Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Deplesi: Rumus dan Contoh Perhitungannya

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Adelia Vita
Highlights
  • Deplesi adalah alokasi biaya sumber daya alam secara sistematis selama proses eksploitasi, seperti pada tambang, minyak bumi, dan hutan.
  • PSAK 64 mengatur akuntansi aktivitas eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral di Indonesia, yang diadopsi dari IFRS 6.
  • Dasar deplesi mencakup biaya akuisisi, eksplorasi, pengembangan, dan restorasi, dikurangi taksiran nilai sisa.

Beberapa artikel tentang deplesi mencantumkan aturan pajak percentage depletion sebesar 5% hingga 22% seolah-olah berlaku di Indonesia.

Padahal, persentase tersebut merupakan ketentuan perpajakan Amerika Serikat dan tidak dapat diterapkan begitu saja dalam konteks akuntansi atau perpajakan Indonesia.

Memahami deplesi secara tepat bagi bisnis pertambangan di Indonesia berarti membedakan perlakuan akuntansi dari ketentuan perpajakan, serta menggunakan standar yang berlaku di Indonesia sesuai dengan tahap aktivitas pertambangan.

Artikel ini akan membahas apa itu deplesi, perbedaannya dengan depresiasi dan amortisasi, standar akuntansi yang relevan di Indonesia, rumus perhitungannya, hingga contoh kasus dan jurnal lengkap.

Apa itu Deplesi?

Deplesi adalah proses mengalokasikan biaya perolehan sumber daya alam secara sistematis seiring dengan berkurangnya cadangan akibat eksploitasi, seperti pengambilan batubara dari tambang, minyak bumi dari sumur, atau kayu dari hutan.

Menurut OpenStax dalam Principles of Accounting, Volume 1: Financial Accounting, deplesi merupakan proses membebankan biaya sumber daya alam selama masa manfaatnya, yang umumnya dihitung berdasarkan jumlah sumber daya yang diekstraksi. 

Prinsipnya serupa dengan depresiasi, tetapi deplesi khusus diterapkan pada sumber daya alam yang berkurang karena dieksploitasi.

Apa Perbedaan Deplesi, Depresiasi, dan Amortisasi

Ketiganya sama-sama merupakan proses alokasi biaya aset selama masa manfaatnya, tetapi diterapkan pada jenis aset yang berbeda.

  • Depresiasi diterapkan pada aset tetap berwujud yang memiliki masa manfaat terbatas, seperti mesin, bangunan, dan kendaraan.
  • Amortisasi diterapkan pada aset tak berwujud dengan masa manfaat terbatas, seperti hak paten dan lisensi.
  • Deplesi diterapkan pada sumber daya alam yang berkurang karena dieksploitasi, seperti batu bara, minyak bumi, gas, dan hasil hutan. Berbeda dari aset tetap yang tetap ada secara fisik setelah digunakan, cadangan sumber daya alam berkurang setiap kali diekstraksi.

Baca Juga: Perbedaan Antara Depresiasi dan Amortisasi: Pengertian, Metode, dan Tujuan

Standar Akuntansi yang Mengatur Deplesi di Indonesia

Dalam membahas deplesi di Indonesia, penting membedakan aktivitas eksplorasi dan evaluasi dengan perlakuan akuntansi sumber daya alam yang sudah memasuki tahap produksi.

Menurut PSAK 64 yang kini menjadi PSAK 106 setelah renumbering SAK Indonesia, mengatur perlakuan akuntansi atas pengeluaran eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral. Namun, PSAK 106 bukan standar yang secara khusus mengatur metode perhitungan deplesi.

Karena itu, perhitungan deplesi perlu mengacu pada standar dan ketentuan perpajakan yang relevan berdasarkan jenis aset dan aktivitas pertambangan. Percentage depletion seperti yang digunakan dalam sistem pajak Amerika Serikat juga tidak dapat langsung diterapkan di Indonesia.

Baca Juga: 100+ Istilah Akuntansi yang Wajib Diketahui Calon Akuntan

Empat Faktor yang Membentuk Dasar Deplesi

Sebelum menghitung deplesi, perlu ditentukan lebih dulu dasar deplesi (depletion base), yang dibentuk dari empat komponen biaya berikut.

  • Biaya akuisisi: biaya untuk membeli atau menyewa hak atas lahan yang mengandung sumber daya alam, termasuk biaya memperoleh izin usaha pertambangan.
  • Biaya eksplorasi: biaya yang dikeluarkan untuk mencari dan menemukan cadangan sumber daya alam di dalam lahan yang sudah dikuasai.
  • Biaya pengembangan: biaya untuk mempersiapkan lahan agar sumber dayanya dapat diambil, seperti pembangunan sumur, terowongan, atau infrastruktur akses ke lokasi tambang.
  • Biaya restorasi: estimasi biaya untuk mengembalikan kondisi lahan setelah proses eksploitasi selesai, sesuai kewajiban lingkungan yang berlaku.

Dasar deplesi kemudian dikurangi dengan taksiran nilai sisa lahan setelah seluruh sumber daya alamnya habis dieksploitasi, sebelum dibagi dengan estimasi total unit sumber daya yang dapat diambil.

Baca Juga: 6 Konsep Dasar Keuangan Penting yang Harus Anda ketahui

Rumus dan Cara Menghitung Deplesi

Perhitungan deplesi dilakukan melalui dua tahap dan mengikuti metode unit produksi (unit-of-production method):

Tahap 1: Menghitung Laju Deplesi per Unit

Laju Deplesi per Unit = (Dasar Deplesi − Taksiran Nilai Sisa) ÷ Estimasi Total Unit yang Dapat Diekstraksi

Tahap 2: Menghitung Beban Deplesi Periode Berjalan

Beban Deplesi = Laju Deplesi per Unit × Jumlah Unit yang Diambil pada Periode Tersebut

Metode ini memastikan biaya deplesi yang dibebankan pada setiap periode proporsional dengan jumlah sumber daya alam yang benar-benar sudah diambil, bukan berdasarkan waktu semata seperti pada beberapa metode penyusutan aset tetap.

Baca Juga: Laporan Posisi Keuangan: Pengertian, Jenis, Contoh

Contoh Perhitungan dan Jurnal Deplesi Lengkap

PT Bara Nusantara memperoleh izin usaha pertambangan batu bara dengan rincian biaya sebagai berikut.

  • Biaya akuisisi lahan dan izin: Rp300.000.000
  • Biaya eksplorasi: Rp120.000.000
  • Biaya pengembangan (akses dan infrastruktur): Rp80.000.000
  • Estimasi biaya restorasi lahan: Rp50.000.000
  • Taksiran nilai sisa lahan setelah eksploitasi: Rp30.000.000
  • Estimasi total cadangan yang dapat dieksploitasi: 200.000 ton

Menghitung dasar deplesi:

Dasar Deplesi = Rp300.000.000 + Rp120.000.000 + Rp80.000.000 + Rp50.000.000 = Rp550.000.000

Menghitung laju deplesi per ton:

Laju Deplesi per Ton = (Rp550.000.000 − Rp30.000.000) ÷ 200.000 ton = Rp520.000.000 ÷ 200.000 = Rp2.600 per ton

Pada tahun pertama operasional, PT Bara Nusantara berhasil mengambil 40.000 ton batu bara.

Beban Deplesi Tahun Pertama = 40.000 ton × Rp2.600 = Rp104.000.000

Jurnal pencatatan beban deplesi tahun pertama:

Keterangan Debit Kredit
Beban Deplesi Rp104.000.000
Akumulasi Deplesi Rp104.000.000

Dalam laporan posisi keuangan, akun aset sumber daya alam PT Bara Nusantara akan disajikan sebesar Rp550.000.000 dikurangi akumulasi deplesi Rp104.000.000, sehingga nilai bukunya menjadi Rp446.000.000 pada akhir tahun pertama, mencerminkan sisa cadangan batu bara yang belum diambil.

Kesalahan Umum dalam Menghitung Deplesi

Beberapa kesalahan yang perlu dihindari dalam menghitung deplesi antara lain:

1. Mengadopsi aturan pajak negara lain

Percentage depletion dari sistem pajak Amerika Serikat tidak dapat langsung diterapkan dalam perhitungan di Indonesia.

2. Tidak memasukkan biaya yang relevan

Biaya yang seharusnya menjadi bagian dari dasar perhitungan dapat membuat beban deplesi tidak mencerminkan biaya sebenarnya.

3. Tidak memperbarui estimasi cadangan

Perubahan estimasi jumlah sumber daya yang dapat diekstraksi dapat mempengaruhi perhitungan deplesi pada periode berikutnya.

4. Mencampur deplesi dengan depresiasi

Deplesi diterapkan pada sumber daya alam yang diekstraksi, sedangkan mesin dan peralatan tambang tetap dicatat dan disusutkan secara terpisah.

Catat Aset dan Beban Deplesi Bisnis Pertambangan Anda dengan Mekari Jurnal

Menghitung deplesi secara manual, mulai dari menentukan dasar deplesi hingga mengalokasikan beban deplesi sesuai unit yang diambil setiap periode, membutuhkan ketelitian tinggi agar laporan keuangan tetap akurat.

Mekari Jurnal sebagai software akuntansi membantu bisnis mencatat setiap transaksi aset dan beban secara otomatis dan konsisten, sesuai standar akuntansi yang berlaku.

Dengan fitur Pembukuan Mekari Jurnal, Anda dapat:

  • Mencatat transaksi secara otomatis dan terintegrasi ke laporan keuangan, sehingga beban deplesi dan akumulasi deplesi tercermin akurat dalam laporan laba rugi dan neraca.
  • Menyusun bagan akun (chart of accounts) yang konsisten, termasuk memisahkan akun aset sumber daya alam dari aset tetap biasa.
  • Menghasilkan lebih dari 55 jenis laporan keuangan, manajemen, dan operasional, mendukung penyajian nilai buku aset sumber daya alam secara akurat sesuai standar akuntansi yang berlaku.
  • Menjaga akurasi data keuangan melalui integrasi bank, sehingga pengeluaran biaya eksplorasi dan pengembangan tetap sinkron dengan kondisi kas bisnis yang sesungguhnya.

Kelola pencatatan aset dan beban deplesi bisnis Anda dengan Mekari Jurnal!

Coba Gratis Sekarang!

Referensi

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), “PSAK 64: Aktivitas Eksplorasi dan Evaluasi pada Pertambangan Sumber Daya Mineral.”

OpenStax, “Principles of Accounting, Volume 1: Financial Accounting.”

FAQ

1. Apa perbedaan deplesi, depresiasi, dan amortisasi?

1. Apa perbedaan deplesi, depresiasi, dan amortisasi?

Depresiasi diterapkan pada aset tetap berwujud seperti mesin dan bangunan, amortisasi diterapkan pada aset tak berwujud seperti paten dan lisensi, sedangkan deplesi diterapkan khusus pada aset sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui seperti tambang dan hutan kayu.

2. Standar akuntansi apa yang mengatur deplesi di Indonesia?

2. Standar akuntansi apa yang mengatur deplesi di Indonesia?

Perlakuan akuntansi aktivitas eksplorasi dan evaluasi sumber daya mineral diatur dalam PSAK 64, yang diadopsi dari IFRS 6 dan berlaku efektif sejak 1 Januari 2012, menggantikan PSAK 29 dan sebagian PSAK 33.

3. Apa saja faktor yang membentuk dasar deplesi?

3. Apa saja faktor yang membentuk dasar deplesi?

Dasar deplesi dibentuk dari empat komponen biaya, yaitu biaya akuisisi lahan, biaya eksplorasi, biaya pengembangan, dan estimasi biaya restorasi lahan, dikurangi taksiran nilai sisa.

4. Bagaimana rumus menghitung deplesi?

4. Bagaimana rumus menghitung deplesi?

Laju deplesi per unit dihitung dengan mengurangi dasar deplesi dengan taksiran nilai sisa, lalu dibagi estimasi total unit yang dapat diekstraksi. Beban deplesi periode berjalan dihitung dengan mengalikan laju deplesi per unit dengan jumlah unit yang diambil pada periode tersebut.

5. Apakah aturan pajak deplesi Amerika Serikat berlaku di Indonesia?

5. Apakah aturan pajak deplesi Amerika Serikat berlaku di Indonesia?

Tidak. Skema “percentage depletion” sebesar 5-22% dari pendapatan adalah insentif pajak khusus dalam kode pajak Amerika Serikat dan tidak berlaku dalam sistem perpajakan maupun standar akuntansi Indonesia.

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami