Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh
Standar keamanan ISO/IEC 27001
Tersertifikasi Oleh

Kesalahan Akuntansi yang Bisa Merusak Bisnis Anda

Tayang
Ditulis oleh: Author Avatar Adelia Vita. A
Highlights
  • Kesalahan akuntansi dapat mengurangi keandalan laporan keuangan jika tidak segera dideteksi dan diperbaiki.
  • PSAK 25 membedakan kesalahan akuntansi dari kecurangan serta mewajibkan koreksi retrospektif untuk kesalahan material periode sebelumnya.
  • Berdasarkan UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), dokumen pembukuan wajib disimpan selama 10 tahun.

Kesalahan akuntansi sering kali tidak langsung terlihat. Awalnya mungkin hanya berupa nota yang lupa disimpan, transaksi pribadi yang tercampur dengan kas usaha, atau pendapatan yang dicatat terlalu cepat.

Meski tampak sepele, kesalahan-kesalahan tersebut dapat menumpuk dan membuat laporan keuangan menjadi kurang akurat.

Akibatnya, keputusan bisnis yang diambil pun berisiko keliru, mulai dari salah menilai kondisi keuangan perusahaan, kesulitan memperoleh pembiayaan, hingga munculnya masalah saat pemeriksaan pajak.

Karena itu, setiap bisnis perlu memahami cara mengidentifikasi dan mencegah kesalahan pencatatan sejak awal.

Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari pengertian kesalahan akuntansi, perbedaannya dengan kecurangan (fraud), jenis-jenis kesalahan yang paling sering terjadi, cara mengoreksinya sesuai standar akuntansi, serta langkah-langkah untuk mencegahnya.

Apa itu Kesalahan Akuntansi?

Kesalahan akuntansi adalah kekeliruan dalam mencatat, mengukur, atau menyajikan transaksi keuangan sehingga laporan keuangan tidak mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya.

Menurut PSAK 25, kesalahan periode sebelumnya merupakan kelalaian atau salah saji dalam laporan keuangan akibat entitas gagal menggunakan atau salah menggunakan informasi andal yang sebenarnya sudah tersedia saat laporan disusun.

Kesalahan ini dapat berupa salah perhitungan, penerapan kebijakan akuntansi yang tidak tepat, kelalaian, salah menafsirkan fakta, hingga kecurangan (fraud). Meski demikian, kesalahan akuntansi dan kecurangan tetap berbeda.

Kesalahan umumnya terjadi tanpa unsur kesengajaan, sedangkan kecurangan dilakukan secara sengaja untuk memperoleh keuntungan atau menyesatkan pengguna laporan keuangan.

Baca Juga: 4 Kesalahan Proses Akuntansi yang Sering Terjadi Dalam Bisnis

Kesalahan Akuntansi vs Kecurangan (Fraud): Apa Bedanya?

Perbedaan utama antara kesalahan akuntansi dan fraud terletak pada unsur kesengajaannya. Kesalahan akuntansi terjadi tanpa disengaja, misalnya karena salah hitung atau keliru menerapkan standar akuntansi.

Sementara itu, fraud dilakukan secara sengaja untuk memperoleh keuntungan tertentu atau menyesatkan pengguna laporan keuangan.

Karena penyebabnya berbeda, penanganannya pun tidak sama. Kesalahan akuntansi umumnya dapat diperbaiki melalui koreksi pencatatan dan penyempurnaan prosedur.

Sebaliknya, fraud memerlukan investigasi lebih lanjut dan dapat berujung pada sanksi hukum. Meski berbeda, keduanya sama-sama berisiko bagi bisnis.

Berdasarkan Survei Fraud Indonesia 2019 oleh ACFE Indonesia, kecurangan laporan keuangan memang lebih jarang terjadi dibanding penyalahgunaan aset atau korupsi. Namun, ketika terjadi, kerugian rata-rata yang ditimbulkan justru lebih besar. 

Karena itu, baik kesalahan pencatatan maupun fraud perlu dicegah sejak awal agar tidak mengganggu keandalan laporan keuangan dan pengambilan keputusan bisnis. 

Kesalahan Akuntansi Paling Umum yang Merusak Bisnis

Beberapa kesalahan berikut paling sering ditemukan pada bisnis kecil dan menengah, yaitu:

1. Mencampur keuangan pribadi dan bisnis

Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah menggunakan kas usaha untuk kebutuhan pribadi atau sebaliknya. Padahal, SAK EMKM menegaskan bahwa aset dan transaksi bisnis harus dipisahkan dari aset pribadi pemilik. Jika keduanya bercampur, modal usaha menjadi sulit dipantau dan laporan keuangan tidak lagi mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya.

2. Menganggap laba sama dengan kas

Banyak pelaku usaha mengira bisnis dalam kondisi baik karena mencatat laba, padahal kas yang tersedia belum tentu mencukupi. Dalam akuntansi berbasis akrual, laba dan arus kas merupakan dua hal yang berbeda sehingga keduanya perlu dianalisis secara bersamaan agar kondisi keuangan tidak disalahartikan.

3. Tidak menyimpan bukti transaksi

Setiap transaksi sebaiknya didukung dokumen seperti faktur, nota, atau kuitansi. Mengandalkan mutasi rekening saja sering kali tidak cukup untuk membuktikan bahwa suatu pengeluaran benar-benar berkaitan dengan kegiatan usaha, terutama saat audit atau pemeriksaan pajak.

4. Jarang melakukan rekonsiliasi bank

Mencocokkan saldo kas di pembukuan dengan mutasi rekening bank secara berkala membantu mendeteksi selisih pencatatan sejak dini. Tanpa rekonsiliasi, kesalahan kecil dapat terus menumpuk hingga akhirnya mempengaruhi laporan keuangan dan arus kas bisnis.

Cara Mengoreksi Kesalahan Akuntansi Menurut PSAK 25

Tidak semua kesalahan akuntansi dikoreksi dengan cara yang sama. PSAK 25 membedakan metode koreksi berdasarkan penyebabnya, yaitu retrospektif untuk kesalahan dan prospektif untuk perubahan estimasi.

Koreksi retrospektif dilakukan jika ditemukan kesalahan material pada periode sebelumnya. Artinya, laporan keuangan periode terdampak harus disajikan kembali (restatement) seolah-olah kesalahan tersebut tidak pernah terjadi.

Sebaliknya, koreksi prospektif digunakan untuk perubahan estimasi akuntansi, misalnya perubahan umur manfaat aset atau nilai residu.

Karena perubahan ini didasarkan pada informasi baru, dampaknya cukup diterapkan pada periode berjalan dan periode berikutnya tanpa mengubah laporan keuangan sebelumnya.

Sebagai contoh, PT Sumber Makmur menemukan pada tahun 2025 bahwa beban penyusutan tahun 2023 kurang dicatat sebesar Rp15.000.000 akibat kesalahan perhitungan.

Jika jumlah tersebut dinilai material, perusahaan tidak boleh langsung membebankannya ke laporan laba rugi tahun 2025.

Sebaliknya, laporan keuangan tahun 2023 harus disajikan kembali secara retrospektif agar mencerminkan kondisi yang sebenarnya.

Memahami perbedaan kedua metode ini penting agar kesalahan periode lalu tidak mempengaruhi kinerja periode berjalan dan laporan keuangan tetap dapat dibandingkan secara andal dari tahun ke tahun.

Berapa Lama Dokumen Keuangan Harus Disimpan?

Menyimpan dokumen keuangan bukan hanya membantu saat memperbaiki kesalahan pencatatan, tetapi juga penting jika sewaktu-waktu bisnis menghadapi audit atau pemeriksaan pajak.

Berdasarkan UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) Pasal 28 ayat (11), wajib pajak harus menyimpan buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan, termasuk dokumen elektronik, selama 10 tahun.

Karena itu, pelaku usaha sebaiknya tidak terburu-buru memusnahkan dokumen lama. 

Jika dokumen pendukung sudah tidak tersedia, proses mengoreksi kesalahan pencatatan maupun membuktikan transaksi saat pemeriksaan akan menjadi jauh lebih sulit.

Dampak Kesalahan Akuntansi terhadap Bisnis

Kesalahan akuntansi mungkin terlihat sepele pada awalnya, tetapi jika dibiarkan dapat mempengaruhi kesehatan bisnis secara keseluruhan.

Beberapa dampak yang paling sering terjadi antara lain:

1. Sulit mengetahui kondisi keuangan yang sebenarnya

Kesalahan pencatatan dapat membuat saldo kas, laba, atau utang tidak mencerminkan kondisi riil, sehingga keputusan bisnis menjadi kurang tepat.

2. Menyulitkan pengajuan pembiayaan

Bank atau investor umumnya menilai laporan keuangan sebelum memberikan pendanaan. Laporan yang tidak konsisten atau tidak akurat dapat mengurangi tingkat kepercayaan terhadap bisnis.

3. Meningkatkan risiko koreksi pajak

Pencatatan yang tidak didukung bukti transaksi atau tidak sesuai ketentuan berpotensi menimbulkan koreksi saat pemeriksaan pajak.

4. Menghambat perencanaan bisnis

Ketika data keuangan tidak akurat, perusahaan akan kesulitan menyusun anggaran, mengelola arus kas, maupun mengevaluasi kinerja usaha.

Dengan kata lain, kesalahan akuntansi bukan hanya mempengaruhi laporan keuangan, tetapi juga dapat berdampak pada operasional, kepatuhan, hingga peluang bisnis di masa depan.

Cara Mencegah Kesalahan Akuntansi Merusak Bisnis

Mencegah kesalahan akuntansi jauh lebih mudah daripada memperbaikinya setelah berdampak pada laporan keuangan. Berikut beberapa langkah yang dapat Anda terapkan.

1. Pisahkan keuangan pribadi dan bisnis

Gunakan rekening yang berbeda untuk transaksi usaha dan kebutuhan pribadi. Langkah sederhana ini membantu menjaga pembukuan tetap rapi sekaligus sejalan dengan konsep entitas bisnis dalam SAK EMKM.

2. Catat transaksi pada waktu yang tepat

Jangan hanya berpatokan pada kapan uang diterima atau dibayarkan. Pastikan transaksi dicatat sesuai ketentuan akuntansi agar pendapatan dan beban mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya.

3. Simpan bukti transaksi dengan rapi

Arsipkan faktur, nota, kuitansi, maupun dokumen pendukung lainnya, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Dokumen ini akan memudahkan proses audit, rekonsiliasi, atau koreksi jika terjadi kesalahan pencatatan.

4. Lakukan rekonsiliasi bank secara rutin

Bandingkan catatan pembukuan dengan mutasi rekening secara berkala, misalnya setiap akhir bulan. Cara ini membantu menemukan selisih pencatatan lebih cepat sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

5. Gunakan sistem pencatatan yang konsisten

Terapkan metode pencatatan yang sama untuk setiap transaksi sejenis. Konsistensi akan memudahkan penyusunan laporan keuangan sekaligus mengurangi risiko kesalahan akibat perlakuan akuntansi yang berbeda-beda.

Kurangi Risiko Kesalahan Pencatatan dengan Mekari Jurnal

Sebagian besar kesalahan akuntansi yang merusak bisnis berawal dari hal-hal yang sebenarnya bisa dicegah, seperti pencatatan manual yang tidak konsisten, dokumen yang tercecer, atau rekonsiliasi yang jarang dilakukan.

Mekari Jurnal sebagai software akuntansi membantu bisnis mencatat setiap transaksi secara otomatis dan konsisten, sehingga risiko kesalahan manusia dapat ditekan sejak transaksi pertama kali di input.

Dengan fitur Pembukuan Mekari Jurnal, Anda dapat:

  • Mencatat transaksi secara otomatis dan terintegrasi ke laporan keuangan, sehingga setiap transaksi langsung tercermin dalam laporan laba rugi dan neraca tanpa input berulang yang rawan salah.
  • Menyusun bagan akun (chart of accounts) yang konsisten, sehingga setiap transaksi sejenis selalu dikategorikan dengan cara yang sama dari waktu ke waktu.
  • Menjaga akurasi data melalui integrasi bank, sehingga rekonsiliasi antara catatan internal dan mutasi rekening dapat dilakukan lebih rutin tanpa proses manual yang memakan waktu.
  • Mengakses dan menyimpan riwayat transaksi secara digital, sehingga dokumen pendukung tetap tertelusuri kapanpun dibutuhkan, termasuk untuk keperluan koreksi maupun pemeriksaan di kemudian hari.

Pembukuan rapi dan bisnis lebih terkendali dengan Mekari Jurnal!

Coba Gratis Sekarang!

 

Referensi

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), “PSAK 25 (kini PSAK 208): Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan.”

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), “Tentang SAK EMKM.”

Kementerian Keuangan RI, “Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).”

ACFE Indonesia, “Survei Fraud Indonesia 2019.”

Kieso, D.E., Weygandt, J.J., & Warfield, T.D. “Akuntansi Keuangan Menengah Edisi IFRS.”

FAQ

Apa perbedaan kesalahan akuntansi dan kecurangan akuntansi?

Apa perbedaan kesalahan akuntansi dan kecurangan akuntansi?

Kesalahan akuntansi bersifat tidak disengaja, misalnya akibat kesalahan matematis atau kelalaian, sedangkan kecurangan melibatkan unsur kesengajaan untuk menyesatkan atau menguntungkan diri sendiri secara tidak sah. Keduanya membutuhkan respons yang berbeda, kesalahan cukup dikoreksi, sementara kecurangan membutuhkan investigasi lebih dalam.

Bagaimana cara standar akuntansi mengoreksi kesalahan yang baru ditemukan?

Bagaimana cara standar akuntansi mengoreksi kesalahan yang baru ditemukan?

Menurut PSAK 25, kesalahan material periode sebelumnya harus dikoreksi secara retrospektif, yaitu menyajikan kembali laporan periode sebelumnya seolah kesalahan tersebut tidak pernah terjadi, bukan sekadar dibebankan ke laporan periode saat kesalahan itu ditemukan.

Apa risiko mencampur keuangan pribadi dan bisnis?

Apa risiko mencampur keuangan pribadi dan bisnis?

Risikonya meliputi sulitnya mengetahui keuntungan usaha yang sebenarnya, modal kerja yang tergerus tanpa disadari, serta laporan keuangan yang tidak mencerminkan konsep entitas bisnis sebagaimana diatur dalam SAK EMKM.

Apakah laba selalu sama dengan arus kas?

Apakah laba selalu sama dengan arus kas?

Tidak. Laba menurut akuntansi akrual mengakui pendapatan saat kewajiban terpenuhi, sementara arus kas mencatat pergerakan uang yang sebenarnya. Menyamakan keduanya bisa memberi gambaran yang menyesatkan tentang kesehatan finansial bisnis.

Bagaimana cara sederhana mencegah kesalahan akuntansi pada bisnis kecil?

Bagaimana cara sederhana mencegah kesalahan akuntansi pada bisnis kecil?

 Mulailah dengan memisahkan rekening pribadi dan bisnis, mencatat transaksi secara konsisten, menyimpan bukti transaksi secara terorganisir, serta melakukan rekonsiliasi bank secara rutin setiap bulan.

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

Ikuti akun media sosial resmi dari Mekari Jurnal

Mekari Jurnal solusi AI untuk pengelolaan keuangan perusahaan, pemantauan cash flow, laporan pengeluaran, dan operasional bisnis dengan fitur mulai gratis

WhatsApp Hubungi Kami