5. Uji Nilai Realisasi Neto

Selain mencocokkan jumlah stok, bisnis perlu mengevaluasi apakah nilai persediaan masih dapat dipulihkan melalui penjualan. Misalnya, UD Sinar Bangun memiliki 20 kaleng cat edisi lama dengan biaya perolehan Rp150.000 per kaleng. Harga jual yang diperkirakan adalah Rp130.000 per kaleng, dengan biaya yang diperlukan untuk menjual sebesar Rp5.000 per kaleng.

Nilai realisasi neto (NRV) per kaleng adalah Rp130.000 − Rp5.000 = Rp125.000. Karena NRV lebih rendah daripada biaya perolehan, penurunan nilai persediaan adalah:

20 × (Rp150.000 − Rp125.000) = Rp500.000.

Nilai persediaan cat edisi lama tersebut setelah penurunan menjadi 20 × Rp125.000 = Rp2.500.000. Penurunan nilai Rp500.000 diakui sebagai beban. Jika persediaan ini belum tercakup dalam tabel ringkasan, nilainya perlu ditambahkan ke laporan sebelum menghitung total akhir.

Susun Laporan Persediaan Barang Otomatis dengan Akurat Bersama Mekari Jurnal

Laporan persediaan yang akurat membutuhkan pencatatan mutasi barang, perhitungan harga pokok yang konsisten, dan pemeriksaan stok secara berkala. Jika seluruh proses dilakukan manual melalui spreadsheet, pencatatan bisa memakan waktu dan lebih sulit dikendalikan, terutama ketika bisnis memiliki banyak SKU atau gudang.

Mekari Jurnal membantu mengintegrasikan pengelolaan stok dengan transaksi pembelian, penjualan, dan pencatatan akuntansi dalam satu sistem. Melalui fitur manajemen inventaris, bisnis dapat:

  • Menghitung HPP dan biaya persediaan: Otomatiskan perhitungan menggunakan metode average atau FIFO, serta alokasikan landed cost seperti ongkos angkut dan bea masuk ke nilai persediaan.
  • Memantau stok secara real-time: Pantau pergerakan barang di berbagai gudang, kelola transfer antargudang, dan dapatkan notifikasi prediktif berbasis AI saat stok menipis.
  • Mencatat stock opname dan penyesuaian: Cocokkan stok fisik dengan catatan sistem serta dokumentasikan penyesuaian untuk memudahkan penelusuran transaksi.
  • Mengakses 40+ laporan inventaris: Pantau valuasi dan pergerakan stok, produk terlaris, perputaran persediaan, serta hasil stock opname melalui laporan yang mendukung evaluasi bisnis.
  • Menganalisis persediaan dengan bantuan AI: Manfaatkan insight dan rekomendasi untuk membantu merencanakan kebutuhan stok, mengevaluasi produk, dan menentukan langkah pengadaan berdasarkan data.

Software akuntansi Mekari Jurnal membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola laporan keuangan, pembukuan, hingga operasional bisnis; untuk mempercepat pertumbuhan bisnis. 

Mekari Jurnal juga bagian dari ekosistem terpadu Mekari yang terintegrasi dengan Mekari POS, Mekari Desty, Mekari Klikpajak, Mekari Expense dan berbagai software lainnya. Integrasi dengan Mekari POS dapat mengotomasi laporan keuangan dari transaksi kasir. Ditambah dengan integrasi Mekari Desty yang dapat menyinkronkan stok dan penjualan marketplace langsung ke laporan keuangan 

Referensi

  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 202: Persediaan.
  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). SAK Entitas Privat, Bab 13 Persediaan.
  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). SAK EMKM, Bab 9 Persediaan.
  • Kieso, D.E., Weygandt, J.J., dan Warfield, T.D. Intermediate Accounting, IFRS Edition.
  • IHL Group. Fixing Inventory Distortion, 2025.

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami