Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Perbedaan Akuntansi Normatif dan Akuntansi Positif: Definisi, Contoh, dan Cara Memahaminya

Tayang
Di tulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Highlights
  • Akuntansi normatif berfokus pada apa yang seharusnya dilakukan berdasarkan tujuan ideal, sedangkan akuntansi positif berfokus pada apa yang benar-benar terjadi dan alasan di balik praktik tersebut
  • Pendekatan normatif digunakan dalam penyusunan standar seperti PSAK, dengan tujuan menghasilkan laporan keuangan yang relevan, andal, dan berguna bagi pengambilan keputusan
  • Akuntansi positif membantu memahami mengapa perusahaan memilih metode tertentu, dipengaruhi oleh insentif ekonomi, tekanan, dan kondisi bisnis yang dihadapi
  • Menggabungkan perspektif normatif dan positif membantu memahami laporan keuangan secara lebih komprehensif, baik dari sisi standar ideal maupun realitas praktik di lapangan

Ketika seorang akuntan memilih metode penyusutan untuk aset tetap perusahaan, dua jenis pertanyaan bisa muncul secara bersamaan, yaitu:

  1. Metode mana yang seharusnya digunakan agar laporan keuangan mencerminkan kondisi ekonomi secara paling akurat dan berguna bagi pengguna?
  2. Metode mana yang biasanya dipilih oleh perusahaan-perusahaan serupa, dan apa alasan di balik pilihan tersebut?

Walaupun terlihat mirip, keduanya muncul dari cara berpikir yang berbeda, di mana yang pertama mencakup pada akuntansi normatif dan kedua lebih ke cara berpikir akuntansi positif.

Memahami perbedaan keduanya menjadi kunci untuk benar-benar mengerti bagaimana teori akuntansi bekerja dan mengapa praktik akuntansi di lapangan tidak selalu sama persis dengan yang direkomendasikan oleh standar yang ideal.

Dalam teori akuntansi, kedua pendekatan ini yang paling sering diperbincangkan sekaligus paling sering disalahpahami menjadi fondasi konseptual dari seluruh praktik pencatatan dan pelaporan keuangan.

Untuk itu, simak apa itu akuntansi normatif dan akuntansi positif, serta apa perbedaan signifikan dari keduanya.

Apa Itu Akuntansi Normatif?

Teori normatif dalam akuntansi berangkat dari seperangkat nilai, tujuan, atau asumsi tertentu tentang apa yang seharusnya dicapai oleh laporan keuangan.

Fokus dari pendekatan ini adalah pertanyaan mengenai “apa yang seharusnya dilakukan?”.

Misalnya, jika kita berpegang pada asumsi bahwa tujuan utama laporan keuangan adalah memberikan informasi yang paling relevan bagi investor dalam mengambil keputusan, maka dari asumsi itu bisa diturunkan rekomendasi tentang metode pengukuran mana yang harus digunakan, bagaimana aset harus diakui, dan informasi apa yang perlu diungkapkan.

Rekomendasi-rekomendasi tersebut adalah produk dari pemikiran normatif.

Apa Itu Akuntansi Positif?

Jika fokus pertanyaan dari akuntansi normatif berkaitan dengan pertanyaan “apa yang seharusnya dilakukan?, pendekatan positif berfokus pada “apa yang sebenarnya terjadi?” dan “mengapa hal itu terjadi?”.

Itu berarti pendekatannya dilakukan dengan mengamati praktik akuntansi yang ada di lapangan, lalu berusaha menjelaskan dan memprediksi pola-pola yang muncul.

Akuntansi positif dengan demikian sangat erat kaitannya dengan pemahaman tentang perilaku manusia, insentif ekonomi, dan dinamika organisasi.

Pendekatan ini tidak memberikan rekomendasi tentang kebijakan mana yang sebaiknya digunakan, tetapi ia sangat berguna untuk memahami mengapa praktik akuntansi di dunia nyata berbentuk seperti yang kita lihat.

Baca Juga: Memahami 12 Konsep Dasar Akuntansi: Panduan untuk Pemula dan Profesional

Perbedaan Akuntansi Normatif dan Akuntansi Positif

Perbedaan mendasar antara keduanya dapat terlihat berdasarkan tabel perbandingan berikut.

Aspek Akuntansi Normatif Akuntansi Positif
Fokus utama Apa yang seharusnya dilakukan (what should be) Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa (what is and why)
Pertanyaan Inti Metode mana yang terbaik untuk pengguna? Mengapa manajer memilih metode ini?
Sifat pendekatan Preskriptif (merekomendasikan) Deskriptif dan prediktif (menjelaskan)
Pertanyaan kunci “Bagaimana akuntansi seharusnya dilakukan?” “Mengapa perusahaan memilih metode tertentu?”
Basis argumentasi Nilai, tujuan, dan asumsi ideal Data empiris dan pengamatan nyata
Metode pengujian Argumentasi logis dan konsistensi internal Pengujian hipotesis dengan data
Hubungan dengan nilai Mengandung nilai secara eksplisit Berusaha objektif, tetapi tidak sepenuhnya bebas nilai
Produk yang dihasilkan Pedoman, standar, kerangka konseptual Penjelasan dan prediksi perilaku pelaporan
Contoh dalam akuntansi Perumusan PSAK, kerangka konseptual IFRS Penelitian tentang hubungan struktur utang dengan pilihan metode akuntansi

Dari tabel di atas, terlihat bahwa perbedaan paling fundamental terletak pada orientasi pertanyaannya.

Teori normatif membangun argumen tentang kondisi yang ideal berdasarkan asumsi atau nilai tertentu, sementara teori positif membangun argumen berdasarkan pengamatan atas kondisi yang aktual.

Keduanya menggunakan logika dan penalaran yang ketat dan bedanya adalah pada titik berangkat dan tujuan akhir dari penalarannya.

Baca Juga: Akuntansi Keperilakuan, Lingkup, Aspek, Manfaat dan Contohnya

Kenapa Akuntansi Normatif dan Positif Bisa Berbeda?

Perbedaan antara kedua pendekatan ini bukan kebetulan historis namun karena berakar pada perbedaan fundamental tentang apa yang dimaksud dengan “teori” dalam ilmu sosial.

Watts dan Zimmerman, tokoh kunci dalam teori positif, menegaskan bahwa kedua pendekatan ini berangkat dari pertanyaan yang berbeda dan memiliki tujuan yang tidak sama.

1. Teori Normatif

Dalam teori normatif, kekuatan argumen diukur dari konsistensinya dengan nilai atau tujuan yang dianut.

Jika kita sepakat bahwa tujuan laporan keuangan adalah memberikan gambaran yang paling akurat tentang nilai ekonomis suatu entitas, maka dari kesepakatan itu bisa diturunkan rekomendasi-rekomendasi yang bersifat preskriptif.

Argumen normatif yang baik adalah argumen yang secara konsisten menurunkan rekomendasi dari premis yang telah disepakati.

2. Teori Positif

Dalam teori positif, kekuatan argumen diukur dari kemampuannya memprediksi dan menjelaskan fenomena yang bisa diamati.

Sebuah hipotesis positif yang baik adalah hipotesis yang bisa diuji secara empiris dan bertahan dari pengujian tersebut.

Jika hipotesis memprediksi bahwa perusahaan dengan rasio utang tinggi cenderung menggunakan metode yang meningkatkan laba, maka prediksi itu harus bisa diverifikasi dengan data nyata dari perusahaan-perusahaan yang ada.

Contoh Sederhana Akuntansi Normatif

Cara paling mudah untuk memahami akuntansi normatif adalah melihat bagaimana standar dan prinsip dasar akuntansi dibuat.

Misalkan, salah satu contohnya adalah ketika Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) merumuskan PSAK, di mana terdapat proses ketika para ahli berargumen tentang metode pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan mana yang seharusnya menjadi standar yang ingin dicapai oleh laporan keuangan. Hal ini termasuk pendekatan normatif.

Dalam konteks perusahaan, perspektif normatif dapat terlihat melalui argumen yang dibangun, misalnya ketika tujuan laporan keuangan mencerminkan realitas ekonomi secara akurat dan tepat waktu, maka pengakuan pendapatan seharusnya mengikuti progres penyelesaian kontrak, bukan hanya saat kontrak selesai sepenuhnya.

Argumen ini yang kemudian menjadi dasar dari standar pengakuan pendapatan berbasis performance obligation yang kita kenal dalam PSAK 72.

Contoh Sederhana Akuntansi Positif

Pendekatan akuntansi positif dapat Anda lihat ketika seorang peneliti memperhatikan bahwa perusahaan-perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi cenderung menggunakan metode akuntansi yang menghasilkan laba yang lebih tinggi.

Alih-alih menilai apakah pilihan itu benar atau salah, peneliti tersebut membangun sebuah hipotesis di mana:

Perusahaan yang mendekati pelanggaran debt covenant memiliki insentif untuk memilih metode akuntansi yang meningkatkan angka laba atau aset mereka.

Hipotesis ini kemudian diuji dengan data dari ratusan perusahaan. Apabila hasilnya mendukung hipotesis, maka itu adalah penjelasan positif yang valid tentang mengapa pilihan akuntansi tertentu lebih sering muncul pada jenis perusahaan tertentu.

Hubungan Keduanya dengan Teori dan Praktik Akuntansi

Meskipun sering dipresentasikan sebagai dua pendekatan yang saling bertolak belakang, akuntansi normatif dan akuntansi positif pada dasarnya saling melengkapi dalam membangun pemahaman yang utuh tentang dunia akuntansi.

Akuntansi normatif sejatinya memberikan arah dengan menjawab pertanyaan tentang tujuan akuntansi, prinsip-prinsip yang harus menjadi panduan, dan standar yang perlu dibangun.

Tanpa pemikiran ini, tidak akan ada kerangka konseptual, tidak ada standar akuntansi, dan tidak akan ada dasar untuk menilai apakah suatu praktik akuntansi tertentu sudah baik atau perlu diperbaiki.

Sedangkan akuntansi positif memberikan realitas melalui jawaban atas mengapa praktik akuntansi di lapangan terbentuk seperti yang kita lihat.

Tanpa pemikiran positif, kita tidak akan memiliki pengetahuan yang memadai tentang bagaimana insentif ekonomi memengaruhi pilihan pelaporan, mengapa penerapan standar sering tidak konsisten antar entitas, atau mengapa perubahan standar tertentu menghadapi resistensi dari industri.

Pengetahuan ini sangat berharga bagi penyusun standar, regulator, dan auditor.

Kesalahan Umum saat Memahami Akuntansi Normatif dan Positif

Sering kali terdapat miskonsepsi yang mengaburkan pemahaman kita terhadap kedua topik ini.

Kesalahan pertama adalah menganggap keduanya saling bertentangan secara mutlak.

Padahal, seorang akuntan dapat menggunakan pemikiran normatif untuk menilai kebijakan tertentu sesuai standar, dan menggunakan pemikiran positif untuk memahami mengapa kebijakan tersebut diterapkan.

Kesalahan kedua adalah menganggap teori normatif hanya opini subjektif tanpa nilai ilmiah.

Teori normatif memang mengandung nilai, tetapi ia bukan sekadar opini karena dibangun secara logis dan konsisten.

Kesalahan ketiga adalah menganggap teori positif otomatis objektif dan bebas nilai.

Dalam kenyataannya, pilihan tentang hipotesis mana yang diuji, data apa yang dikumpulkan, dan bagaimana hasil diinterpretasikan, semuanya mengandung pertimbangan nilai secara implisit.

Baca Juga: Memahami Agency Theory dalam Perspektif Akuntansi dan Penerapannya dalam Bisnis

Kesimpulan

Akuntansi normatif dan akuntansi positif adalah dua cara berpikir yang berbeda tentang akuntansi yang bukan bermusuhan, namun menjadi dua lensa yang masing-masing memperlihatkan aspek yang berbeda dari realitas akuntansi yang sama.

Akuntansi normatif membahas apa yang seharusnya dilakukan, seperti landasan dari standar, prinsip, dan kerangka konseptual yang memandu praktik pelaporan keuangan.

Sedangkan akuntansi positif membahas apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa: ia adalah alat untuk memahami perilaku pelaporan nyata yang dipengaruhi oleh insentif ekonomi, struktur organisasi, dan tekanan pemangku kepentingan.

Memahami keduanya menjadi sangat relevan bagi siapa pun yang ingin membaca laporan keuangan secara kritis, memahami kebijakan akuntansi yang diterapkan suatu perusahaan, atau mengevaluasi apakah pilihan metode tertentu mencerminkan kondisi ekonomis yang sebenarnya atau dipengaruhi oleh pertimbangan lain.

Semoga artikel ini bermanfaat agar Anda lebih memahami perbedaan antara akuntansi positif dan akuntansi normatif.

Untuk pengelolaan keuangan yang lebih handal, Anda juga bisa mengadopsi software akuntansi terintegrasi yaitu Mekari Jurnal!

Coba GRATIS sekarang!

Saya Mau Bertanya Ke Sales Mekari Jurnal Sekarang!

 

 

 

Referensi:

East Tennessee State University, “Positive Accounting Theory: A Ten Year Perspective”.

Accounting for Everyone, “What is Normative Accounting: A Clear Explanation”.

Scribd, “Teori Akuntansi Positif dan Normatif”.

Academia, “Positive And Normative Accounting Theory: Definition And Development”.

AccountancyAge, “Positive vs normative accounting”.

FAQ Tentang Perbedaan Akuntansi Normatif vs Akuntansi Positif

Apa itu akuntansi normatif?

Apa itu akuntansi normatif?

Akuntansi normatif adalah pendekatan yang membahas apa yang seharusnya dilakukan dalam pelaporan keuangan berdasarkan tujuan, nilai, dan asumsi ideal tertentu. Pendekatan ini menjadi dasar dalam penyusunan standar akuntansi.

Apa itu akuntansi positif?

Apa itu akuntansi positif?

Akuntansi positif adalah pendekatan yang menjelaskan praktik akuntansi yang benar-benar terjadi di lapangan serta alasan di balik keputusan tersebut, termasuk faktor insentif ekonomi dan perilaku manajemen.

Mengapa akuntansi normatif penting dalam praktik pengelolaan keuangan?

Mengapa akuntansi normatif penting dalam praktik pengelolaan keuangan?

Akuntansi normatif penting karena menjadi dasar penyusunan standar seperti PSAK dan IFRS, sehingga laporan keuangan dapat relevan, andal, dan berguna bagi pengambilan keputusan pengguna.

Mengapa akuntansi positif penting bagi analis dan investor?

Mengapa akuntansi positif penting bagi analis dan investor?

Akuntansi positif membantu analis dan investor memahami alasan di balik kebijakan akuntansi perusahaan, termasuk potensi bias, strategi manajemen, dan pengaruh tekanan eksternal.

Apakah akuntansi normatif dan positif saling bertentangan?

Apakah akuntansi normatif dan positif saling bertentangan?

Tidak. Keduanya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi. Normatif memberikan pedoman ideal, sedangkan positif menjelaskan realitas praktik yang terjadi di dunia bisnis.

Apa contoh akuntansi normatif dalam dunia nyata?

Apa contoh akuntansi normatif dalam dunia nyata?

Contoh akuntansi normatif adalah penyusunan standar PSAK oleh Ikatan Akuntan Indonesia, yang menentukan bagaimana transaksi harus diakui, diukur, dan disajikan dalam laporan keuangan.

Bagaimana cara menggunakan kedua pendekatan dalam analisis keuangan?

Bagaimana cara menggunakan kedua pendekatan dalam analisis keuangan?

Gunakan pendekatan normatif untuk menilai kepatuhan terhadap standar, dan pendekatan positif untuk memahami alasan di balik pilihan kebijakan akuntansi perusahaan.

Siapa yang perlu memahami akuntansi normatif dan positif?

Siapa yang perlu memahami akuntansi normatif dan positif?

Mahasiswa akuntansi, auditor, analis keuangan, manajer, hingga investor perlu memahami keduanya untuk membaca laporan keuangan secara lebih kritis dan komprehensif.

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami