Cara Mencatat Jurnal Retur Penjualan bagi Pelaku Pengusaha Mekari Jurnal Highlights Jurnal retur penjualan membalik pendapatan serta piutang atau kas, lalu mengembalikan nilai pokok barang ke persediaan melalui HPP. Retur barang kena pajak juga mengoreksi PPN keluaran melalui nota retur sesuai PMK 81/2024. Mekari Jurnal melalui fitur pembukuannya membantu bisnis mencatat transaksi dan memantau data keuangan melalui laporan yang terintegrasi. Barang yang dikembalikan pelanggan tidak hanya mengurangi nilai penjualan, tetapi juga dapat memengaruhi piutang, persediaan, dan perhitungan laba perusahaan. Karena itu, jurnal retur penjualan perlu dicatat dengan tepat agar laporan keuangan tetap mencerminkan kondisi transaksi yang sebenarnya. Pencatatannya bergantung pada metode persediaan yang digunakan, status pembayaran pelanggan, serta ketentuan pajak yang berlaku. Artikel ini membahas akun yang terlibat, contoh jurnal retur penjualan dengan metode perpetual dan periodik dalam Rupiah, ketentuan nota retur PPN, hingga cara mencatat transaksi menggunakan software akuntansi. Apa Itu Jurnal Retur Penjualan?Jurnal retur penjualan adalah pencatatan akuntansi atas pengembalian barang dari pelanggan kepada penjual, misalnya karena barang rusak, salah kirim, atau tidak sesuai pesanan. Transaksi ini mengurangi penjualan dan, bergantung pada kondisi pembayaran, menyesuaikan piutang atau kas. Jika barang yang dikembalikan masih layak masuk persediaan, penjual juga perlu menyesuaikan nilai persediaan dan harga pokok penjualan (HPP).Retur penjualan berbeda dari potongan harga. Pada retur, barang dikembalikan kepada penjual, sedangkan pada potongan harga, pelanggan tetap menyimpan barang tetapi membayar dengan harga yang lebih rendah. Keduanya dapat dicatat sebagai pengurang penjualan agar nilai penjualan bruto tetap dapat ditelusuri.Pencatatan retur perlu didukung dokumen yang sesuai, seperti nota kredit atau dokumen retur yang merujuk pada faktur penjualan awal. Untuk transaksi yang dikenai PPN, Pengusaha Kena Pajak (PKP) juga perlu memperhatikan ketentuan nota retur yang berlaku.Akun yang Terpengaruh dan Aturan Debit KreditPada metode persediaan perpetual, retur penjualan memengaruhi akun penjualan dan akun persediaan. Akun yang dicatat bergantung pada kondisi transaksi, termasuk status pembayaran pelanggan dan perlakuan PPN.AkunPosisiFungsiRetur PenjualanDebitMencatat nilai jual barang yang dikembalikan sebagai pengurang penjualan.PPN KeluaranDebitMengoreksi PPN keluaran atas transaksi yang memenuhi ketentuan nota retur, jika berlaku.Piutang Usaha atau KasKreditMengurangi piutang pelanggan atau mencatat pengembalian uang kepada pelanggan yang sudah membayar.PersediaanDebitMenambah kembali nilai persediaan sebesar harga pokok barang yang dikembalikan dan masih layak masuk stok.Harga Pokok Penjualan (HPP)KreditMembalik HPP yang sebelumnya diakui atas barang yang kembali ke persediaan.Hal penting yang perlu diperhatikan adalah persediaan dan HPP dicatat berdasarkan harga pokok, bukan harga jual. Sementara itu, retur penjualan dicatat sebesar nilai jual barang yang dikembalikan. Pemisahan ini membantu memastikan nilai penjualan dan laba kotor tidak salah saji.Contoh Jurnal Retur Penjualan Metode PerpetualPT Nusantara Elektrik, distributor peralatan listrik, menjual 50 unit stabilizer secara kredit kepada CV Terang Abadi dengan harga Rp400.000 per unit. Harga pokok setiap unit adalah Rp260.000. Beberapa hari kemudian, pelanggan mengembalikan 5 unit karena tidak sesuai pesanan. Barang masih layak dijual kembali dan piutang belum dibayar.Untuk ilustrasi ini, PPN dihitung menggunakan tarif efektif 11%.Perhitungan penjualan dan returKomponenPerhitunganNilaiPenjualan awal50 × Rp400.000Rp20.000.000PPN keluaran11% × Rp20.000.000Rp2.200.000Total piutang awalRp20.000.000 + Rp2.200.000Rp22.200.000HPP penjualan awal50 × Rp260.000Rp13.000.000Nilai jual retur5 × Rp400.000Rp2.000.000PPN atas retur11% × Rp2.000.000Rp220.000HPP atas retur5 × Rp260.000Rp1.300.0001. Jurnal Penjualan AwalSaat penjualan kredit dilakukan, perusahaan mencatat piutang beserta penjualan dan PPN keluaran. Perusahaan juga mencatat HPP dan mengurangi persediaan.AkunDebitKreditPiutang UsahaRp22.200.000—Penjualan—Rp20.000.000PPN Keluaran—Rp2.200.000Harga Pokok PenjualanRp13.000.000—Persediaan—Rp13.000.0002. Jurnal Retur Saat Piutang Belum DibayarKetika 5 unit barang dikembalikan, perusahaan mengurangi penjualan melalui akun Retur Penjualan dan mengoreksi piutang serta PPN keluaran. Karena barang masih layak dijual, persediaan bertambah kembali sebesar harga pokoknya.AkunDebitKreditRetur PenjualanRp2.000.000—PPN KeluaranRp220.000—Piutang Usaha—Rp2.220.000PersediaanRp1.300.000—Harga Pokok Penjualan—Rp1.300.000Setelah retur dicatat, saldo piutang CV Terang Abadi menjadi Rp19.980.000, yaitu Rp22.200.000 dikurangi Rp2.220.000.3. Jurnal Retur Jika Piutang Sudah DibayarJika pelanggan telah melunasi piutang dan perusahaan mengembalikan uang atas barang yang diretur, akun Kas dikredit sebagai pengganti Piutang Usaha.AkunDebitKreditRetur PenjualanRp2.000.000—PPN KeluaranRp220.000—Kas—Rp2.220.000PersediaanRp1.300.000—Harga Pokok Penjualan—Rp1.300.000Jika pengembalian uang tidak dilakukan dan nilainya digunakan sebagai pengurang transaksi berikutnya, pencatatan perlu disesuaikan dengan bentuk kesepakatan serta akun kewajiban yang digunakan perusahaan.Jurnal Retur Penjualan Metode Periodik dan PerbedaannyaPada metode periodik, persediaan tidak diperbarui setiap transaksi. Retur hanya dicatat sebagai pengurang penjualan, dan HPP dihitung di akhir periode melalui stok fisik. Karena itu tidak ada jurnal persediaan dan HPP saat retur terjadi.AspekPerpetualPeriodikJurnal saat returRetur Penjualan, PPN Keluaran, Piutang/Kas, ditambah Persediaan dan HPPRetur Penjualan, PPN Keluaran, Piutang/KasJurnal HPP dan persediaanSetiap ada retur: Rp1.300.000Tidak ada, disesuaikan di akhir periodeSaldo persediaanSelalu terkiniBaru benar setelah stok opnameCocok untukBisnis dengan volume transaksi tinggi dan software akuntansiUsaha kecil dengan pencatatan sederhanaJurnal retur penjualan periodik (angka yang sama):AkunDebitKreditRetur PenjualanRp2.000.000PPN KeluaranRp220.000Piutang UsahaRp2.220.000Jurnal Retur Barang Rusak dan Retur SebagianPencatatan jurnal retur penjualan perlu disesuaikan dengan jumlah barang yang dikembalikan dan kondisi barang setelah diterima kembali. Berikut dua kondisi yang umum terjadi.1. Retur SebagianJika pelanggan hanya mengembalikan sebagian barang, perusahaan cukup mencatat retur berdasarkan jumlah unit yang dikembalikan. Misalnya, dari 50 unit stabilizer yang terjual, pelanggan mengembalikan 5 unit. Artinya, retur dicatat untuk 5 unit tersebut, sedangkan penjualan atas 45 unit lainnya tetap berlaku.Dengan harga jual Rp400.000 per unit dan harga pokok Rp260.000 per unit, nilai retur penjualan adalah Rp2.000.000, sedangkan nilai persediaan yang dikembalikan adalah Rp1.300.000 jika barang masih layak dijual kembali.2. Retur Barang RusakJika barang yang dikembalikan mengalami kerusakan, perusahaan perlu menilai apakah barang tersebut masih dapat dijual kembali dan berapa nilai yang dapat dipulihkan. Berdasarkan PSAK 202 tentang Persediaan, persediaan diukur pada nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto.Misalnya, 5 unit stabilizer yang dikembalikan memiliki harga pokok total Rp1.300.000, tetapi nilai realisasi netonya setelah memperhitungkan biaya perbaikan hanya Rp300.000. Dengan asumsi nilai tersebut memenuhi dasar pengukuran yang berlaku, jurnalnya dapat dicatat sebagai berikut:AkunDebitKreditRetur PenjualanRp2.000.000—PPN KeluaranRp220.000—Piutang Usaha—Rp2.220.000PersediaanRp300.000—Kerugian Penurunan Nilai PersediaanRp1.000.000—Harga Pokok Penjualan—Rp1.300.000Selisih Rp1.000.000 antara harga pokok awal dan nilai realisasi neto dicatat sebagai kerugian penurunan nilai persediaan. Dengan begitu, nilai persediaan tidak dicatat lebih tinggi daripada jumlah yang diperkirakan dapat dipulihkan.Dampak Retur pada Laporan Laba RugiRetur penjualan memengaruhi laporan laba rugi karena mengurangi penjualan bersih dan dapat mengubah harga pokok penjualan (HPP). Jika barang yang dikembalikan masih layak dijual kembali, perusahaan perlu mengembalikan nilainya ke persediaan dan membalik HPP yang sebelumnya diakui. Pencatatan ini penting agar laba kotor mencerminkan nilai penjualan dan biaya barang yang benar-benar terjual.Dengan menggunakan contoh PT Nusantara Elektrik sebelumnya, perusahaan menjual 50 unit stabilizer seharga Rp20.000.000 dengan total HPP Rp13.000.000. Ketika pelanggan mengembalikan 5 unit, nilai retur penjualan sebesar Rp2.000.000 dan HPP barang yang kembali ke persediaan sebesar Rp1.300.000. Perhitungan dampaknya terhadap laba kotor adalah sebagai berikut.KomponenJika Jurnal HPP Retur TerlewatJika Jurnal HPP Retur DicatatPenjualanRp20.000.000Rp20.000.000Dikurangi: Retur penjualan(Rp2.000.000)(Rp2.000.000)Penjualan bersihRp18.000.000Rp18.000.000Dikurangi: HPP(Rp13.000.000)(Rp11.700.000)Laba kotorRp5.000.000Rp6.300.000Tabel tersebut menunjukkan bahwa jika jurnal pembalikan HPP terlewat, laba kotor tercatat Rp5.000.000, padahal seharusnya Rp6.300.000. Selisih Rp1.300.000 muncul karena HPP atas 5 unit barang yang telah dikembalikan masih dibebankan, meskipun barang tersebut sudah kembali ke persediaan.Dengan demikian, pencatatan retur penjualan tidak cukup hanya mengurangi penjualan. Perusahaan juga perlu menyesuaikan HPP dan persediaan sesuai kondisi barang yang dikembalikan. Jika barang rusak atau tidak lagi dapat dipulihkan sesuai nilai tercatatnya, perusahaan perlu mempertimbangkan penurunan nilai persediaan agar laporan laba rugi dan nilai persediaan tetap wajar.Retur Penjualan dan PPN: Ketentuan Nota Retur serta Koreksi PajakBagi Pengusaha Kena Pajak (PKP), retur Barang Kena Pajak (BKP) tidak hanya memengaruhi pencatatan penjualan, tetapi juga dapat mengurangi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) keluaran yang sebelumnya dilaporkan. Agar koreksi pajak dapat dilakukan, pengembalian barang perlu didukung nota retur yang memenuhi ketentuan perpajakan.Ketentuan mengenai nota retur diatur dalam Pasal 286–288 PMK 81/2024, yang mencabut PMK 65/PMK.03/2010. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pencatatan retur dan koreksi PPN meliputi: Pembuatan nota retur: Pembeli membuat nota retur dan menyampaikannya kepada PKP penjual ketika Barang Kena Pajak dikembalikan. Dokumen ini menjadi dasar bagi penjual untuk mengoreksi PPN keluaran atas barang yang diretur. Kelengkapan informasi nota retur: Nota retur perlu mencantumkan informasi sesuai ketentuan, termasuk nomor dan tanggal faktur pajak asal, identitas pembeli dan penjual, jenis barang, jumlah harga jual barang yang dikembalikan, nilai PPN terkait, serta tanggal pembuatan dan tanda tangan pihak yang berwenang. Dampak jika nota retur tidak memenuhi ketentuan: Pengembalian barang dapat dianggap tidak terjadi untuk tujuan koreksi PPN apabila nota retur tidak dibuat, tidak disampaikan, atau tidak memenuhi persyaratan formal yang ditetapkan. Karena itu, kelengkapan dokumen perlu diperiksa sebelum koreksi pajak dicatat. Perbedaan retur barang dan pembatalan jasa: Nota retur digunakan untuk pengembalian BKP, sedangkan pembatalan Jasa Kena Pajak (JKP) menggunakan nota pembatalan sesuai ketentuan yang berlaku. Perhitungan PPN atas retur: Nilai PPN yang dikoreksi mengikuti nilai pajak atas barang yang dikembalikan dan ketentuan yang berlaku untuk transaksi tersebut. Dalam contoh sebelumnya, jika nilai PPN atas retur Rp2.000.000 dihitung dengan tarif efektif 11%, koreksi PPN keluarannya sebesar Rp220.000. Oleh karena itu, jurnal PPN keluaran atas retur perlu disesuaikan dengan nota retur dan direkonsiliasi dengan pelaporan dalam SPT Masa PPN. Langkah ini membantu memastikan bahwa pencatatan akuntansi dan pelaporan pajak mencerminkan transaksi yang benar-benar terjadi.Perlakuan Retur Penjualan Menurut PSAK 115Menurut PSAK 115 yang sebelumnya adalah PSAK 72, perusahaan yang memberikan hak retur mengakui pendapatan sebesar nilai yang diperkirakan menjadi haknya. Estimasi pengembalian dicatat sebagai liabilitas pengembalian dana, sedangkan barang yang diperkirakan kembali diakui sebagai aset atas hak pemulihan barang.Misalnya, PT Nusantara Elektrik menjual 50 unit stabilizer senilai Rp20.000.000 dengan total harga pokok Rp13.000.000. Jika diperkirakan 10% penjualan akan diretur, nilai estimasi retur sebesar Rp2.000.000 dan harga pokok barang yang diperkirakan kembali sebesar Rp1.300.000. Dengan asumsi barang dapat dipulihkan tanpa biaya tambahan atau penurunan nilai, jurnal saat penjualan adalah sebagai berikut.AkunDebitKreditPiutang UsahaRp22.200.000—Penjualan—Rp18.000.000Liabilitas Pengembalian Dana—Rp2.000.000PPN Keluaran—Rp2.200.000Harga Pokok PenjualanRp11.700.000—Aset atas Hak Pemulihan BarangRp1.300.000—Persediaan—Rp13.000.000TotalRp25.200.000Rp25.200.000Saat retur terjadi, perusahaan menyelesaikan liabilitas pengembalian dana dan mengakui kembali persediaan sesuai nilai yang berlaku. Jika jumlah retur aktual berbeda dari estimasi, perusahaan perlu menyesuaikan pencatatannya.Estimasi retur menurut PSAK 115 tidak otomatis mengoreksi PPN keluaran. Koreksi pajak tetap mengikuti ketentuan perpajakan dan dokumen retur yang berlaku, sehingga pencatatan akuntansi perlu direkonsiliasi dengan pelaporan pajak.Perusahaan dengan transaksi retur yang signifikan perlu mengevaluasi estimasi retur secara berkala. Untuk retur yang sudah terjadi, pencatatannya dapat mengikuti contoh jurnal pada bagian sebelumnya.Kesalahan Umum Mencatat Jurnal Retur Penjualanencatatan retur penjualan yang tidak tepat dapat menyebabkan nilai penjualan, persediaan, HPP, hingga PPN tidak sesuai dengan kondisi transaksi. Berikut beberapa kesalahan yang perlu dihindari: Hanya mencatat pengurangan penjualan: Perusahaan mencatat retur penjualan, tetapi tidak membalik HPP dan menyesuaikan persediaan untuk barang yang masih layak dijual kembali. Akibatnya, HPP bisa terlalu besar dan laba kotor terlalu rendah. Mengurangi akun Penjualan secara langsung: Retur langsung dicatat sebagai pengurang akun Penjualan tanpa menggunakan akun Retur Penjualan. Penggunaan akun terpisah membantu perusahaan memantau nilai retur dan mengevaluasi tren penjualan. Menggunakan harga jual untuk mencatat persediaan: Barang yang dikembalikan dicatat sebesar harga jual, bukan harga pokoknya. Padahal, persediaan dan pembalikan HPP harus didasarkan pada nilai tercatat barang sesuai ketentuan akuntansi. Mengabaikan koreksi PPN keluaran: Perusahaan tidak menyesuaikan PPN atas retur yang memenuhi ketentuan atau tidak memeriksa kelengkapan nota retur. Hal ini dapat menyebabkan perbedaan antara jurnal akuntansi dan pelaporan pajak. Tidak menyimpan dokumen pendukung: Nota retur, nota kredit, atau dokumen lain yang relevan tidak disimpan dengan baik. Akibatnya, transaksi lebih sulit ditelusuri dan diverifikasi saat rekonsiliasi atau pemeriksaan. Mencatat retur pada periode yang tidak tepat: Retur diakui pada periode yang tidak sesuai dengan waktu dan dasar pengakuan transaksi. Kesalahan ini dapat membuat laporan penjualan dan laba antarperiode menjadi tidak akurat. Untuk menghindari kesalahan tersebut, perusahaan perlu memastikan setiap retur didukung dokumen yang memadai, dicatat pada akun yang tepat, serta direkonsiliasi dengan persediaan, HPP, piutang atau kas, dan PPN jika berlaku.Pencatatan Retur Penjualan Jadi Lebih Mudah dan Cepat dengan Mekari JurnalMencatat retur secara manual berisiko menimbulkan kesalahan, terutama saat menyesuaikan HPP, persediaan, dan PPN. Dengan Mekari Jurnal, proses retur dapat dilakukan melalui faktur penjualan asal sehingga transaksi lebih mudah ditelusuri.Melalui fitur Pembukuan Mekari Jurnal, bisnis dapat mengelola pencatatan dan memantau dampak transaksi retur melalui beberapa fitur berikut: Pencatatan jurnal: Membantu mencatat transaksi pendapatan dan transaksi keuangan lainnya secara terstruktur, sehingga pencatatan retur dapat ditelusuri dalam pembukuan. Chart of Accounts (CoA): Memungkinkan perusahaan mengelola daftar akun sesuai kebutuhan, termasuk memisahkan akun Penjualan dan Retur Penjualan agar analisis penjualan lebih jelas. Buku besar (general ledger): Menyajikan rincian transaksi berdasarkan akun untuk memudahkan penelusuran pencatatan penjualan dan retur. Neraca saldo: Membantu memeriksa saldo akun dan mendukung proses rekonsiliasi setelah transaksi dicatat. Laporan keuangan yang terintegrasi: Membantu bisnis memantau kondisi keuangan berdasarkan data pembukuan terbaru, termasuk perubahan nilai penjualan dan HPP. Mekari Jurnal merupakan software akuntansi yang telah membantu banyak pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola laporan keuangan, pembukuan, hingga operasional bisnis; untuk mempercepat pertumbuhan bisnis.Mekari Jurnal juga bagian dari ekosistem terpadu Mekari yang terintegrasi dengan Mekari POS, Mekari Desty, Mekari Klikpajak, Mekari Expense dan berbagai software lainnya. Integrasi dengan Mekari POS dapat mengotomasi laporan keuangan dari transaksi kasir. Ditambah dengan integrasi Mekari Desty yang dapat menyinkronkan stok dan penjualan marketplace langsung ke laporan keuangan Referensi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 115: Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan (sebelumnya PSAK 72). Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 202: Persediaan (sebelumnya PSAK 14). Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81 Tahun 2024, Pasal 286 sampai 290 tentang nota retur dan pembatalan JKP. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 131 Tahun 2024 tentang penghitungan PPN dengan DPP nilai lain. Kieso, D.E., Weygandt, J.J., & Warfield, T.D. Akuntansi Keuangan Menengah Edisi IFRS. Jakarta: Salemba Empat. DDTCNews. Pengaruh Penerapan PSAK 72 terhadap Perpajakan. FAQ 1. Apa yang dimaksud dengan jurnal retur penjualan? 1. Apa yang dimaksud dengan jurnal retur penjualan? Jurnal retur penjualan adalah catatan akuntansi atas barang yang dikembalikan pelanggan. Jurnal ini mengurangi pendapatan serta piutang atau kas, dan pada metode perpetual juga mengembalikan barang ke persediaan sebesar harga pokok. 2. Retur penjualan dicatat di sisi debit atau kredit? 2. Retur penjualan dicatat di sisi debit atau kredit? Akun Retur Penjualan dicatat di sisi debit karena merupakan pengurang penjualan. Sisi kreditnya adalah Piutang Usaha jika belum dibayar, atau Kas jika uang dikembalikan. 3. Apa bedanya jurnal retur penjualan perpetual dan periodik? 3. Apa bedanya jurnal retur penjualan perpetual dan periodik? Pada perpetual, retur disertai jurnal persediaan (debit) dan HPP (kredit) sebesar harga pokok. Pada periodik, retur hanya dicatat sebagai pengurang penjualan dan persediaan disesuaikan di akhir periode lewat stok fisik. 4. Apakah retur penjualan mengurangi PPN? 4. Apakah retur penjualan mengurangi PPN? Ya, untuk PKP yang menjual barang kena pajak. Pembeli membuat nota retur yang memenuhi ketentuan PMK 81/2024, lalu penjual mengurangi pajak keluarannya. Jika barang langsung diganti barang identik, pengembalian dianggap tidak terjadi dan PPN tidak dikoreksi. 5. Bagaimana mencatat retur barang yang rusak? 5. Bagaimana mencatat retur barang yang rusak? Retur penjualan tetap dicatat sebesar harga jual. Barang rusak dicatat di persediaan sebesar nilai realisasi bersihnya, dan selisih dari harga pokok diakui sebagai kerugian persediaan. 6. Apa bedanya retur penjualan dengan potongan penjualan? 6. Apa bedanya retur penjualan dengan potongan penjualan? Pada retur, barang dikembalikan ke penjual. Pada potongan penjualan, pelanggan tetap memegang barang dan hanya mendapat pengurangan harga. Keduanya dicatat di akun pengurang penjualan yang terpisah. 7. Apa dokumen yang diperlukan untuk mencatat retur penjualan? 7. Apa dokumen yang diperlukan untuk mencatat retur penjualan? Nota retur atau nota kredit yang merujuk ke faktur penjualan awal. Bagi PKP dengan barang kena pajak, nota retur harus memenuhi syarat formal agar dapat mengoreksi pajak keluaran. Mekari Jurnal Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus. Pelajari lebih lanjut Mekari Jurnal menjadi bagian dari ekosistem software terpadu Mekari dengan berbagai produk lainnya, seperti: Semua Platform Akuntansi & keuangan Customer People Services Operasional & digitalisasi Mekari Software as a Service Platform Mekari Officeless Platform Integrasi & App Builder Platform Mekari Airene AI Core Lintas Produk Mekari Platform Mekari Jurnal Akuntansi & Operasional Akuntansi & keuangan Mekari Klikpajak Manajemen Pajak Akuntansi & keuangan Mekari Expense Manajemen Pengeluaran Bisnis Akuntansi & keuangan Mekari POS Point Of Sale Akuntansi & keuangan Mekari Qontak Customer Engagement Platform Customer Mekari Talenta HCM People Mekari Flex Benefit Karyawan People Payroll Service Payroll Outsource Services Mekari Sign Tanda Tangan Digital & E-Meterai Operasional & digitalisasi Mekari Desty Omnichannel Commerce Operasional & digitalisasi Lihat lebih banyak Tidak ada produk di kategori ini. Kategori : Accountant & Finance Profession Artikel Sebelumnya Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal Facebook Instagram LinkedIn YouTube Dapatkan kurasi newsletter terkait pembukuan dan Akuntansi Subscribe Bagikan artikelWhatsAppLinkedinFacebook
Cara Mencatat Jurnal Retur Penjualan bagi Pelaku Pengusaha Mekari Jurnal Highlights Jurnal retur penjualan membalik pendapatan serta piutang atau kas, lalu mengembalikan nilai pokok barang ke persediaan melalui HPP. Retur barang kena pajak juga mengoreksi PPN keluaran melalui nota retur sesuai PMK 81/2024. Mekari Jurnal melalui fitur pembukuannya membantu bisnis mencatat transaksi dan memantau data keuangan melalui laporan yang terintegrasi. Barang yang dikembalikan pelanggan tidak hanya mengurangi nilai penjualan, tetapi juga dapat memengaruhi piutang, persediaan, dan perhitungan laba perusahaan. Karena itu, jurnal retur penjualan perlu dicatat dengan tepat agar laporan keuangan tetap mencerminkan kondisi transaksi yang sebenarnya. Pencatatannya bergantung pada metode persediaan yang digunakan, status pembayaran pelanggan, serta ketentuan pajak yang berlaku. Artikel ini membahas akun yang terlibat, contoh jurnal retur penjualan dengan metode perpetual dan periodik dalam Rupiah, ketentuan nota retur PPN, hingga cara mencatat transaksi menggunakan software akuntansi. Apa Itu Jurnal Retur Penjualan?Jurnal retur penjualan adalah pencatatan akuntansi atas pengembalian barang dari pelanggan kepada penjual, misalnya karena barang rusak, salah kirim, atau tidak sesuai pesanan. Transaksi ini mengurangi penjualan dan, bergantung pada kondisi pembayaran, menyesuaikan piutang atau kas. Jika barang yang dikembalikan masih layak masuk persediaan, penjual juga perlu menyesuaikan nilai persediaan dan harga pokok penjualan (HPP).Retur penjualan berbeda dari potongan harga. Pada retur, barang dikembalikan kepada penjual, sedangkan pada potongan harga, pelanggan tetap menyimpan barang tetapi membayar dengan harga yang lebih rendah. Keduanya dapat dicatat sebagai pengurang penjualan agar nilai penjualan bruto tetap dapat ditelusuri.Pencatatan retur perlu didukung dokumen yang sesuai, seperti nota kredit atau dokumen retur yang merujuk pada faktur penjualan awal. Untuk transaksi yang dikenai PPN, Pengusaha Kena Pajak (PKP) juga perlu memperhatikan ketentuan nota retur yang berlaku.Akun yang Terpengaruh dan Aturan Debit KreditPada metode persediaan perpetual, retur penjualan memengaruhi akun penjualan dan akun persediaan. Akun yang dicatat bergantung pada kondisi transaksi, termasuk status pembayaran pelanggan dan perlakuan PPN.AkunPosisiFungsiRetur PenjualanDebitMencatat nilai jual barang yang dikembalikan sebagai pengurang penjualan.PPN KeluaranDebitMengoreksi PPN keluaran atas transaksi yang memenuhi ketentuan nota retur, jika berlaku.Piutang Usaha atau KasKreditMengurangi piutang pelanggan atau mencatat pengembalian uang kepada pelanggan yang sudah membayar.PersediaanDebitMenambah kembali nilai persediaan sebesar harga pokok barang yang dikembalikan dan masih layak masuk stok.Harga Pokok Penjualan (HPP)KreditMembalik HPP yang sebelumnya diakui atas barang yang kembali ke persediaan.Hal penting yang perlu diperhatikan adalah persediaan dan HPP dicatat berdasarkan harga pokok, bukan harga jual. Sementara itu, retur penjualan dicatat sebesar nilai jual barang yang dikembalikan. Pemisahan ini membantu memastikan nilai penjualan dan laba kotor tidak salah saji.Contoh Jurnal Retur Penjualan Metode PerpetualPT Nusantara Elektrik, distributor peralatan listrik, menjual 50 unit stabilizer secara kredit kepada CV Terang Abadi dengan harga Rp400.000 per unit. Harga pokok setiap unit adalah Rp260.000. Beberapa hari kemudian, pelanggan mengembalikan 5 unit karena tidak sesuai pesanan. Barang masih layak dijual kembali dan piutang belum dibayar.Untuk ilustrasi ini, PPN dihitung menggunakan tarif efektif 11%.Perhitungan penjualan dan returKomponenPerhitunganNilaiPenjualan awal50 × Rp400.000Rp20.000.000PPN keluaran11% × Rp20.000.000Rp2.200.000Total piutang awalRp20.000.000 + Rp2.200.000Rp22.200.000HPP penjualan awal50 × Rp260.000Rp13.000.000Nilai jual retur5 × Rp400.000Rp2.000.000PPN atas retur11% × Rp2.000.000Rp220.000HPP atas retur5 × Rp260.000Rp1.300.0001. Jurnal Penjualan AwalSaat penjualan kredit dilakukan, perusahaan mencatat piutang beserta penjualan dan PPN keluaran. Perusahaan juga mencatat HPP dan mengurangi persediaan.AkunDebitKreditPiutang UsahaRp22.200.000—Penjualan—Rp20.000.000PPN Keluaran—Rp2.200.000Harga Pokok PenjualanRp13.000.000—Persediaan—Rp13.000.0002. Jurnal Retur Saat Piutang Belum DibayarKetika 5 unit barang dikembalikan, perusahaan mengurangi penjualan melalui akun Retur Penjualan dan mengoreksi piutang serta PPN keluaran. Karena barang masih layak dijual, persediaan bertambah kembali sebesar harga pokoknya.AkunDebitKreditRetur PenjualanRp2.000.000—PPN KeluaranRp220.000—Piutang Usaha—Rp2.220.000PersediaanRp1.300.000—Harga Pokok Penjualan—Rp1.300.000Setelah retur dicatat, saldo piutang CV Terang Abadi menjadi Rp19.980.000, yaitu Rp22.200.000 dikurangi Rp2.220.000.3. Jurnal Retur Jika Piutang Sudah DibayarJika pelanggan telah melunasi piutang dan perusahaan mengembalikan uang atas barang yang diretur, akun Kas dikredit sebagai pengganti Piutang Usaha.AkunDebitKreditRetur PenjualanRp2.000.000—PPN KeluaranRp220.000—Kas—Rp2.220.000PersediaanRp1.300.000—Harga Pokok Penjualan—Rp1.300.000Jika pengembalian uang tidak dilakukan dan nilainya digunakan sebagai pengurang transaksi berikutnya, pencatatan perlu disesuaikan dengan bentuk kesepakatan serta akun kewajiban yang digunakan perusahaan.Jurnal Retur Penjualan Metode Periodik dan PerbedaannyaPada metode periodik, persediaan tidak diperbarui setiap transaksi. Retur hanya dicatat sebagai pengurang penjualan, dan HPP dihitung di akhir periode melalui stok fisik. Karena itu tidak ada jurnal persediaan dan HPP saat retur terjadi.AspekPerpetualPeriodikJurnal saat returRetur Penjualan, PPN Keluaran, Piutang/Kas, ditambah Persediaan dan HPPRetur Penjualan, PPN Keluaran, Piutang/KasJurnal HPP dan persediaanSetiap ada retur: Rp1.300.000Tidak ada, disesuaikan di akhir periodeSaldo persediaanSelalu terkiniBaru benar setelah stok opnameCocok untukBisnis dengan volume transaksi tinggi dan software akuntansiUsaha kecil dengan pencatatan sederhanaJurnal retur penjualan periodik (angka yang sama):AkunDebitKreditRetur PenjualanRp2.000.000PPN KeluaranRp220.000Piutang UsahaRp2.220.000Jurnal Retur Barang Rusak dan Retur SebagianPencatatan jurnal retur penjualan perlu disesuaikan dengan jumlah barang yang dikembalikan dan kondisi barang setelah diterima kembali. Berikut dua kondisi yang umum terjadi.1. Retur SebagianJika pelanggan hanya mengembalikan sebagian barang, perusahaan cukup mencatat retur berdasarkan jumlah unit yang dikembalikan. Misalnya, dari 50 unit stabilizer yang terjual, pelanggan mengembalikan 5 unit. Artinya, retur dicatat untuk 5 unit tersebut, sedangkan penjualan atas 45 unit lainnya tetap berlaku.Dengan harga jual Rp400.000 per unit dan harga pokok Rp260.000 per unit, nilai retur penjualan adalah Rp2.000.000, sedangkan nilai persediaan yang dikembalikan adalah Rp1.300.000 jika barang masih layak dijual kembali.2. Retur Barang RusakJika barang yang dikembalikan mengalami kerusakan, perusahaan perlu menilai apakah barang tersebut masih dapat dijual kembali dan berapa nilai yang dapat dipulihkan. Berdasarkan PSAK 202 tentang Persediaan, persediaan diukur pada nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto.Misalnya, 5 unit stabilizer yang dikembalikan memiliki harga pokok total Rp1.300.000, tetapi nilai realisasi netonya setelah memperhitungkan biaya perbaikan hanya Rp300.000. Dengan asumsi nilai tersebut memenuhi dasar pengukuran yang berlaku, jurnalnya dapat dicatat sebagai berikut:AkunDebitKreditRetur PenjualanRp2.000.000—PPN KeluaranRp220.000—Piutang Usaha—Rp2.220.000PersediaanRp300.000—Kerugian Penurunan Nilai PersediaanRp1.000.000—Harga Pokok Penjualan—Rp1.300.000Selisih Rp1.000.000 antara harga pokok awal dan nilai realisasi neto dicatat sebagai kerugian penurunan nilai persediaan. Dengan begitu, nilai persediaan tidak dicatat lebih tinggi daripada jumlah yang diperkirakan dapat dipulihkan.Dampak Retur pada Laporan Laba RugiRetur penjualan memengaruhi laporan laba rugi karena mengurangi penjualan bersih dan dapat mengubah harga pokok penjualan (HPP). Jika barang yang dikembalikan masih layak dijual kembali, perusahaan perlu mengembalikan nilainya ke persediaan dan membalik HPP yang sebelumnya diakui. Pencatatan ini penting agar laba kotor mencerminkan nilai penjualan dan biaya barang yang benar-benar terjual.Dengan menggunakan contoh PT Nusantara Elektrik sebelumnya, perusahaan menjual 50 unit stabilizer seharga Rp20.000.000 dengan total HPP Rp13.000.000. Ketika pelanggan mengembalikan 5 unit, nilai retur penjualan sebesar Rp2.000.000 dan HPP barang yang kembali ke persediaan sebesar Rp1.300.000. Perhitungan dampaknya terhadap laba kotor adalah sebagai berikut.KomponenJika Jurnal HPP Retur TerlewatJika Jurnal HPP Retur DicatatPenjualanRp20.000.000Rp20.000.000Dikurangi: Retur penjualan(Rp2.000.000)(Rp2.000.000)Penjualan bersihRp18.000.000Rp18.000.000Dikurangi: HPP(Rp13.000.000)(Rp11.700.000)Laba kotorRp5.000.000Rp6.300.000Tabel tersebut menunjukkan bahwa jika jurnal pembalikan HPP terlewat, laba kotor tercatat Rp5.000.000, padahal seharusnya Rp6.300.000. Selisih Rp1.300.000 muncul karena HPP atas 5 unit barang yang telah dikembalikan masih dibebankan, meskipun barang tersebut sudah kembali ke persediaan.Dengan demikian, pencatatan retur penjualan tidak cukup hanya mengurangi penjualan. Perusahaan juga perlu menyesuaikan HPP dan persediaan sesuai kondisi barang yang dikembalikan. Jika barang rusak atau tidak lagi dapat dipulihkan sesuai nilai tercatatnya, perusahaan perlu mempertimbangkan penurunan nilai persediaan agar laporan laba rugi dan nilai persediaan tetap wajar.Retur Penjualan dan PPN: Ketentuan Nota Retur serta Koreksi PajakBagi Pengusaha Kena Pajak (PKP), retur Barang Kena Pajak (BKP) tidak hanya memengaruhi pencatatan penjualan, tetapi juga dapat mengurangi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) keluaran yang sebelumnya dilaporkan. Agar koreksi pajak dapat dilakukan, pengembalian barang perlu didukung nota retur yang memenuhi ketentuan perpajakan.Ketentuan mengenai nota retur diatur dalam Pasal 286–288 PMK 81/2024, yang mencabut PMK 65/PMK.03/2010. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pencatatan retur dan koreksi PPN meliputi: Pembuatan nota retur: Pembeli membuat nota retur dan menyampaikannya kepada PKP penjual ketika Barang Kena Pajak dikembalikan. Dokumen ini menjadi dasar bagi penjual untuk mengoreksi PPN keluaran atas barang yang diretur. Kelengkapan informasi nota retur: Nota retur perlu mencantumkan informasi sesuai ketentuan, termasuk nomor dan tanggal faktur pajak asal, identitas pembeli dan penjual, jenis barang, jumlah harga jual barang yang dikembalikan, nilai PPN terkait, serta tanggal pembuatan dan tanda tangan pihak yang berwenang. Dampak jika nota retur tidak memenuhi ketentuan: Pengembalian barang dapat dianggap tidak terjadi untuk tujuan koreksi PPN apabila nota retur tidak dibuat, tidak disampaikan, atau tidak memenuhi persyaratan formal yang ditetapkan. Karena itu, kelengkapan dokumen perlu diperiksa sebelum koreksi pajak dicatat. Perbedaan retur barang dan pembatalan jasa: Nota retur digunakan untuk pengembalian BKP, sedangkan pembatalan Jasa Kena Pajak (JKP) menggunakan nota pembatalan sesuai ketentuan yang berlaku. Perhitungan PPN atas retur: Nilai PPN yang dikoreksi mengikuti nilai pajak atas barang yang dikembalikan dan ketentuan yang berlaku untuk transaksi tersebut. Dalam contoh sebelumnya, jika nilai PPN atas retur Rp2.000.000 dihitung dengan tarif efektif 11%, koreksi PPN keluarannya sebesar Rp220.000. Oleh karena itu, jurnal PPN keluaran atas retur perlu disesuaikan dengan nota retur dan direkonsiliasi dengan pelaporan dalam SPT Masa PPN. Langkah ini membantu memastikan bahwa pencatatan akuntansi dan pelaporan pajak mencerminkan transaksi yang benar-benar terjadi.Perlakuan Retur Penjualan Menurut PSAK 115Menurut PSAK 115 yang sebelumnya adalah PSAK 72, perusahaan yang memberikan hak retur mengakui pendapatan sebesar nilai yang diperkirakan menjadi haknya. Estimasi pengembalian dicatat sebagai liabilitas pengembalian dana, sedangkan barang yang diperkirakan kembali diakui sebagai aset atas hak pemulihan barang.Misalnya, PT Nusantara Elektrik menjual 50 unit stabilizer senilai Rp20.000.000 dengan total harga pokok Rp13.000.000. Jika diperkirakan 10% penjualan akan diretur, nilai estimasi retur sebesar Rp2.000.000 dan harga pokok barang yang diperkirakan kembali sebesar Rp1.300.000. Dengan asumsi barang dapat dipulihkan tanpa biaya tambahan atau penurunan nilai, jurnal saat penjualan adalah sebagai berikut.AkunDebitKreditPiutang UsahaRp22.200.000—Penjualan—Rp18.000.000Liabilitas Pengembalian Dana—Rp2.000.000PPN Keluaran—Rp2.200.000Harga Pokok PenjualanRp11.700.000—Aset atas Hak Pemulihan BarangRp1.300.000—Persediaan—Rp13.000.000TotalRp25.200.000Rp25.200.000Saat retur terjadi, perusahaan menyelesaikan liabilitas pengembalian dana dan mengakui kembali persediaan sesuai nilai yang berlaku. Jika jumlah retur aktual berbeda dari estimasi, perusahaan perlu menyesuaikan pencatatannya.Estimasi retur menurut PSAK 115 tidak otomatis mengoreksi PPN keluaran. Koreksi pajak tetap mengikuti ketentuan perpajakan dan dokumen retur yang berlaku, sehingga pencatatan akuntansi perlu direkonsiliasi dengan pelaporan pajak.Perusahaan dengan transaksi retur yang signifikan perlu mengevaluasi estimasi retur secara berkala. Untuk retur yang sudah terjadi, pencatatannya dapat mengikuti contoh jurnal pada bagian sebelumnya.Kesalahan Umum Mencatat Jurnal Retur Penjualanencatatan retur penjualan yang tidak tepat dapat menyebabkan nilai penjualan, persediaan, HPP, hingga PPN tidak sesuai dengan kondisi transaksi. Berikut beberapa kesalahan yang perlu dihindari: Hanya mencatat pengurangan penjualan: Perusahaan mencatat retur penjualan, tetapi tidak membalik HPP dan menyesuaikan persediaan untuk barang yang masih layak dijual kembali. Akibatnya, HPP bisa terlalu besar dan laba kotor terlalu rendah. Mengurangi akun Penjualan secara langsung: Retur langsung dicatat sebagai pengurang akun Penjualan tanpa menggunakan akun Retur Penjualan. Penggunaan akun terpisah membantu perusahaan memantau nilai retur dan mengevaluasi tren penjualan. Menggunakan harga jual untuk mencatat persediaan: Barang yang dikembalikan dicatat sebesar harga jual, bukan harga pokoknya. Padahal, persediaan dan pembalikan HPP harus didasarkan pada nilai tercatat barang sesuai ketentuan akuntansi. Mengabaikan koreksi PPN keluaran: Perusahaan tidak menyesuaikan PPN atas retur yang memenuhi ketentuan atau tidak memeriksa kelengkapan nota retur. Hal ini dapat menyebabkan perbedaan antara jurnal akuntansi dan pelaporan pajak. Tidak menyimpan dokumen pendukung: Nota retur, nota kredit, atau dokumen lain yang relevan tidak disimpan dengan baik. Akibatnya, transaksi lebih sulit ditelusuri dan diverifikasi saat rekonsiliasi atau pemeriksaan. Mencatat retur pada periode yang tidak tepat: Retur diakui pada periode yang tidak sesuai dengan waktu dan dasar pengakuan transaksi. Kesalahan ini dapat membuat laporan penjualan dan laba antarperiode menjadi tidak akurat. Untuk menghindari kesalahan tersebut, perusahaan perlu memastikan setiap retur didukung dokumen yang memadai, dicatat pada akun yang tepat, serta direkonsiliasi dengan persediaan, HPP, piutang atau kas, dan PPN jika berlaku.Pencatatan Retur Penjualan Jadi Lebih Mudah dan Cepat dengan Mekari JurnalMencatat retur secara manual berisiko menimbulkan kesalahan, terutama saat menyesuaikan HPP, persediaan, dan PPN. Dengan Mekari Jurnal, proses retur dapat dilakukan melalui faktur penjualan asal sehingga transaksi lebih mudah ditelusuri.Melalui fitur Pembukuan Mekari Jurnal, bisnis dapat mengelola pencatatan dan memantau dampak transaksi retur melalui beberapa fitur berikut: Pencatatan jurnal: Membantu mencatat transaksi pendapatan dan transaksi keuangan lainnya secara terstruktur, sehingga pencatatan retur dapat ditelusuri dalam pembukuan. Chart of Accounts (CoA): Memungkinkan perusahaan mengelola daftar akun sesuai kebutuhan, termasuk memisahkan akun Penjualan dan Retur Penjualan agar analisis penjualan lebih jelas. Buku besar (general ledger): Menyajikan rincian transaksi berdasarkan akun untuk memudahkan penelusuran pencatatan penjualan dan retur. Neraca saldo: Membantu memeriksa saldo akun dan mendukung proses rekonsiliasi setelah transaksi dicatat. Laporan keuangan yang terintegrasi: Membantu bisnis memantau kondisi keuangan berdasarkan data pembukuan terbaru, termasuk perubahan nilai penjualan dan HPP. Mekari Jurnal merupakan software akuntansi yang telah membantu banyak pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola laporan keuangan, pembukuan, hingga operasional bisnis; untuk mempercepat pertumbuhan bisnis.Mekari Jurnal juga bagian dari ekosistem terpadu Mekari yang terintegrasi dengan Mekari POS, Mekari Desty, Mekari Klikpajak, Mekari Expense dan berbagai software lainnya. Integrasi dengan Mekari POS dapat mengotomasi laporan keuangan dari transaksi kasir. Ditambah dengan integrasi Mekari Desty yang dapat menyinkronkan stok dan penjualan marketplace langsung ke laporan keuangan Referensi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 115: Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan (sebelumnya PSAK 72). Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). PSAK 202: Persediaan (sebelumnya PSAK 14). Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81 Tahun 2024, Pasal 286 sampai 290 tentang nota retur dan pembatalan JKP. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 131 Tahun 2024 tentang penghitungan PPN dengan DPP nilai lain. Kieso, D.E., Weygandt, J.J., & Warfield, T.D. Akuntansi Keuangan Menengah Edisi IFRS. Jakarta: Salemba Empat. DDTCNews. Pengaruh Penerapan PSAK 72 terhadap Perpajakan. FAQ 1. Apa yang dimaksud dengan jurnal retur penjualan? 1. Apa yang dimaksud dengan jurnal retur penjualan? Jurnal retur penjualan adalah catatan akuntansi atas barang yang dikembalikan pelanggan. Jurnal ini mengurangi pendapatan serta piutang atau kas, dan pada metode perpetual juga mengembalikan barang ke persediaan sebesar harga pokok. 2. Retur penjualan dicatat di sisi debit atau kredit? 2. Retur penjualan dicatat di sisi debit atau kredit? Akun Retur Penjualan dicatat di sisi debit karena merupakan pengurang penjualan. Sisi kreditnya adalah Piutang Usaha jika belum dibayar, atau Kas jika uang dikembalikan. 3. Apa bedanya jurnal retur penjualan perpetual dan periodik? 3. Apa bedanya jurnal retur penjualan perpetual dan periodik? Pada perpetual, retur disertai jurnal persediaan (debit) dan HPP (kredit) sebesar harga pokok. Pada periodik, retur hanya dicatat sebagai pengurang penjualan dan persediaan disesuaikan di akhir periode lewat stok fisik. 4. Apakah retur penjualan mengurangi PPN? 4. Apakah retur penjualan mengurangi PPN? Ya, untuk PKP yang menjual barang kena pajak. Pembeli membuat nota retur yang memenuhi ketentuan PMK 81/2024, lalu penjual mengurangi pajak keluarannya. Jika barang langsung diganti barang identik, pengembalian dianggap tidak terjadi dan PPN tidak dikoreksi. 5. Bagaimana mencatat retur barang yang rusak? 5. Bagaimana mencatat retur barang yang rusak? Retur penjualan tetap dicatat sebesar harga jual. Barang rusak dicatat di persediaan sebesar nilai realisasi bersihnya, dan selisih dari harga pokok diakui sebagai kerugian persediaan. 6. Apa bedanya retur penjualan dengan potongan penjualan? 6. Apa bedanya retur penjualan dengan potongan penjualan? Pada retur, barang dikembalikan ke penjual. Pada potongan penjualan, pelanggan tetap memegang barang dan hanya mendapat pengurangan harga. Keduanya dicatat di akun pengurang penjualan yang terpisah. 7. Apa dokumen yang diperlukan untuk mencatat retur penjualan? 7. Apa dokumen yang diperlukan untuk mencatat retur penjualan? Nota retur atau nota kredit yang merujuk ke faktur penjualan awal. Bagi PKP dengan barang kena pajak, nota retur harus memenuhi syarat formal agar dapat mengoreksi pajak keluaran. Mekari Jurnal Aplikasi akuntansi dan operasional terintegrasi untuk membantu pemilik bisnis, akuntan, dan tim finance mengelola keuangan, pembukuan, serta operasional bisnis secara lebih efisien sekaligus. Pelajari lebih lanjut Mekari Jurnal menjadi bagian dari ekosistem software terpadu Mekari dengan berbagai produk lainnya, seperti: Semua Platform Akuntansi & keuangan Customer People Services Operasional & digitalisasi Mekari Software as a Service Platform Mekari Officeless Platform Integrasi & App Builder Platform Mekari Airene AI Core Lintas Produk Mekari Platform Mekari Jurnal Akuntansi & Operasional Akuntansi & keuangan Mekari Klikpajak Manajemen Pajak Akuntansi & keuangan Mekari Expense Manajemen Pengeluaran Bisnis Akuntansi & keuangan Mekari POS Point Of Sale Akuntansi & keuangan Mekari Qontak Customer Engagement Platform Customer Mekari Talenta HCM People Mekari Flex Benefit Karyawan People Payroll Service Payroll Outsource Services Mekari Sign Tanda Tangan Digital & E-Meterai Operasional & digitalisasi Mekari Desty Omnichannel Commerce Operasional & digitalisasi Lihat lebih banyak Tidak ada produk di kategori ini.