Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
6 min read

Absorption Costing: Rumus dan Contoh Lengkapnya

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Adelia Vita. A
Highlights
  • Absorption costing membebankan seluruh biaya produksi, baik biaya variabel maupun tetap, ke dalam harga pokok setiap unit produk.
  • PSAK 14 mewajibkan biaya produksi dialokasikan ke persediaan untuk penyusunan laporan keuangan eksternal.
  • Absorption costing hanya mencakup biaya produksi, sedangkan biaya pemasaran, distribusi, dan administrasi tidak termasuk.

Rumus absorption costing yang beredar di beberapa artikel masih sering keliru karena memasukkan biaya distribusi, pemasaran, dan administrasi ke dalam biaya produk. 

Padahal, absorption costing hanya mencakup seluruh biaya produksi, baik biaya variabel maupun tetap.

Memahami metode ini penting karena perlakuan biaya produksi dapat mempengaruhi nilai persediaan dan laba yang dilaporkan. 

Artikel ini akan membahas pengertian absorption costing, dasar penerapannya dalam PSAK, rumus yang benar, perbedaannya dengan variable costing, serta contoh perhitungannya dan dampaknya terhadap laba.

Apa itu Absorption Costing?

Absorption costing adalah metode penentuan biaya produk yang memasukkan seluruh biaya produksi, baik biaya variabel maupun biaya tetap, ke dalam harga pokok produk. 

Biaya tersebut mencakup bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, serta overhead produksi yang dialokasikan ke produk.

Menurut CFI biaya konversi persediaan mencakup biaya produksi langsung serta alokasi sistematis overhead produksi tetap dan variabel. 

Overhead tetap dapat berupa penyusutan dan pemeliharaan fasilitas produksi, sedangkan overhead variabel dapat berupa bahan dan tenaga kerja tidak langsung.

Karena memasukkan biaya produksi tetap ke dalam biaya produk, absorption costing berbeda dari variable costing, yang tidak memasukkan overhead produksi tetap ke dalam biaya produk.

Kenapa PSAK Mewajibkan Absorption Costing untuk Laporan Keuangan

Absorption costing digunakan untuk menentukan biaya persediaan dengan memasukkan seluruh biaya produksi, termasuk biaya overhead produksi tetap dan variabel, ke dalam harga pokok produk. 

Dengan pendekatan ini, biaya produksi tidak seluruhnya langsung dibebankan pada periode terjadinya, tetapi sebagian dapat melekat pada persediaan hingga produk tersebut terjual.

Dalam PSAK 202: Persediaan,  biaya konversi persediaan mencakup biaya tenaga kerja langsung serta alokasi sistematis overhead produksi tetap dan variabel. 

Ketentuan ini membuat perlakuan biaya dalam laporan keuangan sejalan dengan konsep absorption costing.

Karena itu, variable costing tetap dapat digunakan untuk analisis internal tetapi tidak dapat mengabaikan overhead produksi tetap ketika menentukan nilai persediaan untuk tujuan laporan keuangan.

Komponen dan Rumus Absorption Costing yang Benar

Absorption costing menghitung biaya produk dengan memasukkan seluruh biaya produksi, baik variabel maupun tetap. Komponennya terdiri dari:

  • Biaya bahan baku langsung
  • Biaya tenaga kerja langsung
  • Biaya overhead variabel
  • Biaya overhead tetap

Rumusnya:

Absorption Costing per Unit = (Bahan Baku Langsung + Tenaga Kerja Langsung + Overhead Variabel + Overhead Tetap) ÷ Jumlah Unit Diproduksi

Biaya distribusi, pemasaran, dan administrasi tidak termasuk karena merupakan biaya nonproduksi atau period costs. Biaya tersebut dibebankan pada periode terjadinya dan tidak menjadi bagian dari nilai persediaan.

Absorption Costing vs Variable Costing

Perbedaan utama absorption costing dan variable costing terletak pada perlakuan biaya overhead pabrik tetap.

Dalam absorption costing, overhead tetap menjadi bagian dari biaya produk sehingga masuk ke nilai persediaan dan baru diakui sebagai beban ketika produk terjual. 

Sementara itu, variable costing langsung membebankan seluruh overhead tetap sebagai biaya periode, terlepas dari apakah produk sudah terjual atau masih menjadi persediaan.

Akibatnya, kedua metode dapat menghasilkan laba yang berbeda ketika jumlah produk yang diproduksi tidak sama dengan jumlah yang terjual. 

Perbedaan ini terjadi karena sebagian overhead tetap masih melekat pada persediaan dalam absorption costing, sedangkan dalam variable costing seluruhnya sudah dibebankan pada periode berjalan.

Contoh Perhitungan Lengkap dengan Angka

PT Segar Alami memproduksi 5.000 botol sirup dalam sebulan, tetapi hanya 4.000 botol yang terjual pada bulan yang sama dengan harga jual Rp22.000 per botol.

Data biaya produksi per unit:

  • Biaya bahan baku langsung: Rp10.000
  • Biaya tenaga kerja langsung: Rp3.000
  • Biaya overhead variabel: Rp2.000
  • Biaya overhead tetap total: Rp10.000.000 (Rp10.000.000 ÷ 5.000 unit = Rp2.000 per unit)

Biaya operasional periode (biaya distribusi, pemasaran, dan administrasi) sebesar Rp8.000.000, dibebankan penuh sebagai biaya periode pada kedua metode.

Perhitungan dengan Absorption Costing:

Biaya per Unit = Rp10.000 + Rp3.000 + Rp2.000 + Rp2.000 = Rp17.000

Keterangan Nilai
Penjualan (4.000 × Rp22.000) Rp88.000.000
Harga Pokok Penjualan (4.000 × Rp17.000) (Rp68.000.000)
Laba Kotor Rp20.000.000
Biaya Operasional Periode (Rp8.000.000)
Laba Bersih (Absorption Costing) Rp12.000.000

Perhitungan dengan Variable Costing (biaya overhead tetap tidak masuk ke biaya produk):

Biaya Variabel per Unit = Rp10.000 + Rp3.000 + Rp2.000 = Rp15.000

Keterangan Nilai
Penjualan (4.000 × Rp22.000) Rp88.000.000
Biaya Variabel (4.000 × Rp15.000) (Rp60.000.000)
Margin Kontribusi Rp28.000.000
Biaya Overhead Tetap (dibebankan penuh) (Rp10.000.000)
Biaya Operasional Periode (Rp8.000.000)
Laba Bersih (Variable Costing) Rp10.000.000

Selisih laba bersih antara kedua metode = Rp12.000.000 − Rp10.000.000 = Rp2.000.000

Angka selisih ini bukan kebetulan. Selisihnya persis sama dengan biaya overhead tetap yang “tersimpan” dalam 1.000 unit persediaan akhir yang belum terjual (1.000 unit × Rp2.000 = Rp2.000.000). 

Dalam absorption costing, biaya ini masih melekat pada nilai persediaan di neraca dan belum dibebankan ke laba rugi, sementara dalam variable costing, seluruh biaya overhead tetap sudah habis dibebankan pada periode berjalan meski sebagian produknya belum terjual.

Kelebihan dan Kekurangan Absorption Costing

Absorption costing memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami sebelum mengandalkannya untuk pengambilan keputusan.

Kelebihan:

  • Sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku (PSAK 14), sehingga wajib digunakan untuk laporan keuangan eksternal.
  • Mencerminkan seluruh biaya produksi secara menyeluruh dalam harga pokok produk, sehingga membantu penetapan harga jual yang menutupi seluruh biaya.

Kekurangan:

  • Laba bersih dapat “terdistorsi” oleh tingkat produksi, karena memproduksi lebih banyak dari yang terjual dapat membuat laba terlihat lebih besar meski penjualan sesungguhnya tidak meningkat.
  • Kurang ideal untuk analisis pengambilan keputusan jangka pendek dibanding variable costing, karena biaya tetap yang “tersembunyi” dalam persediaan bisa menyulitkan analisis biaya-volume-laba.

Kesalahan Umum dalam Menerapkan Absorption Costing

Beberapa kesalahan yang perlu dihindari saat menerapkan absorption costing antara lain:

  1. Memasukkan biaya nonproduksi ke biaya produk
    Biaya pemasaran, distribusi, dan administrasi merupakan biaya periode, sehingga tidak termasuk dalam biaya produk absorption costing.
  2. Mengabaikan overhead produksi tetap
    Absorption costing memasukkan overhead produksi tetap ke dalam biaya produk. Mengeluarkannya akan membuat nilai persediaan dan biaya per unit menjadi tidak tepat.
  3. Salah mengalokasikan biaya overhead
    Biaya overhead tetap dan variabel perlu diidentifikasi serta dialokasikan secara sistematis agar biaya produksi per unit mencerminkan biaya yang sebenarnya.
  4. Mengabaikan perbedaan produksi dan penjualan
    Ketika jumlah unit yang diproduksi lebih banyak daripada yang terjual, sebagian overhead tetap masih melekat pada persediaan. Kondisi ini dapat membuat laba periode berjalan berbeda dari kondisi jika seluruh produk langsung terjual.

Hitung Harga Pokok Produksi Bisnis Anda dengan Mekari Jurnal

Menghitung absorption costing secara manual, apalagi memisahkan biaya produksi dari biaya non produksi dan melacak persediaan akhir secara akurat, membutuhkan ketelitian tinggi jika dilakukan tanpa sistem yang memadai.

Mekari Jurnal sebagai software akuntansi membantu bisnis mencatat setiap transaksi produksi secara otomatis dan konsisten, sesuai standar akuntansi yang berlaku.

Dengan fitur Pembukuan Mekari Jurnal, Anda dapat:

  • Mencatat transaksi secara otomatis dan terintegrasi ke laporan keuangan, sehingga biaya produksi dan biaya periode tercatat terpisah sesuai kaidah akuntansi.
  • Menyusun bagan akun (chart of accounts) sesuai kebutuhan bisnis manufaktur, termasuk memisahkan akun bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi secara konsisten.
  • Menghasilkan lebih dari 55 jenis laporan keuangan, manajemen, dan operasional, mendukung penilaian persediaan yang akurat sesuai standar akuntansi yang berlaku.
  • Menjaga akurasi data keuangan melalui integrasi bank, sehingga pencatatan biaya produksi tetap sinkron dengan kondisi kas bisnis yang sesungguhnya.

Kelola perhitungan harga pokok produksi bisnis Anda bersama Mekari Jurnal!

Coba Gratis Sekarang!

Referensi

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), “PSAK 14 (kini PSAK 202): Persediaan.”

Kieso, D.E., Weygandt, J.J., & Warfield, T.D. “Intermediate Accounting IFRS Edition” 

Corporate Finance Institute, “Absorption Costing

FAQ

1. Apa perbedaan absorption costing dan variable costing?

1. Apa perbedaan absorption costing dan variable costing?

Absorption costing memasukkan seluruh biaya produksi, termasuk overhead tetap, ke dalam biaya produk per unit. Variable costing hanya memasukkan biaya produksi variabel, sementara overhead tetap langsung dibebankan penuh sebagai biaya periode.

2. Apakah biaya pemasaran termasuk dalam absorption costing?

2. Apakah biaya pemasaran termasuk dalam absorption costing?

Tidak. Biaya pemasaran, distribusi, dan administrasi adalah biaya periode yang dibebankan terpisah pada laporan laba rugi, bukan bagian dari biaya produk dalam absorption costing.

3. Kenapa PSAK mewajibkan absorption costing untuk laporan keuangan?

3. Kenapa PSAK mewajibkan absorption costing untuk laporan keuangan?

Karena PSAK 14 mengharuskan biaya persediaan mencakup alokasi sistematis biaya overhead produksi tetap dan variabel, yang pada dasarnya adalah prinsip absorption costing, sehingga variable costing tidak diperkenankan untuk penilaian persediaan dalam laporan keuangan eksternal.

4. Kenapa laba bisa berbeda antara absorption costing dan variable costing?

4. Kenapa laba bisa berbeda antara absorption costing dan variable costing?

 Karena ketika unit yang diproduksi berbeda dari unit yang terjual, absorption costing menahan sebagian biaya overhead tetap dalam nilai persediaan yang belum terjual, sementara variable costing langsung membebankan seluruh overhead tetap pada periode berjalan.

5. Apa kelemahan utama absorption costing?

5. Apa kelemahan utama absorption costing?

Kelemahan utamanya adalah laba bersih dapat terdistorsi oleh tingkat produksi, karena memproduksi lebih banyak dari yang terjual dapat membuat laba terlihat lebih besar meski penjualan sesungguhnya tidak meningkat.

Kategori : Cost Accounting

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami