Cara Membuat Laporan Keuangan Apotek untuk Mengelola Stok dan Keuangan Mekari jurnal Highlights Apotek skala UMKM dapat menyusun laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan sesuai SAK EMKM, serta menambahkan laporan arus kas untuk memantau likuiditas. Obat kedaluwarsa dan stok mati perlu dievaluasi agar nilai persediaan, aset, dan laba tidak tersaji terlalu tinggi. Laporan keuangan membantu pemilik apotek memantau pendapatan, biaya operasional, persediaan, dan keuntungan usaha. Mekari Jurnal membantu mengintegrasikan pencatatan transaksi dengan akurat melalui fitur Laporan Keuangan, sehingga kondisi keuangan apotek lebih mudah dipantau. Laporan keuangan apotek merangkum aset, utang, modal, pendapatan, beban, dan arus kas untuk membantu pemilik memahami kondisi usahanya. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah persediaan obat, karena pencatatan stok yang tidak akurat dapat memengaruhi nilai aset dan perhitungan laba. Maka, penyusunan laporan keuangan perlu memperhatikan pencatatan transaksi, nilai persediaan, serta kewajiban usaha.Lantas, apa saja jenis laporan keuangan yang perlu disiapkan apotek dan bagaimana cara menyusunnya? Simak penjelasan standar akuntansi, contoh laporan, dan cara menghitungnya dalam artikel ini. Apa yang Dimaksud Laporan Keuangan Apotek?Laporan keuangan apotek merangkum transaksi seperti penjualan obat, pembelian dari Pedagang Besar Farmasi (PBF), serta pembayaran gaji dan sewa. Laporan ini membantu pemilik mengetahui keuntungan usaha, nilai persediaan, dan kemampuan kas untuk membayar tagihan.Informasi tersebut juga dibutuhkan pihak lain, seperti bank untuk menilai pengajuan kredit dan PBF untuk mempertimbangkan tempo pembayaran. Bagi pemilik, laporan keuangan menjadi dasar untuk mengevaluasi kinerja dan merencanakan pembelian stok.Laporan keuangan berbeda dari pelaporan kefarmasian. Permenkes No. 73 Tahun 2016 mengatur standar pelayanan kefarmasian di apotek, termasuk aspek administrasi dan pelaporan. Karena itu, memenuhi kewajiban pelaporan kefarmasian tidak menggantikan kebutuhan menyusun laporan keuangan untuk memantau kondisi bisnis.Standar Akuntansi yang Dipakai ApotekStandar akuntansi yang digunakan apotek bergantung pada karakteristik usaha dan ketentuan yang berlaku. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyediakan beberapa standar yang dapat menjadi acuan dalam menyusun laporan keuangan, mulai dari usaha mikro hingga perusahaan yang lebih besar.Profil apotekStandar akuntansiKomponen laporan keuanganApotek mandiri milik perorangan atau UMKMSAK EMKMLaporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuanganApotek berbadan usaha yang lebih besar, misalnya memiliki beberapa cabang atau pinjaman bankSAK Entitas Privat (SAK EP)Laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuanganJaringan apotek yang tercatat di bursa efekSAK Indonesia (PSAK)Laporan keuangan sesuai standar yang berlaku bagi entitas tersebutSAK EMKM dirancang agar lebih sederhana dan tidak mewajibkan laporan arus kas. Namun, apotek tetap disarankan menyusunnya untuk memantau ketersediaan kas, terutama karena pembayaran kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF) dapat jatuh tempo sebelum seluruh stok obat terjual.Apotek juga perlu mengikuti perkembangan standar akuntansi. SAK Entitas Privat (SAK EP) berlaku efektif sejak 1 Januari 2025 sebagai pengganti SAK ETAP. Sementara itu, PSAK 118 telah disahkan pada 28 Mei 2025 dan akan menggantikan PSAK 201 mulai 1 Januari 2027, dengan perubahan pada penyajian dan pengungkapan laporan keuangan.Pemilihan standar sebaiknya mempertimbangkan skala usaha, bentuk entitas, dan ketentuan yang berlaku bukan hanya jumlah cabang atau keberadaan pinjaman bank.Jenis Laporan Keuangan Apotek dan Akun KhasnyaLaporan keuangan apotek terdiri dari beberapa jenis laporan yang saling melengkapi. Masing-masing menunjukkan kondisi keuangan dari sudut berbeda, mulai dari keuntungan usaha hingga nilai persediaan dan ketersediaan kas. Akun yang disajikan juga perlu mencerminkan transaksi khas apotek.Jenis laporanFungsiContoh akun atau informasi khas apotekLaporan laba rugiMenunjukkan pendapatan dan beban selama satu periodePenjualan obat resep dan obat bebas, retur penjualan, HPP obat, gaji apoteker dan tenaga teknis kefarmasian (TTK), serta kerugian akibat obat kedaluwarsaLaporan posisi keuangan (neraca)Menunjukkan aset, liabilitas, dan ekuitas pada tanggal tertentuKas dan bank, piutang klaim, persediaan obat dan alat kesehatan, peralatan apotek, serta utang kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF)Laporan arus kasMenunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas selama satu periodePenerimaan dari penjualan, pembayaran kepada PBF, pembelian peralatan, dan pembayaran cicilan pinjamanCatatan atas laporan keuangan (CALK)Menjelaskan kebijakan akuntansi dan rincian pos dalam laporan keuanganMetode penilaian persediaan, kebijakan penanganan obat kedaluwarsa, serta rincian utang kepada PBFApotek juga dapat menyajikan laporan perubahan ekuitas sesuai standar akuntansi yang digunakan. Laporan ini menunjukkan perubahan modal selama periode tertentu, misalnya akibat laba atau rugi, setoran modal, dan pengambilan pribadi pemilik (prive) jika relevan.Contoh Laporan Keuangan ApotekContoh berikut menggunakan transaksi Apotek Sehat Sentosa selama September 2026 untuk menunjukkan bagaimana pencatatan transaksi diolah menjadi laporan laba rugi, laporan posisi keuangan, dan laporan arus kas.Apotek Sehat Sentosa merupakan apotek mandiri milik perorangan yang menggunakan SAK EMKM sebagai acuan penyusunan laporan keuangan. Untuk memantau likuiditas, apotek juga menyusun laporan arus kas. Dalam studi kasus ini, saldo awal persediaan per 31 Agustus 2026 diasumsikan sebesar Rp180.000.000.Berikut transaksi yang terjadi selama September 2026.No.TransaksiNominal (Rp)1Penjualan obat tunai, debit, dan QRIS210.000.0002Penjualan obat Program Rujuk Balik yang ditagihkan ke BPJS Kesehatan20.000.0003Retur dan diskon penjualan yang dibayarkan kembali kepada pelanggan2.000.0004Pendapatan jasa resep dan embalase yang diterima tunai4.000.0005Komisi penjualan barang konsinyasi yang diterima tunai1.500.0006Pembelian obat dari PBF secara kredit170.000.0007Pembayaran utang kepada PBF160.000.0008Pelunasan piutang klaim BPJS bulan sebelumnya15.000.0009Pembayaran gaji apoteker dan tenaga teknis kefarmasian22.000.00010Pembayaran sewa ruko6.000.00011Pembayaran listrik dan air2.500.00012Pembayaran beban lain-lain, termasuk ATK, kantong obat, dan biaya administrasi QRIS1.000.00013Pembelian lemari pendingin obat8.000.00014Pembayaran pokok pinjaman bank5.000.00015Pembayaran bunga pinjaman bank500.00016Pengambilan pribadi pemilik (prive)10.000.00017Penyusutan peralatan pada akhir bulan1.500.00018Hasil stok opname menunjukkan persediaan Rp178.000.000, termasuk obat kedaluwarsa Rp3.000.000178.000.000Nilai persediaan pada transaksi terakhir merupakan saldo sebelum penyesuaian obat kedaluwarsa. Dengan asumsi obat tersebut tidak memiliki nilai yang dapat dipulihkan, nilai persediaan yang disajikan dalam laporan posisi keuangan menjadi Rp175.000.000.Perhitungan berikutnya menggunakan saldo awal kas Rp60.000.000, piutang klaim BPJS Rp15.000.000, utang PBF Rp85.000.000, utang bank Rp60.000.000, serta ekuitas pemilik Rp182.000.000. Angka tersebut digunakan sebagai asumsi ilustratif agar perubahan saldo selama September dapat ditelusuri.Langkah 1: Hitung HPP dan Persediaan AkhirApotek melakukan stok opname pada akhir bulan untuk mengetahui nilai persediaan dan menghitung harga pokok penjualan (HPP). Berdasarkan data studi kasus, persediaan awal sebesar Rp180.000.000 dan pembelian obat selama September mencapai Rp170.000.000. Hasil stok opname menunjukkan persediaan sebesar Rp178.000.000, termasuk obat kedaluwarsa senilai Rp3.000.000.HPP dihitung menggunakan persediaan akhir sebelum penyesuaian obat kedaluwarsa:HPP = Persediaan awal + Pembelian − Persediaan akhirHPP = Rp180.000.000 + Rp170.000.000 − Rp178.000.000 = Rp172.000.000Karena obat kedaluwarsa senilai Rp3.000.000 tidak lagi dapat dijual dan tidak memiliki nilai yang dapat dipulihkan, nilainya dikeluarkan dari persediaan dan dicatat sebagai kerugian persediaan. Dengan demikian, nilai persediaan yang disajikan dalam laporan posisi keuangan menjadi Rp175.000.000.Langkah 2: Susun Laporan Laba RugiLaporan laba rugi menunjukkan pendapatan dan beban apotek selama September 2026. Penjualan obat dikurangi retur dan diskon untuk memperoleh penjualan bersih. HPP kemudian dikurangkan dari penjualan bersih untuk menghitung laba kotor.Apotek Sehat Sentosa : Laporan Laba Rugi untuk Periode yang Berakhir 30 September 2026KeteranganJumlah (Rp)Penjualan obat230.000.000Retur dan diskon penjualan(2.000.000)Penjualan bersih228.000.000Pendapatan jasa resep dan embalase4.000.000Total pendapatan usaha232.000.000Harga pokok penjualan(172.000.000)Laba kotor60.000.000Beban gaji(22.000.000)Beban sewa(6.000.000)Beban listrik dan air(2.500.000)Beban penyusutan(1.500.000)Kerugian obat kedaluwarsa(3.000.000)Beban lain-lain(1.000.000)Total beban operasional(36.000.000)Laba usaha24.000.000Pendapatan komisi konsinyasi1.500.000Beban bunga(500.000)Laba sebelum pajak penghasilan25.000.000Komisi konsinyasi dicatat sebagai pendapatan karena apotek memperoleh komisi dari penjualan barang milik pihak lain. Penyajian pendapatan tersebut perlu mengikuti substansi perjanjian konsinyasi. Perhitungan di atas belum memasukkan pajak penghasilan.Langkah 3: Susun Laporan Posisi Keuangan (Neraca)Laporan posisi keuangan menunjukkan aset, liabilitas, dan ekuitas apotek pada akhir periode. Agar perubahan kondisi keuangan terlihat, tabel berikut membandingkan saldo per 31 Agustus dan 30 September 2026.Apotek Sehat Sentosa : Laporan Posisi KeuanganKeterangan31 Agustus 2026 (Rp)30 September 2026 (Rp)ASET LANCARKas dan bank60.000.00073.500.000Piutang klaim BPJS Kesehatan15.000.00020.000.000Persediaan obat dan alat kesehatan180.000.000175.000.000Jumlah aset lancar255.000.000268.500.000ASET TIDAK LANCARPeralatan apotek90.000.00098.000.000Akumulasi penyusutan(18.000.000)(19.500.000)Jumlah aset tidak lancar72.000.00078.500.000TOTAL ASET327.000.000347.000.000LIABILITAS JANGKA PENDEKUtang usaha PBF85.000.00095.000.000Utang bank jatuh tempo dalam satu tahun60.000.00055.000.000Jumlah liabilitas145.000.000150.000.000EKUITASEkuitas pemilik182.000.000197.000.000TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS327.000.000347.000.000Ekuitas akhir dihitung dari ekuitas awal ditambah laba sebelum pajak dan dikurangi pengambilan pribadi pemilik (prive): Rp182.000.000 + Rp25.000.000 − Rp10.000.000 = Rp197.000.000. Dalam contoh ini, tidak ada penyesuaian pajak atau transaksi ekuitas lain.Total aset sebesar Rp347.000.000 sama dengan total liabilitas dan ekuitas. Dengan demikian, neraca seimbang berdasarkan asumsi yang digunakan.Langkah 4: Susun Laporan Arus Kas dengan Metode LangsungLaporan arus kas menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas selama September 2026. Dalam metode langsung, arus kas dikelompokkan berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.Apotek Sehat Sentosa : Laporan Arus Kas untuk Periode yang Berakhir 30 September 2026KeteranganJumlah (Rp)Arus kas dari aktivitas operasiPenerimaan penjualan obat setelah retur dan diskon208.000.000Penerimaan klaim BPJS Kesehatan bulan sebelumnya15.000.000Penerimaan jasa resep dan embalase4.000.000Penerimaan komisi konsinyasi1.500.000Pembayaran ke PBF(160.000.000)Pembayaran gaji(22.000.000)Pembayaran sewa, listrik, air, dan beban lain(9.500.000)Pembayaran bunga(500.000)Arus kas bersih dari aktivitas operasi36.500.000Arus kas dari aktivitas investasiPembelian lemari pendingin obat(8.000.000)Arus kas bersih dari aktivitas investasi(8.000.000)Arus kas dari aktivitas pendanaanPembayaran pokok pinjaman bank(5.000.000)Pengambilan pribadi pemilik (prive)(10.000.000)Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan(15.000.000)Kenaikan bersih kas13.500.000Kas awal periode60.000.000Kas akhir periode73.500.000Kas akhir sebesar Rp73.500.000 sesuai dengan saldo kas dan bank dalam laporan posisi keuangan. Pembelian lemari pendingin dicatat sebagai arus kas investasi, sedangkan pembayaran pokok pinjaman dan prive masuk aktivitas pendanaan. Beban penyusutan tidak dicatat sebagai pengeluaran kas karena tidak melibatkan pembayaran pada periode berjalan.7 Cara Membuat Laporan Keuangan ApotekApotek dapat menyusun laporan keuangan secara bertahap dengan memastikan setiap transaksi tercatat, nilai persediaan sesuai kondisi sebenarnya, dan saldo antar akun telah direkonsiliasi. Langkah berikut dapat diterapkan pada apotek mandiri maupun apotek dengan beberapa cabang.1. Pisahkan rekening apotek dari rekening pribadiGunakan rekening khusus untuk transaksi usaha, termasuk penerimaan dari EDC dan QRIS. Catat pengambilan uang oleh pemilik sebagai prive, bukan sebagai beban operasional.2. Susun bagan akun sesuai kebutuhan apotekPisahkan akun penjualan obat resep, penjualan obat bebas, pendapatan jasa resep dan embalase, persediaan obat, piutang klaim BPJS, utang kepada setiap PBF, serta beban operasional. Pengelompokan ini membantu pemilik menelusuri sumber pendapatan dan pengeluaran.3. Catat transaksi harian secara rutin Catat penjualan berdasarkan laporan kasir dan pembelian berdasarkan faktur PBF. Pembelian kredit menambah persediaan dan utang usaha, sedangkan penjualan obat perlu diikuti pencatatan HPP dan pengurangan persediaan sesuai sistem yang digunakan. Permenkes No. 73 Tahun 2016 juga mengatur pencatatan dalam proses pengelolaan sediaan farmasi, termasuk melalui kartu stok manual atau elektronik.4. Lakukan stok opname secara berkala Cocokkan jumlah fisik obat dengan kartu stok dan catatan persediaan. Identifikasi obat kedaluwarsa, rusak, atau tidak bergerak selama beberapa bulan. Obat kedaluwarsa atau rusak perlu dievaluasi untuk penyesuaian nilai persediaan, sedangkan stok yang lambat terjual perlu ditinjau agar pengadaan berikutnya lebih tepat.5. Buat jurnal penyesuaian pada akhir periodeSesuaikan saldo akun berdasarkan kondisi aktual, termasuk penyusutan peralatan, kerugian persediaan, beban yang masih harus dibayar, dan biaya dibayar di muka. Hasil stok opname juga perlu dicocokkan dengan saldo persediaan dalam pembukuan.6. Susun laporan keuangan sesuai standar yang digunakanSiapkan laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan sesuai ketentuan yang berlaku bagi apotek. Laporan arus kas dapat ditambahkan untuk memantau likuiditas. Pastikan laba atau rugi telah diperhitungkan dalam ekuitas dan saldo kas akhir sesuai dengan laporan posisi keuangan.7.Rekonsiliasi dan tinjau hasil laporanCocokkan saldo kas dan bank dengan rekening koran, saldo utang dengan tagihan PBF, serta piutang klaim dengan status pengajuan dan pembayaran. Periksa pula kewajaran nilai persediaan, HPP, dan beban agar laporan mencerminkan kondisi usaha secara akurat.Dalam pengelolaan persediaan, Permenkes No. 73 Tahun 2016 mengatur penggunaan sistem FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out) dalam pengeluaran obat. Prinsip tersebut berkaitan dengan urutan pengeluaran fisik obat. Sementara itu, metode biaya persediaan dalam pembukuan mengikuti standar akuntansi yang berlaku. Karena fungsinya berbeda, apotek perlu memastikan pencatatan stok dan perhitungan HPP tetap konsisten.Perlakuan Akuntansi yang Khas di ApotekBeberapa pos di apotek membutuhkan perlakuan khusus karena karakter obat dan model kerja sama dengan pemasok.Beberapa transaksi apotek memerlukan perhatian khusus, terutama yang berkaitan dengan persediaan obat, barang konsinyasi, dan piutang klaim.Persediaan Obat dan Metode BiayanyaBiaya persediaan obat mencakup harga beli dari PBF setelah dikurangi diskon, ditambah biaya hingga obat siap dijual, seperti ongkos kirim. Apotek dapat menggunakan metode FIFO (First In First Out) atau rata-rata tertimbang sesuai standar akuntansi yang berlaku dan menerapkannya secara konsisten.Persediaan diukur pada nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto sesuai ketentuan standar yang digunakan. Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dikurangi biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan dan menjual barang.Obat Kedaluwarsa dan Stok MatiObat kedaluwarsa yang tidak lagi dapat dijual atau dipulihkan nilainya perlu dikeluarkan dari persediaan dan diakui sebagai kerugian. Sementara itu, stok mati perlu dipantau untuk mengurangi risiko penumpukan dan kedaluwarsa.Apotek juga dapat mengevaluasi pengembalian obat mendekati kedaluwarsa kepada PBF jika perjanjian dengan pemasok memungkinkan.Barang KonsinyasiBarang konsinyasi umumnya tidak dicatat sebagai persediaan milik apotek selama kepemilikannya masih berada pada pemasok. Saat barang terjual, apotek mencatat pendapatan atau komisi sesuai perjanjian, sedangkan bagian pemasok dicatat sebagai kewajiban hingga disetorkan.Piutang KlaimApotek yang melayani program pemerintah atau bekerja sama dengan asuransi dapat memiliki piutang klaim sebelum menerima pembayaran. Apotek perlu memantau umur piutang dan status pembayaran untuk mengantisipasi keterlambatan serta menjaga ketersediaan kas.Cara Membaca Laporan Keuangan Apotek dengan RasioRasio keuangan membantu pemilik apotek menilai profitabilitas, efisiensi persediaan, dan kemampuan membayar kewajiban. Berikut contoh perhitungan menggunakan data Apotek Sehat Sentosa pada September 2026.RasioRumusHasil studi kasusInterpretasiMargin laba kotorLaba kotor ÷ total pendapatan × 100%Rp60 juta ÷ Rp232 juta = 25,9%Setiap Rp100 pendapatan menghasilkan laba kotor Rp25,9.Margin laba sebelum pajakLaba sebelum pajak ÷ total pendapatan × 100%Rp25 juta ÷ Rp232 juta = 10,8%Setiap Rp100 pendapatan menghasilkan laba sebelum pajak Rp10,8.Hari persediaanRata-rata persediaan ÷ HPP × 30 hariRp177,5 juta ÷ Rp172 juta × 30 = ±31 hariPersediaan rata-rata setara dengan kebutuhan penjualan sekitar 31 hari.Hari utang PBFRata-rata utang PBF ÷ pembelian × 30 hariRp90 juta ÷ Rp170 juta × 30 = ±16 hariRata-rata utang PBF setara dengan sekitar 16 hari pembelian.Rasio lancarAset lancar ÷ liabilitas jangka pendekRp268,5 juta ÷ Rp150 juta = 1,8 kaliAset lancar sebesar 1,8 kali liabilitas jangka pendek.Hasil tersebut menunjukkan bahwa persediaan rata-rata setara dengan sekitar 31 hari, sedangkan utang PBF setara dengan sekitar 16 hari pembelian. Selisih ini dapat menjadi bahan evaluasi pengelolaan kas, tetapi belum cukup untuk memastikan berapa lama apotek harus membiayai operasional sendiri. Pemilik perlu mempertimbangkan waktu penjualan obat, penerimaan pembayaran, dan jatuh tempo utang.Laporan Keuangan Apotek dan Kewajiban PajakBentuk badan usaha dan skema pajak yang digunakan menentukan bagaimana penghasilan apotek dikenai pajak. Berdasarkan PP Nomor 20 Tahun 2026, wajib pajak yang memenuhi kriteria tertentu dapat menggunakan PPh Final UMKM sebesar 0,5%, dengan ketentuan omzet dan pengecualian sesuai jenis wajib pajak.Untuk wajib pajak orang pribadi yang memenuhi syarat, omzet hingga Rp500 juta setahun tidak dikenai PPh Final. Sementara itu, apotek berbentuk PT atau CV perlu memperhatikan ketentuan yang berlaku bagi badan usaha dan menghitung pajak berdasarkan skema yang sesuai.Karena itu, laporan keuangan yang akurat membantu apotek menyiapkan data omzet, biaya, dan laba untuk keperluan perpajakan. Pastikan kelayakan penggunaan skema pajak dan perhitungannya sesuai ketentuan terbaru.Susun Laporan Keuangan Apotek Lebih Cepat dan Akurat dengan Mekari JurnalLaporan keuangan yang akurat membantu pemilik apotek memantau laba, arus kas, dan modal yang tersimpan dalam persediaan obat. Namun, ketika transaksi pembelian, penjualan, dan pembayaran pemasok terus bertambah, pencatatan manual dapat menyulitkan proses pelaporan dan evaluasi bisnis.Mekari Jurnal menyediakan fitur laporan keuangan yang membantu apotek mengolah data transaksi menjadi informasi bisnis yang lebih mudah dipantau. Beberapa fitur yang dapat dimanfaatkan meliputi: Laporan keuangan otomatis: Pantau laporan laba rugi, neraca, arus kas, jurnal umum, dan buku besar dari transaksi yang tercatat. Laporan inventaris dan HPP: Evaluasi nilai persediaan obat, perputaran stok, dan harga pokok penjualan untuk membantu mengendalikan biaya. Insight berbasis AI: Dapatkan analisis untuk membantu memahami kondisi laba rugi dan arus kas sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Laporan konsolidasi cabang: Lihat kinerja beberapa cabang secara menyeluruh untuk memudahkan evaluasi usaha. Custom report: Sesuaikan penyajian data laporan dengan kebutuhan pemantauan dan analisis bisnis. Software akuntansi Mekari Jurnal membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola laporan keuangan, pembukuan, hingga operasional bisnis; untuk mempercepat pertumbuhan bisnis. Mekari Jurnal juga bagian dari ekosistem terpadu Mekari yang terintegrasi dengan Mekari POS, Mekari Desty, Mekari Klikpajak, Mekari Expense dan berbagai software lainnya. Integrasi dengan Mekari POS dapat mengotomasi laporan keuangan dari transaksi kasir. Ditambah dengan integrasi Mekari Desty yang dapat menyinkronkan stok dan penjualan marketplace langsung ke laporan keuangan Referensi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM). Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). SAK Entitas Privat, berlaku efektif 1 Januari 2025. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 202 Persediaan dan PSAK 207 Laporan Arus Kas. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), 2025. DSAK Terkini Volume 7: Pengesahan PSAK 118. Kieso, D.E., Weygandt, J.J., & Warfield, T.D. Intermediate Accounting: IFRS Edition. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Direktorat Jenderal Pajak, 2026. PP 20/2026: Tarif PPh 0,5% bagi UMKM Orang Pribadi. Apolina, N., & Yusuf, Y. (2025). Evaluasi Dead Stock Obat Over the Counter (OTC) di Apotek Kimia Farma 595 Tajur Baru Bogor. Jurnal Farmapedia, 3(1), 17–22. FAQ 1. Apa itu laporan keuangan apotek? 1. Apa itu laporan keuangan apotek? Ringkasan posisi aset, utang, dan modal apotek, kinerja laba ruginya, serta pergerakan kasnya dalam satu periode. 2. Laporan keuangan apa saja yang perlu dibuat apotek? 2. Laporan keuangan apa saja yang perlu dibuat apotek? Untuk apotek skala UMKM yang memakai SAK EMKM: laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan. Laporan arus kas sangat disarankan. 3. Apakah apotek perorangan wajib membuat laporan arus kas? 3. Apakah apotek perorangan wajib membuat laporan arus kas?  SAK EMKM tidak mensyaratkannya, tetapi laporan ini penting karena apotek harus membayar PBF sebelum semua stok terjual. 4. Bagaimana mencatat obat kedaluwarsa? 4. Bagaimana mencatat obat kedaluwarsa?  Keluarkan nilainya dari persediaan dan akui sebagai beban kerugian persediaan pada periode ditemukannya. 5. Apakah barang konsinyasi termasuk persediaan apotek? 5. Apakah barang konsinyasi termasuk persediaan apotek? Tidak. Barang tetap milik pemasok; apotek hanya mengakui komisi atau margin saat barang terjual. 6. Seberapa sering laporan keuangan apotek dibuat? 6. Seberapa sering laporan keuangan apotek dibuat? Laba rugi dan arus kas idealnya bulanan, neraca minimal setiap akhir tahun dan sebaiknya bulanan. 7. Apakah apotek berbentuk CV masih bisa memakai PPh Final 0,5%? 7. Apakah apotek berbentuk CV masih bisa memakai PPh Final 0,5%? Tidak. Sejak PP 20/2026, fasilitas ini hanya untuk orang pribadi, PT perorangan, dan koperasi dengan omzet sampai Rp4,8 miliar per tahun. Mekari Jurnal Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus. Pelajari lebih lanjut Mekari Jurnal menjadi bagian dari ekosistem software terpadu Mekari dengan berbagai produk lainnya, seperti: Semua Platform Akuntansi & keuangan Customer People Services Operasional & digitalisasi Mekari Software as a Service Platform Mekari Officeless Platform Integrasi & App Builder Platform Mekari Airene AI Core Lintas Produk Mekari Platform Mekari Jurnal Akuntansi & Operasional Akuntansi & keuangan Mekari Klikpajak Manajemen Pajak Akuntansi & keuangan Mekari Expense Manajemen Pengeluaran Bisnis Akuntansi & keuangan Mekari POS Point Of Sale Akuntansi & keuangan Mekari Qontak Customer Engagement Platform Customer Mekari Talenta HCM People Mekari Flex Benefit Karyawan People Payroll Service Payroll Outsource Services Mekari Sign Tanda Tangan Digital & E-Meterai Operasional & digitalisasi Mekari Desty Omnichannel Commerce Operasional & digitalisasi Lihat lebih banyak Tidak ada produk di kategori ini. Kategori : Financial Accounting Artikel Sebelumnya Artikel Selanjutnya Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal Facebook Instagram LinkedIn YouTube Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Bagikan artikelWhatsAppLinkedinFacebook
Cara Membuat Laporan Keuangan Apotek untuk Mengelola Stok dan Keuangan Mekari jurnal Highlights Apotek skala UMKM dapat menyusun laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan sesuai SAK EMKM, serta menambahkan laporan arus kas untuk memantau likuiditas. Obat kedaluwarsa dan stok mati perlu dievaluasi agar nilai persediaan, aset, dan laba tidak tersaji terlalu tinggi. Laporan keuangan membantu pemilik apotek memantau pendapatan, biaya operasional, persediaan, dan keuntungan usaha. Mekari Jurnal membantu mengintegrasikan pencatatan transaksi dengan akurat melalui fitur Laporan Keuangan, sehingga kondisi keuangan apotek lebih mudah dipantau. Laporan keuangan apotek merangkum aset, utang, modal, pendapatan, beban, dan arus kas untuk membantu pemilik memahami kondisi usahanya. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah persediaan obat, karena pencatatan stok yang tidak akurat dapat memengaruhi nilai aset dan perhitungan laba. Maka, penyusunan laporan keuangan perlu memperhatikan pencatatan transaksi, nilai persediaan, serta kewajiban usaha.Lantas, apa saja jenis laporan keuangan yang perlu disiapkan apotek dan bagaimana cara menyusunnya? Simak penjelasan standar akuntansi, contoh laporan, dan cara menghitungnya dalam artikel ini. Apa yang Dimaksud Laporan Keuangan Apotek?Laporan keuangan apotek merangkum transaksi seperti penjualan obat, pembelian dari Pedagang Besar Farmasi (PBF), serta pembayaran gaji dan sewa. Laporan ini membantu pemilik mengetahui keuntungan usaha, nilai persediaan, dan kemampuan kas untuk membayar tagihan.Informasi tersebut juga dibutuhkan pihak lain, seperti bank untuk menilai pengajuan kredit dan PBF untuk mempertimbangkan tempo pembayaran. Bagi pemilik, laporan keuangan menjadi dasar untuk mengevaluasi kinerja dan merencanakan pembelian stok.Laporan keuangan berbeda dari pelaporan kefarmasian. Permenkes No. 73 Tahun 2016 mengatur standar pelayanan kefarmasian di apotek, termasuk aspek administrasi dan pelaporan. Karena itu, memenuhi kewajiban pelaporan kefarmasian tidak menggantikan kebutuhan menyusun laporan keuangan untuk memantau kondisi bisnis.Standar Akuntansi yang Dipakai ApotekStandar akuntansi yang digunakan apotek bergantung pada karakteristik usaha dan ketentuan yang berlaku. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyediakan beberapa standar yang dapat menjadi acuan dalam menyusun laporan keuangan, mulai dari usaha mikro hingga perusahaan yang lebih besar.Profil apotekStandar akuntansiKomponen laporan keuanganApotek mandiri milik perorangan atau UMKMSAK EMKMLaporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuanganApotek berbadan usaha yang lebih besar, misalnya memiliki beberapa cabang atau pinjaman bankSAK Entitas Privat (SAK EP)Laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuanganJaringan apotek yang tercatat di bursa efekSAK Indonesia (PSAK)Laporan keuangan sesuai standar yang berlaku bagi entitas tersebutSAK EMKM dirancang agar lebih sederhana dan tidak mewajibkan laporan arus kas. Namun, apotek tetap disarankan menyusunnya untuk memantau ketersediaan kas, terutama karena pembayaran kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF) dapat jatuh tempo sebelum seluruh stok obat terjual.Apotek juga perlu mengikuti perkembangan standar akuntansi. SAK Entitas Privat (SAK EP) berlaku efektif sejak 1 Januari 2025 sebagai pengganti SAK ETAP. Sementara itu, PSAK 118 telah disahkan pada 28 Mei 2025 dan akan menggantikan PSAK 201 mulai 1 Januari 2027, dengan perubahan pada penyajian dan pengungkapan laporan keuangan.Pemilihan standar sebaiknya mempertimbangkan skala usaha, bentuk entitas, dan ketentuan yang berlaku bukan hanya jumlah cabang atau keberadaan pinjaman bank.Jenis Laporan Keuangan Apotek dan Akun KhasnyaLaporan keuangan apotek terdiri dari beberapa jenis laporan yang saling melengkapi. Masing-masing menunjukkan kondisi keuangan dari sudut berbeda, mulai dari keuntungan usaha hingga nilai persediaan dan ketersediaan kas. Akun yang disajikan juga perlu mencerminkan transaksi khas apotek.Jenis laporanFungsiContoh akun atau informasi khas apotekLaporan laba rugiMenunjukkan pendapatan dan beban selama satu periodePenjualan obat resep dan obat bebas, retur penjualan, HPP obat, gaji apoteker dan tenaga teknis kefarmasian (TTK), serta kerugian akibat obat kedaluwarsaLaporan posisi keuangan (neraca)Menunjukkan aset, liabilitas, dan ekuitas pada tanggal tertentuKas dan bank, piutang klaim, persediaan obat dan alat kesehatan, peralatan apotek, serta utang kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF)Laporan arus kasMenunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas selama satu periodePenerimaan dari penjualan, pembayaran kepada PBF, pembelian peralatan, dan pembayaran cicilan pinjamanCatatan atas laporan keuangan (CALK)Menjelaskan kebijakan akuntansi dan rincian pos dalam laporan keuanganMetode penilaian persediaan, kebijakan penanganan obat kedaluwarsa, serta rincian utang kepada PBFApotek juga dapat menyajikan laporan perubahan ekuitas sesuai standar akuntansi yang digunakan. Laporan ini menunjukkan perubahan modal selama periode tertentu, misalnya akibat laba atau rugi, setoran modal, dan pengambilan pribadi pemilik (prive) jika relevan.Contoh Laporan Keuangan ApotekContoh berikut menggunakan transaksi Apotek Sehat Sentosa selama September 2026 untuk menunjukkan bagaimana pencatatan transaksi diolah menjadi laporan laba rugi, laporan posisi keuangan, dan laporan arus kas.Apotek Sehat Sentosa merupakan apotek mandiri milik perorangan yang menggunakan SAK EMKM sebagai acuan penyusunan laporan keuangan. Untuk memantau likuiditas, apotek juga menyusun laporan arus kas. Dalam studi kasus ini, saldo awal persediaan per 31 Agustus 2026 diasumsikan sebesar Rp180.000.000.Berikut transaksi yang terjadi selama September 2026.No.TransaksiNominal (Rp)1Penjualan obat tunai, debit, dan QRIS210.000.0002Penjualan obat Program Rujuk Balik yang ditagihkan ke BPJS Kesehatan20.000.0003Retur dan diskon penjualan yang dibayarkan kembali kepada pelanggan2.000.0004Pendapatan jasa resep dan embalase yang diterima tunai4.000.0005Komisi penjualan barang konsinyasi yang diterima tunai1.500.0006Pembelian obat dari PBF secara kredit170.000.0007Pembayaran utang kepada PBF160.000.0008Pelunasan piutang klaim BPJS bulan sebelumnya15.000.0009Pembayaran gaji apoteker dan tenaga teknis kefarmasian22.000.00010Pembayaran sewa ruko6.000.00011Pembayaran listrik dan air2.500.00012Pembayaran beban lain-lain, termasuk ATK, kantong obat, dan biaya administrasi QRIS1.000.00013Pembelian lemari pendingin obat8.000.00014Pembayaran pokok pinjaman bank5.000.00015Pembayaran bunga pinjaman bank500.00016Pengambilan pribadi pemilik (prive)10.000.00017Penyusutan peralatan pada akhir bulan1.500.00018Hasil stok opname menunjukkan persediaan Rp178.000.000, termasuk obat kedaluwarsa Rp3.000.000178.000.000Nilai persediaan pada transaksi terakhir merupakan saldo sebelum penyesuaian obat kedaluwarsa. Dengan asumsi obat tersebut tidak memiliki nilai yang dapat dipulihkan, nilai persediaan yang disajikan dalam laporan posisi keuangan menjadi Rp175.000.000.Perhitungan berikutnya menggunakan saldo awal kas Rp60.000.000, piutang klaim BPJS Rp15.000.000, utang PBF Rp85.000.000, utang bank Rp60.000.000, serta ekuitas pemilik Rp182.000.000. Angka tersebut digunakan sebagai asumsi ilustratif agar perubahan saldo selama September dapat ditelusuri.Langkah 1: Hitung HPP dan Persediaan AkhirApotek melakukan stok opname pada akhir bulan untuk mengetahui nilai persediaan dan menghitung harga pokok penjualan (HPP). Berdasarkan data studi kasus, persediaan awal sebesar Rp180.000.000 dan pembelian obat selama September mencapai Rp170.000.000. Hasil stok opname menunjukkan persediaan sebesar Rp178.000.000, termasuk obat kedaluwarsa senilai Rp3.000.000.HPP dihitung menggunakan persediaan akhir sebelum penyesuaian obat kedaluwarsa:HPP = Persediaan awal + Pembelian − Persediaan akhirHPP = Rp180.000.000 + Rp170.000.000 − Rp178.000.000 = Rp172.000.000Karena obat kedaluwarsa senilai Rp3.000.000 tidak lagi dapat dijual dan tidak memiliki nilai yang dapat dipulihkan, nilainya dikeluarkan dari persediaan dan dicatat sebagai kerugian persediaan. Dengan demikian, nilai persediaan yang disajikan dalam laporan posisi keuangan menjadi Rp175.000.000.Langkah 2: Susun Laporan Laba RugiLaporan laba rugi menunjukkan pendapatan dan beban apotek selama September 2026. Penjualan obat dikurangi retur dan diskon untuk memperoleh penjualan bersih. HPP kemudian dikurangkan dari penjualan bersih untuk menghitung laba kotor.Apotek Sehat Sentosa : Laporan Laba Rugi untuk Periode yang Berakhir 30 September 2026KeteranganJumlah (Rp)Penjualan obat230.000.000Retur dan diskon penjualan(2.000.000)Penjualan bersih228.000.000Pendapatan jasa resep dan embalase4.000.000Total pendapatan usaha232.000.000Harga pokok penjualan(172.000.000)Laba kotor60.000.000Beban gaji(22.000.000)Beban sewa(6.000.000)Beban listrik dan air(2.500.000)Beban penyusutan(1.500.000)Kerugian obat kedaluwarsa(3.000.000)Beban lain-lain(1.000.000)Total beban operasional(36.000.000)Laba usaha24.000.000Pendapatan komisi konsinyasi1.500.000Beban bunga(500.000)Laba sebelum pajak penghasilan25.000.000Komisi konsinyasi dicatat sebagai pendapatan karena apotek memperoleh komisi dari penjualan barang milik pihak lain. Penyajian pendapatan tersebut perlu mengikuti substansi perjanjian konsinyasi. Perhitungan di atas belum memasukkan pajak penghasilan.Langkah 3: Susun Laporan Posisi Keuangan (Neraca)Laporan posisi keuangan menunjukkan aset, liabilitas, dan ekuitas apotek pada akhir periode. Agar perubahan kondisi keuangan terlihat, tabel berikut membandingkan saldo per 31 Agustus dan 30 September 2026.Apotek Sehat Sentosa : Laporan Posisi KeuanganKeterangan31 Agustus 2026 (Rp)30 September 2026 (Rp)ASET LANCARKas dan bank60.000.00073.500.000Piutang klaim BPJS Kesehatan15.000.00020.000.000Persediaan obat dan alat kesehatan180.000.000175.000.000Jumlah aset lancar255.000.000268.500.000ASET TIDAK LANCARPeralatan apotek90.000.00098.000.000Akumulasi penyusutan(18.000.000)(19.500.000)Jumlah aset tidak lancar72.000.00078.500.000TOTAL ASET327.000.000347.000.000LIABILITAS JANGKA PENDEKUtang usaha PBF85.000.00095.000.000Utang bank jatuh tempo dalam satu tahun60.000.00055.000.000Jumlah liabilitas145.000.000150.000.000EKUITASEkuitas pemilik182.000.000197.000.000TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS327.000.000347.000.000Ekuitas akhir dihitung dari ekuitas awal ditambah laba sebelum pajak dan dikurangi pengambilan pribadi pemilik (prive): Rp182.000.000 + Rp25.000.000 − Rp10.000.000 = Rp197.000.000. Dalam contoh ini, tidak ada penyesuaian pajak atau transaksi ekuitas lain.Total aset sebesar Rp347.000.000 sama dengan total liabilitas dan ekuitas. Dengan demikian, neraca seimbang berdasarkan asumsi yang digunakan.Langkah 4: Susun Laporan Arus Kas dengan Metode LangsungLaporan arus kas menunjukkan penerimaan dan pengeluaran kas selama September 2026. Dalam metode langsung, arus kas dikelompokkan berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.Apotek Sehat Sentosa : Laporan Arus Kas untuk Periode yang Berakhir 30 September 2026KeteranganJumlah (Rp)Arus kas dari aktivitas operasiPenerimaan penjualan obat setelah retur dan diskon208.000.000Penerimaan klaim BPJS Kesehatan bulan sebelumnya15.000.000Penerimaan jasa resep dan embalase4.000.000Penerimaan komisi konsinyasi1.500.000Pembayaran ke PBF(160.000.000)Pembayaran gaji(22.000.000)Pembayaran sewa, listrik, air, dan beban lain(9.500.000)Pembayaran bunga(500.000)Arus kas bersih dari aktivitas operasi36.500.000Arus kas dari aktivitas investasiPembelian lemari pendingin obat(8.000.000)Arus kas bersih dari aktivitas investasi(8.000.000)Arus kas dari aktivitas pendanaanPembayaran pokok pinjaman bank(5.000.000)Pengambilan pribadi pemilik (prive)(10.000.000)Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan(15.000.000)Kenaikan bersih kas13.500.000Kas awal periode60.000.000Kas akhir periode73.500.000Kas akhir sebesar Rp73.500.000 sesuai dengan saldo kas dan bank dalam laporan posisi keuangan. Pembelian lemari pendingin dicatat sebagai arus kas investasi, sedangkan pembayaran pokok pinjaman dan prive masuk aktivitas pendanaan. Beban penyusutan tidak dicatat sebagai pengeluaran kas karena tidak melibatkan pembayaran pada periode berjalan.7 Cara Membuat Laporan Keuangan ApotekApotek dapat menyusun laporan keuangan secara bertahap dengan memastikan setiap transaksi tercatat, nilai persediaan sesuai kondisi sebenarnya, dan saldo antar akun telah direkonsiliasi. Langkah berikut dapat diterapkan pada apotek mandiri maupun apotek dengan beberapa cabang.1. Pisahkan rekening apotek dari rekening pribadiGunakan rekening khusus untuk transaksi usaha, termasuk penerimaan dari EDC dan QRIS. Catat pengambilan uang oleh pemilik sebagai prive, bukan sebagai beban operasional.2. Susun bagan akun sesuai kebutuhan apotekPisahkan akun penjualan obat resep, penjualan obat bebas, pendapatan jasa resep dan embalase, persediaan obat, piutang klaim BPJS, utang kepada setiap PBF, serta beban operasional. Pengelompokan ini membantu pemilik menelusuri sumber pendapatan dan pengeluaran.3. Catat transaksi harian secara rutin Catat penjualan berdasarkan laporan kasir dan pembelian berdasarkan faktur PBF. Pembelian kredit menambah persediaan dan utang usaha, sedangkan penjualan obat perlu diikuti pencatatan HPP dan pengurangan persediaan sesuai sistem yang digunakan. Permenkes No. 73 Tahun 2016 juga mengatur pencatatan dalam proses pengelolaan sediaan farmasi, termasuk melalui kartu stok manual atau elektronik.4. Lakukan stok opname secara berkala Cocokkan jumlah fisik obat dengan kartu stok dan catatan persediaan. Identifikasi obat kedaluwarsa, rusak, atau tidak bergerak selama beberapa bulan. Obat kedaluwarsa atau rusak perlu dievaluasi untuk penyesuaian nilai persediaan, sedangkan stok yang lambat terjual perlu ditinjau agar pengadaan berikutnya lebih tepat.5. Buat jurnal penyesuaian pada akhir periodeSesuaikan saldo akun berdasarkan kondisi aktual, termasuk penyusutan peralatan, kerugian persediaan, beban yang masih harus dibayar, dan biaya dibayar di muka. Hasil stok opname juga perlu dicocokkan dengan saldo persediaan dalam pembukuan.6. Susun laporan keuangan sesuai standar yang digunakanSiapkan laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan sesuai ketentuan yang berlaku bagi apotek. Laporan arus kas dapat ditambahkan untuk memantau likuiditas. Pastikan laba atau rugi telah diperhitungkan dalam ekuitas dan saldo kas akhir sesuai dengan laporan posisi keuangan.7.Rekonsiliasi dan tinjau hasil laporanCocokkan saldo kas dan bank dengan rekening koran, saldo utang dengan tagihan PBF, serta piutang klaim dengan status pengajuan dan pembayaran. Periksa pula kewajaran nilai persediaan, HPP, dan beban agar laporan mencerminkan kondisi usaha secara akurat.Dalam pengelolaan persediaan, Permenkes No. 73 Tahun 2016 mengatur penggunaan sistem FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out) dalam pengeluaran obat. Prinsip tersebut berkaitan dengan urutan pengeluaran fisik obat. Sementara itu, metode biaya persediaan dalam pembukuan mengikuti standar akuntansi yang berlaku. Karena fungsinya berbeda, apotek perlu memastikan pencatatan stok dan perhitungan HPP tetap konsisten.Perlakuan Akuntansi yang Khas di ApotekBeberapa pos di apotek membutuhkan perlakuan khusus karena karakter obat dan model kerja sama dengan pemasok.Beberapa transaksi apotek memerlukan perhatian khusus, terutama yang berkaitan dengan persediaan obat, barang konsinyasi, dan piutang klaim.Persediaan Obat dan Metode BiayanyaBiaya persediaan obat mencakup harga beli dari PBF setelah dikurangi diskon, ditambah biaya hingga obat siap dijual, seperti ongkos kirim. Apotek dapat menggunakan metode FIFO (First In First Out) atau rata-rata tertimbang sesuai standar akuntansi yang berlaku dan menerapkannya secara konsisten.Persediaan diukur pada nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto sesuai ketentuan standar yang digunakan. Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dikurangi biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan dan menjual barang.Obat Kedaluwarsa dan Stok MatiObat kedaluwarsa yang tidak lagi dapat dijual atau dipulihkan nilainya perlu dikeluarkan dari persediaan dan diakui sebagai kerugian. Sementara itu, stok mati perlu dipantau untuk mengurangi risiko penumpukan dan kedaluwarsa.Apotek juga dapat mengevaluasi pengembalian obat mendekati kedaluwarsa kepada PBF jika perjanjian dengan pemasok memungkinkan.Barang KonsinyasiBarang konsinyasi umumnya tidak dicatat sebagai persediaan milik apotek selama kepemilikannya masih berada pada pemasok. Saat barang terjual, apotek mencatat pendapatan atau komisi sesuai perjanjian, sedangkan bagian pemasok dicatat sebagai kewajiban hingga disetorkan.Piutang KlaimApotek yang melayani program pemerintah atau bekerja sama dengan asuransi dapat memiliki piutang klaim sebelum menerima pembayaran. Apotek perlu memantau umur piutang dan status pembayaran untuk mengantisipasi keterlambatan serta menjaga ketersediaan kas.Cara Membaca Laporan Keuangan Apotek dengan RasioRasio keuangan membantu pemilik apotek menilai profitabilitas, efisiensi persediaan, dan kemampuan membayar kewajiban. Berikut contoh perhitungan menggunakan data Apotek Sehat Sentosa pada September 2026.RasioRumusHasil studi kasusInterpretasiMargin laba kotorLaba kotor ÷ total pendapatan × 100%Rp60 juta ÷ Rp232 juta = 25,9%Setiap Rp100 pendapatan menghasilkan laba kotor Rp25,9.Margin laba sebelum pajakLaba sebelum pajak ÷ total pendapatan × 100%Rp25 juta ÷ Rp232 juta = 10,8%Setiap Rp100 pendapatan menghasilkan laba sebelum pajak Rp10,8.Hari persediaanRata-rata persediaan ÷ HPP × 30 hariRp177,5 juta ÷ Rp172 juta × 30 = ±31 hariPersediaan rata-rata setara dengan kebutuhan penjualan sekitar 31 hari.Hari utang PBFRata-rata utang PBF ÷ pembelian × 30 hariRp90 juta ÷ Rp170 juta × 30 = ±16 hariRata-rata utang PBF setara dengan sekitar 16 hari pembelian.Rasio lancarAset lancar ÷ liabilitas jangka pendekRp268,5 juta ÷ Rp150 juta = 1,8 kaliAset lancar sebesar 1,8 kali liabilitas jangka pendek.Hasil tersebut menunjukkan bahwa persediaan rata-rata setara dengan sekitar 31 hari, sedangkan utang PBF setara dengan sekitar 16 hari pembelian. Selisih ini dapat menjadi bahan evaluasi pengelolaan kas, tetapi belum cukup untuk memastikan berapa lama apotek harus membiayai operasional sendiri. Pemilik perlu mempertimbangkan waktu penjualan obat, penerimaan pembayaran, dan jatuh tempo utang.Laporan Keuangan Apotek dan Kewajiban PajakBentuk badan usaha dan skema pajak yang digunakan menentukan bagaimana penghasilan apotek dikenai pajak. Berdasarkan PP Nomor 20 Tahun 2026, wajib pajak yang memenuhi kriteria tertentu dapat menggunakan PPh Final UMKM sebesar 0,5%, dengan ketentuan omzet dan pengecualian sesuai jenis wajib pajak.Untuk wajib pajak orang pribadi yang memenuhi syarat, omzet hingga Rp500 juta setahun tidak dikenai PPh Final. Sementara itu, apotek berbentuk PT atau CV perlu memperhatikan ketentuan yang berlaku bagi badan usaha dan menghitung pajak berdasarkan skema yang sesuai.Karena itu, laporan keuangan yang akurat membantu apotek menyiapkan data omzet, biaya, dan laba untuk keperluan perpajakan. Pastikan kelayakan penggunaan skema pajak dan perhitungannya sesuai ketentuan terbaru.Susun Laporan Keuangan Apotek Lebih Cepat dan Akurat dengan Mekari JurnalLaporan keuangan yang akurat membantu pemilik apotek memantau laba, arus kas, dan modal yang tersimpan dalam persediaan obat. Namun, ketika transaksi pembelian, penjualan, dan pembayaran pemasok terus bertambah, pencatatan manual dapat menyulitkan proses pelaporan dan evaluasi bisnis.Mekari Jurnal menyediakan fitur laporan keuangan yang membantu apotek mengolah data transaksi menjadi informasi bisnis yang lebih mudah dipantau. Beberapa fitur yang dapat dimanfaatkan meliputi: Laporan keuangan otomatis: Pantau laporan laba rugi, neraca, arus kas, jurnal umum, dan buku besar dari transaksi yang tercatat. Laporan inventaris dan HPP: Evaluasi nilai persediaan obat, perputaran stok, dan harga pokok penjualan untuk membantu mengendalikan biaya. Insight berbasis AI: Dapatkan analisis untuk membantu memahami kondisi laba rugi dan arus kas sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Laporan konsolidasi cabang: Lihat kinerja beberapa cabang secara menyeluruh untuk memudahkan evaluasi usaha. Custom report: Sesuaikan penyajian data laporan dengan kebutuhan pemantauan dan analisis bisnis. Software akuntansi Mekari Jurnal membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola laporan keuangan, pembukuan, hingga operasional bisnis; untuk mempercepat pertumbuhan bisnis. Mekari Jurnal juga bagian dari ekosistem terpadu Mekari yang terintegrasi dengan Mekari POS, Mekari Desty, Mekari Klikpajak, Mekari Expense dan berbagai software lainnya. Integrasi dengan Mekari POS dapat mengotomasi laporan keuangan dari transaksi kasir. Ditambah dengan integrasi Mekari Desty yang dapat menyinkronkan stok dan penjualan marketplace langsung ke laporan keuangan Referensi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM). Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). SAK Entitas Privat, berlaku efektif 1 Januari 2025. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 202 Persediaan dan PSAK 207 Laporan Arus Kas. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), 2025. DSAK Terkini Volume 7: Pengesahan PSAK 118. Kieso, D.E., Weygandt, J.J., & Warfield, T.D. Intermediate Accounting: IFRS Edition. Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Direktorat Jenderal Pajak, 2026. PP 20/2026: Tarif PPh 0,5% bagi UMKM Orang Pribadi. Apolina, N., & Yusuf, Y. (2025). Evaluasi Dead Stock Obat Over the Counter (OTC) di Apotek Kimia Farma 595 Tajur Baru Bogor. Jurnal Farmapedia, 3(1), 17–22. FAQ 1. Apa itu laporan keuangan apotek? 1. Apa itu laporan keuangan apotek? Ringkasan posisi aset, utang, dan modal apotek, kinerja laba ruginya, serta pergerakan kasnya dalam satu periode. 2. Laporan keuangan apa saja yang perlu dibuat apotek? 2. Laporan keuangan apa saja yang perlu dibuat apotek? Untuk apotek skala UMKM yang memakai SAK EMKM: laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan. Laporan arus kas sangat disarankan. 3. Apakah apotek perorangan wajib membuat laporan arus kas? 3. Apakah apotek perorangan wajib membuat laporan arus kas?  SAK EMKM tidak mensyaratkannya, tetapi laporan ini penting karena apotek harus membayar PBF sebelum semua stok terjual. 4. Bagaimana mencatat obat kedaluwarsa? 4. Bagaimana mencatat obat kedaluwarsa?  Keluarkan nilainya dari persediaan dan akui sebagai beban kerugian persediaan pada periode ditemukannya. 5. Apakah barang konsinyasi termasuk persediaan apotek? 5. Apakah barang konsinyasi termasuk persediaan apotek? Tidak. Barang tetap milik pemasok; apotek hanya mengakui komisi atau margin saat barang terjual. 6. Seberapa sering laporan keuangan apotek dibuat? 6. Seberapa sering laporan keuangan apotek dibuat? Laba rugi dan arus kas idealnya bulanan, neraca minimal setiap akhir tahun dan sebaiknya bulanan. 7. Apakah apotek berbentuk CV masih bisa memakai PPh Final 0,5%? 7. Apakah apotek berbentuk CV masih bisa memakai PPh Final 0,5%? Tidak. Sejak PP 20/2026, fasilitas ini hanya untuk orang pribadi, PT perorangan, dan koperasi dengan omzet sampai Rp4,8 miliar per tahun. Mekari Jurnal Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus. Pelajari lebih lanjut Mekari Jurnal menjadi bagian dari ekosistem software terpadu Mekari dengan berbagai produk lainnya, seperti: Semua Platform Akuntansi & keuangan Customer People Services Operasional & digitalisasi Mekari Software as a Service Platform Mekari Officeless Platform Integrasi & App Builder Platform Mekari Airene AI Core Lintas Produk Mekari Platform Mekari Jurnal Akuntansi & Operasional Akuntansi & keuangan Mekari Klikpajak Manajemen Pajak Akuntansi & keuangan Mekari Expense Manajemen Pengeluaran Bisnis Akuntansi & keuangan Mekari POS Point Of Sale Akuntansi & keuangan Mekari Qontak Customer Engagement Platform Customer Mekari Talenta HCM People Mekari Flex Benefit Karyawan People Payroll Service Payroll Outsource Services Mekari Sign Tanda Tangan Digital & E-Meterai Operasional & digitalisasi Mekari Desty Omnichannel Commerce Operasional & digitalisasi Lihat lebih banyak Tidak ada produk di kategori ini.