Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Perbedaan Variable Costing dan Absorption Costing: Rumus, Contoh Jurnal, dan Cara Memilih

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Angela Amanda
Mekari Jurnal Insight

  • Absorption costing membebankan BOP tetap ke setiap unit produk, sedangkan variable costing hanya menghitung bahan baku, tenaga kerja langsung, dan BOP variabel.
  • Gunakan absorption costing untuk laporan keuangan eksternal sesuai PSAK 202, dan variable costing untuk keputusan internal seperti titik impas, pesanan khusus, dan evaluasi lini produk dengan unit yang terjual.
  • Pisahkan akun BOP tetap dan BOP variabel sejak pencatatan dengan pembukuan Mekari Jurnal agar kedua versi laporan mudah disusun.

Perbedaan variable costing dan absorption costing terletak pada perlakuan biaya overhead pabrik (BOP) tetap. 

Absorption costing memasukkannya ke harga pokok produk. Sedangkan variable costing membebankannya sebagai biaya periode. Selisih ini bisa membuat laba tampak lebih besar saat produksi melebihi penjualan. 

Simak pembedanya dan cara untuk mengetahui kapan menggunakan salah satu metode ini dalam penyusunan laporan keuangan.

Memahami Variable Costing dan Absorption Costing

Keduanya adalah metode penentuan harga pokok produksi (HPP). Unsur yang sama-sama dihitung adalah biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan BOP variabel. Perbedaan utama antara variable costing dan absorption costing hanya pada satu unsur, yaitu BOP tetap.

Absorption costing (full costing)

Absorption costing adalah metode yang membebankan seluruh biaya produksi ke harga pokok produk. Seluruh biaya ini mencakup biaya variabel maupun biaya tetap. Istilah lainnya adalah full costing.

BOP tetap, seperti penyusutan mesin, sewa pabrik, dan gaji supervisor produksi, “diserap” ke setiap unit. Akibatnya, sebagian BOP tetap ikut tersimpan di persediaan dan baru menjadi beban saat produk terjual.

Variable costing (direct costing)

Variable costing adalah metode yang hanya membebankan biaya produksi variabel ke harga pokok produk. Metode ini juga dikenal sebagai direct costing atau marginal costing.

BOP tetap tidak masuk ke persediaan. Seluruhnya dibebankan pada periode terjadinya, berapa pun unit yang terjual.

Perlu dicatat, biaya pemasaran dan administrasi tidak masuk HPP di kedua metode. Biaya ini selalu menjadi beban periode.

Perbedaan Variable Costing dan Absorption Costing

Perlakuan BOP tetap yang berbeda membuat kedua metode menghasilkan HPP, nilai persediaan, dan laba yang tidak sama. Berikut perbandingan variable costing dan absorption costing dari tujuh aspek utama.

AspekAbsorption Costing (Full Costing)Variable Costing (Direct Costing)
Unsur HPPBahan baku, TKL, BOP variabel, BOP tetapBahan baku, TKL, BOP variabel
Perlakuan BOP tetapBiaya produk, masuk persediaanBiaya periode, langsung jadi beban
Format laba rugiLaba kotor (penjualan dikurangi HPP)Margin kontribusi (penjualan dikurangi seluruh biaya variabel)
Nilai persediaan akhirLebih tinggiLebih rendah
Pengaruh volume produksi ke labaLaba naik jika produksi melebihi penjualanLaba hanya dipengaruhi volume penjualan
Kegunaan utamaLaporan keuangan eksternal, penilaian persediaanAnalisis BEP, CVP, pesanan khusus, evaluasi kinerja
Kesesuaian dengan PSAK 202SesuaiTidak untuk laporan eksternal

Poin paling penting ada di baris kelima, dengan absorption costing, perusahaan bisa terlihat lebih untung hanya karena memproduksi lebih banyak. Variable costing menghilangkan efek ini.

Mengapa Laporan Keuangan Memakai Absorption Costing?

Di Indonesia, perlakuan biaya persediaan diatur dalam PSAK 202 tentang Persediaan. Standar ini dahulu bernama PSAK 14. Perubahan penomorannya berlaku efektif 1 Januari 2024.

Beberapa ketentuan PSAK 202 yang relevan:

  • Biaya konversi: mencakup biaya yang terkait langsung dengan unit produksi, ditambah alokasi sistematis BOP tetap dan BOP variabel.
  • Kapasitas normal: BOP tetap dialokasikan berdasarkan kapasitas normal fasilitas produksi, yaitu rata-rata produksi yang diharapkan dalam kondisi normal.
  • Overhead tidak teralokasi: saat produksi rendah, alokasi BOP tetap per unit tidak dinaikkan. Sisa BOP tetap yang tidak teralokasi diakui sebagai beban periode.
  • Biaya di luar persediaan: biaya penjualan dan overhead administrasi yang tidak berkontribusi pada produksi tidak termasuk biaya persediaan.

Artinya, laporan keuangan untuk bank, investor, dan auditor harus menggunakan absorption costing. Variable costing tetap sah dipakai, tetapi sebagai laporan internal manajemen.

Rumus Harga Pokok Produksi Metode Full Costing dan Variable Costing

Rumus HPP per unit absorption costing:

HPP per unit = Biaya bahan baku + Biaya tenaga kerja langsung + BOP variabel + BOP tetap per unit

Rumus HPP per unit variable costing:

HPP per unit = Biaya bahan baku + Biaya tenaga kerja langsung + BOP variabel

Rumus BOP tetap per unit (sesuai PSAK 202):

BOP tetap per unit = Total BOP tetap ÷ Kapasitas produksi normal

Rumus rekonsiliasi selisih laba:

Laba absorption costing − Laba variable costing = BOP tetap dalam persediaan akhir − BOP tetap dalam persediaan awal

Jika tidak ada persediaan awal, rumusnya menjadi lebih sederhana:

Selisih laba = (Unit diproduksi − Unit terjual) × BOP tetap per unit

Contoh Perhitungan Variable Costing dan Absorption Costing

Agar perbedaannya lebih mudah dipahami, berikut simulasi perhitungan kedua metode pada satu perusahaan manufaktur. Data yang sama dipakai untuk menghitung HPP per unit, menyusun laporan laba rugi, merekonsiliasi selisih laba, hingga mencatat jurnal biaya produksi.

PT Rasa Pedas Nusantara memproduksi sambal botolan. Kapasitas normal pabrik adalah 10.000 botol per bulan. Berikut data bulan April:

KeteranganNilai
Unit diproduksi10.000 botol
Unit terjual8.000 botol
Persediaan awal0 botol
Harga jualRp21.000 per botol
Biaya bahan bakuRp6.000 per botol
Biaya tenaga kerja langsungRp3.000 per botol
BOP variabelRp1.000 per botol
BOP tetapRp40.000.000 per bulan
Biaya pemasaran variabelRp1.500 per botol terjual
Biaya administrasi dan pemasaran tetapRp20.000.000 per bulan

Menghitung HPP per unit

BOP tetap per unit = Rp40.000.000 ÷ 10.000 botol = Rp4.000.

UnsurAbsorption CostingVariable Costing
Bahan bakuRp6.000Rp6.000
Tenaga kerja langsungRp3.000Rp3.000
BOP variabelRp1.000Rp1.000
BOP tetapRp4.000–
HPP per unitRp14.000Rp10.000

Laporan laba rugi metode absorption costing

contoh laporan laba rugi menggunakan metode absorption costing

Laporan laba rugi metode variable costing

contoh laporan laba rugi menggunakan metode variable costing

Rekonsiliasi selisih laba

Laba absorption costing lebih tinggi Rp8.000.000. Selisih ini berasal dari BOP tetap yang tersimpan di 2.000 botol persediaan akhir.

contoh laporan rekonsiliasi selisih laba antara absorption costing dan variable costing

Rp8.000.000 BOP tetap ini baru akan menjadi beban di laporan absorption costing saat 2.000 botol tersebut terjual. Jika bulan berikutnya penjualan melebihi produksi, kondisinya berbalik. Laba variable costing akan lebih tinggi.

Jurnal pencatatan biaya produksi

Total biaya produksi April: bahan baku Rp60.000.000, TKL Rp30.000.000, BOP variabel Rp10.000.000, dan BOP tetap Rp40.000.000.

contoh jurnal pencatatan biaya produksi dengan metode absorption costing dan variable costing

Untuk laporan keuangan resmi, angka variable costing perlu disesuaikan kembali ke absorption costing. Caranya dengan menambahkan BOP tetap Rp8.000.000 ke persediaan akhir.

Metode Penentuan Harga Pokok dan Dampaknya ke Harga Jual

Metode penentuan harga pokok menentukan titik awal harga jual. Salah satu pendekatan paling umum adalah cost-plus pricing, yaitu biaya dasar ditambah markup.

Misalkan PT Rasa Pedas Nusantara menargetkan laba Rp35.000.000 per bulan pada penjualan normal 10.000 botol.

Cost-plus pricing berbasis absorption costing

Markup harus menutup biaya nonproduksi dan target laba.

Markup = (Biaya nonproduksi + Target laba) ÷ Total HPP absorption

  • Total HPP: 10.000 × Rp14.000 = Rp140.000.000
  • Biaya nonproduksi: (10.000 × Rp1.500) + Rp20.000.000 = Rp35.000.000
  • Markup: (Rp35.000.000 + Rp35.000.000) ÷ Rp140.000.000 = 50%
  • Harga jual: Rp14.000 + (50% × Rp14.000) = Rp21.000

Cost-plus pricing berbasis variable costing

Markup harus menutup seluruh biaya tetap dan target laba.

Markup = (Total biaya tetap + Target laba) ÷ Total biaya variabel

  • Biaya variabel per unit: Rp10.000 + Rp1.500 = Rp11.500
  • Total biaya variabel: 10.000 × Rp11.500 = Rp115.000.000
  • Total biaya tetap: Rp40.000.000 + Rp20.000.000 = Rp60.000.000
  • Markup: (Rp60.000.000 + Rp35.000.000) ÷ Rp115.000.000 = 82,6%
  • Harga jual: Rp11.500 + (82,6% × Rp11.500) ≈ Rp21.000

Kedua metode menghasilkan harga yang sama jika semua biaya diperhitungkan. Masalah muncul saat biaya tetap terlupakan. Harga yang terlalu rendah sangat mahal akibatnya. McKinsey mencatat kenaikan harga 1% pada volume stabil dapat menaikkan laba operasi sekitar 8%. Namun, penurunan harga 1% berdampak sebaliknya.

Keputusan pesanan khusus

Di sinilah variable costing lebih unggul. Sebuah hotel menawarkan pesanan 1.500 botol seharga Rp13.000 per botol. Pabrik masih punya kapasitas menganggur dan pesanan ini tidak membutuhkan biaya pemasaran.

  • Dilihat dari absorption costing: Rp13.000 di bawah HPP Rp14.000, sehingga pesanan tampak rugi Rp1.000 per botol.
  • Dilihat dari variable costing: biaya tambahan hanya Rp10.000 per botol. Pesanan memberi tambahan margin kontribusi 1.500 × Rp3.000 = Rp4.500.000.

BOP tetap Rp40.000.000 tetap terjadi, ada atau tidak ada pesanan ini. Jadi, selama kapasitas tersedia dan harga reguler tidak terganggu, pesanan layak diterima.

Variable costing juga memudahkan perhitungan titik impas:

BEP = Total biaya tetap ÷ Margin kontribusi per unit = Rp60.000.000 ÷ Rp9.500 ≈ 6.316 botol

Kapan Memakai Variable Costing dan Kapan Absorption Costing?

Kedua metode ini tidak saling menggantikan, justru banyak perusahaan menggunakan keduanya untuk tujuan yang berbeda. Simak penggunaannya di bawah ini.

Gunakan absorption costing untuk

  • Laporan keuangan eksternal: laporan untuk bank, investor, dan auditor wajib mengikuti PSAK 202.
  • Penilaian persediaan di neraca: persediaan harus mencerminkan seluruh biaya produksi.
  • Harga jual jangka panjang: harga perlu menutup seluruh biaya agar bisnis berkelanjutan.

Gunakan variable costing untuk

  • Analisis titik impas dan CVP: margin kontribusi menunjukkan hubungan biaya, volume, dan laba secara langsung.
  • Keputusan jangka pendek: pesanan khusus, membuat atau membeli, dan menghentikan lini produk.
  • Evaluasi kinerja manajer produksi: laba tidak bisa “dipercantik” dengan menumpuk persediaan.

Kelola Pencatatan Biaya Produksi dengan Mekari Jurnal

Kedua metode hanya bisa diterapkan jika biaya tetap dan variabel tercatat terpisah sejak awal. Tanpa itu, HPP, harga jual, dan analisis titik impas akan sama-sama meleset.

Aplikasi pembukuan Mekari Jurnal membantu Anda menjaga pemisahan ini secara konsisten:

  • CoA terstruktur: daftar akun tersusun sistematis, sehingga akun BOP tetap, BOP variabel, dan biaya nonproduksi mudah dipisahkan.
  • Pencatatan jurnal otomatis: pendapatan, beban, dan transaksi lain tercatat sesuai kategori yang bisa diatur fleksibel mengikuti kebutuhan bisnis.
  • Buku besar dan neraca saldo real-time: setiap transaksi tercatat rinci dan saldo akun bisa dipantau kapan saja tanpa rekap manual.
  • Patuh Standar Akuntansi Keuangan Indonesia: laporan keuangan yang dihasilkan sesuai ketentuan yang berlaku.
  • Lampiran transaksi digital: nota dan faktur pembelian bahan baku tersimpan online, sehingga setiap angka biaya mudah ditelusuri.

Dengan data biaya yang rapi, Anda bisa menyusun laporan absorption costing untuk pihak eksternal sekaligus analisis variable costing untuk keputusan harga.

Pisahkan biaya tetap dan variabel bisnis Anda dengan pembukuan otomatis Mekari Jurnal

Referensi

  • Ikatan Akuntan Indonesia. PSAK 202 Persediaan.
  • Ikatan Akuntan Indonesia. Perubahan Penomoran PSAK dan ISAK dalam SAK Indonesia.
  • Corporate Finance Institute. Absorption Costing.
  • McKinsey & Company. The Power of Pricing.
  • McKinsey & Company. Pricing New Products.

FAQ

1. Apa perbedaan utama variable costing dan absorption costing?

1. Apa perbedaan utama variable costing dan absorption costing?

Perbedaannya ada pada BOP tetap. Absorption costing memasukkan BOP tetap ke harga pokok produk. Variable costing membebankannya langsung sebagai biaya periode.

2. Apakah full costing sama dengan absorption costing?

2. Apakah full costing sama dengan absorption costing?

Ya. Full costing adalah nama lain absorption costing. Variable costing juga dikenal sebagai direct costing atau marginal costing.

3. Mengapa laba absorption costing bisa lebih tinggi dari variable costing?

3. Mengapa laba absorption costing bisa lebih tinggi dari variable costing?

Saat unit diproduksi lebih banyak dari unit terjual, sebagian BOP tetap tersimpan di persediaan akhir. Beban periode jadi lebih kecil, sehingga laba terlihat lebih tinggi.

4. Apakah variable costing boleh dipakai untuk laporan keuangan?

4. Apakah variable costing boleh dipakai untuk laporan keuangan?

Boleh untuk laporan internal manajemen. Untuk laporan keuangan eksternal, PSAK 202 mensyaratkan BOP tetap dialokasikan ke biaya persediaan, sehingga yang dipakai adalah absorption costing.

5. Metode mana yang lebih tepat untuk menentukan harga jual?

5. Metode mana yang lebih tepat untuk menentukan harga jual?

Untuk harga jangka panjang, gunakan absorption costing atau pastikan markup variable costing menutup seluruh biaya tetap. Untuk keputusan jangka pendek seperti pesanan khusus, variable costing lebih tepat.

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis