Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Klasifikasi Aset Lancar dan Tidak Lancar: Pengertian, Kriteria, Contoh, dan Cara Penyajiannya

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Andhika Pramudya

Highlights
  • Klasifikasi aset lancar dan tidak lancar membantu menyajikan laporan keuangan yang lebih akurat dan mudah dianalisis
  • Aset lancar berfokus pada likuiditas jangka pendek, sedangkan aset tidak lancar mendukung operasional dan pertumbuhan jangka panjang
  • PSAK 201 mengatur kriteria dan penyajian aset berdasarkan likuiditas, siklus operasi, dan periode manfaat ekonominya
  • Klasifikasi yang tepat dapat lebih optimal dengan software akuntansi seperti Mekari Jurnal yang memastikan pencatatan akurat dan konsisten

Pencatatan aset dalam pembukuan merupakan hal yang fundamental, namun tanpa klasifikasi yang tepat, nilainya sulit diinterpretasikan secara bermakna.

Setiap aset perlu diklasifikasikan secara sistematis agar laporan keuangan mampu merepresentasikan kondisi keuangan perusahaan secara akurat.

Salah satu klasifikasi paling mendasar adalah pemisahan antara aset lancar dan tidak lancar, meskipun dalam praktiknya masih sering diabaikan oleh perusahaan yang sedang berkembang.

Pemisahan ini memungkinkan manajemen untuk mengidentifikasi sumber daya yang dapat segera dikonversi menjadi kas serta aset yang berperan sebagai penopang operasional dalam jangka panjang.

Apa Itu Klasifikasi Aset Lancar dan Tidak Lancar?

PSAK 201 tentang Penyajian Laporan Keuangan (Pembaruan dari PSAK 1) mengatur bahwa entitas pada umumnya wajib menyajikan aset lancar dan aset tidak lancar sebagai klasifikasi yang terpisah dalam laporan posisi keuangan.

Pemisahan ini kemudian dikenal dengan klasifikasi aset, yaitu proses sistematis untuk mengelompokkan kekayaan perusahaan yang memudahkan pengguna memahami informasi seluruh aset dalam laporan keuangan.

Klasifikasi aset dalam laporan keuangan berarti pengelompokan aset berdasarkan tiga dimensi utama, yaitu:

  • Likuiditas, yaitu seberapa cepat bisa diubah menjadi kas
  • Siklus operasi, apakah aset berputar dalam siklus operasional normal bisnis
  • Periode realisasi manfaat ekonominya yang berkaitan dengan apakah manfaatnya habis dalam jangka pendek atau jangka panjang

Dari sudut pandang bisnis, klasifikasi ini adalah fondasi untuk memahami dua hal yang sangat berbeda: modal kerja (working capital) mendukung operasional harian, sedangkan aset kapasitas menunjang produksi dan pertumbuhan jangka panjang.

Pengertian Aset Lancar

Aset lancar adalah aset yang diharapkan dapat direalisasi menjadi kas, dijual, atau habis dikonsumsi dalam waktu dekat, baik dalam satu siklus operasi normal perusahaan maupun dalam dua belas bulan setelah periode pelaporan.

Ciri utama aset lancar adalah perputarannya yang aktif dalam bisnis, memiliki likuiditas tinggi, dan terus berulang untuk menjalankan roda operasional bisnis.

Aset lancar seringkali identik dengan komponen modal kerja, yaitu ukuran kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban operasional jangka pendeknya.

Kriteria Aset Lancar Menurut PSAK 201

PSAK 201 telah menetapkan empat kriteria resmi untuk mengklasifikasikan suatu aset sebagai aset lancar agar tidak terjadi ambiguitas dalam pelaporan, yaitu:

  1. Direalisasi, dijual, atau dikonsumsi dalam siklus operasi normal, meskipun melebihi dua belas bulan
  2. Dimiliki untuk diperdagangkan (held for trading), seperti saham atau obligasi jangka pendek
  3. Diharapkan direalisasi dalam dua belas bulan setelah periode pelaporan
  4. Kas atau setara kas, kecuali yang penggunaannya dibatasi lebih dari dua belas bulan

Keempat kriteria ini tidak bersifat kumulatif, namun cukup satu aset yang memenuhi salah satu saja sudah cukup untuk diklasifikasikan sebagai lancar.

Pengertian Aset Tidak Lancar

IAS 1 menyatakan ini secara eksplisit bahwa aset tidak lancar adalah semua aset yang tidak memenuhi satu pun dari keempat kriteria aset lancar.

Sehingga, bisa dikatakan bahwa aset tidak lancar memiliki karakteristik seperti memberikan manfaat untuk jangka panjang serta manfaat ekonomi yang tidak berasal dari penjualan atau konversi kas.

Perusahaan membeli aset tidak lancar bukan untuk mencari laba, melainkan untuk membangun kapasitas produksi dan mendukung efisiensi kerja.

Karena sifatnya yang menetap, nilai aset ini biasanya akan mengalami penyusutan atau depresiasi seiring berjalannya waktu, kecuali untuk aset tertentu seperti tanah.

Contoh Aset Lancar

Untuk mendapatkan gambaran mengenai apa saja aset yang termasuk ke dalam aset lancar, akan diklasifikan ke dalam akun-akun dalam kategori aset lancar.

1. Kas dan Setara Kas

Komponen kas dan setara kas dalam akuntansi umumnya berkaitan dengan uang tunai, saldo rekening bank, serta investasi jangka sangat pendek dengan jatuh tempo hingga tiga bulan.

2. Piutang Usaha

Tagihan kepada pelanggan dari transaksi kredit yang akan dikonversi menjadi kas.

3. Persediaan

Barang jadi, barang dalam proses, dan bahan baku yang siap dijual atau diolah.

4. Beban Dibayar di Muka

Pembayaran di awal seperti sewa atau asuransi yang manfaatnya digunakan di periode mendatang.

5. Surat Berharga Jangka Panjang

Investasi saham atau obligasi yang direncanakan untuk dicairkan dalam waktu dekat.

Contoh Aset Tidak Lancar

Di sisi lain, aset tidak lancar mencakup kekayaan yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan, meliputi:

1. Aset Tetap (Tangible Assets)

Aset berwujud seperti tanah, bangunan, mesin, kendaraan, dan peralatan operasional.

2. Investasi Jangka Panjang

Kepemilikan saham atau obligasi yang dimaksudkan untuk disimpan lebih dari satu tahun.

3. Aset Tidak Berwujud (Intangible Assets)

Aset tidak berwujud umumnya merupakan aset yang diindentifikasi tanpa bentuk fisik seperti paten, merek dagang, hak cipta, dan goodwill.

4. Aset Lain-lain

Aset di luar kategori utama, seperti dana yang dibatasi penggunaannya atau piutang jangka panjang.

Baca Juga: Aset Tetap vs Aset Tidak Tetap: Pengertian, Contoh, dan Perbedaan untuk Laporan Keuangan yang Akurat

Perbedaan Klasifikasi Aset Lancar dan Tidak Lancar

Untuk memudahkan Anda dalam membedah laporan posisi keuangan, tabel di bawah ini merangkum perbedaan mendasar antara kedua kategori tersebut:

Aspek Perbedaan Aset Lancar Aset Tidak Lancar
Likuiditas Sangat tinggi, mudah diubah menjadi kas Rendah, sulit atau lama untuk dicairkan
Jangka Waktu Jangka pendek (kurang dari 12 bulan) Jangka panjang (lebih dari 12 bulan)
Fungsi Utama Membiayai operasional harian dan utang pendek Mendukung infrastruktur dan kapasitas produksi
Penyusutan Umumnya tidak mengalami penyusutan Sebagian besar mengalami penyusutan/ amortisasi
Contoh Akun Kas, Piutang, Persediaan, Prepaid Tanah, Mesin, Kendaraan, Hak Paten
Dampak Analisis Menentukan rasio likuiditas dan modal kerja Menentukan nilai buku perusahaan dan ROI

Cara Penyajian Aset Lancar dan Tidak Lancar dalam Neraca

PSAK 201 dan IAS 1 mengatur bahwa laporan posisi keuangan harus menyajikan aset lancar dan tidak lancar sebagai kelompok yang terpisah dan jelas.

Untuk perusahaan pada umumnya, penyajian standarnya mengikuti urutan berikut dalam neraca keuangan:

  • Aset Lancar: Disajikan lebih dahulu, diurutkan dari paling likuid seperti kas dan setara kas, lalu investasi jangka pendek, piutang usaha, persediaan, dan beban dibayar di muka
  • Aset Tidak Lancar: Diletakkan di bawah total aset lancar, dimulai dari aset tetap yang paling permanen (seperti tanah) hingga aset tidak berwujud

Berikut ilustrasi sederhana struktur penyajian aset dalam laporan posisi keuangan:

Namun, pada beberapa kasus seperti institusi keuangan, penyajian berdasarkan likuiditas total diperbolehkan karena pemisahan tersebut dianggap kurang relevan dibandingkan informasi mengenai urutan pencairan kas yang sebenarnya.

Baca Juga: Cara Membaca Laporan Neraca Keuangan yang Benar

Kapan Klasifikasi Ini Penting bagi Bisnis?

Padahal, bagi seorang pemilik bisnis, memahami klasifikasi ini sangat krusial dalam empat situasi utama:

  • Saat Anda ingin mengetahui berapa nilai perusahaan yang sebenarnya di mata hukum dan standar akuntansi
  • Saat mengelola dan menghitung modal kerja yang tersedia. Jika aset lancar Anda lebih kecil dari utang lancar, bisnis Anda berada dalam zona bahaya
  • Saat mengajukan pinjaman ke bank karena akan melihat rasio aset lancar dan kesanggupan membayar cicilan bunga dan pokok tepat waktu
  • Saat perencanaan pajak dan penyusutan karena memengaruhi laba bersih perusahaan

Baca Juga: Aset Lancar vs Aset Tidak Lancar: Pengertian, Jenis, Contoh dan Perbedaannya dalam Akuntansi

Kesimpulan

Klasifikasi aset lancar dan tidak lancar adalah salah satu elemen paling fundamental dalam penyajian laporan keuangan yang baik.

Selain itu, mengklasifikan jenis aset dengan tepat membantu dalam menjalankan praktik akuntansi perusahaan, mulai dari menghitung modal kerja, sebagai dasar analisis likuiditas, hingga evaluasi struktur keuangan menyeluruh.

Agar mampu menerapkan ini dengan optimal, bisnis juga membutuhkan sistem yang memastikan setiap transaksi masuk ke akun yang tepat, dengan klasifikasi yang konsisten dari periode ke periode.

Dengan software akuntansi Mekari Jurnal, pengelompokan akun aset lancar dan tidak lancar dapat dikonfigurasi sesuai standar, sehingga laporan posisi keuangan tersusun secara otomatis dengan struktur yang benar.

Bisnis yang menggunakan Mekari Jurnal dapat menutup buku lebih cepat dengan minim koreksi, karena kesalahan klasifikasi terdeteksi sejak pencatatan awal.

Coba GRATIS sekarang juga!

Saya Mau Bertanya Ke Sales Mekari Jurnal Sekarang!

 

 

 

Referensi:

IAI, “PSAK 201 Tentang Penyajian Laporan keuangan”.

IFRS, “Presentation of Financial Statements”.

Investopedia, “Key Differences Between Current and Noncurrent Assets”.

IFRS Community, “Classification of Assets and Liabilities as Current and Non-current”.

FAQ Tentang Klasifikasi Aset Lancar dan Tidak Lancar

Apa yang dimaksud dengan aset lancar dan tidak lancar?

Apa yang dimaksud dengan aset lancar dan tidak lancar?

Aset lancar adalah aset yang dapat dicairkan dalam ≤12 bulan atau satu siklus operasi, sedangkan aset tidak lancar digunakan untuk jangka panjang.

Apa saja contoh aset lancar?

Apa saja contoh aset lancar?

Contohnya meliputi kas dan setara kas, piutang usaha, persediaan, beban dibayar di muka, serta investasi jangka pendek.

Apa saja contoh aset tidak lancar?

Apa saja contoh aset tidak lancar?

Contohnya termasuk tanah, bangunan, mesin, kendaraan, investasi jangka panjang, serta aset tidak berwujud seperti paten dan merek.

Mengapa klasifikasi aset penting dalam laporan keuangan?

Mengapa klasifikasi aset penting dalam laporan keuangan?

Klasifikasi membantu memahami likuiditas, menghitung modal kerja, serta menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek.

Bagaimana penyajian aset lancar dan tidak lancar di neraca?

Bagaimana penyajian aset lancar dan tidak lancar di neraca?

Aset lancar disajikan terlebih dahulu berdasarkan urutan likuiditas, kemudian diikuti aset tidak lancar seperti aset tetap dan aset tidak berwujud.

Apa dampak salah klasifikasi aset?

Apa dampak salah klasifikasi aset?

Salah klasifikasi dapat menyesatkan analisis keuangan, seperti rasio likuiditas dan modal kerja, sehingga berisiko pada keputusan bisnis.

Apa kesalahan umum dalam klasifikasi aset lancar dan tidak lancar?

Apa kesalahan umum dalam klasifikasi aset lancar dan tidak lancar?

Kesalahan umum meliputi salah memahami sifat aset, tidak mempertimbangkan tujuan penggunaan, serta mengabaikan kriteria PSAK 201 seperti siklus operasi dan pembatasan kas.

Apakah batas 12 bulan selalu menjadi acuan utama klasifikasi aset?

Apakah batas 12 bulan selalu menjadi acuan utama klasifikasi aset?

Tidak. PSAK 201 menekankan siklus operasi normal bisnis. Jika siklus operasi lebih dari 12 bulan, aset terkait tetap bisa diklasifikasikan sebagai lancar.

Apakah software akuntansi membantu dalam klasifikasi aset?

Apakah software akuntansi membantu dalam klasifikasi aset?

Ya, software akuntansi seperti Mekari Jurnal membantu mengelompokkan aset secara otomatis sesuai standar, meminimalkan kesalahan, dan mempercepat penyusunan laporan keuangan.

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

WhatsApp Hubungi Kami