Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Panduan Lengkap Pencatatan Jurnal Penjualan Kredit Serta Contohnya 

Tayang
Ditulis oleh: Mekari Jurnal okky nugroho
Mekari Jurnal Highlights
  • Pada metode perpetual, penjualan kredit memengaruhi lima akun sekaligus: Piutang Usaha, Penjualan, PPN Keluaran, HPP, dan Persediaan.
  • Diskon pelunasan dan retur penjualan dicatat sebagai pengurang penjualan agar nilai penjualan bersih dapat dihitung dengan tepat.
  • Mekari Jurnal membantu pebisnis mencatat transaksi dan memantau status faktur serta saldo piutang pelanggan.

Penjualan secara kredit memungkinkan pelanggan menerima barang atau jasa terlebih dahulu dan membayarnya sesuai jangka waktu yang disepakati. Bagi perusahaan, transaksi ini perlu dicatat dengan tepat karena penjualan sudah diakui, sementara pembayaran dari pelanggan belum diterima. Melalui jurnal penjualan kredit, perusahaan dapat mencatat transaksi sekaligus memantau piutang usaha yang masih harus dibayar pelanggan. 

Artikel ini membahas format jurnal, contoh pencatatan, serta tahapan transaksi mulai dari penerbitan faktur hingga pelunasan

Apa Itu Jurnal Penjualan Kredit?

Penjualan kredit adalah transaksi ketika pelanggan menerima barang atau jasa terlebih dahulu dan melakukan pembayaran pada waktu yang disepakati, misalnya 30 hari setelah faktur diterbitkan. Sebelum pembayaran diterima, nilai yang belum dilunasi dicatat sebagai piutang usaha.

Istilah jurnal penjualan kredit dapat merujuk pada dua bentuk pencatatan:

  1. Jurnal khusus penjualan: Jurnal berkolom yang digunakan untuk mencatat transaksi penjualan kredit secara berulang. Setiap baris memuat informasi seperti tanggal, nomor faktur, nama pelanggan, dan nilai penjualan.
  2. Ayat jurnal penjualan kredit: Entri debit dan kredit untuk mencatat dampak satu transaksi terhadap akun-akun terkait. Pencatatan ini dapat dilakukan melalui jurnal umum atau dihasilkan oleh aplikasi akuntansi.

Keduanya mencatat transaksi yang sama, tetapi memiliki fungsi berbeda. Jurnal khusus memudahkan pencatatan banyak faktur, sedangkan ayat jurnal menunjukkan perubahan pada setiap akun yang terlibat.

Dalam pengakuan pendapatan, PSAK 115 tentang Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan mengatur bahwa pendapatan diakui ketika kewajiban pelaksanaan dipenuhi, yaitu saat pengendalian atas barang atau jasa beralih kepada pelanggan. Karena itu, penjualan kredit tidak harus menunggu pembayaran diterima untuk diakui sebagai pendapatan. PSAK 115 merupakan penomoran baru dari PSAK 72 yang berlaku sejak 1 Januari 2024.

Akun dan Dokumen yang Terlibat

Pencatatan penjualan kredit melibatkan beberapa akun yang mencerminkan nilai penjualan, tagihan kepada pelanggan, serta perubahan persediaan. Perusahaan juga perlu menyiapkan dokumen sumber sebagai dasar pencatatan dan verifikasi transaksi.

AkunPosisi normalFungsi
Piutang UsahaDebitMencatat hak tagih kepada pelanggan
PenjualanKreditMencatat pendapatan dari penjualan barang atau jasa
PPN KeluaranKreditMencatat PPN yang dipungut dari pelanggan
Harga Pokok Penjualan (HPP)DebitMencatat biaya perolehan barang yang terjual pada metode perpetual
PersediaanKredit saat barang terjualMencatat pengurangan nilai persediaan
Diskon PenjualanDebitMencatat potongan penjualan sesuai jenis transaksinya
Retur PenjualanDebitMencatat pengurangan penjualan akibat barang yang dikembalikan
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai PiutangKreditMencatat estimasi kerugian atas piutang yang diperkirakan tidak tertagih

Dokumen sumber yang umum digunakan meliputi faktur penjualan, surat jalan atau bukti serah terima barang, serta faktur pajak untuk transaksi yang memenuhi ketentuan PPN.

Untuk penjualan barang kena pajak nonmewah, tarif PPN 12% diterapkan pada dasar pengenaan pajak berupa nilai lain sebesar 11/12 dari harga jual sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, PPN efektifnya setara 11% dari harga jual. Sebagai contoh, untuk harga jual Rp50.000.000, PPN yang dihitung adalah Rp5.500.000.

Contoh Format Jurnal Khusus Penjualan Kredit 

Jurnal khusus penjualan digunakan untuk mencatat transaksi penjualan kredit secara berulang dalam format kolom tetap. Berikut contoh pencatatan penjualan kredit PT Cahaya Niaga, distributor peralatan listrik berstatus PKP, selama Oktober 2026.

TanggalNo. FakturNama PelangganDebit: Piutang UsahaKredit: PenjualanKredit: PPN Keluaran
5 Okt 2026INV/2026/10/001Toko Elektrik Maju JayaRp55.500.000Rp50.000.000Rp5.500.000
7 Okt 2026INV/2026/10/002Toko Terang AbadiRp22.200.000Rp20.000.000Rp2.200.000
12 Okt 2026INV/2026/10/003CV Sumber DayaRp33.300.000Rp30.000.000Rp3.300.000
Total——Rp111.000.000Rp100.000.000Rp11.000.000

Total debit sebesar Rp111.000.000 sama dengan total kredit, yaitu Rp100.000.000 pada akun Penjualan dan Rp11.000.000 pada akun PPN Keluaran.

Posting ke Buku Besar

Setelah transaksi dicatat, data jurnal khusus dipindahkan ke buku besar agar saldo setiap akun dapat dipantau.

  • Setiap transaksi: Nilai piutang diposting ke buku besar pembantu piutang sesuai nama pelanggan untuk memantau saldo tagihan masing-masing.
  • Akhir periode: Total setiap kolom diposting ke buku besar utama, yaitu Rp111.000.000 ke Piutang Usaha, Rp100.000.000 ke Penjualan, dan Rp11.000.000 ke PPN Keluaran.

Pada metode perpetual, perusahaan juga perlu mencatat HPP dan pengurangan Persediaan saat barang terjual. Pencatatan tersebut dapat dimasukkan ke kolom tambahan jika format jurnal mendukung atau dicatat melalui jurnal terpisah.

Tahapan Pencatatan Transaksi Penjualan Kredit

Pencatatan penjualan kredit tidak berhenti saat faktur diterbitkan. Perusahaan juga perlu mencatat harga pokok barang yang terjual, menyesuaikan nilai transaksi jika terjadi retur, dan menghapus piutang ketika pelanggan melunasi tagihannya. Berikut alur pencatatan satu transaksi menggunakan metode perpetual.

Studi kasus: Pada 5 Oktober 2026, PT Cahaya Niaga menjual peralatan listrik nonmewah kepada Toko Elektrik Maju Jaya secara kredit dengan harga jual Rp50.000.000 sebelum PPN. Harga pokok barang tersebut sebesar Rp32.000.000, dengan syarat pembayaran 2/10, n/30. Artinya, pelanggan memperoleh diskon 2% jika membayar dalam 10 hari; jika tidak, tagihan harus dilunasi paling lambat 30 hari sesuai kesepakatan.

1. Mencatat Penjualan Kredit dengan Metode Perpetual

Saat barang diserahkan dan pendapatan memenuhi kriteria pengakuan, perusahaan mencatat piutang usaha dan penjualan. Karena menggunakan metode perpetual, perusahaan juga mencatat HPP dan mengurangi persediaan pada saat yang sama.

Dengan asumsi tarif efektif PPN 11% untuk barang nonmewah, perhitungannya sebagai berikut:

  • Harga jual sebelum PPN: Rp50.000.000
  • PPN: 11% × Rp50.000.000 = Rp5.500.000
  • Total piutang pelanggan: Rp55.500.000
  • HPP barang yang terjual: Rp32.000.000

Jurnal penjualan pada 5 Oktober 2026:

AkunDebitKredit
Piutang Usaha—Toko Elektrik Maju JayaRp55.500.000—
Penjualan—Rp50.000.000
PPN Keluaran—Rp5.500.000
Harga Pokok PenjualanRp32.000.000—
Persediaan—Rp32.000.000

Jurnal pertama mencatat hak tagih perusahaan beserta pendapatan dan PPN Keluaran. Jurnal kedua mencatat biaya perolehan barang yang terjual dan pengurangan persediaan.

2. Perbedaan Pencatatan Metode Perpetual dan Periodik

Metode persediaan memengaruhi kapan HPP dan perubahan persediaan dicatat. Pada metode perpetual, pencatatan dilakukan setiap kali terjadi transaksi. Sementara itu, metode periodik menentukan HPP pada akhir periode berdasarkan persediaan awal, pembelian bersih, dan persediaan akhir.

AspekPerpetualPeriodik
Saat penjualan kreditMencatat Piutang Usaha, Penjualan, dan PPN KeluaranMencatat Piutang Usaha, Penjualan, dan PPN Keluaran
Pencatatan HPPDicatat setiap kali barang terjualDihitung pada akhir periode
Pencatatan persediaanDiperbarui setiap transaksiSaldo akhir ditentukan melalui penghitungan persediaan
Penghitungan HPPMengikuti biaya barang yang terjualPersediaan awal + pembelian bersih − persediaan akhir

Dalam metode periodik, jurnal penjualan tidak langsung mencatat HPP dan pengurangan Persediaan. Kedua nilai tersebut dihitung dan disesuaikan pada akhir periode. Untuk melanjutkan studi kasus, bagian berikut menggunakan metode perpetual.

3. Mencatat Retur Penjualan Sebelum Pelunasan

Pada 8 Oktober 2026, Toko Elektrik Maju Jaya mengembalikan barang cacat dengan harga jual Rp10.000.000 sebelum PPN. HPP barang yang diretur diasumsikan sebesar Rp6.400.000, sesuai proporsi HPP awal terhadap penjualan.

Perhitungan retur:

  • Nilai retur sebelum PPN: Rp10.000.000
  • Koreksi PPN: 11% × Rp10.000.000 = Rp1.100.000
  • Pengurangan piutang: Rp11.100.000
  • Pengurangan HPP: Rp6.400.000, jika barang masih layak dimasukkan kembali ke persediaan pada nilai tersebut

Jurnal retur pada 8 Oktober 2026:

AkunDebitKredit
Retur PenjualanRp10.000.000—
PPN KeluaranRp1.100.000—
Piutang Usaha—Toko Elektrik Maju Jaya—Rp11.100.000
PersediaanRp6.400.000—
Harga Pokok Penjualan—Rp6.400.000

Retur tersebut mengurangi saldo piutang dari Rp55.500.000 menjadi Rp44.400.000. Jurnal persediaan dan HPP berlaku jika barang yang dikembalikan dapat dipulihkan ke persediaan. Jika barang rusak dan tidak lagi dapat dijual, perusahaan perlu menilai kondisinya sebelum menentukan nilai yang dapat diakui sebagai persediaan.

4. Mencatat Pelunasan Piutang

Setelah retur dicatat, saldo piutang pelanggan menjadi Rp44.400.000. Nilai inilah yang menjadi dasar pencatatan pelunasan. Perlakuan selanjutnya bergantung pada apakah pelanggan membayar dalam masa diskon atau setelah masa diskon berakhir.

Skenario A: Pelanggan membayar dalam masa diskon

Misalnya, pelanggan melunasi tagihan pada 14 Oktober 2026, yaitu dalam periode diskon yang disepakati. Dengan asumsi diskon 2% dihitung dari nilai penjualan setelah retur dan sebelum PPN, perhitungannya adalah:

  • Penjualan setelah retur: Rp50.000.000 − Rp10.000.000 = Rp40.000.000
  • Diskon penjualan: 2% × Rp40.000.000 = Rp800.000
  • Piutang setelah retur: Rp44.400.000
  • Kas yang diterima: Rp44.400.000 − Rp800.000 = Rp43.600.000

Jurnal pelunasan:

AkunDebitKredit
Kas/BankRp43.600.000—
Diskon PenjualanRp800.000—
Piutang Usaha Toko Elektrik Maju Jaya—Rp44.400.000

Skenario B: Pelanggan membayar setelah masa diskon

Jika pelanggan melunasi setelah masa diskon berakhir, tetapi masih dalam jangka waktu pembayaran yang disepakati, diskon tidak diberikan. Dengan asumsi seluruh tagihan dilunasi pada 4 November 2026, jurnalnya sebagai berikut:

AkunDebitKredit
Kas/BankRp44.400.000—
Piutang Usaha Toko Elektrik Maju Jaya—Rp44.400.000

Dalam kedua skenario, saldo piutang menjadi nol setelah pembayaran diterima. Perbedaannya terletak pada jumlah kas yang diterima dan ada atau tidaknya diskon penjualan.

Catatan PPN: Perhitungan diskon di atas mengasumsikan diskon pelunasan mengurangi jumlah yang dibayar pelanggan tanpa mengubah PPN Keluaran yang sudah dicatat. Perlakuan pajak aktual perlu mengikuti ketentuan yang berlaku dan dokumen transaksi, termasuk ketentuan mengenai diskon serta koreksi faktur pajak jika relevan.

5. Dampak Transaksi terhadap Laporan Laba Rugi

Setelah penjualan, retur, dan diskon dicatat, perusahaan dapat menghitung penjualan bersih serta laba kotor dari transaksi tersebut. Dengan asumsi barang retur dapat dimasukkan kembali ke persediaan pada HPP Rp6.400.000, perhitungannya sebagai berikut:

KomponenJumlah
PenjualanRp50.000.000
Dikurangi: Retur Penjualan(Rp10.000.000)
Dikurangi: Diskon Penjualan(Rp800.000)
Penjualan BersihRp39.200.000
Dikurangi: HPP setelah retur(Rp25.600.000)
Laba KotorRp13.600.000

PPN Keluaran tidak menjadi pendapatan perusahaan sehingga tidak dimasukkan dalam perhitungan penjualan bersih atau laba kotor. Setelah pelunasan diterima, piutang dari transaksi ini juga sudah nol. Dalam skenario A, kas yang diterima sebesar Rp43.600.000, sedangkan nilai sisanya merupakan diskon penjualan yang dicatat sesuai asumsi di atas.

Pencatatan Penyisihan dan Penghapusan Piutang Usaha 

Penjualan kredit menimbulkan risiko ketika pelanggan tidak mampu melunasi tagihannya. Jika perusahaan hanya mengakui kerugian setelah piutang benar-benar tidak dapat ditagih, beban yang timbul bisa terlambat tercermin dalam laporan keuangan. Karena itu, perusahaan perlu memperkirakan potensi kerugian kredit sejak awal.

PSAK 71 tentang Instrumen Keuangan, yang penomorannya berubah menjadi PSAK 109, mengatur penerapan pendekatan kerugian kredit ekspektasian (expected credit loss). Untuk piutang usaha yang memenuhi kriteria, perusahaan dapat menggunakan pendekatan sederhana dengan mengakui kerugian kredit ekspektasian sepanjang umur piutang. Estimasi dapat mempertimbangkan pengalaman kerugian historis, kondisi saat ini, dan informasi yang relevan mengenai kondisi ekonomi ke depan.

Contoh: Pada 31 Desember 2026, PT Cahaya Niaga memiliki saldo piutang usaha sebesar Rp200.000.000. Berdasarkan data historis dan evaluasi risiko kredit, perusahaan memperkirakan 2% dari saldo tersebut berpotensi tidak tertagih. Dengan asumsi persentase tersebut telah mencerminkan estimasi kerugian kredit yang sesuai, penyisihan yang perlu diakui adalah:

Rp200.000.000 × 2% = Rp4.000.000

Jurnal pembentukan penyisihan kerugian kredit ekspektasian:

TanggalAkunDebitKredit
31 Des 2026Beban Kerugian Penurunan Nilai PiutangRp4.000.000—
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Piutang—Rp4.000.000

Pembentukan penyisihan ini mengakui estimasi kerugian dalam laporan laba rugi dan membentuk akun pengurang piutang di laporan posisi keuangan. Dengan demikian, nilai piutang disajikan setelah memperhitungkan estimasi kerugian kredit yang diperkirakan terjadi.

Penghapusan Piutang yang Tidak Dapat Ditagih

Penyisihan kerugian kredit berbeda dari penghapusan piutang. Penyisihan merupakan estimasi kerugian yang diperkirakan terjadi, sedangkan penghapusan dilakukan ketika tidak ada lagi ekspektasi yang wajar untuk memulihkan piutang tertentu sesuai ketentuan akuntansi yang berlaku.

Misalnya, pada 15 Februari 2027, PT Cahaya Niaga menetapkan piutang pelanggan sebesar Rp1.500.000 tidak dapat ditagih. Jika jumlah tersebut telah tercakup dalam penyisihan yang tersedia, penghapusan dilakukan dengan mengurangi cadangan dan saldo piutang, tanpa membebankan kerugian yang sama untuk kedua kalinya.

Jurnal penghapusan piutang:

TanggalAkunDebitKredit
15 Feb 2027Cadangan Kerugian Penurunan Nilai PiutangRp1.500.000—
Piutang Usaha—Rp1.500.000

Setelah penghapusan tersebut, saldo cadangan berkurang dari Rp4.000.000 menjadi Rp2.500.000, dengan asumsi tidak ada perubahan estimasi atau transaksi lain. Penghapusan piutang tidak otomatis berarti perusahaan berhenti melakukan upaya penagihan; tindak lanjutnya tetap bergantung pada kebijakan dan ketentuan yang berlaku.

Catat Penjualan Kredit dan Pantau Piutang Otomatis dengan Mekari Jurnal

Pencatatan penjualan kredit tidak hanya berkaitan dengan jurnal transaksi, tetapi juga pengelolaan faktur, pemantauan jatuh tempo, dan rekonsiliasi saldo piutang pelanggan. Jika masih dilakukan secara manual, proses ini berisiko menimbulkan kesalahan pencatatan dan menyulitkan perusahaan mengetahui tagihan yang belum dilunasi.

Melalui fitur Pembukuan Mekari Jurnal, bisnis dapat memanfaatkan berbagai kemampuan berikut:

  • Pencatatan transaksi dan jurnal: Membantu mengelola pencatatan keuangan agar transaksi bisnis terdokumentasi secara lebih terstruktur.
  • Pengelolaan faktur penjualan: Membantu mengatur informasi tagihan pelanggan dan mendukung proses pemantauan pembayaran.
  • Laporan keuangan dan buku besar: Memudahkan penelusuran transaksi serta pemantauan saldo akun untuk mengevaluasi kondisi keuangan bisnis.
  • Pengaturan akun pembukuan: Mendukung pengelolaan akun sesuai kebutuhan pencatatan dan struktur akun perusahaan.

Mekari Jurnal merupakan software aplikasi akuntansi dan operasional berbasis artificial intelligence (AI) yang telah banyak membantu pelaku bisnis untuk mengelola biaya operasionalnya melalui fitur-fitur di Mekari Jurnal.

Mekari Jurnal juga bagian dari ekosistem terpadu Mekari yang terintegrasi dengan Mekari POS, Mekari Desty, Mekari Klikpajak, Mekari Expense dan berbagai software lainnya. Integrasi dengan Mekari POS dapat mengotomasi laporan keuangan dari transaksi kasir. Ditambah dengan integrasi Mekari Desty yang dapat menyinkronkan stok dan penjualan marketplace langsung ke laporan keuangan 

Referensi

  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan: PSAK 115, PSAK 201, PSAK 202, dan PSAK 109.
  • Peraturan Menteri Keuangan No. 131 Tahun 2024.
  • Weygandt, J.J., Kimmel, P.D., & Kieso, D.E. Accounting Principles.
  • Mulyadi. Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.

FAQ

1. Apa itu jurnal penjualan kredit?

1. Apa itu jurnal penjualan kredit?

Jurnal penjualan kredit adalah catatan akuntansi atas penjualan yang pembayarannya diterima kemudian. Istilah ini dapat merujuk pada jurnal khusus penjualan (buku berkolom per faktur) atau ayat jurnal untuk satu transaksi, dengan Piutang Usaha di sisi debit dan Penjualan di sisi kredit.

2. Akun apa yang didebit dan dikredit pada penjualan kredit?

2. Akun apa yang didebit dan dikredit pada penjualan kredit?

Piutang Usaha didebit sebesar total tagihan, sedangkan Penjualan dikredit sebesar harga jual. Jika perusahaan berstatus PKP, PPN Keluaran juga dikredit. Pada metode perpetual, ditambah HPP di sisi debit dan Persediaan di sisi kredit.

3. Apakah penjualan kredit sudah diakui sebagai pendapatan padahal kas belum masuk?

3. Apakah penjualan kredit sudah diakui sebagai pendapatan padahal kas belum masuk?

 Ya. Menurut PSAK 115, pendapatan diakui ketika pengendalian barang atau jasa berpindah ke pelanggan, yaitu saat barang diserahkan, bukan saat kas diterima. Selisih waktu tersebut tercatat sebagai piutang usaha

4. Bagaimana mencatat diskon dengan syarat 2/10, n/30?

4. Bagaimana mencatat diskon dengan syarat 2/10, n/30?

Saat penjualan, catat seluruh nilai faktur sebagai piutang. Jika pelanggan membayar dalam 10 hari, debit Kas sebesar nilai tagihan dikurangi diskon, debit Diskon Penjualan sebesar 2%, dan kredit Piutang Usaha sebesar nilai tagihan penuh. Jika dibayar setelah 10 hari, tidak ada diskon.

5. Apakah pencatatan penjualan kredit berbeda untuk metode perpetual dan periodik?

5. Apakah pencatatan penjualan kredit berbeda untuk metode perpetual dan periodik?

Jurnal penjualannya sama (debit Piutang Usaha, kredit Penjualan dan PPN Keluaran). Perbedaannya ada di HPP: metode perpetual mencatat HPP dan pengurangan persediaan setiap penjualan, sedangkan metode periodik menghitung HPP di akhir periode.

6. Apa bedanya penjualan kredit dengan penjualan angsuran?

6. Apa bedanya penjualan kredit dengan penjualan angsuran?

 Pada penjualan kredit, pelanggan umumnya membayar sekaligus pada tanggal jatuh tempo tanpa bunga. Pada penjualan angsuran, pembayaran dilakukan dalam beberapa cicilan yang ditetapkan di muka dan biasanya mengandung komponen bunga.

7. Bagaimana mencatat piutang dari penjualan kredit yang tidak tertagih?

7. Bagaimana mencatat piutang dari penjualan kredit yang tidak tertagih?

Bentuk penyisihan di akhir periode dengan mendebit Beban Kerugian Penurunan Nilai Piutang dan mengkredit Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Piutang. Saat piutang tertentu dipastikan tak tertagih, debit Cadangan dan kredit Piutang Usaha.

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami